• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian Usaha

Dalam dokumen SKRIPSI (Halaman 42-48)

BAB I PENDAHULUAN

C. Konsep Usaha dalam Ekonomi Islam

1. Pengertian Usaha

Usaha yaitu “setiap tindakan, perbuatan atau kegiatan apapun dalam bidang perekonomian, yang dilakukan oleh setiap pengusaha untuk tujuan memperoleh keuntungan danatau laba”.35

Usaha adalah suatu unit ekonomi yang melakukan aktivitas dengan tujuan menghasilkan barang atau jasa untuk dijual atau ditukar dengan barang lain dan ada seseorang atau lebih yang bertanggung jawab dan punya kewenangan untuk mengelola usaha tersebut.

Dalam hukum bisnis syariah istilah usaha sering diartikan sebagai suatu perbautan manusia untuk mendapatkan sumber penghidupan, meskipun usaha manusia adalah bermacam-macam, namun terpenting adalah untuk menggapai keridhaan Allah.36

Berdasarkan penjelasan di atas dapat di simpulkan bahwa usaha adalah tindakan atau kegiatan yang dilakukan setiap pengusaha dibidang perekonomian untuk mendapatkan sumber penghidupan dan yang terpenting adalah mendapat keridhaan Allah SWT.

2. Ekonomi Islam

Ekonomi Islam adalah ”kumpulan norma hukum yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadis yang mengatur urusan perekonomian umat manusia”.37

35 Burhanuddin, Hukum Bisnis Syariah, (Yogyakarta: UII Press, 2011), h. 15

36 Ibid, h. 16

37 Zainuddin Ali, Hukum Ekonomi Syariah, Cet. 2, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), h. 4

28

Pendapat lain mengungkapkan bahwa ekonomi Islam adalah

”bidang-bidang ilmu lainnya yang tidak luput dari kajian Islam bertujuan menuntun agar manusia berada di jalan lurus (shirat al mustaqim)”.38

Dengan demikian ekonomi dalam Islam adalah ilmu yang mempelajari segala perilaku manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dengan tujuan memperoleh falah (kedamaian dan kesejateraandunia akherat).39

Berdasarkan keterangan di atas dapat dijelaskan bahwa ekonomi Islam adalah bidang-bidang ilmu perekonomian umat manusia yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis yang tujuannya untuk menuntun manusia berada di jalan lurus yaitu shirat al mustaqim.

3. Batasan Usaha dalam Ekonomi Islam

Batasan usaha dalam ekonomi Islam adalah sebagai berikut:

a. Kesatuan (Tauhid/Unity)

b. Keseimbangan (Equilibrium/Adil) c. Kehendak bebas (free will)

d. Tanggung jawab (Responsibility) e. Kebenaran: kebajikan dan kejujuran40

Kelima batasan di atas akan dijelaskan satu persatu sebagai berikut:

a. Kesatuan (Tauhid/Unity)

Hal ini adalah kesatuan sebagaimana terefleksikan dalam konsep tauhid yang memadukan keseluruhan aspek-aspek kehidupan muslim, baik dalam bidang ekonomi, politik, sosial menjadi keseluruhan yang

38 Eko Suprayitno, Ekonomi Islam Pendekatan Ekonomi Makro Islam dan Konvensional, Cet. 1, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2005), h. 1

39 Ascarya, Akad & Produk Bank Syariah, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2008), h. 7

40 Ahmad Mustaq, Etika Bisnis dalam Islam, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2001), h. 45

homogen, serta mementingkan konsep konsistensi dan keteraturan yang menyeluruh. 41

Batasan usaha dalam suatu sistem ekonomi Islam berdasarkan konsep dasar dalam Islam yaitu kesatuan (tauhid) dan berdasarkan rujukan kepada al-Qur’an dan Sunnah adalah:

1) Pemenuhan kebutuhan dasar manusia meliputi pangan, sadang papan, kesehatan, dan pendidikan untuk setiap lapisan masyarakat.

2) Memastikan kesetaraan kesempatan untuk semua orang.

3) Mencegah terjadinya pemusatan kekayaan dan meminimalkan ketimpangan dana distribusi pendapatan dan kekayaan di masyarakat.

4) Memastikan kepada setiap orang kebebasan untuk mematuhi nilai-nilai moral.

5) Memastikan stabilitas dan pertumbuhan ekonomi.42

Berdasarkan konsep ini maka Islam menawarkan keterpaduan agama, ekonomi dan sosial demi membentuk kesatuan. Atas dasar pandangn ini pula maka batasan dalam bisnis atau etika menjadi terpadu, vertikal maupun horizontal membentuk suatu persamaan yang sangat penting dalam sistem Islam.

b. Keseimbangan (Equilibrium/Adil)

Islam sangat menganjurkan untuk berbuat adil dalam berbisnis, dan melarang berbuat curang atau berlaku dzalim. Rosulullah diutus Allah untuk membangun keadilan. Kecelakaan besar bagi orang yang berbuat curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari

41 Ibid

42 M. Nur Rianto Al Arif & Euis Amalia, Teori Mikroekonomi: Suatu Perbandingan Ekonomi Islam dan Ekonomi Konvensional, (Jakarta: Kencana, 2010), h. 13

orang lain meminta untuk dipenuhi, sementara kalau menakar atau menimbang untuk orang selalu dikurangi.

Kecurangan dalam berbisnis pertanda kehancuran bisnis tersebut, karena kunci keberhasilan bisnis adalah kepercayaan. Al-Qur’an memerintahkan kepada kaum muslimin untuk menimbang dan mengukur dengan cara yang benar dan jangan sampai melakukan kecurangan dalam bentuk pengurangan takaran dan timbangan.

Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Isra ayat 35 yang berbunyi:

     

    

 

Artinya ”Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS. Al-Isra : 35)43

Ketika beraktivitas di dunia kerja dan bisnis Islam mengharuskan untuk berbuat adil, tak terkecuali pada pihak yang tidak disukai.

c. Kehendak bebas (Free Will)

Alam semesta merupakan milik Allah, yang memiliki kemaha kuasa (kedaulatan) sepenuhnya dan kesempurnaanatas makhluk- makhluk-Nya. Manusia diberi kekuasaan untuk mengambil keuntungan dan manfaat yang sebanyak-banyaknya sesuai dengan kemampuannya atas barang-barang ciptaan Allah.

43 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta : Diponegoro, 2009), h.

285

Atas segala karunia yang diberikan oleh Allah, manusia dapat berkehendak bebas, namun kebebasan ini tidaklah berarti bahwa manusia terlepas dari qhada dan qadar yang merupakan hukum sebab akibat yang didasarkan pada pengetahuan dan kehendak Allah.44

Kebebasan merupakan bagian penting dalam nilai etika bisnis Islam, tetapi kebebasan itu tidak merugikan kepentingan kolektif.

Kepentingan individu dibuka lebar, tidak adanya batasan pendapatan bagi seseorang mendorong manusia untuk aktif berkarya dan bekerja dengan segala potensi yang dimilikinya.

Kecenderungan manusia untuk terus menerus memenuhi kebutuhan pribadinya yang tak terbatas dikendalikan dalam adanya kewajiban setiap individu terhadap masyarakatnya melalui zakat, infak dan sedekah.

d. Tanggungjawab (Responsibility)

Manusia merupakan khalifah atau pengemban amanat Allah.

Manusia diberi kekuasaan untuk melaksanakan tugas kekhalifahan ini untuk mengambil keuntungan dan manfaat sebanyak-banyaknya atas ciptaan Allah. Dalam hal menjalani usaha, manusia dapat berkehendak bebas tetapi akan mempertanggungjawabkan atas kebebasan tersebut baik terhadap keseimbangan alam, masyarakat, diri sendiri maupun di akherat kelak.

44 M. Nur Rianto Al Arif & Euis Amalia, Teori Mikroekonomi: Suatu Perbandingan Ekonomi Islam dan Ekonomi Konvensional, h. 89

Pertanggungjawaban sebagai seorang muslim bukan hanya kepada Allah SWT, namun juga kepada lingkungan. Jika ekonomi konvensional, baru mengenal istilah corporate social responsibility, maka ekonomi Islam telah mengenalnya sejak lama.45

Kebebasan tanpa batas adalah suatu hal yang mustahil dilakukan oleh manusia karena tidak menuntut adanya pertanggungjawaban dan akuntabilitas, untuk memenuhi tuntunan keadilan dan kesatuan, manusia perlu mempertanggungjawabkan tindakannya secara logis prinsip ini berhubungan erat dengan kehendak bebas. Ia menetapkan batasan mengenai apa yang bebas dilakukan oleh manusia dengan bertanggungjawab atas semua yang dilakukannya.

e. Kebenaran: kebajikan dan kejujuran

Kebenaran dalam konteks ini selain mengandung makna kebenran lawan dari kesalahan mengandung pula dua unsur yaitu kebajikan dan kejujuran, dalam konteks bisnis kebenaran dimaksudkan sebagai niat, sikap dan perilaku benar yang meliputi proses akad (transaksi) proses mencari atau memperolah komoditas pengembangan maupun dalam proses upaya meraih atau menetapkan keuntungan.46

Dengan prinsip kebenaran ini maka etika bisnis Islam sangat menjaga dan berlaku preventif terhadap kemungkinan adanya kerugian salah satu pihak yang melakukan transaksi, kerjasama atau perjanjian dalam bisnis.

45 Ibid, h. 90

46 Ahmad Mustaq, Etika Bisnis dalam Islam, h. 51

33

Dalam dokumen SKRIPSI (Halaman 42-48)