• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.2.1. Saujaningati Kristyanto, David Kaluge (2018)

Penelitian ini dengan judul “Peningkatan Inklusivitas Ekonomi Melalui Pembiayaan Investasi Modal Manusia”. Hasil penelitian ini memberikan informasi bahwa modal manusia merupakan pokok pembentukan kesejahteraan yang inklusif sebab investasi yang dituju akan memberikan damoak untuk mendorong pembangunan modal manusia (peningkatan kualitas pendidikan, gaji guru dan pendidikan, peningkatan kuantitas ratarata bersekolah, peningkatan standar hidup, usia harapan hidup yang lebih panjang, dan produktivitas bekerja).

Akan tetapi, pembiayaan investasi pendidikan masih sebatas pada peningkatan kuantitas tetapi masih lamban dalam peningkatan mutu pendidikan sehingga kapasitas sumber daya manusia masih rendah untuk mengupayakan percepatan pertumbuhan inklusif di Jawa Timur.

2.2.2. Reza Rizki Ramadhan, Yaya Setiadi (2019)

Penelitian ini mempunyai judul “Pengaruh Modal Fisik dan Sumber Daya Manusia terhadap Indeks Inklusif di Indonesia”. Hasil dari penelitian ini ialah pada periode 2011-2017 secara umum mempunyai tingkatan indeks inklusif menegah, karena sebagian besar provinsi di Indonesia mempunyai nilai indeks dikelas menengah.

Pembangunan modal fisik dan SDM di Indonesia pada periode ini

selalu mengalami peningkatan. Adanya peningkatan ini dapat dilihat dari variabel yang digunakan dalam penelitian ini yang nilainya cenderung berubah ke arah yang lebih baik. Pembangunan modal fisik yang secara signifikan memengaruhi indeks inklusif yaitu belanja modal pemerintah, sedangkan nilai investasi modal swasta tidak berpengaruh secara signifikan. Pada variabel pembangunan sumber daya manusia yaitu TPAK, RLS, serta keluhan kesehatan secara statistik berpengaruh secara signifikan terhadap indeks inklusif pertumbuhan ekonomi di Indonesia, TPAK serta RLS yang semakin tinggi mengakibatkan pertumbuhan ekonomi semakin inklusif sedangkan keluhan kesehatan yang semakin tinggi menyebabkan pertumbuhan ekonomi semakin tidak inklusif.

2.2.3. Tju Ji Long, Ernawati Pasaribu (2018)

Penelitian ini mempunyai judul “Analisis Spasial Determinan Pertumbuhan Inklusif Kabupaten/ Kota di Provinsi Jawa Tengah”.

Hasil dari penelitian ini terdapat keterkaitan spasial pada pertumbuhan inklusif. Sehingga, pertumbuhan inklusif di kabupaten/kota tertentu akan memengaruhi pertumbuhan inklusif kabupaten/kota dalam sekitarnya. Selain itu, berdasarkan hasil regresi spasial, peningkatan PMTB serta pengeluaran pemerintah fungsi perlindungan sosial akan diiringi dengan peningkatan pertumbuhan yang semakin inklusif.

Peningkatan upah minimum akan menurunkan pertumbuhan inklusif, tetapi dengan penurunan yang kecil. Sedangkan, inflasi dan

pengeluaran pemerintah fungsi pendidikan berpengaruh tidak signifikan dalam menurunkan pertumbuhan inklusif.

2.2.4. Wulan Retno Hapsari (2019)

Penelitian ini berjudul “Analisis Pertumbuhan Ekonomi Inklusif Kabupaten/ Kota di Provinsi Jawa Tengah”. Berhasilnya pembangunan yang dilakukan pemerintah selalu berfokus pada pertumbuhan. Apabila pertumbuhan ekonomi tinggi sudah dicapai akan tetapi masalah kemiskinan, pengangguran serta pertambahan kualitas SDM tidak bisa terselesaikan. Hal ini mengakibatkan kualitas pertumbuhan ekonominya masih dipertanyakan. Seharusnya pertumbuhan ekonomi kedepannya bukan sekedar mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi, namun dibarengi pula dengan pertumbuhan yang inklusif (berkualitas) sehingga permasalahan tersebut dapat terselesaikan. Hasil dari penelitian ini yaitu adanya pembagian 3 kelompok kategori untuk kabupaten/ kota di Provinsi Jawa tengah, yaitu kelompok kategori yang sangat memuaskan terdiri atas 4 kota dan 2 kabupaten, kategori memuaskan terdiri atas 2 kota dan 23 kabupaten, sementara 4 kabupaten lainnya masuk dalam kategori kurang memuaskan.

2.2.5. Azwar (2016)

Peneltian ini mempunyai judul “Pertumbuhan Inklusif di Provinsi Sulawesi Selatan dan Faktor-faktor yang Memengaruhinya”.

Hasil dapi penelitian ini yaitu : pertumbuhan secara keseluruhan di

Provinsi Sulawesi Selatan belum mencapai pertumbuhan inklusif yang sempurna. Dapat dilihat pada nilai Equity income Index sebesar 0,59 pada 2011 serta 0,67 pada tahun 2015 mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi belum berpihak pada masyarakat miskin.

Sedangkan apabila menggunakan metode PEGR total nilai koefisien pentumbuhan inklusif di Povinsi Sulawesi Selatan belum pernah mencapai tingkat pertumbuhan yang inklusif. Faktor yang mempengaruhi Pertumbuhan inklusif di Provinsi Sulawesi Selatan yaitu Pertumbuhan ekonomi, pendidikan serta jumlah penduduk miskin mempunyai pengaruh negatif serta signifikan pada indeks pertumbuhan inklusif. Pemgangguran, kesehatan, serta belanja daerah mempunyai pengaruh positif terhadap indeks pertumbuhan inklusif.

2.2.6. Chongmei Wang Bshb (2017)

Penelitian ini berjudul Research on Domestic and Foreign Inclusive Growth”. Studi ini berpendapat bahwa konotasi esensial dari pertumbuhan inklusif menekankan pada partisipasi, berbagi dan koordinasi yang komprehensif, yaitu bagaimana mengkoordinasikan hubungan antara berbagai faktor untuk mendorong kemajuan sosial, dan kesetaraan, politik, masyarakat, ekonomi, humaniora, lingkungan dan lainnya. faktor perlu dipertimbangkan. Ini adalah pilar penting untuk mengubah cara pembangunan ekonomi di China. Ini menerapkan efek spillover spasial wilayah dan model efek asosiasi regional untuk menganalisis mekanisme pengembangan sinergis

aglomerasi perkotaan, menentukan parameter kontrol dan parameter ketertiban, dan mengevaluasi tingkat perkembangan sinergis daerah, dan selanjutnya memberikan jalur dan kebijakan untuk pembangunan sinergis. aglomerasi perkotaan sub-regional Pan-Bohai.

2.2.7. Faisal Munir and Sami Ullah (2018)

Penelitian ini berjudul “Inclusive Growth in Pakistan:

Measurement and Determinant”. Penelitian ini memperkirakan ukuran terpadu dari pertumbuhan inklusif untuk Pakistan dan menentukannya dampak stabilitas makroekonomi, pendalaman keuangan dan perubahan struktural pada inklusif pertumbuhan selama periode 1987 hingga 2016. Pertumbuhan inklusif diukur dengan pertumbuhan pendapatan dan distribusi yang dikalibrasi dengan menggabungkan pertumbuhan PDB per kapita dan ketimpangan pendapatan Koefisien Gini. Kami menerapkan konsep mikroekonomi dari fungsi mobilitas sosial di Tingkat makroekonomi mengukur pertumbuhan inklusif yang mendekati definisi absolut propoor pertumbuhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stabilitas makro ekonomi serta perubahan struktural merupakan fondasi guna pencapaian pertumbuhan inklusif.

2.2.8. Hasdi Aimon, Anggi Putri Kurniadi dan Muhammad Kanzu Satrio (2020)

Penelitian ini mempunyai judul “Analysis Of Inclusive Growth In Poverty, Unemployment And Income Inequality In West Sumatera

Province: Panel Error Correction Model Approach”. Berdasarkan hasil estimasi, dapat disimpulkan bahwa analisis dalam jangka panjang yakni pertumbuhan inklusif dalam kemiskinan dipengaruhi secara positif dan signifikan oleh kesehatan, pendidikan, investasi serta pengeluaran pemerintah, sedangkan pertumbuhan inklusif pada pengangguran dan ketimpangan pendapatan berpengaruh negatif dan signifikan dipengaruhi oleh kesehatan, pendidikan, investasi dan pengeluaran pemerintah. Analisis untuk jangka pendek adalah bahwa investasi dan pengeluaran pemerintah mengganggu keseimbangan pertumbuhan inklusif dalam kemiskinan. Sedangkan pendidikan dan investasi mengganggu keseimbangan pertumbuhan inklusif pengangguran dan ketimpangan pendapatan. Terdapat keseimbangan jangka panjang menuju pertumbuhan inklusif dalam kemiskinan, pengangguran dan ketimpangan pendapatan meskipun dalam jangka pendek tidak ada keseimbangan.

2.2.9. Ni Made Ayu Krisna Cahyadi, Sasongko, Putu Mahardika Adi Saputra (2018)

Penelitian ini berjudul “Inclusive growth and leading sector in Bali”. Tentang hasil dinamika pertumbuhan pro-kaum miskin dalam pengentasan kemiskinan, pengurangan ketimpangan, dan penyerapan ketenagakerjaan, dapat disimpulkan bahwa daerah dengan sektor unggulan pertanian. Mengenai penyerapan tenaga kerja, terlihat jelas bahwa daerah-daerah dengan sektor unggulan pertanian seperti Jembrana, Tabanan, Bangli, Karangasem, dan Buleleng, memiliki pertumbuhan anti-miskin dalam menyerap tenaga kerja. Lain daerah seperti Badung, Gianyar, dan Kota Denpasar memiliki kondisi yang lebih baik meskipun belum berpihak pada masyarakat miskin menyerap tenaga kerja.

2.2.10. Ibnu Hidayat, Sri Mulatsih dan Wiwiek Rindayati (2020)

Penelitian ini bejudul “The Determinants of Inclusive Economic Growth in Yogyakarta”. Berdasarkan hasil analisis, kebijakan kenaikan upah minimum kabupaten / kota di Provinsi DIY hanya dapat menurunkan tingkat pengangguran terbuka, namun belum mampu meningkatkan Produk Domestik Regional Bruto serta mengurangi kemiskinan dan ketimpangan pendapatan. Kebijakan PMA dan PMDN dapat menurunkan tingkat pengangguran terbuka dan kemiskinan melalui peningkatan Produk Domestik Regional Bruto, namun belum mampu menurunkan tingkat ketimpangan,

ketimpangan dapat diturunkan melalui kebijakan peningkatan konsumsi rumah tangga.

Dokumen terkait