BAGAN KERANGKA PIKIR
B. Pembahasan
Pada penelitian ini objek yang dikaji adalah tindak tutur yang digunakan di dalam Novel Ayat-Ayat Cinta. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa terdapat tiga jenis tindak tutur dalam Novel Ayat-Ayat Cinta, yaitu tindak lokusi, ilokusi dan perlokusi. Tuturan lokusi deklaratif (memberitahukan) dari si penutur yang ditanggapi oleh mitra tutur sebanyak 9 data, tuturan lokusi interogatif (pernyataan) dari si penutur yang ditanggapi oleh mitra tutur sebanyak 10 data, dan tuturan lokusi imperatif (perintah) dari si penutur yang ditanggapi oleh mitra tutur sebayak 4 data. Jadi pada tuturan lokusi yang terdapat dalam
Novel Ayat-Ayat Cinta berjumlah 23 data. Tututran ilokusi arsetif dari si penutur yang ditanggapi oleh mitra tutur 8 data, tuturan ilokusi direktif dari si penutur yang ditanggapi oleh mitra tutur sebanyak 9 data, tuturan ilokusi ekspresif dari si penutur yang ditanggapi oleh mitra tutur sebanyak 9 data, tuturan ilokusi komisif dari si penutur yang ditanggapi oleh mitra tutur sebanyak 4 data, dan ilokusi deklaratif dari si penutur yang ditanggapi oleh mitra tutur sebanyak 2 data. jadi pada tuturan ilokusi yang terdapat dalam Novel Ayat-Ayat Cinta berjumlah 32 data. Sedangkan tuturan perlokusi hanya terdapat 2 data pada Novel Ayat-Ayat Cinta dan tidak memiliki pembagian di dalamnya.
Data-data yang diperoleh dan dibahas merupakan tindak tutur yang digunakan dalam novel Ayat-Ayat Cinta. Pembagian jenis tindak tutur dalam penelitian ini berdasarkan klasifikasi yang dilakukan oleh Austin. Secara analitis, Austin membagi tiga jenis tindak tutur, yaitu tindak lokusi, tindak ilokusi, dan tindak perlokusi. Tindak tutur pada Novel Ayat-Ayat Cinta dapat digolongkan menjadi tindak tutur lokusi, tindak tutur ilokusi, dan tindak tutur perlokusi.
Lokusi berbentuk memberitahukan berfungsi hanya untuk memberikan informasi kepada orang lain sehingga diharapkan pendengar untuk memahami. Lokusi berbentuk pernyataan atau pertanyaan merupakan tuturan yang berfungsi menanyakan sesuatu sehingga pendengar diharapkan memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh penutur. Lokusi berbentuk perintah merupakan tuturan yang memiliki maksud agar pendengar memberi tanggapan berupa tindakan atau perbuatan tertentu.
Tindak tutur ilokusi merupakan tindak tutur yang mengandug maksud dan fungsi yang ditujukan untuk memberikan efek atau pengaruh kepada lawan tutur.
Jika melihat hasil penelitian yang diperoleh dalam tindak tutur ilokusi dalam Novel Ayat-Ayat Cinta, ditemukan adanya jenis-jenis ilokusi yang berupa tindak tutur arsetif, direktif, komisif, ekspresif, dan deklaratif. Tindak ilokusi arsetif pada Novel Ayat-Ayat Cinta meliputi tuturan yang berfungsi menanyakan, menyarankan, membual, mengeluh, dan mengklaim. Tindak tutur ilokusi direktif pada Novel Ayat-Ayat Cinta meliputi tuturan yang memiliki maksud memesan, memerintah, memohon, menasehati, dan merekomendasi. Tindak tutur ilokusi komisif pada Novel Ayat-Ayat Cinta meliputi tuturan yang memiliki makna berjanji, bersumpah, dan menawarkan sesuatu. Tindak tutur ilokusi ekspresif pada Novel Ayat-Ayat Cinta meliputi tuturan yang memiliki makna berterimakasih, memberi selamat, meminta maaf, menyalahkan, memuji, dan berbelasungkawa. Dan yang terakhir yaitu tindak ilokusi deklaratif pada Novel Ayat-Ayat Cinta meliputi tuturanyang memiliki makna pasrah, memberi nama, dan menghukum. Tindak tutur perlokusi merupakan hasil atau efek ujaran terhadap pendengarnya baik yang nyata maupun yang diharapkan. Tindak perlokusi pada Novel Ayat-Ayat Cinta memiliki makna yang sebenarnya dengan begitu pada tindak tutur perlokusi tidak memiliki pembagian di dalamnya.
Untuk menguatkan dan membandingkan penelitian tindak tutur dalam Novel Ayat-Ayat Cinta karya Habibburahman El-Shirazy ini, peneliti membandingkan penelitian ini dengan peneliti terdahulu sebagai berikut : Sappewali (2014) yang mengangkat judul Analisis Tindak Tutur Musyawarah
Adat Kajang Ammatoa Kabupaten Bulukumba melalui pendekatan sosiolingustik sebagai skripsinya. Antara penelitian yang dilakukan Sappewali dengan penelitian ini, sama-sama memiliki persamaan, seperti sama-sama menggunakan kajian yang sama, yaitu mengkaji tentang tindak tutur, namun antara penelitian yang dilakukan Sappewali dengan penelitian ini juga memiliki perbedaan yaitu menggunakan pendekatan yang berbeda, Sappewali menggunakan pendekatan sosiolinguistik sedangkan pada penelitian ini menggunakan pendekatan pragmatik. Selain itu, objek yang digunakan antara kedua penelitian ini memiliki perbedaan. Jika dalam penelitian yang dilakukan oleh Sappewali menggunakan wacana lisan yang dituturkan langsung pada rapat musyawarah yang dilakukan oleh masyarakat kajang sebagai sumber data yang dikaji, dalam penelitian ini menggunakan wacana sastra berupa Novel.
55 A. Simpulan
Berdasarkan pembahasan pada bab-bab sebelumnya, penulis menarik simpulan sebagai berikut:
1. Bentuk lokusi dalam tuturan novel Ayat-Ayat Cinta karya Habibburahman El- Shirazy merupakan makna dasar yang yang diacu oleh ujaran tersebut yaitu pertama wujud lokusi yang berupa deklaratif (kalimat berita) kedua wujud lokusi yang berupa interogatif (kalimat tanya), dan ketiga wujud lokusi yang berupa imperatif (kalimat perintah). Tuturan tersebut dituturkan oleh seseorang (tokoh-tokoh dalam novel Ayat-Ayat Cinta) yang membicarakan tentang sesuatu (kehidupan Fahri dan masyarakat di Mesir).
2. Bentuk ilokusi dalam tuturan novel Ayat-Ayat Cinta karya Habibburahman El-Shirazy adalah tuturan yang mengandung maksud tertentu untuk mitra tuturnya. Bentuk ilokusi yang ditemukan yaitu pertama tindak tutur tindak tutur ilokusi bentuk arsetif, direktif, ekspresif, komisif,dan deklaratif. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa dalam satu tindak tutur selalu terdapat tuturan yang lebih dari satu pada halaman-halaman selanjutnya pada novel.
3. Bentuk perlokusi dalam novel Ayat-Ayat Cinta karya Habibburahman El- Shirazy merupakan sebuah tindakan untuk mempengaruhi mitra tutur. Bentuk perlokusi ini dapat berupa hasil yang nyata setelah ujaran tersebut dituturkan ataupun hasil yang diharapkan oleh penutur. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa tidak semua daya perlokusi menghasilkan efek seperti yang
diharapkan penutur. Ada kalanya ucapan seseorang tidak memiliki daya pengaruh kepada mitra tuturnya.
Kesimpulan dari seluruh pembahasan pada penelitian ini adalah bentuk tindak tutur yang terdapat dalam novel Ayat-Ayat Cinta ialah tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Berdasarkan hasil analisis di bab IV, penulis menyimpulkan bahwa tindak tutur yang paling banyak dituturkan oleh para tokoh dalam novel Ayat-Ayat Cinta, yaitu tindak tutur Ilokusi, karena novel ini berisi tuturan-tuturan yang mengandung tindakan dengan mengatakan sesuatu. Penutur mengatakan sesuatu dengan menggunakan suatu yang khas dan membuat si penutur bertindak sesuatu dengan apa yang telah dituturkan oleh penutur.