• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGERTIAN DAN TANTANGAN DI ERA DIGITAL

Dalam dokumen PENGANTAR ILMU KOMUNIKASI full book (Halaman 195-200)

A. PENDAHULUAN

Komunikasi antar budaya merupakan suatu subdisiplin ilmu yang mendasari pemahamannya pada budaya. Pada bab mengenai komunikasi antar budaya ini akan mendiskusikan secara ringkas mulai dari konsep dasar, bagaimana letak budaya dalam komunikasi, mengapa perlu mempelajari komunikasi antar budaya, pesan verbal dan non verbal dalam komunikasi. Pemahaman mengenai komunikasi antar budaya menjadi semakin signifikan dalam era digital mengingat jarak dan waktu tidak lagi menjadi isu yang membatasi ruang mobilitas sosial masyarakat.

B. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS

- Mahasiswa mampu memahami konsep dasar komunikasi antar budaya

- Mahasiswa mampu mengidentifikasi alasan mengenai perlunya mempelajari komunikasi antar budaya pada era digital

- Mahasiswa mampu mengidentifikasi dan menganalisis relevansi komunikasi antar budaya dalam kaitannya dengan berkembangnya prasangka dan praktik diskriminasi.

BAB 11

Komunikasi Antar Budaya | 187

C. PENGANTAR

Dunia yang kita tempati merupakan dunia yang diwarnai dengan perbedaan karakteristik budaya. Seorang bernama Marshal McLuhan bahkan menyebut bahwa dunia ini merupakan desa global (Levinson, 2003). Dalam desa global, yang berkat teknologi informasi terkoneksi satu dengan yang lain dengan lebih mudah dan cepat, semakin terbentang kemungkinan untuk saling terhubung dan berkomunikasi dengan mereka yang berbeda budaya.

Samovar dan Porter menyebutkan bahwa kita hidup dengan fakta bahwa budaya sangat beragam (2003, 6). Mobilitas sosial menurut Samovar dan Porter menjadi kian tinggi di tengah masyarakat dewasa ini (2003, 6). Hal tersebut mendorong terjadinya interaksi dan komunikasi antar budaya yang semakin tidak terelakkan, seturut dengan globalisasi yang memunculkan beragam gejala sosial. Perkembangan fenomena diaspora turut mendorong pada kebutuhan untuk dapat memahami budaya yang berbeda. Interaksi dan komunikasi dengan individu-individu dari berbagai negara, menjadi fakta yang membukakan mata tentang tentang keragaman budaya dan kebutuhan akan pemahaman tentang komunikasi antar budaya.

Proses globalisasi, termasuk perkembangan teknologi informasi dengan perkembangan komunikasi yang semakin marak di media sosial, semakin memperbesar kesempatan individu dan dan komunitas untuk terlibat dalam komunikasi antar budaya tidak hanya dalam skala nasional, melainkan juga dalam skala global. Pemahaman mengenai komunikasi antarbudaya penting dipelajari untuk meningkatkan kesadaran tentang dasar-dasar pembentukan budaya dalam kaitannya dengan proses konstruksi norma budaya yang berbeda. Selain itu pemahaman diperlukan untuk dapat mengatasi hambatan budaya, serta meningkatkan kesadaran diri dan terutama meningkatkan keterampilan dalam berkomunikasi ketika menjalin relasi dan interaksi sosial dengan individu yang berasal dari budaya yang berbeda.

Berkomunikasi bukan merupakan hal yang mudah, karena mengandaikan adanya saling pengertian dan pemahaman yang sama antara satu pihak dengan pihak lain yang berkomunikasi. Pengertian yang sama tidaklah mudah bahkan antara mereka yang memiliki kesamaan

budaya, katakanlah sama-sama merupakan keturunan Jawa, atau Sunda, dsb.

Mengapa demikian, meskipun sama-sama mendaku sebagai keturunan Jawa, kita akan berhadapan dengan realitas sosial bahwa Jawa itu sebagai suatu jenis etnisitas bukan merupakan etnis yang homogen.

Kita akan mengenal bahwa Jawa ada yang merupakan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bahkan ternyata ditemukan perbedaan karakteristik budaya antara mereka yang berasal dari Solo atau Surakarta, dengan Wonogiri, di antaranya dalam hal berbahasa. Bahasa ini sendiri merupakan ciri khas yang muncul dalam berkomunikasi.

Belum lagi ditambah dengan realitas bahwa mereka yang mendaku sebagai Jawa, katakanlah secara spesifik orang Solo, berbeda pula antara mereka yang seumur hidup tinggal di Solo dengan mereka yang sudah sejak generasi sebelumnya bermigrasi ke Jakarta, dan sesekali mengunjungi tanah kelahiran di Solo. Cara mereka berkomunikasi dan memaknai realitas sosial, sangat mungkin berbeda. Mengapa? Ingat bahwa dalam berkomunikasi, terjadi proses pembentukan persepsi di tingkat penerimaan. Dan persepsi lahir berdasarkan konstruksi kesejarahan dari latar belakang sosial ekonomi dan pengalaman individu yang terlibat dalam proses komunikasi.

Jakarta pada bulan Juli 2022 sempat diramaikan dengan peristiwa Citayam Fashion Week. Pada peristiwa tersebut, sekelompok anak muda, usia belasan tahun hingga awal dua puluhan bergaya dan mengekspresikan gaya berpakaian ala Citayam, satu kawasan kecil dekat dengan Depok yang merupakan penyangga Jakarta (Huda, 2022).

Ekspresi yang mereka lakukan, merupakan bagian dari komunikasi antar budaya. Wah, bagaimana sebuah penampilan berpakaian dapat disebut sebagai komunikasi antar budaya? Ya tentu saja, karena dalam komunikasi, tidak hanya mengenal pesan verbal, melainkan juga pesan non verbal. Pesan non verbal salah satunya adalah gaya berpakaian yang mencerminkan suatu gaya berpakaian pada kolektivitas tertentu. Baik pesan verbal maupun nonverbal telah didiskusikan pada bab sebelumnya.

Dari uraian di atas, kita dapat melihat ada beberapa isu menarik yang muncul dalam komunikasi antar budaya, yang akan dieksplorasi dalam tulisan berikut ini secara ringkas.

Komunikasi Antar Budaya | 189

D. KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA: SEBUAH IMAJINASI TENTANG BAKSO DAN TUKANG BAKSO

Dunia media sosial sempat diramaikan dengan pembahasan mengenai fenomena tukang bakso. Bakso dan tukang bakso selama ini mengisi ruang pemaknaan secara kultural yang sangat sehari-hari dan menghadirkan imajinasi kolektif mengenai makanan yang akrab dengan lidah kebanyakan masyarakat Indonesia. Akan tetapi sebuah pesan komunikasi yang disampaikan oleh seorang pimpinan partai politik mengubah pemaknaan dan ruang imajinasi sosial (Ramadhan, 2022). Apa hubungannya dengan budaya dan komunikasi?

Sebagaimana dijelaskan oleh Samovar dan Porter bahwa komunikasi antar budaya merupakan fakta sosial yang telah berlangsung sejak individu berinteraksi satu dengan yang lain dengan individu lain (2003, 6), dalam konteks ketika individu-individu tadi berasal dari lingkungan sosial yang berbeda. Dalam interaksi sosial yang terbentuk membentuk pemahaman mengenai satu fakta sosial tertentu, dan dalam interaksi sosial dengan individu berbeda, akan memunculkan satu fakta sosial yang dimaknai secara berbeda. Samovar dan Porter mengatakan bahwa globalisasi membawa dampak pada kebutuhan untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan semakin banyak orang dengan beragam latar belakang budaya yang berbeda. Dan era digital membawa perubahan signifikan, di mana pesan komunikasi dalam satu lingkungan terbatas, Ketika disampaikan dalam ruang publik yang lebih luas, berkat media sosial, akan memunculkan pemaknaan yang berbeda.

Isu tukang bakso akan menempati salah satu ruang diskusi terkait dengan konsep stereotip (stereotype) dan prasangka.

Dewasa ini amplifikasi semakin dimungkinkan berkat perkembangan teknologi informasi yang menjadi infrastruktur dalam proses globalisasi.

Globalisasi yang menurut Fisher dalam Rola dan Alves (2012) adalah suatu proses berkelanjutan dari saling ketergantungan yang lebih besar antar negara, yang tercermin dalam peningkatan jumlah perdagangan lintas batas barang dan jasa, peningkatan volume arus keuangan internasional, dan peningkatan arus tenaga kerja” . Realitas ini menimbulkan tantangan serius bagi daya saing bisnis, industri, dan negara (Dunning; Porter, dalam Rola dan Alves, 2012).

Realitas peningkatan arus tenaga kerja sebagaimana disampaikan oleh Fisher dapat dikonfirmasi dengan data yang dikeluarkan oleh Kementerian Ketenagakerjaan yang menjelaskan bahwa hingga kurun waktu 2019, jumlah tenaga kerja asing (TKA) di Indonesia adalah sebanyak 109.546 pekerja asing. Meski pada kurun waktu 2020-2021 mengalami penurunan akibat pandemic Covid 19 yaitu sejumlah 88.271 orang pada 2021.

Penurunan terjadi dikarenakan adanya pengetatan yang dilakukan pemerintah bagi warga asing yang masuk ke dalam negeri untuk dapat mencegah penularan Covid-19 (Karnadi, 2021).

Satu fakta menarik dalam paparan data tersebut menunjukkan bahwa TKA mendominasi posisi profesional, sebesar 38.745 orang, 20.807 sebagai konsultan, 19.127 TKA sebagai manajer direksi dan komisaris masing-masing sebanyak 8.936 orang dan 656 orang (Karnadi, 2021). Data ini menarik karena menunjukkan bahwa posisi-posisi yang strategis justru ditempati oleh pekerja asing. Dan bayangkanlah kalua pesan ini disandingkan dengan data tentang meningkatnya jumlah pekerja asing dari negara Tiongkok (Yanwardhana, 2022), akan menumbuhkembangkan prasangka tentang kalangan masyarakat Tionghoa.

Meski demikian, data ini juga dapat dimaknai sebagai data yang menuntut kita untuk memahami urgensinya belajar berkomunikasi dengan mereka yang berasal dari negara-negara yang berbeda budayanya.

Kita menemukan bahwa komunikasi yang dilakukan berkaitan dengan budaya. Apakah budaya itu? Di era globalisasi, budaya memiliki peran signifikan dalam bisnis (Shaiq, Khalid, Akran & Ali, 2011). Untuk melakukan bisnis secara global, disebutkan oleh Shaiq et. Al (2011, 1) bahwa pengusaha perlu memiliki kesadaran tentang budaya negara yang berbeda tempat mereka ingin beroperasi. Setiap negara atau organisasi memiliki budayanya sendiri, dan untuk bertahan hidup, dibutuhkan pemahaman budaya.

Stella Ting-Toomey dan J. Takai mendefinisikan budaya sebagai seperangkat sistem makna yang dipelajari yang menjadi induk dari pemahaman mengenai identitas dan berkomunitas di antara setiap anggotanya (Oetzel, 2009, 4). Ditambahkan oleh Ting-Toomey dan Takai bahwa budaya sekaligus merupakan suatu kerangka referensi yang kompleks yang di dalamnya terdapat pola-pola tradisi, keyakinan,

Dalam dokumen PENGANTAR ILMU KOMUNIKASI full book (Halaman 195-200)