Nomor : 23C/LHP/XVIII.BDG/05/2009
8. Pengawasan
Pengawasan secara internal di masing-masing satuan kerja dilakukan oleh atasan langsung/Kepala SKPD selaku Pengguna Anggaran/Barang, sedangkan pengawasan fungsional adalah pengawasan yang dilakukan oleh Aparat Pengawasan Fungsional Pemerintah (APFP) yaitu Inspektorat Daerah.
dengan melakukan pemeriksaan reguler. Selain itu, dilakukan pula pemeriksaan khusus terhadap kondisi-kondisi tertentu yang biasanya dilakukan atas dasar permintaan Pemerintah Daerah.
7 1. Nilai Aset Tetap Yang Disajikan Dalam Neraca Kota Depok Per 31 Desember 2008
Tidak Dapat Diyakini Kewajarannya
Pemerintah Kota Depok dalam Neraca TA 2008 menyajikan total aset tetap senilai Rp2.609.426.374.673,40. Nilai aset tetap ini meningkat sebesar Rp259.707.122.662,40 atau 10,53% dibandingkan nilai aset TA 2007 senilai Rp2.349.719.252.011,00. Nilai aset tetap yang dicatat dalam Neraca TA 2008 tersebut terdiri atas:
No Jenis Aset N i l a i (Rp)
1 Tanah 1.484.293.660.789,00
2 Gedung/Bangunan 447.230.820.380,00
3 Jalan, Jaringan , dan Irigasi 522.130.727.215,40
4 Peralatan dan mesin 150.635.874.739,00
5 Aset lainnya 1.413.018.000,00
6 Konstruksi Dalam pelaksanaan 3.722.273.550,00
Jumlah 2.609.426.374.673,40
Hasil pemeriksaan terhadap akun Aset Tetap diketahui hal-hal sebagai berikut:
a. Nilai aset tetap pada Neraca tahun 2007 merupakan hal yang dikecualikan dalam Opini Hasil Pemeriksan Laporan Keuangan tahun 2007 namun Pemerintah Kota Depok pada tahun 2008 belum melakukan perbaikan/perubahan dalam pencatatan/pembukuan aset tetap.
b. Nilai aset tetap yang tercatat dalam Neraca tahun 2008 tidak didukung dengan data rincian masing-masing jenis aset secara lengkap tetapi hanya didasarkan pada nilai aset tahun lalu ditambah dengan mutasi aset tahun 2008.
c. Jika dibandingkan dengan nilai aset tetap berdasarkan Bagian Pengelola Barang Inventaris dan Kekayaan Daerah yaitu Bagian Perlengkapan Sekretariat Daerah Kota Depok terdapat perbedaan yaitu menurut data aset tetap Bagian Perlengkapan bahwa total aset tetap per 31 Desember 2008 adalah sebesar Rp1.965.222.741.457,00 dengan rincian sebagai berikut:
No Kode Bidang Barang ASET
1 Kode 01 Tanah 898.091.995.000,00
Kode 01 Tanah Fasos- Fasum 212.484.457.000,00
2 Kode 02.01 Jalan 325.045.969.000,00
Kode 02.02 Jembatan 8.621.899.000,00
3 Kode 03 Bangunan Air 28.663.800.000,00
4 Kode 04 Instalasi 8.986.118.464,00
5 Kode 05 Jaringan (PJU) 3.931.623.000,00
6 Kode 06 Bangunan Gedung 215.938.031.000,00
7 Kode 07 Monumen 186.214.000,00
8 Kode 08 Alat-alat Berat 20.227.000.000,00
9 Kode 09 Alat-alat Angkutan 17.672.800.000,00
10 Kode 10 Alat-alat Bengkel 1.726.826.000,00
11 Kode 11 Alat-alat Pertanian 53.701.000,00 12 Kode 12 Alat-alat Kantor & Rumah tangga 44.401.173.000,00
13 Kode 13 Alat-alat Studio 22.081.000,00
14 Kode 14 Alat-alat Kedokteran 3.034.544.000,00
15 Kode 15 Alat-alat Laboratorium 1.418.914.000,00
16 Kode 16 Buku Perpustakaan 517.603.000,00 17 Kode 17 Barang bercorak kesenian ,Kebudayaan 774.982.000,00 18 Kode 18 Hewan,Ternak dan Tanaman - 19 Kode 19 Alat-alat Persenjataan,keamanan 600.000,00 20 Kode 20 Barang habis pakai -
Total 1.791.800.330.464,00
Total BM TA 2006 150.321.477.729,00 Total BM TA 2007 19.491.027.874,00 Total BM TA 2008 3.609.905.390,00
Jumlah Total 1.965.222.741.457,00
sedangkan menurut data Bagian Keuangan dan yang tercatat dalam Neraca TA 2008 adalah sebesar Rp2.609.426.374.673,40. Dengan demikian terdapat perbedaan sebesar Rp644.203.633.216,40.
d. Hasil konfirmasi dengan Bagian Keuangan dan Bagian Perlengkapan, bahwa perbedaan ini terjadi karena nilai aset tetap menurut Neraca TA 2008 adalah nilai aset tetap tahun- tahun sebelumnya ditambah dengan belanja modal dan kapitalisasi aset tahun bersangkutan. Sedangkan nilai aset menurut Bagian Perlengkapan adalah nilai aset tetap yang sudah di-appraissal pada tahun 2005 ditambah dengan belanja modal sampai dengan tahun 2008. Namun penambahan aset tetap tahun 2008 yang tercatat pada Bagian Perlengkapan hanya dari belanja modal delapan SKPD karena tidak seluruh SKPD melaporkan aset yang berada dalam penguasaannya.
e. Selain hal tersebut di atas masih terdapat beberapa aset tetap yang belum diakui oleh Bagian Keuangan yaitu tanah Tempat Pemakaman Umum milik pemerintah daerah seluas 125.207 M2 serta sarana dan prasarana fasilitas sosial dan fasilitas umum yang diserahkan oleh 39 pengembang.
Dari uraian di atas dapat dikemukakan bahwa tim tidak memperoleh data yang akurat untuk dapat menilai kewajaran nilai aset yang tertuang dalam neraca dan tidak dapat menelusuri keyakinan yang memadai atas asersi keberadaan dan kelengkapan aset tetap.
Keadaan diatas tidak sesuai dengan:
a. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan mengenai Aset Tetap alinea 79 yang menyatakan bahwa laporan keuangan harus mengungkapkan untuk masing-masing jenis aset tetap sebagai berikut:
1) Dasar penilaian yang digunakan untuk menentukan nilai tercatat (carrying amount);
2) Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan:
a) Penambahan;
b) Pelepasan;
c) Akumulasi penyusutan dan perubahan nilai, jika ada;
d) Mutasi aset tetap lainnya.
3) Informasi penyusutan, meliputi:
a) Nilai penyusutan;
9 c) Masa manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan;
d) Nilai tercatat bruto dan akumulasi penyusutan pada awal dan akhir periode;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah antara lain:
1) Pasal 3 ayat (1) yang menyatakan bahwa pengelolaan barang milik Negara/Daerah dilaksanakan berdasarkan fungsional, kepastian hukum, transparasi dan keterbukaan, efisiensi, akuntabilitas dan kepastian nilai.
2) Pasal 5 ayat (4) yang menyatakan bahwa Sekretaris Daerah adalah pengelola Barang Milik Daerah yang bertanggung jawab melakukan pengawasan dan pengendalian atas pengelolaan barang milik daerah.
3) Pasal 8 ayat (2) yang menyatakan bahwa Kepala SKPD adalah pengguna barang milik daerah, bertanggungjawab menyusun dan menyampaikan Laporan Barang Pengguna Semesteran (LBPS) dan Laporan Barang Pengguna Tahunan (LBPT) yang berada dalam penguasaannya kepada pengelola barang.
Hal tersebut mengakibatkan nilai aset yang disajikan dalam Neraca per 31 Desember 2008 tidak tidak dapat diyakini kewajarannya.
Hal ini terjadi karena :
a. Kurangnya koordinasi antara Bagian Keuangan dengan Bagian Perlengkapan dalam pencatatan dan pelaporan aset tetap.
b. Kepala SKPD lalai dalam menyusun dan melaporkan barang yang berada dalam penguasaannya.
c. Bagian Keuangan dalam penyusunan Laporan Keuangan SKPD tidak berdasarkan data yang lengkap dan akurat.
d. Sekretaris Daerah belum sepenuhnya melaksanakan pengawasan dan pengendalian atas pengelolaan (khususnya pelaporan) Barang Milik Daerah.
Atas permasalahan tersebut, Sekretaris Daerah Kota Depok menyatakan bahwa nilai yang dicantumkan oleh Bagian Keuangan dalam Laporan Keuangan adalah saldo awal ditambah belanja modal dari tahun ke tahun sedangkan laporan dari Bagian Perlengkapan adalah hasil dari inventarisasi sesuai dengan kondisi aset yang ada.
BPK RI menyarankan Walikota Depok agar:
a. Memberikan teguran secara tertulis kepada Sekretaris Daerah supaya meningkatkan pengawasan dan pengendalian atas pelaporan Barang Milik Daerah.
b. Memberikan teguran secara tertulis kepada para Kepala SKPD supaya menginventarisir, mencatat dan melaporkan Barang Milik Daerah yang berada dalam penguasaannya sesuai dengan ketentuan.
yang ada ditiap-tiap SKPD dan untuk memberikan teguran secara tertulis yang diikuti dengan pemberian sanksi sesuai ketentuan peraturan perundangan yang berlaku dibidang kepegawaian kepada Bagian Keuangan supaya menyusun laporan keuangan/neraca berdasarkan data dari masing-masing SKPD.