• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelaksanaan Program Perencanan Pengelolaan Keuangan Desa di

3) Mengoptimalkan perangkat Desa Bangkalaloe dan memberi wewenang penuh sesuai dengan tugasnya masing-masing.

4) Mendukung segala kegiatan yang bermanfaat bagi pemuda dan masyarakat.

5) Setiap rapat staf akan dilibatkan unsur pemuda dan tokoh masyarakatyang ada di Desa Bangkalaloe Kecamatan Bontoramba 6) Mengedepankan segala kegiatan Desa Bangkalaloe Kecamatan

Bontoramba.

7) Melanjutkan program kerja keuchik lama yang tertunda waktu, jika yang belum tuntas.

B. Pelaksanaan Program Perencanan Pengelolaan Keuangan Desa di Desa Bangkalaloe

1. Perencanaan

Alokasi Dana Desa (ADD) adalah salah satu pendapatan desa yang penggunaannya terintegrasi dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes), oleh karena itu program perecanaan dan kegiatannya disusun melaluimusyawarah perencanaan desa, hal ini selalu dilakukan agar adanya partisipasi masyarakat Desa Bangkalaloe dalam mengelola perencanaan ADD tersebut. Dalam musyawarah tersebut yang akan dibahas adalah usulan- usulan perencanaan atauprogram pembangunan desa yang berpedoman

pada prinsip-prinsip perencanaan pembangunan masyarakat desa Prinsip tersebut mengharuskan keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan dan menentukan pembangunan yang akan dilaksanakan khususnya yang beralokasi di desa mereka sendiri, sehingga benar-benar dapat merespon kebutuhan/aspirasi yang berkembang. Dalam hal ini melalui musyawarah, yang melibatkan perangkat desa baik kepala dusun, aparatur desa, dan masyarakat setempat untuk sama-sama membuat perencanaan ADD tersebut.

Proses perencanaan pembangunan ini tertuang dalam Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDesa). RKPDesa ini akan menentukan arah pembangunan desa dalam satu tahun kedepan. Dalam penyusunan RKPDesa ini harus berdasarkan fokus perencanaan pemerintah desa yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDesa).

Seperti yang dijelaskan oleh salah satu kepala dusun mengungkapkan bahwa:

“Sebelum melaksanakan program kami para kepala dusun mengadakan rapat antar dusun berserta beberapa tokoh masyarakat. Kemudian kadus dan kepala desa mengadakan rapat kecil-kecilan untuk membahas program apa yang akan dirintis nantinya”

Pelaksanaan program desa senantiasa dilakukan secara Bersama-sama yang melibatkan banyak elemen terkait seeprti kepala dusun, masyarakat, maupun tokoh masyarakat. Selanjutnya setelah dilakukan rapat, maka kepala desa akan menyampaikan terkait penerimaan dana desa yang disalurkan pemerintah secara bertahap. Hal ini diungkapkan oleh Kepala desa bahwa:

“Semua masyarakat Desa Bangkalaloe Illie sudah tau bahwa Desa Bangkalaloe menerima Dana Desa”

Untuk melaksanakan kegiatan ini kepala desa membentuk beberapa kelompok yang dinamakan TPK (Tim Pelaksana Kegiatan).

Edi Suharto (2014:17), menyatakan perencanaan adalah sebuah proses yang penting dan menentukan keberhasilan suatu tindakan. Perencanaan merupakan tahap awal dari berjalannya suatu kegiatan, sehingga perencanaan harus dilakukan dengan matang agar kedepannya kegiatan yang direncanakan dapat berjalan dengan efektif. Perencanaan yang merupakan tonggak awal berjalannya pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) harus direncanakan dengan baik dan menjadi hal urgent dalam pengelolaan ADD.

Perencanaan disusun mengikuti siklus atau tahapan yang berulang.

Carey dalam Suharto (2014:75) menyatakan ada lima (5) tahapan yang menjadi garis bersar dalam perencanaan sosial meliputi: a) Identifikasi masalah; b) Penentuan tujuan; c) Penyusunan dan pengembangan rencana program; d) Pelaksanaan program dan e) evaluasi program. Perencanaan pengelolaan keuangan desa yang di dalamnya terdapat ADD merupakan langkah awal dalam merumuskan masalah, tujuan, dan program kegiatan untuk masyarakat desa.

Perencanaan pengelolaan Keuangan Desa yang didalamnya terdapat ADD di Desa Bangkalaloe Kecamatan Bontoramba sendiri melibatkan masyarakat desa secara menyeluruh melalui rapat yang dilaksanakan pada tingkat RT dan RW, dimana masyarakat sering menyebutnya rembug/rapat lingkungan. Hal yang dibahas di dalam rapat lingkungan meliputi permasalahan di tingkat lingkungan RT dan RW saja, salah satu contohnya adalah adanya gorong-gorong kerusakan atau selokan yang tersumbat di

lingkungan dusun-dusun. Pada tahap perencanaan masyarakat juga mengusulkan solusi dari masalah yang ditemukan. Selanjutnya usulan masalah dan solusi tersebut dibawa oleh perwakilan RT/RW ke tingkat Musyawarah Desa.

Musyawarah Pembangunan Desa (Musrenbangdes) di Desa Bangkalaloe Kecamatan Bontoramba hanya diikuti oleh perangkat Desa dan orang-orang tertentu yang memperoleh undangan rapat, sedangkan bagi masyarakat umum tidak ada undangan terbuka. Tidak adanya undangan terbuka ini menyebabkan masyarakat umum cenderung tidak mengetahui kegiatan apa saja yang akan dilaksanakan oleh pemerintah desa di tahun yang akan berjalan. Tidak adanya kesempatan mayarakat umum dalam menghadiri Musrenbangdes secara langsung tanpa undangan menyebabkan masyarakat tidak mengetahui kegiatan apa saja yang akan didanai oleh ADD.

Hal tersebut berimplikasi pada pola pikir mayarakat yang hanya tau desa mendapatkan uang banyak sedangkan sumber uang dan kegunaan uang masyarakat cenderung tidak mengetahuinya.

Tahun 2020 sendiri perencanaan penggunaan ADD di Desa Bangkalaloe Kecamatan Bontoramba masih terfokus pada pembangunan infrastruktur fisik, seperti pembangunan gapura desa dan jalan desa, untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat belum tersentuh di dalam RPD ADD Desa Bangkalaloe di tahun 2020 ini. Fokus pemerintah desa yang masih dalam tahap pembangunan dan tidak begitu memperhatikan pemberdayaan masyarakat dalam tahap perencanaan menyebabkan sejauh ini kegiatan pemberdayaan masyarakat di Desa Bangkalaloe Kecamatan Bontoramba belum memperlihatkan hasil yang signifikan.

2. Tahap Pelaksanaan

Pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang pembiayaannya bersumber dari ADD sepenuhnya dilaksanakan oleh tim pelaksanaan desa. Dalam pelaksanaan program ADD ini, dibutuhkan keterbukaan dari tim pelaksana desa kepada seluruh masyarakat. Salah satu wujud nyata dari tim pelaksana desa dalam mendukung keterbukaan informasi program ADD adalah dengan memasang papan informasi yang berisikan jadwal pelaksanaan kegiatan fisik yang sedang dilaksanakan.Keterbukaan informasi ini merupakan usaha pemerintah desa untuk melaksanakan prinsip transparansi dalam pengelolaan ADD.

Menurut Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49 tahun 2016 mengenai Tata Cara Pengalokasian Dana Desa. Penyaluran Dana Desa dilakukan dengan cara pemindahbukuan dari Rekening Kas Umum Negara (RKUN) ke Rekening Kas Umum Daerah (RKUD) untuk selanjutnya dilakukan pemindahbukuan dari RKUD ke Rekening Kas Desa (RKD). Dalam pelaksanaan keuangan di desa, ada beberapa prinsip yang wajib ditaati mengenai penerimaan dan pengeluaran yang dilaksanakan melalui RKD.

Tabel 4. 1. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Desa Bangkalaloe Tahun 2018

No Kegiatan Anggaran

1 Pembangunan jalan desa Rp. 219.558.856,00 2 Pemeliharaan sarana dan

prasarana lingkungan

Rp. 2.672.000,00 3 Pemeliharaan sarana dan

prasarana tempat umum

Rp. 15.000.000,00 4 Pembangunan sarana dan

prasarana badan usaha

Rp. 50.000.000,00 5 Pemeliharaan sarana dan

prasarana lembaga

Rp. 490.493.071,00 6 Pemeliharaan sarana olahraga Rp. 41.915.671,00 7 Pengelolaan sanggar belajar Rp. 23.000.000,00

8 Pembangunan dan pemeliharaan sarana aset gedung

Rp. 11.042.000,00 9 Pengembangan komoditas

unggulan pertanian dan perikanan

Rp. 106.549.871,00 Jumlah Rp. 960.231.469,00

Tabel 4. 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Desa Bangkalaloe Tahun 2019

No Kegiatan Anggaran

1. Pemeliharaan sarana dan prasarana lembaga

Rp. 433.363.628,57 2 Pembangunan dan pengelolan air

bersih berskala

Rp. 28.989.076,00 3 Pemeliharaan sarana dan

prasarana budi daya

Rp. 23.142.612,00 4 Pembangunan sarana dan

prasarana perpustakaan

Rp. 10.993.550,00 5 Pembangunan jalan rabat beton Rp. 261.541.002,64 6 Pembangunan saluran Rp. 220.246.884,19 7 Pemeliharaan jalan pemukiman

penduduk

Rp. 87.981754,80 Jumlah Rp. 1.066.258.508,20

Tabel 4. 3. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Desa Bangkalaloe Tahun 2020

No Kegiatan Anggaran

1 Sub bidang pendidikan Rp. 42.478.562,00 2 Sub bidang kesehatan Rp. 35.690.000,00 3 Sub bidang pekerjaan umum dan

penataan ruang

Rp. 565.922.937,90 4 Sub bidang kawasan pemukiman Rp. 453.171.866,46 5 Sub bidang perhubungan,

komunikasi dan informatika

Rp. 3.300.000,00 Jumlah Rp. 1.100.563,366,36

Hasil pelaksanaan program, selanjutkan akan dilakukan pencatatan oleh bendahara desa, bendahara desa wajib melakukan pencatatan setiap transaksi penerimaan dan pengeluran serta melakukan tutup buku setiap akhir

bulan secara tertib. Penatausahaan keuangan di Gampong Illie menggunakan sistem aplikasi yang bernama Ms. Excel dan Sistem Keuangan Desa.

Dokumen yang digunakan oleh bendahara dalam melakukan penatausahaan penerimaan dan pengeluaran antara lain, buku kas umum, buku kas pembantu pajak dan buku bank. Buku kas umum digunakan untuk mencatat seluruh bukti transaksi keuangan desa. Buku kas pembantu pajak digunakan untuk mencatat bukti transaksi terkait dengan pemungutan maupun penyetoran pajak oleh bendahara desa. Buku bank digunakan untuk mencatat bukti transaksi terkait dengan penerimaan maupun pengeluaran melalui bank.

3. Tahap Pengorganisaan

Pengorganisasian merupakan upaya agar suatu kegiatan yang telah direncanakan dapat berjalan dengan baik sesuai yang diinginkan. Dalam pengorganisasian terdapat koordinasi baik antara pimpinan dan bawahan, maupun antar bawahan. Hariani (2013:92) mendefinisikan pengorganisasian sebagai langkah untuk menetapkan, menggolong-golongkan, dan mengatur berbagai macam kegiatan yang dipandang perlu untuk mencapai tujuan organisasi.

Pengorganisasin menjadi hal yang penting dalam mewujudkan apa yang telah ditetapkan. Hariani (2013: 90-91) menguraikan ada enam (6) langkah yang perlu dilakukan dalam pengorganisasian yaitu: 1) Mengetahui tujuan; 2) Membagi pekerjaan kedalam bagian; 3) Menggolong-golongkan kegiatan ke dalam satuan yang dapat dikelompokan; 4) Menentukan kewajiban yang harus dilaksanakan dan menentukan/menyediakan alat-alat serta tempat/ruangan fisik yang diperlukan; 5) Penugasan personalia yang cakap;

6) Mendelegasikan wewenang.

Seperti yang dikemukakan oleh salah seorang apparat desa bahwa:

“Pada saat pengeluaran kas berupa belanja untuk melaksanakan operasional kegiatan desa, kita harus menyimpan bukti-bukti transaksi baik kas masuk maupun kas keluar sebagai pertanggung jawaban kepada kepala desa”

Mewujudkan pengelolaan ADD yang efektif dan efisien harus memperhatikan kegiatan pengorganisasian, agar dalam pelaksanaan penggunaan ADD tepat sesuai yang telah direncanakan dan tidak menyimpang dari tujuan yang telah ditetapkan. Kegiatan pengorganisasian ADD di Desa Bangkalaloe sejauh ini untuk pelibatan partisipasi masyarakat untuk bergotong-royong masih terbuka lebar. Tidak ada batasan dari Pemerintah Desa Bangkalaloe Kecamatan Bontoramba untuk suka rela terlibat dalam pelaksanaan kegiatan ADD. Bahkan Pemerintah Desa Bangkalaloe Kecamatan Bontoramba sejauh ini sangat mendorong dan mengajak masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam pelaksanaan ADD tersebut. Pengorganisasian antara Pemerintah Desa dalam memberdayakan masyarakat untuk ikut aktif dalam pelaksanaan ADD sejauh ini dilakukan dengan mengajak masyarakat melalui RT/RW dan melalui acara-acar resmi, seperti pengajian.

Seperti yang dikemukakan oleh salah seorang apparat desa bahwa:

“Formula dana desa dihitung dengan bobot 10% untuk jumlah penduduk, 50% untuk angka kemiskinan, 15% umtuk luas wilayah dan 25%

untuk tingkat kesulitan geografis.”

Dilain sisi pengorganisasian dalam lingkup Pelaksana Teknis Pengelolaan Keuangan Desa (PTPKD) dan Tim Pelaksana Kegiatan (TPK)

masih belum sepenuhnya sempurna. Kurangnya komunikasi antara perangkat desa terkait menyebabkan pengelolaan ADD atau Keuangan Desa cenderung terhambat. Salah satu contoh kasus adalah koordinasi Dokumen RPD ADD 2019, dimana seharusnya dokumen tersebut terdistribusi dengan baik kepada seluruh perangkat yang berkepentingan namun faktanya dokumen RPD ADD 2019 belum terdistribusi dengan baik. Bendahara Desa selaku pemegang keuangan desa yang harusnya memegang RPD ADD untuk pedoman pendapatan dan pengeluaran dana, sejauh ini belum menerima dokumen tersebut. Faktanya dokumen tersebut masih berada di Sekretaris Desa yang bertindak selaku koordinator pengelolaan ADD. Seharusnya untuk mempermudah pengelolaan ADD, pendistribusian RPD harus diketahui oleh seluruh bagian PTPKD dan TPK. Kurangnya komunikasi antar perangkat daerah menyebabkan dampak pada kegiatan LPJ yang mengalami kesulitan.

Kegiatan pengorganisasian sendiri membutuhkan koordinasi yang baik antar setiap elemen di dalamnya. Pemberdayaan masyarakat dalam tahap pengorganisasian pengelolaan ADD masih dalam bentuk sukarela dan terbuka bagi masyarakat yang mau berpartisipasi dari pihak Pemerintah Desa Bangkalaloe Kecamatan Bontoramba sangat mendukung hal tersebut.

Sedangkan dalam tingkat pengkoordinasian pengelolaan ADD di lingkup perangkat desa pengelola sendiri masih terdapat hambatan komunikasi dan koordinasi sehingga berdampak pada terhambatnya kegiatan Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) penggunaan ADD.

4. Tahap Pelaporan

Suharto (2014:118) menguraikan tujuan dari pelaporan adalah, mengetahui input sumber-sumber dalam perencanaan, mengetahui

implementasi kegiatan, mengetahui ketepatan waktu implementasi, dan mengetahui keberjalanan implementasi sesuai rencana. Sedang tujuan dari evaluasi sendiri menurut Suharto (2014:119) meliputi mengidentifikasi pencapaian tujuan, mengukur dampak langsung yang terjadi, mengetahui dan menganalisis konsekuensi lain yang terjadi diluar perencanaan.

Dalam melaksanakan tugas serta kewajibannya dalam pengelolaankeuangan desa, Pemerintah desa wajib memberikan laporannya kepada pemerintah diatasnya yakni Camat, maupun ke Bupati. Disamping itu pemerintah desa dalam mempertanggungjawabkan kegiatannya wajib menyampaikan kepada masyarakat. Pelaporan Dana Desa sebenarnya tidak terpisahkan dengan penyampaian informasi APBDesa, hanya saja terdapat laporankhusus yang membedakan dengan dana-dana yang lain. Laporan ini bernama laporan realisasi Dana Desa.

Menurut Permendagri 113 tahun 2014 dalam melaksanakan tugas, kewenangan, hak, dan kewajibannya dalam pengelolaan keuangan desa termasuk didalamnya Dana Desa, kepala desa wajib menyampaikan kepada Bupati/Walikota setiap periodik dan tahunan. Penyampaian laporan realisasi Dana Desa dilakukan paling lambat minggu keempat bulan Juli tahun anggaran berjalan untuk semester satu dan paling lambat minggu keempat bulan Januari tahun anggaran berikutnya untuk semester dua. Laporan realisasi Dana Desa dilaporkan kepada BPD. Laporan realisasi Dana Desa yang dibuat oleh pemerintah Gampong Illie secara bertahap, dikarenakan pencairan Dana Desa tahap selanjutnya wajib melampirkan laporan realisasi Dana Desa tahap sebelumnya.

Tahap pelaporan pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) di Desa Bangkalaloe sejauh ini telah memberikan ruang terbuka pada masyarakat untuk bisa menyampaikan keluhan atau komplain. Contohnya pada tahap pembangunan gapura, masyarakat bisa menyampaikan keluhan pada bahan baku tulisan gapura yang dirasa kurang tepat langsung kepada pemerintah.

Keterbukaan kesempatan yang diberikan kepada masyarakat merupakan cerminan Pemerintah Desa Bangkalaloe memberdayakan masyarakat desanya dalam tahap pengawasan dalam pelaksanaan kegiatan ADD.

Pengawasan langsung yang dilakukan oleh masyarakat dapat menjadi ujung tombak agar pelaksanaan penggunaan ADD tepat sesuai dengan perencanaan yang telah di tetapkan.

pelaporan dan pengawasan ADD juga dilakukan oleh pihak Inspektorat, Dinpermades, Pemerintah Kecamatan, Bappeda, dan Setda yang melakukan pengawasan melalui monitoring dan evaluasi langsung ke lapangan.

Monitoring dan evaluasi dari dinas terkait dilakukan secara periodik. Dalam melakukan pengawasan dinas terkait melihat dua aspek yakni bukti fisik di lapangan dan laporan. Untuk pengecekan laporan sendiri seharunya dinas terkait dalam pengecekan sudah dipermudah dengan menggunakan aplikasi Siekudes, namun sejauh ini dinas terkait sendiri masih belum sepenuhnya paham akan penggunakan aplikasi siekudes tersebut sedangkan pihak desa dituntut untuk bisa.

Kendala yang muncul pada tahap pelaporan selain dari kurangnya koordinasi antara perangkat pengelola dalam pendistribusian RPD, juga disebabkan karena sulitnya pengumpulan bukti dukung laporan. Bukti dukung berupa foto-foto kegiatan yang harus dilampirkan menjadi kendala karena

kurang koordinasi dalam pengumpulannya.

Melihat dari sudut pemberian laporan penggunaan ADD sejauh ini masyarakat belum sepenuhnya dilibatkan, masyarakat umum masih awam tentang pelaporan ADD dan Keuangan Desa lainnya. Hal tersebut terjadi karena pelaporan ADD belum terubuka penuh kepada masyarakat. Pelaporan dalam bentuk banner dan infografis yang memberikan pengetahuan kepada masyarakat belum terpasang dengan baik, selain itu info laporan penggunaan keuangan desa juga diberikan hanya kepada perangkat desa, masyarakat umum hanya mendapatkan laporan dari RT/RW ketika disampaikan, jika tidak masyarakat juga tidak tahu menahu doal pelaporan keuangan.

Pemberdayaan masyarakat Desa Bangkalaloe dalam tahap pengawasan pengelolaan ADD faktanya dapat dilihat dari dua sudut pandang yang berbeda. Disatu sisi masyarakat diberdayakan untuk aktif mengawasi dan diberikan kebebasan untuk melakukan komplain atau menyampaikan keluhan. Namun dilain sisi pengawasan dari segi pelaporan penggunaan ADD masyarakat masih kesulitan akses, karena informasi dalam bentuk banner dan infografis yang belum terpasang, informasi laporan penggunaan ADD dan keuangan desa lainnya hanya diberikan melalui RT dan RW, tidak ada pelaporan langsung kepada masyarakat.

5. Tahap Pertanggungjawaban

Pertanggungjawaban ADD di Desa Bangkalaloe Kecamatan Bontoramba terintegrasi dengan pertanggungjawaban APBDes. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 37 Tahun 2007 tentang keuangan desa.Peraturan tersebut dimaksudkan untuk memberikan landasan hukum bidang keuangan desa, sumber keuangan desa, dan anggaran

pendapatan dan belanja desa. Penguatan keuangan desa dilakukan untuk menguatkan pilar transparansi dan akuntabilitas.

Pengelelolaan keuangan desa harus dilakukan secara efisien dan efektif,transparan dan akuntabel. ADD yang merupakan salah satu sumber utamapendapatan desa juga harus dipertanggungjawabkan secara transparan kepada masyarakat maupun kepada pemerintah kabupaten sebagai institusi pemberi kewenangan. Selain itu pertanggungjawaban kepada masyarakat dilakukan secara periodik setiap tahapan persiapan dari pelaksanaan ADD yaitu melalui forum eveluasi pelaksanaan ADD yang dipimpin oleh kepala desa.Kegiatan evaluasi Alakoasi Dana Desa (ADD) dilakukan tiga bulan sekali mengundang tokoh masyarakat, LPM, BPD.

Evaluasi dilakukan untuk mewujudkan transparansi dalam ADD dan diharapkan adanya masukan-masukan demi berjalannya ADD. Penyampaian laporan dilaksanakan melalui jalur struktural yaitu dari tim pelaksana tingkat desa dan diketahui kepala desa, dan memberi laporan kepada tim pendamping tingkat kecamatan secara bertahap. Sedangkan untuk pengelolaan administrasi keuangan yang dilaksanakan diGampong Illie dimana kepala desa dan bendahara desa mengambil dana desa dari bank kemudian diberikan kepada bendahara tim pelaksanaan ADD, dari bendahara timPelaksanaan ADD yang sifatnya untuk alokasi pemerintah desa akan dikembalikan lagi ke bendahara desa tetapi pada saat pembuatan laporan pertanggung jawaban pada kaur keuangan terdapat keterlambatan dalam menyerahkan laporan pertanggungjawaban keuangan satu tahun kepada kepaladesa maka anggaran pada tahun selanjutnya belum bisa dikeluarkan.Informasi- informasi tersebut menunjukkan bahwa sistem

pertanggungjawaban ADD di Gampong Illie belum sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pengelolaan ADD juga telah melaksanakan pertanggung jawaban administrasi keuangan ADD dengan baik yaitu setiap pembelanjaan yang bersumber dari ADD harus disertai dengan bukti-bukti seperti kwitansi dan sebagainya.

Pengelolaan alokasi dana desa pada pelaksanaan setiap program desa sangat diperlukan karena setiap dana yang diberikan oleh pemerintah harus dipertanggungjawabkan secara baik oleh badan hukum maupun kepala organisasi yang berwenang. Dalam pengelolaan dana desa dimulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan dan pertanggung jawaban. Hal ini juga diterapkan pada pengelolaan alokasi dana desa pada Desa Bangkalaloe Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas pada pembahasan sebelumnya, perencanaan program Desa Bangkalaloe Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto dimulai dari musyawarah bersama kepala dusun dan beberapa tokoh masyarakat serta membuat format Rencana Kerja Pemerintah (RKP) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM). Selanjutnya pada tahap pelaksanaan bendahara desa mencatat semua kegiatan yang dilakukan serta menjalankan program yang sudah direncanakan sebelumnya.

Tahap penatausahaan bendahara desa atau kaur keuangan mencatat seluruh transaksi penerimaan dan pengeluaran desa serta membuat beberapa laporan seperti buku bank, buku kas umum, buku kas pembantu pajak. Pada tahap pelaporan Desa Bangkalaloe Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto juga membuat pelaporan bulanan maupun pelaporan masing-masing kegiatan.

Pada tahap pertanggung jawaban dilakukan masih kurang efesiensi dan efektif karena pada saat pembuatan laporan pertanggung jawaban oleh kaur keuangan masih terdapat keterlambatan dalam menyerahkan laporan pertanggung jawaban keuangan satu tahun kepada kepala desa sehingga anggaran tahun selanjutnya belum bisa dikeluarkan. Dalam hal ini dapat diketahui bahwa pengelolaan alokasi dana desa pada program Desa Bangkalaloe Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto Tahun 2018-2020 sudah berjalan baik meskipun dari aspek pengelolaan pelaporan dan pelaksanaan masih kurang bersifat partisipatif, efiensi dan transparansi.

Dokumen terkait