• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 HUKUM ORANG DAN KELUARGA

2.3. Pencegahan Perkawinan

Catatan:

Kuasa ini sebenarnya dapat dibuat dalam bentuk blanco volmacht, artinya nama penerima kuasa dikosongkan dulu, karena dikhawatirkan apabila nama penerima kuasa telah diisi, ternyata pada hari H yang bersangkutan berhalangan hadir untuk mewakili pemberi kuasa, maka perkawinan tidak dapat dilangsungkan.

Selain itu, adakalanya dalam surat kuasa tersebut juga termasuk untuk mewakili dalam pembuatan Akta Perjanjian Kawin. Jadi apabila ada kuasa untuk membuat perjanjian kawin, maka kuasa yang menyebutkan pembuatan perjanjian kawin harus ditulis terlebih dahulu sebelum kuasa untuk mewakili pelaksanaan perkawinan dan pencatatan perkawinan. Hal ini dikarenakan, perjanjian kawin harus dibuat terlebih dahulu sebelum dilangsungkan perkawinan, agar akta perjanjian kawinnya dapat dimasukan dalam akta per- kawinannya, sehingga akta perkawinannya isinya akan tertulis bahwa perkawinan dilangsungkan dengan perjanjian kawin.

35 perceraiannya hanya di catatan sipil, sedang perceraian menurut agamanya tidak dapat dilakukan, karena agamanya melarang untuk bercerai sampai kapanpun. Masih banyak kendala-kendala lain yang harus diperhitungkan dalam pencegahan perkawinan.

Dalam hal orang tua yang melakukan pencegahan perkawinan, sedangkan anak tersebut memaksakan diri untuk melangsungkan perkawinan tanpa restu orang tua, dengan alasan ia sudah dewasa, dan berhak menentukan pasangan hidupnya, maka orang tua harus mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri setempat untuk memperoleh Putusan tentang dikabulkannya larangan untuk melangsungkan perkawinan terhadap anak tersebut, sampai putusan tersebut mempunyai kekuatan hukum tetap, atau juga boleh Pencegahan Perkawinan tersebut dengan suatu akta Otentik yang dibuat di hadapan Notaris, dengan mencantumkan alasan – alasan pencegahan perkawinan.

Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (DISPEKDUKCAPIL) dilarang mencatatkan perkawinan pasangan yang dilarang oleh orang tuanya tersebut, kecuali pencegahan sudah diangkat atau dicabut oleh orang yang melarangnya. Apabila hal ini dilanggar oleh Catatan Sipil, maka jika timbul kerugian, maka catatan sipil harus membayar biaya, rugi dan bunga. Perkawinan boleh dinyatakan batal.

Sebenarnya mantan suami juga boleh mencegah perkawinan mantan isterinya tersebut, dengan alasan perceraian harus menunggu 300 hari, baru boleh mantan isteri kawin lagi, karena dikhawatirkan mantan isterinya pada saat bercerai, mereka hamil, sehingga untuk menghindari kekacauan tentang status anak yang dikandungnya tersebut, perlu ada jedah waktu.

Namun sekarang ini dunia kedokteran telah maju, laboratorium juga membutuhkan 2 (dua) jam untuk mendeteksi kehamilan seseorang, sehingga Pasal 64 KUH Perdata sekarang ini telah diabaikan.

Contoh Akta Pencegahan Perkawinan

PENCEGAHAN PERKAWINAN Nomor:

--Pada hari ini, .

Mulai jam .

--Menghadap kepada saya, Nona MICHELLE, Sarjana Hukum, Notaris di Kota Surabaya,……dan seterusnya

--Tuan WIJAYA, lahir di Surabaya, pada tanggal 18–12–1975 (delapan belas Desember seribu sembilan ratus tujuh puluh lima), Warga Negara Indonesia, Swasta, bertempat tinggal di Jalan Imam Bonjol nomor 500, Kelurahan Darmo, Kecamatan Tegalsari.

Pemegang Kartu Tanda Penduduk Republik Indonesia, Provinsi Jawa Timur, Kota Surabaya, Nomor Induk Kependudukan:

3578xxxxxxxxxx .

--Penghadap dikenal oleh saya, Notaris

--Penghadap terlebih dahulu menerangkan sebagai berikut:

- bahwa Penghadap telah dengan akta ini melakukan Pencegahan Pencegahan perkawinan terhadap anaknya yang bernama JAMES, lahir di Solo, tanggal 27–03–2000 (dua puluh tujuh Maret dua ribu), belum bekerja, bertempat tinggal sama sealamat dengan Penghadap;

- bahwa pencegahan ini dilakukan oleh Penghadap dengan alasan:

a. James anaknya tersebut masih berusia 21 (dua puluh satu) tahun, masih kuliah, belum bekerja, hidupnya masih mengandalkan Penghadap;

b. Calon pasangannya yang bernama Nona EVA, usianya lebih tua dari James, dan statusnya adalah janda dengan

37 membawa 1 (satu) orang anak dari perkawinannya terdahulu;

c. James, pikirannya masih belum stabil, tidak memahami liku – liku kehidupan berumah tangga, belum memikirkan beban dan tanggung jawab apabila telah berkeluarga.

--Oleh karenanya, daripada nanti di kemudian hari setelah perkawinan, kemudian James minta bercerai, karena menyesali perbuatannya, maka demi kebaikan James dan Nona EVA, lebih baik Penghadap mencegah perkawinan tersebut, sehingga secara tegas Penghadap menyatakan:

1. Mencegah perkawinan yang akan dilangsungkan oleh James dengan Nona EVA, agar Kantor Pencatatan Sipil tidak mencatatkan perkawinan tersebut;

2. Melarang James untuk tetap berhubungan dan menemui Nona Eva, supaya benar – benar tidak ada komunikasi di antara mereka, sehingga perkawinan tidak akan berlangsung.

---DEMIKIAN AKTA INI--- Catatan:

Apabila di kemudian hari ternyata Penghadap (orang tua) tersebut ingin mencabut pencegahan perkawinan tersebut, maka Penghadap dapat membuat suatu akta di hadapan Notaris tentang Pencabutan Pencegahan Perkawinan sebagaimana diatur dalam Pasal 70 KUH Perdata.

Pasal 70 KUH Perdata:

Apabila dilakukan pencegahan akan suatu perkawinan, ma ka Pegawai Catatan Sipil tak diperbolehkan melangsungkan perka- winan itu, melainkan setelah disampaikan kepadanya suatu putusan Hakim yang telah memperoleh kekuatan mutlak, atau suatu akta resmi, dengan mana pencegahan itu telah dihapuskan, demikian itu atas ancaman hukuman membayar segala biaya, rugi dan bunga.

Jika terjadi kiranya, suatu perkawinan dilangsungkan sebelum pencegahan ini boleh dilanjutkan, dan perkawinan boleh dinyatakan batal.

Contoh: Pasal 18 UU No.1 Tahun 1974, atau Pasal 70 KUH Perdata tentang

PENCABUTAN PENCEGAHAN PERKAWINAN Nomor:

--Pada hari ini, .

Mulai jam .

--Menghadap kepada saya, Nona MICHELLE, Sarjana Hukum, Notaris di Kota Surabaya,……dan seterusnya

--Tuan WIJAYA, lahir di Surabaya, pada tanggal 18–12–1975 (delapan belas Desember seribu sembilan ratus tujuh puluh lima), Warga Negara Indonesia, Swasta, bertempat tinggal di Jalan Imam Bonjol nomor 500, Kelurahan Darmo, Kecamatan Tegalsari.

Pemegang Kartu Tanda Penduduk Republik Indonesia, Provinsi Jawa Timur, Kota Surabaya, Nomor Induk Kependudukan:

3578xxxxxxxxxx .

--Penghadap dikenal oleh saya, Notaris

--Penghadap terlebih dahulu menerangkan sebagai berikut : - bahwa Penghadap telah dengan secara sah melakukan

Pen cegahan Perkawinan, terhadap anaknya, bernama JAMES, lahir di Solo, tanggal 27–03–2000 (dua puluh tujuh Maret dua ribu), belum bekerja, bertempat tinggal sama sealamat dengan Penghadap, dengan mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri setempat, pada tanggal…………. dan telah dikabulkan, melalui

39 Putusan Pengadilan setempat, yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, yaitu Put.PN.Nomor 688/Pdt.G/

Solo/ XX/2021, tanggal 28–10–2021 (dua puluh delapan Oktober dua ribu dua puluh satu);

- bahwa karena hal–hal yang menyebabkan pencegahan terhadap perkawinan yang direncanakan tersebut telah tiada, maka Penghadap berkehendak untuk mencabut pencegahan perkawinan tersebut, dengan suatu akta otentik yang dibuat di hadapan saya, Notaris;

--Sehubungan dengan hal–hal tersebut, Penghadap sekarang menyatakan secara tegas:

1. Mencabut pencegahan (stuiting) perkawinan yang direncanakan oleh anaknya yang bernama JAMES, dengan Wanita bernama EVA tersebut, karena EVA telah kawin dengan laki–laki lain;

2. Memulihkan kembali seperti keadaan semula, sehingga anak Penghadap bernama James tersebut dapat melangsungkan perkawinan dengan wanita lain yang dikehendaki;

3. Mengabaikan Putusan Pengadilan Negeri Solo, Nomor 688/

Pdt.G/Solo/ XX/2021, tanggal 28–10–2021 (dua puluh delapan Oktober dua ribu dua puluh satu) yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap tersebut, sehingga Putusan tersebut tidak perlu lagi untuk diperhitungkan.

---DEMIKIAN AKTA INI---