• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian, Penggolongan dan Sejarah Narkoba

BAB III ISU-ISU STRATEGIS KONTEMPORER

B. Narkoba

1. Pengertian, Penggolongan dan Sejarah Narkoba

Di kalangan masyarakat luas atau secara umum dikenal istilah Narkoba atau Napza, dimana keduanya istilah tersebut mempunyai kandungan makna yang sama. Kedua istilah tersebut sama-sama digunakan dalam dunia obat-obatan atau untuk menyebutkan suatu hal yang bersifat adiktif, yaitu dapat mengakibatkan ketergantungan (addiction) apabila disalahgunakan atau penggunaannya tidak sesuai dosis yang dianjurkan oleh dokter. Narkoba adalah merupakan akronim Narkotika, Psikotropika, dan Bahan Adiktif lainnya, sedangkan Napza adalah akronim dari Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya. Kedua istilah tersebut juga biasa disebut narkotika an-sich, dimana dengan penyebutan atau penggunaan istilah ”narkotika” sudah dianggap mewakili penggunaan istilah narkoba atau napza. Sebagai contoh ”penamaan” institusi yang mempunyai tugas pokok dan fungsi untuk melaksanakan pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba (P4GN) di Indonesia menggunakan Istilah Badan Narkotika Nasional (BNN). Istilah yang digunakan bukan ”Narkoba”, melainkan ”Narkotika”, padahal BNN tugasnya tidak hanya yang terkait dengan Narkotika an-sich, tetapi juga yang berkaitan dengan Psikotropika dan bahkan Prekursor Narkotika (Bahan Dasar Pembuatan Narkotika).

Narkotika mengandung pengertian sebagai zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis

maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongan-golongan.

Menurut Online Etymology Dictionary, perkataan narkotika berasal dari bahasa Yunani yaitu ”Narke” yang berarti terbius sehingga tidak merasakan apa-apa. Sebagian orang berpendapat bahwa narkotika berasal dari kata ”Narcissus” yang berarti jenis tumbuh-tumbuhan yang mempunyai bunga yang membuat orang tidak sadarkan diri. Penggunaan istilah narkotika memiliki pengertian yang bermacam-macam. Dikalangan awam maupun kepolisian dikenal istilah narkoba yang merupakan singkatan dari Narkotika dan Obat Berbahaya, serta napza (istilah yang biasa digunakan oleh Kemenkes) yang merupakan singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif (Kemenkes, 2010). Kedua istilah tersebut dapat menimbulkan kebingungan. Dunia internasional (UNODC) menyebutnya dengan istilah narkotika yang mengandung arti obat-obatan jenis narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya. Sehingga dengan menggunakan istilah narkotika berarti telah meliputi narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya. Peneliti dalam penelitian ini merujuk pada istilah yang digunakan oleh dunia internasional yaitu narkotika sebagai suatu cara penyebutan terhadap zat narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya.

Menurut Dadang Hawari (Hawari, 2002), berbagai istilah tentang penyalahgunaan narkotika sering digunakan, sehingga tidak jarang dapat menimbulkan salah pengertian tidak saja di

kalangan medis tapi juga awam. Istilah asing seperti Drug Abuse diterjemahkan sebagai penyalahgunaan obat, dan Drug Dependence diterjemahkan sebagai ketergantungan obat. Kata obat dalam kedua istilah tersebut dimaksudkan sebagai zat atau bahan narkotika dan lainnya yang sejenis yang berdampak negatif bagi kesehatan manusia. Jadi pengertian obat disini bukan untuk pengobatan dalam dunia kedokteran, sedangkan untuk pengobatan istilah yang tepat adalah medicine bukan drug. Untuk menghilangkan kerancuan tersebut kini istilah yang lebih tepat adalah substance Abuse yang diterjemahkan sebagai penyalahgunaan zat.

Narkotika merupakan zat atau obat yang sangat bermanfaat dan diperlukan untuk pengobatan penyakit tertentu. Namun, jika disalahgunakan atau digunakan tidak sesuai dengan standar pengobatan dapat menimbulkan akibat yang sangat merugikan bagi perseorangan atau masyarakat khususnya generasi muda.

Hal ini akan lebih merugikan jika disertai dengan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika yang dapat mengakibatkan bahaya yang lebih besar bagi kehidupan dan nilai-nilai budaya bangsa yang pada akhirnya akan dapat melemahkan ketahanan nasional.

Secara umum narkotika dan psikotropika diperlukan untuk mendukung pelayanan kesehatan atau pengobatan. Namun narkotika dan psikotropika dapat mengakibatkan ketergantungan jika tidak dibawah pengawasan dokter.

Penggolongan Narkoba

Pengertian narkotika adalah zat atau obat yang dapat berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi

sintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.

Undang-undang nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika membedakan narkotika ke dalam tiga golongan yaitu (RI, 2009):

- Golongan I yang ditujukan untuk ilmu pengetahuan dan bukan untuk pengobatan dan sangat berpotensi tinggi menyebabkan ketergantungan. Contoh 1. Opiat: morfin, heroin, petidin, candu. 2. Ganja atau kanabis, marijuana, hashis. 3. Kokain:

serbuk kokain, pasta kokain, daun koka;

- Golongan II berkhasiat untuk pengobatan dan pelayanan kesehatan dan berpotensi tinggi menyebabkan ketergantungan. Contoh morfin dan petidin; serta

- Golongan III berkhasiat untuk pengobatan dan pelayanan kesehatan serta berpotensi ringan mengakibatkan ketergantungan. Contoh kodein.

Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Psikotropika dibedakan ke dalam empat golongan, yaitu (RI, 2009):

- Golongan I hanya digunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan tidak untuk terapi serta sangat berpotensi mengakibatkan ketergantungan. Contoh ekstasi, LSD;

- Golongan II berkhasiat untuk pengobatan dan pelayanan kesehatan serta berpotensi tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh amfetamin, shabu, metilfenidat atau

ritalin;

- Golongan III berkhasiat pengobatan dan pelayanan kesehatan serta berpotensi sedang mengakibatkan ketergantungan.

Contoh pentobarbital, flunitrazepam;

- Golongan IV berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan untuk pelayanan kesehatan serta berpotensi ringan mengakibatkan ketergantungan. Contoh diazepam, bromazepam, fenobarbital, klonazepam, klordiazepoxide, dan nitrazepam.

Zat adiktif lainnya adalah zat yang berpengaruh psikoaktif diluar narkotika dan psikotropika meliputi:

- Minuman beralkohol, mengandung etanol etil alkohol, yang berpengaruh menekan susunan saraf pusat;

- Inhalansia (gas yang dihirup) dan solven (zat pelarut) mudah menguap berupa senyawa organik, yang terdapat pada berbagai barang keperluan rumah tangga, kantor dan sebagai pelumas mesin, yang sering disalahginakan seperti lem, thinner, cat kuku dll;

- Tembakau, dan lain-lain

UNODC lebih memfokuskan kepada penyalahgunaan narkotika dan psikotropika. Minuman beralkohol dan tembakau secara umum tidak digolongkan sebagai zat adiktif, namun diposisikan sebagai faktor yang berpengaruh atau entry point terhadap penyalahgunaan narkotika (UNODC, 2009).

Sejarah Narkoba

Berbicara narkoba di dunia, sebenarnya bukan hal yang baru dan juga beragam macam-macam jenisnya. Sebagai contoh, narkotika (candu = papaver somniferitur) sudah dikenal sekitar 2000 tahun sebelum masehi (SM), Sedangkan di Samaria sudah mengenal opium. Pada zaman dahulu narkotika digunakan untuk obat-obatan dan bumbu masakan, dan juga diperdagangkan.

Sedang sekitar tahun 1806 dr. Friedrich Wilhelim menemukan narkotika jenis morphin, dari hasil modifikasinya dengan mencampur candu dan amoniak sehingga menghasilkan Morphin atau Morfin. Sejarah juga mencatat, bagaimana terjadi Perang Candu I pada tahun 1839 – 1842 dan Perang Candu II pada tahun 1856 – 1860, dimana Inggris dan Perancis (Eropa) melancarkan perang candu ke China, dengan membanjiri candu (opium).

Perang nirmiliter ini ditandai dengan penyelundupan Candu ke China. Membanjirnya Candu ke China berdampak melemahnya rakyat China yang juga berdampak pada Kekuatan Militer China.

Selain itu Pada tahun 1856 narkoba jenis morphin sudah dipakai untuk keperluan perang saudara di Amerika Serikat, dimana morphin digunakan militer untuk obat penghilang rasa sakit apabila terdapat serdadu / tentara yang terluka akibat terkena peluru senjata api.

Dalam konteks di Indonesia atau nusantara, orang-orang di pulau Jawa ditengarai sudah menggunakan opium. Pada abad ke-17 terjadi perang antara pedagang Inggris dan VOC untuk memperebutkan pasar Opium di Pulau Jawa. Pada tahun 1677 VOC memenangkan persaingan ini dan berhasil memaksa Raja

Mataram, Amangkurat II untuk menandatangani perjanjian yng sangat menentukan, yaitu: “Raja Mataram memberikan hak monopoli kepada Kompeni untuk memperdagangkan opium di wilayah kerajaannya.

Pada awal tahun 1800 peredaran opium sudah menjamur di pesisir utara Pulau Jawa, yang membentang dari Batavia (Jakarta) hingga Pulau Madura. Pada tahun 1830 Belanda memulai mendirikan bandar-bandar opium resmi di pedalaman Jawa.

Sudah dikenal sejak dahulu penggunaan narkotika jenis candu (opium) secara tradisional oleh orang-orang Cina di Indonesia.

Cara menghisap opium dilakukan secara tradisional dengan pipa panjang. Pemerintah Kolonial menunjuk para pedagang Cina untuk mengawasi peredaran opium di daerah tertentu.

Pasar opium paling ramai ada di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sejak awal abad 19 – awal abad 20, Surakarta, Kediri, dan Madiun tertacat sebagai rekor jumlah pengguna opium dibanding wilayah lain di Pulau Jawa. Selanjutnya diikuti Semarang, Rembang, Surabaya, Yogyakarta, dan Kedu