BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN
B. Kajian Teori
2. Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti
a. Pengertian Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti
Melihat pengertian pendidikan dari segi bahasa, maka harus melihat kepada kata Arab karena ajaran Islam itu diturunkan dalam bahasa
tersebut. Kata pendidikan yang umum digunakan sekarang, dalam bahasa Arabnya adalah tarbiyah, dengan kata kerja rabba. Kata pengajaran dalam bahasa Arabnya adalah ta’lim dengan kata kerjanya ’allama. Pendidikan dan pengajaran dalam bahasa Arabnya tarbiyah wa ta’lim sedangkan pendidikan Islam dalam bahasa Arabnya adalah Tarbiyah Islamiyah.40
Omar Mohammad At-Toumi Asy-Syaibany dalam Bukhari Umar, mendefinisikan pendidikan Islam adalah:41 “Proses mengubah tingkah laku individu pada kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam sekitarnya, dengan cara pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai profesi di antara profesi-profesi asasi dalam masyarakat.”
Pengertian tersebut memfokuskan perubahan tingkah laku manusia yang konotasinya pada pendidikan etika. Pengertian tersebut menekankan pada aspek-aspek produktivitas dan kreativitas manusia dalam peran dan profesinya dalam kehidupan masyarakat dan alam semesta.42
Dari beberapa pengertian tersebut dikatakan bahwa pendidikan Islam adalah proses transformasi dan internalisasi ilmu pengetahuan dan nilai- nilai pada diri peserta didik melalui penumbuhan dan pengembangan guna membentuk kepribadian muslim.
Pengertian pendidikan agama menurut KPPN (Komisi Pembaharuan Pendidikan Nasional) dalam Zakiah Daradjat, pendidikan agama merupakan bagian pendidikan yang amat penting berkenaan dengan aspek-aspek sikap dan nilai, antara lain akhlak dan keagamaan. Oleh karena itu pendidikan agama juga menjadi tanggung jawab keluarga, masyarakat, dan pemerintah.43
40 Zakiyah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, Cet. 14 2018), 25.
41 Bukhari Umar, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Amzah, 2018), 26-27.
42 Umar, 27.
43 Zakiyah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, Cet. 14 2018), 86-87.
Menurut Zakiah Daradjat, PAI ialah uasaha berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar kelak setelah selesai pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam serta menjadikannya sebagai pandangan hidup (way of life).44
Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa PAI adalah sebagai usaha sadar, yakni suatu kegiatan pendidik atau guru yang melakukan kegiatan bimbingan, pengajaran atau latihan yang dilakukan secara sadar terhadap peserta didiknya untuk mencapai tujuan pendidikan agama Islam.
Menurut Ahmad Tafsir dalam Fahrudin, “PAI adalah bimbingan yang diberikan oleh seseorang kepada seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam. Bila disingkat, pendidikan agama Islam adalah bimbingan terhadap seseorang agar menjadi muslim semaksimal mungkin”.45
PAI dalam Kurikulum 2013 mendapatkan tambahan kalimat dan Budi Pekerti sehingga menjadi Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, sehinga dapat diartikan sebagai pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian, dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agama Islam, yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran pada semua jenjang pendidikan.46 Perubahan ini menjawab harapan semua pihak yang berarti pula telah mengubah arah pembelajaran agama Islam yang semula hanya menitikberatkan pada penguasaan teori belaka. PAI saat ini lebih mendorong semua peserta didik agar memiliki skill dan akhlakul karimah, terlihat dari penambahan “Budi Pekerti” setelah kata PAI.47 PAI dan Budi Pekerti merupakan
44 Daradjat, 86.
45 Fahrudin, dkk, “Implementasi Kurikulum 2013 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti dalam Menanamkan Akhlakul Karimah Siswa”, Edu Relogia, 4 (Oktober-Desember, 2017), 522.
46 Fahrudin, 522-523.
47 Lili Hidayati, “Kurikulum 2013 dan Arah Baru Pendidikan Agama Islam”, Insania, 1 (Januari- Juni 2014), 80.
pendidikan yang secara mendasar menumbuh kembangkan akhlak siswa melalui pembiasaan dan pengamalan ajaran Islam secara menyeluruh (kaffah). Oleh karena itu, PAI dan Budi Pekerti sebagai suatu mata pelajaran diberikan pada jenjang SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK, baik yang bersifat kokurikuler maupun ekstrakurikuler.48
b. Tujuan Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti
Secara umum, PAI dan Budi Pekerti bertujuan untuk “meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengalaman peserta didik tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang bertakwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara”.49
Menurut Hamdan dalam Fahrudin, PAI dan Budi Pekerti bertujuan untuk:50
1) Menumbuh kembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang Agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT.
2) Mewujudkan peserta didik yang taat beragama, berakhlak mulia, berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, etis,
48 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Model Silabus Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah, (Jakarta:
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017), 1.
49 Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah, (Bandung: Remaja Rosdakarya, Cet. V 2012), 78.
50 Fahrudin, dkk, “Implementasi Kurikulum 2013 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti dalam Menanamkan Akhlakul Karimah Siswa”, Edu Relogia, 4 (Oktober-Desember, 2017), 523.
santun, disiplin, toleran, dan mengembangkan budaya Islami dalam komunitas sekolah.
3) Membentuk peserta didik yang berkarakter melalui pengenalan, pemahaman, dan pembiasaan norma-norma dan aturan-aturan yang Islami dalam hubungannya dengan Tuhan, diri sendiri, sesama, dan lingkungan secara harmonis.
4) Mengembangkan nalar dan sikap moral yang selaras dengan nilai- nilai Islami dalam kehidupan sebagai warga masyarakat, warga negara, dan warga dunia.
c. Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti
Pembelajaran PAI dan Budi Pekerti dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan saintifik. Disamping itu, pembelajaran juga dapat dilakukan dengan berbagai macam model dan pendekatan sesuai dengan karakteristik materi yang dibelajarkan dan kompetensi yang akan dicapai. Berikut ini dikemukakan beberapa contoh model pembelajaran dalam PAI dan Budi Pekerti:51
1) Dalam pembelajaran al-Qur’an dapat digunakan metode Mencari Pasangan (Make a Match) dalam menentukan ayat dan terjemahannya.
2) Dalam pembelajaran akidah dapat digunakan metode Penemuan (Inquiry) dalam mencari bukti-bukti kekuasaan Allah SWT.
51 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Model Silabus Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah, (Jakarta:
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017), 8-9.
3) Dalam pembelajaran akhlak dapat digunakan metode Bermain Peran (role playing) dalam mencontohkan perilaku terpuji.
4) Dalam pembelajaran fiqh dapat digunakan model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) dalam menentukan dampak positif pelaksanaan kurban.
5) Dalam pembelajaran Sejarah Peradaban Islam dapat digunakan Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) mencari contoh-contoh tradisi masyarakat Indonesia yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
d. Ruang Lingkup Materi Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti
Materi kurikulum PAI didasarkan dan dikembangkan dari ketentuan- ketentuan yang ada dalam dua sumber pokok, yaitu: al-Qur’an dan As- Sunnah Nabi Muhammad SAW. Disamping itu, materi PAI juga diperkaya dengan hasil istimbat atau ijtihad para ulama, sehingga ajaran- ajaran pokok yang bersifat umum, lebih rinci dan mendetail.52
Dengan demikian, PAI dan Budi Pekerti adalah pendidikan yang ditujukan untuk dapat menserasikan, menselaraskan dan menyeimbangkan antara Iman, Islam, dan Ihsan. yang diwujudkan dalam:53
52 Fahrudin, dkk, “Implementasi Kurikulum 2013 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti dalam Menanamkan Akhlakul Karimah Siswa”, Edu Relogia, 4 (Oktober-Desember, 2017), 523.
53 Fahrudin, 523-524.
1) Hubungan Manusia dengan Pencipta. Membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt serta berakhlak mulia dan berbudi pekerti luhur.
2) Hubungan Manusia dengan Diri Sendiri. Menghargai dan menghormati diri sendiri yang berlandaskan pada nilai-nilai keimanan dan ketakwaan.
3) Hubungan Manusia dengan Sesama. Menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antar umat beragama.
4) Hubungan Manusia dengan Lingkungan Alam. Penyesuaian mental keislaman terhadap lingkungan fisik dan sosial.
Menurut Hamdan dalam Fahrudin, Keempat hubungan tersebut di atas, tercakup dalam kurikulum PAI dan Budi Pekerti yang tersusun dalam beberapa materi, yaitu:54
1) Al-Quran Al-Hadits, yang menekankan pada kemampuan membaca, menulis, dan menterjemahkan serta menampilkan dan mengamalkan isi kandungan Al-Quran Al-Hadits dengan baik dan benar.
2) Akidah, yang menekankan pada kemampuan memahami dan mempertahankan keyakinan, menghayati, serta meneladani dan mengamalkan sifat-sifat Allah dan nilai-nilai keimanan dalam kehidupan sehari-hari.
3) Akhlak dan Budi Pekerti, yang menekankan pada pengamalan sikap terpuji dan menghindari akhlak tercela. Perbedaan akhlak dan budi
54 Fahrudin, 524.
pekerti adalah dasar penentuan atau standar ukuran baik dan buruk yang digunakannya. Akhlak adalah tindakan dan perbuatan manusia baik dan buruk yang dinilai dari hukum agama, sedangkan budi pekerti itu sendiri selalu dikaitkan dengan tingkah laku manusia dan didorong oleh kekuatan yang terdapat di dalam hati yaitu rasio.
4) Fikih, yang menekankan pada kemampuan untuk memahami, meneladani dan mengamalkan ibadah dan mu’amalah yang baik dan benar.
5) Sejarah Peradaban Islam (SKI), yang menekankan pada kemampuan mengambil pelajaran (ibrah) dari peristiwa-peristiwa bersejarah (Islam), meneladani tokoh-tokoh muslim yang berprestasi, dan mengaitkannya dengan fenomena-fenomena sosial, untuk melestarikan dan mengembangkan kebudayaan dan peradaban Islam.
e. Materi Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti kelas VII Sebagaimana dalam silabus kurikulum 2013 eidisi revisi 2017 oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan republik Indonesia55 yang berjumlah 13 materi meliputi:
1) Bab 1: Lebih Dekat dengan Allah Swt. yang Sangat Indah Nama- Nya
2) Bab 2: Hidup Tenang dengan Kejujuran, Amanah, dan Istiqomah 3) Bab 3: Semua Bersih, Hidup Jadi Nyaman
4) Bab 4: Indahnya kebersamaan dengan Berjamaah
55 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Model Silabus Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah (Jakarta:
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017), 11-23.
5) Bab 5: Selamat Datang Nabi Kekasihku
6) Bab 6: Dengan Ilmu Pengetahuan Semua Menjadi Lebih Mudah 7) Bab 7: Ingin Meneladani Ketaatan Malaikat-Malaikat Allah Swt.
8) Bab 8: Berempati Itu Mudah, Menghormati Itu Indah
9) Bab 9: Memupuk Rasa Persatuan pada Hari yang Kita Tunggu
10) Bab 10: Islam Memberikan Kemudahan melalui Salat Jamak dan Qasar
11) Bab 11: Hijrah ke Madinah, Sebuah Kisah yang Membanggakan 12) Bab 12: Al-Khulafau Ar-Rasyidun Penerus Perjuangan Nabi
Muhammad saw.
13) Bab 13: Hidup Menjadi Lebih Damai dengan Ikhlas, Sabar, dan Pemaaf
3. Pendidikan Agama Islam Berwawasan Multikultural
Ancaman konflik dan kekerasan di tanah air seharusnya menumbuhkan kesadaran pentingnya memahami realitas masyarakat yang multikultur.
Promosi wawasan multikultural dalam berbagai bentuknya termasuk dalam pendidikan dimaksudkan sebagai upaya transformasi dari budaya kekerasan, saling membenci dan merendahkan satu sama lain menuju kepada budaya perdamaian, cinta kasih dan saling menghargai.56
Sumartana dalam Abd Aziz Albone, kontak kultural tidak hanya akan membuahkan toleransi, pengakuan akan keberadaan sebuah kebudayaan yang terpisah, melainkan dapat dipastikan akan membuahkan saling pengaruh,
56 Abd Azis Albone, Pendidikan Agama Islam dalam Perspektif Multikulturalisme, (Jakarta: Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta, 2008), 124-125.
saling memperkaya antar budaya. Peristiwa yang demikian tidak pernah atau jarang sekali diungkapkan, tidak populer, terutama akibat tertanamnya secara amat mendalam sebuah paham mengenai kebudayaan sebagai sesuatu yang murni, otonom. Padahal, dengan gagasan multikulturalisme itu akan segera ditemukan kenyataan bahwa sebenarnya diri seseorang, diri suatu komunitas kebudayaan maupun agama, sebenarnya terbangun dari aneka budaya, bahwa di dalamnya hidup orang lain dan sebaliknya.57
PAI sebagai suatu sistem yang terdiri dari paduan berbagai komponen yang saling berkaitan satu sama lainnya, memerlukan pemahaman terkait dengan penekanan di atas. Komponen tersebut terdiri dari input, proses, output serta kondisi atau lingkungan. Pendidikan agama sebagai salah satu sub pendidikan nasional yang diberikan dari jenjang terendah sampai dengan tertinggi tidak luput dari telaah teoritik baik dari aspek normatif maupun historisnya. Menarik kiranya untuk mengkaji ulang, mencermati
“paradigma”, “konsep” dan pemikiran PAI yang ditawarkan oleh kurikulum, silabus, metodologi pembelajaran, literatur dan para pengajarnya di lapangan.58
Pendidikan agama berwawasan multikultural mengusung pendekatan dialogis untuk menanamkan kesadaran hidup bersama dalam keragaman dan perbedaan. Pendidikan ini dibangun atas spirit relasi kesetaraan dan kesederajatan, saling percaya, saling memahami, dan menghargai persamaan, perbedaan dan keunikan, dan interdependensi. Ini merupakan inovasi dan
57 Albone, 125.
58 Albone, 125-126.
reformasi yang integral dan komprehensif dalam muatan pendidikan agama;
memberi konstruk pengetahuan baru tentang agama-agama yang bebas prasangka, rasisme, bias, dan stereotip. Pendidikan agama multikultural memberi pengakuan akan pluralitas, sarana belajar untuk perjumpaan lintas batas, dan mentransformasi indoktrinasi menuju dialog.59
Multikultural dalam pendidikan agama Islam dan budi pekerti mengarahkan orientasi kurikulum pendidikan agama pada kebersamaan, toleransi, inklusivitas berfikir, dan hormat-menghormati atas kebebasan beragama. Artinya, masing-masing peserta didik merasa aman dan tenang dengan agama yang diyakini, tanpa adanya ganguan yang berarti dari kebijakan penyelenggaraan pendidikan agama.
59 Zakiyuddin Baidhawy, Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural, (Jakarta: Erlangga, 2005), 74.