BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pembahasan
Dalam rangka mencapai tujuan pembangunan daerah yang diharapkan, diperlukan keterlibatan seluruh masyarakat desa sebagai pelaku pembangunan.
Keikutsertaan masyarakat dalam pembangunan adalah kesadaran yang tidak bisa muncul dengan sendirinya. Oleh karena itu kesadaran tersebut harus dibimbing dan diarahkan sampai mereka bisa mencapai kemandiriannya sendiri. Dengan adanya keterlibatan itu, maka suatu pembangunan akan bisa dirasakan secara merata, dan tidak hanya oleh pihak-pihak tertentu saja. Pembangunan yang tidak merata adalah karena suatu pembangunan sudah tak memandang arti pentingnya keterlibatan subyek dalam menyelenggarakan pembangunan itu sendiri.
Partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa sangat diharapkan guna memberikan masukan kepada pemerintah daerah apa sebenarnya yang mereka
butuhkan. Atau, partisipasi juga harus ada ketika pemerintah daerah membutuhkan sebagian dari hak milik mereka yang ditukar dengan nilai yang sepadan. Partisipasi bisa muncul melalui kelompok-kelompok lembaga swadaya masyarakat, kelompok-kelompok adat, ataupun satuan-satuan masyarakat yang lebih kecil lainnya. Adanya dukungan dari mereka merupakan dorongan bagi pemerintah daerah untuk mengklasifikasikan sekaligus memenuhi kebutuhan dasar mereka. Karena itu, tanpa adanya partisipasi, maka dipastikan suatu daerah tidak akan bisa melaksanakan pembangunan daerah dengan baik: apapun bentuk pembangunan yang akan dikerjakan. Menempatkan masyarakat sebagai subjek pembangunan akan memberikan arti bahwa masyarakat diposisikan sebagai salah satu pilar penting dan strategis di samping pemerintah dan swasta. Posisi ini juga sekaligus menunjukkan bahwa masyarakat bukan hanya sebagai pelaksana pembangunan, tetapi di samping itu masyarakat juga berperan sebagai perencana dan pengontrol berbagai program pembangunan baik program-program yang datang dari pemerintah maupun program-program yang lahir dan dikembangkan oleh masyarakat itu sendiri. Salah satu diantara berbagai kebijakan pemerintah yang berkenaan dengan pelibatan masyarakat dalam proses pembangunan nasional adalah Progam Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan (PNPM-MP).
Dalam bab ini akan disajikan data/informasi yang diperoleh di lapangan yang selanjutnya dianalisis guna memperoleh gambaran yang menyeluruh tentang tingkat partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan di Desa Mata Allo Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang. Pembangunan yang dilaksanakan di Desa Mata Allo dijadikan tolak ukur dalam membahas partisipasi masyarakat
Desa Mata Allo yang secara kualitatif ditelusuri melalui dimensi-dimensi yang terdiri atas: partisipasi pikiran; partisipasi tenaga; partisipasi keahlian; partisipasi barang; dan partisipasi uang.
1. Partisipasi Pikiran
Partisipasi masyarakat secara langsung dalam setiap proses pembangunan suatu masyarakat mutlak bagi tercapainya tujuan pembangunan. Idealnya merupakan suatu luaran dari partisipasi masyarakat yaitu usaha untuk menumbuhkan kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi, sehingga proses pembangunan dapat meringangkan beban dan akhirnya pembangunan itu dapat dirasakan secara adil dan merata bagi suatu desa.
Demikian pula secara sederhana dapat diketahui bahwa masyarakat hanya akan terlihat dalam aktifitas selanjutnya apabila mereka merasa ikut ambil dalam menentukan apa yang akan dilaksanakan.
Hal penting yang perlu di perhatikan adalah kesediaan untuk membantu berhasilnya setiap program sesuai kemampuan yang dimiliki setiap orang tanpa berarti mengorbankan kepentingan diri sendiri sudah di kategorikan ke dalam pengertian partisipasi. Oleh sebab itu dalam partisipasi pikiran masyarakat sangat mendasar sekali, terutama dalam tahap perencanaan dan pengambilan keputusan.
Karena keikutsertaan ini adalah ukuran tingkat partisipasi masyarakat. Semakin besar kemampuan untuk menentukan nasib sendiri semakin besar partisipasi dalam pembangunan.
Mengajak masyarakat untuk terlibat dalam perencanaan pembangunan bukanlah hal mudah. Hal ini karena, masyarakat selalu beranggapan bahwa pembangunan desa merupakan proyek pemerintah yang pada dasarnya
mempunyai anggaran yang cukup untuk melaksanakan pembangunan- pembangunan tersebut. Olehnya itu, setiap orang yang terlibat dalam pekerjaan proyek-proyek itu harus mendapat upah. Masyarakat memahami dan sadar akan tugas dan tanggung jawabnya dalam proses pelaksanaan proyek pembangunan.
Partisipasi masyarakat dimaksud merupakan wujud kerjasama antara pemerintah desa dengan warga desanya.
Hasil wawancara yang dilakukan dengan Kepala Desa Mata Allo menunjukkan bahwa masyarakat terutama para tokoh-tokoh masyarakat senantiasa memikirkan tentang kebutuhan bersama warga desa mereka. Hal ini selanjutnya disampaikan kepada pimpinan mereka, yaitu Kepala Desa untuk diperjuangkan pada tingkat kecamatan dan kabupaten. Keinginan yang disampaikan oleh tokoh-tokoh masyarakat tersebut, tentu bukan juga merupakan pemikiran dan keinginan mereka sendiri, akan tetapi itu juga merupakan keinginan warga desa secara keseluruhan.
Keberhasilan suatu pembangunan, bagaimana bentuk dan hasilnya tidak dapat dilepaskan oleh adanya putusan-putusan yaitu melalui tahapan-tahapan pengambilan keputusan. Pada tahap-tahap tertentu keterlibatan masyarakat sangatlah dibutuhkan mengingat ide-ide atau pemikiran mereka dapat menjadi bahan pertimbangan.
Partisipasi masyarakat dalam bentuk pikiran adalah bagaimana masyarakat terlibat dalam memberikan buah pikirannya dalam proses pembangunan.
Partisipasi dapat di wujudkan pada berbagai macam kesempatan, seperti melalui pertemuan/rapat, melalui surat/saran dan tanggapan terhadap proses pembangunan.
Penyaluran ide-ide dan sumbangan pemikiran dapat di salurkan lewat lembaga-lembaga formal yang ada. Untuk mengetahui partisipasi masyarakat di Desa Mata Allo dalam pembangunan dengan bentuk ide/pemikiran, maka dapat dilihat pada keikutsertaan dalam mengikuti rapat-rapat dan keaktifan dalam memberi pendapat dan saran dalam pertemuan.
Berdasarkan hasil wawancara langsung terhadap beberapa responden, maka diketahui bahwa rata-rata informan yang menyatakan sangat aktif mengikuti rapat dan memberikan pendapat dan sarannya karena mereka selalu di undang oleh pemerintah Desa untuk rapat. Selain itu karena adanya kesadaran pribadi untuk membantu terlaksananya pembangunan. Hasil wawancara dengan Bapak Sudarmin Tahir selaku Kepala Desa Mata Allo menyatakan bahwa:
“Ya, biasanya peserta rapat itu sering memberikan sumbangan idenya ataukah sekaligus gagasan yang tentunya terkait dengan pelaksanaan pembangunan yang ada di Desa Mata Allo ini.” (wawancara pada tanggal 1 Desember 2017, Sudarmin Tahir, Kepala Desa Mata Allo).
Hal ini dibuktikan dengan hasil oservasi yang dilakukan oleh penulis.
Seperti yang tampak pada gambar di bawah ini:
Gambar 8
Partisipasi pikiran masyarakat dalam hal pemberian ide-ide / pemikiran dalam proses pembangunan di Desa Mata Allo cukup memberikan andil yang besar. Hal ini memungkinkan tumbuhnya daya kreatif dan inovatif masyarakat dalam rangka perubahan pola fikir yang berorientasi pada pembangunan yang sangat berguna bagi program pembangunan dimasa yang akan datang.
Pada partisipasi pikiran, masyarakat sangat aktif didalam melakukan musyawarah atau rapat dan mereka bersedia memberikan pendapat atau ide yang dimiliki terkait dengan pembangunan yang akan dilakukan di Desa Mata Allo.
Selain sumbangsi ide atau gagasan, peserta rapat juga biasanya memberikan pendapat atau kritikan yang sifatnya membangun demi perbaikan pembangunan Desa Mata Allo kedepannya. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat sangat aktif berpartisipasi baik memberikan masukan atau ide maupun kritikan kepada pemerintah desa. Peserta rapat juga sering berbagi pengalaman yang dimiliki terkait dengan program yang akan dilaksanakan untuk mendorong keberhasilan dari suatu pembangunan yang akan dilaksanakan.
2. Partisipasi Tenaga
Salah satu bentuk partisipasi dalam proses pembangunan yang merupakan wujud dari rasa tanggung jawab masyarakat adalah ada sikap mendukung terhadap proses pembangunan antara lain ditunjukkan melalui partisipasi aktif atau tenaga. Sebagaimana diketahui bahwa dalam suatu masyarakat tidak semua berpartisipasi secara penuh, hal ini disebabkan karena adanya perbedaan kemampuan, perbedaan antara anggota masyarakat yang satu dengan yang lainnya.
Partisipasi tenaga yang dimaksudkan disini adalah bagaimana masyarakat terlibat secara langsung atau fisik dalam pelaksanaan pembangunan. Sesuai dengan hasil pengamatan bahwa kerja bakti atau gotog royong dilakukan sekali dalam seminggu atau minimal dua kali dalam sebulan. Adapun kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan yaitu seperti membersihkan saluran air ( drainase ), perbaikan jalan, membersihkan lingkungan, membuat atau memperbaiki jembatan serta kegiatan yang membutuhkan partisipasi langsung masyarakat.
Untuk mengetahui partisipasi masyarakat Desa Mata Allo dalam bentuk tenaga dapat dilihat pada kegiatan-kegiatan kerja bakti. Seperti data yang diperoleh melalui informan, diketahui bahwa kegiatan yang melibatkan fisik atau tenaga masyarakat seperti gotong royong dalam membersihkan saluran air dan pembangunan sarana ibadah. Partisipasi Pembangunan tidak hanya pada saat pelaksanaannya, akan tetapi merawat dan memlihara bangunan itu juga merupakan wujud partisipasi dalam pembangunan.
Berdasarkan pengamatan langsung peneliti informasi yang diperoleh melalui responden dalam penelitian ini diketahui bahwa partisipasi dalam bentuk fisik yang sifatnya seperti gotong royong adalah merupakan suatu tradisi yang sudah turun-temurun bagi masyarakat desa. Alasan lain adalah adanya suatu kebersamaan bagi masyarakat untuk membangun dan memajukan daerahnya.
Hasil wawancara dengan Bapak Sudarmin Tahir selaku Kepala Desa Mata Allo menyatakan bahwa:
“Apabila ada kegiatan pembangunan yang akan dilakukan, mereka dengan sukarela membantu pemerintah Desa Mata Allo dalam menyelesaikan pembangunan itu.”(wawancara pada tanggal 1 Desember 2017, Sudarmin Tahir, Kepala Desa Mata Allo).
Hal ini dipertegas oleh Ketua LKMD yaitu Bapak Buhari, SS. yang menyatakan:
“Dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan mereka turut serta dengan suka rela.” (wawancara pada tanggal 15 November 2017, Buhari, SS. Ketua LKMD).
Hal ini dibuktikan dengan hasil oservasi yang dilakukan oleh penulis.
Seperti yang tampak pada gambar di bawah ini:
Gambar 9
Pada partisipasi tenaga, keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah desa semata-mata bukan karena adanya unsur paksaan, melainkan dengan sukarela. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Desa Mata Allo sangat antusias karena mereka sadar akan arti pentingnya pembangunan yang dilakukan, sebab merekalah yang akan menikmati hasil pembangunan tersebut. Meskipun masyarakat tidak mendapatkan upah, mereka tetap aktif berpartisipasi dalam setiap kegiatan pembangunan yang dilakukan.
3. Partisipasi Keahlian
Menyelesaikan suatu pekerjaan secara efektif dan efisien serta berkualitas sangat ditentukan oleh tingkat keahlian (skill) yang dimiliki oleh para pekerjanya.
Keahlian tersebut juga harus ditunjang pula dengan motif dan kondisi kejiwaan dari para pekerja pada saat mereka bekerja. Hal ini penting dikemukakan mengingat partisipasi adalah keterlibatan atas dasar kerelaan yang akan mewujudkan hasil sebagaimana yang diharapkan.
Informasi ini mengindikasikan bahwa: (a) terdapat partisipasi masyarakat dalam bentuk keahlian; (b) tanggung jawab terhadap kualitas hasil, lebih tinggi pada pembangunan dibandingkan dengan hasil yang ditunjukkan oleh pembangunan-pembangunan yang ditangani oleh pihak ketiga; dan (c) pemeliharaan terhadap pembangunan lebih baik dari pada pemeliharaan terhadap hasil-hasil pembangunan yang ditangani oleh pihak ketiga. Hal ini dapat dimaklumi, karena pembangunan oleh masyarakat Desa Mata Allo dianggap sebagai milik sendiri, sedangkan pembangunan yang ditangani pihak ke-3 dianggap sebagai milik negara atau daerah yang harus dijaga dan dirawat oleh negara atau daerah. Kerelaan masyarakat untuk menyumbangkan keahlian mereka dalam pembangunan desanya cukup tinggi. Mereka tetap bekerja dengan baik, meskipun mereka tidak menerima upah. Artinya upah bukanlah faktor utama dalam berpartisipasi, melainkan kesediaan mereka untuk bekerja sama dalam rangka mewujudkan tujuan bersama. Sebagai pimpinan, maka Kepala Desa Mata Allo beserta jajarannya melihat potensi keahlian dan kerelaan bekerja ini sebagai suatu kekuatan yang dapat diorganisir dan dimobilisasi secara efektif sehingga dapat bermanfaat bagi mereka dalam rangka memperoleh pembangunan yang
lebih baik. Partisipasi masyarakat yang dapat dilihat adalah dominan partisipasi tenaga dan juga partisipasi keahlian dari masyarakat yang memiliki keahlian misalnya sebagai tukang batu dan tukang kayu, dan keahlian lainnya, yang bila diperlukan maka mereka akan siap untuk bekerja sebagaimana yang diharapkan.
Hasil wawancara dengan Bapak Sudarmin Tahir selaku Kepala Desa Mata Allo menyatakan bahwa:
“Dalam sebuah pekerjaan itu yang paling pertama kita informasikan adalah tukang bila pekerjaan itu seperti rabat beton, maka yang kita hubungi adalah tukang bila pekerjaan itu seperti rabat beton, maka yang kita hubungi adalah tukang batu.”(wawancara pada tanggal 1 Desember 2017, Sudarmin Tahir, Kepala Desa Mata Allo).
Hal ini dibuktikan dengan hasil oservasi yang dilakukan oleh penulis.
Seperti yang tampak pada gambar di bawah ini:
Gambar 10
Warga Desa Mata Allo khususnya kaum laki-laki banyak yang memiliki keahlian sebagai tukang batu, tukang kayu dan keterampilan teknis lainnya yang mereka peroleh dari pengalaman langsung di lapangan. Banyak diantara mereka tidak memiliki tingkat pengetahuan yang memadai. Akan tetapi dengan keahlian yang mereka miliki, dapat dimanfaatkan dan diarahkan secara optimal dalam rangka pengerjaan pembangunan-pembangunan dimasa yang akan datang.
Pada partisipasi keahlian dapat diketahui bahwa sebelum melaksanakan suatu pembangunan maka terlebih dahulu dilakukan diskusi antara tukang, pemerintah desa dan masyarakat untuk menentukan langkah yang akan dilakukan dan pembangunan yang dilaksanakan disesuaikan dengan keahlian tukang yang bersangkutan kemudian dibantu oleh masyarakat dan pemerintah desa.
Masyarakat berpartisipasi dalam pembangunan sesuai dengan keahlian yang dimiliki.
4. Partisipasi Barang
Dana merupakan salah satu penggerak utama yang menentukan dalam penyelengaraan pembangunan, tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah sumbangan masyarakat dalam bentuk materi (barang). Tidak semuanya masyarakat menyumbang dalam bentuk uang tetapi ada juga masyarakat yang berpartisipasi dalam bentuk materi (barang), bahkan ada masyarkat yang menyumbangkan kedua-duanya. Hal ini didasari karena adanya rasa tanggung jawab masyarakat terhadap pembangunan yang dilaksanakan di daerahnya.
Sumbangan barang biasanya dilakukan secara langsung. Dimana sumbangan barang tersebut diperuntukkan untuk pembangunan yang bersifat fisik seperti pembangunan mesjid, jembatan, perbaikan jalanan dan sarana-sarana umum lainnya.
Barang yang dimaksudkan dalam skripsi ini adalah barang-barang yang dimiliki oleh warga desa yang secara sukarela disumbangkan kepada desa dalam rangka pelaksanaan proyek-proyek pembangunan. Masyarakat antusias untuk menyumbangkan barang yang dimiliki untuk lancarnya proses pembangunan, masyarakat dapat menyumbangkan bahan-bahan tertentu yang dibutuhkan dalam
rangka pembangunan yang akan dilakukan tersebut. Masyarakat memberikan sumbangan barang secara sukarela beberapa bahan (kayu, paku, pasir dan lain- lain) yang dibutuhkan pada saat dibutuhkan dalam pengerjaan pembangunan Desa. Dikemukakan oleh Bapak Mulawarman selaku Sekretaris BPD menyatakan bahwa jika pekerjaan bangunan batu, maka biasanya masyarakat menyumbangkan sekop dan kalau pekerjaan berupa bangunan kayu, maka yang biasanya disumbangkan berupa gergaji, pahat dan bor.
Informasi ini kiranya secara jelas memperlihatkan bahwa masyarakat Desa Mata Allo memiliki kesadaran dan kerelaan yang cukup memadai dalam rangka pembangunan desa mereka. Dipandang dari sudut ekonomi, sesungguhnya mereka bukanlah orang-orang yang memiliki kekayaan yang berlebihan, sehingga sebagian dari harta mereka itu disumbangkan kepada desa. Akan tetapi, meskipun kehidupan mereka masih dalam taraf sederhana, mereka tetap rela untuk menyumbangkan sebagain dari milik mereka untuk kepentingan pembangunan desa khususnya pembangunan Desa Mata Allo.Pada indikator bahan untuk konsumsi peneliti mendapatkan jawaban dari hasil wawancara dengan Ketua LKMD yaitu Bapak Buhari SS yang menyatakan:
“Dalam hal sumbangan berupa konsumsi maka yang paling berperan disini adalah ibu-ibu, mereka menyiapkan makanan dan minuman untuk para pekerja.”(wawancara pada tanggal 15 November 2017, Buhari SS Ketua LKMD).
Sama halnya dengan wawancara yang dilakukan dengan Ibu Nurhayati selaku Pengurus MT, beliau menyatakan bahwa:
“Biasanya kalau ada pekerjaan yang dilakukan oleh laki-laki maka kami Ibu-Ibu menyiapkan kue, kopi dan teh.“ (wawancara pada tanggal 25 November 2017, Ibu Nurhayati, Pengurus MT).
Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan dengan beberapa informan maka dapat disimpulkan bahwa untuk sumbangan konsumsi, Ibu-Ibu di Desa Mata Allo berperan aktif dalam menyediakan konsumsi berupa makanan ataupun minuman untuk para pekerja.
Hal ini dibuktikan dengan hasil oservasi yang dilakukan oleh penulis.
Seperti yang tampak pada gambar di bawah ini:
Gambar.11
Namun dalam pelaksanaannya, ada bantuan bahan-bahan tertentu dari anggota masyarakat yang kebetuan memiliki bahan yang dibutuhkan. Bahan- bahan tersebut diberikan secara sukarela tanpa paksaan dari pihak lain. Informasi ini semakin memperkuat fakta bahwa masyarakat Desa Mata Allo cukup partisipatif dalam rangka pelaksanaan proyek-proyek pembangunan sebagai sarana pemenuhan kebutuhan masyarakat Desa secara keseluruhan.
Pada partisipasi barang, masyarakat sering menymbangkan alat-alat kerja atau perkakas tergantung dari pembangunan yang akan dilakukan, seperti pada pekerjaan bangunan batu maka masyarakat biasanya menyumbangkan perkakas
seperti seperti sekop, ember cor, gerobak dan linggis, apabila pembangunan yang akan dilaksanakan berupa bangunan kayu, masyarakat biasanya menyumbangkan perkakas seperti gergaji, pahat, bor dan lain-lain. Ketika masyarakat memberikan bahan material seperti kayu, paku, pasir, semen dan lain-lain sebagainya yang digunakan sebagai bahan bangunan, mereka tidak meminta imbalan kepada pemerintah desa. Kemudian untuk sumbangsi konsumsi, Ibu-Ibu di Desa Mata Allo berperan aktif dalam menyediakan konsumsi berupa makanan ataupun minuman untuk para pekerja.
5. Partisipasi Uang
Dalam upaya menggerakkan program pembangunan, dana merupakan salah satu penggerak utama yang menentukan dalam menyelenggarakan pembangunan. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pembangunan tanpa didukung oleh dana yang memadai prosesnya akan pincang dan hal ini merupakan fenomena umum yang dialami setiap daerah tak terkecuali Desa Mata Allo.
Untuk mengantisipasi fenomena tersebut di atas, berbagai upaya di lakukan termasuk di dalamnya kemampuan pemerintah desa dalam mencari dana yang cukup untuk menyelenggarakan pembangunan secara berkelanjutan. Baik dana yang berasal dari APBN maupun dari APBD. Keterlibatan masyarakat Desa Mata Allo dalam bentuk sumbangan uang adalah partisipasi anggota masyarakat yang secara sukarela untuk pembangunan.
Berdasarkan data yang diperoleh pada Kantor Desa Mata Allo bahwa pembangunan yang dilaksanakan di Desa Mata Allo menelan biaya yang cukup besar dan dana yang digunakan ada yang berasal dari swadaya masyarakat.
Pembangunan yang dimaksud seperti pembangunan sarana ibadah.
Berdasarkan data yang diperoleh melalui informan dalam penelitian serta pengalaman langsung peneliti, diketahui bahwa untuk menyumbang dalam bentuk uang sangat mudah prosedurnya dan tidak banyak menyita waktu maupun tenaga.
Kenyataan seperti itu memberikan indikasi bahwa partisipasi masyarakat dalam bentuk uang sebagai suatu bagian partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan menunjukkan bahwa kesadaran akan pembangunan membutuhkan dana yang cukup.
Dalam setiap pembangunan biasanya masyarakat memberikan sumbangan untuk kegiatan pembangunan terutama dalam hal pembangunan fisik, dan masyarakat dalam memberikan sumbangan bukan karena adanya paksaan dari pemerintah atau dari pihak lain tetapi karena adanya kesadaran untuk membangun daerahnya. Sumbangan masyarakat tersebut sudah cukup besar jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan karena pada saat ini pendapatan masyarakat dari hasil perkebunan dan pertanian juga mengalami peningkatan. Jadi sumbangan yang diberikan masyarakat dalam bentuk uang tergantung dari pendapatan masyarakat itu sendiri.
Pada indikator jumlah sumbangan peneliti mendapatkan jawaban dari hasil wawancara dengan Bapak Sudarmin Tahir selaku Kepala Desa Mata Allo menyatakan bahwa:
“Tidak ada, jumlah tertentu tapi sesuai dengan keikhlasan mereka.
”(wawancara pada tanggal 1 Desember 2017, Sudarmin Tahir, Kepala Desa Mata Allo).
Sama halnya dengan wawancara yang dilakukan dengan Ibu Nurhayati selaku Pengurus MT, beliau menyatakan bahwa:
“Tidak ada besaran jumlah tertentu yang ditetapkan akan tetapi itu bervariasi.“ (wawancara pada tanggal 25 November 2017, Ibu Nurhayati, Pengurus MT).
Hal ini dibuktikan dengan hasil oservasi yang dilakukan oleh penulis.
Seperti yang tampak pada gambar di bawah ini:
Gambar 12
Diinformasikan oleh semua informan jika ada sumbangan berupa uang dari masyarakat untuk masyarakat yang sedang bekerja. Sumbangan itu langsung dibelikan barang berupa rokok, makanan ringan dan minuman. Untuk makanan dan minuman seperti kopi, teh, permen dan lainnya untuk konsumsi bagi masyarakat yang turut terlibat dalam pengerjaan pembangunan. Selain itu, juga karena memang dari pembangunan ini memiliki anggaran dana yang cukup yang dikelola dengan baik oleh Tim Pelaksana Kegiatannya dan juga berkat bantuan atau dalam artian partisipasi masyarakat dalam bentuk sumbangsi tenaga dan keahlian yang jika menggunakan pekerja sewa akan memakan biaya, sehingga dana yang di anggarkan akan terhemat dan dapat digunakan lagi untuk kebutuhan pembangunan lainya. Dengan adanya sisa dana dari pelaksanaan pembangunan,
maka dapat dijadikan sebagai indikator bahwa tingkat partisipasi masyarakat di Desa Mata Allo sangatlah baik.
Pada partisipasi uang, masyarakat sering memberikan sumbangan berupa uang ketika masyarakat sedang melakukan pembangungan ataupun gotong royong, apalagi jika masyarakat tersebut tidak bisa terlibat secara langsung, maka mereka memberikan sumbangan uang sebagai wujud partisipasinya, tidak ada jumlah tertentu atau besaran yang harus diserahkan oleh masyarakat, tetapi tergantung dari keikhlasan dan hati nurani masyarakat sendiri yang menentukan besaran yang akan disumbangkan. Kemudian dalam pengumpulan sumbangan, tidak ada orang tertentu yang mengumpulkan sumbangan yang diberikan oleh masyarakat, tetapi langsung saja diberikan kepada masyarakat atau pemerintah desa yang terlibat dalam pekerjaan pembangunan yang sedang dilakukan, kemudian sumbangan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang sedang bekerja.