BAB I PENDAHULUAN
C. Pengaruh Zakat terhadap Ekonomi Masyarakat
Perintah berzakat pada dasarnya merupakan upaya agar harta kekayaan dapat terdistribusikan di tengah-tengah masyarakat, tidak hanya menumpuk di kalangan orang-orang kaya saja. Zakat yang diberikan kepada mustahiq akan berperan sebagai pendukung peningkatan ekonomi apabila dikonsumsikan pada kegiatan produktif.
Dampak zakat bagi si pemberi adalah zakat akan mensucikan jiwa dari sifat kikir, zakat mendidik untuk belajar berinfak dan memberi, zakat merupakan manifestasi syukur atas nikmat Allah, zakat mengobati hati dari cinta dunia, zakat mengembangkan kekayaan batin, dan zakat juga mensucikan harta. Sedangkan dampak bagi si penerima adalah zakat membebaskan si penerima dari kebutuhan, zakat menghilangkan sifat dengki dan benci. Zakat dari segi ekonominya adalah merangsang si pemilik harta kepada amal perbuatan untuk mengganti apa yang telah diambil dari mereka (agar tidak menumpuk).44
Pengaruh zakat terhadap ekonomi masyarakat sendiri sangatlah banyak, diantaranya adalah:
5. Zakat adalah hukum pertama yang menjamin hak sosial secara utuh dan menyeluruh.
6. Zakat berperan penting dalam menggerakkan ekonomi.
7. Zakat memperkecil kesenjangan antara si kaya dan si miskin.
43 Mohammad Daud Ali, System Ekonomi Islam Zakat Dan Wakaf, (Jakarta: UI Press, 1988), h. 62-63
44 Yusuf Qardawi, Hukum Zakat., h. 848-882.
8. Zakat berperan besar dalam menghapus peminta-minta dan mendorong perbaikan antara sesama. 45
Zakat dilihat dari sudut pembangunan kesejahteraan masyarakat memiliki tujuan yang sangat mulia, yaitu:
1. Menggalang jiwa dan semangat saling menunjang dan solidaritas sosial dikalanga masyarakat Islam.
2. Merapatkan dan mendekatkan jarak dan kesenjangan sosial ekonomi dalam masyarakat.
3. Menanggulangi pembiayaan yang mungkin timbul akibat berbagai bencana seperti bencana alam maupun bencana lainnya.
4. Menutup biaya-biaya yang timbul akibat terjadinya konflik, persengketaan dan berbagai bentuk kekerasan dalam masyarakat.
5. Menyediakan suatu dana yang praktis dan khusus untuk penanggulangan biaya hidup para gelandangan, para pengangguran dan para tunasosial lainnya, termasuk dana untuk membantu orang-orang yang hendak menikah tetapi tidak memiliki dana untuk itu. 46
Zakat dapat dijadikan sebagai salah satu bentuk modal bagi usaha kecil. Pengelolaan zakat secara produktif dengan menjadikannya modal usaha, atau pemberdayaan ekonomi lainnya, sehingga mustahik dapat membiayai kebutuhan hidupya secara konsisten untuk kedepannya. Dengan demikian, zakat memiliki pengaruh yang baik dalam berbagai hal kehidupan masyarakat, diantaranya adalah dalam bidang ekonomi, pengaruh yang lainnya adalah pembagian pendapatan secara adil kepada masyarakat Islam lainnya.
45 Nurul Huda, et. al, Zakat Prespektif Mikro-Makro Pendekatan Riset, (Jakarta:
Kencana Prenadamedia Group, 2015), h, 8-10.
46 Ibid., h. 11.
A. Jenis Dan Sifat Penelitian 1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research).
Penelitian lapangan yaitu suatu penelitian yang dilakukan di lapangan atau di lokasi penelitian, suatu tempat yang dipilih sebagai lokasi untuk menyelidiki gejala objektif yang terjadi di lokasi tersebut, yang dilakukan juga untuk menyusun laporan tersebut.1 Penelitian dilakukan di Desa Balekencono Kecamatan Batanghari, yang bertujuan untuk menemukan realita yang terjadi tentang implementasi zakat hasil pertanian dalam peningkatan kesejahteraan ekonomi.
2. Sifat Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif, karena penelitian ini berupaya mengumpulkan fakta yang ada, penelitian ini terfokus pada usaha mengungkapkan suatu masalah dan keadaan sebagaimana adanya, yang diteliti dan dipelajari sebagai sesuatu yang utuh.
Penelitian deskriptif adalah menggambarkan sifat suatu yang berlangsung pada saat penelitian dilakukan dan memeriksa sebab-sebab dari suatu gejala tertentu.2 Sedangkan penelitian kualitatif adalah sebagai
1 Abdurrahmat Fatoni, Metodelogi Penelitian Teknik Penyusunan Skipsi, (Jakarta : Rineka Cipta, 2006), h. 96.
2 Nurul Zuriah, Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan: Teori-Aplikasi, (Jakarta:
PT Bumi Aksara, 2009), h. 47.
prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.3 Deskriptif yang dimaksud dalam penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tentang implementasi zakat hasil pertanian dalam peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat di Desa Balekencono.
B. Sumber Data
Setiap penelitian ilmiah selalu dihadapkan dengan persoalan sumber data, sumber data adalah objek darimana data dapat diperoleh.4 Karena dengan data inilah dapat dianalisis suatu masalah, menarik kesimpulan dan mencarikan solusi-solusi atas permasalahan yang sedang diteliti. Macam- macam sumber data antara lain:
1. Sumber Data Primer
Sumber Data Primer adalah sumber data yang langsung dikumpulkan oleh peneliti dari sumber pertamanya.5 Jadi sumber data primer atau data pokok dalam penelitian ini adalah tokoh agama dan para petani yang mengeluarkan zakat (muzakki) dan masyarakat yang menerima zakat (mustahiq) hasil pertanian. Petani sebagai sumber data primer yang ditetapkan secara purpossive sampling.
Purpossive sampling adalah ”pemilihan sekelompok subjek dalam purposive sampling di dasarkan atas ciri-ciri tertentu yang dipandang
3 Moh. Kasiram, Metodelogi Penelitian Kualitatif Kuantitatif, ( Malang : UIN Maliki Perss, 2010), h. 175.
4 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta:
Rineka Cipta, 2013), h. 172.
5 Sumardi Surya Brata, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Rajawali Press, 2003), h. 39
mempunyai sangkut paut yang erat dengan populasi yang diketahui sebelumnya”.6 Dengan kriteria tertentu yang diterapkan berdasarkan tujuan penelitian yaitu:
a. Masyarakat yang sudah mengeluarkan zakat mal (muzakki)
b. Masyarakat yang sudah mengeluarkan zakat baik zakat mal maupun zakat fitrah.
c. Masyarakat yang pekerja sebagai buruh tani.
d. Masyarakat pedanggan sayur keliling.
e. Masyarakt pekerja serabutan.
2. Sumber Data Sekunder
Sumber data sekunder adalah sumber data kedua setelah sumber data primer. Data yang dihasilkan dari data ini adalah data sekunder.
Sumber data sekunder dapat membantu memberikan keterangan keterangan atau data pelengkap sebagai bahan pembanding.7
Selain sumber data primer di atas, digunakan sumber data skunder sebagai acuan teoritis. Untuk mendapatkan data kepustakaan maka digunakan sumber data kepustakaan seperti buku-buku tentang zakat hasil pertanian dan buku tentang kesejahteraan ekonomi.
6 Nurul Zuriah, Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), h. 124
7 Burhan Bungin, Metodelogi Penelitian Sosial dan Ekonomi, (Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2013), h. 119.
3. Sumber data tersier
Sumber data tersier adalah data penunjang, yaitu bahan-bahan yang memberi petunjuk dan penjelasan terhadap sumber data primer dan sekunder.8 Dalam penelitian ini sumber data tersier yang digunakan adalah Kamus Besar, Ensiklopedia, dan Internet.
C. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan cara mengumpulkan data yang dibutuhkan untuk menjawab rumusan masalah penelitian.9 Dalam penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:
1. Observasi
Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian, pengamatan dan pencatatan ini dilakukan terhadap objek di tempat terjadi atau berlangsungnnya peristiwa.10 Dalam hal ini peneliti melakukan pengamatan langsung di lapangan tanpa perantara terhadap objek yang diteliti.
2. Wawancara
Wawancara merupakan bentuk komunikasi langsung antara peneliti dan responden.11 Wawancara adalah proses tanya jawab dalam
8Muhammad, Metodologi Penelitian Ekonomi Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2008), h. 103.
9 Juliansyah Noor, Metodelogi Penelitian Skripsi Tesis Disertasi, dan Karya Ilmiah, (Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2013), h. 138.
10 Nurul zuriah, Metodologi Penelitian., h. 173.
11 W. Gulo, Metodologi Penelitian, (Jakarta: PT Grasindo, 2004), h. 119.
penelitian yang berlangsung secara lisan dalam mana dua orang atau lebih bertatap muka mendengarkan secara langsung informasi-informasi atau keterangan-keterangan.12
Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara terarah yakni wawancara yang dilaksanakan secara bebas, tetapi kebebasan ini tetap tidak terlepas dari pokok permasalahan yang akan ditanyakan kepada responden dan telah dipersiapkan sebelumnya oleh pewawancara.13 Wawancara dilakukan dengan tokoh agama dan masyarakat petani di Desa Balekencono Kecamatan Batanghari.
3. Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah metode untuk mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan-catatan, buku, agenda, dan sebagainya.14 Metode ini digunakan sebagai bahan informasi yang berupa monografi desa, catatan amil zakat dan data lain yang mendukung kelengkapan data penelitian.
D. Teknik Penjamin Keabsahan Data
Teknik penjamin keabsahan data merupakan cara – cara yang dilakukan peneliti untuk mengukur derajat kepercayaan dalam proses pengumpulan data penelitian.15 Teknik yang digunakan untuk menguji keabsahan data dalam penelitian ini adalah triangulasi. Triangulasi adalah
12 Cholid Narbuko dan Abu Achmadi, Metodologi Penelitian, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2013), h. 83.
13 Burhan Bungin, Metodologi Penelitian., h. 135.
14 Nurul Zuriah, Metodologi Penelitian., h. 191.
15 P3M STAIN Jurai Siwo Metro, Pedoman Penelitian, h.40.
teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.16 Triangulasi dibedakan menjadi empat yaitu tiangulasi sumber, metode, penyidik dan teori. Dalam penelitian ini menggunakan triangulasi sumber, yaitu membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif. Hal itu dapat dicapai dengan jalan:
1. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.
2. Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi.
3. Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu.
4. Membandingkan keadaan dan prespektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang seperti rakyat biasa, orang berpendidikan menengah atau tinggi, orang berada, orang pemerintahan.
5. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.17
Berdasarkan teknik di atas, maka dalam penelitian ini dibandingkan data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan mustahik, dengan data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan muzakki. Selain itu juga dibandingkan data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan data yang diperoleh dari observasi di lapangan, sehingga diketahui kesesuaian data hasil wawancara dengan fakta di lapangan.
16 Lexy J. Moleong, Metodologi penelitian Kualitatif, (Bandung:PT Remaja Rosdakarya,2014), h. 330.
17 Ibid.
E. Teknik Analisis Data
Analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menentukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.18
Setelah data terkumpul ada beberapa tahap dalam menganalisis data, menurut Miles dan Hubberman, bahwa tahap analisis data terdiri dari:
1. Reduksi data
Reduksi berarti pengurangan atau penentuan ulang. Pada tahap ini dipilih data pokok saja dan menyingkirkan data yang tidak penting yang kemudian dimasukkan ke dalam kategorisasi data yang sesuai dengan fokus penelitian.
2. Penyajian data
Penyajian data dapat diartikan sebagai upaya menampilkan, memaparkan atau menyajikan secara jelas data-data yang dihasilkan.
3. Verifikasi data
Setelah data disajikan, maka dilakukan verifikasi atau konfirmasi dalam rangka mempertajam data dan memperjelas pemahaman dan tafsiran yang telah dibuat sebelum peneliti sampai pada kesimpulan akhir
18 Lexy J. Moleong, Metodologi penelitian., h. 248.
penelitian. Karena itulah tahapan analisis ini dilakukan untuk menemukan kesimpulan akhir dari sebuah penelitian.19
Setelah data terkumpul, dipilah-dipilih dan disajikan, maka selanjutnya diambil kesimpulan dengan menggunakan metode Induktif, yaitu suatu analisis berdasarkan data yang diperoleh, selanjutnya dikembangkan menjadi hipotesis yang dirumuskan berdasarkan data tesebut.20
Berfikir induktif yaitu suatu cara berfikir yang berangkat dari fakta- fakta yang khusus dan konkrit, peristiwa konkrit, kemudian dari fakta atau peristiwa yang khusus dan konkrit tersebut ditarik secara generalisasi yang mempunyai sifat umum.21 Cara berfikir ini digunakan untuk menarik kesimpulan dari hal-hal yang khusus menuju kepada hal-hal umum, kemudian ditarik kesimpulan yang bersifat umum.
Berdasarkan keterangan di atas maka dalam menganalisa data peneliti menggunakan data-data yang telah diperoleh dalam bentuk uraian- uraian kemudian data tersebut dianalisa dengan menggunakan cara berfikir induktif yaitu dari informasi tentang Implementasi Zakat Hasil Pertanian dalam Peningkatkan Kesejahteraan Ekonomi Masyarakat di Desa Balekencono Kecamatan Batanghari.
19 Ibrahim, Metodologi Penelitian., h. 108-110.
20 Moh. Kasiram, Metodelogi Penelitian., h. 84.
21Sutrisno Hadi, Metodologi Penelitian Research I, h. 40
A. Temuan Umum Hasil Penelitian
1. Sejarah Desa Balekencono Kecamatan Batanghari
Pada mulanya calon Desa Balekencono berasal dari hutan belantara yang dibuka pada tahun 1939 pada zaman pemerintahan Kolonial Belanda.
Penduduk yang dipindahkan dari pulau Jawa ke Lampung antara lain ada yang di lokasi calon desa Balekencono. Perpindahan penduduk ini dikenal dengan istilah kolonisasi yang sekarang bernama transmigrasi. Pada kolonis ini berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur , antara lain dari ekskaresidenan Banyumas, Semarang, Jogjakarta, Surakarta dan Kediri.
Sebelum adanya desa, pada masa kolonis tersebut ditempatkan di belakang atau barak yang masing-masing bedeng diberi nomor bedeng/barak sebagai berikut:
a. Nomor bedeng 48 polos dengan jumlah 80 KK yang dikepalai oleh seorang kepala bedeng bernama Sastro Sanjoyo.
b. Nomor bedeng 48 A dengan jumlah 80 KK yang dikepalai oleh seorang kepala bedeng bernama Noto Prawiro.
c. Nomor bedeng 48 polos dengan jumlah 80 KK yang dikepalai oleh seorang kepala bedeng bernama Kartirejo atau Pak Sarbun.1
1 Hasil Dokumentasi dan Wawancara dengan Kepala Desa Balekencono pada Tanggal 14 Juli 2017
Pada tahun 1941 para kepala bedeng mengadakan musyawarah untuk menggabungkan diri dengan bentuk desa yang mempunyai nama desa. Setelah melewati berbagai saran dan usulan tentang nama calon desa tersebut, akhirnya disepakati bernama “BALEKENCONO”. Sedangkan pimpinan desanya ditunjuk oleh Asisten Wedana dari antara beberapa kepala bedeng yakni Bapak Noto Prawiro.2
Tabel 1
Sejarah Pemerintahan Desa Balekencono
No Periode Nama Kepala Desa Ket
1 Sebelum tahun 1941 Tidak diketahui 2 1941-1953 Noto Prawiro 3 1943 – 1947 Kartorejo 4 1948-1949 Wiryo Sukarto 5 1949 – 1968 Kartorejo
6 1969 – 1971 Kartorejo (1 tahun) Rusman
7 1972 – 1975 Supardi (1974) ahmad muladi (1975) 8 1976-1985 Simin A. Anwar
9 1986– 1988 Pjs Abu Nardi (1 tahun) Pjs kasiran (1 tahun) 10 1988 – 1992 Budiman santoso 11 1992 – 1994 Pjs suwito martono 12 1994 – 1999 Danuri
13 1999 – 2002 Pjs Sutrima
14 2003-2008 Sutrima
15 Pjs permono (6 bulan)
16 2008 – 2013 Sutrima 17 2014 s/d sekarang Suharyono Sumber data : Monografi Desa Balekencono3
Desa Balekencono mempunyai visi yaitu “Terwujudnya Desa Balekencono Menjadi Desa Mandiri Melalui Bidang Pertanian dan Industri Kecil”. Selain visi Desa Balekencono juga memiliki misi yaitu:
2 Ibid
3 Ibid
a) Memeperbaiki dan menambah sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk meningkatkan SDM melalui pendidikan formal maupun informal.
b) Bekerja sama dengan petugas penyuluhan lapangan untuk meningkatkan hasil peternakan dan industri kecil.
c) Meningkatkan usaha peternakan dan industry kecil.
d) Meningkatkan dan mengelola pendapatan asli desa.
e) Mewujudkan pemerintahan yang baik dan bersih melalui pelaksanaan otonom daerah.4
2. Demografi Desa Balekencono Kecamatan Batanghari
Desa Balekencono merupakan salah satu dari tujuh belas desa yang ada di kecamatan Batanghari yang terdiri dari lima dusun, yaitu:
a. Dusun Sendang Jaya b. Dusun Sendang Sari c. Dusun Sendang Agung d. Dusun Sendang Mulyo e. Dusun Sendang Rejo5
Luas wilayah Desa Balekencono adalah 460 Ha yang meliputi:
a. Tanah sawah : 275 Ha b. Tanah pemukiman : 120 Ha c. Tanah sawah tadah hujan : 34 Ha d. Tanah perkebunan :7 Ha e. Tanah lain-lain : 24 Ha6 Batas wilayah desa meliputi:
a. Sebelah Utara : Selorejo
b. Sebelah Selatan : Purwodadi Mekar
4 Ibid
5 Ibid
6 Ibid
c. Sebelah Barat : Nampirejo d. Sebelah Timur : Sekampung7
Jumlah penduduk Desa Balekencono 3269 jiwa meliputi a. Jumlah laki-laki :1641 jiwa
b. Jumlah perempuan :1628 jiwa
c. Jumlah KK : 1026 KK
d. Jumlah KK RTM : 376 KK8
3. Keadaan Sosial Ekonomi Masyarakat Desa Balekencono Kecamatan Batanghari
Keadaan sosial ekonomi masyarakat desa Balekencono adalah masyarakat sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani yaitu 379 orang, ada juga yang bekerja selain bertani yaitu sebagai peternak sebanyak 85 orang, buruh tani sebanyak 247 orang, pedagang sebanyak 165 orang, tuakang kayu 31 orang, tukang batu 42 orang, penjahit 16 orang, PNS 15 orang, pensiunan 10 orang, TNI/POLRI 5 orang, dan perangkat desa 13 orang.
Jenis usaha yang berkembang di desa Balekencono meliputi pertanian yaitu persawahan padi dan palawija. Dibidang peternakan ada perikanan, ayam, sapi, kambing, kerbau, dan unggas. Usaha lainnya meliputi industry kecil rumah tangga, perdagangan, jasa listrik, perbengkelan, dan kerajinan tangan.
7 Ibid
8 Ibid
Kepala desa SUHARYONO
LPM/Lembaga Adat BKAD dan Bum Des Drs. JAMHARI KEMAL BPD
DANURI
Kasi Pertanian SARIYANTO
Kasi Keamanan
BASUKI
Sekdes PERMONO
Kaur keuangan SUMADI Kaur
umum SAIUN Kaur
pembangunan JUDRIYANTO Kaur
pemerintahan NURHADI
Kadus II MUHRODIN
Kadus II MUNAWAR
Kadus III JAIDUN
Kadus IV SUSITO
Kadus V KATIMIN
Lembaga pendidikan yang berada di Desa Balekencono yaitu TK/PAUD 1 unit, SD/MI 3 unit, SLTP/MTS 1 unit. Untuk keagamaan mayoritas masyarakat beragama Islam yaitu sebanyak 3226 orang, Katolik 29 orang, Kristen 14 orang. Sarana tempat ibadah yang dimiliki Desa Balekencono yaitu Masjid 5 unit, Musholla 6 unit, Gereja 2 unit.9
4. Struktur Pemerintahan Desa Balekencono Kecamatan Batanghari10
9 Ibid.
10 Ibid
B. Implementasi Zakat Pertanian di Desa Balekencono Kecamatan Batanghari
1. Petani yang sudah Muzaki
Pertanian merupakan proses penggarapan tanah oleh petani untuk menghasilkan tumbuh-tumbuhan atau buah-buahan yang diharapkan.
Kadangkala tanah yang digarap ada yang subur secara alami, dan ada juga yang tidak subur secara alamiah, sehingga memerlukan pengolahan untuk mendapatkan kesuburan maksimal seperti pemupukan maupun pengairan sendiri. Dengan keadaan yang demikian maka pantaslah seorang muslim mensyukuri apa yang diperoleh dari hasil tanamannya dengan berzakat bagi yang telah memenuhi persyaratan.
Desa Balekencono Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur merupakan desa yang mayoritas penduduknya adalah petani dan hasil pertaniannya adalah padi. Adapun petani yang sudah dikatakan sebagai muzaki di Desa Balekencono Kecamatan Batanghari berjumlah 5 orang yaitu Bapak Kamidi, Bapak, Sigit, Bapak Mukhlisin, Bapak Sukron, dan Bapak Sugeng.
Kelima petani yang sudah menjadi muzaki di atas sama-sama hasil panennya adalah padi namun dalam memberikan zakat atau hasil panennya berbeda-beda ada yang lewat petugas amil zakat di bulan Romadhon, dan ada juga yang langsung memberikan kepada yang berhak atau mustahik.
Bapak Kamidi dikatakan sudah masuk muzaki karena lahan yang dimilikinya adalah 1,5 ha, sehingga hasil panennya lebih dari satu ton padi. Bapak Sigit memiliki lahan seluas 1 ha penghasilan padinya lebih dari satu ton, begitupun dengan Bapak Mukhlisin memiliki lahan seluas 1 ha padi yang dihasilkan lebih satu ton, Bapak Sukron memiliki lahan seluas 3/4 ha dan Bapak Sugeng memiliki lahan seluas 1/2 ha ditambah dengan hasil kerja sebagai PNS. Jadi, kelima petani di atas sudah masuk dalam kategori muzaki, karena sudah lebih dari 1 ton padi yang dihasilkannya.
2. Pelaksanaan Zakat Hasil Pertanian a. Jumlah Muzaki Yang Bayar Zakat
Profesi petani, apalagi petani dengan kepemilikan sawah lebih dari 1 ha, merupakan profesi yang bisa menunjang kebutuhan hidup dan bahkan berlebih. Petani adalah orang yang bisa memberikan bantuan makanan atau kebutuhan hidup kepada orang lain yang membutuhkan, dan andil dalam pemenuhan kebutuhan bersama baik sosial kemasyarakatan maupun keagamaan.
Pertanian menjadi mata pencaharian yang relatif membutuhkan biaya produksi yang kecil dan memberikan hasil yang relatif besar. Biaya untuk perawatan dan pupuk menghabiskan kurang lebih 5 juta rupiah per 1 ha. Beberapa hitungan biaya produksi pertanian di desa Balekencono menjadi relatif kecil karena ditunjang oleh beberapa hal, antara lain yaitu:
1. Keberadaan sawah di desa Balekencono dengan irigasi teknis yang lancar
2. Kondisi tanah yang relatif masih subur dengan pengolahan tradisional dan bahkan dikerjakan secara kolektif dengan gotong royong bergantian
3. Penggunaan pupuk dan obat yang belum terlalu banyak dan tidak mahal, dan ditunjang dengan penggunaan pupuk organik hasil kotoran ternak. Sementara itu, hama tanaman jarang sekali muncul dan bisa diselesaikan dengan cara-cara tradisional yang tidak berbiaya mahal
4. Penggunaan bibit padi yang diseleksi sendiri oleh petani dari hasil panen, meskipun sudah mulai menggunakan bibit padi yang harus beli tidak bisa diambil dari seleksi hasil panen 5. Pengerjaan pemanenan banyak dilakukan secara gotong
royong bergantian, sehingga tidak membutuhkan biaya sewa tenaga.11
Kadangkala tanah yang digarap ada yang subur secara alami, dan ada juga yang tidak subur secara alamiah, sehingga memerlukan pengolahan untuk mendapatkan kesuburan maksimal seperti pemupukan maupun pengairan sendiri. sehingga biaya untuk mendapatkan hasil yang baik memerlukan biaya yang lumayan besar. Dengan keadaan yang demikian maka pantaslah seorang muslim mensyukuri yang diperoleh dari hasil tanamannya dengan berzakat bagi yang telah memenuhi persyaratan.
Seperti pernyataan dari salah satu petani bahwa “setiap hasil panennya selalu mengeluarkan zakat, dan zakat tersebut diserahkan secara langsung kepada yang berhak ataupun melalui badan amil zakat diakhir bulan romadhon”.12
“Alhamdulillah hasil dari setiap panen dalam satu tahun dua kali, sehingga dapat mengeluarkan zakat, karena itu sesungguhnya harta yang
11 Hasil Wawancara dengan Petani Sekaligus Ketua RT, Slamet, pada Tanggal 15 Juli 2017
12 Hasil Wawancara dengan Kamidi (yang Mengeluarkan Zakat/ Muzakki), pada Tanggal 16 Juli 2017
diserahkan atau yang dijadikan zakat tersebut kelak itulah yang akan dimakan kembali oleh sipemberi ketika diakhirat”.13
“saya mengeluarkan zakat tidak tiap tahun sekali tetapi ketika hasil panen kami memang sangat bagus, dan biasanya saya bisa panen sampai 3 ton padi, untuk zakatnya saya jadikan beras terlebih dahulu dan beras tersebut saya berikan kepada para penduduk yang berhak mendapatkan tidak melewati petugas amil zakat tetapi kami memberikannya secara langsung”.14
Ditambahkan lagi bahwa “zakat yang saya keluarkan Alhamdulillah dapat membantu ekonomi warga yang memang sangat membutuhkan”.15
Rata-rata petani yang ada di Desa Balekencono yang mengeluarkan zakat hasil bumi berupa padi atau beras, karena mayoritas penduduknya adalah petani sawah. Seperti pernyataan salah satu tokoh agama dan sekaligus perangkat pemerintah bahwa “para petani di Desa Balekencono mayoritas hasil panennya adalah padi, dan juga ada beberapa petani yang yang hasil panennya adalah berupa jagung, singkong, dan sayuran”.16
Kemudian menambahkan lagi bahwa “dari beberapa petani tersebut hanya ada beberapa orang saja yang sudah mengeluarkan zakat
13 Ibid
14 Hasil Wawancara dengan Sukron, (Mengeluarkan Zakat/Muzakki), pada Tanggal 16 Juli 2017
15 Ibid
16 Wawancara dengan Tokoh Agama Tamyis, Desa Balekencono pada tanggal 15 Juli 2017