• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBENTUK BIOFILM PADA KATETER

Zahrotul Illiyin1, Endah Prayekti2, Thomas Sumarsono3

1,2,3Program Studi D-IV Analis Kesehatan, Fakultas Kesehatan, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya-Jl. Raya Jemursari 51-57 Surabaya

E-mail: [email protected]1, [email protected]2

Abstract: Urinary Tract Infection (UTI) is an infection caused by the growth of pathogenic microorganisms. This infection most often occurs due to the use of hospital equipment, one of which is a catheter. The use of a long and permanent catheter can make the bacteria adhere to form biofilm bacteria. To prevent the growth of biofilm-forming bacteria, one effort that must be made is to use an antibacterial layer on the catheter surface. This Systematic Literature Review This aims to determine the antibacterial layer that can be used to inhibit the growth of biofilm-forming bacteria on the catheter surface. This research methods was colleting research journal form google scholar and clinical key database using the PRISMA flow guidelines. Journal for data extraction were obtained from 5 main reference journals. Criteria used for obtaining reference journal were journal using experimental design, completely rendomized desingn (CRD), not late than 2015, and synthetic antibacterial layer for chatheter surface. The results of the review show that the ACNS layer, CHX-NS layer, PPX-N layer, AG- PTFE layer, and Ag-NPs layer can inhibit the growth of the tested bacteria with different variations in the presentation of resistance from one another. In Conclusions, the antibacterial coating applied to the cathetersurfece can inhibit the growth of Escherichia coli biofilm as main caused of UTI.

keywords: UTI; biofilm; antibacterial coating; catheter.

Abstrak: Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan infeksi yang disebabkan oleh pertumbuhan mikroorganisme patogen infeksi ini paling sering terjadi karena kesalahan penggunaan peralatan rumah sakit, salah satunya yaitu kateter. Penggunaan kateter yang lama dan menetap dapat menjadikan media perlekatan bakteri membentuk bakteri biofilm. Untuk mencegah pertumbuhan bakteri pembentuk biofilm salah satu upaya yang harus dilakukan yaitu dengan menggunakan lapisan antibakteri pada permukaan kateter. Penelitian Systematic Literatur Review ini bertujun untuk mengetahui jenis lapisan antibakteri yang dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhan bakteri pembentuk biofilm pada permukaan kateter. Metode penelitian yang digunakan adalah mengumpulkan jurnal dari penelitian pada database google scholar dan clinical key dengan pedoma PRISMA flow. Jurnal yang digunakan untuk ektraksi data didapatkan 5 jurnal acuan utama. Kriteria pemilihan jurnal berdasarkan pada jenis penelitian ekperimental, Rancangan Acak Lengkap, tahun publikasi diatas 2015, menggunakan lapisan antibakteri sintetik pada permukaan kateter. Hasil review menunjukkan bahwa Lapisan ACNS, lapisan CHX-NS, lapisan PPX-N, lapisan AG-PTFE, dan lapisan Ag-NPs dapat menghambat pertumbuhan bakteri uji dengan variasi presentasi hambatan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Kesimpulan Systematic literatur review ini bahwa lapisan antibakteri yang digunakan pada permukaan kateter dapat menghambat pertumbuhan bakteri pembentuk biofilm penyebab ISK utama yaitu Escherichia coli.

kunci: ISK; biofilm; lapisan antibakteri; kateter.

NCU Systematic Literature Review : Penggunaan Lapisan Antibakteri Untuk Menghambat Pertumbuhan Bakteri Pembentuk Biofilm Pada Kateter

58 PENDAHULUAN

Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan keadaan klinis, dimana infeksi yang disebabkan oleh pertumbuhan mikroorganisme patogen. Bakteri patogen dapat memasuki saluran kemih melalui rute extra- luminal di sisi luar kateter dan rute intra-luminal disepanjang lumen kateter yang terkontaminasi. Kondisi menetapnya kateter urin yang terpasang didalam kandung kemih dapat menyebabkan media perlekatan bagi bakteri untuk kolonisasi biofilm (Afrilia, 2014). Biofilm adalah komunitas bakteri yang melekat pada substrat atau permukaan. Bakteri gram positif dan gram negatif dapat membentuk biofilm. Bakteri berlebih yang tumbuh pada permukaan kateter dapat berintegrasi pada material organik atau anorganik dan berinteraksi antara satu dengan yang lainnya. Kemampuan mikroorganisme pada permukaan dipengaruhi oleh interaksi elektrostatik dan hidrofobik, dan kekuatan ionik (Lorinda, 2014).

Tingginya prevalensi penggunaan kateter urin menyebabkan besarnya kejadian infeksi yang menghasilkan komplikasi infeksi dan kematian(Gould dan Brooker, 2009). Pendataan yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan jumlah pasien ISK di Indonesia tercatat sebanyak 90-100 kasus per 100.000 penduduk per tahunnya sekitar 180.000 kasus baru pertahun (Depkes RI, 2014).

ISK juga disebabkan kontaminasi bakteri pada tangan petugas medis dan perlengkapan medis (Afrilia, 2014). Terutama pemakaian kateter urin karena dapat memicu pertumbuhan bakteri pembentuk biofilm sehingga menyebabkan Catheter-associated Urinary Tract Infection (CAUTI). Untuk mengurangi kejadian CAUTI maka perlu adanya pelapis antibakteri pada permukaan kateter. Sehingga dilakukan studi literatur review yaitu penggunaan lapisan antibakteri untuk menghambat pertumbuhan bakteri pembentuk biofilm pada kateter.

METODE

Penelitian ini menggunakan Systematic Literatur Review (SLR) dimana pada pencarian jurnal didasarkan sesuai dengan pedoman PRISMA Flow.

Sumber data yang digunakan pada penelitian ini mengacu pada sumber database yang dapat diakses pada Google Scholar dan ClinicalKey. Dengan menggunakan kata kunci pada Google Scholar “Urinary Tract Infection, In-vitro antibiofilm, Coating antibacteri in catheter foley” sedangkan kata kunci yang digunakan ClinicalKey “Urinary Tract Infections, Biofilm, Catheter”.

Kriteria seleksi yang digunakan untuk pencarian jurnal yaitu dengan strategi PICOS sehingga dapat menguraikan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Kriteria inklusi (layak digunakan) SLR ini sebagai berikut (P) Kateter foley silikon; (I) Lapisan antibakteri menggunakan senyawa sintetik; (C) Kateter yang tidak dilapisi lapisan antibakteri; (O) Persentase penghambatan, visualisasi menggunakan mikroskop SEM, lamanya waktu penggunaan kateter; (S) Eksperimental, Rancangan Acak Lengkap (RAL); dan tahun publikasi jurnal 2016-2020 menggunakan bahasa Inggris dan indonesia. Sedangkan kriteria eksklusi (tidak layak digunakan) SLR ini sebagai berikut (P) Kateter plastik, latex/karet, logam; (I) Lapisan antibakteri menggunakan senyawa non sintetik; (C) Tidak ada pembanding; (O) Apabila tidak mencantumkan 3 parameter penghambatan, visualisasi, lamanya waktu penggunaan kateter (S) Observasional; dan tahun publikasi jurnal dibawah tahun 2016 menggunakan Semua bahasa kecuali inggris dan Indonesia.

Jurnal penelitian didapatkan dari database Google Scholar dan ClinicalKey. Tahun publikasi jurnal yang digunakan untuk seleksi yaitu tahun 2016-2020. Jurnal yang didapat diseleksi berdasarkan judul dan abstrak. Jurnal diseleksi kembali kembali berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi.

Data diekstraksi dengan formulir yang dikembangkan oleh peneliti dalam bentuk tabel. Formulir tersebut berisi tentang: penulis, tahun terbit junal, jenis lapisan antibakteri, jenis kateter, nama mikroorganisme uji, dan hasil penelitian.

Strategi analisis data dilakukan dengan cara deskriptif dimana jurnal penelitian yang sudah terkumpul telah memenuhi kriteria secara inklusi dan dibuat dengan tabel maupun narasi.

NATIONAL CONFERENCE FOR UMMAH (NCU) - VOLUME 01 NOMOR 01 (2020) ISBN: 978-623-7846-95-6

HASIL

Hasil pencarian jurnal penelitian (Gambar 1 PRISMA Flow SLR) mengacu pada sumber database google scholar dan ClinicalKey. Didapatkan jumlah jurnal keseluruhan sebanyak 369 dimana dari google scholar 216 jurnal sedangkan ClinicalKey didapatkan 153 jurnal. Selanjutnya jurnal dilakukan penghapusan duplikasi sebanyak 62 sehingga jumlah jurnal mejadi 307. Ditinjau berdasarkan judul dan abstrak sebanyak 293 jurnal yang tidak memenuhi kriteria. Sedangkan jumlah jurnal pada proses skrining yang memenuhi kriteria didapatkan sebanyak 14 jurnal. Untuk jurnal yang tidak memenuhi syarat terkontrol (ekslusi) sebanyak 9 jurnal yaitu 5 jurnal dengan penelitian observasional, 2 jurnal pengujian sampel dilakukan secara in-vivo, dan 2 jurnal menggunakan senyawa kimia non sintetik untuk lapisan antibakteri. Jurnal yang telah dilakukan proses asesmen kelayakan dan ekstraksi data di peroleh sebanyak 5 jurnal sesuai dengan kriteria inklusi sehingga dapat dilakukan Systematic literatur review.

Berdasarkan (Tabel 1 karakteristik jenis lapisan antibakteri pada kateter terhadap penghambatan bakteri pembentuk biofilm). Jurnal publikasi yang digunakan tahun 2016-2020 untuk desain penelitian yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL). Mikroorganisme uji yang digunakan dalam perlakuan penelitian in- vitro bakteri gram positif, gram negatif dan yeast. Sedangkan Jenis kateter yang digunakan untuk bahan penelitian menggunakan kateter foley yang dilapisi dengan jenis lapisan antibakteri yaitu aminoselulosa- nanosphare (ACNS), Lapisan Clorohexidine-nanosphare (CHX-NS), Lapisan Poli-p-xylylenen hydrophilic (PPX-N), Lapisan Perak-polytetrafluoroethylane (AG-PTFE) dan Lapisan perak- nanopartikel (Ag-NPs).

Google Scholar

Kata kunci: Urinary Tract Infection, In- vitro antibiofilm, Coating antibacteri in

catheter foley (n = 216)

ClinicalKey Kata kunci: Urinary Tract Infections, Biofilm, Catheter

(n = 153)

Jurnal setelah penghapusan duplikasi (n = 307)

Jurnal setelah skrining (n = 14)

Jurnal yang di eksklusi berdasarkan

judul dan abstrak (n = 293)

Jurnal full text yang telah dilakukan ekstraksi data sesuai dengan kriteria inklusi (n = 5)

Kriteria eksklusi (n=

9) :

a. Penelitian dengan Observasional (n

= 5)

b. Pengujian sampel dilakukan secara in-vivo (n = 2) c. Meggunakan

senyawa kimia non sintetik untuk lapisan antibakteri Jurnal full text yang telah dilakukan asesemen

kelayakan (n = 5)

NCU Systematic Literature Review : Penggunaan Lapisan Antibakteri Untuk Menghambat Pertumbuhan Bakteri Pembentuk Biofilm Pada Kateter

60 Gambar 1. PRISMA Flow SLR

Tabel 1. Karakteristik jenis lapisan antibakteri pada kateter terhadap penghambatan bakteri pembentuk biofilm

.

Penulis Tahun Jenis Lapisan

Antibakteri

Jenis Kateter

Mikroorganisme uji Hasil Francesko

dkk.

2016

aminoselulosa- nanosphare

Katerer foley

Pseudomonas aeruginosa*

Lapisan ACNS dapat menghambat

(ACNS) pertumbuhan hingga

70% dalam waktu kateterisasi 7 hari.

Srisang, S dan Norased,

2018

Clorohexidine- nanosphare

Kateter foley dua

Escherichia coli*, Staphylococcus

Lapisan CHX-NS dapat menghambat

N. (CHX-NS) arah aureus*, Candida pertumbuhan hingga

ukuran albicans** 50% dalam waktu 14

14Fr hari dengan MIC pada

bakteri 1,2 µg/ml dan MIC jamur 2,2 µg/ml.

Zare dkk.

2017

Poli-p-xylylenen hydrophilic

Kateter foley

Escherichia coli*, Staphylococcus

Lapisan PPX-N dapat menghambat

(PPX-N) ukuran18 aureus*, Candida pertumbuhan bakteri

Fr albicans** dalam waktu 22 hari.

Dengan konsentasi MIC E. coli dan S. cohnii 30 g/l.

Wang dkk.

2019

Perak-

polytetrafluoroe

Kateter foley dua

Escherichia coli* dan Proteus mirabilis*

Lapisan AG-PTFE dapat mengahmbat

thylane (AG- arah pertumbuhan bakteri

PTFE) ukuran 90% lebih lama.

16Fr Konsentrasi bakteri

ditemukan 106

penggunaan kateter

Shereen dkk.

2019

Perak- nanopartikel (Ag-NPs)

Keterangan : * = Bakteri

** = Yeast PEMBAHASAN

Kateter foley

Escherichia coli* dan Staphylococcus aureus*

sampai 6 hari sedangkan konsentrasi bakteri 102 penggunaan kateter sampai 41 hari.

Lapisan Ag-NPs dapat menghambat

pertumbuhan hingga 7 hari dengan konsentrasi MIC 2-4 µg/ml.

Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan infeksi nosokomial yang paling umum didapat di rumah sakit.

Sebagian besar ISK disebabkan oleh penggunaan kateter yang berkepanjangan (Zare, 2017). Beberapa dekade terakhir banyak upaya yang telah dilakukan untuk mencegah pertumbuhan bakteri pembentuk biofilm salah satunya yaitu dengan menggunakan lapisan antibakteri pada permukaan kateter (Francesko, 2016).

Lapisan antibakteri pada permukaan kateter yang digunakan pada beberapa penelitian yaitu meliputi

lapisan aminoselulosa-nanosphare (ACNS), Clorohexidine-nanosphare (CHX-NS), Poli-p-xylylenen

NCU Systematic Literature Review : Penggunaan Lapisan Antibakteri Untuk Menghambat Pertumbuhan Bakteri Pembentuk Biofilm Pada Kateter

62 hydrophilic (PPX-N), Perak-polytetrafluoroethylane (AG-PTFE), dan Perak-nanopartikel (Ag-NPs).

Penggunaan lapisan antibakteri ini didasarkan pada mekanisme penghambatan antibakteri. Secara umum mekanisme penghambatan antibakteri yaitu Penghambatan sintesis dinding sel, Perusakan mambran sel, penghambatan sintesis protein, Penghambatan sintesis asam nukleat, dan Menghambat metabolisme sel mikroba (Murwani, 2015).

Lapisan ACNS merupakan agen antibakteri karena mempunyai sifat positif yang dapat merusak membran sel bakteri sehingga menghambat perlekatan pada permukaan kateter (adhesi bakteri) (Francesko, 2016). Lapisan CHX-NS merupakan agen antimikroba dengan aktivitas interaksi antar kelompok fungsional dengan daerah bermuatan negatif yang mempunyai sifat penghambatan dimembran sitoplasma mikroorganisme (Srisang dan Noresed, 2018). Lapisan PPX-N hydrophilic merupakan antibakteri yang mempunyai sifat penghambatan pada dinding sel (Zare, 2017). Lapisan AG-PTFE yang mempunyai sifat merusak dinding sel bakteri sehingga menghambat perlekatan pada kateter (Wang, 2019). Lapisan Ag-NPs menghasilkan oksidadi pelepasan ion dari bakteri, dimana ion-ion ini berinteraksi didalam sel bakteri sehingga menyebabkan lisisnya membran sel serta fragmentasi sel bakteri (Sheeren, 2019).

Selain mekanisme penghambatan, proses pelapisan antibakteri pada permukaan kateter dapat di evaluasi dengan pengujian menggunakan Scanning Electron Microscopy (SEM). Tebal dan kasarnya lapisan dapat menentukan sifat dari pelapisan antibakteri pada permukaan kateter, lapisan yang digunakan terlalu tebal menyebabkan biokompabilitas antara kateter dengan sel bakteri, sedangkan lapisan digunakan terlalu tipis dapat menyebabkan sifat resistensi antibakteri. Sebab itu karakteristik lapisan harus diperhatikan untuk menyeimbangkan sifat antibakteri dan biokompabilitas (wang, 2019).

Pelapisan antibakteri pada permukaan kateter juga harus mempertimbangkan sifat toksisitas. Dimana sifat toksisitas lapisan antibaktreri tersebut dapat menghambat pertumbuhan bakteri atau sebaliknya menyebabkan toksisitas apabila terjadi kontak pada bagian jaringan tubuh. Shereen (2019), meneliti pelepasan ion perak pada kateter dapatkan dengan jumlah pelepasan Ag yang dilapisi sekitar 2-4 µg/ml.

Konsentrasi perak tersebut lebih tinggi dari konsetrasi biosidal minimal 1,5 µg/ml, kurang dari 10 µg/ml yang dianggap sebagai konsentrasi toksik bagi sel manusia. Zare (2017), meneliti pelepasan ion didapatkan hasil sekitar 200g/l dimana hasil berkorelasi dengan nilai konsentrasi hambat minimun (MIC) bakteri E.

coli S. cohnii 30 g/l peningkatan pelepasan ion perak dapat menghambat pertumbuhan bakteri dan mencegah pembentukan biofilm. Srisang (2018), mengukur pelepasan polimer nanosfer didapat MIC dari E. coli dan S. aureus 1,2 g/ml sedangkan C. albicans 2,2 g/ml. Pelepasan polimer nanosfer merupakan nilai yang cukup dalam menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada permukaan kateter.

Aktivitas antibakteri pada permukaan kateter juga dapat dilihat menggunakan bakteri uji dengan uji zona hambat, didapatkan hasil E. coli 18 nm dan S. cohnii 0,4 nm. Zona hambat E. coli lebih besar dari pada S. cohnii karena perbedaan biologis dan respon fisiologis bakteri gram positif dan gram negatif dimana bakteri gram positif memiliki dinding peptidoglikan yang lebih tebal dibandingkan bakteri gram negatif (Zare, 2017).

SIMPULAN DAN SARAN

Lapisan antibakteri dari jenis aminoselulosa-nanosphare (ACNS), Clorohexidine-nanosphare (CHX- NS), Poli-p-xylylenen hydrophilic (PPX-N), Perak-polytetrafluoroethylane (AG-PTFE) dan Perak- nanopartikel (Ag-NPs) yang dilapisi pada permukaan kateter dapat menghambat pertumbuhan bakteri pembentuk biofilm yang merupakan bakteri penyebab ISK utama yaitu bakteri Escherichia coli dan beberapa bakteri gram negatif maupun gram positif meliputi Pseudomonas aerouginosa, Staphylococcus aureus, Proteus mirabilis dan Staphylococcus cohnii.

Penelitian systematic literatur review ini, Dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai penggunaan lapisan antibakteri pada permukaan kateter dengan senyawa kimia sintetik, kimia non-sintetik, dan biosurfaktan. Sedangkan untuk mengenai percobaan uji menggunakan model in-vivo kateterisasi kandung kemih.

NATIONAL CONFERENCE FOR UMMAH (NCU) - VOLUME 01 NOMOR 01 (2020) ISBN: 978-623-7846-95-6

DAFTAR RUJUKAN

Afrilia, I., Erly., dan Almurdi. (2014). Identifikasi Mikroorganisme Penyebab Infeksi Saluran Kemih Pada Pasien Pengguna Kateter Urine di ICU RSUP Dr. M. Djamil Padang Periode 01 Agustus- 30 November 2014. Jurnal Kesehatan. Universitas Andalas Padang.

Departemen Kesehatan. (2014). Survey demografi dan kesehata indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Francesko, A., Margarida, M. F., Kristina, I., Sara, A., Rui, l. R., Iva, P., Ernest, M., Annett, P., Thomas, H., Tzako, T.

(2016). Bacteria-responsive multilayer coating comprising polycationic nanospheres for bacteria biofilm prevention on urinary catheters. Acta Biomaterialia 33, 203-212.

Gould, D., dan Brooker, C. (2009). Mikrobiologi Terapan Untuk Perawat. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Lorinda, R. P., Harahap., Rafita, R., Rusdias., Oke, R. R., dan Rosmayanti, S. (2014). Infeksi Nosokomial Saluran Kemih Paska Kateterisasi Urin Pada Anak. Journal Kesehatan. Universitas Sumatra Utara.

Murwani, S. (2015). Dasar-dasar Mikrobiologi Veteriner. Malang: penerbit eletronik pertama dan terbesar di indonesia.

Shereen, M. E., Mohammed, A. Y., Tarek, A. E., Fikri, M. R., Ahmed, A. S. 2019. Facile coating of urinary catheter with bio-inspired antibacterial coating. Heliyon, 5, 1-8.

Srisang, S dan Norased, N. (2018). Spray coating of foley urinary catheter by chlorhexidine-loaded poly (ɛ- caprolactone) nanospheres: effect of lyoprotectans, characteristics, and antibacterial activity evalution.

Pharmaceutical Development and Technology, 24, 1-7.

Wang, L., Zhang, S., Keatch, R., Corner, G., Nabi, G., Mordoch, F., Davidson., Zhao, Q. (2019). In-vitro antibacterial and enti-encrustation performance of silver-polytetrafluoroethylene nanocomposite coated urinary catheters. Journal of Hospital Infection, 103, 55-63.

Zare, H. H., Viktorija, J. A., dan Gerhard, Z. (2017). Efficacy of silver/hydrophilic poly(p-xylylene) on preveting bacterial growth and biofilm formation in urinary catheters. Biointer phase, 12, 1-10.

63

Literature Review: Analisis Faktor Risiko Pneumonia pada Balita

Mukhammad Antonio Nuh Vicasco1, Dwi Handayani2

1,2Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya-Jl. Raya Jemursari 51-57, Surabaya, Jawa Timur

1[email protected],2[email protected]

Abstract: Pneumonia is acute respiratory infection affecting human lungs. Pneumonia is the one of caused high number of illness and death on toddler. Purpose of this literature review is to analyze pneumonia’s risk factors on toddler. This research is a literature review study. Main data course comes from multiple database that is Google Scholars, Garba Rujukan Digital and Proquest between 2015- 2020. The keyword used is pneumonia pada balita” dan “pneumonia on children under five years of age”. After screening, there is 12 relevant articles and became analysis materials for this research. The result is 6 of 12 journals explained a history of exclusive breastfeeding is a pneumonia risk factors on toddler, 5 of 12 journals explained nutritional status is pneumonia risk factors on toddler, 5 of 12 journals explained immunization status is pneumonia risk factors on toddler and 4 of 12 journals explained a history of low birth weight is pneumonia risk factors on toddler. Conclusion of this literature review is a history of exclusive breastfeeding, nutritional status, immunization status and a history of low birth weight are risk factors that influence the incidence of pneumonia on toddler. Therefore, for health workers is active to providing education about pneumonia’s risk factors that is the important of exclusive breastfeeding, increase immunization coverage, monitoring nutrition status by Health Card Toward (KMS) and increase antenatal care.

Keywords: Exclusive Breastfeeding, Immunization Status, Low Birth Weight, Nutrition Status, Pneumonia.

Abstrak: Pneumonia merupakan infeksi pernapasan akut yang menyerang paru-paru manusia.

Pneumonia masih menjadi salah satu penyebab tingginya angka kesakitan dan kematian pada balita saat ini. Tujuan penulisan literature review ini adalah untuk menganalisis faktor risiko kejadian pneumonia pada balita. Penelitian ini adalah studi literature review. Sumber data yang digunakan berasal dari berbagai database yakni Google Scholars, Garba Rujukan Digital dan Proquest dari rentang tahun 2015- 2020. Kata kunci yang digunakan adalah “pneumonia pada balita” dan “pneumonia on children under five years of age”. Setelah dilakukan screening, didapatkan 12 artikel yang relevan dan menjadi bahan analisis dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 6 dari

12 jurnal yang menyimpulkan bahwa riwayat pemberian ASI eksklusif merupakan faktor risiko pneumonia pada balita, 5 dari 12 jurnal menyimpulkan bahwa status gizi merupakan faktor risiko pneumonia pada balita, 5 dari 12 jurnal menyimpulkan bahwa status imunisasi merupakan faktor risiko pneumonia pada balita, serta 4 dari 12 jurnal menyimpulkan bahwa riwayat berat badan lahir rendah merupakan faktor risiko pneumonia pada balita. Kesimpulan literature review ini didapatkan bahwa riwayat pemberian ASI eksklusif, status gizi, status imunisasi dan riwayat BBLR merupakan faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian pneumonia pada balita. Oleh karena itu, bagi tenaga kesehatan diharapkan dapat berperan aktif untuk memberikan edukasi mengenai faktor risiko pneumonia seperti pentingnya pemberian ASI eksklusif, peningkatan cakupan imunisasi, pemantauan status gizi balita melalui Kartu Menuju Sehat (KMS), serta peningkatan cakupan pemeriksaan kehamilan.

Kata kunci: ASI Eksklusif, Berat Badan Lahir Rendah, Pneumonia, Status Gizi, Status Imunisasi.

NATIONAL CONFERENCE FOR UMMAH (NCU) - VOLUME 01 NOMOR 01 (2020) ISBN: 978-623-7846-95-6

PENDAHULUAN

Suistanable Development Goals (SGD) dalam tujuannya yang ke 3 “kehidupan sehat dan sejahtera” menekankan pada penurunan angka kematian ibu dan anak di tahun 2030. Target SDG menurunkan angka kematian anak yakni, pada angka kematian balita ditargetkan pada tahun 2030 akan menjadi 25 per 1000 kelahiran hidup sedangkan angka kematian neonatal akan menjadi 12 per 1000 kelahiran hidup. Berinvestasi pada anak sangat penting dalam mencapai pembangunan berkelanjutan, dan memonitoring kemajuan pada anak sangat krusial dalam menentukan investasi apa yang harus di jalankan. Karena itu, SGD mengakui anak sebagai agen perubahan (agent of change) dan penerus (toch-bearer) bagi pembangunan berkelanjutan (Bappenas & Unicef, 2017).

Berdasarkan laporan Unicef tercatat di tahun 2018 sekitar 802.000 balita meninggal karena pneumonia, 437.000 balita meninggal karena diare, dan 272.000 balita meninggal karena malaria.

Secara global, ada lebih dari 1.400 kasus pneumonia per 100.000 anak, atau 1 kasus per 71 anak setiap tahunnya, dengan insiden terbesar terjadi di wilayah Asia Selatan (2.500 kasus per

100.000 anak) dan Afrika Barat dan Tengah (1.620 kasus per 100.000 anak) (Unicef, 2019).

Menurut Pneumonia & Diarrhea Progress Report 2018, Indonesia merupakan salah satu dari 15 negara dengan angka kematian akibat pneumonia tertinggi di dunia tahun 2017 (IVAC, 2018).

Berdasarkan data Profil Kesehatan Indonesia tahun 2017, jumlah angka kematian akibat pneumonia pada balita pada tahun 2017 di Indonesia sebanyak 1.752 kasus kematian (0,34%).

Angka ini mengalami peningkatan dibanding dengan angka kematian di tahun 2016 yaitu 598 kasus kematian (0,11%) (Kemenkes RI, 2018). Meskipun di tahun 2018 angka kematian balita akibat pneumonia di Indonesia mengalami penurunan menjadi 425 kasus kematian (0,08%), tetapi persentase kabupaten/kota yang 50% puskesmasnya melakukan pemeriksaan dan tatalaksana standar pneumonia melalui pendekatan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) belum memenuhi target dari Renstra 2018. Hasil yang diperoleh pada tahun 2018 sebesar 43%, angka ini masih dibawah target Renstra di tahun 2018 yakni sebesar 50% (Kemenkes RI, 2019).

Faktor risiko yang berkaitan dengan pneumonia pada balita diantaranya adalah status gizi, berat lahir rendah (kurang dari 2500 gram saat lahir), kurangnya pemberian ASI eksklusif pada enam bulan pertama kehidupan, serta status imunisasi yang tidak lengkap (Manurung, 2015).

Kasus pneumonia pada balita ini perlu mendapatkan perhatian serius agar negara mampu menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dengan menjaga kesehatan mulai dari masa pertumbuhan seseorang. Berdasarkan uraian di atas, maka diperlukan kajian literature mengenai

“Analisis Faktor Risiko Pneumonia Pada Balita”.

METODE

Penelitian ini adalah studi literature review. Sumber data yang digunakan berasal dari

berbagai database yakni Google Scholars, Garba Rujukan Digital dan Proquest dari rentang tahun

2015-2020. Kata kunci yang digunakan adalah “pneumonia pada balita” dan “pneumonia on

children under five years of age”. Setelah dilakukan screening, didapatkan 12 artikel yang relevan

dan menjadi bahan analisis dalam penelitian ini.