1. Penempatan dan pemasangan Alat Penerangan Jalan, dilakukan pada:
a. Jaringan jalan, meliputi:
1) Jalan bebas hambatan;
2) Jalan arteri;
3) Jalan kolektor;
4) Jalan lokal; dan 5) Jalan lingkungan.
b. Pertemuan jalan, meliputi:
1) Persimpangan jalan dan/atau bundaran;
2) Perlintasan sebidang jalan dengan jalur kereta api.
c. Perlengkapan jalan, meliputi:
1) Pulau lalu lintas;
2) Jalur perhentian darurat;
d. Fasilitas pendukung kegiatan lalu lintas dan angkutan jalan yang berada di luar badan jalan, meliputi:
1) Jalur khusus angkutan umum;
2) Jalur sepeda motor;
3) Jalur kendaraan tidak bermotor; dan 4) Tempat istirahat.
e. Fasilitas pendukung penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan, meliputi:
1) Trotoar; dan 2) Lajur sepeda.
f. Bangunan pelengkap jalan yang berfungsi sebagai jalur lalu lintas, meliputi:
1) Jembatan;
2) Lintas atas;
3) Lintas bawah;
4) Jalan layang; dan 5) Terowongan.
2. Penempatan dan pemasangan Alat Penerangan Jalan wajib dilakukan dengan memperhatikan:
a. fungsi jaringan jalan;
b. geometri jalan;
c. situasi arus lalu lintas;
d. keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan; dan e. perlengkapan jalan terpasang.
3. Penempatan dan pemasangan Alat Penerangan Jalan dilakukan pada lokasi yang menjadi bagian dari ruang milik jalan.
4. Penempatan dan pemasangan Alat Penerangan Jalantidak boleh merintangi dan/atau mengurangi ruang lalu lintas kendaraan atau pejalan kaki.
5. Penempatan dan pemasangan Alat Penerangan di sebelah kiri dan/atau kanan jalan menurut arah lalu lintas pada jarak paling sedikit 600 (enam ratus) milimeter diukur dari bagian terluar bangunan konstruksi Alat Penerangan Jalan ke tepi paling kiri dan/atau kanan jalur ruang lalu lintas atau kerb.
6. Penempatan dan pemasangan Alat Penerangan Jalan pada pemisah jalur dan/atau lajur ruang lalu lintas jalan paling sedikit berjarak 300 (tiga ratus) millimeter diukur dari bagian terluar bangunan konstruksi Alat Penerangan Jalan ke tepi paling luar jalur dan/atau lajur ruang lalu lintas atau kerb.
7. Pendirian dan/atau pemasangan bangunan, utilitas, media informasi, iklan, atau bangunan konstruksi lain tidak boleh menghalangi bangunan konstruksi serta jatuhnya cahaya Alat Penerangan Jalan yang mengakibatkan berkurangnya fungsi Alat Penerangan Jalan.
8. Dalam hal tidak tersedianya ruang untuk penempatan dan pemasangan tiang dan/atau bangunan pondasi, Alat Penerangan Jalan dapat dipasang pada:
a. dinding tembok;
b. kaki jembatan;
c. bagian jembatan layang; dan d. tiang bangunan utilitas.
9. Penempatan dan pemasangan Alat Penerangan Jalan menggunakan sistem:
a. Parsial
Sistem penempatan dan pemasangan alat penerangan jalan parsial dilakukan pada satu titik lokasi tertentu atau pada suatu panjang jarak tertentu sesuai dengan keperluannya.
b. Menerus
Sistem penempatan dan pemasangan alat penerangan jalan menerus dilakukan pada banyak atau beberapa titik pada satu ruas dan/atau segmen jalan tertentu yang dibedakan:
1) Jarak antar alat penerangan jalan yang tetap;dan
2) Jarak antar alat penerangan jalan yang bergradasi sesuai kebutuhan kuantitas pencahayaan.
c. kombinasi parsial dan menerus.
10. Sistem penempatan dan pemasangan Alat Penerangan Jalan kombinasi parsial dan menerus, dipasang pada daerah yang memiliki median jalan sangat lebar dengan ukuran lebih dari 10 (sepuluh) meter dan jalan yang memiliki banyak lajur dengan ukuran lebih dari 4 (empat) lajur setiap arah.
11. Sistem penempatan dan pemasangan Alat Penerangan Jalan memperhatikan:
a. kemudahan akses untuk perawatan Luminer;
b. keamanan dan keselamatan lalu lintas;
c. efek silauatau glare;
d. visibilitas siang dan malam hari terhadap rambu dan sinyal lalu lintas;
e. estetika;
f. lokasi pepohonan eksisting;dan
g. lokasi persimpangan yang memiliki Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APILL).
h. Sistem pemasangan instalasi listrik pada Alat Penerangan Jalan mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang ketenagalistrikan.
12. Jarak penempatan dan pemasangan Luminer Alat Penerangan Jalan ditentukan dengan memperhatikan:
a. acuan standar kualitas pencahayaan;
b. panjang jalan;
c. geometri jalan;
d. fungsi jalan; dan e. utilitas fungsi tiang.
Tata cara penempatan dan pemasangan Alat Penerangan Jalan sesuai dengan standar tercantum dalam Tabel 3.1, Tabel, 3.2, Tabel, 3.3, Tabel, 3.4, Gambar 3.1, Gambar 3.2, Gambar 3.3, Gambar 3.4, Gambar 3.5, Gambar 3.6, Gambar 3.7.
Tabel 3.1 Sistem penempatan Klasifikasi Jalan Dan Ruang
Lalu Lintas Sistem Penempatan Jalan bebas hambatan, Jalan arteri,
Jalan kolektor, Jalan lokal, Jalan lingkungan dan trotoar.
Sistem menerus dan parsial
Persimpangan, simpang susun, ramp, jembatan, jembatan penyeberangan orang.
Sistem menerus
Terowongan Sistem menerus
bergradasi pada ujung – ujung terowongan
Area parkir, penyeberangan pejalan kaki.
parsial
Tabel 3.2 Ketentuan pengaturan dan penataan letak
Tempat Pengaturan Dan Penataan Letak
Jalan satu arah
- Di kiri atau kanan jalan
- Di kiri atau kanan jalan berselang - seling - Di kiri atau kanan jalan berhadapan - Di bagian tengah / separator jalan Jalan dua
arah
- Di bagian tengah / median jalan
- Kombinasi antara bagian di kiri dan kanan berhadapan dengan di bagian tengah/median
persimpangan
- Pada setiap sudut persimpangan
- Dapat dilakukan dengan menggunakan lampu menara dengan beberapa lampu, umumnya
ditempatkan di pulau – pulau, median jalan, di luar daerah persimpangan (dalam Rumija maupun Ruwasja)
Gambar 3.1 Tipikal pengaturan dan penataan letak alat peneranga jalan satu arah
keterangan :
(a) di kiri atau kanan
(b) di kiri & kanan berselang – seling (c) di kiri & kanan berhadapan (d) di tengah median jalan (e) kombinasi
(f) katenasi
Gambar 3.3 Tipikal pengaturan dan penataan letak alat peneranga jalan dua arah
Gambar 3.4 Tipikal pengaturan dan penataan letak alat peneranga jalan dua arah
Gambar 3.5 Penempatan luminer tegak lurus terhadap radius tikungan
Gambar 3.6 Penempatan luminer pada puncak bukit atau puncak radius bukit
Gambar 3.7 Penempatan luminer pada tikungan horizontal R < 305 meter lengkung luar
Gambar 3.8 Penempatan luminer pada tikungan horizontal R < 305 meter lengkung dalam
Gambar 3.9 Penempatan luminer pada tikungan horizontal R ≥ 305 meter
Tabel 3.3 Jarak Maksimum Antar Tiang berdasarkan Simulasi Aplikasi
Fungsi Jalan Lebar Jalan (m)
Tinggi Tiang
(m)
40 Watt 60 Watt 80 Wat 120 Watt Jarak
Antar Tiang Maksim
um
Jarak Antar Tiang Maksim
um
Jarak Antar Tiang Maksim
um
Jarak Antar Tiang Maksim
um Jalan
Lingkungan 6,5 5 30 35 35 40
Jalan Lokal 7,5 7 50 48 49 55
Jalan
Kolektor 9 7 45 40 50 55
Jalan Arteri 11 7 *(22 *(24 32 43
11 9 *(20 *(22 30 45
Jalan Bebas
Hambatan 11 13 *(12 *(12 *(22 30
Tabel 3.4 Jarak Maksimum Antar Tiang berdasarkan Pembulatan
Fungsi Jalan Lebar Jalan (m)
Tinggi Tiang
(m)
Jarak Antar Tiang Maksimum 40
Watt 60
Watt 80
Watt 120 Watt
Jalan Lingkungan 6,5 5 35 40 40 45
Jalan Lokal 7,5 7 50 50 50 55
Jalan Kolektor 9 7 45 45 55 55
Jalan Arteri 11 7 *(25 *(25 35 55
11 9 *(25 *(25 35 45
Jalan Bebas
Hambatan 11 13 *(15 *(15 *(25 35
Catatan :
*( Jarak antar tiang berdasarkan di bawah 30 m tidak layak di pasang, mempertimbangkan jarak yang terlalu dekat