BAB I PENDAHULUAN
C. Pendaftaran Tanah
sendiri. b. Setelah mereka sepakat akan harga dari tanah itu, biasanya sebagai tanda jadi, diikuti dengan pemberian panjer.
Dengan adanya panjer, para pihak akan mempunyai ikatan moral untuk melaksanakan jual beli tersebut.
penyajian serta pemeliharaan data fisik dan data yuridis, dalam bentuk peta dan daftar, mengenai bidang-bidang tanah dan satuan- satuan rumah susun, termasuk pemberian surat tanda bukti haknya bagi bidang-bidang tanah yang sudah ada haknya dan hak milik atas satuan rumah susun serta hak-hak tertentu yang membebaninya”.
Adapun yang termasuk dalam kegiatan pendaftaran tanah yang diprogramkan oleh pemerintah yaitu dimulai dari mengumpulkan data-data tanah, mengolah data tanah yang dikumpulkan, kemudian menyimpan data hasil olahan dan yang terakhir penyajian data. Data-data tentang pertanahan yang dimaksud merupakan tulisan, gambar, angka yang dituliskan diatas kertas, berdasarkan data-data yang dikumpulkan dibuatlah surat tanda bukti kepemilikan tanah. Dalam hal pengumpulan data sampai penyajian data, yang didaftar bukanlah tanahnya akan tetapi
46
hak-hak atas tanah untuk menentukan status hukumnya.
Pendaftaran tanah dapat ditemukan dalam beberapa aturan hukum yang berlaku dan digunakan di Indonesia, aturan hukum tersebut di antaranya:
1. Pasal 19 Undang-undanng Nomor 5 Tahun 1960 (UUPA).
1) Untuk menjamin kepastian hukum oleh Pemerintah diadakan pendaftaran tanah di seluruh wilayah Republik Indonesia menurut ketentuan - ketentuan yang diatur dengan Peraturan Pemerintah.
2) Pendaftaran tersebut dalam ayat 1 pasal ini meliputi:
a. pengukuran perpetaan dan pembukuan tanah;
b. pendaftaran hak-hak atas tanah dan peralihan hak-hak tersebut;
c. pemberian surat-surat tanda bukti hak, yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat.
3) Pendaftaran tanah diselenggarakan dengan mengingat keadaan
46 Boedi Harsono, 2005, Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria, Isi
Dan Pelaksanaannya, , Jakarta: Djambatan, Cetakan kesepuluh. Hal.73
Negara dan masyarakat, keperluan lalu lintas sosial ekonomi serta kemungkinan penyelenggaraannya, menurut pertimbangan Menteri Agraria.
4) Dalam Peraturan Pemerintah diatur biaya-biaya yang bersangkutan dengan pendaftaran termaksud dalam ayat 1 diatas, dengan ketentuan bahwa rakyat yang tidak mampu dibebaskan dari pembayaran biaya-biaya tersebut.
2. Pasal 23 Undang-undanng Nomor 5 Tahun 1960 (UUPA), diperuntukkan terhadap pemegang Hak Milik.
1) Hak milik, demikian pula setiap peralihan, hapusnya dan pembebanannya dengan hak-hak lain harus didaftarkan menurut ketentuan-ketentuan yang dimaksud dalam Pasal 19.
2) Pendaftaran termaksud dalam ayat 1 merupakan alat pembuktian yang kuat mengenai hapusnya hak milik serta sahnya peralihan dan pembebanan hak tersebut.
3. Pasal 32 Undang-undanng Nomor 5 Tahun 1960 (UUPA), diperuntukkan terhadap Hak atas Guna Usaha.
1) Hak guna usaha, termasuk syarat-syarat pemberiannya, demikian juga setiap peralihan dan penghapusan hak tersebut, harus didaftarkan menurut ketentuan-ketentuan yang dimaksud dalam Pasal 19
2) Pendaftaran termaksud dalam ayat 1 merupakan alat pembuktian yang kuat mengenai peralihan serta hapusnya hak guna usaha, kecuali dalam hal hak itu hapus karena jangka waktunya berakhir.
4. Pasal 38 Undang-undanng Nomor 5 Tahun 1960 (UUPA), diperuntukkan terhadap Hak atas Guna Bangunan.
“Hak guna bangunan, termasuk syarat-syarat pemberiannya, demikian juga setiap peralihan dan hapusnya hak tersebut harus didaftarkan menurut ketentuan-ketentuan yang dimaksud dalam Pasal 19”.
5. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran
Tanah.
6. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2021 Tentang Hak Pengelolaan, Hak Atas Tanah, Satuan Rumah Susun, dan Pendaftaran Tanah.
Pasal 2 PP No 24 Tahun 1997 disebutkan bahwa pendaftaran tanah dilaksanakan berdasarkan asas sederhana, aman, terjangkau, mutakhir dan terbuka. Urip susanto menjelaskan asas-asas pendaftaran dalam Pasal 2 PP No 24 Tahun 1997 tersebut di atas yaitu:47
1) Asas sederhana dimaksudkan agar ketentuan-ketentuan pokoknya maupun prosedurnya dengan mudah dipahami oleh pihak-pihak yang berkepentingan, terutama pada pemegang hak atas tanah.
2) Asas aman dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa pendaftaran tanah perlu diselenggarakan secara teliti dan cermat, sehingga hasilnya dapat memberi jaminan kepastian hukum sesuai tujuan pendaftaran tanah itu sendiri.
3) Asas terjangkau dimaksudkan keterjangkauan bagi pihak- pihak yang memerlukan, khususnya dengan memperhatikan kebutuhan dan kemampuan golongan ekonomi lemah.
Pelayanan yang diberikan dalam rangka penyelenggaraan pendaftaran tanah hanya bisa terjangkau oleh pihak yang memerlukan.
4) Asas muktahir dimaksudkan kelengkapan yang memadai dalam pelaksanaannya dan kesinambungan dalam pemeliharaan datanya. Untuk itu diikuti kewajiban mendaftar dan pencatatan perubahan-perubahan yang terjadi di kemudian hari. Asas ini menuntut diperliharanya data pendaftaran tanah secara terus-menerus dan berkesinambungan, sehingga data yang tersimpan di Kantor Pertanahan selalu sesuai dengan keadaan nyata di lapangan.
Selanjutnya dalam Pasal 6 ayat (2) PP No 24 Tahun 1997 menetapkan bahwa: “Dalam melaksanakan pendaftaran tanah, Kepala
47 Urip Santoso, 2011, Pendaftaran dan Peralihan Hak Atas Tanah, Cetakan kedua, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, Hal. 17-18
Kantor Pertanahan dibantu oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) dan pejabat lain yang ditugaskan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu menurut Peraturan Pemerintah ini dan Peraturan Perundang- Undangan yang bersangkutan”. Dalam Pasal 6 ayat (2) ini hanya disebutkan “kegiatan-kegiatan tertentu”, tidak disebutkan secara tegas kegiatan-kegiatan apa dalam pendaftaran tanah yang menjadi tugas PPAT untuk membantu Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota.48
Objek pendaftaran tanah, diatur sebagai berikut: yang menjadi obyek pendaftaran tanah yang terdapat dalam Pasal 9 PP No 24 Tahun 1997, meliputi antara lain:
1. Bidang-bidang tanah yang dipunyai dengan Hak Milik, Hak Guna Banguna, Hak Guna Usaha dan Hak Pakai;
2. Tanah Hak Pengelolaan;
3. Tanah wakaf;
4. Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun;
5. Hak Tanggungan 6. Tanah Negara;
Adapun manfaat dari pendaftaran tanah yaitu adanya jaminan kepastian hukum dan jaminan perlindungan hukum bagi pemegang sertifikat hak atas tanah sehingga dapat dicegah dengan adanya masalah- masalah pertanahan yang bisa menimbulkan pertengkaran-pertengkaran dalam masyarakat serta memberi kemudahan kepada pihak-pihak yang memerlukan data tentang tanah yang telah didaftarkan di Badan Pertanahan Nasioanl. Bagi pemerintah pendaftaran tanah akan memperlancar terselenggaranya tertib administrasi pertanahan, serta
48 Suci Ananda Badu, 2017, Tugas Dan Kewenangan Pejabat Pembuat Akta Tanah
(PPAT) Dalam Pelaksanaan Pendaftaran Di Indonesia, Jurnal Lex Administartum Vol. V
meningkatkan pendapatan Negara.49
Terselenggaranya pendaftaran tanah, memungkinkan bagi para pemegang hak atas tanah untuk dengan mudah membuktikan haknya atas tanah yang dikuasainya. Demikian pula untuk memberikan jaminan hukum dalam pendaftaran peralihan hak, diterbitkan berbagai Peraturan Perundang-Undangan yang memberi jaminan terhadap pendaftaran peralihan hak tersebut. maka pihak-pihak yang bersangkutan dengan mudah pula akan dapat mengetahui status dan kedudukan hukum dari pada tanah-tanah yang dihadapi, letak, luas, batas-batas, siapa yang punya dan beban-beban apa yang ada di atasnya.