Pada pasal 16 ayat 2 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 36
Tahun 2007 Tentang Pelaksanaan Undang -Undang Nomor 9 Tahun 2006
Tentang Sistem Resi Gudang dinyatakan bahwa hak Jaminan atas resi gudang
memberikan kedudukan untuk diutamakan bagi penerima Hak Jaminan terhadap kreditor yang lain. Kedudukan untuk diutamakan atas kreditor lainnya ini disebut dengan istilah droit de preference, salah satu implikasi dari adanya ketentuan droit de preference ini adalah apabila pemberi hak jaminan atas resi gudang mengalami pailit maka hak yang didahulukan dari penerima hak jaminan atas resi gudang tidak hapus karena resi gudang yang menjadi objek hak jaminan atas resi gudang tidak termasuk dalam harta pailit pemberi hak jaminan atas resi gudang.
Kemudian dalam pasal 18 ayat 1 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 36 Tahun 2007 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 9 Tahun
2006 Tentang Sistem Resi Gudang dinyatakan bahwa Penerima Hak Jaminan atas
resi gudang harus memberitahukan perjanjian pengikatan Resi Gudang sebagai Hak Jaminan kepada Pusat Registrasi dan Pengelola Gudang. Kewajiban pemberitahuan ini merupakan pelaksanaan asas publisitas dari hak jaminan.
Pemberitahuan hak jaminan atas resi gudang pada pusat regsitrasi dan pengelola gudang harus dilakukan secara tertulis dengan formulir yang ditetapkan badan pengawas dan dilengkapi dengan fotokopi Perjanjian Hak Jaminan dan fotokopi Resi Gudang. Kemudian konfirmasi pemberitahuan pembebanan Hak Jaminan disampaikan oleh Pusat Registrasi secara tertulis atau elektronis kepada penerima Hak Jaminan, pemberi Hak Jaminan dan Pengelola Gudang paling lambat pada hari berikutnya.
Adanya kewajiban konfirmasi pemberitahuan pembebanan hak jaminan atas resi gudang harusnya memberi jaminan perlindungan terhadap para pihak. Akan
tetapi, dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2007
Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2006 Tentang Sistem Resi Gudang tidak diatur tentang akibat hukumnya apabila pusat registrasi terlambat memberikan konfirmasi terhadap pemberitahuan pembebanan hak jaminan atas resi gudang tersebut.
Berdasarkan pasal 20 ayat 1 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor
36 Tahun 2007 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2006
Tentang Sistem Resi Gudang Hapusnya hak jaminan atas resi gudang dapat terjadi karena dua hal, yaitu:
a. Hapusnya utang pokok yang dijamin dengan Hak Jaminan atas resi
gudang.
Hal ini sesuai dengan sifat ikutan dari Hak Jaminan, adanya Hak Jaminan bergantung pada adanya piutang yang dijamin pelunasannya. Apabila piutang tersebut hapus karena hapusnya utang atau karena pelepasan, dengan sendirinya hak jaminan yang bersangkutan menjadi hapus. Yang dimaksud dengan hapusnya utang, antara lain, karena pelunasan dari Pemegang Resi Gudang atau terjadinya perpindahan kreditor. Bukti hapusnya utang berupa keterangan yang dibuat kreditor.77
b. Pelepasan Hak Jaminan oleh penerima Hak Jaminan atas resi gudang.
Dalam hal-hal tertentu, yakni hubungan antara Pemegang Resi Gudang dan kreditor didasari kepercayaan, kreditor merasa tidak perlu lagi memegang hak jaminan dan melepaskan hak jaminan tersebut. Dalam hal ini, kreditor tidak lagi memegang hak jaminan dan Resi Gudang yang dijaminkan diserahkan kembali kepada Pemegang Resi Gudang.78
77 Indonesia, Undang-‐Undang Sistem Resi Gudang, UU. No. 9 tahun 2006, LN No. 59
Tahun 2006, TLN No. 4630, penjelasan ps. 15 ayat 1.
78 Ibid.
Kemudian dalam hal pemberi Hak Jaminan cedera janji terhadap kewajibannya kepada penerima Hak Jaminan, maka penerima Hak Jaminan mempunyai hak untuk melakukan penjualan objek Hak Jaminan atas kekuasaan sendiri tanpa memerlukan penetapan pengadilan setelah memberitahukan secara tertulis mengenai hal itu kepada pemberi Hak Jaminan. Hal ini diatur dalam pasal 21 ayat 1 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2007
Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2006 Tentang Sistem Resi
Gudang. Cara penjualan terhadap objek jaminan dapat dilakukan dengan cara:
a. Lelang umum. Dalam hal Lelang umum dilakukan sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.
b. Penjualan langsung. Dalam hal penjualan langsung dilakukan dengan mengupayakan harga terbaik yang menguntungkan para pihak.
Lelang umum atau penjualan umum menurut Poldeman adalah alat untuk mengadakan perjanjian atau persetujuan yang paling menguntungkan untuk si penjual dengan cara menghimpun para peminat. Sedangkan definisi lelang umum menurut Roell adalah suatu rangkaian kejadian yang terjadi antara saat dimana seseorang hendak menjual sesuatu barang atau lebih, baik secara pribadi meupun dengan perantaraan kuasanya dengan memberik kesempatan kepada orang-orang yang hadir melakukan penawaran untuk membeli barang-barang yang ditawarkan, sampai pada saat di mana kesempatan itu lenyap.79 Berdasarkan Pasal 1 Peraturan
Lelang/Vendureglement atau yang disingkat dengan VR Stb. 1908 No. 189, Penjualan Umum atau Lelang adalah setiap penjualan barang di muka umum dengan cara penawaran harga secara lisan dan atau tertulis melalui usaha mengumpulkan peminat/peserta lelang dan Pasal 1 a menentukan Penjualan Umum atau Lelang harus dilakukan oleh atau dihadapan seorang Pejabat Lelang.
Sedangkan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93 /PMK.06/2010 Tentang Petunjuk Pelaksanan Lelang, definisi dari Lelang adalah penjualan
barang yang terbuka untuk umum dengan penawaran harga secara tertulis
79 Salim HS, Perkembangan Hukum Jaminan di Indonesia, (Jakarta: Raja Grafindo,
Jakarta, 2005), hlm. 238.
dan/atau lisan yang semakin meningkat atau menurun untuk mencapai harga tertinggi, yang didahului dengan Pengumuman Lelang.
Dari pengertian lelang berdasarkan VR Stb. 1908 No. 189 dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93 /PMK.06/2010 Tentang Petunjuk Pelaksanan Lelang, unsur-unsur dari lelang adalah:
a. Penjualan barang kepada umum yang dilakukan di muka umum;
b. Di dahului dengan pengumuman lelang/mengumpulkan peminat/peserta
lelang;
c. Dilaksanakan oleh dan atau dihadapan Pejabat Lelang dan olehnya dibuatkan Risalah Lelang;
d. Dilakukan dengan penawaran atau pembentukan harga yang khas dan bersifat kompetitif.80
Dalam pelaksanaan lelang dibagi menjadi 2 jenis Lelang beradasarkan sebab barang dijual dan penjual dalam hubungannya dengan barang yang akan dilelang, yaitu:
a. Lelang Eksekusi adalah lelang untuk melaksanakan putusan/
penetapan pengadilan atau dokumen-dokumen lain, yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku atau yang dipersamakan dengan itu, dalam rangka membantu penegakan hukum.
Contoh, Lelang Eksekusi Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN), Lelang Eksekusi Pengadilan, Lelang Eksekusi Pajak, Lelang Eksekusi Harta Pailit, Lelang Eksekusi Pasal 6 Undang-undang Hak Tanggungan (UUHT), Lelang Eksekusi dikuasai/tidak dikuasai Bea Cukai, lelang Eksekusi Barang Sitaan Pasal 45 Kitab Undang-undang Acara Hukum Pidana (KUHAP), Lelang Eksekusi Barang Rampasan,
80 Prosedur lelang, http://www.djkn.depkeu.go.id/pages/prosedur-‐lelang.html, diunduh
tanggal 29 Mei 2012
Lelang Eksekusi Barang Temuan, Lelang Eksekusi Fidusia dan Lelang
Eksekusi Gadai.81
b. Lelang non eksekusi. Dalam lelang non eksekusi dibedakan lagi menjadi 2 jenis yaitu:
1) Lelang Non Eksekusi Wajib, yakni Lelang Noneksekusi Wajib adalah lelang untuk melaksanakan penjualan barang yang oleh peraturan perundang-undangan diharuskan dijual secara lelang.82
2) Lelang Non Eksekusi Sukarela, yakni lelang atas barang milik swasta, orang atau badan hukum/badan usaha yang dilelang secara sukarela.83