• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemeriksaan Tersangka/Saksi 1. Saat Persiapan

BAB II BAB II

H. Pemeriksaan Tersangka/Saksi 1. Saat Persiapan

a. Sebaiknya membentuk suatu tim pemeriksa sesuai dengan kualitas tindak pidana yang sedang ditangani, atau kualitas tersangka/saksi yang akan diperiksa.

b. Kemudian Menentukan tempat pemeriksaan, agar suatu pemeriksaan dapat berjalan dengan baik.

c. Menentukan Sarana Pemeriksaan, Dalam melakukan pemeriksaan terdapat beberapa sarana yang perlu dipersiapkan

2. Saat Pemeriksaan

a. Mempelajari kasus tindak pidana yang sedang ditangani.

b. Menyusun dan merumuskan daftar pertanyaan yang akan diajukan untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan 7 (tujuh) Kah atau (Si A Di De Men Ba Bi).

c. Menentukan urutan tersangka atau saksi yang akan diperiksa berdasarkan kadar keterlibatan atau pengetahuannya tentang tindak pidana yang bersangkutan.

d. Meneliti Surat Panggilan dan mengecek identitas atau Surat Perintah Penangkapan dan Surat Perintah Penahanan bagi tersangka yang ditahan.

e. Wajib segera dihentikan apabila :

 Tidak terdapat cukup bukti

 Peristiwa tersebut bukan Tindak Pidana

 Dihentikan demi hukum f. Penghentian demi hukum, apabila :

 Tersangka meninggal dunia, kecuali undang-undang menentukan lain

 Penuntutan tindak pidana tersebut telah kadaluarsa

 Tindak pidana tersebut telah diputuskan dengan putusan hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap

I. Penelitian dan Penyidikan

Unit Penyidikan melakukan penelitian seperti :

1. penerimaan Laporan Pelanggaran (LP) dari unit penindakan atau dari instansi lain

2. pemanggilan/permintaan keterangan saksi dan/atau pelaku yang terkait dengan dugaan pelanggaran

3. pengumpulan dan penelitian surat-surat/dokumen-dokumen yang terkait dengan dugaan pelanggaran

4. pencacahan dan pemeriksaan barang hasil penindakan meliputi jumlah, jenis, merk, type, dan spesifikasi lainnya

5. penelitian dan analisis terhadap pelanggaran seperti :

a) uraian pelanggaran meliputi Jenis, tempat, dan waktu pelanggaran, b) kelengkapan berkas penindakan,

c) kelengkapan Barang Hasil Penindakan dan alat bukti, d) keberadaan pelaku,

e) pemenuhan unsur-unsur pelanggaran,

f) keterkaitan keterangan saksi, dokumen dan Barang Hasil Penindakan dengan pelaku;

dan

g) pengungkapan motif/unsur kesengajaan.

6. pelaksanaan gelar perkara untuk memperoleh pendapat secara lebih komprehensif.

7. pengajuan permintaan audit investigasi dalam rangka mendukung proses penelitian/penyelidikan dalam hal diperlukan.

8. pembuatan resume penelitian dengan kesimpulan, seperti : a) bukan merupakan pelanggaran,

b) merupakan pelanggaran administrasi, c) merupakan pelanggaran pidana,

d) merupakan pelanggaran dengan pelaku tidak dikenal, e) merupakan pelanggaran UU lainnya.

9. penyampaian usulan alternatif penyelesaian perkara, seperti :

a) pengenaan denda, dalam hal merupakan pelanggaran administrasi yang dikenakan sanksi berupa denda,

b) penyidikan, dalam hal merupakan pelanggaran pidana kepabeanan dan/ atau cukai, c) penetapan barang sebagai barang yang dikuasai negara (BDN), atau barang yang

menjadi milik negara (BMN),

d) pemblokiran, dalam hal merupakan pelanggaran administrasi atau pelanggaran pidana yang dikenakan sanksi pemblokiran sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

e) audit, dalam hal tidak ditemukan pelanggaran administrasi atau pelanggaran pidana namun terdapat indikasi belum terpenuhinya sebagian/seluruh kewajiban kepabeanan dan/ atau cukai.

f) reekspor, dalam hal tidak terdapat pelanggaran namun tidak dapat memenuhi persyaratan ketentuan impor sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

g) tidak melayani pemesanan pita cukai, dalam hal terdapat pelanggaran administrasi cukai yang dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

h) pelimpahan ke Instansi terkait, dalam hal pelanggaran yang ditemukan bukan merupakan kewenangan DJBC atau terdapat ketentuan lain yang mengatur lebih khusus.

i) penelitian perkara tidak dilanjutkan, dalam hal bukan pelanggaran atau pelanggaran administrasi yang telah diselesaikan kewajiban pabean dan/atau cukainya.

Unit Penyidikan melakukan penyidikan seperti :

1. pelaksanaan kegiatan sesuai kewenangan yang diatur dalam Pasal 112 ayat (2) Undang- undang nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang nomor 17 tahun 2006 dan Pasal 63 ayat (2) Undang-undang nomor 11 tahun 1995 tentang Cukai sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang nomor 39 tahun 2007;

2. penelitian dan analisis terhadap pelanggaran, seperti :

a) uraian tindak pidana meliputi Jenis, tempat, dan waktu pelanggaran b) kelengkapan berkas penyidikan

c) kelengkapan Barang Bukti dan alat bukti

d) pihak yang bertanggung jawab atas tindak pidana e) pemenuhan unsur-unsur tindak pidana

f) keterkaitan antara keterangan saksi-saksi, dokumen serta barang bukti dengan tersangka

g) pengungkapan motif tindak pidana/unsur kesengajaan

3. pelaksanaan gelar perkara untuk memperoleh pendapat secara lebih komprehensif;

4. pengajuan permintaan audit investigasi dalam rangka mendukung proses penyidikan dalam hal diperlukan;

5. pembuatan resume perkara dengan kesimpulan, seperti :

a) unsur-unsur tindak pidana terpenuhi dan dituangkan dalam Lembar Resume Pidana (LRP-2) yang memuat hasil analisis dan rekomendasi perkara pelanggaran pidana.

b) unsur-unsur tindak pidana tidak terpenuhi dan dituangkan dalam Lembar Resume Penelitian (LRP-1) yang memuat hasil analisis dan rekomendasi perkara pelanggaran pidana/administrasi.

6. penyampaian usulan alternatif penyelesaian perkara, seperti :

a) Pengiriman berkas ke Jaksa Penuntut Umum, dalam hal berkas penyidikan selesai.

b) Penyidikan lanjutan, dalam hal masih diperlukan untuk lebih memperkuat alat bukti dugaan perkara pidana atau berdasarkan petunjuk JPU.

c) Penghentian penyidikan/SP3, dalam hal bukan merupakan tindak pidana atau tidak terdapat cukup bukti atau tersangka meninggal dunia.

d) Penghentian penyidikan untuk kepentingan penerimaan negara (deponer) sesuai ketentuan yang berlaku.

Dalam pelaksanaan penelitian dan penyidikan dapat diadakan gelar perkara dengan maksud dan tujuan untuk memperoleh masukan guna penyelarasan atau penyempurnaan dalam pemberkasan dan untuk menyampaikan informasi/laporan guna pemantauan perkembangan penelitian/penyidikan serta pengelolaan proses penanganan perkara.

Gelar perkara dapat dilaksanakan pada tahap pra penyidikan (penelitian), tahap penyidikan dan/atau tahap akhir penyidikan, berdasarkan pengajuan permintaan gelar perkara oleh :

a) Tim Penyidik, dalam hal diperlukan untuk memperoleh masukan guna penyelarasan atau penyempurnaan dalam pemberkasan;

b) Atasan Tim Penyidik, dalam hal diperlukan untuk memperoleh informasi/laporan guna pemantauan perkembangan penyidikan dan pengelolaan proses penanganan perkara;

c) Jaksa Penuntut Umum (JPU), dalam hal diperlukan untuk memperoleh gambaran tentang perkara yang ditangani dan memberikan petunjuk guna pemenuhan alat bukti atas unsur- unsur pasal yang disangkakan.

Peserta gelar perkara meliputi :

a) Tim Penyidik yang terdiri dari koordinator sebagai penyaji dan anggota;

b) Atasan Tim Penyidik;

c) Pihak terkait untuk kepentingan penanganan perkara; dan/atau d) Jaksa Penuntut Umum (dalam hal diperlukan).

Materi gelar perkara antara lain meliputi : a) kronologis kasus;

b) anatomi kasus (anatomy of crime);

c) matriks keterkaitan alat bukti;

d) tindakan yang telah dilakukan;

e) hambatan atau kendala;

f) tindakan yang akan dilakukan; dan g) saran atau pendapat;

Hasil pelaksanaan gelar perkara dibuat berita acara yang ditandatangani peserta gelar perkara dan dijadikan panduan bagi Tim Penyidik untuk penyelesaian penanganan perkara.

Dokumen terkait