• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

B. Pembahasan

Interferensi bahasa Bugis terhadap bahasa Indonesia yang terjadi pada masyarakat di Kabupaten Soppeng bukan merupakan hal yang sengaja dilakukan. Terjadinya interferensi disebabkan karena penguasaan bahasa Bugis masyarakat lebih tinggi dibanding dengan kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Dalam masyarakat dwibahasawan terjadinya interferensi sangat sulit untuk dihindari.

Percampuran bahasa antara bahasa Bugis dan dan bahasa Indonesia kadang dianggap sebagai hal yang wajar dan hal yang benar. Dikatakan demikian karena berdasarkan pemantauan dilapangan pada saat observasi dan proses pengambilan data banyak yang secara fasih menggunakan bahasa Indonesia terutama di lingkungan formal tetapi

“partikel bahasa Bugis” tetap disisipkan dengan anggapan bahwa bahasa Indonesia yang dituturkan sudah benar.

Terjadinya interferensi di masyarakat berawal dari kebiasaan di lingkungan sehari – hari yang dilakukan secara terus. Kebiasaan

menggunakan bahasa Bugis pada percakapan sehari – hari merupakan hal wajar karena pada dasarnya B1 masyarakat kabupaten Soppeng adalah bahasa Bugis. Namun hal ini tidak boleh dibiarkan karena akan menimbulkan kekacauan struktur bahasa baik dari bahasa Bugis maupun bahasa Indonesia.

Dari hal ini dapat diketahui bahwa awal dari terjadinya intereferensi bahasa adalah pondasi pemakaian bahasa yang lemah. Dalam artian pada saat proses pembelajaran B2 yang diterima masyarakat baik dari lingkungan formal maupun informal sebenarnya telah terjadi kesalahan berbahasa yang tidak disadari oleh pelaku bahasa. Misalnya dari lingkungan pertama pembelajaran B2 yaitu sekolah terkadang guru – guru di sekolah menggunakan bahasa Indonesia berkomunikasi tetapi bahasa Indonesia yang disisipi engklitik bahasa Bugis dengan dalih supaya siswa lebih mudah paham. Dapat diketahui bahwa pengajaran bahasa melahirkan pemerolehan bahasa. Hal ini berkaitan erat dengan antara bidang pengajaran bahasa dan pemerolehan bahasa. Jalur pemerolehan bahasa ada yang melalui jalur formal ada pula informal (Junus & Junus, 2020).

Kesalahan berbahasa yang terjadi dari masyarakat merupakan perkara yang sulit untuk dihindarkan dan tidak ada satupun pihak yang dapat disalahkan dari terjadinya hal tersebut. Meskipun awal terjadinya interferensi itu berada pada masyarakat dwibahasawan tapi masyarakat juga dituntuntut untuk memamahami dan menggunakan dua bahasa yaitu

di dunia internasional dan mengikuti perkembangan global.

Hal ini merupakan slogan balai bahasa yang selalu digaung – gaungkan yaitu “utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing.” Jika mengacu pada slogan tersebut maka penggunaan dwibahasa harus tetap dilakukan agar bahasa daerah tetap lestari. Namun yang menjadi pokok permasalah dari slogan tersebut adalah masyarakat pengguna bahasa yang tidak mampu menggunakan bahasa daerah pada tempatnya dengan baik dan bahasa Indonesia dengan baik, malah mencampur penggunaan keduanya.

Dari penjelasan di atas dan dengan fakta yang ditemukan di lapangan, dapat dikatakan bahwa interferensi antara bahasa Bugis dengan bahasa Indonesia masih banyak terjadi. Ada banyak bentuk interferensi ditemukan. Terjadinya intereferensi bahasa pun terjadi pada semua kalangan, baik dari kalangan anak – anak, remaja, dan orang dewasa di lingkungan formal maupun informal.

Interferensi yang ditemukan pada masyarakat diataranya ada interferensi fonologi pada kajian fonemik yaitu ditemukannya ada tambahan – tambahan fonem pada suatu kata yang sebenarnya di dalam bahasa Indonesia fonem tersebut tidak ada. Misalnya penambahan fonem [g], [e], dan [i] fonem – fonem ini sering sekali ditambahkan pada

kosakata bahasa Indonesia yang membuat bunyi kata tersebut berubah.

Selain penambahan fonem juga ditemukan pengurang fonem seperti hilangnya fonem [h], [p], [k], dan [t] penghilangan fonem juga berakibat berubahnya bunyi bahasa dan terkadang membuat maknya pun ikut berubah. Terakhir perubahan fonem juga ditemukan yaitu berubahnya fonem[t] menjadi fonem[nd].

Sebenarrnya proses perubahan fonem ini dari bahas Indonesi yang bentuk juga tidak baku yaitu seperti kata “ngak” kemudian menjad “nda”

karena terinterefernsi oleh bahasa bugis. Dari kajia fonologi terjadinya intereferensi menyebabkan membuat bunyi bahasa kata jika diragkai menjadi kalimat dalam bahasa Indonesia menjadi tidak baku dan terkadang dapat berbeda makna karena perubahan – perubahan yang terjadi secara fonemik.

Selain penambahan fonem, pengurangan fonem dan perubahan fonem pada kajian fonologi juga ditemukan perubahahan bunyi.

Perubahan bunyi yang ditemukan diantara bunyi [f] berubah menjadi bunyi [p] dan bunyi [v] berubah menjadi bunyi [p]. Perubahan bunyi tersebut disebabkan pada aksara lontara bahasa Bugis tidak dikenal bunyi [f] dan [v] hanya bunyi [p]. Dari dasar hal tersebutlah didasari ditemukannya ada masyarakat Bugis di Kabupaten Soppeng yang menyamaratakan bunyi tersebut menjadi bunyi [p].

Selain dari interferensi fonologi, juga ditemukan interferensi morfologi yaitu pada proses afikasi. Dalam hal ini ditemukannya prefiks dan sufiks

kebanyakan masyarakat menggunakannya dengan kosakata bahasa Indonesia seperti pada kata papel, mafoto, taggantung. Jika dilahat dari kata yang diikuti selain sebagai bentuk penegasa prefiks tersebut juga berfungsi sebagai bentuk melakukan pekerjan dapata penegasan terhadap kata kerja.

Sedangakan sufiks yang diserap dari bahasa Bugis ada sufiks (-ki), (- mi) dan (-ji). Salah satu contoh sufiks (ki) yaitu pada kata masukki. Dari kata tersebut dapat dilihat bahwa fungsi sufiksi (-ki) disini adalah suatu bentuk pengucapan untuk melambangkan kesopanan. Sufiks tersebut merupakan sufiks bahasa Bugis yang dimana masyarakat menggunakannya di dalam bahasa Indonesia. Selain sufiks (-ki) ditemukan juga sufiksi (-mi) dan (-ji) seperti pada kata biarmidan cocokji kedua kada tersebut merupakan akhiran bahasa Bugis yang sering disambungkan mengikuti morfem bahasa Indonesia. Kedua akhiran ini juga berfungsi sebagai penegasa dan memang menjadi ciri khas masyarakat Bugis karena sangat sering digunakan dalam apabilah berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesi.

Dengan penggunaan afiks tersebut jelas membuat struktur bahasa dalam kalimat bahasa Indonesia menjadi berubah. Begitupun ditinjau dari segi makna juga akan mengalami perubahan. Adanya afiks yang

mengikuti selain dari afiks bahasa Indonesia jelas berdampak dengan berubahnya kaidah kebahasaan bahasa Indonesia dari kata baku menjadi tidak baku karena pengaruh dari afiks tersebut.

Interensi yang lain yang ditemukan ada pada kajian leksikal. Kajian leksikal merupakan salah satu yang paling menampakkan bentuk interferensi. Dikatakan demikian karena masyarkat terkadang dalam kondisi sadar maupun tidak sadar mereka kadang memasukkan kosakata bahasa Bugis kedalam percakapannya yang menggunakan bahasa Indonesia.

Terbawanya kebiasaan penggunaan bahasa pertama terhadap bahasa kedua merupakan alasan paling utama masyarakat dalam terbentuknya interferensi. Faktor keakraban dan kekeluargaan serta tidak adanya aturan mengenai penggunaan bahasa merupakan dasar terbentuknya interferensi leksikal. Tidak mempedulikan kaidah bahasa dengan dasar sesam penutur saling memahami dan pesan dapat tersempaikan membuat para penguna bahasa sangat mudah menggabungkan dua bahasa atau mencampurkan dua kosakata dalam berkomunikasi yang menyebabkan terjadinya interferensi leksikal.

Penggunaan sistem bahasa tertentu atau bahasa lainnya disebut transfer atau pemindahan sistem fonologi, morfologi dan leksikal. Transfer yang bersifat membantu karena kesamaan atau kesejajaran tersebut disebut transfer positif. Sebaliknya, jika transfer itu bersifat mengacaukan

informal. Hanya saja jika berada di lingkungan formal tingkat interferensi bahasa khususnya bahasa Bugis ke Indonesia masih bisa diminimalisir dalam artian masih sedikit karena adanya aturan yang mengharuskan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dalam berkomunikasi.

Aturan tersebut membuat para pengguna bahasa cukup berhati – hati dan berusaha menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, meskipun terkadang masih ditemukan sebahagian yang refleks menggunakan bahasa Bugis atau konjungsi – konjungsi bahasa Bugi dalam berkomunikasi.

Berbeda dengan lingkungan formal di lingkungan informal tingkat interferensi bahasa cukup tinggi dan bervariasi karena memang tidak aturan yang mengikat yang mengharuskan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Terlebih apabilah masyarakat tersebut jarang berada pada ruang formal maka kebiasaan menggunakan bahasa Bugis masih sangat kental.

Lingkungan informal merupakan lingkungan tempat berkembanganya bahasa pertama tetapi tidak dipungkiri telah banyak yang berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia karena tetapi kembali lagi bahasa Indonesia yang digunakan adalah bahasa Indonesia yang sangat banyak mengalami interferensi bahasa.

Interferensi menimbulkan kesalahan berbahasa atau dengan kata lain kesalahan berbahasa adalah produksi interferensi. Kesalahan berbahasa yang digunakan oleh pengguna bahasa harus diperbaiki. Penemuan kesalahan berbahasa ini merupakan umpan balik sebagai usaha penyempurnaan bahasa Indonesia. Berdasarkan data yang diperoleh di lapangan pada penelitian ini apabila dibandingkan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Perawati dengan judul “interferensi bahasa Bugis dialek Wajo terhadap penggunaan bahasa lisan di Desa Toru’e Kecamatan Parigi Muotong” memperoleh kesimpulan bahwa interferensi bahasa Bugis dialek Wajo terhadap penggunaan bahasa Indonesia lisan di Desa Toru’e Kecamatan Parigi Muotong meliputi tataran fonologi, morfologi, dan sintaksis, sedangkang pada penelitian ini interferensi yang ditemukan meliputi fonologi, morfologi dan leksikal. Dari segi fonologi penelitian sebelumnya ditemukan adanya penghilangan fonem dan penggantian fonem, sedangkan pada penelitian ini yang ditemukan selaian penghilangan fonem juga didapat penambahan fonem, perubahan, serta perubahan bunyi.

Dari segi kajian morfologi antara penelitian terdahulu dengan penelitian yang ini terdapat perbedaan, yaitu penelitian sebelumnya hanya menemukan adanya perubahan bentuk afiks seperti afiksi (di-) diubah menjadi (na-) afik (pe-) diubah menjadi (pa) sedangkan pada penelitian ini pada kajian morfologi, yang ditemukan adalah afiks dan prefiks bahasa

antara penelitian sebelumnya dengan penelitian yang ini yaitu satu membahas tentang kajian sintaksis satu membahas tentang kajian leksikal. Terlebih penelitian ini juga membandingkan antara interferensi yang terjadi di lingkungan formal dan yang terjadi di lingkungan informal.

Selain yang dilakukan oleh Perawati penelitian tentang interferensi bahasa Bugis juga pernah dilakukan oleh Muh Taufiq dan Muh Jumardi Nurali dengan judul “Pengaruh Interferensi Bahasa Bugis Terhadap Morfologi Bahasa Indonesia di Dusun Polewali Desa Pasa Kecamatan Sibulue Kabupaten Bone”. Hasil penelitian ini memiliki perbedaan dari hasil penelitian sebelumnya meskipun sama mengkaji interferensi bahasa Bugis terhadap Bahasa Indonesia. Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Muh Taufiq dan Muh Jumardi Nurali fokus penelitian hanya berfokus pada kajian morfologi tetapi mendapatkan data yang berfariasi mulai dari afiksasi, reduplikasi dan pemajemukan. Dari hasil penelitian yang diuraikan tingkat interferensi bahasa Bugis terhadap bahasa Indonesia pada kajian cukup tinggi dibandingkan pada penelitian yang dilakukan sekarang yang dilakukan di masyarakat kabupaten Soppeng karena pada kajian morfologi hanya ditemukan pada proses afiksasi yaitu adanya sufiksi dan konfiks bahasa Bugis yang mengikuti morfem bahasa Indonesia.

Munirah (2021) mengemukakan bahwa penutur menyeseuaikan dengan siapa yang diajak bicara, lawan tutur pada suatu komunikasi akan berpengaru pada bahasa yang digunakan. Tentu ada perbedaan bahasa yang digunakan antara yang akrab dengan yang tidak akrab (Munirah, 2021). Atas dasar hal tersebut membuat intereferensi dapat dikecualikan, dalam artian terjadinya interferensi memang sebuah kesalahan dalam berbahasa tapi dari hal itu perlu diketahui apa faktor yang menyebabkan terjadinya interferensi tersebut.

Hal itu didasari salah satunya dari adanya keakraban atau saling mempengaruhi antara lawan bicara. Misalnya pada bidang fonologi salah satunya ditemukannya perubahan bunyi fonem. Tidak dapat dipungkiri bahwa hal ini terjadi karena adanya proses saling mempengaruhi sesama penutur di masyarakat membuat perubahan-perubahan bunyi bahasa menjadi hal wajar dan dibenarkan. Bukan merupakan hal yang benar tapi merupakan hal yang dibenarkan, karena pada dasaranya hal tersebut merupakan kesalahan tapi karena sering terjadi berulang kali dan sudah familiar di telinga pendengar maka kesalahan tersebut serasa menjadi benar.

Begitu pula pada bidang morfologi, dan leksikal semua kesalahan akan dipaksa menjadi sebuah kebenaran karena didasari pada teori keakraban seperti yang telah dikemukakan oleh Munirah bahwa ada perbedaan bahasa yang terjadi antara yang akrab dengan yang tidak akrab (Munirah, 2021). Dari adanya perbedaan bahasa tersebut anatar

penulis. Tingkat intereferensi di lingkungan formal lebih sedikit dibandingkan dengan lingkungan informal. Dari hal itulah diketahui bahwa keakraban antara penutur mempengaruhi terciptanya interferensi bahasa, di lingkungan formal interferensi sedikit karena sesama penutur kurang akrab atau segan sedangkan di lingkungan informal interferensi lebih banyak karena sesama penutur sangat akrab berkomunikasi setiap hari, becanda setiap hari jadi apabila ada kesalahan dalam berkomunikasi dianggap hal yang wajar begitupula dengan penutur tidak ada rasa malu ketika terjadi kesalahan dalam berkomunikasi.

Menambahkan awalan atau akhiran bahasa Bugis kedalam bahasa Indonesia, mencampurkan penggunaan kosakata bahasa Bugis ke Bahasa Indonesia pada lingkungan informal merupakan hal yang begitu wajar, tidak ada hal yang salah dari kejadian tersebut. Kejadian tersebut bukan merupakan hal yang tabuh dan merupakan hal yang biasa saja karena pada dasarnya di lingkungan informal tidak ada aturan yang mengatur tentang tata cara berbahasa, jadi proses berbahasa dan bahasa-bahasa yang muncul di lingkungan formal merupakan hal yang alamiah. Mereka mendengar ada yang menggunakan bahasa Indonesia dan memahami artinya mereka ikut menggunakan meskipun terkadang artinyapun masih samar-samar dalam artian artinya belum jelas apakah

memang sudah benar atau tidak, tetapi tidak ada yang terlalu mempermasalahkan hal demikian jadi kesalahan-kesalahan yang awalnya kecil lalu menjadi kebiasaan dan menyebar membuat hal itu menjadi lumrah. Seperti akhiran (-mi), (-ji) yang awalnya hanya satu dua orang yang menggunakan akahinya banyak dan menjadi wajar bagi kalangan masyarakat Bugis, karena apa? Karena kebiasaan dan keakraban.

Apabilah penutur akrab dengan lawan bicara maka kesalahan kecil tidak akan ditegur apalagi di lingkungan informal.

Salah satu tempat yang dapat digunakan untuk menekan agar tidak semakin banyak interferensi bahasa khususnya bahasa Bugis ke bahasa Indonesia yaitu di lingkungan formal. Lingkungan formal berbeda dengan lingkungan informal, lingkungan formal memiliki aturan salah satunya menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Walapuan ada aturan tetapi tidak dipungkiri di lingkungan formal juga masih ditemukan interfrensi bahasa Bugis ke bahasa Indonesia khususnya di kabupaten Soppeng. Adanya aturan yang terjadi di dalam lingkungan formal cukup dapat menekan tingkat interferensi karena pertama sesama penutur di lingkungan formal tidak semuanya memiliki keakraban yang dekat sehingga dalam berkomunikasi penutur masih berusaha memperbaiki cara berbicara agar tidak terjadi kesalahan karena adanya rasa malu apabila asal-asalan dalam berbicara.

Rasa malau, adanya aturan dan kurangnya keakraban dapat menekan interferensi berbahasa tetapi faktor kebiasaan dari lingkungan formal atau

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan penulis dilihat bahwa interferensi terjadi pada beberapa kajian dibidang linguistik yaitu, fonologi, morfologi, dan leksikal. Terkhusus pada kajian fonologi jika dibandingkan dengan beberapa temuan pada penelitian sebelumnya salah satunya yang dilakukan oleh Munira (2021) ditemukan gejala bahasa yang baru yaitu ditemukannya fonem [nd] akibat dari proses perubahan fonem, yang sebelumnya belum ditemukan. Adanya perubahan bunyi [f] menjadi [p], bunyi[v] menjadi [p], perubahan bunyi fonem tersebut salah satu hal yang baru ditemukan pada kajian interfrensi bahasa. Jika dibandingkan dengan temuan sebelumnya perubahan bunyi yang ditemukan hanya bunyi[e]yang diubah menjdi bunyi[ẻ].

Berdasarkan hasil penelitian yang ditemukan dilapangan tentang interfrensi bahasa khususnya bahasa Bugis terhadap bahasa Indonesia sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Weinreich (1953) yang menyebut adanya perubahan sistem suatu bahasa sehubungan dengan adanya persentuhan bahasa tersebut dengan unsur-unsur bahasa lainnya yang dilakukan oleh penetur bilingual. Dilihat dari temuan pada kajian fonologi, morfologi, dan leksikal hasil dari interfrensi bahasa Bugis ke bahasa Indonesia banyak menghasil tambahan fonem dan afiks serta kosakata baru yang tidak ada dalam tataran kebahasaan bahasa

Indonesia. Hal ini terjadi dikarenakan sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Weinreich (1953) bahwa adanya perubahan sistem suatu bahasa dipengaruhi oleh persentuhan bahasa dengan unsur-unsur lainnya.

Pandangan Weinreich (1953) tentang asal usul terjadinya interfrensi sejalan dengan proses dilapangan. Interfrensi sebagai suatu gejala kebahasaan akan tetap ada seiring dengan perkembangan zaman kemungkinan kedepannya yang mempengaruhi adalah B3 ke B2 atau B2 ke B1 karena adanya era yang berkemajuan sehingga posisi bahasa asing dan bahasa nasional semakin kuat dapat menggerus posisi bahasa ibu atau bahasa daerah.

Interfrensi adalah suatu gejalah bahasa pada bidang sosiolinguistik, bukan sebuah kesalahan berbahasa. Interfrensi bahasa tetap akan ditemui pada proses kebahasaan dikarenakan adanya tuntutan untuk menggunakan bahasa lebih dari satu yaitu tidak meninggalkan bahasa daerah, menggunakan bahasa nasional dan memahami bahasa asing.

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasa disimpulkan bahwa interferensi bahasa Bugis terhadap bahasa Indonesia pada masyarakat Bugis di Kabupaten Soppeng ada tiga, yaitu interefernsi fonologi, morfologi, dan leksikal. Interferensi dalam kajian fonologi meliputi penghilangan fonem yaitu hilangnya fonem /h/, /k/, dan /t/. perubahan fonem berupa berubahnya fonem /t/ menjadi fonem /nd/ penambahan fonem yang mengikuti pelafalan dalam bahasa Bugis seperti ditambhkannya fonem /g/, /e/ dan /g/. Selain penghilangan fonem, perubahan fonem dan penambahan fonem juga terdapat perubahan bunyi yaitu berubahnya bunyi [f] menjadi [p] dan [v] menjadi [p].

Interferensi dalam kajian morfologi ditemukan pada proses afiksasi berupa prefiks dan sufiks. Prefiks dan sufiks yang ditemukan yaitu prefiksi (ma-), (pa-) dan (ta-) sedangkan sufiksi yaitu (-mi), (-ji), dan (-ki) yang ada pada bahasa Bugis diterapakan pada kosakata bahasa bahasa Indonesia yang penyebabkan struktur kata jadi berubah. Interferensi pada kajian leksikal adalah dengan terjadinya penyerapan kosakata bahasa Bugis ke dalam bahasa Indonesia. Interferensi demikian berakibat berubahnya stuktur kalimat dalam bahasa Indonesia.

Berdasarkan lingkungan informal dan formal ditemukan perbedaan interferensi antara dua lingkungan tersebut. Pada lingkungan formal interferensi bahasa Bugis terhadap bahasa Indonesia lebih sedikit dibandingkan dengan di lingkungan informal lebih banyak dan bervariasi.

B. Saran

Berdasarkan hasil temuan pada penelitian tentang intereferensi bahasa Bugis terhadapa bahasa Indonesia pada masyarakat Bugis Kabupaten Soppeng maka ada hal yang perlu disarankan antara lain; (1) penulis mengharap kepada semua pihak penutur bahasa Bugis maupun bahasa daerah lain agar memperhatikan kaidah kebahasaan dalam berkomunikasi terutama di lingkungan formal; (2) Bahasa Bugis yang merupakan bahasa asli masyarakat Kabupaten Soppeng memiliki banyak polemik yang harus dikaji. Diantaranya adalah kesalahan berbahasa dan pemertahanan bahasa Bugis, maka penelitian ini wajib dilakukan secara berkesinambungan agar masalah – masalah tersebut dapat diselesaikan;

(3) Kepada instansi pemerintahan atau pihak – pihak yang berada di lingkungan formal agar sekiranya terbiasa menggunakan bahasa Indonesia yang baik sesuai dengan kaidah kebahasaan bahasa Indonesia; (4) Bagi peneliti selanjutnya yang akan meneliti tentang interferensi bahasa khususnya bahasa Bugis terhadap bahasa Indonesia selain mengkaji tentang struktur juga dapat melihat tentang faktor yang mempengaruhi terjadinya interferensi bahasa dan membandingkan antara pengaruh bahasa daerah dan bahasa asing terhadap struktur dan kaidah

bahasa Indonesia; (5) Sebagaia kelanjutan dari penelitian ini diharapkan kepada peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian pada kajian fonologi, morfologi, dan leksikal agar dapat menambah penemuan- penemuan tentang interfrensi bahasa misalnya pada kajian morfologi terdapat temuan yang baru tentang interfrensi pada proses reduplikasi yang pada penelitian ini belum ditemukan.

DAFTAR PUSTAKA

Alwasilah, C. (1985).Sosiologi Bahasa. Bandung: Angkasa.

Chaer, A. (2008).Morfologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Chaer, A. (2009).Fonologi Bahasa Indonesia (1 ed.). Jakarta: Rineka Cipta.

Chaer, A. (2012).Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Chaer, A., & Leoni, A. (2004).Sosiolinguistik Perkenalan Awal (II).

Jakarta.

Damayanti, R., Saleh, M., & Usman. (2020). Interferensi Morfologi Bahasa Indonesia Dalam Menulis Teks Narasi Bahasa Bugis. Panrita: Jurnal Bahasa dan Sastra Daerah,1(2), 57–64.

Huri, D. (2014). Issn 2338-2996.PENGUASAAN KOSAKATA KEDWIBAHASAAN ANTARA BAHASA SUNDA DAN BAHASA INDONESIA PADA ANAK-ANAK (SEBUAH ANALISIS DESKRIPTIF- KOMPARATIF),2(November), 59–77.

Junus, A. M., & Junus, A. F. (2020). Anaslisi Kesalahan Berbahasa.

Makassar: Badan Penerbit UNM.

Kridalaksana, H. (2007).Pembentukan Kata Dalam Bahasa Indonesia.

Jakarta: Grmaedia Pustaka Utama.

Kridalaksana, H. (2011).Kamus Linguistik (Keempat). Jakarta: PT Ikrarr Mandiri Abadi.

Malabar, S. (2015).Sosiolinguistik. (M. Mirnawati, Ed.). Gorontalo: Ideas Publisihing.

Munirah, D. (2021). Interferensi Fonologis Bahasa Daerah terhadap Bahasa Indonesia ( Studi pada Mahasiswa Penutur Bahasa Bima di Universitas Muhammadiyah Makassar ). Nomor, Volume Page, September Thaba, Aziz Yusuf, Akram Budiman Anjani, Hajarulhuda Dewi Karim, Abdul,6(September), 82–88.

Naban, P. W. . (1991).Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta:

Gramedia Pustaka Utama.

Poerba, A. (2013). Peranan Lingkungan Bahasa dalam Pemerolehan Bahasa Kedua.Pena,3.

Sekartaji, N. D. (2013). Interferensi Bahasa Indonesia Dalam Bahasa Jawa Pada Album Campursari Tresna Kutha Bayu, 149.

Sianturi, D. (2021). UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Poliklinik

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA. Jurnal Pembangunan Wilayah &

Kota,1(3), 82–91.

Sudaryanto, D. . (2015).Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa.

Yogyakarta: Sanata Dharma University Press.

Sugiyono. (2015).Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Sugono, D., & Dkk. (2008).Kamus Besar Bahasa Indonesia (Keempat).

Jakarta: PT Gramedia.

Sukirman. (2021). Beberapa Aspek dalam Kedwibahasaan (Suatu Tinjaun Sosiolinguistik).Jurnal Konsepsi, 9(4), 191–197. Diambil dari

https://p3i.my.id/index.php/konsepsi

Taufiq, A. M., & Nurali, M. J. (2021). Pengaruh Interferensi Bahasa Bugis Bone Terhadap Morfologi Bahasa Indonesia Di Dusun Polewali Desa Pasaka Kecamatan Sibulue Kabupaten Bone. Jurnal Ilmiah Mandala Education,7(4), 108–118. https://doi.org/10.36312/jime.v7i4.2379

Dokumen terkait