• Tidak ada hasil yang ditemukan

Parenting, Usia Dini Nabi Muhammad Sebagai Ibrah

sebagaimana dalam sahih buchari dan Shahih Muslim dari Ibnu Umar ra, bahwa Rasulullah saw melarang Qaza‟

Ketujuh, khitan.

Menurut istilah Syar‟i ialah kulit yg melingkar bagian ujung kelamin laki-laki atau daging yg ada di vagina kaum perempuan yg terletak bagian atas dan itulah yg memiliki kaitan dengan hukum-hukum syari‟ah. Sebagaimana Imam Ahmad meriwayatkan dari Nabi saw bersabda” ” apabila hitan telah bertemu hitan, maka wajib mandi junub”. Ibnul Qayyim berkata ” hitan dianjurkan di dunia dalam rangka untuk menyempurnakan thaharah dan bersuci dari kotoran kencing” Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu „Anhu bahwa Rasulullah bersabda: “Fitrah itu lima: khitan, mencukur rambut kemaluan, memendekkan kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak”. (H.R. al-Bukhari dan Muslim).

Khitan wajib hukumnya bagi kaum pria dan mustahab (dianjurkan) bagi kaum wanita. Pertama kali yg melaksanakan hitan adalah Nabi Ibrahim as. Beliau melakukan hitan ketika berusia delapan puluh tahun. Ini berdasarkan hadis yg diriwayatkan oleh Buchari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah as bahwa Ibrahim as melakukan hitan ketika beliau berusia delapan puluh tahun. Selanjutnya hitan ini telah di peraktikkan dikalangan para Rasul dan pengikut mereka hingga diutusnya Nabi a. Dengan demikian hkitan merupakan sunnah para Nabi dan para Rasul diikuti oleh umat. Imam tirmidzi dan Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu ayyub bahwa Rasulullah swa bersabda ada empat hal yg merupakan sunnah para rasul; khitan, memakai minyak wangi, bersiwak dan nikah ”

rahim yang suci, jernih dan terpelihara. Tiap tulang sulbi itu bergabung menjadi dua, aku berada di dalam yang terbaik dari dua sulbi itu”.

Bukti kesucian keturunan, terlihat dari silsilah baik dari pihak ayah, maupun dari pihak ibu, yang keduanya berasal dari keturunan yang suci, jernih, bersih dan terhormat, terhindar dari perbuatan tercela.Yakni keduanya lahir dari dua kabilah, Bani Zuhrah dan Bani Abdul Manaf. Kedua kabilah Quraisy ini bersama memainkan peranan penting dalam sejarah kota Makkah.

Ayah Nabi Muhammad, adalah Abdullah Bin Abdul Muthalib, lahir dari keluarga Bangsawan Quraisy, seorang pemimpin Makkah yang sangat berpengaruh bagi penduduknya. Abdul Muthalib bin Hasyim adalah seorang penguasa Makkah, lembut tutur katanya, dan budi pekertinya, suka bermusyawarah dan selalu sedia mendengarkan pendapat orang lain. Dia memperolah penghormatan dari kaumnya melebihi penghormatan yang diperoleh para datuknya. Semua orang Quraisy mengakui kewibawaan dan keanggunan, kebijaksanaan, serta kearifannya.

Ibunda Abdullah seorang ibu bernama Fatimah binti Amr bin A‟id al-Makhzumi (dari kabilah al-Makhzum) yang termasuk tulang punggung kekuatan kabilah Quraisy.

Dia pula yang melahirkan dua orang putera Abdul Muthalib lainnya, yaitu Zubair dan Abu Thalib, berikutnya kemudian menurunkan Imam Ali bin Abi Thalib dan Ja‟far bin Abi Thalib.

Abdullah putra bungsu dari sepuluh bersaudara, saat lahir diikuti oleh Nazar sang bapak, bahwa jika lahir sepuluh anak laki-laki, maka satu di antaranya akan disembelih di depan Ka‟bah sebagai korban untuk Tuhan (Dewa Hubal tertinggi saat itu). Dan ternyata takdir menentukan sepuluh putra lahir, maka Abdul Muthalib harus memenuhi nazarnya, lalu sesuai dengan kebiasaan, dilakukanlah undian untuk sepuluh nama putranya melalui anak panah yang sebelumnya telah ditulis dan dimintakkan jampi-jampi pada patung Hubal, dewa tertinggi mereka saat itu.

Dan saat anak panah itu terlepas dari busurnya, maka yang muncul di situ adalah nama Abdullah (anak bungsu dan yang paling disayang oleh Abdul Muthalib). Sesuai dengan nazar, dipersiapkanlah Abdullah untuk di sembelih dan dipersembahkan kepada Dewa Hubal. Namun sebelum terjadi penyembelihan, beberapa bangsawan Quraisy mengusulkan agar tidak usah membunuh Abdullah, tapi diganti dengan denda seratus onta. Abdul Muthalib setuju, Abdullah tak jadi dibunuh, digantikan dengan menyembelih 100 ekor onta. Di sinilah lalu ada kisah menarik tentang Abdullah, yaitu penebusan nyawanya dengan seratus ekor onta yang keluar dari kebiasaan, yang biasanya hanya sepuluh onta.

Ibunda Nabi Muhammad, Siti Aminah binti Wahab dst.nya bertemu pada keturunan yang kelima dengan bapaknya. Yakni Kilab bin Murrah, silsilah keluarga ini dalam sejarah bangsa arab tercatat sebagai keluarga yang mempunyai akar sejarah tua. Aminah lahir dari suami istri (Wahhab dan Barrah). Yang satu berasal dari Bani Abdul Manaf bin Qusayyi bin Zurrah bin Killab, dan satunya lagi berasal dari Abdul Manaf bin Qusayyi

bin Killab. Maka Jelas Killablah akar silsilah ayah dan ibu Aminah binti Wahab. Cabang- cabang dari akar silsilah inilah yang dinyatakan oleh Rasulullah Saw. sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, “Allah senantiasa memindahkan diriku dari tulang-tulang sulbi yang baik ke dalam rahim-rahim yang suci, jernih, dan terjaga. Tiap tulang sulbi itu bercabang menjadi dua, dan aku selalu berada di dalam tulang sulbi yang terbaik dari dua cabang itu”.

Ibunda Aminah, saat itu tidak ada di antara gadis-gadis suku Quraisy yang lebih cantik dan lebih terkenal kemuliaan budi pekertinya, sebagaimana Abdullah (bapaknya), selain paling tampan, juga terkenal kemuliaan budi pekertinya. Seperti yang dikatakan oleh Ibnu Ishaq di dalam sirahnya, bahwa pada masa itu Aminah binti Wahab adalah gadis Quraisy yang paling utama, baik dilihat dari asal keturunannya maupun dilihat dari kedudukannya.

Keduanya menikah di bawah usia 20 tahun. Pernikahan keduanya merupakan kehidupan yang tenang, tentram, penuh kedamaian, manis, lembut penuh sayang. Sehingga satu malam, di saat tertidur pulas disamping suami, ketika terbangun Aminah menceritakan apa yang terlihat dalam mimpinya. “Ia melihat sinar terang benderang memancarkan cahaya lembut dari sekitar dirinya, sehingga seakan- akan ia dapat melihat istana-istana Bushara di negeri Syam, tak lama kemudian ia mendengar suara yang mengatakan kepadanya, “engkau telah hamil dan akan melahirkan orang termulia di kalangan umat ini”.

Dalam satu pernyataan Sauda binti Zuhrah al-Kilabiyah (seorang ahli nujum saat itu), berkata pada orang-orang Bani Zuhrah, “di tengah- tengah kalian terdapat seorang juru ingat perempuan (nadzirah) dan ia akan melahirkan seorang juru ingat lelaki.

Cobalah kalian perlihatkan anak-anak perempuan kalian kepadaku”. Mereka kemudian memenuhi apa yang dimintanya oleh Sauda. Kemudian masing-masing anak perempuan mereka diteliti. Pada saat tiba giliran Aminah diperlihatkan kepadanya, Sauda berkata inliah dia nadzirah yang akan melahirkan seorang nadzir.

Setelah menikah, tak lama berselang, Abdullah bersama kafilah Quraisy berangkat berdagang ke Syam meninggal kan Makkah. Sepulangnya, ketika tiba di kota Yastrib (Madinah), Abdullah sakit dan akhirnya meninggal di Yastrib dengan me ninggalkan harta lima ekor onta, beberapa ekor kambing, dan seorang budak perempuan yang bernama Barakah, yang kemudian dikenal dengan nama Ummu Aiman. Ummu Aiman inilah yang kemudian menjadi ibu susuan Muhammad.

Nabi Muhammad (Saat Dalam Kandungan)

Hal-hal yang sangat prinsip yang dapat kita temukan dari historis kehidupan Muhammad kecil, dimulai dengan siapa sesungguhnya ayah bundanya, budi pekertinya, keturunannya, hingga kemudian Muhammad berada dalam kandungan Ibunda Siti Aminah dalam kesatuan cinta dan kasih sayang. Tidak saja dari kedua orangtuanya, tetapi juga dukungan cinta dan kasih sayang lingkungan keluarga. Dan tak kalah mendasarnya adalah pernikahan keduanya diikat oleh komitmen dan keyakinan yang

kuat pada “nilai-nilai Tauhidiyah”. Pada nilai-nilai kepatuhan pada adanya satu kekuatan di luar diri manusia. Kekuatan pada satu komitmen akan berdampak pada kesamaan misi dan visi dalam membangun nilai-nilai kehidupan keber samaan.

Bahwa dalam konsep pendidikan modern, keutuhan cinta dan komitmen sepasang suami istri secara teologi/tauhidiyah (komitmen pada satu keyakinan) maupun secara sosial budaya, juga dukungan keharmonisan dan keterpaduan keluarga adalah menjadi bagian penting yang turut memberi warna dan menentukan wujud kepribadian seorang anak yang akan lahir. Apakah akan lahir seorang individu, seorang anak berkepribadian terpuji, yang akan membawa kemaslahatan pada kehidupan ataukah akan lahir seorang individu, seorang anak dengan kepribadian ganda, pecah karena ketidaksamaan perlakuan orangtua dan keluarga, sehingga akan berdampak pada munculnya banyak permasalahan kemasyarakatan bagi kehidupan. Manusia fitri adalah manusia yang berpikir dan berlaku baik dan benar untuk dirinya maupun untuk orang di luar dirinya, atau lingkungannya. Dengan demikian maka prinsip-prinsip pendidikan pralahir, yakni antara lain: diikat oleh semangat cinta, kasih sayang dan kerjasama, ketauhidan, serta ibadah.

Muhammad Lahir dari Keturunan Terpilih

Tidak salah dan sangat tepat, jika ada istilah pada masyarakat adat tertentu tentang pertimbangan bibit, bebet dan bobot atau semakna dalam ungkapan fikih dengan istilah

“sekufu” dalam hal mencari dan menentukan perjodohan, antara seorang putri dan putra. Hal tersebut merupakan sebagai bagian urgen dari sebuah upaya untuk terwujudnya keluarga sakinah, mawaddah wa-rahmah, dan diharapkan dari kelurga seperti itu akan lahir keturunan yang berkualitas secara rohani maupun secara fisik.

Dalam contoh kelahiran Muhammad, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa Muhammad tidak diragukan lagi lahir dari keluarga sekufu (se-bibit, se-bebet, se- bobot) dalam hal ini kedua belah, keluarga ayah Abdullah dan keluarga ibu Siti Aminah sekufu dari segi martabat dan kemuliaan keturunan, yang keduanya terhormat di tengah- tengah masyarakatnya. Diibaratkan sebuah pohon yang berakar kokoh di bumi dan bercabang menjulang ke langit. Kedua keluarga tersebut terkenal sebagai keluarga dermawan dan menjadi panutan masyarakatnya. Keluarga mulia itulah yang terkenal dengan nama Bani Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay, seorang Quraisy yang memiliki kehormatan dan kekuasaan sebagai pemimpin kaumnya. Pada masa-masa sebelumnya tidak pernah ada keluarga Arab yang mempunyai kedudukan semulia dan setinggi kedudukan Qushay bin Kilab.

Muhammad Lahir dari Keutuhan Cinta Kasih Orang Tua, Lingkungan Keluarga Yang Sekufu dan Harmonis

Sebagaimana telah dijelaskan, bahwa Abdullah ayahanda Muhammad adalah seorang pemuda tampan, berbudi pekerti luhur, tak ada seorang pemuda Quraisy pun yang dapat

menyamai kehalusan budinya, demikian pula Ibundanya Siti Aminah, tak ada seorang gadis pun saat itu yang dapat menyamai kehalusan budi pekertinya. Pernikahan keduanya merupakan kehidupan yang tenang, tentram, penuh kedamaian, manis, lembut, penuh kasih sayang.

Dalam kisahnya, rasa persahabatan dan saling ada perhatian serta ketertarikan antara keduanya ternyata telah tumbuh sejak keduanya berusia kanak-kanak, keduanya biasa ikut orangtua mereka masing-masing ketika melakukan ziarah, membersihkan atau memimpin acara- acara tertentu di ka‟bah. Di sanalah ada saatnya mereka bermain dan bergembira bersama, menikmati dunia kanak-kanaknya. Keduanya tak lagi bertemu setelah usia beranjak remaja, dan Siti Aminah sebagai gadis remaja yang beranjak dewasa harus mengikuti adat untuk berdiam di rumah, kecuali pada hal-hal khusus yang dibolehkan bersama keluarga.

Dalam beberapa peristiwa tertentu, misalnya ketika terjadi hal yang menggemparkan masyarakat, yakni tentang akan dilaksanakannya acara persembahan kepada dewa sesuai nazar Abdul Muthalib, yakni menyembelih salah seorang anaknya jika ia memiliki sepuluh anak laki- laki dan ternyata ia dikaruniai sepuluh anak laki-laki, maka salah satu dari sepuluh anak tersebut harus dipersembahkan kepada Dewa. Abdul Muthalib adalah seorang pemimpin Quraisy yang paling disegani dan dimuliakan kaumnya. Melalui proses undian, yang dilakukan dengan memasukkan nama sepuluh anak ke dalam busur panah, ketika busur dilepas, keluarlah nama Abdullah.

Dalam peristiwa itu, salah seorang yang sangat merasakan keresahan dan kecemasan akan pelaksanaan nazar itu ternyata seorang gadis yang bernama Siti Aminah, dengan mencuri-curi dengar perbincangan orang-orang sekitarnya, diam-diam dia melakukan doa agar pelaksanaan penyembelihan itu tidak benar-benar terjadi. Dan betapa bersinarnya wajah gadis Aminah ketika pada akhirnya peristiwa itu batal dilaksanakan karena telah diganti dengan diyat seratus ekor onta. (Peristiwa itu menggemparkan masyarakat Quraisy dan sekitarnya, karena tak pernah terjadi ada diyat sejumlah seratus ekor onta, kebiasaan sebanyak-banyaknya antara 10-30 ekor). Gejolak hati Siti Aminah ternyata tertangkap oleh sang Ibunda, bahwa ternyata gadisnya memiliki perhatian khusus dengan pemuda Abdullah (di antara keduanya, sejak terpisahkan, terkadang saling muncul dalam angan-angan), maka ketika ada pinangan keluarga Abdul Muthalib untuk Abdullah pada Siti Aminah bak gayung bersambut. Sejak perkawinan keduanya, hiduplah Siti Aminah di keluarga Abdullah. Kehidupan keduanya menyatukan dua manusia terpilih dalam hal kerupawanan, budi pekerti mulia dari dua keturunan yang kehormatan dan kemuliaannya tak ada bandingnya saat itu.

Pemberian Nama dan Hitan

Nama Muhammad saat itu sudah terdengar, akan datang dan menjadi seorang Nabi di tanah Arab. Ketika para bangsawan Makkah bertanya pada Abdul Mutthalib di satu jamuan pesta, mengapa cucunya dinamakan Muhammad, lalu Abdul Mutthalib

menjelaskan, “Aku berharap mudah-mudahan dia menjadi orang yang terpuji di langit pada sisi Allah dan terpuji di bumi pada sisi mahkluknya”. Adapun tentang hitannya Muhammad, ada tiga riwayat yang kuat, bahwa Muhammad dilahirkan dalam keadaan sudah dihitan dan terpotong tali pusarnya. Ada juga riwayat lain mengungkap, bahwa Muhammad dihitan oleh Malaikat Jibril ketika di belah dadanya, saat itu ia masih berada pada ibu susunya Halimah. Atau bisa jadi seperti kebiasaan masyaarakat Arab saat itu, dilakukan hitan setelah hari ketujuh dari kelahirannya

Muhammad Kecil dan Fenomena Ibu Susuan, Di Keluarga Halimah (ASI Eksklusif, Asi Dua Tahun dan Tambahan Susu murni)

Setelah sembilan bulan dalam kandungan, Aminah melahirkan Muhammad, di waktu Subuh hari Senin, 12 Rabiul Awal tahun Gajah bertepatan dengan tgl 20 April 571 M, di kampung Bani Hasyim Makkah. Saat itu Abdul Mutthalib sedang melaksanakan Thawaf di ka‟bah, ketika diberitakan kelahiran sang cucu. Abdul Mutthalib datang melihat dengan gembira, lalu diangkatnya, di gendong dan di bawa masuk ke ka‟bah untuk menyampaikan doa dan rasa syukur pada Allah atas kelahiran cucunya yang yatim.

Atas dasar kebiasaan (adat), dan pertimbangan yang sangat mendasar bagi kesempurnaan pertumbuhan dan perkembangan seorang anak, maka masyarakat bangsawan Makkah pada saat itu, biasa mencarikan pengasuh dengan lingkungan yang kondusif untuk maksud tersebut. Beberapa hal yang menjadi perhatian dan pertimbangan,

yakni: (a) pertimbangan kebersihan dan keasrian lingkungan alam, (b) kehidupan yang lebih bersih, teratur dan sederhana, (c) kemurnian bahasa (masih kuat bahasa asli), (d) orang-orang yang mengasuh dan mendidiknya berperangai lurus dan jujur, masih terpelihara dalam keaslian fitrahnya, jauh dari sifat-sifat buruk yang lazim terdapat pada masyarakat perkotaan (saat itu Makkah sudah disebut kota, dimana berbagai ragam suku dan perilaku sudah ada).

Maka bayi yatim Muhammad diserahkan pada ibu susunya, yang berada di perkampungan Badui, bernama Stuwaibah, seorang budak dari Abu Lahab yang sudah dimerdekakan. Sementara yang mengurus keperluan pribadi Muhammad adalah Ummu Aiman Barakah Al-Habsyiyah. Beberapa hari kemudian ibu susunya ganti ke pada Halimah binti Abu Dzuaib, istri abu Kabsyah dari perkampungan Bani Sa‟d.

Sepenggal catatan cerita dari Halimah sebagai ibu susu Muhammad, “Aku datang dari satu daerah yang tidak ada pemukiman yang kegersangannya melebihi kegersangan daerah pemukimanku, ketika ku tinggal pergi ke Makkah mencari putra susuan (menjadi kebiasaan keluarga-keluarga Badui datang ke Makkah menawarkan diri sebagai pengasuh anak-anak para bangsawan), semua kambingku dalam keadaan kurus kering, tetapi setelah aku pulang membawa yatim susuanku Muhammad, kulihat semua kambingku telah menjadi gemuk dan teteknya penuh air susu untuk kami perah dan kami minum

sekenyang-kenyangnya. Padahal kambing-kambing kepunyaan orang lain tidak seekor pun yang dapat diperah susunya karena kurus kelaparan.

Selama dua tahun Muhammad berada di tengah keluargaku, selama itu kami beroleh keberkahan yang berlimpah. Muhammad tak pernah kekurangan air susu, baik dari ASI maupun air susu murni perahan, sehingga ia cepat besar dan pertumbuhan badannya demikian pesat melebihi anak-anak lain yang sebaya, tampak tegap dan kuat”.

Dibuktikan dalam praktk ilmu kedokteran saat ini dengan istilah IMD (ASI Eksklusif – Air Susu Ibu 6 bulan tanpa tambahan asupan dan menyusui air susu ibu selama dua tahun dua tahun disapih), dan sebagai tambahan maka juga terkenal dengan tambahan susu murni, susu asli sapi dengan nama UHT.

Bahwa Usia dini Muhammad, yakni mulai nol tahun hingga usia empat- lima tahun berada di lingkungan keluarga Halimah. Muhammad hidup di lingkungan alam yang lapang dan luasnya gurun sahara, menghirup udara yang bersih dan segar, diasuh dan dididik dalam kehidupan alami yang sederhana dengan adat dan tata perilaku yang masih asli.

Di tengah alam cakrawala gurun sahara, salah satu kegemaran Muhammad kecil adalah berlama-lama memandang, memperhatikan, menikmati dan menghayati kemilau bintang-gemintang dan rembulan di malam hari, merasakan teriknya matahari di siang hari, desah dan derasnya angin padang gurun sahara. Muhammad belajar bahasa yang semurni-murninya dari kabilah Bani Sa‟ad, sehingga pada masa kenabiannya, beliau pernah berkata kepada para sahabat, di antara kalian akulah yang paling makhir berbahasa arab, karena aku seorang dari Quraisy dan dibesarkan dalam asuhan bani Sa‟d bin Bakr.

Usia Dini yang Terjaga dan Terpelihara

Saat usia Muhammad 2 tahun, ia sempat dibawa ke Makkah oleh Halimah ke ibunya, dalam kondisi yang sangat sehat dan cerdas. Tetapi karena sedang ada wabah penyakit dan khawatir Muhammad terkena penyakit yang sedang terjadi di kota Makkah, maka segra dibawa kembali lagi bersama Halimah hidup di kampung Bani Sa‟ad. Jadi hingga usia empat tahun (golden age), Muhammad hidup dalam limpahan kasih sayang, walau secara ekonomi hidup keluarga Aminah dikatakan pas-pasan. Ada hadis yang menjelaskan masalah ini, “Tenanglah, aku bukanlah seorang raja, tetapi aku hanyalah anak dari seorang perempuan Quraisy yang makan sisa daging dikeringkan (dendeng sederhana)”.

Selama empat-lima tahun keberadaan Muhammad pada keluarga Halimah, meninggalkan kesan mendalam pada jiwanya. Halimah dan keluarganya telah mengasuh, merawat, dan mendidiknya dengan penuh kasih sayang dan kelembutan Muhammad bersama anak-anak Halimah menjadi saudara yang saling menghargai dan saling mengakui yang diwujudkan dengan saling sayang menyayang, saling membantu, dan selalu bekerjasama. Misalnya dalam tugas dan tanggung jawab saat mereka bekerja

menggembalakan kambing, di antara mereka tak pernah ada perselisihan, kebersamaan, saling menghargai dan memberi perhatian serta gotong royong menjadi dasar pendidikan yang ditanamkan oleh ibunda Halimah. Hal tersebut meninggalkan kesan mendalam pada diri Muhammad, di kemudian hari, di saat Muhammad telah menjadi Nabi, setiap Halimah datang berkunjung ke tempat beliau setelah menjadi Nabi, Nabi menyambut kedatangannya dengan mesra. Sebagai penghormatannya pada Halimah, beliau membentangkan burdah (kain penutup punggung) yang sedang dipakainya lalu mempersilahkan Halimah duduk di atasnya.

Kebersamaan dan kasih sayang di antara saudara sesusuannya, tergambar dalam satu peristiwa penting yang sering menjadi sorotan sejarah adalah peristiwa “pembelahan dada” oleh dua orang laki-laki yang dikatakan sebagai Malaikat pada masa pengasuhan Halimah. Peristiwa itu terjadi pada saat muhammad sedang menggembalakan kambing bersama dengan anak Halimah yang bernama Abdullah.. Saat itu tiba-tiba datang dua orang dengan pakaian serba putih menangkap Muhammad dan membawanya ke tempat yang agak jauh dari tempat menggembala. Peristiwa itu sempat terlihat oleh salah seorang saudara sesusuannya, kemudian ia berlari pulang sambil menangis lalu menceritakan peristiwa itu kepada orangtuanya, bahwa Muhammad dibawa oleh dua orang berbaju putih, lalu dibaringkan, kemudian membelah dadanya dan membolak balik badannya. Ketika Halimah dan suaminya datang melihat, ditemui Muhammad sendiri merenung, lalu ketika dia ditanya masalah tersebut, dia menceritakannya seperti apa yang disampaikan Abdullah. Setelah peristiwa itu pada usia lima tahun Muhammad dibawa kembali ke ibunya di Makkah.

Dapat ditegaskan, bahwa Halimah, sebagai pengasuh, pemelihara, dan pendidik, memiliki komitmen tinggi dalam melaksanakan tugas- tugas pengasuhannya. Sehingga walaupun Muhammad berada dalam pengasuhan bukan ibunda kandungnya, tetapi pengasuhan dan pendidikan yang didapatkannya telah dapat memenuhi kebutuhan akan kasih sayang, perhatian dan kebutuhan perkembangannya. Dan Halimah, walaupun Muhammad dari keluarga yang miskin, dan tidak akan dapat memberinya upah lebih, ia tetap bersedia dan mengambil Muhammad sebagai anak susuannya. Maka sifat-sifat seperti sederhana tetapi cerdas, baik hati, lembut, penuh perhatian dan kasih sayang, serta bersifat adil dan bijaksana memperlakukan di antara Muhammad dan anak- anaknya, maka itulah konsep seorang pendidik dan pengasuh, yang akan mengantarkan seorang generasi berkualitas ke depan.

Ibunda Siti Aminah (Muhammad Yatim Piatu).

Sempat di usia dua tahun berada di bawah kasih sayang ibunda, tetapi dalam waktu tidak lama di bawa kembali ke Ibu Susuan, karena sedang ada wabah penyakit di kota Makkah, khawatir muhammad tertular, dan dibawa kembali ke ibundanya di saat memasuki usia ke lima tahun. Jadi sejak usia empat menjelang ke lima tahun, hingga enam menjelang ke tujuh tahun tahun (golden age) Muhammad hidup bersama