Pembelajaran Kegiatan Belajar Kompetensi Yang Dikembangkan
D. Pembahasan
3. Pembahasan Antar Siklus Pada proses pembelajaran
yang berlangsung baik pada siklus I maupun siklus II, sebagian besar siswa aktif mengikuti kegiatan yang dilaksanakan peneliti. Siswa belajar melalui diskusi kelompok.
Melalui diskusi kelompok, siswa dilatih untuk berpendapat, bekerjasama, menentukan keputusan dan menghargai pendapat orang lain.
Pembelajaran melalui diskusi kelompok dapat melatih siswa untuk bersosialisasi.
Sebagaimana diungkapkan oleh Anita Lie (2003:28) falsafah yang mendasari model pembelajaran kooperatif adalah falsafah homo homini socius.
Falsafah ini menekankan manusia adalah makhluk sosial, bekerja sama adalah kebutuhan.
Dalam pembelajaran, diadakan kegiatan permainan untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
Menurut Herminarto Sofyan dan Hamzah Uno (2003:44) proses permainan merupakan proses yang menarik bagi siswa.
Suasana yang menarik itu menyebabkan proses belajar menjadi bermakna secara afektif atau emosional bagi siswa. Sesuatu yang bermakna akan lestari diingat, dipahami
atau dihargai.
Pada saat mencari pasangan dan menjawab pertanyaan, suasana belajar yang tercipta adalah kompetisi antar siswa. Suasana kompetisi mendorong siswa untuk belajar lebih baik lagi, sebagaimana diungkapkan oleh Herminarto Sofyan dan Hamzah Uno (2003:47), suasana persaingan akan memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mengukur kemampuan dirinya melalui kemampuan orang lain.
Selain itu, belajar dengan bersaing akan menimbulkan upaya belajar yang sungguh- sungguh.
Pada permainan “mencari pasangan” siswa diberi kesempatan terlebih dahulu untuk menjawab soal dari kartunya masing-masing selama 5 menit dan dilanjutkan mencari pasangan dari kartunya. Hal ini dilakukan untuk memupuk rasa ingin tahu siswa tentang suatu hal, sehingga mendorong siswa untuk berusaha segera memecahkan permasalahannya.
Rasa ingin tahu merupakan daya untuk meningkatkan motivasi belajar siswa.
Dalam pembelajaran, diadakan pula penghargaan kelompok, yaitu untuk tiga
kelompok terbaik mendapatkan hadiah. Penghargaan kelompok dapat meningkatkan motivasi belajar hal ini sesuai dengan pendapat yang diungkapkan oleh Sardiman (2006:91-94) serta Herminarto Sofyan dan Hamzah B. Uno (2003:42) yang menyatakan pemberian
penghargaan dapat
meningkatkan motivasi belajar siswa, pemberian penghargaan bisa dilakukan tidak hanya dalam bentuk hadiah saja namun juga dapat berupa, ungkapan secara verbal, misalnya dengan pujian.
. Berdasarkan hasil observasi motivasi belajar, motivasi belajar siswa pada siklus II pada siswa kelas XI IPA-5 mengalami peningkatan yang
cukup signifikan dibandingkan dengan kegiatan pembelajaran pada siklus I. Peningkatan motivasi belajar siswa itu dapat dilihat pada setiap aspek motivasi belajar yang diamati telah mencapai lebih dari 75%, yang artinya banyaknya siswa yang mencapai kategori tinggi pada keenam aspek motivasi telah
memenuhi indikator
keberhasilan (≥ 75%). Selain itu, berdasarkan hasil belajar PKn siswa kelas XI IPA-5 mengalami peningkatan baik nilai rata-rata penguasaan konsep (kognitif) maupun ketuntasan belajarnya dibandingkan tes hasil belajar PKn pada kondisi awal maupun siklus I. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini
Dari gambar 3 di atas, sangat jelas menunjukkan
adanya peningkatan baik motivasi belajar siswa, rata-rata kelas maupun ketuntasan belajar dari kondisi awal hingga kondisi akhir. Peningkatan motivasi belajar siswa kelas XI IPA-5 dari kondisi awal 40.30% menjadi 65,00% pada siklus I dan 82.50% pada siklus II atau kondisi akhir. Sementara itu nilai rata-rata penguasaan konsep siswa kelas XI IPA-5 dari kondisi awal 71.30 menjadi 77.90 pada siklus I dan dan 85.10 siklus II atau kondisi akhir. Sedangakan peningkatan ketuntasan belajar siswa kelas XI IPA-5 dari kondisi awal 67.50% menjadi 80.00%
pada siklus I dan 95.00% siklus II atau kondisi akhir. Dengan demikian motivasi belajar, ketuntasan belajar maupun nilai rata-rata penguasaan konsep Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) materi hubungan internasional dan organisasi internasional siswa kelas XI IPA-5 telah mencapai indikator keberhasilan atau kinerja yaitu rata-rata 76 dan ketuntasan belajar lebih dari 85%.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa (1) model
pembelajaran kooperatif tipe make a match dapat meningkatkan motivasi belajar Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) siswa kelas XI IPA-5 SMA Negeri 1 Gubug materi hubungan internasional dan organisasi internasional pada semester genap tahun pelajaran 2012/2013; dan (2) model pembelajaran kooperatif tipe make a match dapat meningkatkan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) siswa kelas XI IPA-5 SMA Negeri 1 Gubug materi hubungan internasional dan organisasi internasional pada semester genap tahun pelajaran 2012/2013.
Saran
Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian di atas, maka saran yang dapat kami sampaikan antara lain sebagai berikut: (1) Model pembelajaran kooperatif tipe make a match dapat digunakan sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn); (2) Para guru diharapkan dapat memperkaya penerapan beberapa model pembelajaran yang lain untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa
pada pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn); dan (3) Model pembelajaran kooperatif tipe make a match juga dapat diterapkan pada mata pelajaran lain.
DAFTAR PUSTAKA
Agus Suprijono. 2009.
Cooperative Learning, Teori dan Aplikasi PAIKEM Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Anita Lie. 2003. Cooperative Learning Mempraktikan Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas.
Jakarta: PT Gramedia.
Fudyartanto. 2002. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta:
Global Pustaka Utama..
Herminarto Sofyan dan Hamzah B. Uno. 2003. Teori Motivasi dan Aplikasinya dalam Penelitian. Gorontalo: Nurul Jannah.
John W. Santrock. 2008.
Psikologi Pendidikan.
Yogyakarta: Global Pustaka Utama
Martin Handoko. 2008. Motivasi Daya Penggerak Tingkah Laku. Yogyakarta: Kanisius.
Nana Sudjana. 2005. Dasar- Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Sardiman. 2006. Inovasi dan Motivasi Belajar Mengajar.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
1 AKSESIBILITAS PENYANDANG DISABILITAS DALAM
BIDANG KETENAGAKERJAAN (Studi di Kota Surakarta)
Siti Zulaekhah, Triyanto
PPKn FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta E-mail: [email protected]
ABSTRACT. The objective of this research is to find out the accessibility of persons with disabilities in the field of employment in Surakarta. This research used descriptive qualitative method.
However, this research also used quantitative approach to support the data. The research strategy used in this research was a single embedded strategy. The sources of the data were informants, places, events, and documents. The sampling technique was purposive sampling. The techniques of collecting and arranging the data were interview, observation, and document analysis. To get valid data, the researcher used data and triangulation method.
While, the technique of analyzing data used interactive model by following these steps: (1) Data Collection, (2) Data Reduction, (3) Data display, (4) Conclusion. The research procedure was followed these steps: (1) Pre-research, (2) Research, (3) Data Analysis, (4) Research report writing. Based on the results of the research, it can be concluded that the accessibility of persons with disabilities in the field of employment in Surakarta has not been fully implemented. It is caused due to lack of accessibility and dissemination of information for persons with disabilities on job opportunities from companies in Surakarta to receive the disability employee. So, persons with disabilities have no equal opportunities in the field of employment to citizens who have a normal physical.
Key words: aksesibilitas difabel, hak warga negara, ketenagakerjaan
PENDAHULUAN
Di Indonesia jumlah penyandang disabilitas atau sering kali disebut difabel tergolong sangat banyak.
Berdasarkan hasil pendataan atau survey Pusdatin Depsos (2012) menunjukkan bahwa jumlah penyandang difabel sebanyak 299.203 jiwa dan 10,5% (31.327
jiwa) merupakan penyandang cacat berat yang mengalami hambatan dalam kegiatan sehari – hari (activity daily living /ADL).
Jumlah penyandang cacat laki- laki lebih banyak dari perempuan sebesar 57,96%. Dari kelompok umur, usia 18-60 tahun menempati posisi tertinggi.
Kecacatan yang paling banyak dialami adalah cacat kaki (21,86%), mental retardasi (15,41%) dan bicara (13,08%).
Sekitar 67,33% penyandang cacat dewasa tidak mempunyai ketrampilan dan pekerjaan.
Sebagai warga negara, penyandang disabilitas juga memiliki hak yang sama dengan masyarakat pada umumnya termasuk dalam bidang ketenagakerjaan.
Penyandang disabilitas mempunyai hak dan perlakuan yang sama sebagai warga Negara Indonesia. Undang - Undang No 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat menyatakan bahwa penyandang cacat berhak mendapatkan keamanan perlakuan dan aksesibilitas dalam segala aspek penghidupan.
Menurut UU No 19 Tahun 2011 tentang Pengesahan Convention on The Rights of Person With Disabilities (Konvensi Mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas), pemerintah harus dapat
menciptakan langkah yang tepat untuk melindungi akses penyandang disabilitas dalam hal pelayanan publik atas dasar keamanan hak sebagai warga negara seperti sistem informasi, transportasi, lingkunagn hidup.
Sesuai pasal 4 UU No 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik disebutkan bahwa asas pelayanan publik diantaranya persamaan hak, persamaan perlakuan atau tidak diskriminatif , dan pelayanan yang menyediakan fasilitas dan perlakuan khusus bagi kelompok rentan. Undang-undang Dasar 1945 Pasal 31 dan 27 Ayat 2 mengemukakan bahwa setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan dan pekerjaan yang layak. Hal tersebut mendukung adanya kesamaan perlakuan bagi penyandang disabilitas untuk mendapatkan akses pelayanan publik bidang ketenagakerjaan.
Pada pasal 4 Undang-Undang No 4 tahun 1997 menyatakan bahwa setiap perusahaan yang mempekerjakan pegawai di atas 100 orang harus mewajibkan mempekerjakan pula minimal 1 orang dengan keterbatasan (difabel). Pemerintah mewajibkan setiap perusahaan wajib mempekerjakan 1 orang difabel.
Jika itu tidak dilakukan maka
perusahaan tersebut akan terkena sanksi dari pemerintah.
Kota Surakarta merupakan kota kecil yang mendapat sebutan kota “ramah difabel”
dimana perbandingan jumlah penyandang disabilitasnya dengan jumlah penduduknya tergolong cukup banyak.
Berdasarkan data BPS Kota Surakarta (2011) jumlah penduduk Kota Surakarta pada tahun 2011 mencapai 501.650
jiwa dengan penyandang disabilitas di kota Surakarta pada tahun 2011 mencapai 1398 jiwa.
Jumlah penyandang disabilitas tersebut memang tidak mencapai 1% dari jumlah penduduk kota Surakarta. Akan tetapi jika melihat dari jumlahnya melebihi 1000 jiwa jumlah tersebut tergolong cukup banyak. Dari jumlah penyandang disabilitas tersebut terdiri dari berbagai macam jenis kecacatan.
Jumlah penyandang cacat di Kota Surakarta dari tahun ke tahun berdasarkan jenis kecacatan sebagai berikut:
Tahun Cacat Tubuh
Tunanetra Tunament a
Tunarungu Jumlah
2011 459 310 327 302 1398
2010 434 25 196 225 880
2009 514 112 59 224 909
2008 498 278 489 199 1464
2007 773 307 729 364 2173
Sumber: Dinas Sosial Ketenagakerjaan & Transmigrasi Surakarta 2012
Pemerintah Kota Surakarta memberikan perhatian yang lebih mengingat banyaknya penyandang disabilitas yang ada di kota Surakarta. Sejalan dengan pemerintahan pusat kota Surakarta mengeluarkan Peraturan Daerah No.2 tahun 2008 tentang kesetaraan kaum difabel. Inti dari perda tersebut adalah suatu keadilan di segala bidang mengingat kaum
penyandang disabilitas merupakan warga negara yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama sebagai warga Negara Indonesia.
Di dalam Perda No 2 Tahun 2008 Pasal 20 Ayat 1 disebutkan bahwa : “Peran serta pembangunan merupakan bagian dari kesetaraan difabel yang pada prinsipnya untuk memperluas keikutsertaan dalam
pembangunan daerah sesuai dengan ketentuan Peraturan perundang-undangan yang berlaku”. Sehingga dalam hal ini kaum difabel memiliki hak untuk berpartisipasi dalam pembangunan negara seperti di bidang ekonomi, sosial, dan budaya. Hal tersebut berkaitan dengan prinsip Civic Skill Partisipatory atau ketrampilan partisipatif yang dimiliki oleh warga Negara Indonesia. Dalam hal ini mengandung makna bahwa kaum difabel berhak memiliki ketrampilan untuk mempengaruhi jalannya pemerintahan, pengambilan keputusan publik, berkoalisi, mengelola konflik dan sebagainya. Salah satu dari itu adalah pengambilan keputusan publik dimana mereka berhak mendapatkan pendidikan dan pekerjaan yang layak agar bisa ikut andil dalam pemerintahan.
Pada kenyataannya masih ada penyandang difabel yang masih belum mendapatkan haknya sebagaimana yang dimaksud dalam Perda No.2 Tahun 2008 pasal 20 ayat 1.
Keinginan mereka untuk mendapatkan pekerjaan yang layak seperti manusia pada umumnya tidak terpenuhi seutuhnya. Di dalam salah salah satu surat kabar menyatakan
bahwa “Perusahaan–perusahaan yang ada di Surakarta khususnya sebagian besar memiliki syarat yang menegaskan bahwa calon pegawai atau karyawan harus tidak cacat fisik maupun non fisik”. (Joglosemar, 3 September 2013)
Padahal secara garis besar kesuksesan kota Surakarta menerapkan aksesibilitas dalam hal pelayanan publik khususnya bidang ketenagakerjaan merupakan tolak ukur kota Surakarta menjadi kota yang ramah penyandang disabilitas.
Pada semua aspek aksesibilitas baik yang fisik maupun non fisik.
Dukungan dari masyarakat juga sangat diperlukan untuk mewujudkan kota Surakarta menjadi kota ramah penyandang disabilitas. Sikap dan tanggapan masyarakat juga sangat diperlukan untuk mewujudkan kesetaraan bagi penyandang disabilitas.
Adapun rumusan dari penelitian ini adalah “Bagaimana aksesibilitas penyandang disabilitas dalam bidang ketenagakerjaan?”. Sejalan dengan perumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aksesibilitas penyandang dsabilitas dalam bidang ketenagakerjaan.
Sedangkan manfaat dari penelitian ini antara lain :
1. Manfaat Teoritis
a. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran terhadap pelayanan publik khususnya di bidang ketenagakerjaan bagi penyandang disabilitas di kota Surakarta.
b. Sebagai bahan masukan, pertimbangan dan bantuan pemikiran bagi pihak-pihak terkait dalam pelaksanaan pelayanan di bidang ketenagakerjaan bagi penyandang disabilitas.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi BBRSBD Prof. Dr.
Soeharso sebagai sarana untuk memperbaiki mutu pembembelajaran dan pelatihan bagi kaum disabilitas, sehingga nantinya kaum disabilitas tersebut telah teruji kemampuannya saat terjun di lapangan.
b. Bagi Dinsosnakertrans kota Surakarta sebagai saran atau masukan untuk lebih memberikan kesempatan bagi penyandang diasabilitas di bidang ketenagakerjaan di kota Surakarta.
c. Bagi instansi perusahaan di kota Surakarta sebagai masukan akan pentingnya pemenuhan hak kaum disabilitas agar senantiasa diperhatikan dan didukung dengan adanya lapangan kerja untuk mereka.
d. Bagi masyarakat, penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam aksesibilitas penyandang disabilitas di bidang ketenagakerjaan.
METODE PENELITIAN
Tempat penelitian adalah tempat dimana peneliti memperoleh data-data yang diperlukan dalam penelitian.
Tempat dilakukan penelitian ini yaitu di BBRSBD Prof.Dr.Soeharso Surakarta. Sedangkan waktu dilaksanakannya penelitian ini yaitu antara bulan Septemeber 2013 sampai dengan Desember 2013.
Bentuk dari penelitian adalah deskripstif kualitatif.
Penulis dalam penelitian ini berusaha menyajikan data deskriptif berupa hasil wawancara yang berhubungan dengan obyek yang diteliti, yang dalam hal ini ditekankan pada aksesibilitas pendidikan bagi mahasiswa
difabel dalam rangka kesetaraan hak memperoleh pendidikan.
Strategi yang digunakan dalam penelitian adalah tunggal terpancang. Strategi tunggal terpancang dalam penelitian ini mengandung pengertian sebagai berikut: tunggal yang artinya meneliti pada satu lokasi penelitian, yaitu Universitas Sebelas Maret Surakarta, sedangkan terpancang maksudnya bahwa dalam penelitian ini pembahasan masalah hanya terpancang (terarah) pada penyediaan aksesibilitas pendidikan bagi mahasiswa difabel dalam rangka kesetaraan hak memperoleh pendidikan.
Adapun sumber data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data yang berupa informan, tempat dan peristiwa, serta dokumen atau arsip. Teknik pengambilan sampel yang penulis lakukan dalam penelitian adalah dengan purposive sampling, dengan kecenderungan peneliti untuk memilih informan dan masalahnya secara mendalam serta dapat dipercaya untuk menjadi sumber data yang akurat.
Teknik pengumpulan data merupakan cara operasional yang ditempuh oleh peneliti untuk
memperoleh data yang diperlukan. Berhasil tidaknya suatu penelitian dapat bergantung pada data yang diperoleh. Oleh karena itu sangat perlu diperhatikan teknik pengumpulan data yang dipergunakan sebagai alat pengambil data. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan wawancara, observasi dan dokumen.
Agar data yang diperoleh benar-benar valid, maka pemeriksaan keabsahan data menggunakan teknik trianggulasi yaitu trianggulasi data. Penulis dalam menganalisis data menggunakan empat komponen utama yaitu: 1. pengumpulan data, 2. reduksi data, 3. sajian data, 4. penarikan kesimpulan atau verifikasi. Sedangkan prosedur di dalam penelitian ini meliputi tahap persiapan, tahap pengumpulan data, tahap analisis data, tahap penyusunan laporan penelitian.
HASIL DAN PEMBAHASAN Peneliti dalam sub bab ini, menganalisis informasi yang berhasil dikumpulkan di lapangan sesuai dengan rumusan masalah dan selanjutnya dikaitkan dengan teori yang ada. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dijelaskan di
atas, maka dalam penelitian ini
ditemukan beberapa
pembahasan, sebagai berikut:
1. Pelaksanaan Aksesibilitas Penyandang Disabilitas dalam Bidang Ketenagakerjaan di Kota Surakarta
Berkaitan dengan aksesibilitas penyandang disabilitas dalam bidang ketenagakerjaan, maka ada empat kriteria yang menjadi tolak ukur dalam penelitian ini. Pertama, aksesibilitas informasi. Berdasarkan UU No 4 Tahun 1997 Pasal 6 ayat (6) menyebutkan bahwa :”Setiap penyandang cacat berhak meperoleh hak yang
sama untuk
menumbuhkembangkan bakat, kemampuan, dan kehidupan sosialnya, terutama penyandang cacat anak dalam lingkungan keluarga dan masyarakat”.
Dalam hal ini informasi mengenai pelatihan tersebut juga sangat penting.
Berdasarkan Undang-undang No 19 Tahun 2011 tentang Pengesahan Convention on The Rights of Persons with Disabilities (Konvensi
Mengenai Hak-Hak
Penyandang Disabilitas) Pasal 19 ayat 1 menyatakan bahwa:
Negara-negara pihak konvensi ini mengakui hak yang sama dari semua penyandang disabilitas untuk bisa hidup di dalam masyarakat, dengan pilihan-pilihan yang setara dengan yang lainnya, dan terus mengambil kebijakan- kebijakan yang efektif dan sesuai untuk menfasilitasi
penikmatan penuh atas hak ini oleh penyandang disabilitas dan keterlibatan dan partisipasi penuh mereka di dalam masyarakat,termasuk dengan menjamin bahwa menyediakan informasi yang ditujukan untuk masyarakat umum kepada penyandang disabilitas dalam bentuk dan teknologi yang dapat dijangkau sesuai dengan berbagai jenis disabilitas secara tepat waktu dan tanpa biaya tambahan.
Sehingga dalam hal ini hak informasi mengenai
ketenagakerjaan bagi kaum disabilitas bisa diakses dimanapun, salah satunya dengan media cetak dan media elektronik.
Kesempatan bagi kaum disabilitas untuk mendapatkan suatu informasi terkhusus informasi mengenai ketenagakerjaan sangat terbuka lebar.
Kedua, aksesibilitas kesempatan. Berdasarkan UU No 4 Tahun 1997 pasal 6 ayat (2) menyebutkan bahwa
“Setiap penyandang cacat berhak memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak sesuai dengan jenis dan derajat kecacatan,
pendidikan dan
kemampuannya”. Tetapi dalam kenyataannya tidak semua hak mereka terpenuhi seperti yang mereka inginkan. Terbukti masih kurangnya akses bagi penyandang disabilitas untuk mendapat kesempatan pekerjaan. Dari hasil observasi dan wawancara di lapangan, penulis menemukan bahwasannya penyandang disabilitas juga berhak bekerja secara formal seperti menjadi PNS tidak hanya sebagai pemusik dan tukang pijat saja. Tetapi
bekerja di kantoran layaknya warga Negara Indonesia pada umumnya. Maka dapat disimpulkan bahwa pemerataan atas hak mendapatkan pekerjaan bagi kaum disabilitas kurang merata dan masih kurang
adanya ketegasan
pemerintah akan pelaksanaan UU No 4 Tahun 1997.
Ketiga, aksesibilitas penghargaan.. Seperti yang disebutkan dalam UU No 4 Tahun 1997 pasal 6 ayat (3) menyebutkan bahwa “Setiap
penyandang cacat
mempunyai perlakuan yang sama untuk berperan dalam pembangunan dan menikmati hasil-hasilnya”. Dari hasil pengambilan data yang dilakukan peneliti, maka ada beberapa aspek yang menimbulkan adanya perbedaan dan persamaan pemberian interprestasi terhadap pekerja disabilitas, yaitu :
a. Masa bekerja
Salah satu wujud terimakasih sebuah perusahaan terhadap jasa pekerja yang telah lama bekerja dan mengabdikan dirinya untuk suatu perusahaan yaitu dengan cara memberikan
interprestasi berupa kenaikan gaji maupun kenaikan pangkat.
Seperti contohnya dari Kepala Bidang Sosial Dinsosnakertrans, Bapak Triman, S.Pd, M.Sc . Beliau adalah salah satu penyandang disabilitas dengan jenis kecacatan yaitu tangannya mengecil sejak ia kecil dan dulunya beliau adalah salah satu staff dari bidag sosial, karena lamanya beliau bekerja maka kenaikan pangkat dari staff menjadi kepala bidang sosial, beliau jalankan saat ini.
Sehingga tidak ada yang tidak mungkin ketika para penyandag disabilitas bersungguh-sunggh untuk bekerja dan seoptimal
mungkin dalam
melaksanakan segala rutinitas pekerjaan yang sedang dia hadapi.
b. Prestasi karir
Para penyandang disabilitas memiliki kelebihan di dalam salah satu bidang, termasuk bidang yang sedang mereka jalani di suatu perusahaan tempat mereka bekerja. Berbagai prestasi yang mereka
lakukan memberikan peluang mereka untuk mendapatkan pelayanan yang lebih baik.
Interprestasi
terhadap prestasi yang dilakukan pekerja penyandang disabilitas di perusahaan tempat mereka bekerja sangat member untung bagi perusahaan. Sehingga perusahaan selayaknya member penghargaan berupa kenaikan gaji maupun kenaikan pangkat.
Seperti dicontohkan oleh Bu Sriyati, beliau adalah seorang pekerja garmen di daerah Ngruki, karena keahliannya dalam membordir segala macam kain, maka perusahaan tersebut meberikan kenaikan pangkat dan disertai kenaikan gaji.
Beliau dulunya hanya seorang yang membantu membuat lubang kancing baju, dan akhirnya beliau sekarang diberi kewenangan untuk memiliki sebuah ruangan khusus bordir dengan anak buah sebanyak 15 orang.
Keempat, adapun faktor – faktor diterima dan tidak diterimanya
kaum disabilitas di dalam perusahaan, sebagai berikut:
a. Faktor –faktor tidak diterimanya kaum disabilitas dalam perusahaan
Beberapa faktor yang meyebabkan tidak diterimanya kaum diasabilitas dalam perusahaan:
1) Faktor eksternal : a) Kebutuhan SDM
dalam perusahaan, karena hanya membutuhakan pekerja yang benar-benar
mampu di dalam bidangnya.
b) Lingkungan Masyarakat
c) Fasilitas dalam perusahaan yang tidak memadai dengan pekerja difabel
2) Faktor internal : a) Kemampuan kaum disabilitas yang kurang.
b) Kurangnya
kesadaran pemilik perusahaan
terhadap hak penyandang
disabilitas dalam
mendapatkan pekerjaan
b.Faktor diterimanya kaum disabilitas dalam perusahaan
Beberapa faktor yang menyebabkan pekerja disabilitas di terima di suatu perusahaan :
1) Faktor eksternal:
a) Kebutuhan SDM yang mumpuni terhadap
perusahaan yang sedang
membutuhkan seorang pekerja yang ahli dalam bidangnya.
b) Fasilitas dalam perusahaan yang memadai akan adanya
penyandang disabilitas.
c) Keadaan lingkungan
masyarakat yang terkondisikan saling bantu membantu.
2) Faktor Internal : a) Kemampuan
softskill penyandang
disabilitas yang diperlukan dalam salah satu bidang
yang ada di perusahaan.
b) Kesadaran para pemilik
perusahaan akan
hak kaum
disabilitas dalam bidang
ketenagakerjaan.
2. Aksesibilitas Penyandang Disabilitas dalam Spektif Pendidikan Kewarganegaraan
Winarno dan Wijianto (2010: 50) menyatakan ” Pendidikan Kewarganegaraan mengembangkan 3 (tiga) komponen pokok sebagai kompetisi peserta didik agar memiliki civic knowledge (pengetahuan
kewarganegaraan), civic values / disposition (nilai/
karakter kewarganegaraan) dan civic skill (ketrampilan kewarganegaraan)”.
1) Civic Knowledge berkenaan dengan apa- apa yang perlu diketahui dan dipahami secara layak oleh warga negara
2) Civic Values/Disposition berkenaan dengan sifat dan karakter yang baik dari seorang warga Negara baik secara pribadi maupun public.
3) Civic Skill berkenaan dengan apa yang seharusnya dapat dilakukan oleh warga
Negara bagi
kelangsungan bangsa dan Negara. Civic Skill meliputi: ketrampilan intelektual dan ketrampilan partisipasi
Hak para
penyandang disabilitas juga termasuk Civic Skill yang di dalamnya terdapat Participation Skill. Di dalam participatory civic skill atau ketrampilan partisipatif mengandung makna ketrampilan mempengaruhi jalannya pemerintahan, pengambilan keputusan publik, berkoalisi, mengelola konflik dan sebagainya.
Salah satu dari itu adalah pengambilan keputusan publik dimana mereka berhak mendapatkan pekerjaan yang layak agar bisa ikut andil dalam pembangunan Negara.
KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa aksesibilitas penyandang disabilitas dalam
pelayanan publik
ketenagakerjaan di kota Surakarta sudah baik tetapi