• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelaksana Penelitian

Dalam dokumen PDF Kode/Nama Rumpun Ilmu (Halaman 47-56)

BAB 3. METODE PENELITIAN

3.5. Pelaksana Penelitian

46

dalam bentuk teks naratif, mulanya terpencar dan terpisah pada berbagai sumber informasi, kemudian diklasifikasi menurut tema dan kebutuhan analisis.

Tahap ketiga , adalah penarikan kesimpulan berdasarkan reduksi dan penyajian data. Penarikan kesimpulan berlangsung secara bertahap dan dari kesimpulan ini pada tahap reduksi data, dan kemudian menjadi lebih spesifik pada tahap penyajian data.

47

State of the art dan peta jalan bagan (road map) dalam bidang yang diteliti.

Gambar 8 Roadmap Penelitian

.

Teori Pengarustamaan Gender (PUG), 2016 Strategi Kesetaraan Gender dan Keadilan , pemberdayaan perempuan ) ,

-Population and Development (ICPD Kairo), United Nations Human Right, 2014), Gender Key Concepts in Philosepy Tina Chanter (2006).

-Kesetaraan Gender dan Keadilan Perempuan, Beijing 1995. Penelitian Flood and Pease, 2006-2009 Kekerasan perempuan.-Penelitian Carison dan Worden 2005, MC Mohan and Baker 2011(Dampak kekerasan karena faktor ekonomi, Abdullah,Irwan.2000.Analisis Gender dan Transformasi sosial -Domestic Violence, Violence Against Women, Gender Based Violence, dan Monemi Kajsa Asling et.al.(2003).Violence Against women increase the risk of infant and child mortality and Reproduction Health women

Riset Tahun I Kekerasan dalam rumah tangga aspek sosial dan

ekonomi , demografi, bentuk-bentuk kekerasan .fisik,

non fisik Sustainable

Develop ment Goals,

2015- 2025

Riset Tahun II

Strategi , Index Kemiskinan dalam RT, akibat Konflik Sosial dan Model

pemberdayaan Perempuan kewirausaan dalam keluarga miskin menuju ekonomi kreatif

Model Kebijakan Pemberdayaan Perempuan Miskin Pro-Poor Capacity Improvement Model

Achievement motivation

training Intervensi

stake holder pemerintah

Capacity building, ketrampilan

Pencegahan

Kekerasan dalam RT

48

Domestic Violence (Kekerasan dalam rumah tangga) khususnya penyiksaan suami terhadap istri, tidak dianggap sebagai masalah khusus sampai tahun 70-an.

Selama dua dekade terakhir, kekerasan keluarga telah berubah dari permasalahan pribadi menjadi kepedulian publik sehingga melibatkan sistem peradilan pidana.Anggapan masyarakat bahwa kekeerasan rumah tangga merupakan permasalahan pidana telah mengharuskan polisi untuk mengubah cara dan praktik tradisional mereka dalam menangani korban dan pelaku kekerasan dalam pertengkaran suami istri.(Irawan, M, 2009). Mencari akar masalah dibalik tindak kekerasan terhadap perempuan dan terjadi dikarenakan keyakinan dalam masyarakat adanya dominasi, dimana laki-laki adalah superior dan perempuan inferior sehingga laki-laki dibenarkan untuk menguasai dan mengontrol perempuan. Hal ini menjadikam perempuan tersubordinasi bahkan termarginalisasi. Disamping itu, terdapat interpretasi yang keliru terhadap stereotipe jender yang tersosialisasi dalam masyarakat menganggap bahwa perempuan lemah, sedangkan laki-laki umumnya lebih kuat. Perempuan penggoda dan peraya dan lain-lain. Upaya dosmitikasi perempuan secara sistematis oleh negara berdasarkan ideologi gender dalam kebijakan- kebijakan negara berdampak lebih jauh pada peminggiran terhadap perempuan, baik secara ekonomi, politik , sosial dan juga menimbulkan subordinasi, ekspoitasi dan privatisasi kekerasan terhadap perempuan. .

Kekerasan terhadap perempuan secara luas dianggap sebagai masalah global masyarakat dan seringkali bentuk tindakan kekerasan yang tidak terlihat namun secara umum terdapat pelanggaran hak asasi manusia yang berbahaya hal ini

49

berdampak serius pada kesehatan reproduksi perempuan dan kesejahtraan masyarakat yang terkena akibat dari dampak kekerasan karena faktor ekonomi yang sangat signifikan terhadap beban negara di dalam proses pembangunan ekonomi (Carison dan Worden 2005,Mc.Mahan and Baker 2011; Oneil and Morgan 2010).Pengukuran pengetahun sangat penting di dalam penanganan tindakan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Menarik dari topik ini adalah bahwa ternayata tindak kekerasan tidak hanya merupakan masalah global, bahkan transnasional, karena itu di dalam masyarakat dikenal berbagai istilah seperti “violence against women, “gender based violence”, “domestic violence “ yang korbannya adalah perempuan, sementara bagi anak-anak dikenal juga istilah” working children”. “street children “, in armed conflicts”, urban war zones (Passelbessy,indakan D John, 2010) .

Dalam konteks yang lebih sempit, kecenderungan tindak kekerasan dalam rumah tangga terjadinya karena faktor dukungan sosial dan kultur (budaya) dimana isteri dipersepsikan orang nomur dua dan bisa diperlakukan apa saja. Hal ini muncul karena transformasi pengetahuan yang diperoleh dari masa lalu, istri harus menurut kata suami, bila istri mendebat suami, dipukul. Kultur di masyarakat suami lebih dominan dari pada istri, dan tindak kekerasan dalam rumah tangga dianggap masalah privasi, masyarakat tidak boleh ikut campur (http/kompas.com.2004). Saat ini dengan berlakunya undang-undang anti kekerasan dalam rumah tangga yang disetujui tahun 2004, maka tindak kekerasan dalam rumah tangga bukan hanya urusan suami isteri tetapi sudah menjadi urusan publik. Dalam kontex rumah tangga menguasai atau

50

memukul istri sebenarnya merupakan manisfestasi dari sifat superior laki-laki terhadap perempuan. Abdula, Irwan, 2000) analisis gender dan transformasi sosial.

Dampak kekerasan terhadap perempuan terhadap kesehatan reproduksi dan kematian anak di Timor-Leste. Angela.Taft, et al, (2015) Tindak kekerasan pada perempuan menimbulkan kematian, diantaranya wanita yang mengalami kekerasan fisik 30 % lebih cenderung memiliki satu anak lagi yang meninggal (AdjOR 1,30,97% Cl 1,05-1,60 dan wanita yang pernah mengalami beberapa bentuk-bentuk kekerasan adalah 45% .lebih banyak cenderung memiliki satu atau lebih anak meninggal (Adjor) 45,95% CL 1,06-2,00 jika dibandingkan dengan wanita yang tidak mengalami kekerasan. Ada juga peningkatan kekerasan pada kematian anak pada usia kurang dari lima tahun. The effect of gender-based violence an women unwanted preqnancy and abortion, ( pengaruh kekerasan berbasis gender dan kehamilan yang tidak diinginkan dan aborsi oleh perempuan ) .

Laura A Mc Closhey (2017), fokus seks dan kesehatan gender istilah kekerasan berbasis gender (GBV) berlaku untuk pelecehan seksual atau fisik gender atau kelompok gender yang tergetasi karena peran gender mereka dari posisi yang berhubungan dengan status sosial yang lebih rendah atau kekuasaan kantor negara kesatuan Komisi Tinggi untuk Komite Hak Asasi Manusia untuk penghapusan dekriminasi terhadap perempuan (CEDAV) dalam rekomendasi umumnya 19 kekerasan berbasis gender. adalah salah satu analisis meta atau lebih dari 20 penelitian penelitian aktif retrospek seksual bahwa kekerasan seksual pada anak-anak pada 3o persen wanita. Kekerasan terhadap perempuan diakui sebagai masalah

51

kesehatan masyarakat global dan hak asasi manusia yang membutuhkan perhatian mendesak, hal itu mempengaruhi kesehatan perempuan dalam menjaga kesehatan seksual dan reproduksi mereka karena rig manusia mereka belum banyak perhatian yang diberikan kepada konsekuensi kesehatan seksual dan reproduksi yang serius dari pelecehan. dan kebutuhan kesehatan perempuan dan anak perempuan yang teraniaya.

Tulisan ini mencoba untuk memeriksa isu-isu kekerasan terhadap perempuan khususnya tentang dampak kekerasan terhadap perempuan hak asasi manusia seksual dan kesehatan reproduksi.

52 Penelitian Multi Tahun (2019-2020) Variabel Penelitian

INPUT PROSES (Tahun Pertama) 2019 PELUANG (LUARAN)

PRODUK

(Tahun ke dua ) 2020

Potensi

perempuan dalam konflik sosial kekerasan fisik dalam rumah tangga pada aspek sosial,

ekonomi,dan demografi

Pengumpulan data base tahun pertama:

a).Variabel sosial ekonomi meliputi;

tingkat kedalaman kemiskinan

perempuan miskin meliputi: tindakan kekerasan , ,pekerjaan pendidikan, umur, , etnik, migran dan non migran, jumlah anak, etnik, dan lingkungn, lokasi tempat tinggal.

b). Hambatan-

Hambatan perempuan dalam akses dan kontrol pada dimensi aspek

- kemiskinan ekonomi -pendidikan

- ketidakberdayaan Deskriminasi,ekxploit asi

Kualitas Perempuan di Bidang Ekonomi Model Pemberdayaan

Perempuan Melalui Kewirausahaan ekonomi keluarga sebagai berikut:

Memberikan Pelatihan Ketrampilan Bagi Responden Korban Kekerasan di dalam Meningkatkan Pendapatan Keluarga yaitu

PelatihanHome Industri Kelompok Sasaran :

Usaha Produk Pertanian Bawang goreng, , kerajinan membatik, kerajinan daun silar, Usaha Produk Perikanan

Pelatihan aneka kerupuk ikan, produk olahan makanan rumput laut,

53 Gambar 3

MODEL PEMBERDAYAAN PEREMPUAN MISKIN PENGHAPUSAN BENTUK KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA MELALUI PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN KELUARGA MENUJU EKONOMI

KREATIF

PENELITIAN KE DUA TERAPAN

INPUT PROSES Luarannya

INTERVENSI

HAS

INDIKATOR CAPAIAN -Dukungan stakeholder (pemerintah, swasta, perguruan tingg

Achivement motivation training

Capacity Building -Latihan pendidikan ketrampilan

-Jejaring/kelompok usaha bersama

- kreatifitas -potansi pasar

-modal dan penguatan pasar

KEWIRAUSAHAA N EKONOMI KELUARGA

INDIKATOR CAPAIAN

Sumber pendapatan ekonomi keluarga -Kelangsungan usaha produktif dengan aneka produk usaha pertanian, usaha perikanan meliputi:

- bawang goreng, tanaman hias, pembuatan

kerajinan daun silar, membatik, aneka kuliner tradisonal dange, aneka krupuk ikan, abon ikan abon ayam, abon daging.

EKONOMI KREATIF INDIKATOR CAPAIAN -Diversifikasi produk

-Kualitas produk -Diversifikasi Kemasan produk -Perluasan pasar

KESEJAH- TERAAN EKONOMI KELUARG A

POTENSI PEREMPUAN MISKIN SISTEM BAPAK ANGKAT,PENGUATAN

JEJARING

54 Pembagian Tugas Peneliti

No.

Kegiatan

Ketua peneliti Anggota Anggota Pembantua Lapangan

(1) (2) (3) (4) (5)

1. Survey Literatur X X X X

2. Variabel

penelitian(Karakteristik Responden Tindak Kekerasan Dalam Rumah Tangga)

X X X

3. Pengumpulan data di 3 Kabupaten dan 1 Kota

X X X X

4. Pengolahan dan analisis data karakterik resonden, dan analisis gender, traficking

X X

Tabulasi data, persentase, tabulasi silang

Menulis artikel Ilmiah

X X X

5. Pengumpolan data aspek ekonomi, sosial dan budaya, kekerasan dalam rumah tangga, proses traficking, nilai ekonomi.

X X X X

6. Pengolahan dan analisis data

Analisis SWOT X

7. Membangun model

strategi kebijakan penghapusan kekerasan dalam rumah tangga

X X

8. Pemberdayaan ekonmi keluarga kewirausahaan 8. Menulis Artikel Ilmiah di

jurnal terindekx bereputasi

X X

9. Buku monograf ISBN X

10 HAKI (KI) X

Gamitibar 3 Pembagian Tugas Pene

55 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian

Bagian ini akan dibahas secara berturut-turut tentang gambaran umum lokasi penelitian , gambaran umum berdasarkan Kabupaten terpilih dan karakteristik responden . Uraian mengenai lokasi penelitian sebagai berikut:

4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian 4.1.2. Kabupaten Sigi

4.1.3. Kondisi Geografis

Kabupaten Sigi merupakan salah satu Kabupaten yang berada di Provinsi Sulawesi Tengah Ibu Kota Kabupaten Sigi adalh Bora yang berada di Kecamatan Sigi Biromaru. Populasi Penduduk Kabupaten Sigi tahun 2017, mencapai 234.588 jiwa.

Ditinjau dari aspek kepadatan penduduk , Kabupaten Sigi dengan luas wilayah 5.196,02 km2 memiliki tingkat kepadatan penduduk hanya 45 jiwa/km2. Kepadatan penduduk yang tertinggi di Kabupaten Sigi berada di kecamatan Dolo yaitu 623 jiwa/km2 sedangkan kepadatan terendah terdapat di kecamatan Pipikoro dan Lindu yang rata-rata hanya dihuni 9 jiwa/km. ( Sumber : Statistik daerah Kabupaten Sigi, 2018). Adapun garis kemiskinan yang ditetapkan oleh Biro Pusat Statistik (BPS)

56

Provinsi Sulawesi Tengah tahun 2017 untuk wilayah Kabupaten Sigi adalah sebesar Rp. 299.261.

Kecamatan Dolo Barat merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Sigi dan rata-rata penduduknya bekerja di sektor Pertanian. Jumlah Desa di Kecamatan Dolo ada 11 Desa yaitu Desa Kabobona, Desa Karawana, Desa Kotapulu, Desa kotarindau, Desa Langelaso, Desa Maku, Desa Panturabate, Desa Potoya, Desa Soulowe, Desa Tulo dadi Kecamatan Desa Desa Watubula.

Menurut Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2017 menunjukkan jumlah rumah tangga miskin (RTM) di Kecamatan Dolo menjadi permasalahan bagi Pemerintah Kecamatan Dolo. Sejalan dengan adanya kebijakan otonomi Daerah yang dimulai diberlakukan sejak tahun 2001, Pemerintah daerah kini memiliki tanggung jawab yang lebih besar dalam merancang dan melaksanakan kebijakan dan program pembangunan sesuai dengan kebutuhannya. Sebagaimana tertulis dalam Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang otonomi daerah adalah kewenangan daerah otonomo untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan aspirasi masyarakat.

Desa Tulo merupakan Desa yang berada di Kecamatan Dolo. Luas wilayah desa tersebut sebesar 4,68 km2 dengan jumlah penduduk laki-laki .1941 jiwa dan Perempuan 1.841. jiwa pada tahun 2017. Masyarakat yang tinggal di Desa Tulo dan

57

Dolo Barat rata-rata bekerja di sektor Pertanian (Sumber BAPPEDA Kabupaten Sigi, 2018).

Rumah Tangga Miskin di Kecamatan Dolo Barat yang paling banyak terdapat di Desa Tulo yaitu sebesar 1.305 jiwa. Berdasarkan data yang ada, penulis ingin mengindentifikasi mengapa banyak terjadi tingkat kekerasan di Kec Dolo Barat dan desa Tulo , apa yang menyebabkan terjadinya konflik sosial , dan merupakan penyebab kemiskinan ekonomi apakah disebabkan oleh kemiskinan natural (alam), cultural (budaya), atau structural (pemerintahannya), kami yang telesuri lebih jauh penyebak konflik dalam rumah tangga sebagai penyebabya karena ekonomi sebagai beban tulung punggung ekonomi keluarga.

4.1.4.Fasilitas Sarana Kesehatan

Rumah Sakit Daerah Tora Belo Sigi didirikan oleh Pemerintah Kabupaten Sigi pada tahun 2010. Pembangunan RSUD Tora Belo Sigi atas rekomendasi Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sigi Nomor : 440/800/1052.a/Kep-Dinkes Tanggal 12 Oktober 2010 tentang Rekomendasi Penerbitan Izin Rumah sakit dan ketentuan peraturan Perundang-Undangan. Berdsarkan Surat rekomendaasi tersebut pada tanggal 20 Oktober 2010. Jneis-jenis pelayanan kesehatan di RSUD Tora Belo sebagai berikut:

a). Poliklinik Kebidanan dan KB b). Poliklinik KB

58 c). Poliklinik Bedah

d). Poliklinik Penyakit Dalam e). Poliklinik Anak

f). Poliklinik Mata

g). Poliklinik Kulit dan Kelamin h). Poliklinik Orthopedy

i). Instalasi Gawat Darurat 24 jam J). Apotek

k). Laboratorium l). Instalasi Radiologi m). Instalasi Bedah sentral n). Instalasi Gizi

o). Fisioteraphy p). Ambulance

q).Pelayanan Rawat Inap

59 4.2. Karakteristik Responden

Informan pada penelitian ini adalah perempuan yang telah menikah dengan umur pernikahan yang beragam , ada ynag relative cukup lama, yaitu selama 18 tahun dan 10 tahun kemudian bercerai dikarenakan kasus Kekerasan dalam Rumah Tangga.

Ada pula usia pernikahannya ada yang masih muda yaitu 2-5 tahun. Semua informan menjalani masa pacaran sebelum menikah, untuk waktu lima tahun dan kurang dari dua tahun masa pacaran. Periode waktu masa perpacaran tidak dapat dijadikan ukuran tolak ukur pasangan tersebut karena mereka telah saling menenal kepribadian masing-masing. Kekerasan yang terjadi sejak masa pacaran dapat dijadikan pertanda bahwa kekerasan tersebut dapat berlanjut di dalam masa perkawinan ternate teretubukti bahwa perilaku buruk kekerasan terhadap perempuan tetap saja dibawah kedalam perkawinan sehingga mengakibatkan perempuan mengalami kekerasan fisik dan berpengaruh pada kesehatan reproduksi wanita .

Bentuk-bentuk kekerasan yang dialami responden yaitu kekerasan psikis sebagaimana yang di dalam pernyataan informan yang menyertai dengan kekerasan seksual dan kekerasan fisik. Kekeralasan yang dialami informan lebih dari satu jenis kekerasan. Kekerasan psikis yang diterima oleh informan sebagaimana pernyataan informan berikut ini : “ Seksual yiya, terkadang pulang kerumah sudah tengah malam dan sudah mabok, ya kadang dipukul… pernah nampar, tempeleng, banting, terkadang narik baju gitu ditariknya yang dibanting gitu sih.. anjing, lonte gitu..

kebnayakan dibilangin anjing , pukulan sering dikenakan di pipi. ( informan 18

60

september 2018). Kekemulai dengan fisik kemudian nanti berlanjut dengan pskisrasan berganda yang dialami para korban tersebut juga dinyatakan oleh informan kunci yaitu kepala P2TP2A sebagai berikut:“ Pada umumnya responden terkena fisik dan psikis merupakan satu gabungan apabila telah terjadi kekerasan secara psikis pada akhirnya ke fisik ya atau sebaliknya .Tidak ada kekerasan yang hanya terjadi satu kali. Kekerasan itu berulang, bila semakin sering faktor pemicu tersebut muncul maka semakin sering kekerasan terjadi, seperti pernyataannya sebagai berikut:

Terkadang suami lagi emosi tinggi karena tidak ada pekerjaan, mabuk-mabukan (Al, 12 April 2018) . Namun ada pula korban yang mengalami frekuensi kekerasan fisik hanya 2 kali selama penikahan tetapi untuk kekerasan ekonomi bahkan diterimanya setiap hari, pernyataan-pernyataan informan bahwa frekuensi kekerasan berulang yang didukung oleh informan kunci yaitu kepala P2TP2A. Tahun 2018 selama satu tahun hanya dua kali saja dipukul, misalnya kalau minta uang tiap hari, untu main jadi kalau tidak dikasih marah jawaban istrinya. Tempat terjadinya kekererasan adalah dilingkungan di rumah sendiri, rumah kerabat, tempat kerja dan tempat umum.

Dari hasil wawancara informan utama yaitu korban menyebut kan bahwa kekerasan yang mereka alami terjadi dirumah sendiri.

4.3.Karakteristik Sosial Demografi

Deskripsi umum tentang karakteristik responden kekerasan dalam rumah tangga dipandang penting, karena perbedaan setiap responden terhadap item-item yang diberikan bekaitan dengan perbedaan latar belakang dari masing-masing responden,

61

baik menyangkut pendidikan, umur, status pekerjaan istri dan suami, jumlah anggota keluarga, lama perkawinan, status pernikahan. Dalam pembahasan identitas reponden dikemukakan secara garis besar tentang perbedaan karakterstik sosial demografi pada wanita korban kekerasan. Hal ini menunjukkan bahwa masalah kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan belum tercapai di dalam dokument Sustainable Development Goals (SDG’s), kondisi ini merupakan prioritas utama ke depan dalam mewujudkan kesetaraan gender meliputi, peningkatan kualitas hidup perempuan dan peran perempuan dalam pembangunan, peningkatan kelembagaan pengerustamaan gender dan pemberdayaan perempuan, serta perlindungan perempuan terhadap berbagai tindak kekerasan, dan hal ini merupakan salah satu isu kesehatan masyarakat secara global di dunia internasional.

Grafik dibawah ini adalah responden menurut kelompok umur . Rata-rata umur responden yang tertindak kekerasan dalam rumah tangga yaitu ber umur diatas 40 tahun sebesar (39% ) , dan umur yang mencapai 31-40 tahun sebesar (23% ) dan umur 21-30 tahun mencapai (26%) dan kelompok umur yang dibawah umur , 20 tahun mencapai (2%).

62 4.4. Kelompok Umur Responden

Sumber: Data primer 2019.

Gambar 1. Kelompok Umur Responden

Umur di dalam grafik diatas merupakan kelompok umur produktif, dan pada umur ini termasuk pada usia yang mampu untuk bekerja di dalam mengatasi kendala rumah tangga sehingga potensi untuk meningkatkan pendapatan keluarga relative rendah, karena produktifitas kerja kelompok usia ini masih relative rendah sehingga pendapatan yang dihasilkan menjadi rendah. Hasil pengolahan data terlihat bahwa umur responden kebanyakan 51% berusia dalam kategori prima atau produktif. Hal

63

ini memberi gambaran bahwa respon terkait kekerasan menjadi perhatian pada usia prima atau usia muda.

4.5 .Kesenjangan Gender dan Pendidikan Wanita

Sumber: Data primer 2019

Gambar 2. Kesenjangan Gender dan Pendidikan Wanita

Pendidikan respoden sangat berperan penting dalam mencari atau mendapatkan pekerjaan . Tingkat pendidikan Rata-rata SMA sebesar 27% dan pendidikan SD 31%

dan Pendidikan SMP sebesar 25%. Dan perguruan tinggi sebanyak 5%. Tingkat pendidikan sangat berpengaruh pada peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Semakin tinggi tinggi tingkat pendidikan seseorang berarti pola cara berpikir seseorang akan semakin baik. Persentase responden yang relatif rendah yaitu tingkat pendidikan SD yang mempunyai persontase tertinggi sebanyak 31%. Rendahnya

64

tingkat pendidikan berpengaruh pada kulaitas sumber daya manusia dan akan berdampak pada tingkat pendapatan masyarakat karena rendahnya tingkat ketrampilan atau skill yang dimiliki oleh seseorang di dalam bersaing di bursa kerja dalam memperoleh lapangan pekerjaan dikarenakan keterbatasan pendidikan yang dimilki yang berdampak pada tingkat penghasilan penduduk.Pendidikan merupakan tujuan pembangunan nasional dan anak-anak perempuan menerima pendidikan yang jauh lebih sedikit daripada anak laki-laki di hamper setiap negara berkembang. Dari 108 negara di dunia, jumlah anak perempuan yang duduk dibangku Sekolah Dasar dan sekolah menengah lebih kecil, setidaknya 10%, dibandingkan dengan jumlah laki-laki. Kesenjangan pendidikan antargender (educational gender gap) yang terbesar ditemukan di negara-negara termiskin dan secara regional terdapat di Timur Tengah serta Africa Utara, dan kesenjangan pria- wanita dalam hal pendidikan dengan kemampuan baca tulis , rata-rata tahun bersekolah lebih rendah 29 persen dibandingkan dengan kaum pria, rata-rata tahun bersekolah kaum wanita 45 persen lebih rendah, dan tingkat bersekolah kaum wanita di sekolah lebih rendah 9%, 28%

dan 49% daripada kaum pria. Oleh karena itu, meskipun telah dicapai kemajuan, namun kesenjangan gender yang substansial masih tetap ada.

Mengapa pendidikan kaum wanita begitu penting? Apakah ini hanya masalah pemerataan? Jawabannya adalah sekarang terdapat cukup banyak bukti empiris yang menyatakan bahwa diskriminasi pendidikan terhadap kaum wanita menghambat pembangunan ekonomi disamping memperburuk ketimpangan sosial. Mempersempit

65

kesenjangan gender dalam pendidikan dengan memperluas kesempatan pendidikan bagi kaum wanita sangat menguntungkan secara ekonomis karena empat alasan:

1). Tingkat pengembalian (rate of return) dari pendidikan kaum wanita lebih tinggi daripada tingkat pengembalian pendidikan pria dikebanyakan negara berkembang .ketimbang negara maju di dunia internasional.

2). Peningkatan pendidikan kaum wanita tidak hanya menaikkan produktivitasnya di lahan pertanian dan di pabrik, tetapi juga meningkatkan partisipasi tenaga kerja, pernikahan yang lebih lambat, fertilitas yang lebih rendah, dan perbaikan kesehatan serta gizi dan anak.

3). Kesehatan dan gizi anak-anak yang lebih baik serta ibu yang lebih terdidik akan memebrikan dampak pengganda (multilier effect) terhadap kualitas anak bangsa selama beberapa generasi yang akan datang.

4). Karena kaum wanita memeiliki beban terbesar dari kemiskinan dan kelangkaan lahan garapan yang melingkupi masyarakat di negara berkembang, maka perbaikan yang signifikan dalam peran dan status wanita melalui pendidikan dapat mempunyai dampak penting dalam emmutuskan lingkaran setan kemiskinan serta pendidikan yang tidak memadai.

66

4.6. Konsekuensi Bias Gender dalam bidang Pendidikan dan Kesehatan Reproduksi Perempuan

Berbagai penelitian di negara berkembang secara konsisten memperlihatkan bahwa expansi dalam pendidikan dasar anak-anak perempuan memberikan tingkat pengembalian yang paling tinggi diantara semua jenis investasi lebih besar daripada tingkat pengembalian yang dihasilkan dari kebanyakan proyek infrastruktur public, misalnya salah satu alasan mengapa diskriminasi terhadap anak-anak perempuan dalam pendidikan dan juga kesehatan, tidak hanya tidak adil, tetapi juga sangat mahal ditinjau dari sudut pandang pencapaian sasaran-saran pembangunan.

Pendidikan anak-anak perempuan merupakan salah satu cara yang paling efektif dari segi biaya dalam meningkatka standar kesehatan reproduksi perempuan. Berbagai penelitian yang dilakukan oleh PBB, Bank Dunia, dan lembaga-Lembaga yang lain menyimpulkan bahwa manfaat sosial dari peningkatan pendidikan anak-anak perempuan sudah lebih cukup untuk menutupi biayanya bahkan dengan tidak memperhitungkan kekuatan yang menghasilkan pendapatan yang disebabkan oleh pendidikan. Namun demikian bukti-bukti empris dari Pakistan, Bangladesh dan negara-negara berkembang yang lain memperlihatkan bahwa kita tidak dapat mengasumsikan bahwa pendidikan anak-anak perempuan akan secara otomatis meningkat, seiring dengan peningkatan pendapatan keluarga.

Pendidikan dan kesehatan reproduksi perempuan yang buruk

Dalam dokumen PDF Kode/Nama Rumpun Ilmu (Halaman 47-56)

Dokumen terkait