BAB II KONSEP STABILITAS HARGA, INFLASI, DAN MAS}LAH}AH
C. Konsep Mas}lah}ah
1. Pengertian Mas}lah}ah
Setiap hukum yang diciptakan atas dasar mas}lah}ah dapat ditinjau dari tiga segi, yaitu:
a. Melihat mas}lah}ah yang terdapat kasus yang menjadi persoalan.
b. Melihat sifat yang sesuai dengan tujuan syara’ yang mengharuskan adanya suatu ketentuan hukum agar tercipta suatu kemaslahatan.
c. Melihat proses penetapan hukum terhadap suatu mas}lah}ah yang ditunjukkan oleh dalil khusus.
Apabila suatu hukum didirikan dengan melihat segi yang pertama, maka dipakai istilah al-mas}lah}ah atau al-mas}lah}ah al- mursalah. Istilah yang pertama ini merupakan istilah yang paling terkenal. Apabila suatu hukum didirikan dengan melihat segi yang kedua, maka dipakai istilah al-munasib al-mursal. Istilah yang kedua ini digunakan oleh Ibnu Hajib dan Baidhawi. Sedangkan apabila suatu hukum didirikan dengan melihat segi yang ketiga, maka dipakai istilah al-istishlah atau al-istidlal al-mursal. Istilah yang ketiga ini digunakan oleh al-Ghazali dan al-Syatibi.25
Meskipun para ulama berbeda-beda dalam memandang mas}lah}ah, namun hakikatnya tetap sama yaitu setiap manfaat pada suatu persoalan yang di dalamnya terdapat tujuan syara’ secara umum tanpa adanya dalil yang secara khusus menerima atau menolaknya.
25 Syafe’i, 118–19.
Secara terminologi, beberapa ulama berpendapat mengenai definisi mas}lah}ah sebagai berikut:
a. Al-Khawarizmi
Berpendapat bahwa yang dimaksud dengan mas}lah}ah adalah mendatangkan kebaikan dan menjauhi kerusakan.26
b. Muhammad Said Ramadan al-Buhti
Berpendapat bahwa yang dimaksud dengan mas}lah}ah adalah segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan atau manfaat yang sesuai dengan syariat demi menjaga agama, jiwa, akal, harta, serta keturunan.27
c. Al-Ghazali
Berpendapat bahwa yang dimaksud dengan mas}lah}ah adalah suatu jalan yang digunakan untuk meraih kebaikan atau manfaat serta untuk menolak kerusakan (mafsadah). Meraih kebaikan yang dimaksud Imam Ghazali adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan menjaga agama Allah dan kebaikan sesama manusia.28
d. Mustafa Syalbi
Berpendapat bahwa mas}lah}ah dibagi menjadi dua pengertian.
Pertama, secara majaz, mas}lah}ah adalah segaa sesuatu yang menyampaikan pada kemanfaatan. Kedua, secara hakiki,
26 Dahlan Tamrin, Filsafat Hukum Islam (Malang: UIN Malang Press, 2007), 115.
27 Tamrin, 116.
28 Asafri Jaya Bakri, Konsep Maqasyid Al-Syariah Menurut al-Syatibi (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996), 61.
mas}lah}ah adalah suatu akibat itu sendiri yang timbul dari suatu tindakan, yakni berupa kebaikan atau kemanfaatan.29
e. Abu Nur Zuhair
Berpendapat bahwa yang dimaksud dengan mas}lah}ah adalah suatu sifat yang sesuai dengan hukum, namun belum tentu antara diakui atau tidaknya oleh syara’.30
f. Al-Syatibi
Berpendapat bahwa yang dimaksud dengan mas}lah}ah adalah setiap prinsip syara’ yang tidak disertai bukti nash secara khusus namun sesuai dengan tindakan syara’ serta maknanya diambil dari dalil-dalil syara’.31
g. Imam Malik
Berpendapat bahwa yang dimaksud dengan mas}lah}ah adalah setiap manfaat yang tidak didasarkan pada nash khusus yang menunjukkan diakui atau tidaknya manfaat tersebut.32
Para ahli ushul yang lain juga berpendapat mengenai pengertian mas}lah}ah yang mana berbeda-beda redaksi dalam mendefinisikannya, di antaranya adalah:
ٍةَرَﻀَم ِﻊْﻓَد ْوَا ٍﺔَعَﻔْـنَم ِﺐْلَﺟ ْﻦَﻋ ِﻞْﺻَْﻻا ِﰱ ٌةَراَﺒِﻋ َﻲِهَﻓ ُﺔَﺤَلْصَمْلا اَمَا
29 Jamal Makmur Asmani, Fiqh Sosial Kiai Sahal, Antara Konsep Dan Implementasi (Jakarta: Khalista, 2009), 285.
30 Syafe’i, Ilmu Ushul Fiqih, 119.
31 Syafe’i, 120.
32 Syafe’i, 120.
Artinya: “Pada dasarnya mas}lah}ah adalah meraih kemanfaatan atau menolak kemadharatan”.
ِﻆْﻔِح ِﰱ ِﻩِداَﺒِعِل ُمْيِكَْﳊا ُعِراﱠﺸلا اَهَدَصَﻗ ِﱴﱠلا ِﺔَعَﻔْـنَمْلا ِﻦَﻋ ًةَراَﺒِﻋ َﺔَﺤَلْصَمْلا ﱠنَا ْمِِﳍاَوْمَاَو ْمِهِلْﺴَنَو ْمِِﳍْوُكُﻋَو ْمِهِﺳْوُﻔُـنَو ْمِهِنْيِد
Artinya: “Mas}lah}ah adalah bentuk perbuatan yang bermanfaat yang telah telah diperintahkan oleh syar’i (Allah) kepada hamba- Nya untuk memelihara agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta benda mereka”.
َمْلا ِﻊْﻓَدِب ِعْرﱠﺸلا ِدْوُصْﻘَم ﻰَلَﻋ ُﺔَظَﻓاَﺤُمْلا َﻲِه ُﺔَﺤَلْصَمْلا ِﻖْلَْﳋا ِﻦَﻋ ِدِﺳاَﻔ
Artinya: “Mas}lah}ah adalah memelihara tujuan syara’ dengan cara menolak segala sesuatu yang dapat merusakkan makhluk”.33 Berdasarkan beberapa pendapat ulama diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa mas}lah}ah memiliki tujuan semata-mata untuk mendatangkan kebaikan, meraih manfaat, dan menjauhi yang namanya kerusakan atau mafsadat dengan menjadikan agama sebagai pilar yang harus dijaga serta jiwa, akal pikiran, keturunan, dan juga harta.
Dalam us}hul fiqh, terdapat beberapa kaidah yang menguatkan tentang mas}lah}ah, yaitu:
َﻀلا َر ُرا ُـي َﺰ ُلا
Artinya: “Kemudaratan harus dihilangkan”. 34
َد ْر ُء ْلا َم َﻔ ِﺳا ُم َﻘ ِد ﱠد ُم َﻋ َﺟ ﻰ َل ْل ْلا ِﺐ َم َص ِﺢ ِلا
33 al-Hasyimi, Ilmu Ushul Fiqh, 117.
34 Fathurrahman Azhari, Qawaid Fiqhiyyah Muamalah (Banjarmasin: Lembaga Pemberdaya Kualitas Ummat, 2015), 28.
Artinya: “Mencegah kerusakan lebih didahulukan daripada mendatangkan kebaikan”.35
َص ﱡ َت ُف ر ِْﻻا َم ِما َﻋ َل ﱠرلا ﻰ ﱠي ِﺔ ِﻋا َم ُـن ْو ٌط ْل َم ِ ْص َل َﺤ ِﺔ
Artinya: “Kebijakan pemimpin harus dikaitkan dengan kepentingan rakyatnya”.36
Mas}lah}ah merupakan suatu dalil hukum yang dapat memberikan gerak yang lebih cepat dan luas kepada para mujtahid untuk berfikir karena mas}lah}ah tidak begitu banyak memerlukan kaitan pada nash tetapi lebih menekankan pada suatu keyakinan bahwa di dalamnya terdapat kesejahteraan banyak orang.
Mas}lah}ah dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengan kebaikan, baik mendatangkan kebaikan ataupun menghindari yang namanya kemudaratan serta selalu mencari manfaat dari masalah yang ada.37 Perlu diketahui bahwa lapangan mas}lah}ah tidak hanya berlandasakan pada hukum syara’ secara umum, namun juga harus diperhatikan adat kebiasaan dan hubungan antara manusia satu dengan yang lainnya. Lapangan tersebut merupakan pilihan utama untuk mencapai kemaslahatan. Maka dari itu, persoalan ibadah tidak termasuk dalam lapangan tersebut sebab persoalan ibadah tentu tidak bisa diubah- ubah.38
35 Abdul Hamid Hakim, Mabadi Awaliyah (Jakarta: Sa’adiyah Putra, 1927), 32.
36 Achmad Musyahid Idrus, “Kebijakan Pemimpin Negara Dalam Perspektif Kaidah Fikih:
Tasarruf Al-Imam Manutun Bil Maslahah” Volume 10 (2021): 125.
37 Abbas Arfan, Geneologi Pluralitas Mazhab Dalam Hukum Islam (Malang: UIN Malang Press, 2008), 82.
38 Syafe’i, Ilmu Ushul Fiqih, 121–22.
Menetapkan hukum menggunakan mas}lah}ah ini bukanlah merupakan sarana untuk memperturutkan hawa nafsu dan keinginan, maka siapa saja yang mengemukakan hujjah dengan mas}lah}ah perlu berhati-hati. Maka dari itu terdapat tiga syarat agar mas}lah}ah bisa dijadikan hujjah, yaitu:
a. Adanya mas}lah}ah hakikat, bukan mas}lah}ah wahamiah (angan- angan). Dalam hal ini mas}lah}ah yang ditetapkan harus benar- benar mendatangkan manfaat dan membuang suatu mudharat.
Maksudnya adalah penetapan mas}lah}ah akan mendatangkan manfaat tanpa menimbang-nimbang antara apa-apa yang akan mendatangkan kemudharatan.
b. Adanya kemaslahatan umum, bukan kemaslahatan perorangan.
Dalam hal ini penetapan mas}lah}ah harus mendatangkan manfaat atau membuang kemudharatan untuk banyak orang, tidak boleh hanya untuk perorangan atau suatu kalangan saja. Penetapan mas}lah}ah juga tidak boleh hanya untuk mendatangkan manfaat untuk pemimpin atau pembesar saja yang mana mengesampingkan rakyatnya.
c. Adanya kemaslahatan tidak boleh bertentangan dengan hukum yang telah disebutkan sesuai dengan nash atau ijma’. Dalam hal ini penetapan kemaslahatan akan batal jika bertentangan dengan
nash meskipun kemaslahatan tersebut dapat dirasakan oleh banyak orang.39