• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengelolaan Risiko Bencana Berbasis Komunitas (PRBBK) Ada beberapa definisi terkait Kesiapsiagaan

KESIAPSIAGAAN BENCANA BERBASIS MASYARAKAT

B. Pengelolaan Risiko Bencana Berbasis Komunitas (PRBBK) Ada beberapa definisi terkait Kesiapsiagaan

1. Preparedness merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana, melalui pengorganisasian langkah-langkah yang tepat guna dan berdaya guna.

2. Aktivitas pra-bencana yang dilaksanakan dalam konteks manajemen risiko bencana dan berdasarkan analisa risiko yang baik meliputi pengembangan/ peningkatan keseluruhan strategi kesiapan, kebijakan, struktur institusional, peringatan dan kemampuan meramalkan, serta rencana yang menentukan langkah-langkah yang dicocokkan untuk membantu komunitas yang berisiko menyelamatkan hidup dan aset mereka.

Kegiatan Kesiapsiagaan pelayanan Kesehatan menurut Cohen (2018) meliputi:

1. Mencari informasi tentang ancaman/bahaya (analisis kerentanan bencana)

2. Merencanakan respons yang terorganisir untuk kondisi kegawatdaruratan

3. Menyediakan pelatihan kesiapsiagaan kegawatdaruratan bencana

4. Melakukan Latihan dan simulasi kegawatdaruratan untuk menilai perencanaan perencanaan dan hasil pelatihan 5. Memperoleh dan mempertahankan peralatan dan fasilitas

fasilitas kegawatdaruratan

6. Melakukan Pendidikan pada Masyarakat tentang kegawatdaruratan

Resilience merupakan Ketangguhan merupakan Kapasitas sebuah sistem, komunitas atau masyarakat yang terpapar ancaman bahaya untuk beradaptasi dengan cara menolak, menyerap, mengakomodasi dan pulih dari dampak sebuah ancaman bahaya tepat pada waktunya dan dengan efisien, termasuk dengan memelihara dan memulihkan fungsi-fungsi dan struktur strukturnya yang paling mendasar.

111 Pengelolaan Risiko Bencana Berbasis Komunitas (PRBBK) adalah kerangka kerja pengelolaan bencana yang inklusif berkelanjutan di mana masyarakat terlibat atau difasilitasi untuk terlibat aktif dalam pengelolaan bencana (perencanaan, implementasi, pengawasan, evaluasi) dengan input sumber daya lokal maksimum dan input eksternal minimum (Paripurno

& Wacana, 2022). Definisi lainnya terkait PRBBK adalah upaya pemberdayaan komunitas agar dapat mengelola risiko bencana dengan tingkat keterlibatan pihak atau kelompok masyarakat dalam perencanaan dan pemanfaatan sumber daya lokal dalam kegiatan implementasi oleh masyarakat sendiri. Keterhubungan antar individu, yakni jejaring-jejaring sosial (social networks) dan hubungan timbal balik (reciprocity) dan saling percaya disebut komunitas “modal sosial”(IDEP, 2007). Sebagai contoh komunitas satu desa yang tinggal pada lingkungan geografis yang sama, terekspos pada ancaman (hazard) dan risiko bencana yang berulang—memiliki pengalaman krisis yang sama:

kesamaan risiko memberi peluang meningkatnya rasa senasib sepenanggungan. Maksud konsep “berbasis komunitas” adalah pelaku utama adalah komunitas Dimana pekerjaan penanggulangan bencana dilaksanakan oleh dan bersama dengan komunitas di mana mereka berperan kunci sejak perencanaan, desain atau perancangan, penyelenggaraan, pengawasan, hingga evaluasi program.

Pelaksanaan PRBBK di Indonesia melalui berbagai program berbasis desa dari kementerian/lembaga yang telah digulirkan di seluruh desa-desa di Indonesia antara lain Desa Tangguh Bencana (BNPB), Kampung Iklim (KLHK), Desa-desa dan Desa Siaga (Kementerian Kesehatan), Kampung Siaga Bencana (Kemensos), Desa Mandiri Pangan (Kementan), Desa Mandiri Energi (ESDM), Desa Siaga Pariwisata (Kementerian Pariwisata), Desa Pesisir Tangguh (Kementerian Kelautan dan Perikanan). Semua ini menghasilkan penguatan desa dari berbagai sektor, ini dapat menjadikan peluang bagi masyarakat untuk lebih mendapat penguatan dalam membangun ketangguhan terhadap bencana dan dampak perubahan iklim.

112

Salah satu prasyarat utama dalam mewujudkan partisipasi itu adalah adanya kesetaraan, keterbukaan dan transparansi. 5 unsur utama dalam Asas keterbukaan yang memungkinkan peran serta masyarakat itu dapat terjadi, yaitu:

1. Hak untuk mengetahui (right to know, medeweten).

Ini merupakan hak untuk aman dari bencana merupakan bagian dari HAM, hak ini pada dasarnya merupakan hak yang mendasar dalam alam demokrasi.

Publik harus mengetahui secara utuh, benar, dan akurat terkait kebencanaan.

2. Hak untuk memikirkan (right to think, meedenken).

Hak masyarakat untuk ikut serta terlibat dalam pemikiran, pengkajian, dan penelitian tentang apa yang terbaik bagi semua pihak. Dengan terlibat pada Kegiatan pengkajian dan penelitian yang dilakukan oleh masyarakat akan memberikan rasa tanggung jawab Masyarakat dan juga membantu pemerintah dalam penyelesaian solusinya.

3. Hak untuk menyatakan pendapat (right to speech, meespreken).

Hak berbicara setelah mengkaji dan meneliti menyangkut kepentingan umum maupun kepentingan individu atau kelompok, termasuk di dalamnya pernyataan tentang sesuatu masalah yang ada pada pemerintah (yang dapat berisi masukan dan atau kritik) maupun masalah yang ada pada masyarakat itu sendiri.

4. Hak untuk mempengaruhi pengambilan keputusan (right to participate in decision making process, mee beslissen).

Masyarakat dapat mengambil peran dan melibatkan diri dalam batas-batas tertentu secara proporsional untuk mempengaruhi pengambilan keputusan oleh pihak yang berwenang didasarkan pada pertimbangan masukan dari masyarakat yang patut untuk diakomodasi. Ini juga merupakan pengawasan apriori, yakni pengawasan atau kontrol dilakukan sebelum dikeluarkannya suatu putusan oleh pihak yang berwenang. Pengawasan atau kontrol, yaitu

113 untuk mencegah atau menghindari terjadinya kekeliruan bagian dari unsur preventif.

5. Hak untuk mengawasi pelaksanaan keputusan (right to monitor in implementing of the decision, meetoezien).

Masyarakat berhak secara langsung maupun tidak langsung untuk mengawasi jalannya putusan yang telah diambil yang merupakan public control (Paripurno &

Wacana, 2022)

Perencanaan Program Kesiapsiagaan Berbasis Masyarakat (KBBM) dilaksanakan melalui pendekatan bottom- up (dari bawah ke atas) mulai dari masyarakat yang paling rentan berpartisipasi dalam menentukan kegiatan-kegiatan pencegahan, upaya pengurangan dampak bencana dan penanggulangannya. Rencana disusun berdasarkan pada risiko bencananya (mitigasi) dengan penerapan upaya mitigasi didasarkan pada kebutuhan mendesak yang telah diidentifikasi oleh masing-masing warga masyarakat. Prinsipnya Masyarakat diarahkan untuk saling membantu satu sama lain diarahkan pada perubahan tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan (PST) serta meningkatnya kapasitas masyarakat yang rentan terhadap risiko bencana (Hadi, 2008).

Adapun peran serta masyarakat itu dapat terwujud dalam bentuk:

1. Turut memikirkan dan memperjuangkan nasib sendiri dengan memanfaatkan berbagai potensi yang ada di masyarakat sebagai alternatif saluran aspirasinya;

2. Menunjukkan adanya kesadaran bermasyarakat dan bernegara yang tinggi dengan tidak menyerahkan penentuan nasibnya kepada orang lain, seperti kepada pemimpin dan tokoh masyarakat yang ada, baik yang sifatnya formal maupun informal;

3. Senantiasa merespons dan menyikapi secara kritis terhadap sesuatu masalah yang dihadapi sebagai buah dari suatu kebijakan publik dengan berbagai konsekuensinya;

114

4. Keberhasilan peran serta itu sangat ditentukan oleh kualitas dan kuantitas informasi yang diperoleh, memanfaatkan informasi itu sebagai dasar bagi penguatan posisi daya tawar, dan menjadikannya sebagai pedoman dan arah bagi penentuan peran strategis dalam proses pembangunan;

5. Bagi Pemerintah, peran serta masyarakat itu merupakan sumber dan dasar motivasi dan inspirasi yang menjadi energi kekuatan bagi pelaksanaan tugas dan kewajibannya.

Prinsip dari Peringatan dini pada tingkat masyarakat adalah:

1. Tepat waktu;

2. Akurat;

3. Dapat dipertanggungjawabkan.

4. Syarat dalam suatu sistem peringatan dini agar dapat dilaksanakan :

a. Adanya informasi resmi yang dapat dipercaya;

b. Adanya alat dan tanda bahaya yang disepakati;

c. Ada cara/mekanisme untuk menyebarluaskan peringatan tersebut; (BNPB, 2012).

Beberapa contoh terkait kesiapsiagaan bencana yang berbasis Masyarakat yang dibentuk oleh PMI yaitu Tim SIBAT (Siaga Bencana Berbasis Masyarakat) yang sudah diaplikasikan sebagai pendamping, meliputi:

1. Bersama Masyarakat melakukan pemetaan desa/ kelurahan tentang tingkat kerentanan/ kerawanan maupun pemetaan sumber daya;

2. Membantu aparat desa/kelurahan, LPM, maupun BPD dalam merumuskan Rencana Pengendalian dan Operasional melalui pencegahan, mitigasi,dan kesiapsiagaan maupun upaya-upaya tanggap darurat bencana;

3. Membantu merumuskan cara-cara menjaga keberlangsungan program melalui pencarian dana, penyadaran sosial dan lain- lain; 4) Mempersiapkan dan mengirimkan rencana kegiatan per triwulan, termasuk rincian anggaran berdasarkan kegiatan untuk periode 3 bulan ke depan;

115 4. Mempersiapkan dan mengirimkan laporan kemajuan per triwulan, termasuk laporan keuangan kegiatan triwulan sebelumnya;

5. Mengorganisir pelaksanaan rencana dan menggerakkan masyarakat;

6. Membina hubungan sosial di dalam lingkungan masyarakat serta memastikan bahwa program tersebut akan membawa manfaat bagi kelompok masyarakat yang paling rentan;

(Parahita, Luthviatin, & Istiaji, 2016).