BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pandangan Hukum Islam terhadap Pemberian
lxx
dan petani merupakan golongan menengah ke atas di desa Notoharjo, beliau mengatakan bahwa uang shalat jenazah itu perlu, dulu waktu bapak saya meninggal juga memberikan uang shalawat jenazah karena uang shalat ini adalah sedekah jariyah orang yang sudah meninggal. Pemberian uang shalat jenazah ini adalah perbuatan baik lantaran sudah menjadi kebiasaan nenek moyang masyarakat desa Notoharjo.84
Selanjutnya bapak Mukhlis menambahkan bahwa tujuan dari pemberian uang ini adalah untuk shadaqah yang pahalanya ditujukan untuk mayyit.
Uang shalat ini biasanya diambilkan dari uang belasungkawa yang diberikan oleh masyarakat sekitar. Sehingga pemberian uang shalat jenazah bukan merupakan sesuatu yang wajib bagi anggota keluarga. 85
Kemudian Ibu Maryam (50 tahun) warga desa Notoharjo menambahkan bahwa uang shalat jenazah itu pada dasarnya sebagai tanda terimakasih yang tidak wajib dilakukan. Akan tetapi jika tidak dilakukan membuat keluarga merasa tidak nyaman karena menjadi bahan pembicaraan masyarakat dan dianggap pelit. Pemberian ini sudah menjadi tradisi desa jadi apabila tidak melaksanakan dinilai melanggar nilai-nilai tradisi.
C. Pandangan Hukum Islam terhadap Pemberian Uang Shalat Jenazah di
lxxi
Dalam kehidupan masyarakat ada banyak kegiatan dan aturan yang berasal dari peninggalan nenek moyang. Hal ini terlihat dalam suatu masyarakat yang dinamakan kebiasaan, adat atau tradisi. Kebiasaan atau tradisi ini telah berlangsung secara turun temurun dari generasi ke generasi yang tetap dilestarikan hingga saat ini. Tradisi menjadi pedoman dalam bertindak dan bersikap serta menjadi identitas bagi suatu masyarakat sehingga tradisi dipandang menjadi sebuah hal yang sangat urgen dalam kehidupan masyarakat.
Pada dasarnya semua tradisi atau kebiasaan yang berlaku di masyarakat dapat terlaksana dengan baik asalkan tidak bertentangan dengan hukum atau norma agama yang berlaku. Dalam Islam, suatu adat kebiasaan dapat diterima jika tidak bertentangan dengan Al Qur‟an dan al Hadits. Islam menjadikan adat kebiasaan sebagai salah satu disiplin ilmu keislaman dan dikenal dengan kata „urf yang merupakan salah satu metodologi dalam mengistinbatkan Hukum Islam. Terdapat kaidah yang mengatakan bahwa menetapkan hukum dengan „urf seperti menetapkan hukum dengan dalil Nas
اطْشَش ِطُٗشُّشََىبَم بافْشُع ُفُشْعََْىا
Sesuatu yang berlaku secara „urf adalah seperti suatu yang telah disyaratkan.86
Sebagaimana yang telah dipaparkan bahwa pemberian uang shalat jenazah di desa Notoharjo Kecamatan Trimurjo Lampung Tengah merupakan kebiasaan yang sudah berlangsung secara turun temurun dan mengakar di
86 Sulaiman Abdullah, Sumber Hukum Islam Permasalahan dan Fleksibilitasnya, (Jakarta: Sinar Grafika: 2004), 79.
lxxii
tengah-tengah masyarakat dan kebiasan tersebut sudah di praktikkan oleh masyarakat secara sadar tanpa adanya paksaan, dengan demikian dapat dikatakan bahwa i pemberian uang shalat jenazah merupakan adat atau kebiasaan. Hal ini sesuai dengan definisi „urf secara istilah „urf ialah sesuatu yang telah dikenal oleh masyarakat dan merupakan kebiasaan di kalangan mereka baik berupa perkataan maupun perbuatan. Oleh sebagian ulama ushul fiqh, „urf disebut adat (adat kebiasaan).87
Berdasarkan data yang diperoleh setelah melakukan penelitian maka pemberian uang shalat jenazah di desa Notoharjo Kecamatan Trimurjo Lampung Tengah dapat dianalisis sebagai berikut :
a. Islam mengakui adanya hukum adat, akan tetapi tidak semua adat mendapat legitimasi. Berdasarkan hal tersebut maka hukum adat baru dapat dipakai sebagai landasan hukum dalam menetapkan suatu masalah apabila memenuhi beberapa syarat berikut:
a. „urf itu harus termasuk „urf yang shahih dalam arti tidak bertentangan dengan ajaran Al-Qur‟an dan Sunnah Rasulullah.
b. Telah berlaku secara umum.
c. „Urf itu harus sudah ada ketika terjadinya suatu peristiwa yang akan dilandaskan kepada „urf itu.
87 Kamal Muchtar, Ushul Fiqh, (Yogyakarta: PT Dana Bhakti Wakaf, 1995), 146.
lxxiii
d. Perbuatan yang dilakukan logis dan relevan dengan akal sehat, serta bernilai masslahat. Syarat ini menunjukkan adat tidak mungkin berkenaan dengan perbuatan maksiat.88
Berdasarkan keempat persyaratan „urf tersebut, peneliti memahami bahwa kebiasaan pemberian uang shalat jenazah di desa Notoharjo tidak bertentangan dengan Al Quran dan al hadits. Apalagi tradisi ini memiliki tujuan yang mulia yaitu sebagai tanda terimakasih serta adanya pemberian uang shalat jenazah ini dengan harapan masyarakat termotivasi untuk turut serta melakukan shalat jenazah.
Adanya pemberian uang shalat jenazah di desa Notoharjo Kecamatan Trimurjo Lampung Tengah semua narasumber sepakat bahwa tujuan dari tradisi ini adalah sebagai tanda terimakasih dan bentuk sedekah yang pahalanya ditujukan kepada jenazah serta menjadi sebuah „urf yang mengandung kemaslahatan (maslahah mursalah), yaitu apa yang dipandang baik oleh akal, sejalan dengan tujuan syara‟ dalam penetapan hukum. Namun tidak ada petunjuk syara‟ yang memperhitungkannya dan tidak ada pula petunjuk syara‟ yang menolaknya.89
Apabila dilihat berdasarkan substansi tujuan shalat jenazah yang memiliki hukum fardhu kifayah, jika sudah dilakukan seorang dalam satu kelompok masyarakat maka gugurlah kewajiban dalam kelompok tersebut.
Akan tetapi apabila dilihat berdasarkan makna fardhu kifayah yang terdiri
88 Muchlis Usman, Kaidah-Kaidah Ushuliyyah dan Fiqhiyah, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2002), 142.
89 Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh Jilid 2, (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2008), 367.
lxxiv
dari dua kata yaitu fardhu yang artinya kewajiban dan kifayah yang berarti cukup, jika dilihat dari sudut pandang fardhu cukup saja melakukan shalat jenazah oleh satu ataupun dua orang untuk menggugurkan kewajiban tersebut. Akan tetapi jika dilihat berdasarkan sudut pandang kifayah mengenai apakah cukup shalat jenazah yang hanya dilakukan oleh satu atau dua orang saja dalam suatu kelompok masyarakat yang beragama Islam.
Sedangkan Rasululah Saw bersabda mengenai keutamaan yang luarbiasa apabila jenazah di shalatkan oleh banyak orang yaitu berdasarkan hadis sebagai berikut :
بٍَ ( :ُهُ٘قٌَ ٌيسٗ ٍٔيع اَللّ ىيص ًَِّجَّْىَا ُذْعََِس :بَََُْْٖع ُ َّ َاَللّ ًَِضَس ٍسبَّجَع ِِْثا َِِعَٗ
ٌٍِيْسٍُ ٍوُجَس ٍِِْ
َّلَِإ ,بائٍَْش ِ َّللََّبِث َُُ٘مِشْشٌُ َلَ , الًُجَس َُُ٘عَثْسَأ ِِٔرَصبََْج ىَيَع ًُُ٘قٍََف , ُدٌََُ٘
) ٍِِٔف ُ َّ َاَللّ ٌَُْٖعَّفَش ٌِيْسٍُ ُٓاََٗس
Artinya : Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu bahwa dia mendengar Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Jika ada seorang muslim meninggal, lalu ada empat puluh orang yang tidak menyekutukan Allah sholat atas jenazahnya niscaya Allah akan menerima permohonan ampunan mereka untuknya. (HR. Muslim).90
Maka pemberian uang shalat jenazah yang mana bertujuan untuk mengarahkan suatu kelompok masyarakat kepada apa yang dianjurkan oleh Rasulullah merupakan perbuatan yang termasuk bagian dari maslahah.
Selanjutnya mengenai niat pemberian, asal usul biaya serta dampak
90 Al Hafizh Ibnu Hajar Al-„Asqalani, Terjemah Bulughul Maram; Kumpulan Hadits Hukum Panduan Hidup Muslim Sehari-hari, terj. Abu Firly Bassam Taqiy (Yogyakarta: Hikam Pustaka, 2013), 138.
lxxv
pemberian uang shalat jenazah dapat dilihat dari keterangan yang disampaikan bapak Mukhlis yaitu :
Sebenarnya pemberian uang shalat jenazah ini bukan merupakan sebuah kewajiban bagi anggota keluarga akan tetapi sebagai bentuk tanda terimakasih keluarga jenazah kepada masyarakat yang turut serta mendoakan jenazah dengan cara turut serta melaksanakan shalat jenazah. Pemberian uang ini juga tidak berdampak pada banyak sedikitnya jamaah karena banyaknya jamaah biasanya sesuai dengan mahsyur atau tidaknya jenazah. Adapun jumlah nominal uang yang diberikan tidak ada ketentuan, jumlahnya di dasarkan atas keikhlasan masyarakat yang memberikan. Biasanya jika keluarga kelompok menengah ke atas nominalnya sekitar Rp. 5.000,00-Rp.
10.000,00 sedangkan untuk masyrakat yang kurang mampu biasanya sekitar Rp 2.000,00-Rp 5.000,00. Tujuan dari pemberian ini yaitu untuk shadaqah yang pahalanya ditujukan untuk mayyit.91
Berdasarkan informasi yang disampaikan bapak Mukhlis dapat diketahui bahwa pada dasarnya pemberian uang shalat jenazah bukan merupakan kewajiban akan tetapi sebuah kebiasaan yang dilakukan turun temurun, anggapan uang wajib ini hanya merupakan persepsi masyarakat yang memahami sebuah kebiasaan sebagai bentuk kewajiban.
Adapun mengenai niat pemberian uang shalat jenazah ini adalah sebagai tanda terimakasih dan sedekah jariyah yang ditujukan untuk jenazah.
Tanda terimakasih merupakan sebuah perbuatan yang mulia, akan tetapi
91 Wawancara dengan Bapak Mukhlis pada hari Selasa 02 Juli 2019.
lxxvi
pemahaman masyarakat mengenai pemberian uang shalat jenazah sebagai bentuk sedekah jariyah orang yang meninggal dunia perlu diluruskan, yang mana apabila seorang meninggal dunia maka terputus seluruh amalnya kecuali tiga hal yaitu, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakan orang tuanya, hal ini berdasarkan hadits Rasulullah Saw :92
دبٍ ارإ : هبق ٌيسٗ ٍٔيع َّاَللّ ىيص اَللّ ه٘سس ُأ ْٔع اَللّ ىضس شٌشٕ ًثأ ِع ٔيَع عطقّا ًدآ ِثا
ٔى ٘ع ذٌ حى بصذىٗٗأ ٌٔ عفزٌْ ٌيعٗأ خٌسبج خقذص : سلًث ٍِ لَإ
Artinya : Dari Abu Hurairah Ra. Berkata, Rasulullah SAW telah bersabda : Jika anak Adam meninggal, maka amalnya akan terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakan orang tuanya.'' (HR Muslim).
Sehingga tidak ada pemberian uang shalat jenazah sebagai bentuk sedekah jariyah yang ditujukan untuk jenazah. Akan tetapi, pemberian ini adalah sarana dari pihak ahli keluarga untuk mendoakan jenazah melalui shalat jenazah dengan jamaah sebanyak-banyaknya, yang mana doa ini yang dapat membantu mayyit. hal ini sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a.93
ىَيَص ِ َّاَللّ َه ُ٘سَس ُذْعََِس َهبَق َُْْٔع َّاَللّ ًَِضَس َحَشٌَْشُٕ ًِثَا َِْع ىَيَع ٌْ زٍَّْيَص اَرِإ ُوُقٌَ ٌََّيَسَٗ ٍَِْٔيَع ُ َّاَللّ
.َءبَع ُّذىا َُٔى اُ٘صِي ْخَأَف ِذٍََِّْىا
92 Ika Umaya Yasinta, “Terputusnya Amal Orang Yang Meninggal Kecuali 3 Hal”, dalam https://umayaika.wordpress.com diakses pada tanggal 24 Juli 2019.
93 Sunan Tirmidzi sebagaimana dikutip oleh Fahrul Ilmi dalam “Hadis tentang Sampainya Hadiah Pahala Terhadap Orang yang Meninggal Dunia, Skripsi pada Jurusan Tafsir dan Hadis Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2008, 35.
lxxvii
Artinya : Dari Abu Hurairah r.a. “aku mendengar Rasulullah Saw bersabda: jika kamu semua menshalati mayit, maka berdoalah dengan ikhlas untuknya. (HR. Sunan al-Tirmidzi)
Hadis tersebut secara jelas menerangkan bahwa Rassulullah Saw memerintahkan kepada umat Islam untuk mendoakan orang yang sudah meninggal dunia dengan tulus dan ikhlas. Hal ini berarti doa yang dibaca dengan ikhlas dapat bermanfaat bagi mayyit.
Adapun berdasarkan sumber uang yang digunakan berasal dari uang belasungkawa massyarakat sekitar dan ada sebagian masyarakat yang menggunakan uang peninggalan jenazah, serta kebiasaan ini adalah sebatas keikhlasan masyarakat dan tidak ada unsur pemaksaan sehingga tidak memberatkan pihak keluarga, maka pemberian uang shalat jenazah sesuai dengan prinsip-prinsip Islam dan tidak bertentangan dengan nas baik al Quran maupun hadits. Selain itu kebiasaan tersebut berlaku secara umum dan dilakukan turun temurun dari generasi ke generasi yang ada di desa Notoharjo Kecamatan Trimurjo Lampung Tengah. Tradisi ini merupakan bentuk pemeliharaan terhadap aspek-aspek daruriyah dan hajjiyah sebagai langkah untuk menghilangkan kesulitan dalam berbagai aspek kehidupan, terutama dalam masalah sosial kemasyarakatan.
Berdasarkan pemaparan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pada dasarnya pemberian uang shalat jenazah yang ada di desa Notoharjo Kecamatan Trimurjo merupakan kebiasaan yang sesuai dengan tujuan syariat Islam secara umum, mengingat maksud dan tujuan dari pemberian uang ini
lxxviii
adalah untuk mengarahkan masyarakat untuk melaksanakan shalat jenazah dengan jamaah sebanyak-banyaknya dan sebagai bentuk terimakasih bagi keluarga jenazah. Sehingga berdasarkan perspektif hukum Islam pemberian uang shalat jenazah ini dihukumi mubah (boleh).
Adapun akan berbeda apabila jenazah merupakan kategori masyarakat yang tidak mampu (fakir miskin) maka disini muncul status mudharat, artinya nilai kemaslahatan yang terkandung di dalamnya menimbulkan adanya kesukaran. Hal ini merupakan suatu ketetapan yang disepakati bersama oleh fuqaha sehingga statusnya tidak boleh dilaksanakan sekalipun di sisi lain tetap mengandung unsur maslahah. Maksudnya jika sesuatu dianggap menimbulkan kemudharatan maka keberadaannya wajib dihilangkan. Sesuai dengan kaidah fikih :
ُحِى بَصََْىا ِتيَج ىَيَع ًُِّذَقٍُ ذِس بَفََْىاُءْسَد
Artinya : Menolak mafsadah didahulukan daripada menarik maslahat.94
Berdasarkan
hal tersebut maka apabila jenazah tergolong masyarakatyang tidak mampu (fakir miskin) tpeberian uang shalat jenazah tersebut lebih baik tidak memaksakan kehendak seperti berhutang. Hal ini akan membuat jenazah meninggalkan hutang untuk keluarganya. Perbuatan yang demikian tidak sesuai dengan maslahah dalam syariat Islam, karena bisa jadi orang yang dalam keadaan tidak mampu masih memaksakan kehendak demi
94 A. Dzajuli, Kaidah-Kaidah Fikih: Kaidah-Kaidah Hukum Islam dalam Menyelesaikan Masalah-Masalah yang Praktis, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2006), 29.
lxxix
melakukan tradisi tersebut karena takut mendapat gunjingan dari masyarakat sekitar.
Daripada jenazah meninggalkan hutang dan menjadi beban bagi keluarganya maka lebih baik meninggalkan kebiasaan tersebut.
Mengerjakannya memang terdapat nilai-nilai kemaslahatan yang dicapai, akan tetapi karena berbenturan dengan keadaan sosial ekonomi dalam upaya melakukan pemberian uang ini terlihat memaksa, maka hal itu juga termasuk dalam kategori mafsadad. Berdasarkan pemaparan tersebut dapat disimpulkan bahwa bagi orang yang mampu pemberian uang shalat jenazah tersebut hukumnya boleh (mubah) dan bagi orang yang tidak mampu maka hukumnya makruh.
lxxx BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Berdasarkan permasalahan mengenai pemberian uang shalat jenazah di desa Notoharjo Kecamatan Trimurjo Lampung Tengah, peneliti mengambil kesimpulan bahwa pemberian uang shalat jenazah di desa Notoharjo Lampung Tengah merupakan kebiasaan yang dilakukan turun temurun dengan tujuan sebagai bentuk tanda terimakasih keluarga kepada masyarakat yang turut serta melaksanakan shalat jenazah. Uang shalat jenazah ini masuk dalam kategori sedekah yang mana uang shalat jenazah adalah bentuk pemberian seseorang secara ikhlas, kepada yang berhak menerimanya yang diiringi oleh pemberian pahala dari Allah Swt.
2. Berdasarkan perspektif hukum Islam pemberian uang shalat jenazah di desa Notoharjo Kecamatan Trimurjo Lampung Tengah tidak bertentangan dengan hukum Islam. Selain itu ditinjau dari dimensi maslahah mengenai niat pemberian, sumber uang dan dampak yang ditimbulkan dari pemberian uang shalat jenazah bagi orang yang mampu tradisi pemberian uang shalat jenazah tersebut hukumnya boleh (mubah) dan bagi orang yang tidak mampu maka hukumnya makruh. Hal ini berdasarkan kaidah fiqh yang berbunyi : Menolak kerusakan atau kemudharatan lebih utama dari pada menarik kemaslahatan.
lxxxi B. Saran
Berdasarkan kesimpulan penelitian, peneliti memberikan pandangannya kepada masyarakat desa Notoharjo Kecamatan Trimurjo Lampung Tengah sebagai pelaku tradisi pemberian uang shalat jenazah maupun kepada beberapa pihak lain berupa saran dan masukan. Diantaranya :
1. Diharapkan kepada masyarakat desa Notoharjo Kecamatan Trimurjo Lampung Tengah pada khususnya pemberian uang shalat jenazah hendaknya tidak memaksakan keadaan. Apabila secara ekonomi tidak mampu maka kebiasaan ini tidak perlu dilakukan karena hanya akan mendatangkan kemudhratan.
2. Kepada tokoh Agama setempat hendaknya memberikan pemahaman dan pencerahan kepada masyarakat agar dalam memaknai tradisi pemberian uang shalat jenazah ini bukanlah sebuah kewajiban akan tetapi merupakan bentuk keikhlasan dari pihak keluarga sebagai tanda terimakasih kepada masyarakat karena ikut mendoakan jenazah dengan turut melaksanakan shalat jenazah. Selain itu meluruskan pemahaman bahwa pemberian uang shalat jenazah sebagai bentuk sedekah jariyah yang pahalanya ditujukan kepada mayyit. Akan tetapi, pemberian ini adalah sarana dari pihak ahli keluarga untuk mendoakan jenazah melalui shalat jenazah dengan jamaah sebanyak-banyaknya, yang mana doa ini yang dapat membantu mayyit.
3. Peneliti menyadari bahwa tidak ada kesempurnaan di dunia ini kecuali Allah Swt semata, penelitian ini masih banyak kekurangan dan jauh dari
lxxxii
kesempurnaan serta tidak memungkinkannya untuk menjawab satu persatu permasalahan mengenai uang shalat jenazah yang ada. Sehingga perlu adanya penelitian selanjutnya yang bertemakan pemberian uang shalat jenazah dalam perspektif lain guna menyelesaikan masalah yang ada di masyarakat.
lxxxiii
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Sulaiman, Sumber Hukum Islam Permasalahan dan Fleksibilitasnya, (Jakarta: Sinar Grafika: 2004).
al Fauzan, Saleh, Fiqih Sehari-hari, (Jakarta: Gema Insani Press, 2005).
al Jaziri, Abdurrahman, al Fiqh ala al Madzahib al „Arba‟ah, jld. 3, (Kairo:
Muassasah al Mukhtar, 2000).
Al-„Asqalani, Al Hafizh Ibnu Hajar, Terjemah Bulughul Maram; Kumpulan Hadits Hukum Panduan Hidup Muslim Sehari-hari, terj. Abu Firly Bassam Taqiy (Yogyakarta: Hikam Pustaka, 2013).
al-Qasim, Ahmad Izudin Ensiklopedia Kematian Muslim, (Depok: Mutiara Alllamah Utama, 2014).
Amiruddin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004.
Burhan Bungin, Analisis Data Penelitian Kualitatif Pemahaman Filosofis dan Metodologis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007.
---, Penelitian Kualitatif Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya, Jakarta: Kencana, 2008.
Dahlan, Aziz, Abdul, dkk, Ensiklopedi Hukum Islam Jilid 5, (Jakarta, PT. Ichtiar Baru van Hoeve, Cet I, 1996.
Djazuli, A, Ilmu Ushul Fiqh: Penggaglian, Perkembangan dan Penerapan Hukum Islam, (Jakarta: Kencana, 2010).
---Kaidah-Kaidah Fikih: Kaidah-Kaidah Hukum Islam dalam
Menyelesaikan Masalah-Masalah yang Praktis, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2006).
Efendi, Satria, Ushul Fiqh, (Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2005).
Haroen, Nasrun, Fiqh Muamalah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2007).
Hasan, Ali M, Berbagai Macam Transaksi dalam Islam, (Fiqh Muamalat), Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003.
Khallaf, Wahab Abdul, Ilmu Ushul Fikih, (Jakarta: Rineka Cipta, 2012).
Kusnaidi, Edi, Metodologi Penelitian, Jakarta Timur: Ramayana Press, 2008.
Mas‟adi, Ghufron A, Fiqh Muamalah Kontekstual, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002.
Moleong, J Lexy, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1999.
Muchtar, Kamal, Ushul Fiqh, (Yogyakarta: PT Dana Bhakti Wakaf, 1995).
Muhajir, Noeng, Metode Penelitian Kualitatif , Yogyakarta: Rake Sarasia, 1996.
Muhammad „Uwaidah , Syaikh Kamil Muhammad, Fiqih Wanita. terj M. Abdul Ghoffar, (Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 1998).
Nazir, Mohammad, Metode Penelitian, Jakarta: Ghalia Indonesia, 2009.
Rofiq, Ahmad, Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1998).
Rosmini, Falsafah Infak dalam Perspektif Al Quran, dalam Jurnal Madania Vol.
20. No. 1, Juni 2016.
Sabiq, Sayyid, Fikih Sunah, terj. Mahyuddin Syaf, Bandung: PT Alma‟arif, t.t.
lxxxiv
Sami, Abdus, Dampak Shadaqah pada Keberlangsungan Usaha (Studi Kasus:
Testimoni 4 Pengusaha Muslim di Surabaya) dalam Jurnal JESTT Vol.
1 No. 3 Maret 2014.
Singarimbun, Masri, Metode Penelitian Survei, Jakarta: LP3ES, 1989.
Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, Bandung: Alfabeta, 2005.
Syafe‟i,Rachmat, Fiqih Muamalah, Bandung: CV Pustaka Setia, 2001.
Syarifuddin, Amir, Ushul Fiqh Jilid 2, (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2008).
Tim Redaksi, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, (Jakarta: Balai Pustaka, 2001).
Usman, Husain, Metodology Penelitian Sosial, Jakarta: Bumi Aksara, 2004.
Zainuddin bin Abdul Aziz Al Malbari Al Fannani, Terjemahan Fathul Mu‟in, terj.
Moch Anwar, Bahrun Abu Bakar, dan Anwar Abu Bakar, cet ke-2, Jilid 2 Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2011.
lxxxv
lxxxvi
lxxxvii
lxxxviii
lxxxix
xc
xci
xcii
xciii
xciv
xcv
xcvi
xcvii
xcviii
xcix
c
ci
cii
ciii
civ
cv
cvi