BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Penelitian Terdahulu
Kajian penelitian terdahulu dimaksudkan untuk menghindari duplikasi penelitian yang akan dilakukan. Penelitian yang berkaitan dengan efektifitas pelaksanaan bimbingan perkawinan sebelumnya telah diteliti oleh beberapa akademisi. Adapun tesis yang relevan dengan tesis ini, yaitu:
1. Penelitian yang dilakukan oleh Janeko dan ditulis dalam tesis yang bejudul
“Kursus Calon Pengantin Sebagai Syarat Perkawinan (Study Pandangan Ketua Kantor Urusan Agama Dan Ulama Kota Malang)”. Hasil penelitian mahasiswa program al- Akhwalul Syakhsiyyah UIN Maulana Malik Ibrahim pada tahun 2013 ini menyebutkan bahwa pandangan ketua Kantor Urusan Agama dan Ulama’ Kota Malang terhadap kursus calon pengantin dijadikan syarat perkawinan, terdapat tiga pandangan yang berbeda.
Pertama, sangat setuju apabila kursus calon pengantin dijadikan syarat dalam prkawinan mengingat belum semua calon pengantin dijadikan syarat dalam perkawinan mengingat belum semua calon pengantin memahami tentang konsep perkawinan. Kedua, setuju dengan kursus pengantin sebagai syarat perkawinan akan tetapi belum saatnya diterapkan karena terlalu memberatkan dan takut masyarakat beranggapan bahwa perkawinan dipersulit. Ketiga, tidak sepakat ketika kursus calon pengantin dijadikan syarat perkawinan, dengan alasn apabila dijadikan syarat dan
tidak dipenuhi akan berakibat tidak sah, sedangkan syarat dan rukun perkawinan telah ditentukan oleh ulama’ para madzhab.27
2. Penelitian yang berjudul “Bimbingan Perkawinan Islam dan Katolik (Studi Komparasi Pedoman Perkawinan Islam dan Katolik di Kota Yogyakarta)”
ditulis oleh Muhannad Husnul, mahasiswa pascasarjana program studi Hukum Islam konsentrasi Hukum Keluarga. Hasil penelitian tesis pada tahun 2015 ini menyimpulkan 3 hal pokok. Pertama, bimbingan perkawinan Islam dan Katolik di Kota Yogyakarta sama-sama memasukkan landasan teologis, filosofis dan sosiologis dalam setiap materi bimbingan pekawinan baik pranikah maupun bimbingan keluarga.
Kedua, pelaksanaan bimbingan perkawinan berdasarkan perbandingan waktu,durasi, serta materi bimbingan maka bimbngan erkawinan gereja Katolik di kota Yogyakarta lebih unggul dibandingkan bimbingan perkawinan Islam di KUA melalui Badan Penasehat, Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) wilayah Kota Yogyakarta. Ketiga, peran gereja Katolik lebih siap dibandingkan bimbingan perkawinan KUA melalui BP4 dalam mempersiapkan calon pasangan suami istri pranikah untuk membentuk keluarga.28
3. Penelitian yang dilakukan oleh Mariatin Iftiyah, mahasiswa pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya program Studi Dirasan Islamiyah konsentrasi kepemudaan pada tahun 2017 dengan judul “Keharmonisan Pernikahan
27Janeko, “Kursus Calon Pengantin sebagai Syarat Perkawinan: Studi Paandangan Ketua Kantor Urusan Agama dan Ulama’ Kota Malang” (Tesis-UIN Maulana Malik Ibrahim, 2013)
28 Muhammad Husnul, Bimbingan Perkawinan Islam dan Katolik, Studi Komparasi Pedoman Perkawinan Islam dan Katolik di Kota Yogyakarta (Tesis-UIN Sunan Kalijaga 2015)
Pemuda Dewasa Dini”. Pada kesimpulan tesis ini dijelaskan keharmonisan pernikahan pemuda dewasa dini bervariasi sesuai dengan usia pemuda tersebut melangsungkan pernikahan. Bagi pemuda yang menikah di atas usia dewasa dini, keharmonisan yang paling utama adalah ketenangan hati bersama keluara, sedangkan keharmonisan pernikahan pemuda dewasa dini yang dialami oleh pemuda yang menikah dibawah usia dewasa didni lebih cenderung ketenangan dalam rumah tangga itu berdasarkan keadaan ekonomi.29
4. Penelitian yang dilakukan oleh Hayyinatul Wafda, mahasiswa pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya Prgram Studi Dirasah Islamiyah konsentrasi kepemudaan pada tahun 2018 dengan judul “Efektifitas bimbingan perkawinan bagi pemuda di Kabupaten Jombang”. Pada kesimpulan tesis ini dijelaskan bimbingan perkawinan di Kabupaten Jombang bersifat paradoks dengan jumlah kasus perceraian yang selalu meningkat meskipun bimbingan perkawinan telah dilasanakan, akan tetapi tentu saja hasilnya tidak dapat dibuktikan dalaam jangka waktu yang pendek. Bimbingan perkawinan sudah efektif sesuai dengan tujuan awal yaitu memberikan modal kehidupan rumah tangga bagi pasangan calon pengantin sehigga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah sehingga dalam jangka waktu yang panjang dapat menekan angka perceraian jika dilaksanakan secara berlanjut dan konsisten.30
29 Mariyatin Iftiyah, “Keharmonisan Pernikahan Pemuda Dewasa Dini” (Tesis-UIN Sunan Ampel 2017)
30 Hayyinatul Wafda, “Efektifitas Bimbingan Perkawinan Bagi Pemuda di Kaupaten Jombang”, (Tesis-UIN Sunan Ampel Surabaya,2018)
Dilihat dari penjelasan penelitian-penelitian tersebut yang sama- sama membahas tentang perkawinan dan bimbingan perkawinan, maka penelitian ini memiliki pebedaan sebelumnya yaitu lebih fokus pada efektifitas pelaksanaan bimbingan perkawinan di Kantor Urusan Agama Kecamatan Banyuwangi sebagai upaya mewujudkan keluarga sakinah.
Berikut matrik tentang penelitia terdahulu. Berdasarkan kajian penelitian terdahulu tersebut maka dapat dilalui oleh posisi penelitian yang akan saya lakukan:
Tabel 2.1 Origialitas Penelitian
No Judul Persamaan Perbedaan Hasil penelitian
1 Janeko “Kursus calon pengantin sebagai syarat perkawinan (Study pandangan Ketua Kantor Urusan Agama Dan Ulama Kota Malang)”
Sama-sama meneliti tentang
perkawinan di Kantor Urusan Agama tentang kursus calon pengantin/
bimbingan perkawinan.
Penelitian ini memfokuskan pada pandangan ketua Kantor Urusan Agama
dan Ulama
tentang kursus calon pengati sebagai syarat perkawinan.
Hasil penelitian mahasiswa program al- Akhwalul Syakhsiyyah UIN Maulana Malik Ibrahim pada tahun 2013 ini menyebutkan bahwa pandangan ketua Kantor Urusan Agama dan Ulama’
Kota Malang terhadap kursus calon pengantin dijadikan syarat
perkawinan, terdapat tiga pandangan yang berbeda
2 Muhannad Husnul
“Bimbingan perkawinan
Islam dan
Katolik (Studi komparasi pedoman perkawinan
Islam dan
Katolik di Kota Yogyakarta)”
Sama-sama meneliti tentang bimbingan perkawinan
Penelitian ini memfokuskan pada bimbingan perkawinan
Islam dan
Katolik.
Hasil penelitian tesis pada tahun 2015 ini menyimpulkan 3 hal
pokok dalam
bimbingan perkawinan Islam dan Katolik.
3 Mariatin Iftiyah,
“Keharmonisan pernikahan pemuda dewasa dini”
Sama-sama meneliti masalah perkawinan/pe rnikahan.
Penelitian ini memfokuskan kepada pemuda dewasa dini
Pada kesimpulan tesis ini dijelaskan keharmonisan
pernikahan pemuda dewasa dini bervariasi sesuai dengan usia pemuda tersebut melangsungkan
pernikahan.
4 Hayyinatul Wafda,
“Efektifitas bimbingan perkawinan bagi
pemuda di
Kabupaten Jombang”
Penelitian ini sama-sama meneliti efektifitas bimbingan perkawinan.
Pada penelitian
ini lebih
memfokuskan bimbingan perkawinan bagi pemuda.
Pada kesimpulan tesis ini dijelaskan bimbingan perkawinan di Kabupaten Jombang bersifat paradoks dengan jumlah kasus perceraian yang selalu meningkat meskipun bimbingan perkawinan telah dilaksanakan, akan tetapi tentu saja hasilnya tidak dapat dibuktikan dalaam jangka waktu yang pendek.