• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

F. Kerangka Teori

2. Pariwisata Syariah

42

positif bagi kehidupan masyarakat sekitar dan sesuai dengan kebudayaan serta nilai-nilai yang berlaku pada masyarakat tersebut.

3) Economic Sustainability, yaitu memastikan bahwa pengembangan yang dilakukan efisien secara ekonomi dan bahwa sumber daya yang digunakan dapat bertahan bagi kebutuhan di masa mendatang. Sementara itu dilain hal, sektor pariwisata terdiri atas beberapa komponen yang berbeda yang harus benar-benar dimengerti dan direncanakan dan dikembangkan secara terintegrasi dalam masyarakat. Segalanya untuk kenyamanan perencanaan pariwisata dalam masyarakat itu sendiri.

43

perlindungan konsumen. Sedangkan dari perspektif industri.

Bagi produsen pangan, konsep halal ini dapat diartikan sebagai suatu peluang bisnis. Bagi industri pangan yang target konsumennya sebagian besar muslim, diperlukan adanya jaminan kehalalan produk akan meningkatkan nilainya yang berupa intangible value.

b) Kriteria umum obyek Pariwisata syari’ah.

Obyek dalam pariwisata syari’ah dapat berupa:

wisata alam, wisata budaya, wisata buatan yang dibingkai dalam nilai-nilai Islam. Adanya nilai-nilai Islam yang melekat tersebut menjadikan para wisatawan dalam melakukan kagiatan wisata disamping memperoleh kesenangan yang bersifat duniawi, juga mendapatkan kesenangan yang sejalan dengan nilai-nilai yang selaras secara dan seiring dengan tujuan dijalankannya syari’ah, yaitu memelihara kesejahteraan manusia yang mencakup perlindungan terhadap keimanan, kehidupan, akal, keturunan, dan harta benda. Dengan demikian, dalam pariwisata syari’ah meletakan prinsip yang ada harus didasarkan pada tujuan untuk meningkatkan semangat keberagaman dengan cara yang menghibur.

Keadaan tersebut menjadi sangat berbeda manakala wisatawan melakukan kegiatan wisata yang konvensional maupun wisata religi. Ketiga jenis kegiatan pariwisata tersebut meskipun berbeda, tidak berarti saling meniadakan dan saling menghilangkan satu sama lain.

Wisata konvensional dan religi pada prinsipnya dapat mendukung terselenggaranya wisata syariah, sepanjang tidak bertentangan dengan kaidah hukum Islam.

Secara singkat, Riyanto melakukan komparasi pariwisata konvensional, pariwisata religi, dan pariwisata syariah yaitu :16

16Muh. Baihaqi, “Peran Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Dalam Membangun Brand Wisata Syari’ah Di Nusa Tenggara Barat,” Iqtishaduna VIII, No. 2 (2017), Hlm 57

44

1) Obyek : Dalam pariwisata konvensional terdapat obyek wisata alam, budaya dan kuliner, kemudian wisata religi terdapat tempat ibadah dan peninggalan sejarah sedangkan dalam pariwisata syariah obyek wisatanya adalah alam, budaya, kuliner, tempat ibadah dan bahkan peninggalan sejarah.

2) Tujuan : Dalam pariwisata konvensional tujuannya yakni menghibur para wisatawan, kemudian dalam pariwisata religi bertujuan untuk meningkatkan spiritualitas dan dalam pariwisata syariah tujuan dari pariwisata yakni meningkatkan spiritualitas dengan cara menhibur para wisatawan.

3) Target : Pada pariwisata konvensional target untuk wisatawan yakni dapat menyentuh kepuasan dan kesenangan hanya untuk menghibur semata, dalam religi yakni untuk aspek spiritual menenangkan jiwa, mencari ketentraman batin semata sedangkan dalam pariwisata syariah target untuk wisatawan yakni memenuhi keinginan dan kesenangan serta menumbuhkan kesadaran beragama.

4) Guide : Dala pariwisata konvensional guide memahami dan menguasai informasi sehingga bisa menarik wisatawan terhadap obyek wisata, dalam pariwisata religi menguasai sejarah tokoh dan lokasi yang menjadi obyek wisata sedangkan dalam pariwisata syariah guide membuat turis tertarik pada obyek dan membangkitkan spirit religiositas, mampu menjelaskan fungsi dan peran syariah dalam membentuk kebahagiaan dan kepuasan batin.

5) Fasilitas ibadah : Dalam pariwisata konvensional dan religi fasilitas ibadah sekedar perlengkapan sedangkan dalam pariwisata syariah menjadi bagian yang menyatu dengan obyek pariwisata, ritual peribadatan menjadi bagian paket hiburan.

6) Kuliner : Dalam pariwisata konvensional dan religi menyediakan makanan dan minuman secara umum

45

sedangkan dalam pariwisata syariah memiliki spesifik makanan dan minuman yang halal.

7) Relasi dengan masyarakat di lingkungan wisata : Dalam pariwisata konvensional dan religi relasi dengan masyarakat di lingkungan wisata hanya semata-mata untukmenejar keuntungan saja sedangkan dalam pariwisata syariah terintegrasi, interaksi berdasarkan pada prinsip-prinsip syariah.

Pengembangan wisata syari’ah diharapkan dapat meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung, dengan bertambahnya jumlah wisatawan maka akan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Pengembangan ini akan dilakukan pada seluruh sektor pariwisata, baik itu Sumber Daya Alam maupun Sumber Daya Manusia sehingga partisipasi, kepedulian masyarakat terhadap kepariwisataan sangat dibutuhkan terutama oleh masyarakat muslim yang pada akhirnya nanti dapat meningkatkan kesejahteraan perekonomian.

c) Indikator-Indikator Pariwisata Syariah

Secara umum, urgensi peraturan pariwisata halal tentang pariwisata halal adalah untuk melindungi umat Islam dan masyarakat Indonesia sehingga perilaku mereka dipertahankan dan sesuai dengan aturan hukum Islam saat bepergian atau melaksanakan kegiatan pariwisata. Ini sejalan dengan tujuan Dewan Ulama Indonesia dan peraturan daerah, yaitu untuk menciptakan masyarakat yang aman dan harmonis sesuai dengan prinsip-prinsip Syariah (Halal) dan dasar Negara Indonesia (Pancasila). Indikator Pariwisata Syariah (Pariwisata Halal) Menurut DSN-MUI:17

1. Prinsip Organisasi Pariwisata Syariah: Menghindari kemusyrikan, kemaksiatan, tabdzir/israf, kekafiran,

17Salaman Nasution, “Konsep Pariwisata Halal Berbasis Ekonomi Kreatif Dengan Sharia Regulation Dalam Meningkatan Pendapatan Dan Kesejahteraan Masyarakat Di Sumatera Utara,” Jurnal Riset Akuntansi Dan Bisnis 8, No. September (2021): 22-23.

46

menciptakan kemaslahatan dan manfaat baik material maupun spiritual.

2. Pemangku Kepentingan dalam Organisasi Pariwisata Syariah: Wisatawan, biro perjalanan pariwisata syariah (BPWS), pengusaha pariwisata, hotel syariah, pemandu wisata dan terapis.

3. Kriteria Hotel (Penginapan/Homestay) Syariah: Hotel syariah tidak boleh memberikan akses terhadap pornografi dan perbuatan asusila. Hotel syariah tidak boleh menyediakan fasilitas hiburan yang mengarah pada kemusyrikan, asusila, pornografi, dan/atau perbuatan asusila. Makanan dan minuman yang disediakan hotel syariah harus sudah mendapatkan sertifikat halal dari MUI. Menyediakan sarana dan perlengkapan yang memadai untuk pelaksanaan ibadah.

Manajemen hotel dan karyawan-karyawan wajib mengenakan pakaian yang sesuai dengan syariah. Hotel syariah wajib memiliki pedoman dan/atau pedoman mengenai tata cara pelayanan hotel untuk menjamin terselenggaranya pelayanan hotel sesuai dengan prinsip syariah.

4. Ketentuan Perjalanan Wisatawan: Berpegang teguh pada prinsip-prinsip syariah dengan menghindari syirik, maksiat, kejahatan, dan kerusakan (fasad); Menjaga kewajiban ibadah selama perjalanan wisata; Menjaga akhlak mulia; Menghindari tujuan wisata yang bertentangan dengan prinsip-prinsip islam.

5. Ketentuan Destinasi Wisata Syariah:

a) Destinasi Wisata Syariah Harus Diarahkan Pada Upaya Untuk: Mewujudkan kemaslahatan umum; Pencerahan penyegaran dan penenangan;

Menjaga kepercayaan, keamanan, dan kenyamanan; Mencapai kebaikan universal dan inklusif; Menjaga kebersihan, kelestarian alam, sanitasi, dan lingkungan; Penghormatan terhadap

47

nilai-nilai sosial budaya dan kearifan lokal yang tidak melanggar prinsip syariah.

b) Destinasi wisata syariah wajib punya: Sarana ibadah yang layak pakai, mudah dijangkau dan memenuhi syarat syariah. Makanan dan minuman halal yang dijamin kehalalannya dengan sertifikat halal MUI.

c) Destinasi Wisata Syariah Wajib Dihindari:

Perbuatan asusila, perzinahan, pornografi, pornoaksi, minuman keras, narkoba dan perjudian; Pertunjukan seni dan budaya serta atraksi yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam.

d) Objek dan Infrastruktur Pariwisata Halal

Organisasi Konferensi Islam (OKI) memberik penjelasan atau makna wisata halal, kata yang digunakanoleh OKI adalah Islamic Tourism yaitu Pariwisata Islam didasari pada Al-Qur’an:

ْ يَكْا و ُرُظ ناَفْ ِض رَ لْاْىِفْا و ُر يِسْ لُق

ُْٰاللّْ مُثَْق لَخ لاَْاَدَبْ َف

ْ

َْٰاللّْ نِاَْۗة َر ِخٰ لْاَْةَا ش نلاُْئِش نُي

ْ ْ ٌر يِدَقْ ٍء يَشِْ لُكْىٰلَع ْ

Artinya : Katakanlah: "Berjalanlah di (muka) bumi, Maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi.

Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.18 Pada ayat tersebut menganjurkan manusia untuk melakukan perjalanan di muka bumi untuk mengambil pembelajaran dari apa yang telah diciptakan oleh Allah SWT dan mengambil rahmat-Nya. Negara Indonesia dalam pengembangan pariwisata halal mengadopsi kriteria dari

18Al-Quran, Al-Ankabut Ayat 20, Alquran Dan Terjemahnya (Jakarta: Kementerian Agama RI, 2012), 561-562.

48

Global Muslim Travel Index sebagai dasar. Dari hal tersebut Indonesia membentuk satu badan dibawah naungan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia yang memiliki tanggung jawab dan kewenangan dalam mengatur pariwisata di Indonesia, badan khusus diberi nama Tim Percepatan Pembangunan Pariwisata Halal (TP3H). TP3H adalah tim yang diberikan wewenang untuk membantu pemerintah melakukan pemetaan, pengembangan dan memberikan pedoman kepada daerah yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi wisata halal.19

Wisata halal didefinisikan sebagai produk dan layanan pariwisata yang mencakup segala kebutuhan wisatawan muslim yang berkaitan dengan makanan dan kegiatan ibadah. Konsep halal sendiri digunakan secara umum untuk perbuatan yang diizinkan untuk dilakukan, konsep halal tidak hanya diaplikasikan pada makanan. Namun, juga termasuk semua aspek produk yang ditawarkan.20Maka dari itu, ada beberapa aspek kriteria yang harus dipersiapkan guna mengaplikasikan konsep pariwisata syariah, antara lain:

1) Objek Wisata : Destinasi (Sasaran Kunjungan)

Semua objek wisata yang ada dapat dikelola menjadi destinasi wisata halal selagi tidak ada faktor yang bertentangan dengan syariat Islam. Pertama, destinasi wisata harus memiliki tujuan untuk terwujudnya kemaslahatan dan kebaikan umum. Kedua, sarana dan prasarana yang ada pada objek wisata harus dilengapi dengan fasilitas ibadah yang memadai, mudah dijangkau, dan sesuai dengan ketentuan hukum Islam.

Ketiga, destinasi wisata harus terhindar dari perbuatan yang dilarang oleh agama.

19Alwafi Ridho Subarkah, “Potensi Dan Prospek Wisata Halal Dalam Meningkatkan Ekonomi Daerah (Studi Kasus: Nusa Tenggara Barat).”

20Oktaviani Winarti, “Halal Tourism In Indonesia: Does It Attract Only Muslim Tourists,” Jurnal Komunikasi 1, No. 3 (2017): 234.

49

2) Perhotelan : Infrastruktur Akomodasi

Sebagai penunjang kegiatan pariwisata, membutuhkan infrastruktur pendukung seperti ketersediaan hotel untuk tempat menginap bagi para wisatawan. Bisnis perhotelan memiliki dua fungsi penting, yaitu menyediakan produk riil (tangible producut) dalam wujud penyediaan kamar dan fasilitasnya beserta konsumsi baik makanan maupun minuman. Selain itu juga menjual produk yang tidak tampak yaitu layanan jasa yang bisa dirasakan oleh wisatawan. Maka dari itu, fasilitas yang dijual oleh hotel dalam pandangan fikih tidak boleh ada aspek apapun yang bertentangan dengan syariah. Seperti, terbebas dari segala jenis makanan dan minuman memabukkan dan mengandung bahan yang haram dikonsumsi. Mengutamakan layanan yang mencerminkan etika Islam, tidak hanya yang tampak secara lahir tetapi juga batin, seperti ramah, amanah, jujur, dan tindakan terpuji lainnya.

Dalam penyediaan fasilitas perlu dibedakan berdasarkan jenis kelamin, seperti fasilitas kolam renang, fasilitas spa, fasilitas kamar, kecuali mahram dan memiliki surat keterangan telah menikah.

3) Restoran : Infrastruktur Kebutuhan Konsumsi

Setiap usaha restoran memiliki sumber daya manusia, tempat dan objek yang dijual seperti jasa, makanan dan minuman. Dalam aspek fikih etika pelayan harus berpakaian sopan dan sesuai syariat, menjaga aurat, tersedianya fasilitas ibadah yang memadai, adanya daftar harga tiap produk yang dijual, adanya label halal pada tiap makanan yang disajikan dan lain sebagainya.

Infrastruktur kebutuhan konsumsi bukan hanya terbatas pada penyediaan restoran saja, namun juga meliputi penyediaan toko maupun gerai penjualan oleh-oleh yang biasanya menjadi tujuan wisatawan untuk mendapatkan buah tangan. Aspek tersebut juga

50

harus sesuai dengan syariat islam sesuai yang telah dijelaskan di atas.

4) Travel : Infrastruktur Biro Perjalanan dan Transportasi Biro perjalanan harus memberikan pelayanan sesuai dengan etika Islam. Memberikan kesempatan bagi wisatawan untuk berhenti di titik tertentu untuk istirahat, makan dan melaksanakan ibadah shalat.

Rumah makan yang digunakan untuk aktivitas tersebut juga harus memiliki standar restoran atau rumah makan halal sebagai sarana pendukung perjalanan wisata halal. Hal tersebut adalah salah satu cara untuk memberikan pelayanan terbaik kepada wisatawan sebagai salah satu bentuk pelayanan execellent dari sebuah usaha transportasi agar tercipta kesan perusahaan yang digunakan mengedepankan etika Islam.

5) Sumber Daya Manusia (Human Resourch)

Manusia menjadi daya dukung kegiatan pariwisata yang sangat krusial, baik kemampuannya sebagai pengusaha, pemangku kebijakan, pemandu wisata (pramuwisata), kaum intelektual, dan masyarakat luas.

Semua unsur sumber daya manusia (SDM) memiliki peran dan fungsinya masing-masing. Unsur yang tidak kalah penting untuk disoroti adalah seorang pemandu wisata atau pramuwisata dalam perannya menyukseskan pembaangunan pariwisata halal.

Bagaimana cara berpakain, menentukan tarif jasa ketika memandu, harus transparan untuk menciptakan kenyamanan antara pramuwisata dan wisatawan.

Pramuwisata harus memahami dan menjalankan nilai- nilai syariah dalam melaksanakan tugasnya, diantaranya adalah bersikap profesional, paham dan dapat melaksnakan fikih pariwisata, berperilaku sesuai etika Islam, mampu berkomunikasi dengan baik, ramah, jujur, menarik, dan bertanggungjawab. Dengan demikian, Sumber daya manusia yang berkecimpung di

51

industri pariwisata halal harus paham akan kebutuhan dasar wisatawan muslim. Sebagai wujud komitmen pengembangan di bidang industri halal tourism.