kondisi normal yang menjadi realitas sosial umat Islam dan Kristen setelah konflik yang dinyatakan berakhir oleh Pemerintah Indonesia tahun 2007.
3. Integrasi
Integrasi bermakna menyatukan beberapa unsur yang berbeda menjadi satu kesatuan yang saling menopang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Online, integrasi bermakna pembauran menjadi kesatuan yang utuh dan bulat.48 Integrasi dalam bahasa Arab, yaitu: , . Misalnya: (integrasi sosial) dan (integrasi budaya).49
Dalam konteks penelitian ini, integrasi dimaknai sebagai proses menggabungkan nilai multikultural ke dalam pembelajaran PAI sebagai kesatuan yang integratif, saling menopang dan tidak bertentangan satu dengan lain. Integrasi nilai multikultural memiliki beberapa makna, yaitu:
(1) Menginternalisasikan nilai ajaran Islam dan falsafah bangsa Indonesia kepada peserta didik, (2) Memasukkan kultur keagamaan umat Islam dan kearifan lokal „sintuwo maroso‟ tentang hidup bersama dalam perbedaan, (3) Menambahkan tema-tema tertentu terkait dengan perdamaian.
4. Nilai Multikultural
Nilai bermakna suatu yang abstrak, bermanfaat dan diyakini benar oleh individu atau masyarakat.50 Nilai yang berkaitan dengan norma agama, falsafah dan kearifan budaya dalam bahasa Arab menggunakan kata, yaitu:
48 https://www.kbbi.my.id/kata/integrasi. Diakses, tanggal 15 November 2018.
49 Napis Djuaeni, Kamus Kontemporer Indonesia-Arab, (Jakarta Selatan: Penerbit Teraju (PT.Mizan Publika), 2005), hlm. 159.
50 Sutarjo Adisusilo, Pembelajaran Nilai Karakter: Konstruktivisme dan VCT Sebagai Inovasi Pendekatan Pembelajaran Afektif, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2012), hlm. 56.
. Misalnya: (nilai kemanusiaan: (nilai budaya:
(nilai-nilai Islam: )51 Nilai dalam konteks penelitian ini nilai bersumber dari normativitas Islam, falsafah Pancasila dan kearifan lokal masyarakat Poso yang mengajarkan hidup damai dalam perbedaan.
Multikultural bermakna keragaman budaya masyarakat. Dari makna multikultural ini membentuk ideologi multikulturalisme, yaitu pandangan yang mengakomudir perbedaan kebudayaan dengan menggaungkan keadilan dan kesetaraan.52 Dalam konteks penelitian ini, nilai multikultural dimaknai sebagai nilai universal yang dipandang berguna bagi individu atau masyarakat dalam membangun perdamaian umat beragama di sekolah dan daerah Poso pasca konflik.
5. Pembelajaran
Pembelajaran dimaknai sebagai interaksi edukatif antara peserta didik dan pendidik dalam lingkungan belajar yang telah direncanakan secara sistematis. Menurut Aqib, pembelajaran adalah upaya menyeluruh yang diwujudkan melalui proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.53
Dalam penelitian ini, pembelajaran PAI yang mengintegrasikan nilai multikultural dengan pola relasi antardisipliner (dimensi ilmu umum dan ilmu keislaman) dimaknai sebagai pembelajaran integratif. Menurut
51 Djuaeni, Kamus ..., hlm. 439.
52 Lash, S., & Featherstone, M. (ed.). Recognition and Difference: Politics, Identity, Multiculture, (London: Sage Publication, 2002), hlm. 2.
53 Zainal Aqib, Model-model, Media, dan Strategi Pembelajaran Kontekstual (Inovatif), (Bandung: Rama Widya, 2013), hlm. 66.
Fogarty, pembelajaran integratif adalah mengaitkan antara aspek mata pelajaran yang berbeda atau antara disiplin ilmu yang diintegrasikan.54
Dari pengertian operasional yang diuraikan pada penegasan istilah di atas, peneliti dapat mengilustrasikan dalam skema gambar berikut:
Gambar: 1.1
Pengertian Operasional Judul Penelitian
Berdasarkan gambar: 1.1, peneliti dapat merumuskan pengertian operasional dari penelitian ini, yaitu: upaya menggabungkan, memasukkan dan menambahkan nilai multikultural yang sejalan dengan normativitas
54 Fogarty F, How to Integrative The Curicula, (Palatine Illionis: Skygh Publishing Inc, 1991), 76.
Nilai Multikultural
Integrasi Nilai Multikultural
Perdamaian Siswa dan Umat
Beragama Sekolah
Pasca Konflik
1. Normativitas Ajaran Islam: al-Qur‟an dan Hadis tentang penghormatan pada perbedaan agama dan budaya lain.
2. Falsafah Pancasila, UUD 1945, UU Sisdiknas, Nasionalisme dan Budaya Luhur Bangsa Indonesia.
3. Kearifan budaya lokal masyarakat Poso, yaitu „sintuwo maroso’ yang mengajarkan hidup bersama dalam perbedaan secara damai.
Perdamaian Daerah
Poso Pembelajaran
PAI Multikultural
agama Islam, falsafah Pancasila, nilai nasionalisme dan kearifan lokal masyarakat Poso ke dalam PAI sebagai kesatuan yang saling mendukung secara harmonis.
Selanjutnya, diimplementasikan melalui pembelajaran PAI perspektif multikultural yang kontekstual dengan realitas keragaman peserta didik, setting sosial warga sekolah dan masyarakat Poso pasca konflik sehingga mendukung upaya membangun perdamaian umat beragama.
410 A. Kesimpulan
Integrasi tidak hanya penerimaan terhadap komunitas masyarakat yang berbeda secara kultural, tetapi juga membutuhkan sikap saling menghormati secara luas pada seluruh aspek kehidupan yang lain. Pada konteks ini, integrasi nilai multikultural dalam pembelajaran PAI menjadi sangat penting dalam membangun harmoni warga sekolah, masyarakat dan bangsa Indonesia.
Integrasi nilai multikultural dalam pembelajaran PAI di SMKN 1 dan SMAN 3 Poso memiliki karakteristik umum yang sama, yaitu: peserta didik yang pluralistik, warga sekolah yang mayoritas dan minoritas secara agama, masyarakat Poso yang pernah mengalami konflik dan konsesus bersama umat Islam dan Kristen dalam membangun perdamaian pasca konflik.
Namun, masing-masing situs memiliki karakteristik tersendiri. Integrasi nilai multikultural di di SMKN 1 Poso berlangsung di komunitas umat Kristen, sementara di SMAN 3 Poso di komunitas umat Islam. Kegiatan keagamaan yang menjadi kultur umat Islam dalam mendukung upaya membangun perdamaian di masing-masing situs tidak sama meriahnya. Kondisi ini berdampak pada optimalisasi integrasi nilai multikultural dalam pembelajaran PAI, khususnya secara informal-kontekstual melalui kegiatan sosial keagamaan dan kerja kemanusiaan, baik di sekolah ataupun di masyarakat.
Berdasarkan temuan riset ini, peneliti dapat menarik beberapa poin kesimpulan yang diuraikan sebagai berikut:
1. Nilai multikultural yang diintegrasikan dalam pembelajaran PAI di kedua situs bersifat universal dan kontekstual dengan realitas keragaman peserta didik, setting sosial warga sekolah dan masyarakat Poso yang pernah mengalami konflik dan upaya membangun perdamaian umat beragama.
a. Di SMKN 1 Poso, guru mengintegrasikan nilai multikultural yang meliputi:
saling memaafkan, kasih sayang, toleransi, kebersamaan dan perdamaian.
Sedangkan nilai multikultural yang diintegrasikan guru di SMAN 3 Poso mencakup: saling menghormati, kepedulian, toleransi, kebersamaan dan perdamaian.
b. Kedua sekolah menekankan integrasi nilai toleransi, kebersamaan dan perdamaian dalam pembelajaran PAI, baik secara formal di kelas ataupun informal di luar kelas. Ketiga nilai multikultural tersebut merupakan nilai universal yang banyak menyatukan umat Islam dan Kristen dalam konteks membangun perdamaian.
2. Proses integrasi nilai multikultural dalam pembelajaran PAI di kedua sekolah pasca konflik sangat didukung oleh wawasan dan pengalaman guru setelah mengikuti workshop interfidei yang ditindaklanjuti dalam pembelajaran PAI berwawasan multikultural di sekolah masing-masing.
a. Proses integrasi nilai multikultural dalam pembelajaran PAI di kedua situs berlangsung secara formal-tekstual di kelas dan informal-konstekstual di sekolah atau masyarakat. Pengintegrasian nilai multikultural dilakukan
melalui empat pendekatan, yaitu: formal-tekstual, sosial-kontekstual, kontributif-kultural dan aditif-tematik dengan empat bentuk integrasi, meliputi: normatif, interpersonal, sosial dan budaya lokal.
b. Formal-tekstual adalah pendekatan integrasi nilai multikultural berdasarkan karakteristik materi PAI dalam silabus Kurikulum 2013, apakah bercorak multikultural atau tidak. Sosial-kontekstual, yaitu pendekatan integrasi nilai multikultural dengan mengaitkan materi sesuai realitas keragaman peserta didik di sekolah, masyarakat dan upaya membangun perdamaian di daerah Poso. Kontributif-kultural merupakan pendekatan integrasi nilai multikultural melalui topik kebudayaan Islam, kultur keagamaan umat Islam dan praktik kearifan lokal ‘sintuwo maroso’ dan ‘padungku’. Aditif- tematik sebagai pendekatan integrasi nilai multikultural dengan menambahkan tema-tema terkait perdamaian umat beragama.
c. Sedangkan bentuk integrasi nilai multikultural normatif di kedua situs berkaitan dengan internalisasi nilai ajaran Islam, kebangsaan dan kearifan lokal Poso. Interpersonal merupakan bentuk integrasi nilai multikultural pada interaksi peserta didik muslim lintas budaya di kelas dan kegiatan keagamaan atau dengan peserta didik Kristen di sekolah. Sosial adalah bentuk integrasi nilai multikultural pada kegiatan sosial yang menjadi sentra perjumpaan peserta didik Islam atau dengan peserta didik Kristen dalam membangun perdamaian. Budaya lokal, yaitu integrasi nilai multikultural melalui penerapan kearifan lokal ‘sintuwo maroso’ di kedua
situs. Sedangkan di SMKN 1 Poso menambahkan budaya ‘padungku’
untuk menghormati tradisi umat Kristen setiap tahun.
3. Format pembelajaran PAI perspektif multikultural di kedua situs berlangsung secara integral di kelas, lingkungan sekolah dan masyarakat. Pembelajaran formal-tekstual di kelas dipadukan dengan pembelajaran informal-kontekstual pada kegiatan keagamaan, kerja sosial dan kemanusiaan sehingga terbentuk kompetensi beragama peserta didik yang terpadu dalam konteks membangun perdamaian. Pembelajaran dilaksanakan melalui tiga tahap, yaitu: desain, pelaksanaan dan penilaian sesuai setting sosial warga sekolah dan masyarakat Poso yang sedang membangun perdamaian umat beragama.
a. Desain Pembelajaran
Guru mendesain pembelajaran dengan mempertimbangkan realitas keragaman peserta didik, warga sekolah yang mayoritas dan minoritas secara agama, masyarakat pasca konflik dan konsesus bersama umat Islam dan Kristen dalam membangun perdamaian di daerah Poso.
Selanjutnya, guru memetakan materi bermuatan nilai multikultural di setiap kelas agar mudah diajarkan dengan mendesain komponen pembelajaran dari tujuan instruksional, pendekatan, metode, media, sumber dan instrumen penilaian hasil belajar bercorak multikultural.
b. Pelaksanaan Pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran PAI multikultural secara formal berlangsung di kelas dan secara informal pada kegiatan keagamaan, ekstra kurikuler, kerja sosial dan kemanusiaan. Guru mengorientasikan tujuan pembelajaran untuk
membentuk kompetensi beragama peserta didik yang terpadu antara keshalehan spritual dan sosial sehingga mendukung terciptanya perdamaian umat beragama di sekolah dan masyarakat Poso.
Untuk mencapai tujuan tersebut, guru menyajikan materi bermuatan nilai multikultural melalui kegiatan pembuka, inti dan penutup dengan menekankan kolaborasi peserta didik yang berbeda berbasis nilai penghormatan, kesetaraan dan kedamaian. Pada penggunaan pendekatan, metode, media dan sumber, guru memberikan corak multikultural sehingga relevan dengan materi, realitas kemajemukan peserta didik dan tujuan pembelajaran PAI multikultural sebagai pendekatan dalam membangun perdamaian umat beragama di sekolah dan daerah Poso pasca konflik.
c. Penilaian Hasil Belajar
Penilaian hasil belajar peserta didik bercorak multikultural dilakukan melalui dua teknik, yaitu berbasis kelas dan sekolah. Penilaian di kelas menggunakan tes tertulis yang terikat dengan KD dan IPK hasil belajar dari materi bermuatan nilai multikultural. Sedangkan di lingkungan sekolah menggunakan pengamatan sikap beragama dalam kehidupan sosial lintas budaya dan agama.
4. Kontribusi pembelajaran PAI perspektif multikultural di kedua situs dalam membangun perdamaian umat beragama meliputi tiga aspek kehidupan, yaitu:
menangkal paham radikalisme, perdamaian peserta didik dan perdamaian umat beragama di sekolah dan masyarakat.
a. Menangkal Paham Radikalisme
Keterpaduan kompetensi beragama peserta didik antara pemahaman dan sikap yang toleran, moderat dan damai dalam menyikapi perbedaan agama merupakan kontribusi nyata pembelajaran PAI multikultural di kedua sekolah.
Dengan kompetensi beragama tersebut, peserta didik tidak mudah melakukan tindakan intoleran dan kekerasan kepada peserta didik Kristen, baik pada posisi sebagai mayoritas maupun minoritas.
Peserta didik mampu menyeleksi berbagai kelompok kajian keislaman yang marak di daerah Poso sehingga mereka tidak terpapar paham radikalisme.
Yang terpenting dalam konteks kemajemukan bangsa Indoensia, peserta didik memiliki paham nasionalisme yang sejalan dengan konsesus umat Islam dan Kristen membangun perdamaian dalam bingkai persatuan, Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
b. Perdamaian Peserta Didik
Perdamaian peserta didik Islam dan Kristen di kedua situs tergambar pada kesetaraan dalam kegiatan ritual ibadah, sosial keagamaan, pembelajaran bidang studi umum, ekstra kurikuler dan kerja kemanusiaan. Dialog kehidupan damai peserta didik Islam dan Kristen tergambar pada sikap saling menjaga kenyamanan beribadah, saling membantu teknik pelaksanaan hari-hari besar keagamaan, kerja bakti di rumah ibadah dan penggalangan dana sakit, duka dan bencana bagi masyarakat.
Di SMKN 1 Poso, peserta didik Kristen dan Islam memiliki tradisi saling mengucapkan selamat raya idul fitri dan natal setiap tahun. Sedangkan di
SMAN 3 Poso, peserta didik berkolaborasi dengan LSM menjadi agen perdamaian di SD dan bersama polisi menjaga keamanan pada saat sholat hari raya idul fitri dan ibadah hari raya natal.
c. Perdamaian Umat Beragama
Perdamaian antaumat Islam dan Kristen di kedua sekolah tergambar pada dialog kehidupan yang damai, baik di sekolah ataupun di masyarakat. Di sekolah, perdamaian kedua umat beragama tergambar pada menguatnya praktik toleransi dalam kegiatan akademik, keagamaan dan kehidupan sosial sehingga terbangun persatuan yang harmonis di antara mereka. Kedua umat beragama tidak mudah melakukan tindakan yang saling merendahkan dan kekerasan yang membawa isu agama.
Di masyarakat, umat Islam dan Kristen melakukan berbagai bentuk dialog kehidupan damai melalui kegiatan sosial dan kemanusiaan. Mereka bersama-sama mengikuti kegiatan porseni, festival budaya, hari besar nasional yang diselenggarakan pemerintah Kabupaten Poso. Di SMKN 1 Poso, kedua umat beragama memiliki tradisi saling berkunjung pada saat hari raya idul fitri dan natal dengan menyiapkan makanan halal menurut syari’at Islam.