BAB II TINJAUAN TEORITAS
A. Efektifitas Keterampilan Mengajar Guru Pendidikan Agama
3. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Menurut penjelasan pasal 37, Bab X, ayat 1 Undang-Undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003, Pendidikan Agama Islam dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia.
Menurut Zakiah Darajat Pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh siswa agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh, menghayati, mengamalkan, serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup.
Tayar Yusuf mengartikan Pendidkan Agama Islam sebagai usaha sadar generasi tua untuk mengalihkan pengalaman, pengetahuan, kecakapan dan keterampilan kepada generasi muda agar kelak menjadi manusia yang bertakwa kepada Allah Swt. Sedangkan menurut Ahmad Tafsir Pendidikan Agama Islam adalah bimbingan yang diberikan seseorang kepada seseorang agaria berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam.21
20 Suharsimi Arikunto, Metodologi Penelitian Agama Islam, (Jakarta: Buku Kedua, Dirjen Kelembagaan Agama Islam, 2002), Hlm.130
21 Abd. Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasisi Kompotensi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004), Cet. I, h. 130
Dalam Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam SMP dan MTs, Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan siswa untuk mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani, bertakwa, dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran Agama Islam dari sumber utamanya kitab Suci Al-Quran
dan Hadits, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan serta penggunaan pengalaman.22
a. Tujuan Pendidikan Agama Islam
Tujuan Pendidikan Agama Islam atau tujuan-tujuan Pendidikan lainnya didalamnya mengandung nilai-nilai tertentu sesuai dengan pandangan dasar masing-masing yang harus direalisasikan melalui proses yang terarah dan konsisten.
Peningkatan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebagaimana dimaksudkan oleh GBHN, hanya dibina melalui pengajaran Agama, yaitu:
membina manusia beragama, berarti manusia yang mampu melaksanakan ajaran-ajaran Agama Islam dengan baik dan sempurna, sehingga tercermin pada sikap dan tindakan seluruh kehidupannya, dalam rangka mencapai kebahagiaan dan kejayaan hidup dunia dan akhirat.23
Pendidikan Agama Islam di SMP bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengalaman serta pengalaman siswa tentang Agama Islam
22 Dep. Pendidikan Nasional, Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam SMP & MTs, (Jakarta: Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas, 2003), h.7
23 Zakia Darajat, dkk., Metodik Khusus Pengajaran Agama, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), Cet. IV, h. 172
sehingga menjadi manusia Muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketakwaannya pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta untuk mendapat melanjutkan pada jenjang Pendidikan yang lebih tinggi.
b Ruang Lingkup Materi Pendidikan Agama Islam
Ruang lingkup Pendidiakn Agama Islam di SMP meliputi keserasian, keselarasan dan keseimbangan antara:
1) Hubungan dan kesembangan dengan Allah Swt.
2) Hubungan manusia dengan sesama manusia, dan
3) Hubungan manusia dengan alam (selain manusia) dan lingkungan.
Adapun ruang lingkup bahan pelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama terfokus pada aspek;
a) Keimanan
b) Al-Qur’an/Hadits c) Akhlak
d) Fiqih/Ibadah e) Tarik
B. Minat Belajar Siswa 1. Pengertian Minat Belajar
Minat belajar terdiri dari dua kata yakni minat dan belajar, dua kata ini beda arti. Minat adalah kecenderungan jiwa yang relatif menetap kepada diri seseorang dan biasanya disertai dengan perasaan senang.24 Menurut Ismail SM
24 M. Fathurrohman dan Sulistyorini, Belajar dan Pembelajaran Membantu
Meningkatakan Mutu Pembelajaran sesuai Standar Nasional (Yogyakarta: Teras, 2012), hal. 173.
minat adalah kecenderungan jiwa yang tetap kearah sesuatu yang sangat berharga bagi seseorang.Semua yang berharga bagi seseorang adalah yang sesuai dengan kebutuhannya.25
Menurut Sardiman AM minat diartikan sebagai suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atau arti sementara situasi yang dihubungkan dengan keinginan-keinginan atau kebutuhan-kebutuhannya sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa minat merupakan kecenderungan jiwa seseorang kepada seseorang (biasanya disertai dengan perasaan senang), karena itu merasa ada kepentingan dengan sesuatu itu.26
Menurut Lukmanul Hakim minat pada dasarnya merupakan perhatian yang bersifat khusus. Siswa yang menaruh minat pada suatu mata pelajaran, perhatiannya akan tinggi dan minatnya berfungsi sebagai pendorong kuat untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar.27
Menurut Slameto minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa kaitan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat diimplementasikan melalui partisispasi aktif dalam suatu kegiatan.Berdasarkan pendapat di atas apabila siswa berminat terhadap sesuatu maka siswa tersebut cenderung untuk memberi perhatian yang lebih besar terhadap sesuatu yang diminatinya dan mengikuti kegiatan yang dilakukan dengan rasa senang.
kesimpulannya minat adalah rasa ketertarikan atau keinginan yang lebih yang didasari oleh perasaan suka yang dimiliki sesorang terhadap suatu hal, tanpa adanya dorongan.
pengertian belajar menurut Whittaker adalah “belajar sebagi proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau di ubah melalui latihan atau pengalaman”.
Demikian pula menurut Djamarah belajar adalah “serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari
25 Ismail SM, Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM (Semarang: Rasail Media Group, 2011), cet. ke VI, hal. 28.
26 Sardiman A.M., Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007), hal. 76.
27 Lukmanul Hakim, Perencanaan Pembelajaran (Bandung: Wacana Prima, 2009), hal.
38
pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor”.28
Menurut Daryanto “belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.29
Menurut Sadiman “belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak dia masih bayi dan hingga ke liang lahat nanti. Salah satu tanda seseorang telah belajar adalah perubahan tingkah laku dalam dirinya baik bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor), maupun nilai dan sikap (afektif).30 Dimaksud dari minat belajar adalah aspek psikologi seseorang yang menampakkan diri dalam beberapa gejala, seperti: gairah, keinginan, perasaan suka untuk melakukan proses perubahan tingkah laku melalui berbagai kegiatan yang meliputi mencari pengetahuan dan pengalaman, dengan kata lain, minat belajar itu adalah perhatian, rasa suka, ketertarikan seseorang (siswa) terhadap belajar yang ditunjukkan melalui keantusiasan, partisipasi dan keaktifan dalam belajar. Dalam pandangan Islam belajar merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam surah at-Taubah ayat 122:
28 Syaiful Bahri Djamarah dan Azwan Zain, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), hal. 39
29 Daryanto, Belajar dan Mengajar (Bandung : Yrama Widya, 2010), hal. 162-163
30 Arif S Sadiman, Media Pendidikan, Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya
(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), hal. 2
Terjemahnya:
“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka Telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”31
Dari ayat Al-qur'an di atas dapat diambil kesimpulan bahwa belajar merupakan kewajiban bagi setiap muslim dan dapat dijadikan bekal dalam hidup, baik masa sekarang maupun masa yang akan datang.
a. Unsur-unsur Minat belajar
Minat adalah sumber hasrat belajar.Minat salah satu faktor yang dapat mempengaruhi usaha yang dilakukan seseorang. Minat yang kuat akan menimbulkan usaha yang gigih, serius dan tidak mudah putus asa dalam menghadapi tantangan. Jika minat ditimbulkan, maka kegiatan belajar akan dapat berjalan dengan lancar dan berhasil.32
Siswa-siswa akan dengan sendirinya memperhatikan pelajaran yang sedang disajikan bila berminat terhadap pelajaran yang sedang disajikan bila berminat terhadap pelajaran itu. Kaidah itu terutama amat berpengaruh pada pengajaran tingkat rendah. Bila siswa telah berminat terhadap kegiatan belajar mengajar maka hampir dapat dipastikan proses belajar itu akan berjalan dengan baik dan hasil belajar akan optimal.33
Minat dapat timbul karena daya tarik dari luar dan juga datang dari hati sanubari. Minat yang besar terhadap sesuatu merupakan modal yang besar artinya untuk mencapai/memperoleh benda atau tujuan yang diminati itu.
31 Departemen Agama RI, op. cit., h. 277.
32 Kartini Kartono, Teori Kepribadian (Bandung: Mandar Maju, 2005), Cet ke-II, hal.81
33 Achmad Patoni, Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Bina Ilmu,2004), hal.83
Timbulnya minat belajar disebabkan berbagai hal, antara lain karena keinginan yang kuat untuk menaikkan martabat atau memperoleh pekerjaan yang baik serta ingin hidup senang dan bahagia.34
b. Faktor Pendorong Minat
1) Drive determinant, dorongan untuk mempertahankan hidup.
2) Dorongan keadaan, keadaan yang diimbulkan oleh dorongan determinan diatas.
3) Kegiatan mencapai tujuan.
4) Tercapainya tujuan oleh individu.
5) Mengendurnya dorongannya karena tujuan telah tercapai.
6) Efek mengendurnya dorongan semula karena munculnya dorongan lain yang baru, menghendaki pemuasnya.35
c. Fungsi Minat dalam Belajar
Banayak faktor yang mempengaruhi kuantitas dan kualitas belajar siswa, salah satunya adalah minat. Minat dapat mempengaruhi kualitas pencapaian belajar siswa dalam bidang studi tertentu.
Minat juga merupakan suatu hal yang penting dalam Pendidikan, sebab hal itu merupakan sumber dari usaha siswa.
Minat berperan sebagai “motivating force” yaitu sebagai kekuatan yang mendorong siswa untuk belajar. Siswa yang berminat (sikapnya senag) kepada pelajaran akan tampak terdorong terus untuk tekun belajar.
34 M. Dalyono, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), Cet ke-IV, hal.56-57
35Eddy Suewardi Kartawidjaja, Pengukuran dan Hasil Evaluasi Belajar, (Bandung:
Sinar Baru, 2001) hal. 183
Pada setiap manusia, minat memegang peranan penting dalam kehidupannya dan mempunyai dampak yang besar atas perilaku dan sikap, minat menjadi sumber motivasi yang kuat belajar, anak yang berminat terhadap sesuatu kegiatan baik itu bekerja maupun belajar, akan berusaha sekuat tenaga untuk mencapai tujuan yang dinginkan.
Siswa akan merasa senang dalam mengikuti mata pelajaran yang mereka senangi sehingga siswa merasa terdorong dan terus berusaha untuk mencapai hasil yang memuaskan sesuai dengan apa yang diinginkannya.
Dengan adanya minat pada diri siswa, maka proses pembelajaran akan berjalan lancar dan tujuan pendidikan dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan.
Minat besar pengaruhnya terhadap belajar, karena apabila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa atau tidak diminati siswa, maka siswa yang bersangkutan tidak akan belajar sebaik-baiknya, karena tidak adanya daya tarik baginya. Sebaliknya bahan pelajaran yang diminati siswa, akan lebih muda dipahami dan disimpan dalam memori kognitif siswa karena minat dapat menambah kegiatan belajar.
d. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Belajar Siswa
Keberhasilan siswa dipengaruhi oleh banyak faktor yang berasal dari dalam maupun dari luar diri siswa. Beberapa faktor yang dpaat mmepengaruhi minat belajar siswa menurut Totok Susanto ada 6 yaitu: 1) motivasi dan cita- cita; 2) keluarga; 3) peranan guru; 4) sarana dan prasarana; 5) teman pergaulan;
6) mass media.
Berikut ini akan diuraikan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar siswa.
1) Motivasi dan cita-cita
Motivasi adalah pendorong suatu usaha yang didasari untuk mempengaruhi tingkah laku sesorang agar tergerak hatinya untuk bertindak melakaukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu.
2) Keluarga
Keluarga merupakan pusat pendidikan yang pertama dan utama karena sebagian besar kehidupan siswa berada dalam lingkungan keluarga.Keluarga terutama orang tua suda sewajarnya memelihara dan membimbing anak dengan penuh kasih sayang.
3) Peranan Guru
Guru merupakan agen pembaharuan. Guru sebgaai fasilitator pembelajaran, Guru menciptakan kondisi yang menggugah dan memberi kemudahan bagi siswa untuk belajar. Guru memahami karakteristik unik dan berupaya memenuhi kebutuhan Pendidikan yang bersifat khusus dari masing-masing siswa yang memiliki minat dan potensi yang perlu diwujudkan secara optimal.
4) Sarana dan prasarana
fasilitas yang tersedia di lingkungan sekolah sangan mendukung minat belajar siswa sebaliknya kurangnya fasilitas yang teredia membuat siswa kurang berminat belajar.
5) Teman pergaulan
Teman pergaulan baik di rumah maupun di lingkungan tempat tinggal juga dapat mempengaruhi minat belajar siswa. Jika teman pergaulan memiliki minat belajar dan motivasi yang tinggi dalam belajar, maka minat teman yang lainnya juga dapat mempengaruhnya.
6) Mass Media
Berbagai macam mass media seperti televise, radio, video vidual serta media cetak lainnya seperti buku-buku bacaan, majalah, surat kabar juga dapa mempengaruhi minat belajar siswa.