• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi S ASARAN

Dalam dokumen BUKU I RPJMN 2015-2019.pdf (Halaman 146-152)

BAB 7 KAIDAH PELAKSANAAN 7.1 Kerangka Pendanaan

H. Kesenjangan Antar Wilayah

I. Percepatan Pembangunan Kelautan

5. Peningkatan kapasitas tata kelola pembangunan perkotaan, dengan: (a) Mewujudkan sistem, peraturan dan

6.4 MEMPERKUAT KEHADIRAN NEGARA DALAM MELAKUKAN REFORMASI SISTEM DAN PENEGAKAN HUKUM YANG BEBAS

6.4.2 Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi S ASARAN

Sasaran pencegahan dan pemberantasan korupsi adalah menurunnya tingkat korupsi serta meningkatnya efektivitas pencegahan dan pemberantasan korupsi.

ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI

Upaya untuk meningkatkan efektivitas pencegahan dan pemberantasan korupsi dilaksanakan melalui:

1. Harmonisasi Peraturan Perundang-undangan di Bidang Korupsi, upaya untuk meningkatkan efektivitas pencegahan dan pemberantasan korupsi dilaksanakan melalui harmonisasi peraturan perundang-undangan di bidang tindak pidana korupsi dengan mengacu pada ketentuan United Nations Convention Against Corruption yang telah diratifikasi oleh Indonesia.

6-56

2. Penguatan Kelembagaan Dalam Rangka Pemberantasan Korupsi, keberhasilan pemberantasan korupsi akan sangat tergantung kepada kinerja dari instansi yang mempunyai kewenangan dalam pemberantasan korupsi. Adanya peraturan perundang-undangan yang dapat memberikan jaminan kualitas penanganan kasus korupsi oleh KPK merupakan salah satu komponen penting. Namun demikian Kepolisian dan Kejaksaan sebagai bagian dari instansi penegak hukum yang juga berwenang menangani tindak pidana korupsi juga perlu mendapatkan perhatian baik dalam hal penguatan sumber daya manusianya maupun dukungan operasional dalam melaksanakan tugas fungsi tersebut. Optimalisasi peran KPK dalam rangka melakukan fungsi koordinasi dan supervisi terhadap instansi penegak hukum lain akan mendorong peningkatan kualitas maupun kuantitas penegakan hukum tindak pidana korupsi di Indonesia.

3. Meningkatkan Efektivitas Implementasi Kebijakan Anti-korupsi, pada tataran implementasi kebijakan, diperlukan upaya peningkatan efektivitas implementasi kebijakan anti-korupsi, melalui optimalisasi penanganan kasus tindak pidana korupsi, pelaksanaan kerjasama luar negeri (mutual legal assistance) dalam pengembalian aset hasil tindak pidana korupsi, serta penguatan mekanisme koordinasi dan monitoring evaluasi Strategi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi.

4. Meningkatkan Pencegahan Korupsi, pada aspek preventif, diperlukan peningkatan upaya pencegahan korupsi dengan meningkatkan kesadaran dan pemahaman anti-korupsi masyarakat dan penyelenggara negara melalui strategi pendidikan anti korupsi mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi maupun pendidikan bagi aparat penegak hukum dan penyelenggara negara.

6-57 6.4.3 Pemberantasan Tindakan Penebangan Liar, Perikanan Liar,

dan Penambangan Liar PENEBANGAN LIAR SASARAN

Menurunnya frekuensi dan luasan penebangan liar.

ARAH KEBIJAKAN

1. Peningkatan instrumen penegakan hukum, melalui: (i) penyusunan Satu Peta Tematik Hutan dengan tingkat akurasi yang memadai di tingkat tapak dan untuk dasar penindakan hukum; (ii) percepatan penyelesaian tata batas dan pengu- kuhan kawasan hutan, antara lain melaksanaan peraturan bersama Kemenhut, Kemendagri, PU dan BPN tentang Penye- lesaian Penguasaan Tanah di dalam Hutan; (iii) peningkatan kuantitas dan kualitas SDM pengawas dan penegak hukum (rekrutmen, mutasi, peningkatan kapasitas, promosi).

2. Peningkatan efektivitas penegakan hukum melalui: (i) penyederhanaan prosedur penegakan hukum kasus pene- bangan liar; (ii) meningkatkan proses yustisi, mencabut izin pihak yang melakukan perusakan hutan illegal, dan meningkatkan efek jera pelaku illegal; (iii) peningkatan koor- dinasi dalam pengawasan dan penegakan hukum dalam kawas- an hutan; (iv) pembentukan Lembaga Pencegahan dan Pembe- rantasan Perusakan Hutan (P3H) sesuai UU No. 18/2013.

3. Peningkatan efektivitas dan kualitas pengelolaan hutan: (i) penyelesaian Pembangunan KPH untuk seluruh kawasan hu- tan; (ii) peningkatan keterlibatan masyarakat dalam penga- manan hutan melalui kemitraan, termasuk pengembangan hutan adat.

PERIKANAN LIAR (ILLEGAL, UNREPORTED AND UNREGULATED FISHING)

SASARAN

Sasaran yang akan dicapai dalam mengurangi perikanan liar (Illegal, Unreported and Unregulated Fishing/IUU Fishing) adalah sebagai berikut:

1. Meningkatnya ketaatan pelaku usaha perikanan dari 52%

menjadi 87% di tahun 2019.

2. Menurunnya kegiatan perikanan liar di wilayah perairan Indonesia.

6-58

ARAH KEBIJAKAN

1. Penguatan lembaga pengawasan laut:

a. Pembentukan Badan Keamanan Laut (Bakamla) sebagai satu lembaga yang mengintegrasikan pengawasan kegiatan di laut, termasuk pemberantasan illegal fishing dan pengembangan SOP pengawasan di laut;

b. Penguatan dan integrasi sistem pengawasan berjenjang (Lembaga-Pemda-Masyarakat) Penguatan kelembagaan pengawas di tingkat daerah (provinsi, kabupaten, desa);

c. Peningkatan kualitas dan kuantitas SDM pengawas laut dan perikanan termasuk Penyidik Pegawai Negeri Sipil Perikanan (PPNS);

d. Pengembangan sistem penindakan cepat dan terpadu.

2. Peningkatan Koordinasi Dalam Penanganan Pelanggaran Tindak Pidana:

a. Peningkatan peran Forum Koordinasi Penanganan Tindak Pidana Perikanan;

b. Mempercepat proses penegakan hukum (penyidikan, penun-tutan dan persidangan) antar lain melalui Pengadilan Khusus Perikanan;

c. Mengantisipasi terjadinya tuntutan (Pra-peradilan, Class Action dan Tuntutan Perdata);

d. Mengamankan dan merawat barang bukti (misal: kapal, alat tangkap) agar nilai ekonominya dapat dipertahankan;

e. Mempercepat penanganan dan pemulangan (deportasi) ABK asing yang tertangkap di Indonesia dan fasilitasi pemulangan ABK Indonesia yang tertangkap di luar negeri.

3. Penguatan sarana sistem pengawasan perikanan:

a. Optimalisasi pelaksanaan MCS (Monitoring, Control, Surveillance) dalam pengelolaan perikanan, dan menyelenggarakan pengawasan di laut dalam satu sistem pengawasan yang terpadu;

b. Meningkatkan dan menambah stasiun pengawas (radar) dan/atau sistem lain, yang terintegrasi dengan VMS (Vessel monitoring system)terutama di titik-titik pintu masuknya kapal-kapal perikanan asing ke Indonesia (a.l. Selat Malaka, Laut Natuna),

c. Mewajibkan pemasangan transmitter VMS bagi kapal berukuran 30 GT ke atas serta menjadikan data VMS sebagai alat bukti dalam penegakan hukum;

6-59 d. Peningkatan frekuensi pengawasan dengan menambah

jumlah kapal patroli penjagaan laut dan pantai serta koordinasi antar negara;

e. Memperkuat sarana dan prasarana/instrumen pengawasan masyarakat (Pokmas), dengan melengkapi sarana dan prasarana pengawasannya;

4. Penataan sistem perijinan usaha perikanan tangkap: (i) pengembangan sistem aplikasi perijinan elektronik secara terpadu; (ii) pembenahan perijinan usaha perikanan di pusat dan di daerah dengan memperhitungkan potensi sumber daya ikan; (iii) meningkatkan upaya menyesuaikan sistem perijinan yang diterapkan secara internasional.

5. Peningkatan Penertiban Ketaatan Kapal di Pelabuhan perikanan yang dilakukan melalui pemeriksanaan terhadap: (i) Ketaatan berlabuh di pelabuhan pangkalan sesuai dengan ijin yang diberikan, dan (ii) Ketataan nakhoda kapal perikanan dalam melaporkan hasil tangkapan melalui pengisian Log Book Perikanan, (iii) menerapkan ketentuan pengelolaan penang- kapan ikan melalui Port State Measures (PSM).

PENAMBANGAN LIAR SASARAN

Sasaran yang hendak dicapai dalam rangka mengurangi penambangan liar adalah sebagai berikut:

1. Meningkatnya pelaksanaan pertambangan berkelanjutan (good mining practices) dalam pengusahaan pertambangan.

2. Berkurangnya kegiatan Pertambangan Tanpa Izin (PETI) yang tidak bertanggungjawab.

ARAH KEBIJAKAN

1. Penyederhanaan proses Perijinan, Pengawasan dan Penertiban kegiatan pertambangan secara transparan:

a. Penyederhanaan, transparansi dan penertiban pemberian ijin pertambangan terutama pertambangan skala kecil b. Penyusunan dan pelaksanaan pemberian ijin secara

terpadu dari berbagai instansi teknis bekerjasama dengan pemerintah daerah dan lembaga lain terkait (TNI/Polri);

c. Pembinaan dan pemberian ijin pada kegiatan pertambangan rakyat skala kecil, dan pada areal pertambangan yang diting-galkan perusahaan besar.

6-60

2. Penegakan hukum pada pelanggaran kegiatan pertam-bangan secara tegas konsekuen dan adil:

a. Pembentukan badan kerjasama penanggulangan PETI tingkat nasional agar dapat dilakukan pengawasan dan penertiban PETI secara menyeluruh dengan anggota beberapa instansi dan lembaga yang terkait;

b. Pelaksanaan operasi penertiban secara konsisten dan berkesinambungan;

c. Penyusunan prosedur penyidikan dan penindakan PETI secara transparan agar pelaksanaan penertiban PETI tidak berlarut-larut;

d. Pemberian sanksi yang tegas pada aparat pemerintah yang terlibat dalam kegiatan PETI.

3. Penerapan kegiatan penambangan yang berkelanjutan dan menjaga kualitas lingkungan:

a. Penegakan standar pertambangan berkelanjutan (good mining practices),

b. Pembinaan dan pendampingan pada operasi penambangan skala kecil dan bantuan teknologi untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan dan peningkatan hasil tambang;

c. Peningkatan jumlah inspektur tambang di daerah yang pada saat ini masih sangat kurang.

d. Penegakan keharusan pengelolaan limbah dan area pasca tambang, termasuk pengelolaan area pembuangan limbah penambangan.

4. Pengembangan masyarakat dan peningkatan taraf hidup masyarakat di sekitar pertambangan:

a. Pembentukan kemitraan yang difasilitasi oleh pemerintah antara perusahaan pertambangan dengan masyarakat dengan cara bertahap yaitu penerimaan, pelibatan dan kolaborasi;

b. Membentuk koperasi pertambangan untuk melaksanakan legalisasi penambangan skala kecil dengan masyarakat dilibat-kan secara aktif melaksanakan operasi dan kegiatannya sehingga masyarakat tidak mengalami kehilangan mata pencarian;

c. Kerjasama usaha dengan perusahaan pertambangan dalam mengelola kebutuhan perusahaan pertambangan dengan mempekerjakan masyarakat.

6-61 6.4.4 Pemberantasan Penyalahgunaan Narkoba

Dalam dokumen BUKU I RPJMN 2015-2019.pdf (Halaman 146-152)