• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHAN

B. Pembahasan

1. Pola Pikir Masyarakat Nelayan Terhadap Pendidikan di Pulau Doang-Doangan Caddi

Masyarakat nelayan yang ada di pulau Doang-Doangan Caddi ada beberapa yang memiliki anak yang melanjutkan sekolah. Dilihat dari keadaan yang ada maka peneliti dapat membagi pembahasan tentang masyarakat nelayan yang memiliki anak yang putus sekolah dan masyarakat yang memiliki anak yang melanjutkan sekolahnya.

Pola pikir atau cara berpikir masyarakat nelayan tentang pendidikan ada sebagian orang tua yang sadar akan pentingnya pendidikan dan adapula yang masih beranggapan bahwa pendidikan itu bukan segalanya dalam kehidupan tertama dalam hidup seorang anak padahal sesungguhnya pendidikan itu sangat penting bagi masa depan anak-anak mereka. Pola pikir atau mindset adalah sekumpulan kepercayaan (belief) atau cara berpikir yang mempengaruhi perilaku dan sikap seseorang, yang akhirnya akan menentukan level keberhasilan hidupnya. (Adi W. Gunawan dalam Yoga, 2008). Adi menyakini bahwa belief menentukan cara berfikir, berkomunikasi dan

bertindah seseorang. Dengan demikian jika ingin mengubah pola pikir, yang harus di ubah adalah belief atau kumpulan belief.

Seperti yang kita ketahui bahwa sebagian kecil masyarakat di Indonesia khususnya pada masyarakat pedesaan beranggapan kalau pendidikan merupakan tempat untuk memperoleh pekerjaan dan adapula masyarakat beranggapan bahwa pendidikan itu tidak penting karena walaupun anak sekolah hingga ke jenjang yang setinggi- tingginya namun pada akhirnya juga menjadi pengagguran atau menjadi nelayan. Pendapat seperti ini sangat keliru sebab pendidikan itu sebenarnya merupakan tempat untuk membentuk pribadi, sumber daya dan pengetahuan pendidikan manusia.

Masyarakat nelayan adalah masyarakat yang tinggal di pesisir pantai dan bergantung hidup di laut. Pada umunya masyarakat nelayan merupakan pemegang peran yang cukup penting dalam pemanfaatan sumber daya alam dari sisi kehidupan masyarakat Indonesia.

Kehidupan masyarakat nelayan sebagai suatu pekerja di sektor informal harusnya mendapat perhatian karena nelayan merupakan salah satu komunitas yang saling bergantungan dengan yang lain. Pada umunya hubungan kerja di antara nelayan tidak semuanya ditekankan pada aspek ekonomi saja tetapi selalu berlandaskan pada sistem sosial budaya selain itu juga dititik beratkan pada asa kebersamaan dalam komunitas desa. Pekerjaan sebagai nelayan merupakan pekerjaan yang turun temurun yang mana semua masyarakat nelayan bekerja dengan

cukup berat dan banyak tantangan dari sejak mereka mudah hingga memiliki anak yang menjadi nelayan pula. (Suharto, 2005).

Bagi penduduk yang tinggal di wilayah kepulauan kabupaten pangkep umumnya memiliki mata pencaharian sebagai nelayan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, anak-anak ikut serta untuk membantu pekerjaan orang tua dilaut. Hal tersebutlah yang menjadi pemicu banyaknya anak putus sekolah di wilayah kepulauan. Adapun yang mendasar yang dihadapi masyarakat nelayan ialah kualitas sumber daya manusia (SDM) yang rendah ysng disebabkan pendidikan mereka yang pada umumnya hanya tamat sekolah dasar (SD) bahkan ada yang tidak tamat sekolah dasar. Tingkat pendidikan rendah yang disebabkan oleh faktor ekonomi, kesadaran yang belum memadai serta sulitnya melanjutkan sekolah ke bangku SMP atau SMA karena letak geografisnya.

2. Pandangan Masyarakat Nelayan Terhadap Pendidikan di Pulau Doang-Doangan Caddi

Pandangan masyarakat nelayan mengenai pendidikan juga berpengaruh bagi kehidupan anak. Dimana orang tualah yang dapat memberikan pengetahuan atau pemahaman tentang betapa pentingnya pendidikan. Pendidikan bagi anak yang tinggal di daerah kepulauan pada umumnya memiliki masalah yang sama yaitu tingkat pendidikan yang rendah, kehidupan ekonomi yang kurang memadai. Padahal pendidikan merupakan salah satu kunci utama untuk menciptakan dan

membentuk kualitas manusia yang unggul serta memiliki daya saing yang kuat. Seperti yang diungkapkan bahwa “pada prinsipnya pendidikan harus dinikmati oleh semua warga Negara Indonesia”

(Itasari, 2020).

Sesuai UUD 1945 pasal 31 yang mengatakan bahwa setiap warga Negara berhak mengikuti dan mendapat pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainyasehubungan data PISA yang dikeluarkan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) jumlah angka putus sekolah di Indonesia masih sangat tinggi khususnya pada wilayah pedesaan maupun kepulauan seperti yang terdapat di kepulauan kabupaten pangkep.

Adapun faktor penyebab anak putus sekolah yaitu karena faktor ekonomi, lingkungan, kesadaran orang tua tentang pendidikan dan kurangnya motivasi dari orang tua. Hal inilah yang memicu anak mereka kurang bersemangat untuk bersekolah.

Dari putusnya sekolah anak-anak nelayan ini menimbulkan beberapa dampak di antaranya yaitu dampak posistif dan dampak negatif. Dampak positifnya yaitu membantu orang tua, bekerja sebagai nelayan, dan bagi anak yang taman sekolah menengah pertama dan menengah atas dapat membantu mengajar di sekolah yang notabenenya kekurangan guru. Perlu diketahui bahwa, anak yang putus sekolah di pulau Doang-Doangan Caddi ini tidak seperti pada umumnya yang hanya berdiam diri di rumah, tetapi juga memberikan

manfaat bagi keluarganya sendiri dan bagi masyarakat yang membutuhkan. Contohnya mereka tidak bermalas-malasan di rumah melainkan mereka bekerja sebagai nelayan dan juga ada yang bekerja membantu orang seperti menjual ikan, rata-rata anak putus sekolah sudah bisa membiayai diri mereka sampai sudah mempunyai kendaraan motor hasil keringat mereka sendiri dan ada juga yang membiayai adek mereka yang masih sekolah. (Nasa P Sila, Tokoh Masyarakat, 20 Juli 2013).

Sedangkan dampak negatifnya yaitu seperti minum-minuman keras, berkelahi, berjudi dan mencuri. Melihat keseharian anak-anak di pulau Doang-Doangan Caddi pada dasarnya baik-baik semua, namun memang ada beberapa anak memiliki perilaku menyimpang atau negatif terkhususnya anak putus sekolah ini, tidak bisa kita menyembunyikan kalau memang benar ada yang mengkomsumsi minum keras atau mengisap lem walaupun mereka minum tidak sampai membuat keributan. Ditambah lagi sekarang ada tempat billiard yang menambah perilaku negatif anak-anak yaitu judi di meja billiard. Ketika mereka sudah tidak memiliki lagi uang untuk nongkrong di tempat billiard disitulah muncul inisiatif untuk mencuri.

Dalam situasi yang dirasakan oleh anak nelayan tersebut mau tidak mau harus menerima kebiasaan yang sudah berjalan sejak dulu dimana mereka tidak dapat melanjutkan sekolah dengan berbagai kendala dan meskipun mereka ingin melanjutkan sekolahnya mereka terkendala

pada ekonomi orang tuanya yang tidak dapat membiayai sekolah mereka.

Sesuai realitas atau kenyataan yang ada di pulau Doang-Doangan Caddi bahwa kebanyakan anak nelayan yang usia sekolah tidak melanjutkan sekolahnya ataupun putus sekolah dari pada anak yang melanjutkan sekolah.

Menurut Berger dan Luckmann (dalam Arintowati, 2002; 42), realitas atau kenyataan itu adalah suatu kualitas yang terdapat dalam fenomena-fenomena atau gejala-gejala, yang diakui oleh manusia sebagai memiliki keberadaan (being) dan tidak tergantung oleh manusia itu sendiri.

Pembentukan realitas sosial merupakan suatu proses dialektika dimana manusia bertindak sebagai pencipta, sekaligus sebagai produk dari kehidupan sosial mereka. Proses ini timbul disebabkan konsekuensi dari kemampuan khusus yang dimiliki setiap manusia untuk mengeksternalisasikan dan mengobyektifikasikan makna-makna subyektif, pengalaman-pengalaman dan tindakan-tindakan kedalam dirinya. Manusia melalui tindakan dan interaksinya ini, menciptakan secara terus menerus suatu kenyataan yang dimiliki bersama dan yang dialami secara faktual obyektif serta penuh arti secara subyektif.

a. Masyarakat Sebagai Realitas Obyektif

Berger setuju bahwa masyarakat merupak realitas sosial obyektif (fakta sosial) dalam artian masyarakat merupakan

penjara yang membatasi ruang gerak individu, persoalan sebagaimana masyarakat bersikap obyektif. Pada dasarnya masyarakat tercipta sebagai realitas obyektif karena adanya berbagai individu yang mengekternalisasi (mengungkapkan subyektifitas) masing-masing lewat aktivitasnya internalisasi manusia secara terus menerus. Namun tidak berarti bahwa aktivitas manusia mengalami perubahan manusia cenderung mengulangi aktivitas yang pernah dilakukan atau biasa disebut dengan kebiasaan.

b. Masyarakat Sebagai Realitas Subyektif

Menurut Berger manusia ketika lahir merupakan “tabula rasa”.

Waktu itu masyarakat belum hadir dalam kesadaran manusia jadi, masyarakat belum menjadi milik individu. Modal dasar manusia ketika lahir yaitu kesiapan untuk menerima kehadiran masyarakat dalam kesadarannya (internalisasi berlangsung).

Internalisasi diartikan sebagai proses mencerap dunia yang sudah dihuni oleh sesamanya, internalisasi tidak menghilangkan institusi sosial dan tatanan institusional secara keseluruhan dan persepsi individu berkuasa atas realitas sosial.

Internalisasi hanya menyangkut menerjemahkan atas kesadaran realitas obyektif menajdi realitas subyektif.

Kaitan dengan penelitian yaitu masyarakat memiliki internalisasi tehadap realitas di sekitarnya apabila realitas yang

diberikan obyek berlawanan dengan realitas subyek, maka masyarakat dengan kesadarannya menerjemahkan segala hal yang ada pada realitas di sekitarnya.

Berger dan Luckmann amat mendasarkan diri pada dua gagasan sosiologi pengetahuan, yaitu „realitas‟ dan „pengetahuan‟. Realitas merupakan fakta sosial (dalam pandangan Dukheim) yang bersifat eksternal, general dan memaksa terhadap kesadaran masing-masing individu. Terlepas dari individu itu suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, realitas tetap ada. Sedangkan pengetahuan merupakan realitas yang hadir dalam kesadaran individu (jadi, realitas yang subyektif sifatnya). Pengetahuan adalah kepastian bahwa fenomena- fenomena itu riil dan memiliki karakteristik-karakteristik yang spesifik. (Samuel, 1993; 8).

Antara realitas dan pengetahuan terhadap kaitan yang sangat erat.

Dalam kehidupan masyarakat, seperangkat pengetahuan atau body of knowledged di peroses secara terus menerus dan kemudian ditetapkan sebagai suatu realitas. Realitas sosial terbentuk karena pengaruh dari pengalaman-pengalaman sosial induvidu atau pengalaman intelektualnya pada orientasi terhadap lingkungan sosial tertentu.

Pada daerah-daerah dengan gugus pulau yang luas, setiap kenutuhan dan kendala yang dihadapi masyarakat memerlukan proses identifikasi dan analisis kondisi lingkungan. Permasalahan yang dihadapi masyarakat di wilayah kepulauan ada yang seragam namun

tidak sedikit pula yang sifatnya kasuistik. Diperlukan perhatian khusus pemerintah terhadap pemenuhan sarana dan prasarana umum, jarak antar pulau yang cukup jauh memerlukan sarana transportasi yang memadai termasuk pemberian tunjangan khusus untuk meningkatkan kua litas pendidikan.

Untuk mewujudkan tujuan pendidikan upaya yang harus dilakukan yaitu memerlukan strategi, kebijakan dan sinergitas yang kuat dari semua elemen yang terkait. Salah satu bentuk kebijakan pemerintah dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional adalah Penetapan Standar Pendidikan Nasional (SPN) yang merupakan kriteria minimal dalam pelaksanaan sistem pendidikan nasional yang wajib dipatuhi di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia oleh satuan pendidikan. Semua wujud dari penyelenggaraan pendidikan yang ada di Indonesia harusnya searah dan merujuk pada Standar Pendidikan Nasional (SPN). Sebagai dasar dalam pelaksanaan, perencanaan dan pengawasan pendidikan yang termasuk dalam mewujudkan pendidikan nasional yang bermanfaat yaitu merupakan fungsi utama Standar Pendidikan Nasional (SPN).

Pada dasarnya program perencanaan pendidikan dilakukan untuk meningkatkan efesiensi dan efektifitas dalam pencapai tujuan pendidikan yang baik dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Satuan pendidikan ditekankan dalam penyusunan perencanaan program

berdasarkan standar yang sudah ditetapkan khususnya dalam pengelolaan pendidikan.

68 A. Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan hasil penelitian dan analisisnya mengenai Pola Pikir Masyarakat Nelayan Terhadap Pendidikan di Pulau Doang-Doangan Caddi Kecamatan Liukang Kalmas Kabupaten Pangkep. Peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa:

1. Berdasarkan hasil penelitian di Pulau Doang-Doangan Caddi Kecamatan Liukang Kalmas Kabupaten Pangkep, peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa, pola pikir masyarakat nelayan terhadap pendidikan memiliki pandangan yang berbeda-beda. Ada sebagian masyarakat yang beranggapan bahwa anak-anak mestinya melanjutkan sekolah hingga ke jenjang yang setinggi-tingginya sebab, pendidikanlah yang dapat merubah kehidupan atau masa depan anak menjadi lebih baik. Sedangkan ada pula orang tua yang beranggapan bahwa buat apa sekolah kalau ujung- ujungnya bakal jadi ibu rumah tangga bagi anak perempuan dan akan jadi nelayan bagi anak laki-laki dan adapula yang tidak menyekolahkan anaknya dengan alasan ketidak mampuannya dalam membiayai anaknya.

2. Pandangan masyarakat nelayan terhadap pendidikan yang mana pengetahuan anak-anak mereka tentang pentingnya pendidikan bergantung pada pandangan orang tua mereka maksudnya disini ialah ketika pandangan seorang orang tua kurang tentang pendidikan maka akan berimbas pada pemahaman anak mengenai pentingnya pendidikan.

B. SARAN

Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian tentang pola pikir masyarakat nelayan terhadap pendidikan di pulau Doang-Doangan Caddi, dikemukakan saran sebagai berikut:

1. Kepada pihak pemerintah atau desa harusnya menyediakan wadah atau alat transfortasi/kapal untuk kepentingan sekolah anak-anak sehingga mempermudah bagi mereka untuk melanjutkan sekolah dan dapat mengenyam pendidikan hingga ke jenjang yang lebih baik sebab dengan pendidikanlah yang membuat masa depan anak menjadi sejahtera.

2. Kepada masyarakat atau orang tua untuk memperkenalkan dan mendekatkan pendidikan kepada anak-anak mereka tentang pentingnya pendidikan.

3. Kepada sekolah atau para guru harusnya mereka memberikan pengetahuan yang lebih jelas dan menarik sehingga anak-anak usia sekolah tidak malas dan lebih tertarik untuk pergi sekolah.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Nashih Ulwan. (2001). Kaidah-Kaidah Dasar Pendidikan Anak Menurut Islam. Bandung: Remaja Rosda Karya Pustaka.

Arintowati, Hartono. (2002). Aktivitas Komunikasi dan Pembentukan Realitas Sosial. IU. Jakarta.

Abdulsyani. (2007).Sosiologi Skematis, Teori, dan Terapan. Jakarta: Bina Aksara dan Rineka Cipta.

Adi, W. Gunawan. (2008). The Secret Of Mindset. Jakarta: PT. Gramedia.

Afrizal, (2015). Metode Penelitian Kualitatif: Upuaya Mendukung Penggunaan Penelitian Kualitatif Dalam Berbagai Disiplin Ilmu. Jakarta: Rajawali Pers.

Agustang, Andi. (2011).Filosofi Research (Dalam Upaya Pengembangan Ilmu).

Makassar.

Berger, L. Peter & Luckman, Thomas. (1966). The Social Construction of Really.

Unites States: Anchor Book.

Creswell, John. (2016). Buku Pendekatan Metode Kualitatif, Kuantitatif, dan Campuran.Yogyakarta: Penerbit Puataka Pelajar.

Elih Sudiapermana. (2009). Pendidikan Formal. Jurnal Pendidikan Luar Sekolah 4(2).

Fadillah. (2012). Desain Pembelajaran PAUD. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Goetsch & David. (2002). Menerapkan Manajement Mutu Terpadu. Jakarta: PT.

Gramedia.\

Hadi Sabari, Yunus. (2010). Metodologi Penelitian Wilayah Komputer.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ihsan, Fuad. (2005). Dasar-dasar Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Imron. (2003). Pengembangan Ekonomi Nelayan dan Sistem Sosial Budaya.

Jakarta: PT Penerbit.

Itasari, E. R. (2020). Border Management Between Indonesia And Malaysia In Increasing The Economy In Both border Areas. Jurnal Komunikasi Hukum. (JKH). 6 (1), 219-227.

Junaeda, St. (2014). Menelisik Jejak Pendidikan Di Sulawesi Selatan Dari Sistem Pendidikan Tradisional Hingga Sistem Pendidikan Modern. Jurnal Rihlah.11 (1).

Jamaluddin, Sarpin, Parma. (2018). Perubahan Pola Pikir Masyarakat Nelayan Terhadap Pendidikan. Jurnal Neo Societal. 3 (2).

Kadriani, La Harudu. (2017). Persepsi Masyarakat Nelayan Tentang Pentingnya Pendidikan Formal. Jurnal Penelitian Pendidikan Geografi.

Khumairah, Mansyur. (2019). Jurnal Pemikiran dan Pengembangan Pembelajaran 1(2), 1-14.

Kusnadi. (2007). Strategi Hidup Masyarakat Nelayan. Yogyakarta: Lkis.

Linton, Ralph. (2002). Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial (Hubungan Patron-Klien Nelayan Desa).

Moleong, J. Lexy. (2005). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung:

Rosdakarya.

Moses, Melmambessy. (2012). Analisis Pengaruh Pendidikan, Pelatihan dan Pengalaman Kerja Terhadap Produktivitas Kerja Pegawai Dinas Pertambangan DAN Energy Provinsi Papua. Media Bisnis dan Manajement. Vol. 12 No. 1

Musyafa. (2015). Sang Guru Novel Biografi Ki Hadjar Dewantara Kehidupan, Pemikiran, dan Perjuangan Pendiri Taman Siswa (1889-1959). Jakarta:

Imania.

Nawawi, Hadari. (2012). Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Nilawati & Wardhani. (2013). Jurnal Hubungan Orang Antara Persepsi Dengan Sikap Orang Tua Terhadap PAUD. Padang: Universitas Negeri Padang.

Siregar.N.S.S. (2016). Tingkat Kesadaran Masyarakat Nelayan Terhadap Pentingnya Pendidikan Anak, Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Sosial Politik UMA. 4(1), 1-10.

Samuel, Sanneman. (1993). Perspektif Sosiologis Peter Berger. IU. Jakarta.

Soekanto, Soerjono. (2002). Buku Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Persada.

Soemardjan, Selo. (2001). Perubahan Sosial di Yogyakarta. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Suharto. (2005). Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat. Bandung:

Refika Aditama.

Suryadi, Israwati. (2011). Peran Media Massa Dalam Membentuk R ealitas Sosial. Jurnal ACAMEDICA Fisip Untad. 03.

Sugihartono. (2013). Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.

Sugiono. (2010). Metode Penelitian Kauntitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:

ALFABETA.

Sukmadinata. (2013). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Sularto. (2016). Inspirasi Kebangsaan Dari Ruang Kelas. Jakarta: Kompas.

Suryadi dan Maulidya. (2013). Konsep Dasar PAUD. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Triwiyanto, Teguh. (2014). Buku Pengantar Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Widodo, J dan Swadi. (2006). Pengelolaan Sumber Daya Perikanan Laut.

Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

LAMPIRAN

No. Hari/Tanggal Kegiatan Yng Diamati Hasil Pengamatan 1. 03/10/2020 Letak geografis Pulau

Doang-Doangan Caddi/

Desa Kanyurang dan masyarakatnya

letak pulau Doang- Doangan Caddi berjarak sekitar 16 jam dari kota Makassar

2. 04/10/ 2020 Fasilitas sarana dan prasarana untuk penyebrangan antar pulau ke kota

Untuk fasilitan kapal penumpangan milik orang lain cukup memadai sedangkan untuk kapal khusus untuk anak sekolah belum ada hingga saat ini

3. 05/10/2020 Harga sewa kapal dari pulau ke kota Makassar

Harga sewa kapal dari pulau ke kota Makassar dari dulu sampai sekarang gratis hanya saja jarak yang menjadi keluhan

4. 06/10/2020 Tanggapan masyarakat nelayan terhadap pendidikan yang ada di pulau Doang-Doangan Caddi

Tanggapan masyarakat nelayan terhadap pendidikan yang ada di pulau masih sebagian orang yang belum sadar akan pentingnya pendidikan bagi anak 5. 07/10/2020 Dampak yang di

timbulkan dari putusnya sekolah anak-anak nelayan

Dampak yang

ditimbulkan dari putusnya sekolah anak- anak mereka yaitu dampak positif dan dampak negatif

Doangan Caddi yaitu sekolah SD dan sekolah SMP satap 7. 09/10/2020 Guru atau pendidik di

sekolah yang ada di pulau Doang-Doan

gan Caddi

Guru atau pendidik yang ada di sekolah yang ada di pulau Doang-Doangan Caddi belum memadai.

No. Pedoman Wawancara Pertanyaan 1. Pola Pikir Masyarakat

Nelayan Terhadap

Pendidikan di Pulau Doang- Doangan Caddi

1) Bagaimana pendapat anda tentang pentingnya

pendidikan?

2) Menurut anda apakah pendidikan penting bagi masa depan anak!

Alasannya?

3) Apakah ada faktor yang melatar belakangi sehingga anak anda putus sekolah?

4) Bagaimana kesadaran masyarakat nelayan tentang pentingnya pendidikan?

5) apakah ada faktor yang ditimbulkan dari putusnya sekolah anak anda?

2. Pola pikir anak nelayan terhadap pentingnya pendidikan

1) Apa yang melatar belakangi sehingga anda tidak lanjut sekolah?

2) Apakah penting bagi anda untuk sekolah! Alasannya?

3) bagaimana pendapat anda tentang pentingnya

3. Tanggapan Kepala Dusun terhadap pentingnya

pendidikan di pulau Doang- Doangan Caddi

1) Bagaimana upaya masyarakat nelayan terhadap pendidikan yang kurang memadai di pulau Doang-Doangan Caddi?

2) Apakah ada hambatan bagi masyarakat nelayan dalam menyekolahkan anaknya?

3) Upaya apakah yang

dilakukan dalam mengatasi hambatan tersebut?

4) Apa manfaat yang diperoleh masyarakat nelayan terhadap

pendidikan yang memadai di pulau Doang-Doangan Caddi?

Hasil Wawancara

B. Hasil Wawancara

1. Bagaimana pendapat anda tentang pentingnya pendidikan?

Supaya kita bisa pintar

2. Menurut anda apakah pendidikan penting bagi masa depan anak!

Alasannya?

Itu pendidikan sangat penting dimana cukup kita orang tuanya yang bodoh, anak jangan.

3. Apakah ada faktor yang melatar belakangi sehingga anak anda putus sekolah?

tidak ada uang dalam artian tidak mampu untuk membiayan anak- anak sehingga mereka putus sekolah.

4. Bagaimana pandangan masyarakat nelayan tentang pentingnya pendidikan?

kita sebagai orang tua tau bahwa pendidikan itu sangat penting cuman karena tidak mampu membiayai sehingga anak putus sekolah.

5. Apakah ada dampak yang ditimbulkan dari putusnya sekolah anak anda?

Ada, yaitu bagi anak perempuan dia bisa mengerjakan pekerjaan yang ada di rumah dan anak laki-laki bisa membantu bapaknya bekerja jadi nelayan. Sedangkan dampak negatifnya cara berpikir mereka berbeda dengan cara berpikirnya anak yang seusianya yang melanjutkan sekolahnya , mereka lebih dominan mengambil keputusan tanpa berpikir sebelumnya.

Hasil Wawancara

Nama: Ismail Pekerjaan: Nelayan B. Hasil Wawancara

1. Bagaimana pendapat anda tentang pentingnya pendidikan?

Pendidikan….kalau tidak ada pendidikan orang akan gampang dibodoh bodoh.

2. Menurut anda apakah pendidikan penting bagi masa depan?

Pendidikan sangat penting bagi masa depan anak karena pendidikan yang bisa membuat masa depan anak menjadi sejahtera dan menjadi lebih baik.

3. Apakah ada faktor yang melatar belakangi sehingga anak anda putus sekolah?

Adapun fakator sehingga anak saya tidak lanjut selain faktor ekonomi juga dari kemauan anakn itu sendiri.

4. Bagaiman pandangan masyarakat nelayan tentang pentingnya pendididkan?

Pendidikan itu sangat penting untuk masa depan anak tapi tidak mampu untuk membiayai anak saya untuk melanjut sekolah.

5. Apakah ada dampak yang ditimbulkan dari putusnya sekolah anak anda?

Ada, yaitu dampak positifnya anak kami bisa mengerjakan pekerjaan kami dan bisa membantu bapaknya bekerja dilaut, sedangkan dampak negatifnya mereka tidak dapat mengenyam pndidikan hingga ke jenjang yang lebih tinggi.

Hasil Wawancara

B. Hasil Wawancara

1. Bagaimana pendapat anda tentang pentingnya pendidikan?

Pendidikan itu penting untuk membuat kita pintar

2. Menurut anda apakah pendidikan penting bagi masa depan anak!

Alasannya?

Pendidikan sangat penting untuk masa depan anak karena pendidikanlah yang bisa membuat masa depan anak menjadi sejahtera tidak seperti kita orang tuanya

3. Apakah ada faktor yang melatar belakangi sehingga anak anda tidak lanjut sekolah?

Adapun faktor yangmembuat anak saya tidak lanjut sekolah yaitu karena anak saya hanya satu dan saya tidak ingin anak saya jauh-jauh dari saya dan itulah alasan saya tidak menyekolahkan anak saya ke sekolah SMA karena saya tidak ingin anak saya merantau dan jauh dari saya

4. Bagaimana pandangan masyarakat nelayan tentang pentingnya pendidikan?

Itu pendidikan sangat penting tapi lagi-lagi saya tidak menyekolahkan anak saya karena tidak ingin jauh-jauh darinya.

5. Apakah ada dampak yang ditimbulkan dari putusnya sekolah anak anda?

Ada, yaitu dampak posisitifnya anak kami bisa membantu kami orang tuanya untuk bekerja di rumah atau di laut, sedangkan dampak negatifnya mereka harus kehilangan kepercayaan dirinya karena memiliki ilmu yang terbatas dan tidak percaya diri untuk bergabung dengan anak-anak yang lanjut sekolah.

Hasil Wawancara

Dokumen terkait