PERBANKAN SYARIAH
6. Pengembangan Sumber Daya Manusia
Perusahaan memerlukan sumber daya manusia yang handal dalam menjalankan usahanya. Untuk memenuhi tujuan tersebut bank akan melakukan budaya kinerja kerja tinggi yang berkesinambungan, manajemen bakat, pengembangan kemampuan kepemimpinan, pengembangan keahlian yang kritis dan career mobility reinforcement.
Selain strategi bisnis yang telah disebutkan diatas, Perusahaan juga akan memprioritaskan inisiatif-inisiatif berikut di tahun 2014 antara lain:
• Mempersingkat proses kredit secara end-to-end
• Mempertahankan kualitas aset bank
• Peningkatan usaha untuk membangun budaya cross- selling
• Melanjutkan momentum inovasi dalam cabang maupun jalur perbankan elektronik
• Membangun budaya pemenang bagi karyawan dan manajemen
• Melanjutkan peningkatan bisnis perbankan mikro
• Memfokuskan pertumbuhan dana murah dan pembiayaan UKM berdasarkan dimensi geografis
• Meningkatkan sinergi dan memperluas kesempatan bisnis perbankan korporat dan perbankan investasi
• Menyukseskan dual-banking dengan unit syariah
POSISI KEUANGAN RENCANA BISNIS BANK
Dalam rangka mendukung pertumbuhan perekonomian Indonesia, Perusahaan bermaksud mengimplementasikan strategi pengembangan bisnis di yang merata di seluruh segmen ritel, korporat, komersial dan UMKM Perusahaan juga akan melakukan usaha-usaha untuk meningkatkan dana masyarakat melalui perluasan jaringan layanan seperti jalur perbankan elektronik dan agent banking, meningkatkan jumlah nasabah dan melakukan pemasaran produk baru.
Inisiatif-inisiatif tersebut diharapkan dapat meningkatkan jumlah dana masyarakat sebesar 9 -14% dari tahun lalu. Hal ini dimaksudkan untuk tetap menjaga rasio likuiditas atau straight LDR pada tingkat rasio sekitar 89 - 95%.
Struktur permodalan yang tercermin pada rasio kecukupan modal (CAR) akan dipertahankan di atas level 14%. Secara keseluruhan, rasio imbal hasil ekuitas pada tahun 2014 akan berada pada kisaran 14 - 15%.
Pada tahun 2013 Perusahaan berada pada kategori BUKU 3 dan sedang menyongsong kategori BUKU 4, yang akan memberikan peluang lebih besar dalam berekspansi dan melebarkan operasionalnya. Keunggulan-keunggulan yang dapat diraih oleh Perusahaan pada kategori ini antara lain adalah dapat melakukan penyertaan modal pada lembaga keuangan di seluruh dunia, melakuan penyertaan modal dengan maksimal 35% dari modal bank dan membuka jaringan kantor di seluruh wilayah luar negeri.
Berdasarkan PBI No. 14/26/PBI/2012 telah menetapkan kategori Bank Umum berdasarkan Kegiatan Usaha (BUKU) yang telah disesuaikan dengan Modal Inti yang dimiliki oleh Bank. Hal ini bertujuan untuk penataan cakupan kegiatan usaha dan pembukaan jaringan kantor yang disesuiakan dengan kapasitas permodalan untuk peningkatan ketahanan, daya saing, dan efisiensi perbankan nasional.
179
Laporan Tahunan CIMB Niaga 2013
Wilayah Asia Global
Wilayah Asia Global
25 % 35 %
Area Penanaman Modal
Peluang yang lebih besar di BUKU 4
BUKU 3
Modal Inti : Rp5 - 30 triliun
BUKU 4
Modal Inti : > Rp30 trilliun
Batas Penanaman Modal
Area Pembukaan Cabang
URAIAN TENTANG ASPEK PEMASARAN
Dalam mendukung tercapainya rencana strategis jangka pendek maupun jangka panjang, Perusahaan terus berupaya memberikan produk dan jasa yang terbaik kepada nasabah melalui pemasaran yang efektif.
Perusahaan terus mencurahkan perhatian pada pelayanan dan produk-produk perbankan yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan masing-masing segmentasi nasabah.
Perusahaan memenuhi kebutuhan calon nasabah individual antara lain melalui produk KPM dan KPR. KPM CIMB Niaga memberikan solusi terbaik dengan menyediakan berbagai skema pembiayaan inovatif di samping melakukan kerjasama dengan Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) dan dealer resmi dari berbagai merek. Sementara itu, untuk memberikan nilai tambah kepada calon nasabah, bisnis KPR menawarkan Solusi X-Tra, suatu layanan yang memberikan nasabah beragam pilihan lokasi perumahan dengan proses persetujuan kredit yang relatif cepat.
Khusus untuk meningkatkan porsi dana murah, salah satu strategi yang dilakukan adalah menawarkan beragam manfaat dan kelebihan dari produk tabungan khusus bagi nasabah konsumer. Tabungan CIMB Niaga X-Tra adalah salah satu produk unggulan yang dimiliki Perusahaan. Produk yang identik dengan slogan “No Problem” ini menawarkan beragam manfaat dan kelebihan kepada nasabah, antara lain, bebas biaya administrasi bulanan, bebas biaya transaksi melalui jaringan elektronik bank, serta bebas biaya penarikan dana di ATM manapun di Indonesia dan di luar negeri (dengan syarat dan kondisi tertentu).
Dalam hal saluran altenatif, Perusahaan tetap konsisten pada fokus pengembangan saluran distribusi elektronik agar mampu menjawab tantangan yang semakin besar di era teknologi informasi seperti sekarang ini. Di Indonesia sendiri, Perusahaan telah memiliki 2.956 ATM hingga akhir 2013 dan menargetkan tambahan 750 ATM kembali di tahun 2014. Sementara dari sisi penetrasi perbankan elektronik, hingga akhir tahun 2013, pengguna internet banking CIMB Clicks mencapai 776 ribu dengan jumlah transaksi per bulan mencapai 805 ribu transaksi. CIMB Go Mobile mencapai 529 ribu pengguna dan jumlah transaksi berhasil menembus 225 ribu transaksi per bulannya.
Selain dari sisi produk dan jalur perbankan elektronik, Perusahaan juga terus berupaya mengembangkan strategi- strategi inovatif untuk dapat meningkatkan pangsa pasar Perusahaan kedepannya. Strategi intensifikasi jaringan kantor dalam upaya memperluas area pemasaran terus dan senantiasa dikembangkan oleh Perusahaan. Strategi tersebut antara lain melalui: pemindahan cabang-cabang pada area/
wilayah yang berlebih secara kuantitas kepada area yang masih kurang dan mempunyai potensi, memperkenalkan konsep “Digital Lounge” untuk segmen nasabah perkotaan, dan penambahan kas mobil selama tahun 2013.
Perbankan Korporat pada tahun 2013 melakukan serangkaian inisiatif strategis seperti mendorong pertumbuhan pembiayaan melalui penajaman segmentasi nasabah dengan pembentukan unit-unit spesialis industri, dan mengoptimalkan pendekatan bisnis value chain untuk mendorong pertumbuhan bisnis Perusahaan secara keseluruhan melalui upaya referral dan cross-selling.
05_FA_AR Niaga 2013 MD&A INA REV_m3.indd 179 3/19/14 8:24 PM
Perusahaan juga mengembangkan segmen Mikro, Kecil, dan Menengah dengan memisahkan segmen UMKM dari Perbankan Komersial. Hal ini antara lain untuk memfasilitasi kebutuhan nasabah Mikro, Kecil dan Menengah dengan lebih optimal kedepannya. Pemenuhan kebutuhan nasabah Perbankan Mikro, Kecil dan Menengah antara lain difasilitasi melalui ekpansi jaringan kantor serta integrasi program pembiayaan antara nasabah Mikro, Kecil, dan Menengah dengan nasabah Korporat atau Komersial.
Dari sisi Perbankan Syariah, Perusahan melanjutkan keberhasilan konsep dual-banking Syariah dengan terus memanfaatkan potensi kantor cabang dalam memasarkan produk-produk berbasis syariah, dan bekerja sama dengan Unit Usaha Syariah (UUS) Perusahaan dalam mengadaptasi produk atau program Perbankan konvensional yang memungkinkan untuk dikembangkan menjadi produk berbasis syariah.
Segmen Tresuri dan Pasar Modal mengalami tahun yang penuh turbulensi di 2013, seiring dengan dinamika kondisi makroekonomi. Namun, unit Tresuri dan Pasar modal konsisten dalam menerapkan strategi dan program yang fokus pada kebutuhan nasabah antara lain pada aktivitas market making untuk produk-produk valuta asing bagi nasabah Perbankan Korporat dan Komersial, cross-selling produk valas, dan peningkatan aktivitas pemasaran bagi produk-produk terstruktur bersinergi dengan CIMB Group.
Hal tersebut dilakukan dengan senantiasa memastikan kepatuhan terhadap regulasi dan ketentuan yang ada.
Dalam hal Transaction Banking, pada tahun 2013 Perusahaan menitikberatkan pada keunggulan layanan berbasis elektronik dalam menunjang kegiatan nasabah melalui efisiensi operasional khususnya dalam aktivitas perbankan nasabah.
Produk-produk unggulan Transaction Banking antara lain New BizChannel@CIMB, Gateway@CIMB, BizCard, serta e-tax payment, yaitu pembayaran pajak secara real time on line melalui BizChannel@CIMB, internet banking untuk korporat.
Perusahaan di tahun 2014 akan terus berupaya memenuhi segala kebutuhan nasabah di atas sebagai dasar untuk mencapai strategi jangka panjangnya, yaitu bisnis dengan marjin tinggi, diversifikasi dari sumber pendapatan, pertumbuhan dana murah, transformasi penjualan dan pelayanan, peningkatan efisiensi, dan pengembangan sumber daya manusia.
SUKU BUNGA DASAR KREDIT
Sehubungan dengan telah diterbitkannya Peraturan Bank Indonesia No. 7/6/PBI/2005 tentang Transparansi Informasi Produk Bank dan Penggunaan Data Pribadi Nasabah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 No.16, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No.
4475) dan Peraturan Bank Indonesia No. 3/22/PBI/2001 tentang Transparansi Kondisi Keuangan Bank (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2001 No. 150, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 4159) yang terakhir diubah dengan dengan Peraturan Bank Indonesia No. 14/14/PBI/2012 tentang Transparansi dan Publikasi Laporan Bank (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2012 No. 199 dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 5353), maka Bank Indonesia mengeluarkan Surat Edaran Bank Indonesia No. 15/1/DPNP.
Bank Indonesia mewajibkan seluruh Bank Umum yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional di Indonesia untuk melaporkan dan mempublikasikan Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) dalam Rupiah. Penerapan transparansi informasi mengenai SBDK merupakan salah satu upaya untuk memberikan kejelasan kepada nasabah dan memudahkan nasabah dalam menilai manfaat dan biaya atas kredit yang ditawarkan oleh bank. Selain itu, SBDK juga berupaya untuk meningkatkan good governance dan mendorong persaingan yang sehat dalam industri perbankan antara lain melalui terciptanya disiplin pasar (market discipline) yang lebih baik.
Pada dasarnya, SBDK merupakan suku bunga terendah yang digunakan sebagai dasar bagi Perusahaan dalam penentuan suku bunga kredit yang dikenakan kepada nasabah Perusahaan. SBDK dihitung berdasarkan 3 (tiga) komponen, yaitu Harga Pokok Dana untuk Kredit (HPDK) yang timbul dari kegiatan penghimpunan dana yang biasanya terkait erat dengan suku BI, biaya overhead yang dikeluarkan Perusahaan berupa beban operasional bukan bunga yang dikeluarkan untuk kegiatan penghimpunan dana dan penyaluran kredit, dan profit margin yang ditetapkan dalam kegiatan penyaluran kredit. Perhitungan SBDK belum memperhitungkan komponen premi risiko dari debitur, yang besarnya tergantung dari penilaian bank terhadap risiko masing-masing debitur. Dengan demikian besarnya suku bunga kredit yang dikenakan kepada debitur belum tentu sama dengan SBDK.
181
Laporan Tahunan CIMB Niaga 2013
Bank Indonesia mewajibkan bank untuk melaporkan perhitungan SBDK kepada Bank Indonesia secara bulanan dan mempublikasikannya secara luas. Perhitungan SBDK berlaku untuk jenis kredit korporat, kredit ritel, kredit mikro, dan kredit konsumsi (KPR dan non-KPR). Namun Bank Indonesia menyerahkan penggolongan kredit korporat, kredit ritel dan kredit konsumsi (KPR dan non-KPR) berdasarkan kriteria internal yang digunakan oleh bank.
Perusahaan mengelompokan kredit untuk perhitungan SBDK berdasarkan segmen bisnis sebagai berikut:
1. Kredit korporat yang merupakan kredit yang diberikan kepada nasabah Perbankan korporat dan Komersial Menengah- Atas;
2. Kredit ritel yang mencakup kredit yang diberikan kepada nasabah Perbankan Komersial Menengah-Bawah dan Pinjaman Khusus (Special Lending);
3. Kredit mikro; dan
4. Kredit konsumsi KPR (Mortgage) dan non-KPR (Auto Loan).
SBDK Kredit
Korporat
Kredit Ritel
Kredit Mikro
Kredit Konsumsi
KPR Non-KPR
31-Mar-13 9,85% 10,75% 19,00% 10,80% 10,70%
30-Jun-13 9,85% 10,75% 19,00% 10,80% 10,45%
30-Sep-13 10,35% 10,85% 19,00% 11,10% 10,45%
31-Des-13 11,00% 12,00% 20,00% 11,50% 12,00%
Informasi SBDK yang berlaku setiap saat dapat dilihat pada publikasi di setiap kantor dan/atau website Perusahaan (www.
cimbniaga.com).
05_FA_AR Niaga 2013 MD&A INA REV_m3.indd 181 3/19/14 8:25 PM
Peraturan Perundang-undangan
(termasuk Peraturan Bank Indonesia)
Perubahan Signifikan dari Peraturan Sebelumnya atau Pokok dari
Peraturan Alasan Perubahan Dampak pada
CIMB Niaga
Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 15/1/DPNP tanggal 15 Januari 2013 tentang Transparansi Informasi Suku Bunga Dasar Kredit
SBDK dihitung secara per tahun dalam bentuk persentase (%) yang perhitungannya dibagi berdasarkan 3 (tiga) komponen :
1. Harga Pokok Dana untuk Kredit (HPDK) yang timbul dari kegiatan penghimpunan dana
2. Biaya overhead yang dikeluarkan Bank berupa beban operasional bukan bunga untuk kegiatan penghimpunan dana dan penyaluran kredit termasuk biaya pajak yang harus dibayar; dan
3. Marjin keuntungan (profit margin) yang ditetapkan Bank dalam kegiatan penyaluran kredit.
Penghitungan SBDK berlaku untuk jenis kredit : 1. Kredit korporasi
2. Kredit ritel 3. Kredit mikro
4. Kredit konsumsi (KPR dan Non KPR)
Perhitungan SBDK hanya berlaku untuk kredit dalam mata uang Rupiah Laporan SBDK disampaikan kepada Bank Indonesia secara bulanan untuk posisi akhir bulan, dan disampaikan secara online melalui Laporan Berkala Bank Umum (LBBU)
Laporan SBDK memuat :
1. Rincian penghitungan masing-masing komponen SBDK 2. Jenis kredit SBDK
3. Komponen estimasi premi risiko 4. Suku bunga kredit
Transparansi informasi mengenai SBDK (prime lending rate) sangat diperlukan untuk memberikan kejelasan kepada nasabah dan memudahkan nasabah dalam menilai manfaat dan biaya atas kredit yang ditawarkan Bank.
Penerapan SBDK juga merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan good governance dan persaingan yang sehat dalam industri perbankan
Perusahaan telah menghitung dan menyampaikan SBDK untuk seluruh jenis kredit tersebut
Surat Edaran Bank Indonesia No.15/2/
DPNP tanggal 4 Februari 2013 perihal Kepemilikan Tunggal pada Perbankan Indonesia
SE ini mengatur penerapan kebijakan kepemilikan tunggal pada perbankan Indonesia dapat dilakukan melalui:
1. Merger atau konsoldasi atas Bank-Bank yang dikendalikannya;
2. Membentuk Perusahaan Induk di Bidang Perbankan;
3. Membentuk Fungsi Holding
Peningkatan ketahanan perbankan nasional melalui penerapan kebijakan kepemilikan tunggal pada perbankan Indonesia
Pada tanggal 31 Desember 2013, CIMB Group Sdn Bhd sebagai Pemegang Saham Pengendali (PSP) tidak memiliki pengendalian kepada bank lain di Indonesia
Surat Edaran Bank Indonesia No.15/6/
DPNP tanggal 8 Maret 2013 perihal Kegiatan Usaha Bank Umum berdasarkan Modal Inti
Kegiatan usaha Bank Umum dapat dikelompokkan berdasarkan Kegiatan Usaha (BUKU) yang terdiri dari 4 BUKU. Semakin tinggi Modal Inti Bank, semakin tinggi BUKU Bank dan semakin luas cakupan Kegiatan Usaha yang dapat dilakukan oleh Bank.
Berdasarkan Modal Inti yang dimiliki, Bank dikelompokkan menjadi 4 BUKU :
a. BUKU 1 adalah Bank dengan Modal Inti kurang dari Rp1 triliun b. BUKU 2 adalah Bank dengan Modal Inti Rp1 – 5 triliun c. BUKU 3 adalah Bank dengan Modal Inti Rp5 – 30 triliun d. BUKU 4 adalah Bank dengan Modal Inti lebih dari Rp30 triliun Kegiatan Usaha Bank Umum meliputi :
1. Penerbitan produk atau pelaksanaan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan nasabah
2. Produk atau aktivitas yang terdiri atas : a. Penghimpunan dana
b. Penyaluran dana
c. Pembiayaan perdagangan (trade finance) d. Kegiatan tresuri
e. Kegiatan keagenan dan kerjasama
f. Kegiatan sistem pembayaran dan perbankan elektronik g. Jasa atau layanan lain
3. Kegiatan penyertaan modal
4. Kegiatan penyertaan modal sementara dalam rangka penyelamatan kredit
Dalam menerbitkan produk atau melaksanakan aktivitas,
Bank perlu memiliki modal yang cukup untuk mendukung hal ini, serta menerapkan manajemen risiko yang memadai untuk memitigasi risiko yang ditimbulkan oleh produk atau aktivitas tersebut
Berdasarkan modal inti, Perusahaan berada pada kategori BUKU 3 URAIAN MENGENAI PERUBAHAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN YANG BERLAKU SIGNIFIKAN TERHADAP PERUSAHAAN
183
Laporan Tahunan CIMB Niaga 2013 Peraturan
Perundang-undangan (termasuk Peraturan
Bank Indonesia)
Perubahan Signifikan dari Peraturan Sebelumnya atau Pokok dari
Peraturan Alasan Perubahan Dampak pada
CIMB Niaga
Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 15/7/DPNP tanggal 8 Maret 2013 perihal Pembukaan Jaringan Kantor Bank Umum Berdasarkan Modal Inti
Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 15/8/
DPbS tanggal 27 Maret 2013 perihal Pembukaan Jaringan Kantor Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah Berdasarkan Modal Inti
Bank Indonesia mengelompokkan seluruh wilayah propinsi di Indonesia menjadi enam zona yang ditetapkan berdasarkan analisis tingkat kejenuhan Bank dan pemerataan pembangunan dalam masing-masing zona. Zona 1 menunjukkan zona yang paling jenuh sedangkan Zona 6 menunjukkan zona paling tidak jenuh.
Bank memperhitungkan alokasi Modal Inti sesuai lokasi dan jenis kantor untuk kantor yang sudah ada dan untuk rencana Pembukaan Jaringan Kantor yang baru. Bank dengan ketersediaan alokasi Modal Inti yang positif, yang dapat dialokasikan untuk membuka Jaringan Kantor.
Bank yang memenuhi persyaratan tingkat kesehatan dan memiliki ketersediaan alokasi Modal Inti sesuai lokasi dan jenis kantor dapat memperoleh insentif tambahan jumlah pembukaan jaringan kantor apabila Bank menyalurkan kredit kepada :
a. Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) paling rendah 20% dari total portofolio kredit; dan/atau
b. Usaha Mikro dan Kecil (UMK) paling rendah 10% dari total portofolio kredit
Dan Bank melakukan pemupukan modal yang berasal dari alokasi laba dan/atau tambahan setoran modal
Surat edaran ini mengatur bahwa Pembukaan Jaringan Kantor perlu didukung dengan kemampuan keuangan yang mema- dai, yang tercermin pada ketersediaan alokasi Modal Inti sesuai lokasi dan jenis kantor Bank
Untuk perimbangan penyebaran Jaringan Kantor, Bank juga didorong untuk melakukan perluasan ke wilayah yang kurang terlayani oleh jasa perbankan, untuk mendukung upaya pengembangan pembangunan nasional
Perusahaan telah m e m p e r h i t u n g k a n alokasi pembukaan jaringan kantor sesuai modal inti
Surat Edaran Bank Indonesia No.15/11/
DPNP tanggal 8 April 2013 perihal Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek Bagi Bank Umum
SE ini mengatur kembali ketentuan mengenai fasilitas pendanaan jangka pendek bagi bank umum, dengan perubahan sebagai berikut:
1. Bank yang mengajukan permohonan FPJP wajib memiliki rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) paling rendah 8%
dan memenuhi modal sesuai dengan profil risiko Bank, berdasarkan perhitungan Bank Indonesia
2. BI mengenakan biaya bunga atas FPJP yang digunakan Bank dengan tingkat bunga sebesar tingkat suku bunga Lending Facility ditambah dengan 100 bps
Selain hal tersebut diatas, PBI ini juga mengatur mengenai tidak diperkenankannya Bank Umum yang mengajukan permohonan FPJP untuk menempatkan dana di BI; dan tata syarat agunan aset Kredit
Untuk mengatur kembali ketentuan mengenai fasilitas pendanaan jangka pendek bagi bank umum
BI mengenakan biaya bunga atas FPJP yang digunakan Bank dengan tingkat bunga sebesar tingkat suku bunga Lending Facility ditambah dengan 100 bps.
Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 15/26/DPbS perihal Pelaksanaan Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia
Pengakuan Pendapat Murabahah untuk Bank Syariah dapat dilakukan dengan menggunakan metode anuitas atau metode proporsional khusus untuk pengakuan pendapatan pembiayaan atas dasar jual beli.
Dalam praktik penyaluran pembiayaan murabahah, Bank dapat:
• Menerima pendapatan di luar marjin keuntungan seperti pendapatan administrasi
• Mengeluarkan biaya yang terkait langsung dengan transaksi murabahah seperti biaya komisi, biaya survey, dan biaya lain Bank dan Unit Syariah wajib membentuk CKPN atas aset keuangan dan non keuangan sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku. Dalam hal terdapat selisih kurang antara CKPN yang dibentuk oleh Bank Syariah dengan kewajiban pembentukan sesuai ketentuan BI, maka kekurangan CKPN tersebut akan diperhitungkan sebagai pengurang faktor modal inti dalam perhitungan KPMM
Untuk mengatur kembali ketentuan mengenai Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia
CIMB Niaga mengukur penurunan nilai pembiayaan dan membentuk CKPN atas pembiayaan secara kolektif dengan menggunakan data pengalaman kerugian spesifik atau kerugian historis dari peer group atas pembiayaan secara kolektif.
05_FA_AR Niaga 2013 MD&A INA REV_m3.indd 183 3/19/14 8:25 PM
Peraturan Perundang-undangan
(termasuk Peraturan Bank Indonesia)
Perubahan Signifikan dari Peraturan Sebelumnya atau Pokok dari
Peraturan Alasan Perubahan Dampak pada
CIMB Niaga
Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 15/28/DPNP tanggal 31 Juli 2013 perihal Penilaian Kualitas Aset Bank Umum
Kualitas kredit ditetapkan berdasarkan analisis terhadap tiga faktor penilaian yaitu prospek usaha (termasuk AMDAL), kinerja debitur, dan kemampuan membayar. Penetapan kualitas Kredit dilakukan dengan mempertimbangkan signifikansi dan materialitas dari ketiga faktor penilaian dan masing-masing komponennya, serta relevansinya terhadap karakteristik debitur yang bersangkutan.
Dalam melakukan penilaian kualitas kredit, khususnya prospek usaha debitur, Perusahaan harus tetap memperhatikan hasil penilaian Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER) yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup.
Untuk surat berharga yang berdasarkan karakteristiknya tidak aktif diperdagangkan di bursa efek dan tidak memiliki peringkat, penilaian kualitas didasarkan atas ketentuan kualitas Penempatan apabila pihak yang melunasi adalah bank lain di Indonesia, atau didasarkan atas ketentuan kualitas kredit apabila pihak yang melunasi adalah bukan Bank di Indonesia.
Perjanjian kredit yang memuat klausul yang menyatakan bahwa Bank dapat membatalkan atau tidak memenuhi fasilitas kredit apabila kondisi atau alasan tertentu yang diperjanjikan terpenuhi, dapat dianggap sebagai kredit yang bersifat uncommitted sejak terpenuhinya kondisi atau alasan tertentu yang diperjanjikan, misalnya karena adanya penurunan kualitas kredit debitur maka fasilitas kredit digolongkan sebagai fasilitas uncommitted sejak terjadinya penurunan kualitas kredit.
Sejak berlakunya Standar Akuntansi Keuangan yang mengatur mengenai pembentukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) dalam rangka pencadangan kerugian aset, Bank diwajibkan membentuk CKPN sebagai pengganti Penyisihan Penghapusan Aset (PPA) dalam laporan keuangan Bank.
Dalam rangka menerapkan prinsip kehati-hatian, Bank harus memiliki pedoman Restrukturisasi Kredit yang memuat prosedur dan tata cara dalam melaksanakan Restrukturisasi Kredit
Bank harus memiliki prosedur tertulis untuk memantau kredit yang telah direstrukturisasi guna memastikan kesanggupan debitur untuk melakukan pembayaran sesuai persyaratan dalam perjanjian kredit baru.
Adanya peningkatan kompleksitas usaha dan profil risiko serta dalam rangka mengatisipasi pengaruh perekonomian global, Bank perlu meningkatkan kemampuan dan efekti- vitas dalam mengelola risiko Kredit, memini- malkan potensi kerugian dari penyediaan dana.
Dalam rangka mengelola kualitas kredit, Bank menetapkan kualitas Kredit yang merupakan hasil penilaian atas faktor yang berpengaruh terhadap kondisi dan kinerja debitur yang terdiri dari prospek usaha, kinerja debitur, dan kemampuan membayar debitur.
Perusahaan telah membentuk CKPN sebagai pengganti PPA dalam laporan keuangan Perusahaan
Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 15/40/DKMP tanggal 24 September 2013 perihal Penerapan Manajemen Risiko pada Bank yang Melakukan Pemberian Kredit atau Pembiayaan Pemilikan Properti, Kredit atau Pembiayaan Konsumsi Beragun Properti, dan Kredit atau Pembiayaan Kendaraan Bermotor
1. Perluasan cakupan pengaturan yang meliputi:
• Properti:
- kredit pemilikan rumah, kredit pemilikan rumah susun, kredit pemilikan rumah kantor, dan kredit pemilikan rumah toko - Kredit konsumsi beragun properti
• Kendaraan
- Kredit kendaraan bermotor untuk tujuan konsumsi - Kredit kendaraan bermotor untuk tujuan produksi 2. Perubahan LTV atau FTV untuk kredit atau pembiayaan pemilikan
properti, sebagai berikut:
Pembiayaan dan
Tipe Agunan FP 1 FP 2 FP 3 dan diatasnya
KPR Tipe >70 70% 60% 50%
KPRS Tipe >70 70% 60% 50%
KPR Tipe 22 – 70 - 70% 60%
KPRS Tipe 22 – 70 80% 70% 60%
KPRS Tipe sampai 21 - 70% 60%
KP Ruko/Rukan - 70% 60%
Dalam rangka meningkatkan kehati-
hatian bagi Bank yang melakukan aktivitas pemberian kredit atau pembiayaan pemilikan properti, kredit atau pembiayaan konsumsi beragun properti, dan kredit atau pembiayaan kendaraan bermotor maka perlu untuk mengatur pemberian kredit atau pembiayaan pemilikan properti, kredit atau pembiayaan konsumsi beragun properti, dan kredit atau pembiayaan kendaraan bermotor
Seluruh perjanjian kredit/pembiayaan yang akan ditandatangani oleh bank dan debitur sejak tanggal berlakunya ketentuan ini, harus mengacu pada ketentuan ini.