• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian Sikap Keagamaan

Dalam dokumen INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PAREPARE (Halaman 35-42)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.3 Sikap Keagamaan

2.1.3.1 Pengertian Sikap Keagamaan

Dalam penelitian Ramachandra menemukan adanya bagian dalam otak, yaitu lobus temporal yang meningkat ketika pengalaman religius atau spiritual berlangsung.

Dia menyebutnya sebagai titik Tuhan atau God-Spot. Titik Tuhan memainkan peran biologis yang menentukan dalam pengalaman spiritual. Namun demikian, titik Tuhan merupakan syarat mutlak dalam kecerdasan spiritual. Perlu adanya integrasi antara seluruh bagian otak, seluruh aspek dari dan seluruh segi kehidupan.

kecenderungan seseorang untuk hidup sesuai dengan aturan agama.24

Jadi, dapat disimpulkan bahwa keagamaan merupakan kesadaran seseorang dalam menjalankan ajaran agama dan sebagai cerminan diri yang didasarkan atas keyakinan atau kepercayaan yang dianutnya.

Sikap keagamaan bukan merupakan bawaan, melainkan perolehan atau bentukan setelah lahir. Sikap keagamaan terbentuk melalui pengalaman langsung melalui interaksi dengan berbagai unsur lingkungan sosial, misalnya hasil kebudayaan, orang tua, guru, teman sebaya, masyarakat dan sebagainya.25

Sikap keagamaan merupakan suatu keadaan yang ada dalam diri seorang yang mendorongnya untuk bertingkah laku sesuai dengan kadar ketaatannya terhadap agama. Sikap keagamaan tersebut adanya konsistensi antara kepercayaan terhadap agama sebagai unsur terhadap kognitif, perasaan terhadap agama sebagai unsur efektif dan perilaku terhadap agama sebagai unsur psikomotorik. Jadi, sikap keagamaan merupakan integrasi secara kompleks antara pengetahuan agama, perasaan agama, serta tindak keagamaan dalam diri seseorang. Hal ini menunjukkan bahwa sikap keagamaan menyangkut atau berhubungan erat dengan gejala kejiwaan.26

Sikap keagamaan peserta didik sangat penting karena dapat membentuk perilaku yang baik sehingga menciptakan hubungan yang Islami dalam bentuk toleransi, saling menghargai dan saling membantu dengan sesama.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa sikap keagamaan merupakan suatu keadaan seseorang yang mendorongnya dalam bertingkah laku selalu berkaitan dengan agama

24Jalaluddin Rahmat, Psikologi Agama, h. 116.

25Zakiah Darajat, Ilmu Jiwa Agama (Jakarta: Bulan Bintang, 2003), h. 58.

26Jalaluddin Rahmat, Psikologi Agama, h. 225.

serta keyakinannya, seperti: disiplin, dermawan, jujur, sabar dan ikhlas.

2.1.3.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap Keagamaan

Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap keagamaan seseorang terdiri dari dua faktor yaitu:

2.1.3.2.1 Faktor Internal

Meliputi kebutuhan manusia terhadap agama. Secara kejiwaan manusia memeluk kepercayaan terhadap sesuatu yang menguasai dirinya. Menurut Robert Nuttin, dorongan beragama merupakan salah satu dorongan yang ada dalam diri manusia, yang menuntut untuk dipenuhi sehingga pribadi manusia mendapat ketenangan, selain itu dorongan beragama juga merupakan kebutuhan insaniyah yang tumbuhnya dari gabungan berbagai faktor penyebab yang bersumber dari rasa keagamaan.27

2.1.3.2.2 Faktor Eksternal 1. Lingkungan Keluarga

Lingkungan keluarga menjadi fase sosialisasi pertama dan berpengaruh dalam pembentukan sikap keagamaan seorang anak. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk memelihara, mengawasi dan membimbing anak mereka. Bimbingan dan pengajaran yang selaras dari kedua orang tua terhadap anaknya akan menentukan pertumbuhan dan perkembangan anak.

Sikap anak sangat dipengaruhi oleh keluarga dimana dia berkembang. Rumah adalah lingkungan pertama bagi anak, benda-benda dan kehidupan pada umumnya.

Anak menjadikan orang tua sebagai model dan penyesuaian dirinya dengan kehidupan.

Apabila orang tua tidak dapat dijadikan standar dalam penyesuaian diri dengan sebaik-

27Jalaluddin Rahmat, Psikologi Agama, h. 97.

baiknya, maka hal ini akan menimbulkan problem psikologi anak sebagaimana problem tingkah laku pada orang tua. 28

2. Lingkungan Sekolah

Lingkungan sekolah menjadi fase sosialisasi setelah lingkungan keluarga dan berpengaruh dalam pembentukan sikap keagamaan peserta didik. Pengaruh ini terjadi antara lain: Kurikulum dan anak, yaitu hubungan (interaksi) yang terjadi antara kurikulum dengan materi yang dipelajari murid, hubungan guru dengan peserta didik, yaitu bagaimana seorang guru bersikap terhadap peserta didiknya atau sebaliknya dan hubungan antara peserta didik, yaitu hubungan antara peserta didik dengan sesama temannya.29

3. Lingkungan Masyarakat

Lingkungan masyarakat menjadi fase sosialisasi setelah lingkungan sekolah dan berpengaruh dalam pembentukan sikap keagamaan seorang anak. Lingkungan masyarakat anak melakukan interaksi sosial dengan teman sebayanya atau anggota masyarakat lainnya. Apabila teman sebayanya menampilkan sikap yang sesuai dengan nilai-nilai agama atau berakhlak mulia, maka anak tersebut cenderung berakhlak mulia.

Pembentukan nilai-nilai kesopanan atau nilai-nilai yang berkaitan dengan aspek spiritual akan lebih efektif jika seseorang berada dalam lingkungan yang menjunjung tinggi nilai-nilai tersebut.30

28M. Arifin, Hubungan Timbal Balik Agama di Lingkungan Sekolah dan Keluarga (Jakarta:

Bulan Bintang, 1997), h. 34.

29Samsul Munir Amin, Menyiapkan Masa Depan Anak Secara Islami (Jakarta: Amzah, 2007), h.

157.

30Jalaluddin Rahmat, Psikologi Agama, h. 259.

Menurut Stephen R. Covey ada tiga teori yang terkait dengan pembentukan dan perubahan sikap manusia yaitu:

1. Determinisme genetis (genetic determinism).

2. Determinisme psikis (psychic determinism).

3. Determinisme lingkungan (environmental determinism).31

Determinisme genetis (genetic determinism) berpandangan bahwa sikap individu diturunkan oleh sikap kakek neneknya. Oleh karena itu, seseorang memiliki sikap dan tabiat seperti nenek moyangnya. Apabila kakek neneknya memiliki sikap baik maupun sebaliknya, maka akan diturunkan kegenerasi selanjutnya.

Determinisme psikis (psychic determinism) berpandangan bahwa sikap individu merupakan hasil pelakuan, pola asuh atau pendidikan orang tua yang diberikan kepada anaknya. Oleh karena itu, pendidikan yang diberikan orang tua kepada anaknya merupakan langkah pertama untuk membentuk sikap individu.

Determinisme lingkungan (environmental determinism) berpandangan bahwa sikap individu sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Seperti lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Lingkungan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan individu karena sangat berpengaruh terhadap perkembangannya dan pertumbuhan dalam membentuk sikap individu melalui proses pendidikan.

Berdasarkan teori yang dikemukakan di atas Allah swt berfirman dalam Q.S.

Ar-Ruum ayat 30.

31Mohammad Ali dan Mohammad Asrori, Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik (Cet.

VI; Jakarta: PT Bumi Aksara, 2010), h. 142.

Terjemahnya:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.32

Maksud ayat di atas fitrah Allah yaitu ciptaan Allah swt. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Apabila ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal tersebut tidak wajar. Mereka tidak beragama tauhid karena pengaruh lingkungan yang berdampak pada keyakinan yang dianutnya.

Hanna Jumhana Bastaman berpendapat bahwa fitrah manusia adalah suci.

Kecenderungan kepada agama merupakan sifat dasar manusia, sadar atau tidak sadar manusia selalu merindukan Tuhan dan seterusnya. Sejak kelahirannya manusia telah diciptakan Allah swt, membawa potensi keberagamaan yang benar, diartikan ulama adalah tauhid.33

Jadi, dapat disimpulkan bahwa fitrah beragama yang dimiliki manusia merupakan pemberian Allah swt untuk hamba-Nya agar mempunyai tujuan hidup yaitu sesuai dengan tujuan penciptaan manusia yaitu menyembah (beribadah) kepada Allah swt. Melalui fitrah dan tujuan inilah manusia menganut agama kemudian diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari dalam bentuk sikap keagamaan.

Sebagaimana firman Allah swt dalam Q.S. Adz-Dzariyat ayat 56.

Terjemahnya:

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.34

32Departemen Agama, Al-Qurโ€™an Transliterasi Perkata dan Terjemah Perkata, h. 407.

33Baharuddin dan Mulyono, Psikologi Agama dalam Persfektif Islam (Cet. I; Malang: UIN- Malang Press, 2008), h. 91.

34Departemen Agama, Al-Qurโ€™an Transliterasi Perkata dan Terjemah Perkata, h. 523.

Maksud ayat di atas bahwasanya Allah swt menciptakan jin dan manusia agar mereka mau mengabdi dan menyembah Allah swt. Tujuan hidup seorang muslim pada hakikatnya adalah mengabdi kepada Allah swt Selain sebagai khalifah di muka bumi manusia juga mempunyai fungsi sebagai hamba yaitu menyembah Allah swt.

2.1.3.3 Karakteristik Sikap Keagamaan

Sikap diperoleh dari hasil belajar atau pengaruh lingkungan, maka sikap remaja terhadap agama dibagi sebagai berikut:

2.1.3.3.1 Percaya turut-turutan

Banyak di antaranya remaja yang percaya kepada Allah swt dan menjalankan ajaran agama karena mereka terdidik dalam lingkungan yang beragama. Oleh karena itu, anak yang orang tuanya beragama, teman dan masyarakat sekelilingnya rajin beribadah, maka mereka ikut percaya dan melaksanakan ibadah dan ajaran-ajaran agama, sekedar mengikuti suasana lingkungan dimana mereka tinggal.

2.1.3.3.2 Percaya dengan kesadaran

Selaras dengan jiwa remaja yang berada dalam transisi dari anak-anak menuju dewasa, maka kesadaran remaja dalam beragama berada dalam keadaan peralihan dimana kehidupan beragama anak menuju pada masa kemantapan beragama. Di samping itu remaja mulai menemukan pengalaman dan penghayatan yang bersifat individual dan sukar digambarkan kepada orang lain, seperti pertobatan. Hubungan dengan Allah swt disertai dengan kesadaran dan kegiatannya dalam masyarakat makin diwarnai dengan rasa keagamaan.

2.1.3.3.3 Percaya tapi agak ragu-ragu

Bila pertumbuhan kecerdasan remaja sudah mencapai tingkat kematangan, maka dia sudah mampu menerima atau menolak sesuatu yang dihadapkan kepadanya.

Karena keyakinan keagamaan pada masa remaja terakhir telah lebih banyak dikuasai oleh pikiran, berbeda pada masa-masa sebelumnya, yaitu masa remaja yang ketika itu perasaannya lebih banyak berperan maka kebimbangan dapat timbul terhadap ajaran agama yang diterima dahulu pada pada masa kecilnya dengan cara tanpa kritikan.

Tingkat kebimbangan remaja satu sama lain berbeda sesuai dengan kepribadiannya.

2.1.3.3.4 Tidak percaya sama sekali

Sasaran keyakinan merupakan pikiran dan perasaan yang kemudian membentuk satu pribadi. Sebenarnya ini merupakan kelanjutan dari proses keraguan yang sudah memuncak dan tidak bisa diatasi jika masa di bawah 20 tahun, remaja menyatakan kebimbangan atau tidak percaya kepada Allah swt maka pada waktu itu bukan bimbang atau ingkar yang sungguh-sungguh akan tetapi protes kepada Allah swt yang disebabkan karena beberapa keadaan yang sedang dihadapi atau dialami.

Mungkin karena kecewa, sakit hati, menderita dan lain-lain. Sehingga berputus asa terhadap keadilan dan kekuasaan Allah swt. Keputusan tersebut lambat laun akan menjelma menjadi sebuah rasa benci dan tidak mengakui wujud-Nya atau tidak percaya kepada Tuhan.35

2.1.4 Peserta Didik

2.1.4.1 Pengertian Peserta Didik

Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi dirinya melalui pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu. (Undang-Undang Sisdiknas, Pasal 1 ayat 4). Dalam pendidikan

35Abd. Muiz Kabry, Pengantar Ilmu Jiwa Agama (Sulawesi: Media Grafika, 2013), h. 96-102.

yang menjadi peserta didik bukan hanya anak-anak, melainkan juga orang dewasa yang masih berkembang baik fisik maupun psikis.36

Dalam bahasa Arab juga terdapat term yang bervariasi. Di antaranya thalib, mutaโ€™allim dan murid. Thalib berarti orang yang menuntut ilmu. Mutaโ€™allim berarti orang yang belajar dan murid berarti orang yang berkehendak atau ingin tahu.

Peserta didik merupakan titik sentral dalam sistem pembelajaran. Proses pembelajaran pada hakikatnya diarahkan untuk membelajarkan peserta didik agar dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan. Dengan demikian dalam proses pembelajaran, peserta didik harus dijadikan pusat dari segala kegiatan. Artinya, keputusan-keputusan yang diambil baik dalam merancang pembelajaran maupun dalam implementasinya harus sesuai dengan kemampuan dasar, minat dan bakat, motivasi belajar serta gaya belajar peserta didik itu sendiri. Di dalam pandangan tersebut, seorang pendidik dianjurkan untuk berperan penting dalam memberikan pembelajaran agar peserta didik dapat termotivasi untuk belajar.37

Peserta didik adalah anak yang sedang tumbuh dan berubah kebutuhannya pada hari ini belum tentu sama dengan kebutuhannya kemarin, memiliki kepribadian, tujuan, cita-cita hidup dan potensi dirinya. Oleh karena itu, tidak dapat diperlakukan semena-mena untuk menempuh ilmu sesuai dengan cita-cita dan harapan masa depan.38

36Bukhari Umar, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Hamzah, 2010), h. 103.

37Wina Sanjaya, Media Komunikasi Pembelajaran (Cet. I; Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2012), h. 48.

38Eka Prihatin, Manajemen Peserta Didik (Bandung: Al-Fabeta, 2014), h. 3.

2.1.4.2 Kebutuhan Peserta Didik

Suatu hal yang juga sangat perlu diperhatikan seorang guru dalam mengajar, membimbing dan melatih muridnya adalah "kebutuhan murid".

Law Head membagi kebutuhan manusia sebagai berikut:

1. Kebutuhan jasmani, seperti: makan, minum, bernapas, perlindungan, seksual, kesehatan dan lain-lain.

2. Kebutuhan rohani, seperti: kasih sayang, rasa aman, penghargaan, belajar, menghubungkan diri dengan dunia yang lebih luas (mengembangkan diri), mengaktualisasi dirinya sendiri dan lain-lain.

3. Kebutuhan yang menyangkut jasmani dan ruhani, seperti: istirahat, rekreasi, butuh supaya potensi fisik dapat di kembangkan semaksimal mungkin, butuh agar setiap usaha atau pekerjaan sukses dan lain-lain.

4. Kebutuhan sosial, seperti: dapat diterima oleh teman-temannya secara wajar, supaya dapat diterima oleh orang yang lebih tinggi dari dirinya seperti orang tua, guru-guru dan para pemimpinnya seperti kebutuhan untuk memperoleh prestasi dan posisi.

5. Kebutuhan yang lebih tinggi sifatnya (biasanya dirasakan lebih akhir) merupakan tuntutan ruhani yang mendalam, yaitu kebutuhan untuk meningkatkan diri yaitu kebutuhan terhadap Agama.39

39Bukhari Umar, Ilmu Pendidikan Islam, h. 104.

2.2 Tinjuan Hasil Penelitian Relevan

Tinjauan penelitian memuat analisis dan uraian sistematis tentang teori, hasil pemikiran dan hasil penelitian yang ada hubungannya dengan masalah yang diteliti dalam rangka memperoleh pemikiran konseptual terhadap variabel yang akan di teliti.40 Penelitian relevan dijadikan salah satu pedoman pendukung oleh penulis untuk kesempurnaan penelitian yang akan dilaksanakan dan sebagai referensi perbendaharaan perbandingan konsep kecerdasan spiritual guru Pendidikan Agama Islam dengan sikap keagamaan peserta didik kelas VIII di SMP Negeri 8 Parepare.

Adapun penelitian yang relevan dijadikan sebagai bahan referensi, yaitu:

2.2.1 Penelitian yang dilakukan oleh Haedir Mukmin, 2018.

Hubungan antara kecerdasan emosional dengan sikap disiplin shalat peserta didik di SMA Negeri 4 Parepare. Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui kecerdasan emosional dengan sikap disiplin shalat peserta peserta didik di SMA Negeri 4 Parepare. Adapun hasil penelitiannya yaitu: kecerdasan emosional peserta didik di SMA Negeri 4 Parepare termaksud dalam kategori rendah dengan angka presentasi 69%. Disiplin shalat peserta didik di SMA Negeri 4 Parepare termaksud dalam kategori rendah dengan angka presentasi 64%. Terdapat pengaruh yang signifikan dari hubungan kecerdasan emosional dengan sikap disiplin shalat peserta peserta didik di SMA Negeri 4 Parepare. Hal ini dibuktikan dengan hasil analisis data yang menunjukkan bahwa diperoleh nilai ๐‘กโ„Ž๐‘–๐‘ก๐‘ข๐‘›๐‘”= 0,987 > ๐‘ก๐‘ก๐‘Ž๐‘๐‘’๐‘™ = 0,312.41

40Saepudin, et al., Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Parepare: STAIN Parepare, 2013), h. 25.

41Haedir Mukmin, 2018, Hubungan antara Kecerdasan Emosional dengan Sikap Disiplin Shalat Peserta Didik di SMA Negeri 4 Parepare, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare.

2.2.2 Penelitian yang dilakukan oleh Nursyam Nurlang, 2019.

Hubungan antara kepribadian guru Pendidikan Agama Islam dengan kedisiplinan peserta didik pada mata pelajaran PAI di SDN 27 Pinrang. Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kepribadian guru Pendidikan Agama Islam dengan kedisiplinan peserta didik pada mata pelajaran PAI. Adapun hasil penelitiannya yaitu: Kepribadian guru termaksud kategori tinggi dengan angka persentasi yaitu 86%. Kedisiplinan peserta didik termaksud kategori tinggi dengan angka persentasi yaitu 83%. Terdapat hubungan yang signifikansi๐‘Ÿโ„Ž๐‘–๐‘ก๐‘ข๐‘›๐‘”= 0,530 โ‰ฅ ๐‘Ÿ๐‘ก๐‘Ž๐‘๐‘’๐‘™= 0,254 pada taraf signifikan 5%. Besarnya hubungan antara kepribadian guru dengan kedisiplinan peserta didik adalah sebesar 28,09%, dalam artian bahwa 71,91%

lainnya dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diamati dalam penelitian ini.42

Berdasarkan kedua hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, kedua penelitian tersebut berfokus hubungan antara kecerdasan emosional dengan sikap disiplin shalat peserta didik dan hubungan antara kepribadian guru Pendidikan Agama Islam dengan kedisiplinan peserta didik pada mata pelajaran PAI. Akan tetapi penelitian ini lebih berfokus pada hubungan antara kecerdasan spiritual guru Pendidikan Agama Islam dengan sikap keagamaan peserta didik kelas VIII di SMP Negeri 8 Parepare.

2.3 Kerangka Pikir

Kerangka pikir merupakan gambaran pola hubungan antara variabel-variabel yang akan digunakan untuk menjelaskan masalah yang akan diteliti. Sugiono mengemukakan bahwa: โ€œKerangka berpikir merupakan model konseptual tentang

42Nursyam Nurlang. 2018, Hubungan antara Kepribadian Guru PAI dengan Kedisiplinan Peserta Didik pada Mata Pelajaran PAI di SDN 27 Pinrang, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare.

bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang pentingโ€.43

Kerangka pikir merupakan garis besar atau rancangan isi penelitian yang dikembangkan dari topik yang telah ditentukan. Ide atau gagasan yang terdapat dalam kerangka pada dasarnya adalah penjelasan.

Berdasarkan kerangka pikir di bawah sekolah yang menjadi lokasi penelitian yaitu di SMP Negeri 8 Parepare. Lingkungan sekolah terdiri dari kepala sekolah, guru dan peserta didik. Kepala sekolah merupakan pimpinan dari lembaga pendidikan, guru merupakan seorang tenaga pengajar yang memiliki peran penting di sekolah sedangkan peserta didik merupakan anggota masyarakat dalam tahap mengembangkan potensi dirinya. Kecerdasan spiritual guru Pendidikan Agama Islam merupakan suatu kemampuan yang dimiliki oleh guru meliputi bersikap fleksibel, kesadaran diri, kemampuan menghadapi penderitaan, bersikap baik terhadap cobaan, mempunyai visi, tidak menyebabkan kerugian, berpikir holistik, kecenderungan bertanya dan memiliki kemandirian berdasarkan nilai-nilai agama yang diyakini.

Kecerdasan spiritual sangat penting dimiliki oleh guru sehingga berdampak pada sikap keagamaan peserta didik. Sikap keagamaan perlu ditanamkan kepada peserta didik sehingga mereka dapat bersikap maupun bertingkah laku sesuai dengan nilai-nilai agama. Dengan nilai-nilai agama diharapkan dapat membentuk mereka menjadi pribadi sesuai dengan ajaran Islam. Oleh karena itu, penelitian ini akan mencari hubungan antara kecerdasan spiritual guru Pendidikan Agama Islam dengan sikap keagamaan peserta didik kelas VIII di SMP Negeri 8 Parepare.

43Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, R & D (Bandung: Alfabeta, 2015), h. 91.

Sikap Keagamaan Peserta Didik

Adapun kerangka pikir yang digunakan oleh penulis adalah sebagai berikut:

Sikap Fleksibel Tingkat Kesadaran Yang Tinggi

Kemampuan Menghadapi Penderitaan

Bersikap Baik Terhadap

Cobaan Mempunyai Visi Tidak Menyebabkan

Kerugian

Berpikir Holistik Kecenderungan

Bertanya Memiliki Kemandirian Kecerdasan Spiritual Guru PAI

2.4 Hipotesis Penelitian

Hipotesis sering diartikan sebagai jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang secara teoritis dianggap paling mungkin atau paling tinggi tingkat kebenarannya.44 Sedangkan menurut L.R Gay dalam Educational Research memberikan pengertian bahwa โ€œA hypothesis is the most specific statement of a problem. It states what the researcher think the outcome of the study will beโ€45 (Sebuah hipotesis adalah pernyataan paling spesifik dari sebuah permasalahan. Ini menyatakan apa yang menurut peneliti akan menjadi hasil dari studi ini).

Jadi, dapat disimpulkan bahwa hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah yang diteliti dan harus dibuktikan kebenarannya.

Adapun hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:

๐ป1 = Terdapat hubungan yang signifikan antara kecerdasan spiritual guru Pendidikan Agama Islam dengan sikap keagamaan peserta didik kelas VIII di SMP Negeri 8 Parepare.

๐ป0 = Tidak Terdapat hubungan yang signifikan antara kecerdasan spiritual guru Pendidikan Agama Islam dengan sikap keagamaan peserta didik kelas VIII di SMP Negeri 8 Parepare.

Berdasarkan hipotesis yang telah diajukan tersebut, penulis memiliki dugaan sementara bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kecerdasan spiritual Guru Pendidikan Agama Islam dengan sikap keagamaan peserta didik kelas VIII di SMP Negeri 8 Parepare. Sehingga penulis sepakat dengan pernyataan ๏ฟฝ1 tersebut.

44Margono, Metode Penelitian Pendidikan (Cet. IV; Jakarta: Rineka Cipta, 2009), h. 68-69.

45L.R Gay, Educational Research Competencies For Analysis and Application, Second Edition (Ohio: Charle E Merrill Publishing Company, t.th), h. 45.

2.5 Definisi Operasional Variabel

Definisi operasional adalah pernyataan praktis dan teknis tentang variabel dan sub variabel yang dapat diukur dan dicarikan datanya. Definisi operasional skripsi menjadi dasar dalam mengembangkan instrumen penelitian, yaitu alat ukur yang digunakan dalam mengumpulkan data. Artinya, pengembangan instrumen penelitian baik angket, pedoman observasi maupun pedoman wawancara terstruktur bersumber dari definisi operasional.46

Untuk menghindari terjadinya kekeliruan penafsiran pembaca sekaligus untuk memudahkan pemahaman terhadap makna yang terkandung dalam topik penelitian ini, maka akan dijelaskan variabel dalam penelitian ini:

1. Kecerdasan spiritual guru Pendidikan Agama Islam merupakan suatu kemampuan yang dimiliki oleh guru meliputi bersikap fleksibel, kesadaran diri, kemampuan menghadapi penderitaan, bersikap baik terhadap cobaan, mempunyai visi, tidak menyebabkan kerugian, berpikir holistik, kecenderungan bertanya dan memiliki kemandirian berdasarkan nilai-nilai agama yang diyakini.

2. Sikap keagamaan peserta didik merupakan suatu keadaan yang mendorongnya dalam bertingkah laku selalu berkaitan dengan agama dan menjadi pribadi yang disiplin, dermawan, jujur, sabar dan ikhlas yang terbentuk melalui pengalaman dan interaksi dengan berbagai unsur lingkungan sosialnya seperti lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat.

46Saepudin, et al., Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, h. 26-27.

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Desain Penelitian

Pada dasarnya penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) dengan desain penelitian kuantitatif korelasional. Penelitian kuantitatif suatu proses menemukan pengetahuan yang menggunakan data berupa angka-angka sebagai alat menemukan keterangan mengenai apa yang ingin diketahui.1 Penulis mengkaji hubungan 2 variabel yakni:

3.1.1 Variabel Bebas (Independence Variable)

Variabel bebas merupakan sebab yang diperkirakan dari beberapa perubahan dalam variabel terikat.2 Dengan kata lain, variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel terikat. Dalam penelitian ini kecerdasan spiritual guru Pendidikan Agama Islam sebagai variabel bebas, variabel ini disimbolkan dengan simbol X.

3.1.2 Variabel Terikat (Dependen Variable)

Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Dalam penelitian ini sikap keagamaan peserta didik sebagai variabel terikat, variabel ini disimbolkan dengan simbol Y.

Adapun desain penelitian sebagai berikut:

1Margono, Metode Penelitian Pendidikan (Cet. IV; Jakarta: Rineka Cipta, 2009), h. 105.

2Juliansyah Noor, Metode Penelitian: Skripsi, Tesis, Disertasi dan Karya Ilmiah (Cet. VI.

Jakarta: Kencana, 2014), h. 48.

32

Dalam dokumen INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PAREPARE (Halaman 35-42)

Dokumen terkait