• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian Guru Pendidikan Agama Islam (PAI)

BAB I PENDAHULUAN

C. Kinerja Guru Pendidikan Agama Islam (PAI)

2. Pengertian Guru Pendidikan Agama Islam (PAI)

Guru dikenal dengan al-mu’alim atau al-ustadz dalam bahasa Arab, yang bertugas memberikan ilmu dalam majlis taklim. Artinya, Guru adalah seseorang yang memberikan ilmu. Pendapat klasik mengatakan bahwa guru adalah orang yang pekerjaanya mengajar (hanya menekankan satu sisi tidak melihat sisi lain sebagai pendidik dan pelatih). Definisi guru berkembang

30 Donni Juni Priansa, Kinerja dan Profesionalisme Guru (Bandung : Alfabeta, 2014), 36-37

31 E. Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru (Bandung: PT Rosda Karya, 2008), 136-137

secara luas, Guru disebut pendidik profesional karena guru itu telah menerima dan memikul beban dari orang tua untuk ikut mendidik anak.

Guru juga dikatakan sebagai seorang yang memperoleh Surat Keputusan (SK), baik dari pemerintah atau swasta untuk melaksanakan tugasnya, dan karena itu memiliki hak dan kewajiban untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran di lembaga pendidikan sekolah.32

3. Peran dan Tugas Guru

Guru adalah pendidik , pengajar, pelatih dan pembimbing, yang menjadi panutan bagi para peserta didik dan lingkungannya. Guru membantu peserta didik yang sedang berkembang untuk mempelajari sesuatu yang belum diketahuinya, membentuk kompetensi, dan memahami materi standar yang dipelajarinya, dan guru harus senantiasa berusaha untuk mempertahankan dan meningkatkan semangat yang telah dimilikinya ketika mempelajari materi standar. Sebagai guru harus memiliki tujuan yang jelas, membuat keputusan secara rasional agar peserta didik memahami ketrampilan yang dituntut oleh pembelajaran.33

Mengingat bahwa tujuannya mendidik anak-anak (peserta didik) dan mempersiapkan mereka dengan sebaik-baiknya, sehingga mereka menjadi orang yang sempurna (menjadi insan kami), maka guru harus menjadi

32 Jamil Suprihatiningrum, Guru P rofesional (Jogjakarta : Ar-Ruzz Media, 2013), 23

33 E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2009),37

pendidik yang diserahi tugas untuk mendidik jasmani, akal dan akhlaq, dengan pendidikan yang sempurna dilihat dari berbagai segi. Tugas guru bukan hanya menyampaikan ilmu pengetahuan dan mengisi penuh pikiran mereka dengan ilmu pengetahuan itu, akan tetapi bertugas membina peserta didik menjadi dewasa. Maka dia bertanggung jawab untuk menguatkan jasmani murid, menumbuhkan pengertian mereka terhadap apa yang diajarkan kepadanya dari berbagai ilmu pengetahuan.34

4. Kode Etik Guru

Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk manusia pembangunan yang ber-pancasila.

a. Guru menghormati hak individu dan kepribadian anak didiknya masing- masing.

b. Guru berusaha mensukseskan pendidikan yang serasi (jasmaniah dan rohaniah) bagi anak didiknya.

c. Guru harus menghayati dan mengamalkan pancasila.

Guru memiliki kejujuran profesional dalam menerapkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan anak didik masing-masing.

a. Guru menghargai dan memperhatikan prbedaan dan kebutuhan anak didiknya masing-masing.

34 Abu Bakar Muhammad, Pedoman Pendidikan dan Pengajaran (Surabaya : Usaha Nasional, 1981), 68

b. Guru hendaknya luwes di dalam menerapkan kurikulum sesuai dengam kebutuhan anak didik masing-masing.

c. Guru memberi pelajaran di dalam dan di luar sekolah berdasarkan kurikulum tanpa membeda-bedakan jenis dan posisi orang tua muridnya.

Guru mengadakan komunikasi, terutama dalam memperoleh informasi tantang anak didik, tetapi menghindarkan diri dari segala bentuk penyalahgunaan.

a. Komunikasi guru dan anak didik di dalam dan di luar sekolah dilandaskan pada rasa kasih sayang.

b. Untuk berhasilnya pendidikan, maka guru harus mengetahui kepribadian anak dan latar belakang keluarganya masing-masing.

c. Komunikasi guru ini hanya diadakan semata-mata untuk kepentingan pendidikan anak didik.35

5. Kinerja Guru dan Supervisi

Guru sebagai agent of change yang merupakan ujung tombak pelaksanaan pembelajaran dalam melaksanakan tugasnya. Dalam melaksanakan tugasnya maka guru perlu adanya pengawas/pengawasan oleh supervisor yakni kepala sekolah yeng mensupervisi guru. Karena guru

35 Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan (Bandung : Remaja Rosdakarya Offset, 1995), 156-157

harus mampu mengembangkan dan meningkatkan proses kegiatan belajar mengajar peserta didik yang lebih baik lagi, yaitu dengan cara pembinaan tersebut (supervisi). Adapun hasil kinerja guru dari pembinaan supervisi ialah menjadikan guru lebih profesional, menjalankan KBM dengan baik, serta administrasi guru menjadi lebih baik (tertib).36

D. Telaah Hasil Penelitian Terdahulu

Dalam penelitian mengenai peran supervisi Kepala Sekolah dalam meningkatkan kinerja guru PAI tentu saja tidak jauh dari pembahasan supervisi kepala sekolah yang ada di SMP mauapun Madrasah. Sejauh pengetahuan penulis, ada hasil penelitian terdahulu yang relevan yaitu :

Dari penelitian Efi Lutfiana yang berjudul Implementasi Supervisi Kepala Sekolah Dalam Menilai Kinerja Guru PAI Pada Penyusunan Perangkat Pembelajaran Di MTs YPIP Panjeng, Dari hasil penelitiannya dapat disimpulkan bahwa :

Standarisasi Kepala Sekolah dalam menilai kinerja guru PAI pada penyusunan perangkat pembelajaran di MTs YPIP panjeng yakni dilaksanakan berdasarkan lokal atau standarisasi dari Kepala Sekolah. Hal

36 Daryanto, Tutik Rachmawati, Supervisi Pembela jaran (Yogyakarta : Gava Media, 2015), 45-46

ini disebabkan karena Kepala Sekolah belum diberi pendidikan dan penelitian tentang supervisi dalam menilai kinerja guru.

Cara Kepala Sekolah dalam menilai kinerja guru PAI pada penyusunan perangkat pembelajaran di MTs YPIP Panjeng yaitu dengan mengguanakan tahap-tahap penilaian dengam dilengkapi instrumen penilaian.37

Kegunaan dari penilaian Kepala Sekolah terhadap kinerja guru PAI pada penyusunan perangkat pembelajaran di MTs YPIP panjeng yakni untuk mengetahui kesiapan guru dalam menyelenggarakan proses pembelajaran yang dibuktikan dengan tersediannya progam tahunan, program semester, silabus, dan RPP. Sedangkan keunggulan bagi guru PAI antara lain, untuk mengevaluasi diri atas kekurangannya dalam menyusun perangkat pembelajaran dan berguna untuk mengembangkan karir jabatan dan golongan dalam lembaga tersebut.

Terdapat persamaan antara penelitian terdahulu dan penelitian sekarang.

Sama-sama menggunakan metode Kualitatif dan temanya ialah Supervisi Kepala sekolah. Penelitain terdahulu hanya menilai Kinerja Guru PAI terfokuskan pada penyusunan perangkat pembelajaran, sedangkan

37 Efi Lutfiana, Implementasi Supervisi Kepala Sekolah Dalam Menilai Kinerja Guru Pai di MTs YPIP Panjeng (Skripsi, STAIN Ponorogo, 2011)

penelitian sekarang lebih fokus terhadap kinerja Guru PAI (Semua pekerjaan guru PAI).

Sedangkan menurut penelitian Anis Uswatul Munawaroh yang berjudul Peningkatan Kualitas Proses Pembelajaran PAI melalui Supervisi Kepala Sekolah . (Studi Kasus di SMAN 1 Sambit Ponorogo). Dari penelitian ini dapat di simpulkan bahwa:

Kualitas proses pembelajaran PAI di SMAN 1 Sambit Ponorogo, masih mengalami banyak masalah yang diantaranya adalah penggunaan strategi yang belum bervariasi sehingga siswa jenuh dalam proses pembelajaran, minimnya media yang digunakan dan belum ada kesesuaian antara materi dan strategi yang di gunakan, serta penggunaan waktu yang kurang tepat yakni kadang terjadi kekurangan ataupun kelebihan waktu sehingga tidak sesuai dengan alokasi waktu pada RPP yang dibuat.

Proses Supervisi Kepala Sekolah dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran PAI di SMAN Sambit Ponorogo dilaksanakan satu kali dalam setahun, yaitu dengan teknik observasi kelas yakni Kepala sekolah melakukan pengawasan pada waktu proses belajar mengajar langsung.

Hasil dari supervisi Kepala Sekolah dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran PAI di SMAN 1 Sambit Ponorogo, yaitu supervisor (kepala sekolah) memberika penguatan kepada guru dan dalam RPP harus

terdapat EEK (eksplorasi, elaborasi, konfirmasi), kemudian kesesuaian antara metode dengan materi serta tindak lanjut lain ialah diikutkan seminar atau workshop dan MGMP agar proses pembelajaran lebih baik.38

Terdapat perbedaan antara penelitian terdahulu dan penelitian sekarang, yakni perbedaannya peneliti terdahulu meneliti di SMAN sedangkan penelitian sekarang meneliti di SMP dan peneliti sekarang meneliti seluruh kinera Guru PAI.

38 Anis Uswatul Munawaroh, Ppeningkatan Kualitas Proses Pembelajaran PAI Melalui Supervisi Kepala Sekolah (skripsi, STAIN ponorogo, 2012)

BAB III

METODE PENELITIAN

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini digunakan metodologi penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif, yang memiliki ciri khas alami (natural) sesuai kondisi objektif di lapangan tanpa adanya manipulasi, serta jenis data yang dikumpulkan terutaama data kualitatif, penelitian kualitatif menghasilkan data yaitu data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.39

Dalam hal ini yang digunakan penelitian adalah studi kasus. Yaitu suatu penelitian yang dilakukan secara intensif, terinci dan mendalam terhadap suatu organisasi, lembaga atau gejala tertentu.40 Kemudian diambil data yang berkaitan dengan peran supervisi kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja guru pendidikan agama islam di SMP Ma’arif 5 Ngrupit Jenangan Ponorogo.

2. Kehadiran Peneliti

Ciri khas penelitian kualitatif tidak dapat dipisahkan dari pengamatan berperan serta, sebab peranan penelitilah yang menentukan keseluruhan

39 Zainal Arifin, P enelitian Pendidikan ( Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2012), 140

40 Suharsimi Arikunto, Prosedur P enelitian (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2013), 185

skenarionya.41 Untuk itu, dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai instrumen kunci, partisipan penuh sekaligus pengumpul data, sedangkan instrumen yang lain sebagai penunjang.

3. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini adalah di SMP Ma’arif 5 Ngurpit Jenangan Ponorogo. Penelitian ini disesuaikan dengan permasalahan yang ada yaitu peran supervisi kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja guru Pendidikan Agama Islam (PAI).

4. Sumber Data

Sumber data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah kata-kata dan tindakan orang yang diamati atau diwawancarai merupakan sumber data utama yang dicatat melalui catatan tertulis, atau melalui perekam , pengambilan foto atau film.

Informan dari Kepasa Sekolah , wakil kepala sekolah, guru Pendidikan Agama Islam dan Siswa di SMP Ma’arif 5.

a. Dokumen data sekolah yang meliputi gambaran lokasi penelitian, dan dokumen lain seperti foto, dokumen tertulis yang menuju / berkaitan dengan penelitian.

5. Teknik Pengumpulan Data

41 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 1995), 117

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini ialah : wawancara, observasi dan dokumentasi. Sebab penelitian kualitatif fenomena yang dapat diambil dan dimengerti maknanya secara baik apabila dilakukan interaksi dengan subyek melalui wawancara dan diobservasi, dimana fenomena tersebut berlangsung dan disamping itu untuk melengkapi data, diperlukan dokumentasi tentang bahan-bahan yang ditulis oleh atau tentang subyek. Teknik yang digunakan peneliti yaitu :

a. Wawancara

Wawancara (interview) adalah proses tanya jawab dalam penelitian yang berlangsung secara lisan dalam mana dua orang atau lebih bertatap muka mendengarkan secara langsung informasi- informasi atau keterangan-keterangan.42

Teknik wawancara yang digunakan pada penelitian ini adalah wawancara mendalam yang artinya peneliti mengajukan beberapa pertanyaan secara mendalam mengenai fokus permasalahan sehingga dengan wawancara mendalam ini data-data dapat terkumpul secara maksimal.

Orang-orang yang dijadikan informan meliputi Kepala Sekolah dan wakil kepala sekolah. Wawancara dilakukan untuk memperoleh data tentang tujuan program Supervisi kepala sekolah.

42 Cholid Narbuko dan Abu Achmadi, Metodologi Penelitian (Jakarta : PT Bumi Aksara, 2009), 83

b. Observasi

Observasi adalah merupakan salah satu teknik pengumpulan data dimana peneliti mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap objek yang diteliti.43 Observasi dapat dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dengan teknik ini peneliti mengamati aktivitas dan kegiatan supervisi dari kepala sekolah.

c. Dokumentasi

Teknik dokumentasi/dekumenter (documentary study ) merupakan teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen, baik dokumen tertulis, gambar maupun elektronik(rekaman), dan dokumen-dokumen yang dihimpun dipilih yang sesuai dengan tujuan dan fokus masalah.44

Teknik dokumentasi digunakan dalam penelitian ini, karena mengingat (1) sumber ini selalu tersedia, cukup mudah dan murah terutama ditinjau dari konsumsi waktu; (2) rekaman dan dokumen merupakan sumber informasi yang stabil, baik keakuratannya dalam merefleksikan situasi yang terjadi dimasa lalu, maupun dapat dianalisis kembali tanpa mengalami perubahan; (3) rekaman dan

43 Andhita Dessy Wulansari, Penelitian Pendidikan (Ponorogo : STAIN Po Press, 2012), 64.

44 Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung : PT Remaja Rosda Karya, 2009), 221-222.

dokumen merupakan sumber informasi yang kaya, secara konstektual relevan dan mendasar dalam konteknya ; (4) sumber ini sering merupakan pernyataan yang legal yang dapat memenuhi akuntalibitas. Hasil pengumpulan data melalui cara dokumentasi ini, dicatat dalam format transkip dokumentasi.45

Metode dokumentasi ini digunakan peneliti untuk memperoleh data mengenai sejarah berdirinya sekolah dan kegiatan serta perkembangan SMP Ma’arif 5 Ngrupit Jenangan Ponorogo, struktur menegemen kepala sekolah mengenai program supervisi, jumlah siswa, serta keadaan sarana dan prasaranya.

6. Analisis Data

Teknik analisis data adalah proses yang dilakukan secara sistematis untuk mencari, menemukan dan menyusun transkip wawancara, catatan- catatan lapangan, dan bahan-bahan lainnya yang telah dikumpulkan peneliti dengan teknik-teknik pengumpulan data lainnya. Analisis dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan akan dipelajari dan membuat kesimpulan yang akan dapat diceritakan kepada orang lain.

45 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 1995), 217

Teknik analisis data dalam kasus ini menggunakan analisi data kualitatif, mengikuti konsep yang duberikan Miles Huberman.

Konsepnya ialah sebagai berikut

Keterangan :

a. Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah difahami dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam unit- unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari dan membuat kesimpulan yang dapat diceritakan kepada orang lain.

b. Mereduksi data dalam konteks penelitian yang dimaksud adalah merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal- hal yang penting, membuat katagori. Dengan demikian data yang telah direduksikan memberi gambaran yang lebih jelas dan

Pengumpulan data Penyajian data

Kesimpulan- kesimpulan:

penarikan/verifikasi Reduksi data

mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya.

c. Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data atau menyajikan data ke dalam pola yang dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, grafik, matrik, network dan chart. Bila pola-pola yang ditemukan telah didukung oleh data selama penelitian, maka pola tersebut sudah menjadi pola yang baku yang selanjutnya akan didisplaykan pada laporan akhir penelitian.

d. Langkah yang terakhir dalam penelitian ini adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi.46

7. Keabsahan Data

Keabsahan data merupakan konsep penting yang diperbaharui dari konsep kesahihan (validitas) dan keandalan (reliabilitas).

Dalam bagiann ini peneliti harus mempertegas teknik apa yang digunakan dalam mengadakan pengecekan keabsahan data yang ditemukan.

Berikut beberapa teknik yang pengecekan keabsahan data dalam proses penelitian adalah sebagai berikut:

a. Pengamat yang tekun

46 Ibid, 11-14

Ketekunan pengamatan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relavan dengan persoalan atau isu yang dicari. Jadi kalau perpanjangan keikutsertaan menyediakan lingkup, maka ketekunan pengamatan menyediakan kedalaman.

b. Triangulasi

Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekkan atau sebagai pembanding terhadap data itu.47 Teknik ini dapat dicari dengan jalan, membandingkan data hasil pengamatan dengan data wawancara, membandingkan hasil wawancara dari informan satu dengan informan lainnya, membandingkan hasil wawancara dengan dokumen yang berkaitan.

8. Tahap-tahap Penelitian

Tahap-tahap dalam penelitian ini ada tiga tahapan dan ditambah dengan tahap terakhir dari penelitian yaitu tahap penulisan laporan hasil penelitian.

Tahap-tahap penelitian tersebut adalah :

a. Tahap pra lapangan, yang meliputi: menyusun rancangan penelitian, memilih lapangan penelitian, mengurus perizinan, menjajagi dan

47 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 1995), 171.

menilai keadaan lapangan, memilih dan memanfaatkan informan, menyiapkan perlengkapan penelitian.

b. Tahap pekerjaan lapangan, yang meliputi: memahami latar penelitian dan persiapan diri, memasuki lapangan dan berperan serta sambil mengumpulkan data.

c. Tahap analisis data, yang meliputi: analisis selama dan setelah pengumpulan data.

d. Tahap penulisan hasil laporan penelitian.

BAB IV

DESKRIPSI DATA A. Gambaran Umum

1. Sejarah Berdirinya dan Letak Geografis SMP Ma’arif 5 Ngrupit Jenangan Ponorogo

SMP Ma’arif 5 Ngrupit Jenangan Ponorogo ini berdiri pada tahun 1983 yang didirikan oleh H. Asrofun, Suparman, Kamil , Sukamto, H. Moh.

Kurnen dan Imam Supardi. Awalnya para pendiri tersebut adalah Guru (Tenaga Pendidik) di MI Ma’arif 5 Ngrupit Jenangan Ponorogo. Ke 6 tokoh tersebut mempunyai inisiatif untuk mendirikan Lembaga Sekolah lanjutan dari MI Ma’arif karena adanya tanah wakaf seluas 1.600 M², maka berdirilah Tsanawiyah Ma’arif Ngrupit, agar pelajaran agama yang mereka ajarkan tidak luntur oleh perkembangan jaman 48.

Setelah sekian lama lembaga itu berdiri maka keturunan ke 6 tokoh tersebut meneruskan perjuangannya, maka Tsanawiyah Ma’arif Ngrupit Jenangan Ponorogo di ganti dengan SMP Ma’arif 5 yang tetap di bawah nauangan Nahdatul Ulama. Lembaga ini merupakan pendidikan menengah swasta yang sudah terakreditasi B, yang berada di kota kecil tepatnya di ± 7 KM sebelah timur Ibu Kota Kabupaten Ponorogo, tepatnya di Jl.

48 Lihat transkip dokumentasi nomor : 01/D/04-IV/2017 dalam lampiran laporan hasil penelitian ini.

Seloaji/Gambir Anom No.23 Dusun Krajan RT 03/RW 03 Desa Ngrupit Kecamatan Jenangan Kab. Ponorogo49. Walaupun hanya sebuah lembaga menengah Swasta kecil, hal ini merupakan tantangan setiap tahun bagi SMP Ma’arif 5 untuk selalu meningkatkan kualitasnya sehingga menjadi salah satu lembaga pendidikan yang mampu bersain untuk terus eksis dalam mencetak generasi yang ‘’Beriman, Bertaqwa, Berilmu pengetahuan dan Berteknologi’’ dan sekaligus menjawab tantangan dan tuntutan zaman yang terus berkembang.

2. Visi, Misi dan Tujuan SMP Ma’arif 5 Ngrupit Jenangan Ponorogo

Sebagai lembaga pendidikan menengah swasta SMP Ma’arif 5 mempunyai visi, misi dan tujuan sebagu berikut :

a. Visi

Beriman, Bertaqwa, Berilmu pengetahuan, dan Berteknologi b. Misi

1) Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif, sehingga setiap siswa dapat berkembang secara optimal, sesuai potensi yang dimiliki.

49 Lihat transkip observasi nomor : 01/O/03/IV/2017 dalam lampiran laporan hasil penelitian ini

2) Menumbuhkan penghayatan terhadap pendidikan dan ajaran agama Islam sehingga menjadi sumber kearifan dalam bertindak.

3) Menumbuhkan semangat keunggulan secara optimal kepada seluruh warga sekolah.

4) Mendorong dan membantu siswa untuk mengenali potensi dirinya, sehingga dapat dikembangkan secara optimal.

5) Menerapkan manajemen partisipatif dengan melibatkan seluruh warga sekolah dan komite sekolah.

6) Mendorong dan membimbing siswa untuk melaksanakan ibadah secara tertib, berakhlakul karimah dan melaksanakan syariat Islam yang barhaluan Ahli Sunnah Waljamaah.50

3. Struktur Organisasi SMP Ma’arif 5 Ngrupit Jenangan ponorogo

Struktur organisasi dalam suatu lembaga merupakan hal yang sangat penting bagi keberadaanyaa, karena dengan melihat dan membaca struktur organisasi, memudahkan kita untuk mengetahui sejumlah personil yang menduduki jabatan tertentu di dalam lembaga tersebut. Disamping itu, pihak lembaga lebih mudah melaksanakan program yang telah

50 Lihat transkip observasi nomor : 02/O/03/IV/2017 dalam lampiran laporan hasil penelitian ini

direncanakan, mekanisme kerja , serta tugas dan tanggung jawab dapat dijalankan dengan baik.51

Adapun struktur organisasi di SMP Ma’arif 5 Ngrupit Jenagan ponorogo tahun 2016/2017 sebagai berikut :

51 Lihat transkip dokumentasi nomor : 02/D/04-IV/2017 dalam lampiran laporan hasil penelitian ini.

Gambar 3.1

STRUKTUR ORGANISASI SMP MA’ARIF 5 NGRUPIT JENANAGN PONOROGO

TAHUN PELAJARAN 2016/2017

BP-3/KOMITE

ABDUL MANAN

KEPALA Drs. Qomari

KEPALA TU Nurul Hikmatil

PKM KURIKULUM Peni Puji Lestari,

S.Pd

PKM KESISWAAN Ahmad Muttaqin

A.M, S.Pd.I

PKM HUMAS Eko Triyono

PKM SARPRAS Abdul Rohim,

M.Pd.I

KOORDINATOR BP Marsono

DEWAN GURU

S I S W A WAKASEK

Askar Sungudi, S.Pd

4. Keadaan Guru dan Siswa SMP Ma’arif 5 Ngrupit Jenangan Ponorogo a. Keadaan Guru SMP Ma’arif 5

Guru adalah seorang pendidik yang secara administratif bertanggung jawab atas kelangsungan proses belajar mengajar serta berkewajiban membimbing dan mengarahkan anak didik untuk mencapai tujuan yang diharapka. Oleh karena itu seorang guru harus kreatif dalam mengembangkan sumber belajar.

Para pendidik SMP Ma’arif 5 Ngrupit Jenangan Ponorogo diatur dan disesuaikan dengan kompetensi masing-masing dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan para siswa. Jumlah tenaga pendidik (Guru) di SMP Ma’arif 5 ada 14 orang. Mereka adalah tenaga ahli yang profesional dan linier sesuai jurusan yang di tempuh.52 Keadaan tenaga pendidik pendidikan SMP Ma’arif 5 Ngrupit Jenangan Ponorogo dapat dilihat pada tabel berikut :

52 Lihat transkip dokumentasi nomor : 03/D/04-IV/2017 dalam lampiran laporan hasil penelitian ini

Tabel 3.1

Data Guru dan Karyawan SMP Ma’arif 5 Ngrupit Jenangan Ponorogo

Tahun 2016/2017

No. Nama Jabatan

1 Drs. Qomari Kepala Sekolah

2 Askar Sungudi, S.Pd Wakasek dan Guru

3 Peni Puji Rahayu, S.Pd Waka Kurikulum dan Guru 4 Ahmad Muttaqin A.M, S.Pd.I Waka Kesiswaan dan Guru

5 Eko Triono Waka Humas dan Guru

6 Abdul Rokim, M.Pd.I Waka Sarpras dan Guru

7 Marsono BP dan Guru

8 Ervina Zunaidah, S.Pd.I Wali kelas VII dan Guru

9 Dian Ernasari, S.Pd Wali kelas VIII dan Guru

10 H. Ahmad Sukardi, SH Wali kelas IX dan Guru

11 Dra. Anis Tri Ubaidati Guru

12 Ansori Priambodo, S.Pd Guru

13 Dewi Lestari, S.Pd Guru

14 Farida Nur Lutfiana, S.Pd Guru

b. Keadaan siswa SMP Ma’arif 5 Ngrupit Jenangan Ponorogo

Keadaan jumlah siswa SMP Ma’arif 5 Ngrupit Jenangan Ponorogo dari tahun 2014 sampai tahun 2016 mengalami kenaikan dan penurunan, karena banyaknya persaingan antar sekolah.53

Jumlah keseluruhan siswa kelas satu (1) sampai kelas 3 (tiga) SMP Ma’arif 5 Ngrupit Jenangan Ponorogo tahun pelajaran 2014/2015 sampai tahun 2016/2017 adalah:

Tabel 3.2

Jumlah Siswa SMP Ma’arif 5 Ngruit Jenangan Ponorogo

KELAS

JUMLAH SISWA KET.

2014/2015 2015/2016 2016/2017 VII

VIII IX

17 8 15

12 15 7

16 16 16

Jumlah 40 34 48

5. Sarana dan Prasarana SMP Ma’arif 5 Ngrupit Jenangan Ponorgo

SMP Ma’arif 5 Ngrupit Jenangan Ponorogo berdiri diatas tanah wakaf seluas 1.600M² dengan lokasi yang strategis.54

53 Lihat transkip observasi nomor : 03/O/03/IV/2017 dalam lampiran laporan hasil penelitian ini.

54 Lihat transkip dokumentasi nomor : 04/D/04-IV/2017 dalam lampiran laporan hasil penelitian ini.

Dokumen terkait