ANALISIS VALIDITAS DAN RELIABILITAS INSTRUMEN PENELITIAN
A. Pendahuluan
STATISTIK PENELITIAN PENDIDIKAN - 77
BAB VII
ANALISIS VALIDITAS DAN
78-BAB VII : ANALISIS VALIDITAS DAN REABILITAS INSTRUMEN PENELITIAN
Meteran tersebut tidak valid jika digunakan untuk mengukur berat, karena meteran bukan alat untuk mengukur berat.
Timbangan yang valid akan dapat mengukur berat badan dengan tepat, tetapi timbangan tidak dapat digunakan untuk mengukur tinggi badan. Instrumen yang reliabel berarti instrumen yang bila digunakan berulang-ulang untuk mengukur objek yang sama, akan menghasilkan data yang sama. Alat ukur panjang dengan hasta, tali karet adalah contoh instrumen yang tidak reliabel. Sebab ukuran hasta antara satu dengan yang lain tidak sama, sehingga tidak dapat memberikan hasil ukur yang tetap atau sama.
Dengan menggunakan instrumen yang valid dan reliabel dalam pengumpulan data, maka diharapkan hasil penelitian akan menjadi valid dan reliabel. Jadi instrumen yang valid dan reliabel merupakan syarat untuk mendapatkan hasil penelitian yang valid dan reliabel. Hal ini tidak berarti bahwa dengan menggunakan instrumen yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, otomatis hasil (data) penelitian menjadi valid dan reliabel. Hal ini masih akan dipengaruhi oleh kondisi objek yang diteliti, dan kemampuan orang yang menggunakan instrumen. Oleh karena itu peneliti harus mampu mengendalikan objek yang diteliti dan meningkatkan kemampuan dan menggunakan instrumen untuk mengukur variabel yang diteliti.
Instrumen-instrumen dalam ilmu alam misalnya meteran, termometer, timbangan, biasanya telah diakui validitasnya dan reliabilitasnya, kecuali instrumen yang sudah rusak dan palsu. Instrumen-instrumen tersebut dapat dipercaya validitasnya dan reliabilitasnya karena sebelum instrumen itu digunakan/dipakai dan dikeluarkan dari pabrik telah diuji validitas dan reliabilitasnya.
STATISTIK PENELITIAN PENDIDIKAN - 79 Instrumen-instrumen dalam ilmu sosial sudah ada yang baku (standar), karena telah teruji validitas dan reliabilitasnya, tetapi banyak juga yang belum baku bahkan belum ada. Untuk itu maka peneliti harus mampu menyusun sendiri instrumen pada setiap penelitian dan menguji validitas dan reliabilitasnya. Instrumen yang tidak teruji validitas dan reliabilitasnya bila digunakan untuk penelitian akan menghasilkan data yang sulit dipercaya kebenarannya.
Instrumen yang reliabel belum tentu valid. Meteran yang putus di bagian ujungnya, bila digunakan berkali-kali akan menghasilkan data yang sama (reliabel) tetapi selalu tidak valid. Hal ini disebabkan karena instrumen itu (meteran) tersebut rusak. Mungkin karena putus di ujungnya sehingga angka yang tertera dalam meteran ada yang hilang. Misalnya angka 0 sampai 3 hilang sehingga ketika digunakan tidak sempurna (tidak valid). Penjual obat kulit misalnya, berbicara di mana-mana kalau obatnya manjur (reliabel) tetapi selalu tidak valid, karena kenyataannya obatnya tidak manjur. Reliabilitas instrumen merupakan syarat untuk pengujian validitas instrumen. Oleh karena itu, walaupun instrumen yang valid umumnya pasti reliabel, tetapi pengujian reliabilitas instrumen perlu dilakukan.
Pada dasarnya terdapat dua macam instrumen, yaitu instrumen yang berbentuk test untuk mengukur prestasi belajar dan instrumen yang nontest untuk mengukur sikap. Instrumen yang berupa test jawabannya adalah salah benar, sedangkan instrumen nontest (sikap) jawabnya tidak ada yang salah atau benar, tetapi bersifat positif dan negatif.
80-BAB VII : ANALISIS VALIDITAS DAN REABILITAS INSTRUMEN PENELITIAN
Instrumen yang baik, yang berupa test maupun nontest harus valid dan reliabel. Instrumen yang valid harus mempunyai validitas internal dan eksternal. Instrumen yang mempunyai validitas internal atau rasional, bila kriteria yang ada dalam instrumen secara rasional (teoritis) telah mencerminkan apa yang diukur. Jadi, kriterianya ada di dalam instrumen itu.
Sedangkan instrumen yang memiliki validitas eksternal adalah bila kriteria di dalam instrumen disusun berdasarkan luar atau fakta-fakta empiris yang telah ada.
Kalau validitas internal instrumen dikembangkan menurut teori yang relevan, maka validitas eksternal instrumen dikembangkan dari fakta empiris. Misalkan akan mengukur kinerja sekelompok pegawai, maka tolok ukur (kriteria) yang digunakan didasarkan pada tolok ukur yang telah ditetapkan di kepegawaian itu. Sedangkan validitas internal dikembangkan dari teori-teori tentang kinerja. Untuk itu penyusunan instrumen yang baik harus memperhatikan teori dan fakta di lapangan. Penelitian yang mempunyai validitas internal, bila data yang dihasilkan merupakan fungsi dari rancangan dan instrumen yang digunakan.
Instrumen tentang kepemimpinan akan menghasilkan data kepemimpinan, bukan motivasi. Penelitian yang mempunyai validitas eksternal bila hasil penelitian dapat diterapkan pada sampel yang lain, atau hasil penelitian itu dapat digeneralisasikan.
Validitas internal instrumen yang berupa test harus memenuhi contruct validity (validitas konstruk) dan content validity (validitas isi). Sedangkan untuk instrumen nontest yang digunakan untuk mengukur sikap cukup memenuhi validitas konstruksi. Manurut Sutrisno Hadi sebagaimana dikutip oleh Sugiyono (2013) menyamakan construct validity
STATISTIK PENELITIAN PENDIDIKAN - 81 dengan logical validity dan validity by definition. Instrumen yang mempunyai validitas konstruk, jika instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur gejala sesuai dengan yang didefinisikan. Misalnya akan mengukur efektivitas kerja, maka perlu didefinisikan terlebih dahulu apa itu efektivitas kerja. Setelah itu disiapkan instrumen yang digunakan untuk mengukur efektivitas kerja sesuai definisi.
Untuk melahirkan definisi, maka diperlukan teori-teori.
Dalam hal ini Sutrisno Hadi menyatakan bahwa “bila bangunan teorinya sudah benar, maka hasil pengukuran dengan alat ukur (instrumen) yang berbasis pada teori itu sudah dipandang sebagai hasil yang valid”.
Instrumen yang harus mempunyai validitas isi adalah instrumen yang digunakan untuk mengukur prestasi belajar dan mengukur efektivitas pelaksanaan program dan tujuan. Untuk menyusun instrumen prestasi belajar yang mempunyai validitas isi, maka instrumen harus disusun berdasarkan materi pelajaran yang telah diajarkan.
Sedangkan instrumen yang digunakan untuk mengetahui pelaksanaan program, maka instrumen disusun berdasarkan program yang telah direncanakan. Selanjutnya instrumen yang digunakan untuk mengukur tingkat tercapainya tujuan (efektivitas) maka instrumen harus disusun berasarkan tujuan yang telah dirumuskan.