• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembangunan Berspektif Gender

BAB I PENDAHULUAN

2.1 Landasan Teori

2.1.2 Pembangunan Berspektif Gender

10. Mengurangi kesenjangan intra dan antarnegara.

11. Menjadikan kota dan permukiman inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan.

12. Menjamin pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan.

13. Mengambil tindakan cepat untuk mengatasi perubahan iklim dan dampaknya.

14. Melestarikan dan memanfaatkan secara berkelanjutan sumber daya kelautan dan samudera untuk pembangunan berkelanjutan.

15. Melindungi, merestorasi, dan meningkatkan pemanfaatan berkelanjutan ekosistem daratan, mengelola hutan secara lestari, menghentikan penggurunan, memulihkan degradasi lahan, serta menghentikan kehilangan keanekaragaman hayati.

16. Menguatkan masyarakat yang inklusif dan damai untuk pembangunan berkelanjutan, menyediakan akses keadilan untuk semua, dan membangun kelembagaan yang efektif, akuntabel, dan inklusif di semua tingkatan.

17. Menguatkan sarana pelaksanaan dan merevitalisasi kemitraan global untuk pembangunan berkelanjutan.

Jika dicermati, semua tujuan ini bermaksud agar pembangunan yang dilakukan tidak hanya dapat dimanfaatkan di waktu itu saja, namun secara berkelanjutan yang berdasarkan hak asasi manusia dan kesetaraan untuk mendorong pembangunan sosial, ekonomi dan lingkungan hidup. SDGs/TPB diberlakukan dengan prinsip-prinsip universal, integrasi dan inklusif untuk meyakinkan bahwa tidak akan ada seorang pun yang terlewatkan atau “No-one Left Behind”. Tujuan kelima dari SDGs/TPB di Indonesia sudah pro-gender, dimana kesetaraan gender dan pemberdayaan kaum perempuan sudah termasuk dalam proses pembangunan berkelanjutan.

Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (TPB/SDGs) 2015-2030 yang merupakan kelanjutan dari Millenium Development Goals (MDGs), dan diwujudkan dengan terbitnya Perpres Nomor 59 Tahun 2017 Tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Keikutsertaan Indonesia dalam TPB/SDGs merupakan upaya mencapai tujuan pembangunan secara berkelanjutan yang merata dan berkeadilan, yang mana dalam proses pembangunan ini maka perlu mengintegrasikan gender dalam perencanaannya yang sudah tertuang dalam tujuan kelima dari TPB/SDGs dimana tujuan tersebut sudah pro-gender.

Tonggak sejarah integrasi gender dalam pembangunan dimulai dengan gerakan perempuan di dunia yaitu Konferensi Internasional pertama tentang perempuan yang diselenggarakan di Mexico City pada tahun 1975. Bertepatan dengan konferensi itu pula muncul gagasan untuk membuat draft mengenai hak- hak perempuan yang dapat berlaku universal, yang kemudian dikenal dengan konvensi perempuan. Topik-topik yang dibicarakan pada konferensi pertama adalah :

1) Peningkatan partisipasi perempuan dalam angkatan kerja

2) Perlakuan yang lebih baik terhadap tenaga kerja perempuan yang mencerminkan prinsip-prinsip dalam konvensi ILO

3) Kesehatan dan pendidikan

4) Konsep keluarga dalam masyarakat modern 5) Kependudukan dan trend demografi

6) Perumahan dan berbagai fasilitas yang berhubungan dengan itu

7) Masalah-masalah sosial yang mempengaruhi perempuan seperti kesempatan yang sama untuk mendapatkan pelayanan sosial, perempuan migran, orang tua, kriminalitas perempuan, prostitusi dan trafficking (Handayani & Sugiarti, 2008:28).

Kemudian diikuti dengan konferensi kedua yang diselenggarakan di Kopenhagen pada tahun 1980. Tema yang dibahas dalam konferensi adalah

“pekerjaan, kesehatan dan pendidikan”. Bagian terpenting dari konferensi kedua adalah diadopsinya “Konvensi Perempuan” sebagai dokumen internasional yang dapat diratifikasi oleh negara-negara anggota PBB. Pentingnya konferensi perempuan ini dapat dilihat dari penandatanganan segera konvensi tersebut oleh enam puluh negara dan saat ini telah diratifikasi oleh lebih dari 165 negara. Lalu dilanjut dengan konferensi ketiga di Nairobi pada tahun 1985 mengambil tema

Equality, Development and Peace”. Tujuan dari konferensi Nairobi adalah untuk meninjau pencapaian dari satu dekade internasional tentang perempuan dan mencatat kemajuan yang telah dicapai. Hasil dari konferensi itu adalah Nairobi Forward Looking Strategies for the Advancement of Women to the year 2000.

Konferensi Internasional keempat tentang perempuan berlangsung di Beijing pada tahun 1995. Hasil konferensi internasional di Beijing adalah penegasan secara global mengenai peran sentral dari HAM untuk perjuangan ke arah persamaan/kesetaraan gender. Dalam Handayani & Sugiarti (2008:29) Platform for Action dan 12 Areas of Concern yang menjadi kesepakatan adalah :

1) Perempuan dan kemiskinan

2) Perempuan dan pendidikan serta pelatihan 3) Perempuan dan kesehatan

4) Kekerasan terhadap perempuan 5) Perempuan dalam konflik bersenjata 6) Ketimpangan ekonomi

7) Perempuan dan politik dan pengambilan keputusan 8) HAM perempuan

9) Mekanisme institusional 10) Perempuan dalam media

11) Perempuan dan lingkungan hidup 12) Hak anak perempuan

Kesemuanya ini mencerminkan penguatan kembali prinsip yang telah tercantum dalam konvensi perempuan dan berbagai perjanjian yang ada tentang hak asasi manusia.

Guna membahas berbagai kesulitan dan kendala guna mendorong kemajuan pemberdayaan/pemampuan perempuan di seluruh dunia maka perlu diambil tindakan yang segera dengan tekad, semangat, harapan, kerjasama dan solidaritas, pada masa kini dan untuk masa mendatang. Untuk mewujudkan keinginan persamaan hak dan martabat manusia yang menjadi sifat laki-laki dan perempuan serta tujuan dan prinsip-prinsip lainnya yang dimuat dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa salah satunya adalah Konvensi tentang Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women), pada tanggal 18 Desember 1979 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menyetujui konvensi tersebut.

Karena ketentuan konvensi pada dasarnya tidak bertentangan dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Pemerintah Republik Indonesia dalam Konferensi Sedunia Dasawarsa Perserikatan Bangsa-bangsa bagi perempuan di Kopenhagen pada tanggal 29 Juli 1980 telah menandatangani konvensi tersebut.

Kemudian pemerintah Indonesia melakukan tindak lanjut dengan meratifikasi CEDAW melalui UU Nomor 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan. Sebagai negara yang telah meratifikasi CEDAW melalui UU No. 7/1984, Indonesia berkewajiban untuk mengimplementasikan seluruh hak asasi perempuan seperti yang tercantum dalam konvensi ini. Selain itu, Indonesia sebagai negara juga berkewajiban untuk

memberikan laporan secara berkala kepada Komite CEDAW atas perkembangan dan kemajuan implementasi 16 (enam belas) pasal substantif yang tercantum dalam konvensi.

Agar konsep gender selalu dapat melekat dalam pembangunan di Indonesia maka diperlukan suatu strategi yang disebut dengan Pengarusutamaan Gender. Dalam Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2000 Tentang Pengarusutamaan Gender Dalam Pembangunan Nasional yang disebut dengan Pengarusutamaan Gender adalah strategi yang dibangun untuk mengintegrasikan gender menjadi satu dimensi integral dari perencanaan, penyusunan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi atas kebijakan dan program pembangunan nasional. Menurut Purnomosari dkk. (2012:10) prinsip pengarusutamaan gender atau yang disebut juga gender mainstreaming adalah

“bekerja bersama, berperan setara” yang dalam prakteknya, diharapkan peran ini dapat dilakukan oleh laki-laki dan perempuan mulai dari komunitas kecil seperti keluarga, sampai pada skala yang besar yaitu kehidupan berbangsa dan bernegara.

Konsep dari pemberdayaan perempuan dengan pengarusutamaan gender adalah dua hal yang berbeda. Dalam konsep pemberdayaan perempuan hanya berkonsentrasi untuk memupuk kekuatan perempuan saja agar dapat menjadi bagian dalam pembangunan atau dengan kata lain perempuan dapat “berdiri di kaki sendiri”. Sedangkan dalam pengarusutamaan gender, laki-laki dan perempuan dapat terlibat maupun dilibatkan sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing dalam pembangunan.

Dokumen terkait