• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pasar pada Masa Rasulullah saw

Dalam dokumen ISLAM & PASAR TRADISIONAL (Halaman 52-56)

GARIS BESAR ISI BAB

B. Pasar pada Masa Rasulullah saw

40

10.Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, yaitu:

Janganlah seseorang di antara kalian menjual di atas jualan saudaranya.

11.Hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal, Muslim, Abu Daud, dan at-Tirmizi, yaitu:

Janganlah kamu membeli ikan di dalam air, karena jual beli seperti ini adalah jual beli tipuan.

12.Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, yaitu:

.

Nabi saw melarang menjual buah-buahan sampai (buah-buahan) tersebut nampak masaknya. Beliau melarang penjual maupun pembelinya.

41

keadilan, kejujuran, kesetaraan, kehati-hatian, kebersahajaan, infaq dan sebagainya dapat termanifestasikan dalam kehidupan umat sehari-hari ketika mereka bekerja.

Awalnya tentu tidak mudah karena ketika kaum Muhajirin mulai aktif berdagang di Madinah misalnya, mereka berdagang di pasar yang sudah ada waktu itu yaitu pasar yang dikelola oleh Yahudi.

Pengelolaan pasar oleh Yahudi yang di al-Qur’an digambarkan bahwa mereka menganggap halal untuk mengambil harta orang lain ini (orang-orang umi , QS 3:75), tentu saja bermasalah.

Oleh karena penguasaan pasar oleh kaum Yahudi tersebut, sehingga umat Islam semula tidak bisa sepenuhnya mengimplementasikan nilai-nilai Islam di pasar, maka kemudian Rasulullah saw pun memandang penting untuk segera mendirikan pasar bagi kaum muslimin di awal-awal terbentuknya masyarakat yang akan hidup dengan nilai-nilai Islam yang menyeluruh di Madinah.

Di suatu tempat yang berjarak hanya beberapa rumah arah barat laut dari Masjid Rasulullah saw yang telah didirikan terlebih dahulu, Rasulullah saw mendirikan pasar dangan sabdanya “Ini pasarmu, tidak boleh dipersempit (dengan mendirikan bangunan dan lain-lain di dalamnya) dan tidak boleh ada pajak di dalamnya.” (HR.

Ibn Majah).

Pasar di area terbuka tersebut menurut Kallek (1995) memiliki panjang sekitar 500 meter dan lebar sekirat 100 meter (luas sekitar 5 ha), jadi cukup luas untuk mengakomodasi kebutuhan penduduk kota yang kemudian berkembang pesat paskahijrah. Lokasinya juga dipilih sedemikian rupa sehingga penduduk yang datang dari berbagai wilayah, mudah mencapai pasar tersebut. Pasar Madinah inilah yang kemudian menjadi urat nadi perekonomian negara Islam yang pertama, yang berpusat di Madinah.

Lokasinya yang tidak jauh dari Masjid Rasulullah saw tetapi juga tidak terlalu dekat (selang beberapa rumah), dan juga memiliki nilai

42

strategis sendiri. Nilai-nilai yang terbawa dari ketaatan beribadah di masjid dapat mewarnai aktivitas perdagangan di pasar, namun hal- hal yang buruk dari pasar seperti keramaiannya tidak mempengaruhi aktivitas dan kekhusukan umat yang beribadah di masjid (Kallek, 1995).

Bahkan cara-cara pengelolaan pasar pun memiliki kemiripan dengan pengelolaan Masjid. Hal ini disampaikan oleh Umar Ibn Khattab yang menjadi muhtasib (pengawas pasar) setelah Rasulullah saw dengan perkataaannya bahwa pasar itu menganut ketentuan masjid, barang siapa datang terlebih dahulu di satu tempat duduk, maka tempat itu untuknya sampai dia berdiri dari situ dan pulang ke rumahnya atau selesai jual belinya.

Nilai pesan yang terkandung di dalam perkataan Umar ini sejalan dengan hadits Rasulullah saw tersebut di atas yang intinya adalah akses ke pasar harus sama bagi seluruh umat, tidak boleh mengkapling-kapling pasar. Hal ini diimplemantasikan Umar dengan melarang orang membangun bangunan di pasar, menandai tempatnya, atau mempersempit jalan masuk ke pasar. Bahkan dengan tongkatnya Umar menyeru, enyahlah dari jalan kepada orang-orang yang menghalangi orang lain masuk ke pasar.

Lantas pelajaran apa yang bisa kita ambil dari sunah Rasulullah saw mendirikan pasar, yang kemudian juga terus ditegakkan oleh para Khalifah tersebut di atas? Yang jelas situasi pasar-pasar yang ada dewasa ini tidak jauh berbeda dengan kondisi pasar di Madinah yang dikelola Yahudi sebelum didirikannya pasar bagi kaum muslimin oleh Rasulullah saw tersebut di atas. Segala macam kecurangan ala Yahudi terjadi di pasar ini, dan yang paling menyolok adalah akses pasar yang tidak mudah dijangkau oleh mayoritas umat.

Terkait dengan penentuan harga barang-barang di pasar, Rasulullah saw tidak menganjurkan campur tangan apa pun dalam proses penetuan harga oleh negara atau individu. Di samping menolak untuk mengambil aksi langsung apa pun, beliau juga

43

melarang praktek-praktek bisnis yang dapat membawa kepada kekurangan pasar. Dengan demikian, Rasulullah saw menghapuskan pengaruh kekuatan ekonomi terhadap mekanisme penentuan harga.

Anas meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah saw, ia mengatakan bahwa harga pernah mendadak naik pada masa Rasulullah saw lalu para sahabat mengatakan:

Wahai Rasulullah, tentukanlah harga (ta’sir) untuk kita. Beliau menjawab: Sesungguhnya Allah swt adalah Dzat Yang Maha Menetapkan harga, yang Yang Maha Memegang, Yang Maha Melepas, dan Yang Memberikan rezeki. Aku sangat berharap bisa bertemu Allah swt. tanpa seorang pun dari kalian yang menuntutku dengan tuduhan kezaliman dalam darah dan harta.

Hadits di atas menunjukkan bahwa Rasulullah saw melarang adanya intervensi harga dari siapapun juga. Praktek-praktek dalam mengintervensi harga adalah perbuatan yang terlarang. Islam mengatur agar persaingan di pasar dilakukan dengan adil. Oleh karena itu, setiap bentuk praktik pasar yang dapat menimbulkan ketidakadilan dilarang. Bentuk praktik pasar tersebut menurut Karim (2011), antara lain, yaitu:

1. Talaqqi rukban dilarang karena pedagang yang menyongsong di pinggir kota mendapat keuntungan dari ketidaktahuan penjual dari kampung akan harga yang berlaku di kota. Mencegah masuknya pedagang desa ke kota ini akan menimbulkan pasar yang tidak kompetitif.

2. Mengurangi timbangan dilarang karena barang dijual dengan harga yang sama untuk jumlah yang lebih sedikit.

3. Menyembunyikan barang cacat dilarang karena penjual mendapatkan harga yang baik untuk kualitas yang buruk.

44

4. Menukar kurma kering dengan kurma basah dilarang karena takaran kurma basah ketika kering bisa jadi tidak sama dengan kurma kering yang ditukar.

5. Menukar satu takar kurma kualitas bagus dengan dua takar kurma kualitas sedang dilarang karena setiap kualitas kurma mempunyai harga pasarnya. Rasulullah menyuruh menjual kurma yang satu, kemudian membeli kurma yang lain dengan uang.

6. Transaksi Najasy dilarang karena si penjual menyuruh orang lain memuji barangnya atau menawar dengan harga tinggi agar orang lain tertarik.

7. Ikhtikar dilarang, yaitu mengambil keutungan di atas keuntungan normal dengan menjual lebih sedikit barang untuk harga yang lebih tinggi.

8. Ghaban faahisy (besar) dilarang yaitu menjual di atas harga pasar.

Dalam dokumen ISLAM & PASAR TRADISIONAL (Halaman 52-56)