• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan

BAB II LANDASAN TEORI

C. Remaja

4. Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan

Pertumbuhan yang terjadi sebagai perubahan individu lebih mengacu dan menekankan pada aspek perubahan fisik ke arah lebih maju. Istilah pertumbuhan dapat didefinisikan sebagai proses perubahan fisiologis yang bersifat progresif dan kontinu serta berlangsung dalam periode tertentu. Sebagai hasil dari pertumbuhan adalah bertambahnya berat, panjang atau tinggi badan, tulang dan otot- otot menjadi lebih kuat, lingkar tubuh menjadi lebih besar, dan organ tubuh menjadi lebih sempurna. Pada akhirnya pertumbuhan ini mencapai titik akhir, yang berarti bahwa pertumbuhan telah selesai.

5. Karateristik Umum Perkembangan Remaja

Masa remaja seringkali dikenal dengan masa mencari jati diri, identitas ego (ego identity) (Bischof). Ditinjau dari segi fisiknya, mereka sudah bukan anak-anak lagimelainkan sudah seperti orang

dewasa, tetapi jika mereka diperlakukan sebagai orang dewasa, ternyata belum dapat menujukkansikap dewasa.

Ada sejumlah sikap yang sering ditunjukkan oleh remaja, yaitu:

a. Kegelishan.

b. Pertentangan.

c. Mengkhayal.

d. Aktifitas berkelompok.

e. Keinginan mencoba segala sesuatu.30

Berdasarkan pemaparan di atas, sangat penting bagi remaja adalah memberikan bimbingan agar rasa ingin tahunya yang tinggi dapat terarah kepada kegiatan-kegiatan yang positif, kreatif, dan produktif. Remaja agar mendapat bimbingan dan penyaluran yang baik, akan menghasilkan kreativitas remaja yang sangat bermanfaat.

6. Cara Menyesuaikan Diri dengan Perubahan Fisik

Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak ke dewasa.

Peralihan tidak hanya dari faktor psikis saja, tetapi dari faktor fisik.

Bahkan perubahan-perubahan fisik yang terjadi itulah merupakan tanda-tanda primer dalam pertumbuhan remaja. Diantara perubahan fisik itu, yang terbesar pengaruhnya pada perkembangan jiwa remaja adalah perkembangan tubuh. Menurut Sarlito perubahan fisik yang terjadi pada remaja adalah sebagai berikut.

30Ibid., hlm. 11-17

a. Pada Remaja perempuan antara lain:

1) Pertumbuhan tulang-tulang (badan menjadi tinggi), anggota badan menjadi panjang.

2) Pertumbuhan payudara.

3) Tumbuh bulu di kemaluan.

4) Tumbuh bulu di ketiak

5) Mencapai pertumbuhan tinggi badab yang maksimal setiap tahun.

6) Mengalami haid.31 b. Pada Laki-laki antara lain:

1) Pertumbuhan tulang-tulang.

2) Testis (buah pelir membesar).

3) Tumbuh bulu pada kemaluan.

4) Tumbuh bulu halus pada wajah (kumis, jenggot).

5) Tumbuh bulu di ketiak.

6) Terjadi perubahan suara (menjadi besar).

7) Tumbuh bulu di dada.

8) Mengalami ejakulasi.32

Berdasarkan pemaparan di atas, sebagai remaja tentu akan mengalami perubahan fisik seperti itu. Pada remaja perempuan ada perubahan-perubahan yang mencolok, seperti pembesaran payudara yang cepat dan tubuh menjadi berlemak sehingga gemuk. Haid (menarche) yang terjadi pada perempuan dan mimpi basah (pollutio) yang dialami remaja pria menunjukan mulai berfungsinya alat reproduksi. Perubahan fisik seperti itu adalah hal yang wajar.

31 Rudi Mulyatiningsih, Bimbingan Pribadi Sosial, Belajar, dan Karier, (Jakarta:

Gramedia Widiasarana Indonesia), 5/oktober 2004 h. 5

32 Ibid., hlm 6-7

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis dan Sifat Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dapat juga dianggap sebagai pendekatan luas dalam penelitian kualitatif atau sebagai metode untuk mengumpulkan data kualitatif. Ide pentingnya adalah bahwa peneliti berangkat ke “lapangan” untuk mengadakan pengamatan tentang suatu fenomena dalam suatu keadaan alamiah dan menghasilkan data deskriptif, yang berupa data-data tertulis atau lisan dari orang-orang dan penelitian yang diamati.33

Penelitian lapangan ini merupakan metode untuk menemukan realita yang terjadi. Penelitian lapangan ini datanya diperoleh dari informasi yang benar-benar dibutuhkan. Hal ini informasi yang dibutuhkan adalah Metode Dakwah Dalam Pemahaman Jilbab Dikalangan Remaja Desa Braja Asri Kecamatan Way Jepara Kabupaten Lampung Timur. Jenis penelitian ini digunakan untuk mengadakan pengamatan tentang fenomena atau kejadian-kejadian yang ada dilapangan secara alamiah, dengan mencari sumber-sumber baik secara tertulis maupun lisan.

33 Lexy J. Moelong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2014), h. 26

2. Sifat Penelitian

Jenis penelitian yang bersifat deskriptif kualitatif. Maknanya menguraikan, menggambarkan, secara alamiah yaitu semata-mata melakukan pengamatan keadaan atau peristiwa tanpa untuk mengambil suatu kesimpulan-kesimpulan yang berlaku secara umum.

Berdasarkan pemaparan di atas, penelitian deskriptif kualitatif pada pembahasan skripsi ini adalah penelitian yang akan mengarah tentang fakta-fakta yang terjadi mengenai dengan memilih atau menentukan informan. Penelitian ini, peneliti memilih remaja sebagai informan utama sebagai subyek yang berkaitan dengan permasalahan yang diangkat oleh peneliti yaitu Metode Dakwah Dalam Pemahaman Jilbab Dikalangan Remaja Desa Braja Asri.

B. Sumber Data

Setelah semua data terkumpulkan barulah melakukan analisis data.

Karena dengan analisis data dapat mengetahui subjek dari mana data dapat diperoleh. Penelitian ini menggunakan dua data yaitu:

1. Data Primer

Sumber data primer adalah sumber data yang didapat dari sumber pertama baik individu atau perseorangan seperti hasil wawancara atau hasil pengisian kuesioner yang biasa dilakukan oleh peneliti.34

34 Husain, Metodologi Penelitian, Jakarta: PT Raja Grafindo Pustaka, 2009, Edisi 2h. 42

Berdasarkan pemaparan di atas, penelitian ini yang menjadi

sumber data utama adalah sebagai informan Ustadz Mujianto, ketua risma Devi Amala, dan sepuluh remaja desa braja asri untuk

mencari data-data tentang Metode Dakwah Dalam Pemahaman Jilbab Dikalangan Remaja Desa Braja Asri pada tanggal 20 oktober 2018.

2. Data Sekunder

Data sekunder ini digunakan oleh peneliti untuk diproses lebih lanjut. Merupakan sumber data yang diperoleh dalam bentuk yang sudah jadi atau dalam bentuk dokumen, sudah dikumpulkan dan diolah oleh pihak lain, biasanya sudah bentuk publikasi.35

Berdasarakan pemaparan di atas, dapat dipahami bahwa sumber data sekunder adalah sumber data kedua yaitu sumber data yang diperoleh dari sumber lain yang tidak berkaitan secara langsung, seperti data yang diperoleh dari perpustakaan antara lain buku-buku yang membahas tentang metode dakwah dalam pemahaman jilbab dikalangan remaja.

C. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data.36 Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang

35 Ibid.

36 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung: Alfabet, Cv), h. 137

diterapkan. Maka peneliti menggunakan beberapa metode pengumpulan data, yaitu antara lain:

1. Wawancara (Interview)

Wawancara (Interview) adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewancara dengan responden atau orang yang diwawancarai.37

Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, tetapi juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam. Jenis wawancara dapat dibedakan menjadi tiga yaitu:

a. Wawancara terstruktur (Structured interview), yaitu wawancara terstruktur digunakan sebagai teknik pengumpulan data, bila peneliti atau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh. Oleh karena itu dalam melakukan wawancara, pengumpul data telah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternatif jawabannya pun telah disiapkan.

b. Wawancara Semiterstruktur (Semistructure Interview), yaitu jenis wawancara ini sudah termasuk dalam kategori in-dept interview, di mana dalam pelaksanaannya lebih bebas bila dibandingkan dengan wawancara terstruktur. Tujuan dari wawancara ini adalah untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, di mana pihak yang diajak wawancara diminta pendapat, dan ide-idenya.

c. Wawancara tak berstruktur (unstructured interview), yaitu wawancara yang bebas di mana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya.38

37 Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Sosial dan Ekonomi, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013) h. 133

38 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung: Alfabet, Cv 2012), h. 233

Berdasarkan pemaparan di atas, teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara semiterstruktur dimana dalam hal ini observasi hanya mengajukan pertanyaan- pertanyaan sesuai dengan kerangka pertanyaan yang telah dipersiapkan. Sedangkan narasumber diberikan kebebasan dalam memberikan jawaban. Wawancara dalam pengumpulan data ini peneliti ajukan kepada Remaja Desa Braja Asri Kecamatan Way Jepara.

2. Observasi

Observasi adalah merupakan pengamatan dan pencatatan yang sistematis terhadap gejala-gejala yang diteliti.39 Observasi dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung. Karena diperlukan ketelitian, kecermatan, dalam praktiknya observasi membutuhkan sejumlah alat, seperti daftar catatan, alat-alat kamera, dan sebagainya sesuai dengan kebutuhan.

Berdasarkan pemaparan di atas, metode observasi merupakan metode pengumpulan data yang menggunakan catatan dan pengamatan di lokasi penelitian mengenai metode dakwah dalam pemahaman remaja terhadap penggunaan jilbab. Penelitian menggunakan observasi langsung yaitu pengamatan yang dilakukan tanpa perantara terhadap objek yang bernama Ustadz Mujianto, ketua risma Devi Amala dan sepuluh remaja desa braja asri.

39 Dewi Sadiah, Metode Penelitian Dakwah, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2015), h.

87

3. Dokumentasi

Teknik pengumpulan data dengan dokumentasi ialah pengambilan data yang diperoleh melalui dokumen-dokumen.40 Data- data yang diperoleh berupa catatan, buku, sejarah desa, struktur risma, dan data-data yang berkaitan dengan masyarakat di Desa Braja Asri Kecamatan Way Jepara Kabupaten Lampung Timur.

Berdasarkan pemaparan di atas, metode ini merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan oleh peneliti untuk mendapatkan gambar dari para informan atau subyek yang diteliti Ustadz Mujianto, ketua risma Devi Amala dan sepuluh remaja desa braja asri. Teknik ini dilakukan dengan mengumpulkan data-data yang ada di desa braja asri berupa laporan mengenai remaja terhadap penggunaan jilbab.

D. Teknik Penjamin Keabsahan Data

Pada dasarnya proses analisis data itu dimulai dari menelaah data secara keseluruhan yang telah tersedia dari berbagai macam sumber, baik itu pengamatan kegiatan untuk melakukan metode dakwah dalam pemahaman jilbab dikalangan remaja desa braja asri, wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi peneliti yang didapatkan dari tempat penelitian.41

Untuk menjamin keabsahan data maka, dalam penelitian ini menulis menggunakan trianggulasi, teknik pengumpulan data bersifat

40 Ibid., h. 91

41 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung: Alfabet, Cv 2012), h. 241

menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada.

E. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan kedalam unit-unit, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.42

Berdasarkan pemaparan di atas, maka analisis data dalam penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif lapangan dan bersifat deskriptif yaitu penelitian yang dilakukan memiliki pemahaman awal mengenai situasi masalah yang dihadapi yaitu dalam pemahaman remaja dalam berjilbab.

Penelitian ini menggunakan metode berfikir induktif dalam menganalisa data, yaitu suatu metode berfikir yang berangkat dari fakta- fakta yang khusus dan konkret tersebut ditarik secara generalisasi yang mempunyai sifat umum. Maksudnya dari kenyataan atau individu yang bersifat khusus kemudian dapat disimpulkan menjadi kesimpulan yang bersifat umum yaitu untuk mengetahui Metode Dakwah Dalam Pemahaman Jilbab Dikalangan Remaja Desa Braja Asri Kecamatan Way Jepara Kabupaten Lampung Timur.

42 Ibid., h. 335

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

1. Sejarah Berdirinya Desa Braja Asri Kecamatan Way Jepara Kabupaten Lampung Timur

Desa Braja Asri adalah merupakan salah satu Desa yang terletak di Kecamatan Way Jepara Kabupaten Lampung Timur, yang berasal dari pembukaan jawatan Transmigasi objek Way Jepara pada tahun 1957 yang terdiri dari 12 Desa termasuk Desa Braja Asri.

Sebelum bernama Braja Asri dulu dari Jawatan Transmigrasi disebut Bedeng I s/d V, dan ditunjuk dari jawatan Transmigrasi dalam pemerintahan sementara yaitu menunjuk Bapak Taryak, menjabat sebagai Kepala Susukan dibawah pemerintahan Kepala Negeri Labuhan Maringgai atau kecamatan Labuhan Maringgai sekarang.43 Selanjutnya dalam proses pengisian penduduk, Desa Braja Asri disebut Vak A yang terdiri dari Vak A I s/d Vak A V. yang penduduknya didatangkan dari Jawa Barat ( Kuningan, Subang, Garut, Tasik Malaya, Cirebon ) dan ditambah sisipan dari Daerah Yogyakarta (Bantul) dan sekitarnya, dengan jumlah Kepala Keluarga berjumlah 360 KK dan jumlah Jiwa 1004. Adapun sebelum terbentuk nama kepala desa pertamakali bernama Kepala Susukan sampai dengan pada

43 Dokumentasi Desa Braja Asri Kecamatan Way Jepara, tanggal 8-12-2018 Kabupaten Lampung Timur tahun 2019.

tahun 1957 – 1965, selanjutnya pada tahun 1965 – 1980 di kepalai oleh Kepala Kampung / Desa dan sudah diadakan Pemilihan Kepala Desa, lalu tahun tahun 1980 sampai dengan saat ini menjadi Kepala Desa.

Kemudian pada perkembangan penduduk selanjutnya ternyata banyak penduduk yang asli angkatan trans banyak yang pindah dan meninggal kemudian untuk mengisi penduduk pada tahun 1973 – 1976 Bapak Rusdi HS mengundang orang dari Jawa Tengah untuk pindah ke Sumatera untuk mengisi Desa Braja Asri, sehingga sekarang mayoritas penduduk Desa Braja Asri berasal dari Jawa Tengah, khususnya daerah Surakarta, Solo, dan Boyolali.

Mata pencarian penduduk Desa Braja Asri sebelum dibangun saluran irigasi adalah berpencarian sebagai petani singkong atau palawija dan sebagian menanam padi di areal rawa. Setelah dibangun saluran kirigasi pada tahun 1975 – 1977 maka masyarakat beralih menjadi pertanian sawah teknis, dimana masyarakat diberikan biaya cetak sawah dan diberikan bantuan sapi bali yang biayanya dikembalikan secara berangsur melalui BRI.

Sebagai desa yang berbatasan dengan hutan Taman Nasional Way Kambas pada awalnya sebelum tahun 1985 masyarakat tidak merasakan adanya gangguan satwa liar yaitu gajah namun setelah tahun 1985 bahwa di Hutan Taman Nasional digunakan sebagai Pusat Latihan Gajah Sumatera terjadi konflik yang sampai saat ini sangat meresahkan masyarakat bahkan mengurangi penghasilan atau mata

pencarian petani yaitu seringnya gajah dari Hutan Taman Nasional Way Kambas yang menyerang dan merusak tanaman di areal pertanian masyarakat dan bahkan sampai mengancam keselamatan petani.

Tabel susunan nama-nama pejabat desa mulai dari tahun 1957 – 2014

No Nama Tahun Jabatan Ket

1. Taryak 1957-1965 Kep. Susukan Tunjukan dari jawatan 2. Sukendar 1966-1977 Kep. Kampung Hasil Pilkades

3. Rusdi HS 1977-1979 PJS -

4. Asmu’in 1979-1981 Kep. Desa Hasil Pilkades

5. Ruspandi 1981-1983 PJS -

1. M. Sukadi 1983-1985 Kep. Desa Hasil Pilkades 2. Sapari. HP 1985-1997 Kep. Desa Hasil Pilkades 3. A. Suyuti, SE 2000- 2005 Kep. Desa Hasil Pilkades 4. A. Suyuti, SE 2007-2014 Kep. Desa Hasil Pilkades 5. Suyatno 2014-2020 Kep. Desa Hasil Pilkades

2. Visi dan Misi Desa Braja Asri Kecamatan Way Jepara Kabupaten Lampung Timur

a. Visi

Untuk melaksanakan Tugas dan Fungsinya, maka Desa Braja Asri Kecamatan Way Jepara Kabupaten Lampung Timur, mempunyai Visi yaitu: “Terwujudnya Masyarakat Desa Braja Asri Yang beriman dan Bertaqwa kepada Allah Swt Tuhan Yang Maha

Esa untuk menjadi Desa yang Aman, Sehat, Rapi, Indah dan sejahtera lahir dan batin”.44

b. Misi

1) Meningkatkan Pendapatan dan Kesejahteraan Masyarakat melalui peningkatan produksi pertanian.

2) Memberdayakan Potensi Agroklimat secara Optimal

3) Meningkatkan Sumberdaya Manusia, di Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK).

4) Meningkatkan Etos Kerja yang demokratis dan handal dalam SDM

5) Mendorong kemandirian

6) Meningkatkan kondisi kamtibmas

7) Menjadikan Desa Braja Asri sebagai Pemasok komoditi hortikultura di Kecamatan Way Jepara dan sekitarnya

3. Keadaan Geografis Desa Braja Asri Kecamatan Way Jepara Kabupaten Lampung Timur

Desa Braja Asri merupakan salah satu Desa penyangga Ibukota Kecamatan Way Jepara yang terletak di sebelah utara yang berjarak + 2 Km dari Kecamatan Way Jepara dan merupakan salah satu desa penyangga hutan Taman Nasional Way Kambas.

a. Luas Desa / Kelurahan : 919,075 Ha.

b. Batas Wilayah

44 Dokumentasi Desa Braja Asri Kecamatan Way Jepara, tanggal 8-12-2018 Kabupaten Lampung Timur tahun 2019.

Sebelah Utara : Desa Labuhan ratu VII Sebelah Selatan : Desa Braja Sakti Sebelah Barat : Jl. Lintas Timur

Sebelah Timur : Taman Nasional Way Kambas (TNWK ) c. Orbitasi ( jarak dari Pusat Pemerintahan Desa / Kelurahan )

Jarak dari pusat pemerintahan Kecamatan : 2 Km Jarak dari pusat pemerintahan Kota Administrasi : 25 Km Jarak dari pusat pemerintahan Kabupaten : 28 Km Jarak dari pusat pemerintahan Propinsi : 100 Km

jarak dari Ibukota Negara : 325 Km45

d. Iklim

Iklim Desa Braja Asri, sebagaimana desa-desa lain di wilayah Indonesia mempunyai iklim kemarau dan penghujan, hal tersebut mempunya pengaruh langsung terhadap pola tanam yang ada di Desa Braja Asri Kecamatan Way Jepara Kabupaten Lampung Timur.

45 Dokumentasi Desa Braja Asri Kecamatan Way Jepara, Kabupaten Lampung Timur tahun 2019.

46 Dokumentasi Desa Braja Asri Kecamatan Way Jepara, Kabupaten Lampung Timur tahun 2019.

KEPALA DESA SUYATNO

KASI PEMERINTAHAN NASIB

SEKDES AGUS TRI WIDODO, S.Ag KASI KESRA

WARSITO

KAUR PERENCANAAN ANTON SUJARWO KASI PEMBANGUNA

SUPARDI. D

KAUR UMUM HERMANU

HERMANU

KAUR KEUANGAN SARJIMAN

KADUS I SUNARTO

KADUS II TRI PARJONO

KADUS III SARDANI

KADUS IV Hi.SARTONO

KADUS V SUKIRNO

39

Berdasarkan hasil penelitian melalui wawancara tentang metode dakwah dengan Ustadz Mujianto Desa Braja Asri yaitu:

Pertanyaan: metode dakwah apakah yang bapak terapkan pada saat memberikan pemahaman jilbab pada remaja?

Jawaban: “metode ceramah yang disampaikan beberapa kali yang dilaksanakan dalam seminggu sekali, dilanjutkan dengan memberikan nasehat-nasehat baik yang disampaikan pada remaja Desa Braja Asri atau atau risma masjid yang ada di Nurul Huda”.47

Berdasarkan wawasan serta penjelasan di atas, metode Mau’izhah Hasanah memang sudah diterapkan untuk remaja yang ada di Desa Braja Asri, karena metode ini lebih bisa dipahami dan lebih bisa diterima oleh remaja karena tekniknya yang menggunakan kata- kata halus serta penyampaiannya yang penuh kelembutan, sehingga tidak memberatkan remaja dalam memahami penggunaan jilbab yang sesuai tuntunan agama, dan tidak hanya mengikuti trand mode berjilbab di-era modern sekarang.

2. Bil Al-Hikmah

Metode Al-Hikmah yang diterapkan di Desa Braja Asri, yaitu melalui ceramah yang rutin dilakukan oleh para dewan ustadz juga

47 Wawancara dengan Mujianto (Ustadz Desa Braja Asri), tanggal 12-2-2019.

ustazah disetiap selasa siang, dimana hal ini juga dilangsungkan bebarengan dengan acara Muhadoroh, Muhadoroh adalah salah satu kegiatan yang diterapkan pengajian rutin di Desa Braja Asri dalam rangka melatih mental remaja agar bisa tampil didepan publik dengan baik. kegiatan ini diisi oleh beberapa remaja yang memang sudah dilatih sebelumnya oleh ustadz juga ustazah. Para remaja ini sudah mendapat tugas yang berbeda-beda diantaranya: membawakan acara, membaca Al-quran dan membaca doa selamat. Pelaksanaan muhadoroh ini ditempatkan di masjid-masjid secara bergilir, jadi meciptakan kesan yang lebih santai bagi remaja untuk kita berikan pemahaman dalam berjilbab.

Ceramah yang merupakan salah satu penerapan dari metode Al- hikmah yang dilakukan oleh ustadz, hal ini dilakukan oleh dewan ustazah secara bergilir, dan cara penyampaian dari setiap dewan ustazah berbeda-beda.

“Kalau ceramah gitu biasanya paling semangat ngedengerin di acara muhadoroh kak, soalnya suasana lebih santai terus lebih cepet paham kitanya. Kalo aku sendiri gitu kak”.48

Berdasarkan hasil wawancara dan penjelasan di atas, keberagaman penyampaian para dewan ustazah serta pergantian tempat dalam pelaksanaan metode Al-hikmah menjadikan metode ini sebagai

48 Wawancara dengan Devi Amala (Ketua Risma Masji Nurul Huda), tanggal 17-12- 2018

sebagai sebuah sistem yang menyalurkan antara kemampuan teoritis dan praktis dalam dakwah.

3. Mujadalah

Mujadalah merupakan tukar pendapat yang dilaksanakan oleh dua pihak, yang tidak melahirkan permusuhan dengan tujuan agar lawan menerima pendapat yang diajukan dengan memberikan argumentasi dan bukti yang kuat.

“Kalau penerapan mujadalah kita lakukan melalui diskusi mba.

Karena melalui ini para remaja jadi lebih bisa memaparkan pendapat mereka mengenai suatu ilmu pengetahuannya dalam berjilbab. Tapi cara ini tidak setiap waktu bapak lakukan mba. Karena biasanya bapak akan lebih memaparkan tentang keutamaan-keutamaan dan wajibnya dalam berjilbab bagi perempuan muslim, jadi hanya suatu waktu saja mba penerapannya”.49

Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa remaja Desa Braja Asri atau risma Masjid Nurul Huda, metode Bil Mau’izhah Hasanah, Bil Al-Hikmah, Mujadalah, namun metode yang lebih dominan diterapkan oleh remaja di Desa Braja Asri dalam pemahaman jilbab adalah Bil Mau’izhah Hasanah, dimana metode ini dirasa cukup sesuai dengan kondisi para remaja memperbaiki dalam penggunaan jilbab karena adanya nasehat-nasehat

49 Wawancara dengan Suparman (Pengurus Masjid Nurul Huda), tanggal 13-2-2019.

yang baik remaja lebih berpikir akan pentingnya penggunaan jilbab sesuai syariat Islam.

C. Jenis Kegiatan Risma Masjid Nurul Huda Desa Braja Asri Kecamatan Way Jepara Kabupaten Lampung Timur

RISMA (Remaja Masjid) adalah organisasi remaja muslim yang memiliki keterikatan dengan masjid, karena itu perlu menghadirkan Program kerja yang berorientasi pada kegiatan-kegiatan keremajaan dan kemasjidan. Program-program yang disusun oleh risma diharapkan dapat menyahuti kebutuhan anggota dalam menda’wahkan Islam, menambah kemakmuran masjid serta bermanfaat bagi masyarakat di Desa Braja Asri.

Berdasarkan hasil penelitian melalui wawancara tentang metode dakwah dengan ketua risma Devi Amala antara lain:

Pertanyaan: Kegiatan risma apa saja yang aktif di Masjid Nurul Huda?

Jawaban: 1). Peringatan Hari Besar Islam, memperingati hari lahir Nabi Muhammad pada tanggal 12 Rabi’ul Awal 2). Bersih-bersih Masjid Nurul Huda, setiap hari kamis sore 3). Song-song Ramadhan, mengadakan acara tumpengan dimalam hari h- 1 bulan suci ramadhan 4). Pengajian Rutin Bulanan, diadakan setiap sebulan sekali di masjid-masjid yang ada di Desa Braja Asri 5). Lomba Takbir, diadakan h+ 2 lebaran Idhul Adha

6). kegiatan BKPRMI, BKPRMI itu adalah organisai yang dibentuk di desa kami yaitu Desa Braja Asri. Hal itu merupakan forum bagi anggota risma Masjid Nurul Huda mengadakan bantuan ke masyarakat yang

Dokumen terkait