• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II Tinjauan Pustaka

2.3. Dismenore

2.3.7. Patofisiologi dismenorea

Dismenorea primer disebabkan oleh zat kimia alami yang diproduksi oleh sel-sel lapisan dinding rahim yang disebut prostaglandin (Nirwana Sabilu, Y., 2016) Dismenore bisa terjadi akibat prostaglandin didalam endometrium meningkat dengan jumlah yung tinggi, hal ini dikarenakan progesterone selama fase lutral pada saat siklus haid, prostaglandin mencapai tingkat maksimum pada awal haid. sehingga menyebabkan kontraksi pada miometrium yang kuat sehingga membu menyempitan pada pembuluh darah, yang mengakibatkan iskemia, disintegrasi endometrium, sehingga saat menarumi menjadi nyeri (Manuaba, 2015).

Prostaglandin akan merangsang otot ctot halus dinding rahim berkontraksi. Makin tinggi kadar prostaglandin, kontruksi akan makin kuat, sehingga rasa nyeri yang drasakan juga makin kuat. Biasanya, pada hari pertama menstruasi kailar prostaglandin sangat tinggi. Pada hari kedua dan selanjutnya, lapisan dinding rahim akan mulai terlepas, dan kadar prostaglandin akan menurun. Rasa sakit dan nyeri haid pun akan berkurang seiring dengan makin menurunnya kadar prostaglandin (Lestari, 2015).

Dismenorea terjadi pada siklus ovulasi yang melibatkan hormon estrogen dan progresteron. Lucut progresteron akan merusak membran lisosom sehingga melepas enzim litik dan fosfolipid yang lepas mengaktivasi jalur siklooksigenasi, memetabolisme asam arakidonat menjadi prostaglandin F2a (PGF2a), prostaglandin E2 (PGE2), leukotrin dan tromboksan waktu haid. Kadar PGF2a dan PGE2 yang tinggi menyebabkan peningkatan frekuensi (4-10 kali tiap 10 menit) dan durasi kontraksi myometrium. Pengamatan yang dilakukan oleh Dawood (2006) mendapatkan peningkatan tekanan pada rongga uterus hingga mencapai 100 – 400 mmHg pada puncak kontraksi. Bila tekanan ini melebihi tekanan arteri uterina, maka dapat menyebabkan terjadinya iskemi pada myometrium. Pemeriksaan ultrasonografi dopler menunjukkan resistansi

arteri uterina dan arkuatus lebih tinggi pada wanita dismenorea primer dibandingkan yang tidak menderita. Kadar PGF2a dan PGE2 endometrium pada siklus ovulasi, dimulai fase proliferasi meningkat pada fase sekresi dan maksimum pada pra haid. Kadar PGF2 endometrium pra haid 5x dibanding fase poliferasi. Kadar PGF2a lebih tinggi dibanding yang tidak menderita, dan infus PGF2a dapat menimbulkan gejala seperti dismenorea (Akbar, 2020).

2.3.8 Penatalaksanaan Dismenorea

Cara mengatasi dismenore primer dapat dilakukan dengan cara farmakologis maupun nonfarmakologis, yaitu: (Nugroho,2014):

1) Farmakologis

a. Obat-obat antiinflamasi non steroid (NSAID)

NSAID dapat menurunkan nyeri dengan menghambat produksi prostaglandin dari jaringan-jaringan yang mengalami inflamasi serta menghambat reseptor nyeri yang sensitif terhadap stimulus menyakitkan sebelumnya. Misalnya: ibuprofen, naproxen, dan asam mefenamat.

b. Terapi Hormonal

Terapi hormonal bertujuan untuk menekan ovulasi. Terapi hormonal dilakukan dengan cara pemberian pil kombinasi kontrasepsi.

c. Obat analgesik

Obat analgesik yang sering digunakan misalnya kombinasi aspirin, fenasetin dan kafein.

2) Non Farmakologi

Relaksasi otot skeletal dipercaya dapat menurunkan nyeri dengan merilekskan ketegangan otot yang menunjang nyeri.

a. Tidur dan istirahat yang cukup saat menstruasi dapat meredakan rasa sakit dapat dilakukan.

b. Mendengarkan Musik Bagi yang mempunyai hobi mendengarkan musik, tidak ada salahnya mencoba meringankan rasa sakit saat

menstruasi dengan mendengarkan lagu kesukaan. Selain itu, juga dapat mencoba mendengarkan lagu yang dapat menenangkan saraf dan membuat pikiran menjadi rileks. Menurut penelitian Firma Hidayanti 2013 menunjukkan musik klasik Mozart, Beethoven dan Vivaldi dapat meghilangkan nyeri menstruasi.

c. Berolahraga Wanita yang melakukan olahraga secara teratur setidaknya 30-60 menit setiap 3-5 kali per minggu dapat mecegah terjadinya dismenore. Setiap wanita dapat sekedar berjalan-jalan santai, jogging ringan, berenang, senam maupun bersepeda sesuai dengan kondisi masing-masing. (Manuaba,2017).

d. Mengompres dengan suhu panas (hangat), suhu panas merupakan ramuan tradisional turun-temurun yang patut dicoba. Gunakan heating pad (bantal pemanas), kompres handuk, atau botol berisi air hangat tepat pada bagian yangterasa nyeri (bisa perut dan pinggang bagian belakang). Suhu panas diketahui dapat meminimalisir ketegangan otot. (Marmi,2015). Menurut penelitian Maidartati (2018) tentang efektiftas terapi kompres hangat terhadap penurunan nyeri dismenore pada remaja di Bandung menunjukkan bahwa kompres hangat selama 10 menit dengan suhu air 40-45˚ C efektif untuk menurunkan tingkat nyeri haid pada remaja di Kota Bandung. Kalor yang diberikan selama pengompresan akan memberikan efek bagi rahim yakni, melunakkan ketegangan otot dinding rahi m akibat kontraksi disritmik tadi dan melebarkan pembuluh darah yang menyempit atau vasodilatasi pembuluh darah sehingga oksigen akan mudah bersirkulasi. Dengan demikian darah menstruasi akan mudah keluar di ikuti penurunan kadar konsentrasi prostaglandin, sehingga nyeri haid akan berkurang. (Pramardika, 2018)

e. Aroma terapi digunakan untuk menghilangkan rasa sakit saat menstruasi karena, aroma terapi mampu memberikan sensasi yang menenangkan diri dan otak, serta stres yang dirasakan.

f. Pemijatan dapat dilakukan untuk mengurangi nyeri yang dirasakan. Pijatan yang dilakukan secara ringan dan melingkar dengan telunjuk pada perut bagian bawah akan membantu mengurangi nyeri haid.

2.4 Kompres Hangat 2.3.1. Pengertian

Kompres hangat adalah pengompresan yang dilakukan dengan mempergunakan buli-buli panas yang di bungkus kain yaitu secara konduksi dimana terjadi pemindahan panas dari buli-buli ke dalam tubuh sehingga akan menyebabkan pelebaran pembuluh darah dan akan terjadi penurunan ketegangan otot sehingga nyeri haid yang dirasakan akan berkurang atau hilang (Perry & Potter,2005).

Kompres hangat merupakan metode memberian rasa hangat pada klien dengan menggunakan cairan atau alat yang menimbulkan hangat pada bagian tubuh yang memerlukan. Kompres hangat efektif untuk menurunkan nyeri disminore yang dirasakan remaja putri baik dihari pertama menstruasi maupun hari kedua menstruasi. Pemberian aplikasi hangat pada tubuh merupakan suatu upaya untuk mengurangi gejala nyeri akut maupun koronis. Terapi ini efektif untuk mengurangi nyeri yang berhubungan dengan ketengangan oto walaupun dapat juga dipergunakan untuk mengurangi berbagai jenis nyeri lain. (Ulfa, 2019).

Menurut Bobak (2017), kompres hangat berfungsi untuk mengatasi atau mengurangi nyeri, dimana panas dapat meredakan iskemia dengan menurunkan kontraksi uterus dan melancarkan pembuluh darah sehingga dapat meredakan nyeri dengan mengurangi ketegangan dan meningkatkan perasaan sejahtera, meningkatkan aliran menstruasi, dan meredakan vasokongesti pelvis. Menurut Price & Wilson (2005), kompres hangat sebagai metodeyang sangat efektif untuk mengurangi nyeri atau kejang otot.

Kompres hangat adalah memberikan rasa hangat untuk memenuhi kebutuhan rasa nyaman, mengurangi atau membebaskan nyeri,

mengurangi atau mencegah spasme otot dan memberikan rasa hangat pada daerah tertentu (Restiyana, 2017).

Kompres hangat merupakan salah satu metode non farmakologi yang dianggap sangat efektif dalam menurunkan nyeri atau spasme otot.

Panas dapat dialirkan melalui konduksi, konveksi dan konversi. Nyeri akibat memar, spasme otot, dan artritis berespon baik terhadap peningkatan suhu karena dapat melebarkan pembuluh darah dan meningkatkan aliran darah lokal. Oleh karena itu, peningkatan suhu yang disal urkan melalui kompres hangat dapat meredakan nyeri dengan menyingkirkan produk-produk inflamasi, seperti bradikinin, histamindan prostaglandin yang akan menimbulkan nyeri lokal (Asmita, 2017).

2.3.2. Manfaat Kompres Hangat

1. Efek fisik panas dapat menyebabkan zat cair, padat dan gas mengalami pemuaian ke segala arah.

2. Efek kimia Rata-rata kecepatan reaksi kimia didalam tubuh tergantung pada temperature. Menurut reaksi kimia tubuh sering dengan menurunkannya temperature tubuh. Permeabilitas membrane seakan meningkat sesuai dengan peningkatan suhu, pada jaringan akan terjadi peningkatan metabolism seiring dengan peningkatan pertukaran antara zat kimia tubuh dengan cairan tubuh.

3. Efek biologis Panas dapat menyebabkan dilatasi pembuluh darah yang mengakibatkan peningkatan sirkulasi darah. Secara fisiologis repon tubuh terhadap panas yaitu menyebabkan pembuluh darah menurun kekentalan darah, menurunkan ketegangan otot, menurunkan metabolism jaringan dan meningkatkan permeabilitas lapiler. Respon dari panas inilah yang digunakan untuk keperluan terapi pada kondisi dan keadaan yang terjadi dalam butuh. Panas menyebabkan vasodilatasi maksimum dalam waktu 15-20 menit, melakukan kompres hangat lebih dari 20 menit akan mengakibatkan

kongesti jaringan dan klien akan berisiko tidak mampu membuang panas secara adekuat melalui sirkulasi darah (Restiyana, 2017).

2.3.3. Mekanisme Kerja

Energy panas yang hilang atau masuk kedalam tubuh melalui kulit dengan empat cara yaitu : secara konduksi, konveksi, radiasi, dan evaporasi. Prinsip kerja kompres hangat dengan mempergunakan buli- buli panas yang dibungkus dengan kalin yaitu secara konduksi dimana terjadi perpindahan panas dari buli-buli panas ke dalam perut yang akan melancarkan sirkulasi darah dan menurunkan ketegangan otot sehingga akan menurrunkan nyeri pada wanita disminore primer, karena pada wanita yang disminore ini mengalami kontraksi uterus dan kontraksi otot polos. Kompres hangat dilakukan dengan mempergunakan buli-buli panas yang dibungkus kain yaitu secara konduksi dimana terjadi pemindahan panas dari bulibuli ke dalam tubuh sehingga akan menyebabkan pelebaran pembuluh darah dan akan terjadi penurunan ketegangan otot sehingga nyeri yang dirasakan akan berkurang atau hilang (Restiyana, 2017).

2.3.4. Prosedur Pemberian Kompres Hangat

a. Menyiapkan buli-buli dan air hangat yang sudah diukur menggunakan termometer air.

Gambar 2.1 Prosedur Pemberian Kompres Hangat

b. Mengisi buli-buli dengan air hangat. Usahakan untuk menggunakan air bersuhu tidak lebih dari 42 derajat Celsius. Isilah air ke dalam buli-buli hingga sekitar dua pertiganya.

Gambar 2.2 Prosedur Pemberian Kompres Hangat

c. Keluarkan udara dari dalam buli-buli. Pastikan botol berdiri tegak dengan bagian dasar menyentuh permukaan datar. Kemudian, tekan perlahan kedua sisi buli-buli untuk mengeluarkan udara dari dalamnya.

Gambar 2.3 Prosedur Pemberian Kompres Hangat

d. Memasang tutup buli-buli. Setelah udara dikeluarkan dari dalam buli- buli, pasangkan kembali tutupnya. Pastikan untuk menutup buli-buli hingga rapat. Putar tutup buli-buli hingga tidak dapat diputar lagi.

Pastikan air tidak dapat keluar dari dalam buli-buli dengan membalik posisinya perlahan-lahan.

Gambar 2.4 Prosedur Pemberian Kompres Hangat

e. Membalut buli-buli dengan kain, lalu ditempelkan padaperut bagian bawah.

Gambar 2.5 Prosedur Pemberian Kompres Hangat

f. Kompres hangat dilakukan selama 20 menit dengan selang 10 menit pergantian air hangat untuk mempertahankan suhunya.

a) Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Memberikan

1) Jangan letakkan kantong air hangat di bagian tubuh Kompres Hangat: lapisi kantong dengan kain flanel atau handuk.

2) Kantong air hangat yang diletakkan di atas bagian badan tertentu hanya boleh terisi sepertiganya untuk menghindari berat yang tidak diperlukan.

3) Pada penggunaan kompres hangat yang berlangsung lama, jangan lupa memeriksa kulit penderita. d. Kompres hangat tidak boleh diberikan di perut jika mengalami radang/infeksi usus buntu (Sumiaty, dkk, 2022).

2.3.5. Pengaruh Kompres Hangat Terhadap Nyeri Dismenore

Dengan pemberian kompres hangat, maka terjadi pelebaran pembuluh darah. Sehingga akam memperbaiki peredaraan darah didalam jaringan tersebut. Dengan cara ini penyaluran zat asam dan bahan makanan ke sel- sel diperbesar dan pembuangan dari za-zat yang lebih baik maka akan terjadi peningkatan aktivitas sel sehingga akan penyebabkan penurunan rasa nyeri.

Pemberian kompres hangat pada daerah tubuh akan memberikan signal kehipotalamus melalui spinal cord. Ketika respon yang peka terhadap panas dihipolatamus dan vasodilatasi perifer.perubahn ukuran pembuluh darah

akan memperlancar sirkulasi oksigenisasi mecegah, terjadinya spasme otot, memberikan rasa hangat membuat otot tubuh lebih rileks, dan menurunkan rasa nyeri (Restiyana, 2017).

2.5 Peran Bidan

Seorang bidan adalah tenaga professional yang menghabiskan waktu lebih banyak bersama pasien yang mengalami nyeri persalianan dibandingkan dengan tenaga kesehatan lainnya, dalam hal ini, bidan mempunyai kesempatan untuk membantu menghilangkan nyeri dan efek yang membahayakan dari pasien.

Peran bidan adalah mengidentifikasin dan mengobati penyebab nyeri dan berkolaborasi dengan medis untuk meredakan dan menghilangkan nyeri. Bidan tidak hanya berkolaborasi dengan tenaga professional kesehatan yang lain, tetapi juga memberikan intervensi pereda nyeri, mengevaluasi efektivitas intervensi yang sudah dijalankan, dan bertindak sebagai advocator pasien saat intervensi tidak efektif. Selain itu bidan berperan sebagai pendidik atau educator untuk pasien dan keluarga, mengajarkan mereka mengatasi penggunaan analgesic atau regimen Pereda nyeri oleh mereka sendiri ketika memungkinkan (Andarmoyo 2013).

2.6 Pengukuran Skala Nyeri

Intensitas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan oleh individu. Pengukuran intensitas nyeri bersifat sangat sabjektif dan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan berbeda oleh dua orang yang berbeda (Andarmoyo 2013). Pengukuran nyeri dengan pendekatan objektif yang paling mugkin adalah menggunakan respon fisiologik tubuh terhadap nyeri itu sendiri, namun pengukuran dengan pendekatan objektif juga tidak dapat memberikan gambaran pasti tentang nyeri itu sendiri yaitu (Tamsuri 2012):

1. Skala Intensitas Nyeri Deskriftif Sederhana

Gambar 2. 6 Skala Intensitas Nyeri Deskriptif Sederhana Skala pendeskripsi verbal (Verbal Descriptor scale, VDS) merupakan alat pengukuran tingkat keparahan nyeri yang lebih objektif. Pendeskripsian VDS diranking dari ” tidak nyeri” sampai ”nyeri yang tidak tertahankan (Andarmoyo 2013). Bidan menunjukkan klien skala tersebut dan meminta klien untuk memilih intensitas nyeri terbaru yang ia rasakan. Alat ini memungkinkan klien memilih sebuah ketegori untuk mendeskripsikan nyeri (Yudianta 2015).

2. Skala Intensitas Nyeri Numerik

Gambar 2. 7 Skala Intensitas Nyeri Numerik

Skala numerik merupakan alat bantu pengukur intensitas nyeri pada pasien yang terdiri dari skala horizontal yang dibagi secara rata menjadi 10 segmen dengan nomor 0 sampai 10. Pasien diberi pengertian yang menyatakan bahwa angka 0 bermakna intensitas nyeri yang minimal (tidak ada nyeri sama sekali) dan angka 10 bermakna nyeri yang sangat (nyeri paling parah yang dapat mereka bayangkan). Pasien kemudian dimintai untuk menandai angka yang menurut mereka paling tepat dalam mendeskripsikan tingkat nyeri yang dapat mereka rasakan pada suatu waktu.

Skala penilaian numerik atau Numerical rating scale (NRS) lebih digunakan sebagai pengganti alat pendeskripsian kata. Dalam hal ini, klien menilai nyeri dengan menggunakan skala 0-10. Skala paling efektif digunakan saat mengkaji intensitas nyeri sebelum dan setelah intervensi (Yudianta 2015).

Dianggap sederhana dan mudah dimengerti, sensitif terhadap dosis, jenis kelamin, dan perbedaan etnis. Lebih baik daripada VAS terutama untuk menilai nyeri akut. Namun, kekurangannya adalah keterbatasan pilihan kata untuk menggambarkan rasa nyeri, tidak memungkinkan untuk membedakan tingkat nyeri dengan lebih teliti dan dianggap terdapat jarak yang sama antar kata yang menggambarkan efek analgesik (Mardana and Aryasa 2017).

Skala nyeri pada skala 0 berarti tidak terjadi nyeri dan angka 10 adalah yang paling sakit. Intensitas nyeri dibedakan menjadi lima dengan menggunakan skala numerik yaitu :

a. 0 : Tidak Nyeri b. 1-3 : Nyeri Ringan c. 4-6 : Nyeri Sedang d. 7-9 : Nyeri Berat

e. 10 : Nyeri Yang Tidak Tertahankan (Nyeri hebat) Tabel 2. 1 Skala Intensitas Nyeri

Skala Keterangan Skala Nyeri

0 Tidak ada rasa sakit. Merasa normal

1 Nyeri hampir tak terasa (sangat ringan) = Sangat ringan, seperti gigitan nyamuk. Sebagain besar waktu anda tidak pernah berpikir tentang rasa sakit

2 Nyeri ringan, seperti cubitan ringan pada kulit

3 Nyeri sangat terasa, seperti pukulan ke hidung menyebabkan hidung berdarah, atau suntikan oleh dokter

4 Kuat, nyeri yang dalam, seperti sakit gigi atau rasa sakit dari sengatan lebah

5 Kuat, dalam, nyeri yang menusuk, seperti pergelangan kaki terkilir

6 Kuat, dalam, nyeri yang menusuk begitu kuat sehingga tampaknya sebagian mempengaruhi sebagian indra anda, menyebabkan tidak fokus, komunikasi terganggu

7 Sama seperti 6 kecuali dibahwa rasa sakit benar-benar mendominasi indra anda menyebabkan tidak dapat berkomunikasi dengan baik dan tak mampu melakukan perawatan diri.

8 Nyeri begitu kuat sehingga anda tidak lagi dapat berpikir jernih, dan sering mengalami perubahan kepribadian yang paah jika sakit datang dan berlangsung lama

9 Nyeri begitu kuat sehingga anda tidak bisa mentolerirrnya dan sampai-sampai menuntut untuk segera menghilangkan rasa sakiut apapun, caranya tidak peduli apa efek samping atau resikonya.

10 Nyeri begitu kuat tak sadarkan diri. Kebanyakan orang tidak pernah mengalami skala rasa sakit ini. Karena sudah kebru pingsan seperti mengalami kecelakaan parah, tangan hancur, dan kesadaran akan hilang sebagai akibat dari rasa sakit yang luar biasa parah.

3. Skala Intensitas Nyeri dari FLACC

Skala FLACC merupakan alat pengkajian nyeri yang dapat digunakan pada ibu inpartu yang secra non verbal yang tidak dapat melaporkan nyerinya (Yudianta 2015).

Tabel 2. 2 Skala Intensitas Nyeri dari FLACC

Kategori

Skor

0 1 2

Muka

Tidak ada ekspresi atau senyuman tertentu, tidak mencari perhatian

Wajah cemberut, dahi mengkerut, menyendiri

Sering dahi tidak konstan, rahang menegang, dagu gemetar.

Kaki Tidak ada posisi atau rileks

Gelisah, resah dan menegang.

Menendang

Aktivitas

Berbaring, posisi normal, mudah bergerak.

Menggeliat, menaikkan punggung dan maju menegang.

Menekuk, kaku atau

menghentak.

Menangis Tidak menangis

Merintih atau merengek, kadang-kadang mengeluh.

Menangis keras, sedu sedan, sering mengeluh.

Hiburan Rileks.

Kadang-kadang hati tentram dengan sentuhan, memeluk,

berbicara untuk mengalihkan perhatian

Kesulitan untuk menghibur atau kenyamanan.

Total Skor 0- 10

4. Wong Baker Pain Rating Scale

Digunakan pada ibu inpartu dewasa dan anak >3 tahun yang tidak dapat menggambarkan intensitas nyerinya dengan angka.

Gambar 2. 8 Wong Baker Pain Rating Scale

Pengelompokan:

a. Skala nyeri 1-3 berarti Nyeri Ringan (masih bisa ditahan, aktifitas tak terganggu)

b. Skala nyeri 4-6 berarti Nyeri Sedang (menganggu aktifitas fisik) c. Skala nyeri 7-10 berarti Nyeri Berat (tidak dapat melakukan

aktifitas secara mandiri) (Yudiyanta, 2015).

5. Visual Analogue Scale (VAS)

Nyeri pada kasus nyeri punggung dapat diukur menggunakan metode pengukuran nyeri Visual Analogue Scale (VAS). Skala yang pertama sekali dikemukakan oleh Keele pada tahun 1948 yang merupakan skala dengan garis lurus 10 cm, dimana awal garis (0) penanda tidak ada nyeri dan akhir garis (10) menandakan nyeri hebat.

Gambar 2. 9 Visual Analogue Scale

Pengukuran nyeri dilakukan dengan cara ibu hamil trimester III diminta untuk menandai sepanjang garis tersebut untuk mengekspresikan nyeri yang dirasakan. Nilai VAS antara 0–4 cm dianggap sebagai tingkat nyeri yang rendah dan nilai VAS > 4 dianggap nyeri sedang menuju berat sehingga pasien merasa tidak nyaman sedangkan 10 nyeri tidak tertahankan. Setelah itu nilai tersebut dicatat untuk melihat kemajuan dari intervensi yang sudah dilakukan.

2.7 Kerangka Teori

Gambar 2. 10 Kerangka Teori Penelitian

Sumber : (Aldinda dkk 2022) ; ( Nugroho 2014) ; (Manuaba 2017) ; (Marmi 2015).

Faktor Penyebab Internal 1. Usia Menarche 2. Indeks Massa Tubuh 3. Lama menstruasi 4. Siklus menstruasi

5. Pengalaman nyeri sebelumnya

Faktor penyebab eksternal 1. Riwayat keluarga

2. Faktor situasi/lingkungan 3. Kebiasaan olahraga 4. Aktifitas sehari-hari

Dismenorea

Penatalaksanaan Farmakologi

1. Obat-obat

antiinflamasi non steroid (NSAID) 2. Terapi Hormonal 3. Obat analgesic Non Farmakologi

1. Tidur dan istirahat 2. Mendengarkan music 3. Berolahraga

4. Kompres hangat 5. Aromaterapi 6. pemijatan

38

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian pra-eksperimental (one group pretest-posttest design) peneliti ini adalah mengungkapkan hubungan sebab akibat, dimana penelitian ini dilakukan pada satu kelompok subjek yang diobservasi sebelum dilakukan perlakuan, kemudian di observasi lagi stelah diberikan perlakuan. Membandingkan nyeri menstruasi (dismenorea) sebelum diberikan kompres hangat dan setelah pemberian kompres hangat (Suryabrata, 2012).

Tabel 3.1 Desain Penelitian Pra Eksprerimental One Group Pretest-Posttest Design

Pre Perlakuan Posttes

T1 X T2

Keterangan:

T1: Observasi tingkat nyeri sebelum dilakukan kompres hangat X : Perlakukan/Tindakan kompres hangat

T2: Observasi tingkat nyeri sesudah dilakukan kompres hangat 3.2 Kerangka Konsep Penelitian

Kerangka konsep adalah suatu uraian dan visualisasi hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep lainnya, atau antara variabel satu dengan variabel lainnya dari masalah yang akan diteliti (Arikunto, 2016). Adapun kerangka konsep pada penelitian Pengaruh Kompres Hangat terhapat Penurunan Dismenorea Remaja Putri Kelas XII Di SMK Kes. Bhakti Kencana Limbangan Pada Tahun 2023 adalah sebagai berikut:

Pengaruh pemberian

kompres hangat Dismenore pada pada remaja

putri

Gambar 3.1 Kerangka Penelitian

3.2.1. Variabel Penelitian

Variabel penelitian adalah kumpulan konsep mengenai fenomena yang ingin diteliti atau sesuatu yang ingin kita ukur dan dapat digunakan sebagai ciri, sifat yang didapatkan dari satuan penelitian mengenai satu komsep penelitian tertentu (Notoatmodjo, 2018). Variabel ini terdiri dari Kompres hangat dan Dismenorea.

3.2.2. Definisi Operational Variabel

Tabel 3.2 Definisi Operasional

Variabel Definisi Operasional

Alat Ukur Hasil Ukur Skala

Dismenorea Tingkat Nyeri Menstruasi (Dismenorea) dirasakan oleh responden sebelum dilakukan Kompres hangat

Kuesioner dengan menggunakan nilai NRS (Numeric Rating Scale)untuk mengukur skala nyeri.

Numerik 1-10 Rasio

Kompres hangat

Tingkat nyeri menstruasi (Dismenorea) yang dirasakan oleh responden sesudah

dilakukan Kompres hangat

Kuesioner dengan menggunakan nilai NRS (Numeric Rating Scale)untuk mengukur skala nyeri.

Numerik 1-10 Rasio

3.3. Populasi dan Sampel 3.3.1. Populasi

Populasi penelitian adalah keseluruhan objek atau objek yang diteliti. Populasi penelitian adalah seluruh kumpulan individu/subjek yang memiliki karateristik tertentu sesuai dengan keinginan peniliti (Nursalam, 2016). Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswi di kelas XII di SMK Kesehatan Bhakti Kencana Limbangan.

Pada penelitian ini populasinya adalah dismenorea pada remaja putri di SMK Kesehatan Bhakti Kencana Limbangan Tahun 2023 sebanyak 29 orang berdasarkan hasil dari data populasi jumlah mahasiswa.

3.3.2. Sampel

Sampel adalah objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Sugiyono, 2016). Sampel adalah individu/subjek yang terpilih untuk terlibat atau berpartisipasi di dalam penelitian, sampel penelitian adalah bagian dari populasi yang dapat dijangkau oleh peniliti setelah memenuhi kriteria yang telah ditetapkan (Notoatmodjo, 2018).

1. Besaran Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah siswi putri yang mengalami dismenorea dan sesuai dengan kriteria inklusi yang di hitung menurut rumus slovin.

2. Kriteria Sampel a. Kriteria Inklusi

Responden pada penelitian ini adalah remaja putri di SMK Kesehatan Bhakti Kencana Limbangan dengan kriteria inklusi sebagai berikut:

a) Bersedia menjadi responden

b) Mengalami dismenorea setiap bulan pada saat menstruasi c) Dismenorea dialami pada masa pre menstruasi, antara 24 jam

pertama menstruasi, sampai dengan hari ke-2 menstruasi

Dokumen terkait