BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB 4 HASIL STUDI KASUS DAN PEMBAHASAN
4.2 Pembahasan
Diagnosa yang muncul pada kedua subjek sebagian besar sama, dari delapan diagnosa hanya ada satu diagnosa yang berbeda. Prioritas diagnosa pertama yang muncul pada subjek 1 adalah kerusakan integritas kulit/jaringan
Sedangkan pada subjek 2 adalah bersihan jalan nafas tidak efektif. Prioritas diagnosa kesembilan subjek 1 adalah kesiapan peningkatan koping keluarga sedangkan diagnosa kesembilan subjek 2 adalah kurang pengetahuan. Sesuai tingkat permasalahan diagnosa, penulis akan membahas dari diagnosa aktual dengan prioritas tinggi.
4.2.1 Bersihan jalan nafas tidak efektif.
Dari hasil pengkajian diperoleh data pada subjek 1 tidak ada suara nafas tambahan dan penumpukan sekret sedangkan pada subjek 2 adanya suara nafas tambahan roncki dan penumpukan sekret di bagian tenggorokan, Sesuai dengan teori Djojodibroto (2014) Dalam sistem pernafasn orang dewasa memproduksi lebih kurang 100 ml lendir per hari yang biasanya ditelan, dimuntahkan atau di batukkan.
Sedangkan pada pasien stroke pemiliki penurunan pada refleks batuk dan gangguan menelan sebagaiman teori menurut Pinzone, (2010) bahwa dampak stroke yang
bicara atau afasia, sehingga subjek tidak dapat mengeluarkan sekret. Untuk membantu pengeluaran sekret agar tidak terjadi penumpukan yang berlebih penulis merencanakan tindakan tindakan fisioterapi dada dengan cara. Jelaskan tujuan dan prosedur fisioterapi dada pada keluarga, posisikan pasien semi fowler atau sesuai area paru yag mengalami penumpukan sputum, dan lakukan perkusi dengan posisi tangan di tungkupkan selama 3-5 menit penatalaksanaan ini sejalan dengan teori dari Somantri (2009) penatalaksanan bersihanjelan nafas anatara lain humidifikasi, fisioterapi dada, obat brokodilator dan inhalasi mekanik..
Setelah di lakukan implementasi selama 6 hari, didapatkan hasil subjek 2 dapat mengeluarkan sekret namun masih di temukan suara nafas tambahan ronki hasilnya Penulis berasumsi subjek 2 mengalami penurunan reflek batuk karena dampak dari sumbatan darah pasca stroke yang merusak bagian saraf vagus sehingga subjek 2 memiliki sesulitan batuk untuk mengeluarkan sekret maka perlunya bantuan keluarga untuk mengeluarkan sekret dengan cara melakukan fisioterapi dada sesuaidengan teori oleh Hernata (2013) tanda dan gejala stroke yaitu adanya serangan neurologis fokal salah satu berupa adanya gangguan berbicara sulit menelan makan atau minum. Sedangkan pada subjek 1 memiliki reflek batuk yang baik untuk mengelurkan sekret.
4.2.2 Gangguan integritas kulit
Dari hasil pengkajian penulis menemukan luka dekubitus pada kedua subjek terdapat pada punggung bagian bawah dengan karakteristik luka yang berbeda. Sesuai
adalah pasien dengan gangguan neurologi, penyakitkronik, penurunanstatus mental, penyakit onkologi, dan ortopedi. Diagnosis terbanyak adalah stroke (48%) dan diikuti oleh gagal ginjal kronik (15%).
Pada subjek 1 di temukan luka dengan lebar 4 cm dan panjang 7 cm tampak kekuningan, lembab dan berbau serta tidak ada goa sedangkan pada subjek 2 luka tampak kemerahan dan tidak terdapat goa . Adanya luka dekubitus pada kedua subjek sesuai dengan teori menurut Setyaningsih (2014) dampak yang terjadi pada pasien dengan stroke adalah luka dekubitus atau luka akibat penekanan pada daerah yang bersentuhan dengan permukaan tempat tidur. Pada penekanan yang berlangsung lama, maka timbul masalah dalam peredaran zat-zat makanan dan zat-zat asam yang harus disalurkan pada bagian kulit yang mengalami penekanan, jaringan-jaringan yang tidak mendapat cukup makanan dan zat asam perlahan akan mati. Pada saat itu akan timbul luka dekubitus.
Adapun perencanaan tindakan yang telah di prioritaskan bersama keluarga untuk penaganan luka dekubitus tersebut berupa perwatan luka dekubitus yang benar dan pengaturan perubahan posisi mika/miki tiap 2 jam untuk pendukung keberhasilan tindakan ini perlukannya peran serta keluarga.
Setelah di lakukan implementasi selama 6 hari, Hasil karakteristik luka dekubitus pada subjek 1 terlihat kemerahan dan tidak lagi berbau atau lembab serta
luka yang berwarna kemerahan dan tidak lagi berbau, sedangkan hasil yang di dapat dari perawatan luka pada subjek 2 luka tampak kemerahan yang menunjukan hasil pemulihan luka yang baik hal ini terkait pada pemberian perawatan luka yang diberikan keluarga serta tingkat pengetahuan keluarga akan perawatan luka yang benar asumsi penulis ini sejalan dngan teori yang di menurut Parwati (2010) terdapat hubungan yang bermakna dalam tingkat pengetahuan keluarga dengan tindakan keperawatan yang benar terhadap pasien.
4.2.3 Gangguan Mobilitas fisik
Berdasarkan hasil pengkajian subjek 1 dan subjek 2 mengalami kekakuan otot dan kelemahan secara fisik pada semua anggota gerak hal ini sesuai teori oleh Masykuri,(2014) stroke akan mengakibatkan dampak yang fatal bagi tubuh seseorang diantaranya seperti penurunan aktifitas atau gangguan mobilisasi.
Sumbatan pada darah akan mengakibatkan penurunan suplai oksigen dan nutrisi sehingga mengakibatkan gangguan pada sistem saraf pusat. Saraf yang kekurangan nutrisi lama-kelamaan akan kehilangan fungsinya, apabila yang diserang adalah bagian pengendali otot maka tubuh akan mengalami penurunan otot volunter yang berdampak pada gangguan mobilisasi, dan dianjurkan bagi penderita untuk melakukan latihan aktifitas sedikit demi sedikit sesuai dengan kemampuan pasien agar otot tidak mengalami kekakuan, otot yang dilatih terus-menerus dapat meningkatkan fungsi otot yang telah menurun.
Untuk mengatasi masalah terkait gangguan mobilitas fisik adalah latihan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 6 hari hasil dari evalausi tidak ada peningkatan pergerakan ekstermitas pada kedua subjek sampai hari kelima mengingat lamanya waktu masing-masing subjek mengalami stroke dan kurangnya pengetahuan keluarga terkait latihan ROM yang seharusnya dapat diberikan dari awal terjadinya serangan stroke yang mengakibatkan kekakuan atau kelemahan otot pada kedua subjek. Penulis berasumsi pentingnya peran keluarga yang intents dalam melakukan latihan ROM untuk mengurangi kekakuan otot kedua subjek. Asumsi penulis sejalan dengan teori yang di kemukakan oleh Levin (2009) bahwa pada pasien stroke post serangan membutuhkan waktu yang lama untuk memulihkan dan memperoleh fungsi penyesuaian diri, lalu penelitian menurut Derison (2016) bahwa terdapat perbedaan sebelum dan sesudah melakukan ROM pada pasien stroke selama 6 bulan.
4.2.4 Gangguan komunikai verbal
Gangguan komunikai verbal yang terjadi pada kedua subjek ini merupakan dampak dari stroke di tandai dengan ketidakmampuan kedua subjek dalam menggerakan otot rahang, tidak dapat membuka mulut, dan sulit mengunakan ekspresi wajah ksesuai dengan teori menurut Yastroki (2012) gangguan wicara atau afasia terjadi sekitar 15% dari kejadian stroke namun sangat mengganggu karena pasien akan menglami kesulitan dalam berkomunikasi dengan individu yang lain.
bertujuan untuk memperbaiki ucapn supaya dapat dipahami oleh orang lain dengan cara menggerakan lidah, bibir, otot wajah, dan mengucapkan kata-kata
. Hasil evaluasi di hari terakhir tidak terdapat adanya perubahan yang signifikan pada subjek 1 sedangkan terdapat perubahan pada subjek 2 yaitu subjek 2 mampu mengucapkan huruf vocal A jika diminta dengan baik. Penulis berasumsi kemajuan terapi ini sangat bergantung dari intensitas pemberian dan dukungan keluarga dalam pemberian terapi serta tingkat keparahan gangguan wicara sesuai teori oleh Sofwan (2010) peningkatan kemampuan bicara setiap pasien memiliki waktu yang berbeda-beda tergantung dari derajat afasia yang dialami pasien. Pasien stroke dapat meningkat dalam kemampuan berbicara jika dilakukan rehabilitasi sedini mungkin, berkala dan berkesinambungan sehingga dapat meminimalisasi dampak yang berkepanjangan.
4.2.5 Kesiapan untuk meningkatkan nutrisi
Dari hasil pengkajian di temukan data pada kedua subjek memiliki gangguan dalam menelan sejalan dengan teori yang dipaparkan oleh Rasyid (2011) bahwa masalah kesehatan yang timbul akibat stroke sangat bervariasi, tergantung pada luas daerah otak yang mengalami nekrosis atau kematian jaringan, danlokasi yang terkena.
Salah satu yangguan klinis yang sering ditemukan akibat stroke adalah gangguan menelan atau disfagia. Pada kedua subjek masing-masing berat badan dan tinggi badan kedua subjek tidak ada penurunan atau pun peningkatan berat badan selama enam bulan teraakhir. Masalah ini terjadi karena gangguan menelan yang dialami
oleh kedua subjek sebagimana hasil dari penelitian menurut Zahara dan Sulastini (2018) Manifestasi klinis yang muncul akibat stroke infark salah satuya penurunan kemampuan fungsi menelan. Timbulnya fungsi menelan akan mengakibatkan dehidrasi, malnutisi, bahkan pnemonia. Selain itu teori lain
Dari hasil pengkajian maka ditentukan beberapa intervensi yaitu Identifikasi pola makan, diskusikan dengan keluarga makanan dan minuman apa saja yang harus diberikan dan kandungannya, informasikan makanan yang dilarang dan dianjurkan.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 6 hari didapatkan adanya perubahan persepsi dari kedua keluarga untuk selain memberikan makanan pokok berupa bubur serta susu dapat pula diberikan makanan selingan berupa buah yang di haluskan, dapat menjadwalkan makan sesuai waktu dan tidak terjadi penurunan berat badan.
Penulis berasumsi bahwa peran serta pengetahuan kelurga dalam mengambil keputusan untuk merawat anggota kelurga yang sakit sangat penting dan berpengaruh untuk kesejahteraan kedua subjek terutama dalam peningkatan status nutrisi sesuai teori yang dikemukakan oleh parwati (2010) menunjukan bahwa terdapat hubugan yang bermakna antara pengetahuan keluarga dengan tindakan keperawatan terhadap pasien pasca stroke. Berdasarkan hasil penelitian tersebut diharapkan kepada anggota keluarga yng mempunyai anggota keluarga pasca stroke dapat mencari tahutentang tindakan keperawatan yang baik.
memadai dan dibutuhkan oleh penderita stroke sesuai dengan teori Yastroki (2011) keluarga perlu mengetahui akibat yang ditimbulkan oleh penyakit stroke dan kemungkinan komplikasi yang akan terjadi pasca stroke kesembuha pasien jugaakan sulit tercapai optimal jika keluarga tidak mengerti apa yang harus dilakukan untuk memeperbaiki kondisi pasien setelah terjadi stroke dan perawatan apa yang sebaiknya diberikan untuk keluarganya yang mengalami stroke.
4.2.6 Kesiapan Peningkatan perawatan diri
Dari data pengkajian di temukan bahwa semua kegiatan bersihan diri kedua subjek dibantu oleh keluarga karena kedua subjek mengalami kelemahan anggota gerak dampak dari stroke yang sesuai dengan teori Pinzone, (2010) bahwa dampak stroke yang paling umum anatara lain kelumpuhan anggota gerak, wajah perot atau fase drooping, gangguan penglihatan, gangguan menelan, gangguan sensasi raba,
dan gangguan bicara atau afasia. Didukung juga dengan teori oleh Masykuri, (2014) stroke akan mengakibatkan dampak yang fatal bagi tubuh seseorang diantaranya seperti penurunan aktifitas atau gangguan mobilisasi. Sumbatan pada darah akan mengakibatkan penurunan suplai oksigen dan nutrisi sehingga mengakibatkan gangguan pada sistem saraf pusat. Saraf yang kekurangan nutrisi lama-kelamaan akan kehilangan fungsinya, apabila yang diserang adalah bagian pengendali otot maka tubuh akan mengalami penurunan otot volunter yang berdampak pada gangguan mobilisasi.
Adapun intervensi untuk meningkatkan perawatan diri kedua subjek adalah
suasana hangat dan privasi), bantu dalam melakukan perawatan diri. Setelah dilakukan implementasi selama 5 hari didapatkan hasil berupa adanya peningkatan keluarga dalam melakukan pemenuhan kebutuhan bersih diri kedua subjek.
Penulis berasumsi bahwa kelemahan otot yang diderita kedua subjek mengakibatkan kedua subjek tidak dapat melakukan perawatan diri secara mandiri, maka keluarga di tuntut untuk dapat meningkatkan kebutuhan untuk perawatan diri kedua subjek asumsi penulis sejalan dengan teori oleh smeizer (2009) terdapat kira- kira 2 juta orang bertahanhidup dari stroke yang memepunyai kecacatan dari angka ini 40% memerlukan bantuan dalam aktifitas sehari-hari.
4.2.7 Harga diri rendah kronis
Dari hasil pengkajian yang di dapat pasien terlihat sering murung hal ini dibuktikan dari ekspresi kedua subjek masalah ini juga merupakan dampak dari gangguan komunikasi yang dialami kedua subjek sejalan dengan teori dari Yastroki (2012) gangguan wicara atau afasia terjadi sekitar 15% dari kejadian stroke namun sangat mengganggu karena pasien akan menglami kesulitan dalam berkomunikasi dengan individu yang lain. Selain itu pendapat lain yang mendukung dari Damayanti (2015) mengatakan dampak lain adalah pasien malas berbagi duka, selalu menyimpan masalah sendiri dan itu yang membuat pasien menjadi murung.
Untuk mengatasi masalah harga diri rendah kronis dilakukan tindakan berupa
Setelah dilakukan implementasi selama 6 hari dan di dapatkan hasil pada keluarga subjek 1 adanya masalah kesiapan peningkatan dukungan karena subjek 1 lebih sering dengan pengasuh bukan keluarga, sedangkan untuk subjek 2 dukungan serta motivasi yang keluarga berikan ke subjek sudah sangat baik, di tambah semua anggota keluarga sangat dekat dengan subjek 2. Penulis berasumsi pentingnya peran masing-masing anggota keluarga dalam mendukung kedua subjek, lebih sering berinteraksi dan lebih sering menunjukan rasa sayang agar kedua subjek tidak merasa sendirian dan sedih karena masalah ini merupakan dampak dari ganggan komuniksi verbal yang dialami kedua subjek sesuai teori oleh samiadi (2016) Dampak afasia motoric yaitu depresi, pasien merasa frustasi karena tidak bisa menyampaikan pikiran kedalam kata-kata. Selain itu asumsi penulis didukung juga oleh teori Lingga (2013) dukungan keluarga sangat dibutuhkan oleh pasien pasca stroke guna mempercepat proses penyembuhan. Dukungan ini juga berarti memberi motivasi, dengan adanya motivasi maka penderita akan lebih giat berlatih dan keinginan sembuh akan muncul
4.2.8 Kurang pengetahuan
Hasil pengkajian kedua keluarga subjek sering sekali bertanya tentang bagaimana mestinya perawatan pasien stroke yang benar. Kurang pengetahuan dipicu oleh tingkat pendidikan, usia dan pekerjaan anggota keluarga atau pun subjek sejalan dengan teori wawan (2010) pendidikan diperlukan untuk mendapat informasi, misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan sehingga dapat
makin mudah menerima informasi, selain itu teori dari Hendra (2009) umur dan pekerjaan juga mempengaruhi pengetahuan karena menjelang usia lanjut kemampuan menerima atau mengingat suatu pengetahuan akan berkurang. Pekerjaan juga dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan karena orang yang menekuni bidang tertentu akan memiliki pengetahuan mengenai segala sesuatu dalam pekerjaannya.
Intervensi yang penulis ambil dalam masalah ini terkait pemberian pendidikan kesehatan perawatan klien stroke di rumah. Setelah di lakukan implementasi selama 6 hari dan di dapatkan hsasil kedua keluarga subjek mengatakan sudah memahami cara merawat kedua subjek dan dapat mendemostrasikan beberapa hal yang mendukung untuk perawatan stroke di rumah seperti ROM dan fisioterapi dada.
Penulis berasumsi tingkat pengetahuan keluarga dapat mempengaruhi sikap dan persepsi dalam merawat anggota keluarga yang sakit sesuai dengan teori oleh Putro (2012) stroke akan menimbulkan dampak secara langsung pada penderita yaitu antara lain pengetahuan, sikap, persepsi, motivasi, niat, referensi dan sosial. Penulis berasumsi kedua keluarga cepat dan dapat menyikapi perubahan persepsi tentang stroke yang merupakan sarana yang dapat membantu keluarga subjek menjalankan penanganan stroke karena semakin banyak dan semakin baik keluarga mengerti tentang penyakit stroke semakin mengerti harus mengubah perilakunya.
4.2.9 Kesiapan peningkatan koping keluarga
sebesar dukungan anggota keluarga pada subjek 2 dan kedekatan masing-masing anggota keluarga dapan mempengaruhi koping pada kedua subjek. Masalah ini merupkan dampak stress jangka panjang yang kedua keluarga subjek alami sependapat dengan teori yang disampaikan oleh Levin (2009) bahwa pada pasien stroke post serangan membutuhkan waktu yang lama untuk memulihkan dan memperoleh fungsi penyesuaian diri.
Intervensi penulis untuk keluarga subjek 1 yaitu agar setiap anggota keluarga dapat mengungkapkan perasaanya, menyelesaikan masalah keluarga dengan mufakat dan saling mendukung satu sama lain. Setelah dilakukan implementasi selam 6 hari dan di evaluasi kesiapan peningkatan koping keluarga telah teratasi keluarga dapat menerima saran dan memecahkan masalah dnegan cara mufakat.
Penulis berasumsi bahwa dukungan antar anggota keluarga sangat berpengaruh pada keluarga itu sendiri dan subjek yang sedang sakit. Penulis sependapat dngan teori oleh Arinda (2009) peran keluarga sesuai dengan tuga-tugas keluarga dala bidang keshatan adalah memberikan perawatan pada anggota keluarga yang sakit, misalnya membantu penderita berlatih, memberi semangat dan motivasi, menjaga kebersihan diri dan mempertahankan hubungan sosial.
Dukungan dan perhatian yang baik dari keluarga dapat mempercepat proses penyembuhan terutama pada subjek dengan stroke sesuai dengan teori yang disampaikan oleh suratini (2009) peran keluarga yang baik membuat keyakinan penderita untuk sembuh semakin meningkat sehingga menyebabkan klien memiliki
mendukung, menghargai dan mempunyai pandangan positif akan menghasilkan perasaan yang positif dan berarti.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1Kesimpulan
Berdasarkan hasil penerapan asuhan keperawatan keluarga pada keluarga subjek 1 dan subjek 2 di Home Care Cahaya Husada Kalimantan timur Samarinda sehingga penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:
5.1.1 Hasil pengkajian yang di dapatkan dari kedua klien manunjukan adanya tanda dan gejala yang sebagian besar sama namun ada pula yang berbeda, keluhan yang dirasakan subjek 1 yaitu adanya luka dekubitus pada bagian punggung bawah, kelemahan anggota gerak tubuh, gangguan komunikasi, peningkatan nutrisi, kesiapan untuk perawatan diri, kurang percaya diri dan kurang pengetahuan serta peningkatan dukungan keluarga. Kemudian pada subjek 2 yaitu adanya penumpukan sekret di tenggorokn, luka decubitus pada bagian punggung bawah, kelemahan anggota gerak tubuh, gangguan komunikasi, peningkatan nutrisi, kesiapan untuk perawatan diri, kurang percaya diri dan kurang pengetahuan.
5.1.2 Diagnosa yang timbul pada kedua pasien sebagian besar sama namun ada yang berbeda. Diagnosa pada subjek 1 adalah gangguan integritas kulit, gangguan mobilits fisik, gangguan komunikasi verbal, kesiapan untuk meningkatkan nutrisi, resiko tidak efektifnya perfusi
jaringan cerebral, kesiapan peningkatan perawatan diri, harga diri rendah kronis, kurangnya pengetahuan, dan kesiapan peningkatan koping. Sedangkan pada subjek 2 bersihan jalan nafas tidak efektif, gangguan integritas kulit, gangguan mobilits fisik, gangguan komunikasi verbal, kesiapan untuk meningkatkan nutrisi, resiko tidak efektifnya perfusi jaringan cerebral, kesiapan peningkatan perawatan diri, harga diri rendah kronis, dan kurangnya pengetahuan
5.1.3 Intervensi keperawatn yang dilakukan sesuai dengan perencanaan 5.1.4 Implementasi keperawatn yang dilakukan sesuai dengan
perencanaan
5.1.5 Hasil evaluasi yang dilakukan oleh penulis pada subjek 1 dari 9 masalah keperawatan dapat teratasi defisit pengetahuan, kesiapan peningkatan perawatan diri, hambatan mobilirtas fisik, kerusakan integritas kulit, kesiapan untuk meningkatan nutisi sedangkan pada subjek 2 dari 9 masalah keperawatn dapat teratasi gangguankomunikasi verbal teratasi defisit pengetahuan, kesiapan peningkatan perawatan diri, hambatan mobilirtas fisik, kerusakan integritas kulit, kesiapan untuk meningkatan nutisi
5.2Saran
5.2.1 Bagi penulis
Hasil studi kasus yang penulis telah lakukan tentang asuhan
pada pasien stroke di Home care Cahaya Husada Kalimantan Timur Samarinda
5.2.2 Bagi Tempat Penelitian
Hasil studi kasus yang penulis telah lakukan tentang asuhan keperawatan keluarga diharapkan dapat menjdi acuan bagi perawat dalam meberikan asuhankeperawatan keluarga secara komperhensif pada klien pasca stroke di Home care Cahaya Husada Kalimantan Timur Samarinda
5.2.3Bagi Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Hasil kasus dalam penulisan ini diharapkan dapat memberikan informasi dan pengetahuan dibidang keperawatan tentang asuhan keperawatan keluarga pada klien pasca stroke
DAFTAR PUSTAKA
A, Wawan, Dewi M. (2010). Teori Dan Pengukuran Pengetahuan, Sikap Dan Perilaku Manusia. Yogyakarta: Nuha Medika
Afrida. (2016). Effect Of Ingesting Training Towards Dysphagia In Stroke Patiens In Haji Hospital And Makasar City Hospital.Makasar: Indonesian contremporary Nursing Journal.
Asmadi. (2008). Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: EGC
Azizah,Lilik M. (2011). Keperawatan Lanjut Usia. Yogyakarta: Graha Ilmu Budijanto Didik.(2017).Data Dan Informasi Kesehatan Profil Kesehatan
Indonesia 2016. Jakarta. Diakses pada tanggal 1 oktober 2018.
www.depkes.go.id/resources/download /pusdatin/profil-kesehatan- indonesia/Data-dan-Informasi_Profil-Kesehatan-Indonesia-2017.pdf
Corwin, J. Elizabeth. (2009). Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC
Darmayanti,christic.(2015). Apa Sih Dampak Stroke Itu.
http://m.Kompasiana.com /christiesuharto/apa-sih-dampak-dari-stroke- itu_5508de813311791bfa79d7 diakses tanggal 16 mei 2019
Derision, Marsinova B. Surani Warsito. (2016). Latihan Range OF Motion (ROM) Pasif Terhadap Rentang Sendi Pasien Pasca Stroke. Jakarta: Idea Nursing Journal Vol. VIII no. 2 2016
Djojodibroto, Darmawanto. (2009). Respiratory Medicine. Makasar: EGC.
Enny, Mulyatsih. Airiza Ahmad. (2015).Petunjuk Perawatan Pasien Stroke Di Rumah. Jakarta:Badan penerbit FKUI
Friedman,Marilyn M.( 2010).Buku Ajar Keperawatan Keluarga. Jakarta:EGC Gusti Salvari.(2013).Buku Ajar Asuhan Keperawatan Keluarga. Jakarta: CV
Trans Info Media
Harnowo, Putro Agus. (2011). Terapi Wicara Bantu Rehabilitas Pasien Stroke.
http://m.detik.com/heath/reas/2011/10/31/094843/1756105/763 diakses
Hernta. I. (2013). Ilmu Lengkap Kedokteran Tentang Neeurosains.
Jogjakarta.Medika
Ramdhani, agi.(2014). Mengenal Gejala Stroke. http://jurnal.selasar.com./gaya - hidup/mengenal-gejala-stroke, diakses tanggal 16 mei 2019
Rizaldy.(2010).Awas Stroke. Yogyakarta:Andi
Somantri, Irman. (2009). Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem Pernafasan. Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika.
Kementrian kesehatan RI. (2014). Info Datin Situasi kesehatan Jantung. Diakses tanggal 1 oktober 2018. www.depkes.go.id/download.php?file
=download/pusdatin/infodatin/infodatin-jantung.pdf
Kementrian kesehatan badan penelitian dan pengembangan kesehatan. (2018).
Hasil Utama Riskesdes 2018. Diakses pada tanngal 2 oktober 2018.
www.persi.or.id/analis-data/686-hasil-utama-riskesdas-2018-
kementerianwww.persi.or.id/analis-data/686-hasil-utama-riskesdas-2018- kementerian-kesehatan-badan-penelitian-dan-pengembangan-kesehatan Lumbantobing Sm.(2013). Stroke Bencana Perdarahan Di Otak. Jakarta:EGC Marlina, Y. (2010). Gambaran Faktor Risiko Pada Penderita Stroke Iskemik Di
RSUP. H. Adam malik Medan: jurnal ilmu keperawatan dan kebidanan
Mutia, Levina. (2015). Profil Penderit Ulkus Dekubitus Yang Menjalani Tirah Baring Di Ruang Rawat Inap PRUD Arifin Achmad Riau. Riau. JOM FK Volume 2 no.2 Oktober 2015.
Nurarif, Huda A. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis Dan Nanda Nic-Noc Edisi Revisi Jilid 3. Yogyakarta: Mediaction.
Padila. (2012). Keperawatan Keluarga. Cetakan Pertama. Jogjakarta: Penerbit Nuda Medika
Parellangi, Andi.(2017). Home Care Aplikasi Praktik Berbasis Evidence-Based.
Yogyakarta:ANDI
Pinzon, R., Laksmi, Asanti., Sugianto., & kriswanto, W.2010. Awas stroke!
Pengertian, gejala, tindakan, perawatan, dan pencegahan, Yogyakarta: ANDI Prihatin, Wahyu Lia. (2014). Perbedaan Efektifitas Terapi AIUEO Dan Melodic
Intonation Therapy (MIT), Jurnal Ilmu Keperawatan Dan Kebidanan. Diakses