BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
E. Pembahasan Hasil Penelitian
masyarakat meskipun sumbernya sama-sama berasal dari ajaran para sufi.
Untuk menjadi penganut tarekat Khalwatiyah Samman terdapat tiga landasan atau syarat yang mendasar untuk dipenuhi, yang pertama adalah meyakini bahwa tiada Tuhan selain Allah (Lailahaillallah), yang kedua adalah sederhana baik dalam dalam hal berpakaian, berbicara dan berinteraksi dengan masyarakat, sifat membaggakan dan menyombongkan diri serta berfoya-foya harus ditinggalkan, sebagaimana yang dikemukakan oleh Dadang Kahmad (2009:210) bahwa “mengikuti suatu tarekat juga berarti membersihkan diri dari sifat mengagumi diri sendiri, sombong, ingin dipuji orang lain, dan sifat negatif lainnya”, setelah kedua syarat di atas dianggap sudah sanggup untuk dijalankan maka syarat yang ketiga akan dilakukan yaitu angalle barakka atau dibaiat dilaksanakan untuk mengukuhkan orang tersebut resmi menjadi pengikut tarekat Khalwatiyah Samman.
b. Zikir tarekat Khalwatiyah Samman
Dalam komunitas tarekat Khalwatiyah Samman dikenal memiliki zikir empat tahap atau zikkiri appaka. Zikir merupakan salah satu jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Zikir ini dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu tahap pertama zikir tubuh, caranya dengan membaca kalimat
“Laailaahaillallah” dengan sempurna secara berulang-ulang. Tahap kedua zikir hati yang hanya membaca “Illallah” saja secara berulang-ulang. Tahap ketiga zikir nyawa dengan membaca “huwa-huwa” secara berulang-ulang dan tahap keempat zikir rahasia dengan membaca “ah-ah” atau “uh-uh” secara berulang-ulang hingga cukup seratus kali secara keseluruhan. Zikir ini
diucapkan dengan suara yang keras diawal kemudian perlahan-lahan dikecilkan hingga tak terdengar lagi. Sebagai tanda bahwa zikir tahap pertama akan masuk pada zikir tahap kedua hingga pada tahap keempat maka cukup dengan menepuk tangan sekali saja.
Ketika berzikir orang menggoyangkan seluruh bagian tubuh, kepala, tangan, dan kaki. Kepala digeleng-gelengkan ke kiri dan ke kanan, tangan ditepuk-tepukkan di atas paha dan kaki yang duduk terlipat diangkat-angkat ke atas. Dengan cara demikian orang berusaha melepaskan diri dari alam sadar yang bersifat lahir dan masuk kesadaran dalam wujud lain. Sebagaimana informan Dg.Piso menjelaskan bahwa jika zikir kita kusyu maka kami akan melihat Nabi ataupun Puang Lompo, orang yang dianggap suci dalam komunitas tarekat Khalwatiyah Samman.
c. Berziarah ke makam guru atau para khalifah.
Bagi penganut tarekat Khalwatiyah Samman berziarah ke makam- makam guru atau para khalifah merupakan suatu kewajiban, paling tidak sekali dalam setahun, yaitu setelah hari raya Idul Fitri atau setelah merayakan maulid.
Mereka berziarah ke kobbang (kubah) atau makam ulama-ulama tarekat Khalwatiyah Samman. Di sana mereka berdoa dan berzikir mengharapkan agar arwah Puang Lompo dan khalifah lainnya yang suci dapat menyambungkan doa mereka kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam keyakinan mereka, hanya orang sucilah yang mempunyai hubungan hijab dengan Allah. Ziarah ke kobbang biasa dilakukan sebelum atau sesudah berziarah kepada khalifah yang masih hidup.
Ketika berziarah ke khalifah atau guru yang masih hidup, mereka ramai-ramai ingin bersalaman dengan khalifahnya karena mengharapkan barakka (berkah) darinya. Sebaliknya murid-murid menyediakan passidekka yaitu sumbangan berupa uang. Pengikut tarekat Khalwatiyah Samman beranggapan bahwa passidekka yang diberikan kepada khalifah merupakan investasi untuk mencapai kebahagiaan dihari kemudian.
Sementara para murid yang merupakan pengikut tarekat Khalwatiyah Samman mengharapkan khalifah memberi nasihat, bimbingan rohani dan barakka, sedangkan para khalifah memperoleh passidekka. Passidekka yang terkumpul dari para murid dapat memperkokoh kedudukan sosial ekonomi khalifah atau guru.
d. Memperingati maulid dan isra mi’raj Nabi Muhammad SAW
Tanggal 20 Rabiulawal merupakan tanggal lahirnya Nabi Muhammad SAW yang bertepatan dengan waktu wafatnya salah seorang tokoh kharismatik tarekat Khalwatiyah Samman yang bernama Muhammad Saleh yang dikebumikan di Pattene Kabupaten Maros. Perayaan maulid biasanya dirayakan di rumah guru atau masing-masing di rumah murid, tetapi pada umumnya dirayakan di rumah guru atau khalifah. Sehari sebelum maulid dirayakan para murid datang ke rumah guru dengan membawa buah-buahan, bahan-bahan kue dan beras yang akan dimasak dan dibuat songkolo (nasi ketan yang telah dilumuri dengan minyak yang telah dicampur bawang merah, bawang putih, dan merica). Pada malam harinya mereka berzikir setelah shalat Isya dan mendapat siraman rohani dari guru. Pada puncak perayaan maulid
mereka melakukan barzanji secara kolektif setelah melakukan ritual mabbaca- baca songkolo disertai dengan membakar dupa. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada arwah para khalifah yang suci dan arwah nenek moyang yang dianggap memiliki karamah. Bagi komunitas tarekat Khalwatiyah Samman perayaan Isra Mi’raj dirayakan secara sederhana yaitu cukup dengan banyak berzikir dan ceramah yang disampaikan oleh khalifah atau guru.
e. Tradisi-tradisi atau kebiasaan yang biasa dilakukan oleh komunitas tarekat Khalwatiyah Samman.
1) Memperingati 7 hari, 40 hari, dan 100 hari meninggalnya kerabat atau keluarga
2) Barzanji
3) Memperingati 10 asyuro
4) Melakukan ritual-ritual khusus sebagai penghormatan kepada arwah nenek moyang dan para khalifah tarekat Khalwatiyah Samman yang telah meninggal.
Ajaran-ajaran komunitas tarekat Khalwatiyah Samman di atas terealisasikan dalam bentuk tindakan dalam kehidupan sosial komunitas tarekat Khalwatiyah. Dalam teori Max Weber tentang tindakan sosial, tindakan-tindakan komunitas tarekat Khalwatiyah Samman di atas termasuk dalam kategori tindakan rasionalitas yang berorientasi nilai dan tindakan tradisional. Tindakan rasionalitas yang berorientasi nilai adalah tindakan yang memandang bahwa alat-alat yang ada hanya merupakan pertimbangan dan perhitungan yang sadar, sementara tujuan-
tujuannya sudah ada di dalam hubungannya dengan nilai-nilai individu yang bersifat absolut. Artinya, nilai itu merupakan nilai akhir bagi individu yang bersangkutan dan bersifat nonrasional, sehingga tidak memperhatikan alternatif, contoh tindakan ini adalah perilaku beribadah. Sedangkan tindakan tradisional merupakan dimana seseorang memperlihatkan perilaku tertentu karena kebiasaan yang diperoleh dari nenek moyang, tanpa refleksi yang sadar atau perencanaan.
2. Interaksi Sosial Komunitas Tarekat Khalwatiyah Samman
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat memisahkan diri dari keberadaan orang lain dimana ia bertempat tinggal, karena itu setiap manusia selalu bergantung pada kehadiran orang lain dalam menjalani kehidupannya.
Sedangkan dasar kehidupan bersama manusia adalah komunikasi yang dijadikan sebagai kunci untuk memahami kehidupan sosial manusia. Hubungan yang terjadi diantara manusia mendorong mereka melakukan tindakan-tindakan yang berimplikasi pada dirinya dan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya.
Sebagimana yang dikemukakan oleh Soerjono Soekanto (2010: 23) bahwa “pada dasarnya manusia mempunyai dua hasrat yang kuat dalam dirinya yakni keinginan untuk menjadi satu dengan sesamanya dan keinginan untuk menjadi satu dengan lingkungan alam sekitarnya”.
Penelitian yang dilakukan di lapangan menunjukkan bahwa manusia harus terbuka dengan orang lain melalui interaksi yang dilakukannya. Seorang informan pengikut tarekat Khalwatiyah Samman Dg. Mansyur menjelaskan bahwa dirinya dan anggota tarekat lainnya tidak menutup diri untuk berbaur dengan masyarakat luar. Namun lain halnya dengan khalifah mereka yang kurang berinteraksi dengan
masyarakat luar, hal ini disebabkan karena khalifah disibukkan dengan kegiatan- kegiatan ibadah. Sebagimana hasil penelitian yang dijelaskan oleh seorang informan, Dg. Mina mengatakan bahwa para khalifah biasanya sangat jarang berinteraksi dengan masyarakat diluar komunitasnya, khalifah sangat sibuk dengan kegiatan-kegiatan ibadah bahkan dengan muridnya saja jika tidak ada hal yang penting, khalifah jarang bertatap muka dengan muridnya.
Dalam suatu komunitas yang memiliki norma, nilai, aturan dan kebiasaan- kebiasaan yang mereka jadikan panutan dalam menjalani kehidupan sosialnya akan memepengaruhi bagaimana mereka bertindak dan berperilaku terhadap sesamanya. Jadi bagaimanapun cara mereka berinteraksi, semua itu adalah hasil kesepakatan yang mereka buat.
Masyarakat dalam melakukan interaksi atau hubungan sosial tidak terlepas dari isyarat-isyarat atau simbol-simbol tertentu yang mereka ciptakan dan secara sosial dianggap mempunyai arti tertentu.
Interaksi sosial melalui isyarat atau simbol-simbol tertentu biasa disebut dengan interaksi simbolik. Interaksi simbolik dimaknai sebagai proses penyampaian informasi melalui simbol maupun isyarat dengan makna tertentu terhadap simbol atau isyarat yang digunakan oleh individu atau kelompok yang berinteraksi. Hal ini sejalan dengan yang dikemukkan oleh Blumer dalam Wirawan (2012: 131) bahwa “ interaksi simbolik menunjuk sifat khas manusia dari interaksi antar manusia, yaitu manusia saling menerjemahkan dan saling mendefinisikan tindakannya yang dijembatani oleh penggunaan simbol-simbol, interpretasi, dan upaya untuk saling memahami makna dari tindakan masing-
masing”. Penelitian yang dilakukan di lapangan dalam komunitas tarekat Khalwatiyah Samman ditemukan rata-rata anggotanya melakukan interaksi secara simbolik. Dg. Piso menjelaskan bahwa para pengikut tarekat Khalwatiyah Samman dapat dikenali dari cara mereka berpakaian. Mereka memakai pakaian yang sangat sederhana dan ketika mereka akan bertemu dengan para khalifah mereka membawa benda-benda tertentu seperti rokok, korek, lilin, dan kain putih sebagai simbol terhadap apa yang ingin disampaikan, jadi benda yang dibawa mewakili keinginan mereka, sehingga khalifah atau yang dikunjungi cukup hanya melihat benda itu maka dia sudah mengerti maksud dan tujuan mereka.
Selain itu penggunaan isyarat atau simbol dalam berinteraksi tergantung pada konteks situasi dan daerah dimana simbol itu digunakan. Hal ini berarti makna dari suatu simbol tertentu tidak bersifat universal dan berlaku sama di setiap situasi dan daerah sebagimana halnya yang diungkapkan oleh Leslie White dalam Narwoko dan Bagong Suyanto (2011:17) bahwa “makna suatu simbol hanya dapat ditangkap melalui cara-cara nonsensoris, yakni melalui proses penafsiran”. Makna dari suatu isyarat atau simbol tertentu dalam proses interaksi sosial tidak begitu saja bisa langsung diterima dan dimengerti oleh semua orang, melainkan harus terlebih dahulu ditafsirkan.
Dalam komunitas tarekat Khalwatiyah Samman merupakan ajaran dasar untuk memakai pakaian yang sangat sederhana dan mencerminkan sifat tawadu, dan para khalifah biasanya menggunakan sarung serta jubah dan surban dikepalanya, hal ini mencerminkan bahwa ia adalah seorang guru, berilmu akan tetapi pada situasi yang lain dan daerah lain orang memakai pakaian sederhana
memiliki penafsiran yang berbeda-beda, misalnya orang tersebut miskin atau karena kebiasaan orang tersebut berpakaian sederhana. Orang yang membawa rokok dan korek, ketika mengunjungi rumah-rumah tertentu sebagian memahami bahwa itu merupakan suatu bentuk penghormatan, adat ataupun tradisi. Tapi bagi pengikut tarekat Khalwatiyah Samman rokok dan korek memiliki makna tertentu yaitu ingin meminta barrakka (berkah) pada khalifah atau ingin melakukan ritual- ritual tertentu yang menjadi kebiasaannya, lilin dan kain putih simbol untuk meminta didoakan oleh khalifah.
3. Implikasi Sosial Komunitas Tarekat Khalwatiyah Samman
Dalam suatu komunitas yang memiliki norma, nilai, agama dan kebiasaan sebagai pranata sosialnya tentunya membawa pengaruh terhadap kehidupan sosial maupun kehidupan pribadi manusia karena manusialah yang menjadi aktor dalam menjalankan sebuah aturan yang berlaku dalam komunitas. Hasil penelitian tentang implikasi sosial komunitas tarekat Khalwatiyah Samman yang ditinjau dari segi ajaran-ajarannya dan kepercayaan lain yang dijadikan sebagai suatu norma dan nilai dalam menjalani kehidupan setiap anggota tarekat menggambarkan bahwa ajaran-ajaran yang dijadikan norma dapat menimbulkan ketenteraman ataupun masalah-masalah tertentu bagi individu tersebut. Hal ini disebabkan karena individu memiliki batas kemammpuan untuk menjalankan setiap aturan atau norma yang berlaku. Norma-norma yang ada memberikan batasan pada perilaku individu dan juga merupakan alat yang memerintahkan dan sekaligus melarang seseorang untuk melakukan suatu perbuatan dan apabila norma tersebut tidak dilaksanakan maka berlaku sanksi-sanksi tertentu berupa
teguran, cercaan dari orang lain. Berikut akan diuraikan implikasi sosial tarekat Khalwatiyah Samman.
a. Aspek psikologi
Ajaran yang diamalkan dan disebarkan oleh komunitas tarekat Khalwatiyah Samman memberikan dampak tersendiri bagi pengikutnya. Dalam memenuhi kebutuhan spritual keagamaannya, mereka aktif melakukan ritual- ritual yang bertujuan untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan seperti berzikir, melatih diri dalam bidang kerohanian agar dapat membersihkan diri dari sifat sombong, riya, iri dan sikap negatif lainnya. Salah satu informan Dg.Piso menjelaskan bahwa semenjak dirinya mengamalkan ajaran tarekat Khalwatiyah, hatinya terasa tenang dan terdorong untuk selalu melakukan ibadah- ibadah yang lain. Ini mencerminkan keberadaan tarekat Khalwatiyah Samman memberikan dampak secara psikologis melaui ajaran yang disebarkannya.
b. Aspek ekonomi
Selain berdampak pada psikologi individu, keberadaan tarekat Khalwatiyah Samman juga mempengaruhi kehidupan ekonomi masyarakat.
Pengikut tarekat Khalwatiyah Samman terdorong untuk bekerja lebih keras lagi untuk memperoleh pendapatan yang lebih banyak. Hal ini dilakukan karena selain untuk memenuhi kebutuhan pokok, ada pula perayaan-perayan atau ritual tertentu yang biasa dilakukan oleh komunitas tarekat Khalwatiyah biasanya membutuhkan banyak biaya dalam proses pelaksanaannya seperti maulid, isra mi’raj dan asyuro apalagi jika ada keluarga meninggal dunia untuk
memperingati hari ketujuh, hari keempat puluh dan hari keseratus atas meninggalnya biasanya menelan banyak biaya. Pernyataan ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh informan Dg. Sahar menjelskan bahwa dirinya lebih semangat lagi untuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluargaya serta bisa melaksanakan ritual-ritual yang biasa dilakukan oleh anggota tarekat Khalwatiyah Samman secara individu. Sementara, disisi lain juga dapat memperkokoh kedudukan sosial ekonomi untuk para khalifah karena banyaknya passidekka atau sumbangan yang diberikan kepada khalifah dari murid-muridnya.
Selain berdampak pada kedua aspek di atas, adanya tarekat Khalwatiyah Samman juga banyak mempengaruhi kedudukan sosial bagi pengikutnya. Para khalifah dianggap memiliki keistimewaan oleh para muridnya sehingga dia sangat dihormati dan disegani oleh muridnya dan masayarakat diluar komunitasnya, kemudian para anggota tarekat walaupun tidak memiliki kedudukan tertentu mereka tetap disegani dan lebih dihormati oleh masyarakat.
Dampak lain yang juga ditimbulkan oleh tarekat Khalwatiyah Samman ialah adanya sugesti atau pandangan-pandangan tertentu yang yakini oleh pengikutnya bahwa segala sesuatu yang menjadi ajaran ataupun kebiasaan yang biasa dilakukan oleh komunitas tarekat Khalwatiyah jika ditinggalkan atau tidak dilaksanakan maka orang tersebut akan mengalami penderitaan dalam hidupnya sehingga pengikut tarekat Khalwatiyah Samman merasa takut untuk tidak melaksanakan ajaran dan kebiasaan-kebiasaan tersebut meskipun
mereka harus terpaksa melaksanakannya karena jika tidak dilaksanakan juga akan menjadi beban bagi mereka. Seorang informan mempertegas mengenai hal tersebut, Dg. Lia mengemukakan bahwa dirinya mau atau tidak mau dia harus melaksanakan segala yang menjadi ketentuan dalam tarekat Khalwatiyah Samman. Karena kalau dia tidak melaksanakannya biasanya ada salah satu anggota keluarga yang sakit atau pun kehidupannya selalu ditimpa kesusahan bahkan ada yang sampai gila dan dikucilkan oleh masyarakat.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan pengungkapan fakta-fakta di lapangan yang diperoleh dari berbagai informan yang menjadi penganut tarekat Khalwatiyah Samman. maka kesimpulan yang dapat di tarik dari penelitian ini adalah:
1. Menurut penganut tarekat Khalwatiyah Samman ajaran yang disebarkan dan diamalkan oleh komunitas mereka pada dasarnya merupakan aspek pokok ajaran islam seperti salat, puasa, zakat dan haji, adapun bentuk-bentuk ibadah lain yang dianggap dapat memberikan kemaslahatan baik di dunia dan di akhirat yang diamalkan oleh tarekat Khalwatiyah Samman adalah: (a) zikir empat tahap atau zikkiri appaka dengan lafadz Lailahaillallah, Illallah, huwa-huwa dan ah-ah atau uh-uh, (b) merayakan maulid Nabi, (c) merayakan isra mi’raj, (d) mengamalkan barzanji, (d) memperingati hari asyuro, (e) memperingati hari kematian keluarga, (f) merayakan ritual-ritual tertentu untuk menghormati arwah nenek moyang dan arwah para khalifah.
2. Interaksi yang terjadi dalam komunitas mereka sebagai penganut tarekat Khalwatiyah Samman bersifat tertutup dan bersifat terbuka, artinya sebagian anggota tarekat terbuka dengan masyarakat diluar komunitasnya dan sebagian yang lain terutama para khalifah lebih tertutup untuk berinteraksi dengan masyarakat diluar komunitasnya. Selain itu, komunitas tarekat
70
Khalwatiyah Samman juga berinteraksi melalui simbol-simbol atupun isyarat tertentu dengan makna tertentu yang telah disepakati bersama.
3. Implikasi sosial yang ditimbulkan oleh komunitas tarekat Khalwatiyah Samman ditinjau dari ajaran mereka, secara sosial berdampak pada aspek kehidupan ekonomi dan juga kedudukan sosial atau status sosial seseorang.
Selain dampak sosial juga berdampak pada aspek psikologi individu yaitu lewat ajaran tarekat Khalwatiyah yang diamalkan, menurut mereka pengikut tarekat mendapat ketenangan hati karena adanya pemenuhan spritual keagamaan yang mengisi kekosongan jiwa mereka. Dampak negatif yang ditimbulkan oleh tarekat Khalwatiyah Samman lebih pada aspek psikologis yaitu adanya perasaan tertekan dan paksaan akibat sugesti yang mereka yakini bahwa segala sesuatu yang menjadi ajaran dan kebiasaan dalam tarekat Khalwatiyah Samman jika tidak dilaksanakan maka kehidupannya akan mengalami kesusahan.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan dari hasil penelitian di atas, maka dapat diberikan saran-saran sebagai berikut :
1. Kepada pemerintah setempat yang ada di Bonto Sapiri hendaknya memperhatikan tarekat yang berkembang dalam masyarakat di Bonto Sapiri sehingga tidak terjadi hal-hal yang menyimpang dari ajaran-ajaran yang disebarkannya.
2. Kepada tokoh-tokoh agama yang ada di Bonto Sapiri hendaknya selalu mengawasi dan memberikan pengarahan kepada masyarakat Bonto Sapiri
terkait ajaran-ajaran yang dibawa oleh tarekat Khalwatiyah Samman sehingga masyarakat mengetahui ajaran mana yang pantas atau tidak pantas untuk diikuti.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Yesmil dan Adang. 2013. Sosiologi untuk Universitas. Bandung: Refika Aditama.
Albone, Aziz, Abd. 2009. Pendidikan Agama Islam Dalam Perspektif Multikulturalisme. Jakarta: PT. Saadah Cipta Mandiri.
Arty, Massrina, SB. 2014. Dinamika Sosial Komunitas Petani Jagung Kuning di Penja Desa Karueng Kecamatan Enrekang Kabupaten Enrekang.
Skripsi tidak diterbitkan.Makassar: Universitas Muhammadiyah Makassar.
Bisri, Hasan, Cik, dan Rufaidah, Eva. 2002. Model Penelitian Agama dan Dinamika Sosial. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Boediono.1999. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Jakarta: Bintang Indonesia.
Kahmad, Dadang.2009. Sosiologi Agama. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Moleong, J.Lexy. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosdakarya.
Nuh. M. Nuhrison. 2010. Aliran-Aliran Aktual Keagamaan di Indonesia. Jakarta:
Maloho Jaya Abadi Press.
Narwoko, Dwi & Suyanto, Bagong. 2010. Sosiologi Teks dan Terapan. Kencana:
Jakarta.
Paizaluddin, Ermalinda. 2013. Penelitian Tindakan Kelas Panduan Teoritis dan Praktis. Bandung: Alfabeta.
Padindang, Ajiep. 2003. Tradisi Masyarakat Islam di Sulawesi Selatan. Makassar:
Bidang Agama Biro KAAP setda Provinsi Sulawesi Selatan bekerja sama Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Tradisi Masyarakat Sulawesi Selatan dan Lamacca Press (Anggota IKAPI).
Soekanto, Soerjono.2010. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung:
Alfabeta.
Wirawan, Bagus, Ida. 2012. Teori-Teori Sosial Dalam Tiga Paradigma, Fakta Sosial, Definisi Sosial, dan Perilaku Sosial. Jakarta: Kencana.
73
Sumber Lain:
Jamal. 2014. Tarekat dan Perkembangannya.(online), http://jalanwali.blogspot.co m/2011/12/pengertian-tarekat.html. 22 April 2014.
Wijayanti,Indri. 2013. Tarekat Khalwatiyah. (online) http://indriwijayanti62.blogs pot.com/2013/05/khalwatiyah.html. 24 Mei 2013.
2. Bagaimana ajaran yang disebarkan oleh tarekat Khalwatiyah Samman dapat menyatu dengan tradisi-tradisi masyarakat di Bonto Sapiri?
3. Bagaimana hubungan sosial atau interaksi sosial yang terjalin dalam komunitas tarekat Khalwatiyah Samman?
4. Bagaimana interaksi yang dilakukan oleh komunitas tarekat Khalwatiyah Samman yang melalui simbol-simbol tertentu?
5. Bagaimana implikasi sosial komunitas tarekat Khalwatiyah Samman terhadap anggota komunitasnya jika dikaji berdasarkan ajarannya?
Jawaban Informan:
Informan pertama bernama Dg.Piso berusia 60 tahun
1. “Anne pangngajara’na tareka’ Khalwatiyah Samman, riolo duduji nani mo’ ri Bonto Sapiri appulo tahun laloa, caddi dudu inja’a anjo waktua nampa ni pangajarrangngi tu toaku mange ri nakke, mangka nakke tena na langsung kutarima anne ajara’na, a’lampaka ro a’dete-dete amminawang mange-mange ritau ammaganga tareka’ sanggenna kuguppami pangngajara’na tareka Khalwatiyah Samman. Injo kampung kumangewa Barru, Marusu, na Gowa. Punna lammaggangmaki tareka’ Khalwatiyah pertama lanigaukanga iami antu tappaki sitojeng-tojenna mange rikaraeng ata ala nani paumi Lailahaillallah nitappaki ilalang ri atinta, maka ruwwa iami antu tunaki make makean, tena kulle bangka-bangka mae ribarang- barang niaka rikalengta, maka tallua iami antu angalle barakka
ajaran dasara’na tareka Khalwatiyah Samman. Punna kullemi anjo tallua syara’na nigaukang, mulaimi maki pole angngaukangi ajaran maraenganna sikamma barazanji, zikkiri, passidekka, sambahyang jamaah, maudu punna nia kulleta, siarah mange ri ko’banga. Ilalang ri pangngajara’na tareka’
Khalwatiyah nia zikkiri nikua zikkiri appaka, iami anne zikkiri kalompoanna tareka Khalwatiyah Samman. Inne zikkiri biasa kugaukang punna bangngi sanneng na bangngi juma’, zikkiri appaka iami antu Lailahaillallah nampa illallah nampa huwa-huwa nampa ah-ah, zikkiri appaka masing-masing nia artina. Lailahaillallah untuk tubuta, inne tubua karaeng Allah ta ala pakanjarii naki annyomba mange rikaraeng Allah ta ala se’re-se’rena karaeng. Illallah untuk atinta, iami antu Allah ta ala assareki ati nani jagai tuli ngu’rangi mange rikaraeng Allah ta ala. Huwa- huwa untuk nyawa iami antu ilalaang kalenta nia nyawa na roh ampakatallasaki nalaminro pole mange rikaraeng Allah ta ala. Ah-ah untuk rahasia iami antu kakodian niaka rikalenta na rikalenna tauwwa tena kulle ni carita mange-mange, parallu nijaga. Zikkiri appaka mintu bentenngna tareka Khalwatiyah Samman, zikkiri appaka nipau mole-mole sangnggenna sibilangnga nampa nipammari. Punna lanigaukangi zikkiri appaka parallui nisabbu riolo silsilana tarekat Khalwatiyah Samman, punna lebbami silsilana ammacaki astagfirullah pintallung nampa nikua tena issengku, tena erokku, tena kulleku, tena giokku tasangalinna karaeng Allah ta ala