• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

4. Peyorasi

Peyorasi adalah suatu proses pergeseran makna kata menjadi lebih jelek atau lebih rendah daripada makna semula. Artinya pergeseran makna yang sekarang lebih rendah, kurang baik, kurang hormat, daripada makna dahulu. Peyorasi dapat dilihat dari data berikut :

a. Mayat supir petepete di Kabupaten Gowa yang ditemukan meninggal di atas mobil angkutannya diangkut mobil ambulans. (TT, 20 Juli 2016:15)

b. Kami berterima kasih sekali, jika untuk membayar utang kami sangat kesulitan karena pekerjaan saya hanya buruh bangunan dengan penghasilan sekitar Rp 75 ribu per hari. (TT, 06 Agustus 2016:7) 5. Sinestesia

Sinestesia adalah pergeseran makna yang terjadi karena pertukaran anggapan dua indera.

a. Tak ketinggalan, Piyu dengan potongan rambut barunya unjuk kelihatan bermain gitar lewat sentuhan aransemen pada intro lagu dari band asal California Rage Aginst The Machine. (TT, 25 Juli 2016:24)

data-data tersebut. Data tersebut dianalisis sesuai dengan jenis perubahan maknanya masing-masing. Adapun analisis tersebut adalah sebagai berikut:

a. Pergeseran Makna Meluas (generalisasi)

Jenis pergeseran makna pertama yang ditemukan adalah jenis pergeseran makna kosakata yang meluas. Analisis data yang ditemukan tersebut adalah sebagai berikut:

1) Deteksi dokter di rumah sakit Bogor memastikan saya mengidap kanker mulut rahim dan sayapun menjalani operasi awal 2005.

(TT, 20 Juli 2016:10)

Kata operasi pada teks tersebut mengalami pergeseran (perubahan) makna menjadi luas. Kata operasi seperti yang dikemukakan Poerwadarminta (1984:87) berubah maknanya menjadi pekerjaan berperang atau melakukan hal yang tidak halal (merampok). Kata operasi ini dalam perkembangannya, tidak lagi hanya digunakan untuk menyebut kegiatan bedah dalam bidang kedokteran saja, tetapi juga dapat digunakan untuk menyebut segala kegiatan yang dilakukan untuk mencapai sesuatu dengan teknik atau cara tertentu.

2) Rekannya, panitia putera dan puteri lainnya duduk di atas kursi sembari memainkan smartphone-nya. (TT, 21 Juli 2016:7)

Data ini menunjukkan pergeseran (perubahan) makna kata putra dan puteri yang meluas. Menurut Keraf (2008:97), kata

putera dan putri dahulu hanya dipakai untuk anak-anak raja, sekarang semua anak laki-laki dan wanita disebut putra dan putri.

Walaupun bukan keturunan raja (bangsawan), seorang anak laki- laki telah disebut sebagai putra, dan anak perempuan disebut putri.

Ini menunjukkan perubahan makna kata putera dan puteri dari penggunaannya yang khusus menjadi lebih umum karena kebutuhan penggunaan kata sebagai acuan anak laki-laki dan anak perempuan yang semakin bertambah.

3) Kepada YTH Bapak pimpinan kota Makassar. Agar kiranya dapat memeritahkan anggotanya untuk mengadakan foging di daerah Sinassar kelurahan Kaluku Bodoa cozx sini banyak nyamuk. Sekali lagi mohon maaf. Makasih. (TT, 22 Juli 2016:22)

Menurut Keraf (2008:97), kata bapak dulunya hanya dipakai dalam hubungan biologis, sekarang semua orang yang lebih tua atau lebih tinggi kedudukannya disebut bapak. Seorang laki-laki yang usia atau kedudukannya lebih tinggi dari kita, telah dapat disebut sebagai bapakmeskipun tidak ada hubungan darah (secara biologis) dengan kita. Hal ini membuktikan bahwa kata ini mengalami perubahan makna menjadi lebih luas dari segi penggunaannya.

4) Pokemon kini dimanfaatkan berbagai obyek wisata untuk menarik pengunjung, tak terkecuali di obyek wisata Taman Impian Jaya Ancol. (TT, 22 Juli 2016:24)

Kata menarik yang semula hanya berkaitan dengan tali, maknanya kemudian menjadi lebih luas. Seperti yang dikemukakan oleh Aminuddin (2008:130) bahwa kata menarik dapat pula diartikan ’cantik’, ’cakap’, ’simpatik’, ‘ganteng’, ’bagus’,

’menyenangkan’, maupun ’menjadikan anggota’. Dari data ini, terlihat bahwa kata menarik mengalami perluasan makna yang semula digunakan hanya untuk menyebut hal-hal yang berkaitan dengan tali, dalam perkembangannya kemudian digunakan pula untuk menyebut hal-hal yang mengandung daya tarik seperti

‘cantik’, ‘tampan’, ‘bagus’, dan sebagainya.

Pergeseran (perubahan) makna kata menarik menjadi lebih luas ini terjadi karena banyaknya hal yang dapat menjadi acuan kata menarik, bukan hanya dari segi wajah atau sifat seseorang, tetapi juga hal-hal lain yang merujuk pada daya tarik suatu hal (benda, dsb). Oleh karena itu, kata menarik berubah maknanya menjadi lebih luas sesuai dengan kebutuhan pemakaiannya.

5) Berbilang bulan saya tersiksa, meraung-raung kesakitan, kepala rasanya mau pecah, tidak bias tidur, kalau makan pasti muntah, dunia rasanya berputar, sekujur tubuh sakit semua. (TT, 25 Juli 2016:23)

Kata kepala pada teks tersebut mengalami perubahan makna berupa perluasan. Kata ini berasal dari bahasa Sansekerta, yang berarti tengkorak manusia. Selanjutnya, Yunus (1961:149)

mengemukakan pengertian kepala yakni bagian atas dari sesuatu benda, atau pusat dari segala sesuatunya yang mengatur berbagai hal. Kata kepala pada awalnya diartikan sebagai salah satu bagian tubuh manusia. Namun, dalam bahasa Indonesia maknanya berubah menjadi lebih luas dan tidak hanya digunakan untuk menyebut bagian tubuh manusia, tetapi juga digunakan untuk menyatakan hal yang lebih umum dalam berbagai bidang kehidupan. Misalnya, digunakan untuk menyebut pemimpin atau yang mengatur suatu bagian dalam perusahaan, seperti kepala bagian atau kepala departemen.

Hal ini terjadi karena begitu banyaknya kebutuhan penggunaan kosakata kepala yang tidak hanya dibutuhkan pada satu bidang saja, tetapi banyak bidang yang membutuhkan kosakata sebagai padanan kata pemimpin itu. Oleh karenanya, kata kepala akhirnya diubah maknanya menjadi lebih luas, sehingga dapat pula digunakan lebih umum.

6) Lembanna bukan lagi nama yang asing di kalangan komunitas atau pecinta alam. (TT, 26 Juli 2016:14)

Kata asing berasal dari bahasa Melayu, yang berarti seorang diri, tak dikenal dari daerah lain (Ngatenan, 1987:43). Kata ini selanjutnya mengalami perluasan dengan digunakannya kata asing bukan hanya untuk menyebut seseorang yang sendiri, tidak dikenal, atau orang yang berasal dari daerah lain. Kata asing dalam

perkembangannya digunakan pula untuk hal-hal lain yang tidak hanya mengacu pada orang, tetapi juga pada hal seperti bidang kebahasaan (bahasa asing), barang (barang asing), pesawat (pesawat asing), dan sebagainya. Ini membuktikan bahwa kata asing juga mengalami perubahan makna meluas. Perubahan makna kata asing menjadi lebih luas ini terjadi seiring dengan penggunaannya yang semakin banyak. Sehingga, lambat laun makna kata asing ini menjadi lebih luas dari makna sebelumnya.

Sesuai dengan uraian analisis data 1 sampai 6 ini, dapat ditarik simpulan bahwa kata-kata seperti operasi, putera dan puteri, bapak, menarik, kepala, dan asing telah mengalami perubahan dari makna secara meluas. Kata-kata ini semula digunakan lebih khusus untuk menyebut hal-hal yang khusus pula. Akan tetapi, dalam perkembangan pemakaiannya, kata-kata ini digunakan lebih umum untuk menyebut hal-hal yang lenih umum pula. Ini membuktikan bahwa bahasa Indonesia terus mengalami perkembangan yang positif dengan menjadikan makna sebuah kata lebih luas sehingga dapat digunakan lebih umum. Perluasan makna ini menjadikan kosakata bahasa Indonesia dapat lebih banyak digunakan sehingga lebih luas pengenalan dan pemakaiannya.

7) Sementara Klenteng Ibu Agung Bahari memakai cara ritual Buddha Mahayana dan Khong Hu Cu. (TT. 02 Agustus 2016:7)

Menurut Keraf (2008:97), kata bapak dan ibu dulunya hanya dipakai dalam hubungan biologis, sekarang semua orang yang lebih tua atau lebih tinggi kedudukannya disebut bapak dan ibu. Seorang laki-laki dan perempuan yang usia atau kedudukannya lebih tinggi dari kita, telah dapat disebut sebagai bapak dan ibu meskipun tidak ada hubungan darah (secara biologis) dengan kita.

Hal ini membuktikan bahwa kedua kata ini mengalami perubahan makna menjadi lebih luas dari segi penggunaannya.

8) Pelaku penculikan WNI yang menjadi kapten kapal nelayan berbendera Malaysia itu diketahui berjumlah empat orang, yang berlayar menggunakan speed boat. (TT. 08 Agustus 2016:2)

Kata berlayar dulu dipakai dengan pengertian ‘bergerak di laut dengan menggunakan layar’. Akan tetapi, sekarang semua tindakan mengarungi lautan atau perairan dengan mempergunakan alat apa saja disebut berlayar (Keraf, 2008:97). Sesuai dengan data di atas, kata berlayar telah mengalami perubahan dari makna yang tadinya mengandung suatu makna yang khusus, tetapi kemudian meluas sehingga melingkupi sebuah kelas makna yang lebih umum. Kata berlayar yang dulunya hanya digunakan untuk menyebut kegiatan mengarungi lautan dengan kapal yang menggunakan layar, sekarang justru digunakan lebih luas dengan menyebut segala kegiatan mengarungi lautan meskipun tidak

menggunakan layar sebagai alat bantunya. Mengarungi lautan dengan kapal bermesin yang canggih pun telah dikatakan berlayar.

b. Pergeseran Makna Menyempit (spesialisasi)

Selanjutnya, dalam bahasa Indonesia juga ditemukan adanya perubahan makna menyempit, yakni perubahan makna yang dialami sebuah kata di mana makna yang lama lebih luas cakupannya dari makna yang baru. Penyempitan makna ini juga banyak ditemukan dalam teks berita pada Tribun Timur (TT). Analisis data-data perubahan makna menyempit tersebut adalah sebagai berikut:

1) Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Komisi VIII, sambangi Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Model Makassar. (TT, 23 Juli 2016:6)

Ngatenan (1986:144) menyatakan bahwa kata madrasah berasal dari bahasa Arab, yang bermakna sekolah perguruan (pada umumnya). Namun, dalam bahasa Indonesia kata ini mengalami perubahan makna menjadi lebih sempit yakni sekolah untuk agama Islam saja. Kata madrasah dalam bahasa Indonesia mengalami penyerapan secara utuh yakni dengan tidak mengubah bentuk kata tersebut. Akan tetapi, dari segi makna, kata madrasah mengalami perubahan makna yang sangat besar, yaitu digunakannya kata ini tidak lagi untuk menyebut sekolah perguruan pada umumnya, tetapi hanya digunakan untuk menyebut sekolah agama Islam.

2) Jalan Trans Sulawesi di perbatasan Maros-Pangkep sudah didandani mulus. Bau aspal terasa. (TT, 26 Juli 2016:7)

Kata bau pada teks di atas mengalami penyempitan makna.

Kata bau yakni tadinya mengandung pengertian yang lebih luas untuk menyebut segala macam gas yang dapat diserap oleh indra penciuman, sekarang selalu diartikan busuk (bau busuk) sesuai yang diungkapkan oleh Keraf (2008: 98). Penyempitan makna pada kata bau ini sebenarnya dilakukan untuk lebih mengspesifikkan penyebutan suatu hal, dalam hal ini suatu aroma yang ditangkap oleh indera penciuman, sehingga dalam penggunaannya dapat dibedakan apakah aroma itu busuk atau harum.

3) Tokoh warga muslim di New York, Amerika Serikat, asal Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, ustadz Shamsi Ali, menyumbang Rp 50 juta untuk pembangunan gedung Ikatan Alumni Pesantren Muhammadiyah (Ikapem) Darul Arqam Gombara (Dago) Makassar. (TT, 01 Agustus 2016:11)

Dalam bahasa Arab makna ustadz sebenarnya adalah guru, kemudian maknanya menyempit menjadi guru agama Islam. Dari penjelsan tersebut kata ustadz mengacu pada istilah yang terkait dengan orang yang memiliki kemampuan ilmu agama Islam dan bersikap serta berpakaian layaknya orang alim. Baik kemampuan yang dimilikinya, sedikit atau banyak. Orang yang disebut ustadz

antara lain da’i, mubaligh, guru mengaji, dan guru madrasah di pondok pesantren.

4) Sebagian besar penggugat adalah guru perempuan dan berstatus sertifikasi. (TT, 02 Agustus 2016:10)

Aminuddin (2008:130) menyatakan bahwa kata guru pada mulanya dapat diartikan ’’pembimbing rohani’’, ’’pengajar silat’’, sehingga dikenal pula kata ’’peguron’’, akhirnya memiliki pengertian khusus ‘’pengajar di sekolah’’ sebagai salah satu bidang profesi (Aminuddin, 2008: 130). Kata guru ini mengalami penyempitan makna disebabkan oleh kebutuhan pemakaiannya yang juga semakin tidak banyak. Maksudnya adalah, seseorang yang menjadi pembimbing rohani atau pengajar silat sangat jarang ditemukan, berbeda dengan profesi pengajar di sekolah yang lebih banyak. Oleh karena itu, dalam perkembangannya, kata guru lebih digunakan untuk menyebut pengajar pada sekolah saja.

5) Korban aksi penjambretan, Suwarti (30) dan Nurmin (guru SMA 1 Bangkala), dudu di bale-bale warga di Kelurahan Bontotangnga, Kecamatan Tamalanrea, Kabupaten Jeneponto, seusai tas miliknya dijambret pengendara motor tak dikenal. (TT, 03 Agustus 2016:14) Kata jambret berasal dari bahasa Jawa, yang mengandung makna merenggut, menarik dengan paksa (Poerwadarminta, 1984:399). Kata jambret sekarang mengalami perubahan makna menjadi lebih sempit yakni mencopet atau merebut barang orang

lain. Jadi, kata jambret yang dulunya digunakan secara umum untuk menyebut hal merenggut atau menarik dengan paksa suatu benda, sekarang lebih khusus digunakan untuk menyebut tindakan perampasan barang seseorang secara tiba-tiba tanpa izin dari pemiliknya. Istilah ini dalam perkembangan pemakaiannya lebih mengarah untuk kejahatan, seperti mencopet.

6) Tapi setelah sarjana dia merasa malu untuk membantu orang tuanya di sawah. (TT, 10 Agustus 2016:12)

Makna kata sarjana awalnya disebutkan untuk semua orang yang pandai atau cendekiawan, tetapi kata sarjana hanya diperuntukan untuk orang-orang yang telah lulus dari perguruan tinggi atau universitas.

c. Ameliorasi

Selain perluasan dan penyempitan makna di atas, dikenal pula perubahan makna ameliorasi, yakni suatu proses perubahan makna, di mana arti yang baru dirasakan lebih tinggi atau lebih baik nilainya dari arti yang lama (sebelumnya). Perhatikan teks berikut:

1) Anggota Sastgas Operasi Tinombala mengevakuasi jenazah terduga teroris santoso di poso. (TT, 20 Juli 2016:2)

Dari data ini, dapat dilihat bahwa kata jenazah lebih tinggi nilai rasanya dibandingkan ketika digunakan kata mayat atau bangkai. Meskipun ketiga kata ini memiliki makna yang sama, tetapi nilai rasanya berbeda. Kata jenazah lebih tepat dipergunakan

untuk manusia, sedangkan kata mayat atau bangkai pada umumnya digunakan untuk binatang. Dari segi kehalusan pendengaran, kata jenazah jauh lebih halus dibandingkan dengan kata mayat atau bangkai. Hal inilah yang menyebabkan kata jenazah lebih dipilih digunakan untuk merujuk pada tubuh manusia yang telah meninggal.

2) Dua yang berhasil meloloskan diri diduga adalah perempuan, istri Santoso dan istri Ali Kalora. (TT, 20 Juli 2016:2)

Pemakaian kata istri pada teks berita tersebut dianggap lebih tinggi nilai rasanya, dibandingkan dengan penggunaan kata bini. Meskipun makna kata istri dan kata bini sama, yakni pasangan hidup seorang laki-laki (suami), tetapi nilai rasa kedua kata ini berbeda. Oleh karena itu, sekarang orang lebih pada umumnya menggunakan istri daripada kata bini kecuali dalam bahasa daerah tertentu, misalnya pada bahasa Betawi.

Bini dianggap lebih rendah nilai rasanya karena bini sepertinya hanya merujuk kepada perempuan yang menjadi pendamping suami untuk melayani suami seutuhnya sesuai dengan perintah suami. Akan tetapi, dalam perkembangannya, perempuan yang menjadi pasangan hidup suami juga tidak hanya menjadi

‘pelayan’ laki-laki yang menjadi suaminya, tetapi juga telah dapat melakukan hal-hal lain selain hanya melayani keperluan suami atau

menuruti perintah suami. Hal inilah yang menyebabkan kata istri lebih digunakan daripada kata bini karena nilai rasa yang berbeda. 3) Selain istri Santoso, ada dua wanita yang merupakan istri dari

anggota Santoso juga yang masuk dalam DPO. (TT, 20 Juli 2016:2)

4) Yang untuk kedua kalinya mengirimkan lebih banyak atlet perempuan dibandingkan laki-laki setelah menurunkan 269 perempuan dan 261 pria ke olimpiade London empat tahun lalu.

(TT, 25 uli 2016:31)

Menurut Keraf (2008:98), kata wanita dirasakan nilainya lebih tinggi dari kata perempuan. Demikian pula pada kata pria dan laki-laki. Oleh karena itu, kata wanita dan kata pria mengalami ameliorasi yakni dengan membandingkan nilainya dengan kata perempuan dan kata laki-laki. Nilai yang dimaksud di sini adalah nilai rasa yang timbul ketika menggunakan kata tersebut. Dalam penggunaannya, kata perempuan dan kata laki-laki digunakan lebih umum dibandingkan kata wanita dan kata pria. Setiap wanita sudah tentu adalah perempuan, tetapi sebaliknya, seorang perempuan belum tentu adalah wanita.

Demikian pula pada kata pria dan laki-laki. Kata perempuan dan kata laki-laki pada umumnya digunakan untuk menyebut jenis kelamin, sedangkan kata wanita dan kata laki-laki lebih banyak digunakan untuk menyebut perempuan/laki-laki yang

telah dewasa dan memiliki kemandirian. Nilai rasa yang muncul dengan penggunaan kata wanita dan kata pria dibandingkan dengan kata perempuan dan kata laki-lakimemang lebih tinggi, karena adanya kandungan-kandungan khusus (seperti dewasa, bekerja, mandiri, dsb) yang dimiliki oleh kata wanita dan kata pria dibandingkan dengan kata perempuan dan kata laki-laki yang lebih umum sifatnya.

5) Munawar guru sejarah dan seni, sekaligus panitia PLS mengatakan si kepala sekolah belum datang. (TT, 21 Juli 2016:7)

Kata seni pada masyarakat Melayu bermakna air, air kencing (Poerwadarminta, 1984:917). Pada awalnya, kata seni digunakan sebagai acuan untuk ‘air kencing’, tetapi sekarang kata seni memiliki acuan lain yakni sesuatu yang indah. Makna kata seni dalam penggunaanya dapat dibagi dua, sesuai dengan konteks kalimatnya. Kata seni yang digunakan dalam bidang kesenian akan berbeda maknanya dengan kata seni yang digunakan untuk menyebut urine manusia. Ketika berbicara mengenai nilai rasa, maka nilai rasa kata seni yang digunakan dalam konteks bidang kesenian tentu lebih tinggi dibandingkan nilai rasa kata seni untuk menyebut kotoran manusia.

6) Pemuda itu warga Kecamatan Camba, pelapor mengaku kini hamil lima bulan dari hasil hubungan asmaranya dengan WIM. (TT, 23 Juli 2016:10)

Kata hamil sama maknanya dengan kata bunting. Akan tetapi, kata bunting sangat jarang digunakan sekarang, berbeda dengan kata hamil. Perempuan yang sedang mengandung dikatakan hamil, bukan bunting. Kata bunting lebih banyak digunakan sebagai kosakata bahasa daerah untuk menyebut perempuan yang sedang mengandung. Hal ini disebabkan karena kata hamil dirasa lebih tinggi nilai rasa yang dihasilkannya dibandingkan dengan kata bunting.

7) Segmen lainnya bisnis properti bekerja sama pengembang lokal membangun rumah untuk karyawan. (TT, 26 Juli 2016:4)

Kata karyawan memiliki makna yang sama dengan buruh atau pekerja. Akan tetapi, dalam penggunaanya, kata karyawan lebih banyak digunakan untuk menyebut orang yang bekerja pada suatu tempat. Hal ini terjadi karena kata karyawan dianggap memiliki nilai rasa yang lebih tinggi dibandingkan dengan kata buruh atau pekerja. Dari data di atas, dapat disimpulkan bahwa pemakaian kata karyawan sekarang ini lebih baik nilainya dibandingkan dengan dengan semula yaitu buruh atau pekerja.

8) Selain kepolisian, UPT Damkar juga bermohon ke BNK Maros melakukan tes urine kepada semua pegawai Damkar setempat.

(TT, 03 Agustus 2016:16)

Kata pegawai memiliki makna yang sama dengan pekerja.

Akan tetapi, dalam penggunaanya, kata pegawai lebih banyak

digunakan untuk menyebut orang yang bekerja pada suatu tempat.

Hal ini terjadi karena kata pegawai dianggap memiliki nilai rasa yang lebih tinggi dibandingkan dengan kata pekerja. Dari data di atas, dapat disimpulkan bahwa pemakaian kata pegawai sekarang ini lebih baik nilainya dibandingkan dengan dengan semula yaitu pekerja.

9) Terdakwa kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) Fanny Safriansyah alias Ivan Haz divonis selama 1 tahun 6 bulan atas perbuatannya melakukan penganiayaan dan kekerasan fisik terhadap pembantu rumah tangga (PRT) berinisial T. (TT, 12 Agustus 2016:8)

Sebutan orang yang bekerja melayani kebutuhan sebuah rumah tangga, dulunya disebut babu. Akan tetapi, seiring dengan perkembangan bahasa Indonesia, kata babu kemudian diperhalus dengan menggantinya dengan kata pembantu. Nilai rasa kata pembantu dianggp lebih tinggu dibandingkan dengan kata babu.

Kata pembantu dapat digunakan lebih umum dibandingkan dengan kata babu yang terdengar lebih kasar untuk menyebut seorang manusia.

d. Peyorasi

Perubahan makna selanjutnya adalah peyorasi, yaitu perubahan makna yang mengakibatkan makna baru dirasakan lebih rendah, kurang baik, kurang halus, atau kurang menyenangkan nilainya

daripada makna lama. Pada teks berita di harian TribunTimur juga ditemukan data yang mengalami peyorasi. Data-data tersebut selanjutnya dianalisis sebagai berikut:

1) Mayat supir petepete di Kabupaten Gowa yang ditemukan meninggal di atas mobil angkutannya diangkut mobil ambulans.

(TT, 20 Juli 2016:15)

Dari data ini, dapat dilihat bahwa kata mayat lebih rendah nilai rasanya dibandingkan ketika digunakan kata jenazah.

Meskipun kedua kata ini memiliki makna yang sama, tetapi nilai rasanya berbeda. Kata jenazah lebih tepat dipergunakan untuk manusia. Dari segi kehalusan pendengaran, kata jenazah jauh lebih halus dibandingkan dengan kata mayat untuk merujuk pada tubuh manusia yang telah meninggal. Dari data di atas, dapat disimpulkan bahwa pemakaian kata mayat sekarang ini dirasakan lebih rendah atau kurang menyenangkan dibandingkan kata sebelumnya, yaitu jenazah.

2) Kami berterima kasih sekali, jika untuk membayar utang kami sangat kesulitan karena pekerjaan saya hanya buruh bangunan dengan penghasilan sekitar Rp 75 ribu per hari. (TT, 06 Agustus 2016:7)

Ketika kata buruh diperbandingkan dengan kata memiliki makna yang sama dengan buruh atau pekerja, maka nilai rasa yang timbul akan sangat berbeda. Penggunaan kata buruh lebih

mengarahkan tanggapan masyarakat tentang orang yang bekerja kasar dan serabutan. Berbeda ketika digunakan kata pekerja yang justru lebih halus dan tidak terlalu memojokkan orang-orang yang bekerja kasar tersebut.

e. Sinestesia

Sinestesia adalah perubahan makna kata yang dikarenakan adanya pertukaran tanggapan antara dua indera yang berbeda. Misalnya indera penglihat dengan indera pengecap atau indera pendengar dengan indera peraba. Pada teks berita di harian TribunTimur juga ditemukan data yang mengalami sinestesia. Data-data tersebut selanjutnya dianalisis sebagai berikut:

1) Tak ketinggalan, Piyu dengan potongan rambut barunya unjuk kelihatan bermain gitar lewat sentuhan aransemen pada intro lagu dari band asal California Rage Aginst The Machine. (TT, 25 Juli 2016:24)

Kata sentuhan disini pada dasarnya adalah sebuah sikap yang kita lihat, bukan sikap yang kita rasakan dengan kulit. Jadi telah terjadi pertukaran tanggapan antara indera penglihatan (mata) dengan indera peraba (kulit).

2. Faktor-faktor yang Menyebabkan Terjadinya Pergeseran (Perubahan) Makna Kosakata

Setelah dilakukan analalisis jenis-jenis perubahan makna yang ditemukan pada teks berita pada Tribun Timur berupa kosakata,

Dokumen terkait