BAB 1 PENDAHULUAN
K. Pembahasan Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran
70-89 dengan kategori tuntas. Sedangkan nilai <70 ada 4 siswa dengan kategori tidak tuntas.
b. Hasil Observasi
Berdasarkan komentar guru teman sejawat yang mendampingi bahwa pada siklus II ini sudah ada peningkatan yang cukup baik.
Pengamatan terhadap keaktifan siswa dalam proses pembelajaran oleh teman sejawat dapat dijadikan pertimbangan dalam merefleksi diri. Pada siklus II ini ketuntasan hasil belajar siswa dalam belajar tercatat 91 % untuk mata pelajaran matematika materi penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan. Hal ini menunjukkan bahwa aktifitas belajar siswa sudah ada kemajuan dan memperoleh hasil yang cukup signifikan, yaitu telah tuntas mencapai target yang ditentukan. Data dari tes akhir pada siklus II menunjukkan bahwa siswa memperoleh nilai 70 ke atas pada mata pelajaran matematika sebanyak 32 siswa atau 91 %.
juga belum menyampaikan secara detail tentang pembelajaran yang dilakukan.
2. Kelebihan dan kekurangan dalam pembelajaran siklus II a. Kelebihan
Dari siklus I yang sebelumnya dilakukan, pada siklus II ini siswa terlihat lebih aktif dan percaya diri saat diskusi kelompok dilakukan. Siswa juga lebih kreatif saat menyelesaikan permasalahan yang disediakan. Selain itu, siswa juga mampu untuk berkomunikasi dalam diskusi dan presentasi kelompok.
b. Kelemahan
Guru masih belum bisa mengontrol waktu dengan baik. Saat diskusi kelompok siswa masih kaku. Karena siswa masih belum terbiasa belajar dengan menggunakan diskusi kelompok.
Ada beberapa hal yang harus di perhatikan dalam penerapan model pembelajaran PBL diantaranya yaitu:
1. Pengelolaan kelas
Penerapan model pembelajaran PBL biasanya menimbulkan suasana kelas yang sedikit gaduh. Hal ini dikarenakan siswa melakukan diskusi kelompok untuk memecahkan masalah.
Siswa tidak hanya duduk diam mereka aktif berdiskusi dalam memecahkan masalah. Maka dari itu di perlukan kemampuan guru untuk dapat melakukan pengelolaan kelas yang efektif dan efisien. Siswa tidak melakukan kegiatan lainnya selain kegiatan yang sesuai dengan instruksi gurunya.
2. Kemampuan Siswa
Dalam memberikan suatu permasalahan dalam pembelajaran, guru sebaiknya mempertimbangkan kemapuan siswa dalam memcahkan permasalahan tersebut.
Hal ini dilakukan agar proses pemecahan masalah dapat memotivasi siswa. Apabila masalah yang diberikan terlalu sulit, siswa akan merasa kesulitan dalam memecahkan masalah karena tidak sesuai dengan kemampuannya sehingga dapat menurunkan semangatnya dalam melakukan kegiatan pembelajaran, pun sebalinya jika masalah yang diberikan terlalu mudah, siswa akan merasa kurang termotivasi untuk menyelesaikannya. Oleh karena itu masalah yang di berikan sebainya dapat memberikan tantangan bagi siswa. Sehingga siswa bersemangat untuk melakukan pembelajaran.
Berikut juga akan di jelas kan beberapa kelebihan dalam penerapan Model pembelajaran PBL (Problem Based Learning) antara lain :
Kelebihan model PBL (Problem Based Learning)
a. Siswa dapat meningkatkan pemikiran yang kritis dan kreatif dalam memecahkan suatu masalah dalam pembelajaran.
b. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan potensi dalam dirinya agar tampil percaya diri dan terlibat aktif dalam proses pembelajaran.
c. Pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan tidak membosankan.
d. Terbentuknya sikap kerjasama yang baik antar individu maupun kelompok.
e. Memberikan kesadaran bagi siswa tentang apa yang telah mereka pelajari.
f. Membantu siswa untuk bekerja secara efektif dalam kelompoknya.
g. Meningkatkan motivasi siswa dalam belajar.
h. Membutuhkan minat belajar siswa secara maksimal.
i. Dengan metode pembelajaran ini akan terjadi pembelajaran yang bermakna.
j. Lebih menyenangkan dan disukai siswa
k. Meningkatkan hubungan antara siswa, sehingga siswa bisa mencapai suatu ketuntasan dalam belajar.
Kelemahan dari Model PBL (Problem Based Learning) a. Tidak efisien karena membutuhkan waktu yang agak lama dalam proses pembelajaran
b. Siswa akan mengalami kegagalan apabila siswa kurang percaya diri, minat belajar yang rendah maka siswa enggan mencoba lagi.
c. Pemahaman yang kurang tentang mengapa masalah- masalah yang dipecahkan maka siswa kurang termotivasi untuk belajar.
d. Kelas yang memiliki tingkat keberagaman siswa yang tinggi terjadi akan terjadi kesulitan dalam pembagian tugas.
e. Siswa yang terbiasa dengan informasi yang diperoleh dari guru sebagai narasumber utama, akan merasa kurang nyaman dengan cara belajar sendiri dalam pemecahan masalah.
f. Terbatasnya sarana dan prasarana atau media pembelajaran yang dimiliki dapat menyulitkan siswa untuk melihat dan mengamati serta akhirnya dapat menyimpulkan konsep yang diajarkan.
g. Banyaknya waktu yang harus diperlukan dibandingkan dengan penggunaan metode lain. Karena dalam pemecahan masalah. Siswa harus diberikan waktu yang cukup sehingga dalam pencarian solusi lebih terencana.
Dari hasil penjelasan di atas mengenai kelebihan dan kelemahan yang ditemukan dalam proses pembelajaran pada tahap siklus I dan siklus II dengan menggunakan metode Problem Based learning. Dapat disesuaikan kelbihan dan kelemahan menurut Hamdani (2011) mengemukakan bahwa kelebihan Model Problem Based learning siswa dilibatkan pada kegiatan belajar sehingga pengetahuannya benar-benar diserap dengan baik dan siswa dilatih untuk dapat bekerja sama dengan siswa lain.
Sedangkan kekurangan Model Problem Based learning adalah untuk siswa yang malas, tujuan dari metode tersebut tidak dapat tercapai dan membutuhkan kemampuan guru yang mampu mendorong kerja siswa dalam kelompok secara efektif.
Berdasarkan hasil penelitian pada tahap siklus I dan siklus II terlihat perubahan hasil belajar siswa. Peningkatan ini dapat dilihat melalui perbandingan pada hasil belajar siswa dari siklus I sampai siklus II yang disajikan pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.3
Rekapitulasi Ketuntasan Hasil Belajar Siklus I dan Siklus II No
.
Nama Siswa Nilai
Siklus I Siklus II
1. Abrar Azka 85 90
2. Afif Tufail Bariz 80 90
3. Afiqah Nur Aulia Zahrah 60 73
4. Ahmad Alfaqih 75 80
5. Ahmad Aufar Musyaffa 60 75 6. Alifah Putri Humaida 55 65
7. Amanda Septiyani.S 85 86
8. Amirull Haqq Dipatiraya 55 65 9. Arundati Zhafar Almer.
J
60 75
10. Athira Amanda Revi 55 70 11. Axel Aurora Chantika 80 85
12. Azza Zakira 80 86
13. Barra Syahputra 80 85
14. Daffa Aqila Pradipta 75 77
15. Dafy Akhmad Abizar 55 65
16. Davian Ahza Riyadi 77 80
17. Dzaki Naufal Abdillah 90 95
18. Erina Nayla 60 76
19. Faizah Maritza Indawan 90 95
20. Faizal Saputra 80 85
21. Faris Setiawan Nurazis 65 78 22. Fathir Ahmad Al Muqri 65 77 23. Gavin Virendra Pratama 75 85 24. Ghendis Madali Mecca 65 75
25. Ghiyyas Al Kurnia 65 75
26. Hafizh Anwar Rohandi 75 80
27. Hanifah Azzahra 60 65
28. Jihan Okta Lutfiah 70 75
29. Junior Alif Naim 80 85
30. Keisya Faranisya Bilqis 70 75 31. Khairina Izzah Putri 60 75
32. Kyara Arkana 55 70
33. Layyin Ghania 80 85
34. Liefia Latisha 85 90
35. Luthfi Zaidan 80 84
36. Muhammad Al maghribi 84 95
37. Muhammad Akhdan.A 70 85
38. Muhammad Zabil A.Q 80 90
39. Nayla Ramadhani 90 95
40. Nazhifa Syakira 85 90
41. Nur Abdillah Elsazilly 75 80 42. Parama Badra Wardana 70 75
43. Raqilla Kahren 84 94
44. Rizky Ramadhan 75 80
45. Shakila Wamma Adyuta 80 85 46. Shindy Fharanissa
Zahwa
90 98
47. Sulistia Azzahra 70 75
Jumlah 3.440 3.550
Rata-rata 73,19 81,14 Persentase (%) 73% 91%
Grafik 4.3
Rekapitulasi Hasil Belajar Siklus I dan Siklus II
Berdasarkan tabel dan grafik di atas dapat kita simpulkan bahwa penggunaan model Problem Based learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SD Negeri 15 Pangkalpinang pada setiap siklusnya. Pada tahap siklus I siswa yang tuntas berjumlah 32 siswa dengan persentase 73% dan siswa yang tidak tuntas berjumlah 15 siswa dengan persentase 68% dan nilai tertinggi pada siklus I yaitu 90 dan nilai terendah adalah 55, nilai rata-rata adalah 73,19%. Dari hasil perbaikan pada tahap siklus I belum mencapai indikator pencapaian yang diinginkan peneliti, oleh sebab itu dilaksanakan perbaikan siklus II.
Setelah pelaksanaan siklus II terjadi peningkatan yaitu terdapat 43 orang siswa yang tuntas dengan persentase 91%, sedangkan siswa yang tidak tuntas adalah 4 orang dengan persentase 8% dan nilai tertinggi pada siklus II adalah 98 dan nilai terendah adalah 65 untuk nilai rata-rata 81,14. Dengan demikian perbaikan pembelajaran menggunakan Model Problem Based learning dapat dikatakan berhasil karena hasil belajar mencapai tujuan dengan hasil akhir sebanyak 91% memperoleh presentase tuntas.
Siklus I Siklus II 0%
10%
20%
30%
40%
50%
60%
70%
80%
90%
100%
Rata-rata Ketuntasan Tidak Tuntas
Merujuk dari beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelum nya oleh beberapa peneliti seperti hasil penelitian dari Ida Zulaeliyah (2019) dengan judul penelitian “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika siswa Kelas VI SD Negeri Gunung Payung pada materi Keliling serta Luas Bangun Datar dengan Metode Problem Based Learning” diperoleh hasil bahwa setelah menerap metode pembelajaran Problem Based Learning rata-rata hasil belajar siswa SD Negeri Gunung Payung mengalami peningkatan pada setiap siklusnya baik di siklus I maupun si siklus II.
BAB V
SIMPULAN DAN TINDAK LANJUT