BAB II LANDASAN TEORI
1. Pengertian Semiotika
Semiotika didefinisikan sebagai pengkajian tada-tanda (the study of signs), pada dasarnya merupakan sebuah studi atas kode- kode, yaitu sistem apa pun yang memungkinkan untuk memandang entitas-entitas tertentu sebagai tanda-tanda atau sebagai sesuatu yang bermakna. Sejak pertengahan abad ke-20, semiotika telah tumbuh menjadi bidang kajian yang sungguh besar, melampaui di antaranya kajian bahasa tubuh, bentuk- bentuk seni, wacana retoris, komunikasi visual, media, mitos, naratif, bahasa, artefak, isyarat, kontak mata, pakaian, iklan, makanan, atau diadopsi manusia untuk memproduksi makna.
Semiotika berkaitan dengan segala hal yang dapat dimaknai suatu tanda-tanda. Sebuah tanda adalah segala sesuatu yang dapat dilekati (dimaknai) sebagai penggantian yang signifikan untuk sesuatu yang lainnya. Sebenarnya, istilah semeiotics (dilafalkan demikian) diperkenalkan oleh Hippocrates (460-377 SM), penemu ilmu medis Barat, seperti ilmu gejala-gejala. Gejala, menurut Hippocrates, merupkan semion-bahasa Yunani untuk
“penunjuk” (mark) atau “tanda” (sign) fisik. Maka, semiotika berarti studi tentang tanda (sign) dan bagaimana tanda itu bekerja.
22
Istilah ini telah digunakan oleh pakar filsafat Stoik dalam ilmu bahasa Yunani kuno. Orang-orang stoik merupakan orang pertama yang mengembangkan teori tentang tanda ini dalam abad ketiga dan kedua sebelum masehi. Tanda mengalami perdebatan antara penganut mazhab Stoik dan kaum Epikurean di Athena.
Inti perdebatan mereka berkaitan dengan perbedaan antara “tanda natural” dan “tanda konvensional”. Semiotika itu sendiri merupakan ilmu yang secara sistematis mempelajari tanda-tanda, lambang-lambang, sistem-sistemnya, dan prosesnya lebih dalam.
Semiotika telah dikembangkan oleh beberapa ahli dalam berbagai perspektif penelitian maupun ilmu pengetahuan. Seperti kajian tentang foto dan musik oleh Roland Barthes, film oleh Christian Metz, Psikoanalisis oleh Gilles Deleuze, media dan identitas masyarakat oleh Jean Baudrillard, dan lainnya. Pada dasarnya semiotika tidak pernah berkembang sendirian, baik sebagai metode atau pendekatan. Pada akhirya akan bertemu dengan beragam disiplin ilmu, teori, budaya, dan karya seni.
Dalam perkembanganya, semiotika mempunyai dua tokoh sentral yang memiliki latar belakang berbeda, yaitu Charles Sanders Pierce dan Ferdinand de Saussure. Tokoh pertama Charles Sanders Pierce merupakan seorang filsuf Amerika yang terlahir dari keluarga intelektual pada 1839. Pierce memandang bahwa semiotika merupakan sesuatu yang berkaitan dengan logika. Logika memperlajari bagaimana manusia bernalar yang
23
menurut Pirce dapat dilakukan melalaui tanda-tanda. Tanda-tanda tesebut memungkinkan manusia dalam berpikir, berkomunikasi dengan orang lain, dan memberi makna pada apa yang ditampikan oleh kehidupan manusia.
Sebagai seorang filsuf dan ahli logika, Pierce berkehendak untuk menyelidiki apa dan bagaimana proses bernalar manusia.
Teori Pierce tentang tanda dilandasi oleh tujuan besar ini sehingga tidak mengherankan apabila ia mentimpulkan bahwa semiotika tidak lain dan tidak bukan adalah sinonim logika.
Tanda yang dimaksud Pierce dapat berupa tanda visual dan bersifat verbal maupun non-verbal. Selain itu dapat juga berupa lambang, contohnya lampu merah yang mewakili sebuah larangan.
Pemikiran berbeda datang dari tokoh semiotika asal Swedia, Ferdinand De Saussure, berpandangan bahwa semiotika merupakan sebuah kajian yang mempelajari tentang tanda-tanda yang menjadi bagian dari kehidupan sosial. Saussure memiliki latar belakang keilmuan linguistik. Ia memandang tanda sebagai sesuatu yang dapat dimaknai dengan meliht beberapa antara petanda dan penanda yang biasa disebut signifikasi. Dalam hal ini Saussure mengatakan bahwa dalam memaknai sebuah tanda perlu adanya kesepakatan sosial, tanda-tanda tersebut berupa bunyi- bunyian dan gambar.
24
Saussure juga menyebutkan objek yang dimaknai sebagai unsur tambahan dalam proses penandaan. Contohnya, ketika orang menyebut kata “babi” dengan nada mengumpat maka hal tersebut merupakan tanda kesialan. Penanda dan petanda yang dikemukakan Saussure merupakan sebuah kesatuan, tak dapat dipisahkan, seperti dua sisi sebuah koin. Jadi Saussure lebih mengembangkan bahasa dalam pandangannya.
Perbedaan kedua tokoh ini dalam mengkaji semiotika terlihat jelas bagaimana tanda dapat dimaknai. Saussure mengkaji semiotika melalui bahasa yang dituturkan oleh manusia.
Sedangkan Pierce lebih kepada logika atau cara berpikir manusia dalam melihat suatu tanda yang dapat dimaknai di kehidupan sehari-hari berkaitan dengan makna.
Terdapat tiga cabang penelitian (branches of inquiry) dalam semiotika, yaitu sintatik, semantik, dan pragmatik. Pertama sintatik merupakam suatu cabang penyelidikan yang mengkaji tentang hubungan formal antara satu tanda dengan tanda yang lain yang mengendalikan tuturan dan interpretasi. Kedua, semantik yaitu cabang penyelidikan semiotika yang mempelajari hubungan antara tanda dengan design objek-objek yang diacunya.
Menurut Moris, desain yang dimaksud adala makna tanda-tanda sebelum digunakan dalam urutan tertentu. Ketiga, pragmatik adalah cabang penyelidikam semiotika yang mempelajari hubungan antara tanda dengan interpretasi. Cabang yang
25
dikemukakan Moris tersebut memiliki keterkaitan antara satu sama lain yang dapat dimaknai sebagai tingkatan suatu makna dalam tanda.
Ketiga cabang tersebut juga memiliki spesifikasi kerja dan objek kajian tersendiri, sehingga apabila dipakai untuk metode analisa akan menghasilkan “pembacaan” yang mendalam. Selain itu terdapat beberapa elemen penting dalam semiotik, yaitu komponen tangga, aksis tangga, tingkatan tanda, dan relasi antar tangga. Komponen tangga yang merupakan komponen penting yang pertama dalam semiotik memandang praktik sosial, politik, ekonomi, budaya, dan seni selain sebagai fenomena bahasa, juga dapat dipandang sebagai tanda.
Komponen penting selanjutnya adalah aksis tangga, analisis tangga yang mengkombinasikan pembendaharaan tanda atau kata dengan cara pemilihan dan pengkombinasian pembendaharaan tanda berdasarkan aturan atau kode tertentu, sehingga menghasilkan ekspresi yang memiliki makna. Selanjutnya adalah tingkatan tanda. Dalam tingakatan tanda yang dikembangkan Roland Barthes ini terdapat dua tingkatan lainnya, yaitu denotasi (makna sebenarnya) dan konotasi (makna tidak sebenarnya).
Terakhir adalah relasi tanda relasi atau hubungan tangga ini terdapat dua bentuk interaksi, yaitu metafore dan metomimi.
Studi semiotika dibagi menjadi tiga macam, yaitu tanda, kode, dan kebudayaan. Tanda adalah kode, kode adalah suatu
26
medan asosiatif yang memiliki gagasan-gagasan struktural. Kode ini merupakan beberapa jenis dari hal yang sudah pernah dilihat, dibaca, didengar, dirasakan dengan itu konstitutif bagi enulisan yang dilakukan.
Tanda memiliki cara penyampaian makna yang berbeda dan hanya dapat dipahami oleh seseorang yang menggunakannya.
Sedangkan untuk studi yang membahas tentang kode, mencangkup cara bagaimana kode dikembangkan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat dalam mengeksploitasi saluran komunikasi yang tersedia. Kebudayaan yang menjadi tempat tanda dan kode bekera menjelaskan bagaimana keberadaan dan bentuk dan penggunaan kode-kode tersebut. Tanda atau kode dapat ditemukan di mana saja. Misal sebuah rambu lalu lintas
“tanjakan terjal” yang terletak di pinggir jalan. Rambu tersebut berisi peringatan bagi para pengguna jalan bahwa di depan ada kemungkinan bahaya atau tempat berbahaya yang harus dilewati dengan hati-hati. Rambu tersebut merupakan sebuah tanda atau kode yang ditempatkan sesuai dengan fungsinya.
2. Tokoh Semiotika