• Tidak ada hasil yang ditemukan

C. Sistematika Penulisan

4. Pembiayaan

a. Pengertian Pembiayaan

Menurut undang undang Perbankan NO.10 Tahun 1998

“pembiayaan adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setekah waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil”32

Menurut Syafi’I Antonio, pembiayaan merupakan salah satu tugas pokok bank, yaitu pemberian fasilitas penyediaan dana untuk memenuhi kebutuhan pihak pihak yang merupakan defisit unit.33 Pengertian lain menyebutkan, pembiayaan adalah

31 Ibid h.71

32 Undang – undang No 10 tahun 1998 tentang perbankan

33 Muhammad Syafi’I Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktek, (Jakarta: Gema insani Press, 2004), h.160

20

suatu fasilitas yang diberikan bank islam kepada masyarakat yang membutuhkan dana yang telah dikumpulkan oleh bank islam dari masyarakat yang surplus dana.34

b. Jenis-jenis Pembiayaan Bank Syariah 1) Murabahah

Jual beli murabahah adalah pembelian oleh satu pihak untuk kemudian dijual kepada pihak lain yang telah mengajukan permohonan pembelian terhadap suatu barang dengan keuntungan atau tambahan harga yang transparan.

Pembayaran murabahah dapat dilakukan secara tunai atau cicilan. Harga yang disepakati dalam murabahah adalah harga jual sedangkan harga beli harus diberitahukan.35 2) Salam

Salam berasal dari kata As salaf yang artinya pendahuluan karena pemesan barang menyerahkan uang dimuka. Akad salam dapat didefinisikan sebagai transaksi atau akad jual beli dimana barang yang diperjual belikan belum ada ketika transaksi dilakukan, dan pembeli melakukan pembayaran dimuka sedangkan penyerahan barang baru dilakukan dikemudian hari.36

34 Muhammad, Manajemen Bank Syariah, (Yogyakarta: UPP AMP YKPN, 2005),h.71

35 Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah, (Jakarta: Kencana PrenaPamedia Proup,2013), h. 136

36 Kautsar Riza Salman, Akuntansi Perbankan Syariah, (Padang:Akademia Permata, 2012), h.173

Menurut Kompilsi Hukum Ekonomi Syariah, salam adalah jasa pembiayaan yang berkaitan dengan jual beli yang pembiayaannnya dilakukan dengan pemesanan barang.37

3) Istishna

Menurut Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah istishna adalah jual beli barang atau jasa dalam bentuk pemesanan dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pihak pemesan dan pihak penjual.38 Walaupun istishna adalah akad jual beli, tetapi memiliki perbedaan dengan salam maupun dengan murabahah. Istishna lebih dititikberatkan pada kontrak pengadaan barang yang ditangguhkan dan dapat dibayarkan secara tangguh pula.39

4) Sewa

Pembiayaan dengan prinsip sewa ditujukan untuk mendapatkan jasa, dimana keuntungan bank ditentukan didepan dan menjadi bagian harga atas barang atau jasa yang disewakan. Namun dalam beberapa kasus prinsip sewadapat pula disertai dengan opsi kepemilikan.40

Dari uraian diatas ada beberapa pembiayaan yang menjadi fasilitas bank syariah terhadap UMKM. Maka dari itu

37 Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah, (Jakarta: Kencana PrenaDamedia Group,2013), h.113.

38 Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah, (Jakarta: Kencana PrenaDamedia Group,2013), h.124.

39 Kautsar Riza Salman, Akuntansi perbankan syariah, (Padang:Akademia Permata, 2012), h.199.

40 M. Nur Rianto Al Arif, Dasar-dasar Pemasaran, (Bandung: Alfabeta, 2012), h. 46.

22

UMKM dapat mmilih produk yang akan menjadi pembiayaan usahanya yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan usahanya tersebut.

c. Fungsi Pembiayaan

Keberadaan bank syariah yang menjalankan pembiayaan berdasarkan prinsip syariah bukan hanya untuk mencari keuntungan dan meramaikan bisnis perbankan di Indonesia, tetapi juga untuk menciptakan lingkungan bisnis yang aman, diantaranya:

1) Memberikan pembiayaan dengan prinsip syariah yang menerapkan sistem bagi hasil yang tidak memberatkan debitur.

2) Membantu kaum dhuafa yang tidak tersentuh oleh bank konvensional karena tidak mampu memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh bank konvensional.

3) Membantu masyarakat ekonomi lemah yang selalu dipermainkan oleh rentenir dengan membantu melalui pendanaan untuk usaha yang dilakukan.41

d. Tujuan Pembiayaan

41 Yusuf, Ayus Ahmad dan Abdul Aziz, 2009, Manajemen operasional Bank Syariah, , Cirebon : STAIN Press., hal. 68

Tujuan pembiayaan berdasarkan prinsip syariah adalah untuk meningkatkan kesempatan kerja dan kesejahteraan ekonomi sesuai dengan nilai-nilai Islam. Pembiayaan tersebut harus dapat dinikmati oleh sebanyak-banyaknya pengusaha yang bergerak dibidang industri, pertanian, dan perdagangan untuk menunjang kesempatan kerja dan menunjang produksi dan distribusi barang-barang dan jasa-jasa dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun ekspor.42

e. Prinsip-prinsip Pemberian Pembiayaan

Dalam melakukan penilaian permohonan pembiayaan bank syariah bagian marketing harus memperhatikan beberapa prinsip utama yang berkaitan dengan kondisi secara keseluruhan calon nasabah. Di dunia perbankan syariah prinsip penilaian dikenal dengan 5 C + 1 S , yaitu43

1) Character yaitu penilaian terhadap karakter atau kepribadian calon penerima pembiayaan dengan tujuan untuk memperkirakan kemungkinan bahwa penerima pembiayaan dapat memenuhi kewajibannya.

2) Capacity yaitu penilaian secara subyektif tentang kemampuan penerima pembiayaan untuk melakukan pembayaran. Kemampuan diukur dengan catatan prestasi penerima pembiayaan di masa lalu yang didukung dengan

42 Ibid.,

43 BPRS PNM Al-Ma’soem, 2004, _Kebijakan Manajemen Pembiayaan Bank Syariah. Bandung : BPRS PNM Al-Ma’soem. Hal. 7

24

pengamatan di lapangan atas sarana usahanya seperti toko, karyawan, alat-alat, pabrik serta metode kegiatan.

3) Capital yaitu penilaian terhadap kemampuan modal yang dimiliki oleh calon penerima pembiayaan yang diukur dengan posisi perusahaan secara keseluruhan yang ditujukan oleh rasio finansial dan penekanan pada komposisi modalnya.

4) Collateral yaitu jaminan yang dimiliki calon penerima pembiayaan. Penilaian ini bertujuan untuk lebih meyakinkan bahwa jika suatu resiko kegagalan pembayaran tercapai terjadi , maka jaminan dapat dipakai sebagai pengganti dari kewajiban.

5) Condition, bank syariah harus melihat kondisi ekonomi yang terjadi di masyarakat secara spesifik melihat adanya keterkaitan dengan jenis usaha yang dilakukan oleh calon penerima pembiayaan. Hal tersebut karena kondisi eksternal berperan besar dalam proses berjalannya usaha calon penerima pembiayaan.

6) Syariah, Penilaian ini dilakukan untuk menegaskan bahwa usaha yang akan dibiayaai benar-benar usaha yang tidak melanggar syariah sesuai dengan fatwa DSN “Pengelola tidak boleh menyalahi hukum syariah Islam dalam tindakannya yang berhubungan dengan mudharabah.”

26 BAB III

METODELOGI PENELITIAN A. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan respon pedagang kecil terhadap pembiayaan di bank syariah.

Dokumen terkait