• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

a. Implementasi Program Pembiayaan Syariah di BAZMA Asset 3

Implementasi program pembiayaan syariah di BAZMA Asset 3 berjalan sejak tahun 2016. Pembiayaan syariah merupakan salah satu program BAZMA yang mengoptimalisasikan sebagian dana zakat, infaq dan shadaqah serta dana kebajikan lainnya untuk program pembiayaan syariah dengan tujuan memberdayakan binaannya di bidang usaha mikro agar dapat mengembangkan usahanya secara mandiri tanpa ketergantungan pada dana hibah yang telah diberikan.

Implementasi program pembiayaan syariah di BAZMA Asset 3 menurut Bapak Tonny Fathurachman selaku Koordinator Pelaksana Harian (PLH) BAZMA Asset 3.

"Ada kecenderungan implementasi program yang sangat baik dikarenakan langkah yang berani dibalik implementasi program pembiayaan syariah walaupun perlu adanya perbaikan manajemen resiko, melihat peluang, pembiayaan bermasalah dan pertahanan aset serta pengelolaan pembiayaan syariah melalui perjuangan fasilitator sebagai penggerak. Implementasinya sendiri baru bisa dikatakan profesional apabila sepanjang melakukannya sesuai dengan proses atau prosedur".123

Menurut Bapak Hadi Mahfudin selaku Pelaksana Harian Bidang Pendayagunaan BAZMA Asset 3.

"Implementasi program pembiayaan syariah masih belum terealisasi dengan baik dikarenakan pengembalian pinjaman mustahik pembiayaan masih berkisar 75% artinya manajemen resikonya masih perlu diperbaiki dan dievaluasi serta dikembangkan kembali terus menerus secara bertahap mengingat masih dalam tahap merintis".124

Ibu Zairotun selaku mustahik pembiayaan syariah menilai bahwa implementasi pembiaayan di BAZMA Asset 3.

"Dari keorganisasian ibaratnya kompak, berjalan sesuai ajaran Islam dari segi pinjaman, mungkin dari pembayarannyakan banyak yang macet, jadi harus lebih ketat lagi".125

Implementasi merupakan suatu proses yang sangat penting, ketika berbicara penerapan program baik yang bersifat ekonomi, sosial maupun dalam dunia pendidikan. Implementasi program merupakan langkah-langkah pelaksanaan kegiatan dalam upaya mencapai tujuan dari program itu sendiri,

123 Tonny Fathurachman, Koordinator Pelaksana Harian BAZMA Asset 3, Wawancara, Kantor BAZMA Asset 3, 14 Juni 2018.

124 Hadi Mahfudin, Pelaksana Harian Bidang Pendayagunaan BAZMA Asset 3, Wawancara, Kantor BAZMA Asset 3, 14 Juni 2018.

125 Zairotun, Mustahik Program Pembiayaan Syariah BAZMA Asset 3, Wawancara, Cirebon, 23 Juni 2018.

Jones (dalam Arif Rohman 2009: 101-102) menyebutkan implemetasi program merupakan salah satu komponen dalam suatu kebijakan.

Implementasi program merupakan upaya yang berwenang untuk mencapai tujuan.126 Menurut Charles O. Jones (Siti Erna Latifi Suryana, 2009: 28) ada tiga pilar aktivitas dalam mengoperasikan program yaitu :127

d. Pengorganisasian, struktur oganisasi yang jelas diperlukan dalam mengoperasikan program sehingga tenaga pelaksana dapat terbentuk dari sumber daya manusia yang kompeten dan berkualitas.

e. Interpretasi, para pelaksana harus mampu menjalankan program sesuai dengan petunjuk teknis dan petunjuk pelaksana agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai.

f. Penerapan atau aplikasi, perlu adanya pembuatan prosedur kerja yang jelas agar program kerja dapat berjalan sesuai dengan jadwal kegiatan sehingga tidak berbenturan dengan program lainnya.

Dalam mengimplementasikan program pembiayaan syariah tentunya tidak terlepas pada penguatan kelembagaan baik dari segi keorganisasian maupun sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni dan memiliki pengetahuan mengenai pembiayaan syariah agar implementasinya sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan dan sesuai dengan syariat Islam.

Tanpa kelembagaan yang kuat maka implementasi program tidak akan

126 Arif Rohman, Memahami Pendidikan dan Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: Laksbang Mediatama, 2009), h. 101-102.

127 Siti Erna Latifi Suryana, "Implementasi Kebijakan tentang Pengujian Kendaraan Bermotor di Kabupaten Aceh Tamiang" Tesis: Sekolah Pasca Sarjana, Universitas Sumatera Utara, (Aceh:_,2009), h. 28.

berjalan dengan baik sehingga tujuan yang telah diharapkan tidak akan tercapai sesuai rencana.

Implementasi dalam kaitannya dengan pembiayaan syariah melalui sistem qardh al-hasan menurut Bapak Tonny Fathurachman selaku Koordinator Pelaksana Harian BAZMA Asset 3 memaparkan bahwa:

"Dalam akad qardhul hasan jika bicara sesuai atau tidaknya, pembiayaan qardhul hasan lebih ke arah sosial namun dikarenakan kebutuhan masyarakat dalam pengembangan usaha dirasa tepat sebagai transisi program kelanjutan sebagai fase sebuah jalan pemberdayaan menuju kepada berani menghadapi kemandirian".128

Menurut Bapak Hadi Mahfudin selaku Pelaksana Harian Bidang Pendayagunaan BAZMA Asset 3 menyatakan:

"Program pembiayaan syariah sudah sesuai, artinya sistem qardhul hasan sudah dikerahkan, berbeda dengan lembaga keuangan lain yang lebih mengedepankan profit atau ada timbalbaliknya. Nah, kalau kita bener- bener murni syariah sudah tanpa bunga, denda, potongan dan operasional untuk administrasinya juga ditunjang dari dana infaq BAZMA".129

Implementasi pembiayaan syariah menurut Bapak Satori selaku mustahik pembiayaan syariah BAZMA Asset 3 memaparkan bahwa:

"Sudah cukup baik, ya istilahnya kita minjam 10 ribu balik sepuluh ribu ibaratnya seperti kita nabung saja, tidak ada potongan, bunga. Kalau kaitannya dengan masalah pinjaman usahanya sudah bagus".130

Ibu Porniah seorang pedagang jamu keliling yang merupakan salah satu mustahik pembiayaan syariah BAZMA Asset 3 mengatakan:

128 Tonny Fathurachman, Koordinator Pelaksana Harian BAZMA Asset 3, Wawancara, Kantor BAZMA Asset 3, 14 Juni 2018.

129 Hadi Mahfudin, Pelaksana Harian Bidang Pendayagunaan BAZMA Asset 3, Wawancara, Kantor BAZMA Asset 3, 14 Juni 2018.

130 Satori, Mustahik Program Pembiayaan Syariah BAZMA Asset 3, Wawancara, Cirebon, 23 Juni 2018.

"Pinjaman seperti ini sangat bagus, sangat mendukung usaha kecil karena dari segi pinjaman tidak dipersulit, tidak memberatkan, dari segi angsurannya sesuai dengan kesepakan kita-kita, tidak ada bunga, sangat paslah buat kita-kita yang usahanya masi kecil apalagi buat yang baru merintis".131

Sama halnya dengan Bapak Misnadi seorang penjahit dan salah satu mustahik pembiayaan syariah BAZMA Asset 3 berpendapat bahwa:

"Implementasi pembiayaan syariah sudah bagus, saya juga bingung mau ngomong apa, karena saya merasanya sudah dibantu dan alhamdulillah memangnyatanya tidak memberatkan, syaratanya mudah, engga ada potongan, minjem segitu ngembaliinya segitu".132

Ibu Santi penjual otak-otak termasuk dalam mustahik pembiayaan syariah BAZMA Asset 3 memaparkan:

"Kalau menurut saya bagus, petugasnya baik-baik, ramah, persyaratannya enga ribet, apalagi ngga ada bunga, denda, terus kalau mau bayar kitanya ada kesibukan bisa sms petugasnya ada yang dateng ngambil angsuran".133 Penjual opak dan kerupuk yang bernama Ibu Sadiah yang termasuk dalam penerima manfaat pembiayaan syariah BAZMA Asset 3 menyatakan bahwa:

"Alhamdulillah tidak mikirin pinjaman modal ke yang lain karena ada fasilitas dari BAZMA, kalau kata saya sudah bagus, ada ijab qabulnya jelas antara BAZMA dengan sayanya terus bisa nego mengenai angsurannya, terus juga ini kan pinjaman tanpa bunga jadi ringan ibaratnya bayar segitu minjem segitu".134

Program pembiayaan syariah di BAZMA Asset 3 merupakan kelanjutan program bagi binaan BAZMA yang telah mendapatkan dana hibah sebagai

131 Porniah, Mustahik Program Pembiayaan Syariah BAZMA Asset 3, Wawancara, Cirebon, 23 Juni 2018.

132 Misnadi, Mustahik Program Pembiayaan Syariah BAZMA Asset 3, Wawancara, Cirebon, 23 Juni 2018.

133 Santi, Mustahik Program Pembiayaan Syariah BAZMA Asset 3, Wawancara, Cirebon, 23 Juni 2018.

134 Sadiah, Mustahik Program Pembiayaan Syariah BAZMA Asset 3, Wawancara, Cirebon, 23 Juni 2018.

modal awal untuk usaha. Qardh al-hasan merupakan produk program pembiayaan syariah di BAZMA Asset 3.

Menurut Bapak Suwali selaku Koordinator Rumah Ilmu BAZMA mengatakan:

"Pembiayaan syariah yang sudah berjalan adalah dengan model pinjaman kebajikan (qardhul hasan), merupakan tahap awal peningkatan mustahik/binaan. Mustahik baru diberikan tanggung jawab mengembalikan pokoknya saja".135

Qardh al-hasan merupakan akad yang sesuai dalam program pembiayaan syariah sebagai tahap utama dalam mengembangkan usaha dan sarana menciptakan masyarakat mandiri dikarenakan implementasi pada akad qardh al-hasan tidak disertai bunga ataupun margin sehingga setidaknya tidak ada tambahan dana dalam proses angsurannya.

Qardh al-hasan adalah pinjaman harta kepada orang lain yang dapat ditagih kembali atau dengan kata lain, meminjamkan tanpa mengharapkan imbalan. Dalam literatur fiqih klasik, al-qardh yang dikategorikan dalam akad tathawwu‟ atau akad saling membantu dan bukan transaksi komersial.

Dalam dunia perbankan syariah, dapat berupa qardh al-hasan, sebagai bentuk sumbangsih kepada usaha kecil. Di Indonesia, dana ini berasal dari dana badan amil zakat, Infaq dan shadaqah (BAZIS).136

135 Suwali, Koordinator Rumah Ilmu BAZMA, Wawancara, Kantor Rumah Ilmu BAZMA, 14 Juni 2018.

136 Gemala Dewi, Aspek-aspek Hukum Dalam Perbankan dan Perasuransian Syariah di Indonesia, (Jakarta: Prenada Media, 2004), h. 96.

Secara etimologi, qardh (ضزق) berarti al-qath‟u (عطقﻟﺍ) yaitu memotong.137 Di dalam kamus al-Munawwir al-qardh berarti al-sulfah (تفلﺴﻟﺍ) yaitu pinjaman. Pengertian qardh (ضزق) menurut terminologi, antara lain yang dikemukakan oleh ulama Malikiyah adalah “sesuatu penyerahan harta kepada orang lain yang tidak disertai imbalan atau tambahan dalam pengembaliannya”.138

Sedangkan menurut ulama Syafi‟iyah, qardh (ضزق) mempunyai pengertian yakni akad pemilikan sesuatu untuk dikembalikan dengan yang sejenis atau yang sepadan.139

Secara terminologi berarti pemberian harta kepada orang lain yang dapat diminta kembali dengan jumlah yang sama atau dengan kata lain meminjamkan tanpa mengharapkan imbalan atau tambahan.140

Qardh al-hasan adalah suatu interest free financing. Kata “hasan” berasal dari bahasa arab yaitu "ihsan” yang artinya kebaikan kepada orang lain.

Qardh al-hasan yaitu jenis pinjaman yang diberikan kepada pihak yang sangat memerlukan untuk jangka waktu tertentu tanpa harus membayar bunga atau keuntungan. Penerima qardh al-hasan hanya berkewajiban melunasi jumlah pinjaman pokok tanpa diharuskan memberikan tambahan apapun.

Namun penerima pinjaman boleh saja atas kebijakannya sendiri membayar lebih dari uang yang dipinjamnya sebagai tanda terima kasih kepada pemberi

137 Ahmad Hasan Ridwan, Manajemen Baitul Mal Wa Tamwil, (Bandung: PT PUSTAKA SETIA, 2013), h. 23.

138 Djuwaini, Pengantar Fiqih Muamalah, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), h. 254.

139 Ibid.

140 Syafi‟i Antonio, Lembaga keuangan syariah dari Teori ke Praktek, (Jakarta: Gema Insani,2001), h. 131.

pinjaman. Tetapi hal tersebut tidak boleh diperjanjikan sebelumnya di muka.141

Qardh al-hasan atau benevolent loan adalah suatu pinjaman lunak yang diberikan atas dasar kewajiban sosial semata, dimana si peminjam tidak dituntut untuk mengembalikan apapun kecuali modal pinjaman.142

Pada dasarnya qardh al-hasan merupakan pinjaman sosial yang diberikan secara benevolent tanpa ada pengenaan biaya apapun, kecuali pengembalian modal asalnya.143

Dalam perjanjian qardh pemberian pinjaman memberikan pinjaman kepada pihak penerima pinjaman dengan ketentuan bahwa penerima pinjaman tersebut akan mengembalikan pinjamannya sesuai dengan jangka waktu yang telah diperjanjikan dengan jumlah yang sama dengan pinjaman yang diterima. Dengan demikian pihak penerima pinjaman tidak diperlukan untuk memberi tambahan atas pinjamannya.144

Qardh al-hasan tergolong dalam akad tabarru‟. Akad tabarru‟ dilakukan dengan tujuan tolong-menolong dalam rangka berbuat kebaikan (tabarru‟

berasal dari kata birr dalam bahasa Arab, yang artinya kebaikan). Dalam akad tabarru‟, pihak yang berbuat kebaikan tersebut tidak berhak mensyaratkan

141 Sutan Remy Sjahdeini, Perbankan Syariah Produk-Produk dan Aspek-Aspek Hukumnya, (Jakarta: Kencana, 2014), h. 342-343.

142 Muhammad, Sistem dan Prosedur Operasional Lembaga keuangan syariah, (Yogyakarta: UII Press, 2000), h. 41.

143 Ibid., 42.

144 Ismail, Perbankan Syariah, (Jakarta: Kencana, 2011), h. 212-213.

imbalan apapun kepada pihak lainnya.145 Pada dasarnya pinjaman qardhul hasan diberikan kepada:

3) Mereka yang memerlukan pinjaman konsumtif jangka pendek untuk tujuan-tujuan yang sangat urgen.

4) Para pengusaha kecil yang kekurangan dana tetapi mempunyai prospek bisnis yang sangat baik.146

Qardh yang diperlukan untuk membantu usaha kecil dan keperluan sosial, dapat bersumber dari dana zakat, infaq dan shadaqah.147 Qardh al- hasan juga dikhususkan untuk membantu memberikan pinjaman kepada usaha-usaha pada sektor kecil yang umumnya mengalami kesulitan dalam mengembangkan usahanya. Pemberian pinjaman tunai untuk qardh al-hasan tanpa dikenakan biaya apapun kecuali biaya administrasi berupa segala biaya yang diperlukan untuk sahnya perjanjian hutang. Seperti bea materai, bea akta notaris, bea studi kelayakan, dan sebagainya.148

Pada hakikatnya qardh adalah pertolongan dan kasih sayang bagi yang meminjam. Qardh bukan suatu sarana untuk mencari keuntungan bagi yang meminjamkan, di dalamnya tidak ada imbalan dan kelebihan pengembalian.

Namun yang terdapat pada qardh ini adalah mengandung nilai kemanusiaan dan sosial yang penuh dengan kasih sayang untuk memenuhi hajat si

145 Adiwarman Karim, Bank Islam Analisis Fiqih dan Keuangan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), h. 58.

146 Karnaen Perwataatmadja dan Muhammad Syafi‟i Antonio, Apa dan Bagaimana Bank Islam, (Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf, 1992), h. 34.

147 Syafi‟i Antonio, Lembaga Keuangan Syariah dari Teori ke Praktek, (Jakarta: Gema Insani,2001), h. 133.

148 Amir Machmud dan Rukmana, Bank Syari‟ah Teori, Kebijakan dan studi Empiris Di Indonesia,(Jakarta: Erlangga, 2010), h. 28-29.

peminjam modal tersebut. Apabila terjadi pengambilan keuntungan oleh peminjam modal tersebut. Apabila terjadi pengambilan keuntungan oleh pihak yang meminjamkan modal atau harta, maka dapat membatalkan kontrak qardh.149

b. Strategi BAZMA dalam Mensejahterakan Ekonomi Masyarakat

Menurut Koordinator PLH (Pelaksana Harian) BAZMA Asset 3 Bapak Tonny Fathurachman.

"Sesuai dengan perencanaan pemberdayaan dibidang ekonomi pada program berwirausaha mandiri (BERANI) tahun 2018 strategi pemberdayaan yang dilakukan adalah dengan metode pendampingan motivasi usaha dalam upaya membuka wawasan yang luas mengenai usaha dan pembiayaan syariah sebagai media sarana dalam mengembangkan usaha serta mampu mengimplementasikannya dalam upaya menciptakan masyarakat yang mandiri".150

Menurut Bapak Hadi Mahfudin selaku PLH (Pelaksana Harian) Bidang Pendayagunaan BAZMA Asset 3.

"Yang pertama dikuatkan dulu pondasi usahanya lewat pengajian mingguan setiap hari sabtu, pembinaan bulanan baik mustahik di luar mustahik maupun mustahik pembiayaan sebagai upaya memberi pemahaman wawasan pengetahuan mengenai pengembangan usaha dan keekonomian syariah".151

Bapak Satori seorang pedagang telur asin selaku mustahik program pembiayaan syariah BAZMA Asset 3 menyatakan bahwa:

"BAZMA kan sudah memfasilitasi untuk memajukan usaha lewat pembinaan bulanan, pengajian dan pinjaman jadi tinggal dikembalikan ke diri kitanya sendiri mau maju atau engga".152

149 Atang Abd. Hakim, Fiqih Perbankan Syariah, (Bandung: PT Refika Aditama, 2011), 267.

150 Tonny Fathurachman, Koordinator Pelaksana Harian BAZMA Asset 3, Wawancara, Kantor BAZMA Asset 3 n, 14 Juni 2018.

151 Hadi Mahfudin, Pelaksana Harian Bidang Pendayagunaan BAZMA Asset 3, Wawancara, Kantor BAZMA Asset 3, 14 Juni 2018.

152 Satori, Mustahik Program Pembiayaan Syariah BAZMA Asset 3, Wawancara, Cirebon, 23 Juni 2018.

Seorang pedagang jamu keliling bernama Ibu Porniah sebagai mustahik pembiayaan syariah BAZMA Asset 3 menyatakan:

"Dari BAZMA udah nyuport kaya yang waktu pembinaan itu, ada pengajian, pertemuan, jadi semakin erat".153

Bapak Misnadi selaku mustahik program pembiayaan syariah BAZMA Asset 3 menyatakan bahwa:

"Strateginya bagus, ada pengajian seminggu sekali setiap hari sabtu buat nambah ke sejukan hati dan menguatkan pondasi buat usaha, pinjaman tanpa bunga, pembinaan usaha, bagus yang tadinya nggak kenal jadi kenal, yang tadinya ngga tau jadi tahu".154

Ibu Santi selaku pedagang sosis dan aneka otak-otak bakar menyatakan bahwa:

"Ada semacem kumpulan usaha, silaturahmi ke rumah-rumah binaan liat usahannya, ada pengajian juga setiap sabtu".155

Ibu Zairotun yang merupakan salah satu mustahik pembiayaan menyebutkan beberapa strategi yang dilakukan BAZMA diantaranya:

"Pengajian, pembinaan waktu di pondok, terus yang sebulan sekalinya, pinjaman, silaturmi ke rumah-rumah jadi kaya saudara sendiri".156

Ibu Sadiah salah satu penerima manfaat pembiayaan syariah di BAZMA asset 3 mengungkapkan bahwa:

"Sebenernya strategi BAZMA sudah bagus, kaya ada pelatihan usaha buat yang udah dapet pinjamannya, terus ada pinjaman tanpa bunganya buat fasilitas ngembangin usahanya".157

153 Porniah, Mustahik Program Pembiayaan Syariah BAZMA Asset 3, Wawancara, Cirebon, 23 Juni 2018.

154 Misnadi, Mustahik Program Pembiayaan Syariah BAZMA Asset 3, Wawancara, Cirebon, 23 Juni 2018.

155 Santi, Mustahik Program Pembiayaan Syariah BAZMA Asset 3, Wawancara, Cirebon, 23 Juni 2018.

156 Zairotun, Mustahik Program Pembiayaan Syariah BAZMA Asset 3, Wawancara, Cirebon, 23 Juni 2018.

Selaku Koordinator Rumah Ilmu BAZMA Bapak suwali menambahkan pernyataan dari beberapa responden bahwa:

"Strategi yang dilakukan adalah dengan melukakan upaya pembinaan pemberdayaan mustahik produktif, setelah diberikannya modal hibah dari dana zakat. Sehingga dengan dilakukannya pembinaan mustahik ekonomi, melalui pelatihan usaha, bimbingan pencatatan usaha, proses inkubasi bisnis, mustahik/binaan menjadi berjalan dalam melaksanakan usahanya".158

Pendampingan merupakan media yang dapat menumbuh kembangkan kemampuan baik individu maupun kelompok orang yang berawal dari kebutuhan dan potensi atas dasar adanya interaksi dari, oleh dan untuk binaan.

Konsep pendampingan memiliki dimensi-dimensi 1) pendampingan merupakan proses penyadaran diri bagi semua pihak yang terlibat, 2) pendampingan berorientasi pada pengembangan manusia seutuhnya, 3) pendampingan berangkat dari lapisan paling bawah (bottom up), 4) kegiatan pendekatan pendampingan bertujuan menciptakan situasi yang mendukung perkembangan kelompok, 5) pendampingan memprioritaskan pada partisipasi, kesetiakawanan, dan keswadayaan, 6) berkeyakinan bahwa kelompok yang didampingi akan mampu berkembang sesuai dengan tujuan.159

157 Sadiah, Mustahik Program Pembiayaan Syariah BAZMA Asset 3, Wawancara, Cirebon, 23 Juni 2018.

158 Suwali, Koordinator Rumah Ilmu BAZMA, Wawancara. Kantor Rumah Ilmu BAZMA, 14 Juni 2018.

159 Purwasasmita, Mulyati. Strategi Peningkatan Daum Peningkatan. Diakses pada https://media.neliti.com/media/publications/73058-ID-strategi-pendampingan-daum-peningkatan- k.pdf. Tanggal 13 Agustus 2018.

BAZMA Asset 3 memfasilitasi program pembiayaan syariah kepada sasaran (mustahik) yang telah mengikuti pendampingan baik secara door to door maupun klasikal (berkumpul di satu waktu dan tempat, seperti kajian rutin setiap hari sabtu yang diadakan oleh BAZMA dan pemberian materi mengenai keekonomian syariah) secara intens dan mengimplementasikannya dalam aktivitas usaha sehingga mampu mengembangkan usahanya.

Permasalahan klasik yang dihadapi oleh UMKM terkait dengan keterbatasan permodalan. Keterbatasan akses sumber pembiayaan yang dihadapi oleh UMKM terutama dari lembaga-lembaga keuangan formal seperti perbankan, menyebabkan mereka bergantung pada sumber informal.

Bentuk dari sumber ini beraneka ragam mulai dari pelepas uang (rentenir) hingga berkembang dalam bentuk unit-unit simpan pinjam, koperasi dan bentuk-bentuk yang lain.

Dalam perkembangannya, lembaga-lembaga keuangan informal ini lebih mengena di kalangan pelaku UMKM karena sifatnya yang lebih fleksibel, misalnya dalam hal persyaratan dan jumlah pinjaman yang tidak seketat persyaratan perbankan maupun keluwesan pada pencairan kredit.

Hal ini merupakan salah satu indikator bahwa keberadaan lembaga- lembaga keuangan informal sesuai dengan kebutuhan pelaku UMKM, yang umumnya membutuhkan pembiayaan sesuai skala dan sifat usaha kecil.

Dalam operasionalnya, lembaga tersebut menggunakan bunga yang berakibat pada eksistensi UMKM. Di saat usahanya mengalami hambatan yang berakibat kerugian maka UMKM tetap harus membayar beban bunga.

Kondisi ini dapat mengakibatkan ke tidak berdayaan UMKM yang berakibat pada meningkatnya angka kemiskinan.

Dalam perspektif Islam, kemiskinan ini timbul karena ke tidak pedulian dan kebakhilan kelompok kaya (QS 3: 180, QS 70:18) sehingga si miskin tidak mampu keluar dari lingkaran kemiskinan. Manusia bersikap dzalim, eksploitatif dan menindas kepada sebagian manusia yang lain, seperti memakan harta orang lain dengan jalan yang batil (QS 9:34), memakan harta anak yatim (QS 4: 2, 6, 10), dan memakan harta riba (QS 2:275).160

c. Implementasi Program Pembiayaan Syariah dengan Akad Qardh al-Hasan terhadap Kesejahteraan Ekonomi Masyarakat (BAZMA Asset 3 Cirebon) Menurut Koordinator PLH (Pelaksana Harian) BAZMA Asset 3 Bapak Tonny Fathurachman.

"Dengan pertambahan modal melalui pinjaman qardhul hasan harapannya akan meningkatkan volume penjualan binaan atau sasaran. Untuk hasilnya akan terlihat pada saat evalusi kinerja di akhir tahun 2018".161

Dengan bertambahnya modal usaha yang dikelola oleh mustahik program pembiayaan syariah dengan akad qardh al-hasan, maka akan meningkat pula hasil penjualannya. Akad qardh al-hasan dipilih dalam program pembiayaan syariah di BAZMA Asset 3 dikarenakan karakteristiknya yang elastis (dapat memperpanjang waktu angsuran) jika terjadi hal yang tidak diinginkan tanpa disengaja, tidak adanya bunga maupun denda, besaran angsuran yang dapat

160 Amir Machmud, Strategi Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Menengah Melalui Peran Lembaga Keuangan Syariah dalam Upaya Pengentasan Kemiskinan Di Indonesia, Semnas Fekon:

Optimisme Ekonomi Indonesia 2013, Antara Peluang dan Tantangan, (Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia, 2013), h. 609.

161 Tonny Fathurachman, Koordinator Pelaksana Harian BAZMA Asset 3, Wawancara, Kantor BAZMA Asset 3 n, 14 Juni 2018.

disesuaikan dengan kemampuan mustahik dan tidak ada biaya administrasi yang ditanggung oleh mustahik (kebijakan BAZMA Asset 3) maka dapat mengurangi beban mustahik dalam menjalankan roda perekonomiannya dengan menggunakan sebagian dari margin hasil penjualannya.

Sesuai dengan pendapat Bapak Hadi Mahfudin selaku PLH (Pelaksana Harian) Bidang Pendayagunaan BAZMA Asset 3 yang menyatakan bahwa:

"Pengaruhnya cukup besar, pindahnya mustahik ke sistem syariah aja udah ada peningkatan, yang tadinya binaan kita minjem ke bank keliling yang ada bunganya sekarang udah beralih sedikit-sedikit ke pinjaman syariah di BAZMA, jadi untungnya kan bisa dipake buat kebutuhan yang lain, kalau ke rentenirkan untungnya buat bayar bunganya ajakan berapa?, yaa kalau peningkatan usahanya sendiri si insya Allah 70% meningkat usahanya ".162 Menurut Nurhadi dalam karyanya (2007: 40-41) menyatakan bahwa untuk menanggulangi kemiskinan dapat dilakukan melalui 2 pendekatan, yaitu: (1) pendekatan peningkatan pendapatan dan (2) pendekatan pengurangan beban.163

Pernyataan di atas diperkuat dengan pendapat Bapak Suwali selaku Koordinator Rumah Ilmu BAZMA yang menyatakan bahwa:

"Dari jumlah 52 peserta (mustahik) yang sudah bergabung/mengikuti pembiayaan syariah QH, jumlah 48 orang mengalami peningkatan pendapatannya".164

Dari hasil observasi dan wawancara penulis kepada enam mustahik program pembiayaan syariah di BAZMA Asset 3, empat diantaranya mengalami peningkatan pendapatan usahanya. Berikut pernyataan dari ke

162 Hadi Mahfudin, Pelaksana Harian Bidang Pendayagunaan BAZMA Asset 3, Wawancara, Kantor BAZMA Asset 3, 14 Juni 2018.

163 Nurhadi, Mengembangkan Jaminan Sosial Mengentaskan Kemiskinan, cetakan pertama, (Yogyakarta: Media Wacana, 2007), h. 40-41.

164 Suwali, Koordinator Rumah Ilmu BAZMA, Wawancara. Kantor Rumah Ilmu BAZMA, 14 Juni 2018.

Dokumen terkait