Anak perempuan memiliki pengetahuan yang kurang tentang menstruasi. Biasanya menarche sebagai pemicu bagi anak perempuan untuk belajar tentang menstruasi. Gadis remaja muda berusia 10-14 tahun di negara berpenghasilan rendah dan menengah kurang siap untuk pubertas dan menstruasi (Coast et al., 2019). Pengalaman menstruasi pertama akan berbeda pada remaja putri namun jika mereka mengetahui tentang menstruasi sebelum menarche, mereka dapat mempersiapkan diri untuk menerima dan membangun sikap yang baik terhadap menstruasi (Balqis et al., 2016) Remaja diharapkan lebih memperhatikan faktor-faktor yang dapat dikendalikan seperti indeks massa tubuh, aktivitas fisik, dan stress, agar memiliki siklus menstruasi yang teratur yang mempengaruhi kesehatan organ reproduksi Wanita. (Arum et al., 2019) Pengalaman negatif menstruasi, dikaitkan dengan nyeri haid, pengalaman malu dan tertekan, dan kesulitan menahan menstruasi. Faktor-faktor ini berdampak buruk pada pendidikan remaja melalui ketidakhadiran, berkurangnya keterlibatan, dan miskin prestasi akademik.
Namun, menstruasi dapat menjadi pengalaman positif bagi remaja dan kemampuan remaja untuk beradaptasi dengan tantangan yang disajikan oleh dismenore menunjukkan tingkat ketahanan dan kreativitas (Munro et al., 2021). Praktik hygiene selama menstruasi dapat mencegah wanita dari infeksi pada saluran reproduksi dan saluran kemih (Balqis et al., 2016).
DAFTAR PUSTAKA
Aritonang, T. R., Rahayu, S., Sirait, L. I., Karo, M. B., Simanjuntak, T.
P., Natzir, R., Sinrang, A. W., Massi, M. N., Hatta, M., & Kamelia, E. (2017). The Role of FSH, LH, Estradiol and Progesterone Hormone on Estrus Cycle of Female Rats. International Journal of Sciences: Basic and Applied Research (IJSBAR).
Arum, V. R. S., Yuniastuti, A., & Kasmini, O. W. (2019). The Relationship of Nutritional Status, Physical Activity, Stress, and Menarche to Menstrual Disorder (Oligomenorrhea). Public Health Perspective Journal, 4(1), 37–47.
http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/phpj%
0AThe
Balqis, M., Arya, I. F. D., & Ritonga, M. N. A. (2016). Knowledge, Attitude and Practice of Menstrual Hygiene among High Schools Students in Jatinangor.
Althea Medical Journal, 3(2), 230–238.
https://doi.org/10.15850/amj.v3n2.783
Beverly G Reed, MD and Bruce R Carr, M. (2018). The Normal Menstrual Cycle and the Control of Ovulation.
National Library of Medicine.
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK27905 4/
Coast, E., Lattof, S. R., & Strong, J. (2019). Puberty and menstruation knowledge among young adolescents in low- and middle-income countries: a scoping
review. International Journal of Public Health,
64(2), 293–304.
https://doi.org/10.1007/s00038-019-01209-0 Critchley, H. O. D., Babayev, E., Bulun, S. E., Clark, S., Garcia-Grau, I.,
Gregersen, P. K., Kilcoyne, A., Kim, J. Y. J., Lavender, M., Marsh, E. E., Matteson, K. A., Maybin, J. A., Metz, C. N., Moreno, I., Silk, K., Sommer, M., Simon, C., Tariyal, R., Taylor, H. S.,
… Griffith, L. G. (2020). Menstruation: science and society. American Journal of Obstetrics and
Gynecology, 223(5), 624–664.
https://doi.org/10.1016/j.ajog.2020.06.004 D.HarlowPhD, S. (2018). Menstrual Cycle Changes as Women
Approach the Final Menses: What Matters?
Obstetrics and Gynecology Clinics of North America.
https://doi.org/10.1016/j.ogc.2018.07.003 Edelman, A., Boniface, E. R., Benhar, E., Han, L., Matteson, K. A.,
Favaro, C., Pearson, J. T., & Darney, B. G. (2022).
Association Between Menstrual Cycle Length and Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) Vaccination. Obstetrics & Gynecology, 139(4), 481–489.
https://doi.org/10.1097/aog.00000000000046 95
Jeanmonod., D. K. T. H. B. R. (2021). Physiology, Menstrual Cycle. In National Library of medicine.
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK50002 0/
Kara, E., Dupuy, L., Bouillon, C., Casteret, S., & Maurel, M. C. (2019).
Modulation of gonadotropins activity by antibodies. Frontiers in Endocrinology, 10(FEB), 1–12.
https://doi.org/10.3389/fendo.2019.00015 Lord, J. E. H. A. N. B. M. (2022). Physiology, Ovulation. National
Library of medicine.
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/28723025/
Munro, A. K., Hunter, E. C., Hossain, S. Z., & Keep, M. (2021). A systematic review of the menstrual experiences of university students and the impacts on their education: A global perspective. PLoS ONE, 16(9 September).
https://doi.org/10.1371/journal.pone.0257333 Rina Aritonang, T., Natzir, R., Wardihan Sinrang, A., Nasrum Massi,
M., Hatta, M., & Kamelia. (2020). The Effect of Administration of Extract from Areca Nut Seeds (Areca Catechu L) on the Estradiol and Estrus Cycle Balb/C Female Rats. Journal of Physics: Conference Series, 1477(6).
https://doi.org/10.1088/1742- 6596/1477/6/062026
Sarao, J. R. ;Tijana S. M. S. (2022). Physiology, Female Reproduction.
National Library of medicine.
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/30725817/
Bab 10
MIMPI BASAH
Nurul Jannatul Wahidah, SST., M.Kes.
Perkembangan seks sekunder pada laki-laki maupun perempuan dapat dianalisis dengan menggunakan Sexual Maturity Rating (SMR) scale yang dapat dinilai dari angka 1 (masa preadolescence) hingga angka 5 (Teenager stage). Meskipun perubahan pubertas masing-masing individu berbeda tapi hal ini dapat diprediksi berdasarkan kemungkinan periode yang sesuai.
Kematangan seksual dapat dipengaruhi oleh genetik, psikososial, nutrisi, dan status kesehatan secara keseluruhan, termasuk paparan lingkungan sekitar.
Selama masa pubertas, laki-laki mulai menghasilkan Luteinizing hormone (LH) dan testosteron yang lebih banyak daripada di masa anak-anak. Tanda pertama yang muncul saat pubertas adalah adanya perkembangan fungsi testis yang dimulai saat usia 9.5 tahun, diikuti dengan pertumbuhan rambut pubis, dan perkembangan fungsi penis. Tubulus seminiferus, epididimis, vesika seminalis dan kelenjar prostat juga mengalami pematangan fungsi. Termasuk kemungkinan terjadinya mimpi basah atau nocturnal emissions juga dialami oleh laki-laki saat masa pre-teens (Hillman & Spigarelli, 2009)(Shroff & Ricciardelli, 2012).
Mimpi basah adalah ejakulasi air mani yang tidak disengaja yang terjadi selama tidur. Mimpi basah merupakan kejadian
seksual yang normal pada masa perkembangan pubertas laki-laki.
Testosteron memungkinkan laki-laki menjadi lebih sensitif dan responsif terhadap reflex seksual, sehingga kemungkinan untuk mengalami mimpi basah juga kadang tidak terelakkan. Mimpi basah yang terjadi secara spontan dapat dikaitkan dengan fantasi dan ide seksual. Hal ini merupakan prediktor signifikan dari perilaku seksual nonkoital dan Fantasi hubungan seksual. Perilaku seksual nonkoital antara lain juga berpegangan tangan, berpelukan, dan berciuman. Fantasi dan ide seksual termasuk memikirkan tentang seks, memikirkan kemungkinan apakah dia akan melakukan hubungan seksual dalam beberapa tahun kedepan, dan seberapa besar keinginan seseorang untuk bisa melakukan hubungan seksual.
Menurut penelitian, 83% laki-laki akan mengalami mimpi basah di masa pubertas, namun demikian ada beberapa laki-laki yang tidak mengalaminya sampai di kemudian hari. Frekuensi kejadian mimpi basah pada setiap laki-laki sangat bervariasi.
Rentang frekuensi laki-laki usia 15 tahun yang mengalami mimpi basah kurang lebih 12 kali per minggu sedangkan untuk laki-laki usia 40 tahun 0,18 kali per minggu. Kisaran untuk pria yang sudah menikah adalah 0,23 per minggu(Baxter et al., 2021).
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa, kejadian Mimpi basah selain dikaitkan dengan adanya kematangan fungsi reproduksi laki-laki, juga erat kaitannya dengan fungsi otak manusia ketika sedang tertidur. Selama tidur, tubuh memasuki fase Rapid Eye Movement (REM) (Barnhoorn et al., 2018). Tidur REM merupakan tidur dalam kondisi aktif atau tidur paradoksial yang ditandai dengan mimpi yang bermacam-macam otot-otot meregang, kecepatan jantung dan pernafasan tidak teratur,
perubahan tekanan darah, sekresi lambung dan ereksi penis juga meningkat. Saraf-saraf simpatetik bekerja selama tidur REM diperkirakan terjadi proses penyimpanan secara mental yang digunakan sebagai adaptasi psikologis dan memori (Krasikov &
Elliott, 2017). Fase ini biasanya berlangsung dari beberapa menit hingga beberapa jam. Jika mimpi selama tidur REM sangat menggairahkan, sensasi penis yang ereksi dapat menyebabkan mimpi erotis dan ejakulasi pada laki-laki(Wolfe & Ralls, 2019). Oleh sebab itu penting bagi setiap orang tua atau tenaga kesehatan untuk memberikan edukasi yang komprehensif terkait kejadian mimpi basah yang normal, yang wajar dialami oleh laki-laki pada masa pubertas.
Glosarium
Luteinizing Hormon : Hormon yang berperan dalam pematangan reproduksi laki-laki.
Pubertas : Masa akil baligh, atau masa laki-laki menuju dewasa
Holistik : Secara keseluruhan (melihat manusia sebagai satu kesatuan fenomena biososial)
Pubis : Kemaluan
DAFTAR PUSTAKA
Barnhoorn, P. C., Woet, •, Gianotten, L., Mels, •, Van Driel, F., & Nl, P.
C. B. (2018). Sleep-Related Painful Erections Following Sexual Intercourse. Arch Sex Behav, 47, 815–817. https://doi.org/10.1007/s10508-017- 1132-0
Baxter, R., St, W., & Vic, M. (2021). The periodicity of male nocturnal emission ( Draft 2 ) Author Summary Introduction.
Draft 2.
Hillman, J. B., & Spigarelli, M. G. (2009). Sexuality: Its Development and Direction. Developmental-Behavioral Pediatrics, 415–425. https://doi.org/10.1016/B978-1-4160- 3370-7.00043-2
Krassioukov, A., & Elliott, S. (2017). Neural Control and Physiology of Sexual Function: Effect of Spinal Cord Injury. 1–10.
https://doi.org/10.1310/sci2301-1
Shroff, H. P., & Ricciardelli, L. A. (2012). Physical appearance changes in childhood and adolescence-boys.
Encyclopedia of Body Image and Human Appearance, 2, 608–614. https://doi.org/10.1016/B978-0-12- 384925-0.00096-1
Wolfe, K., & Ralls, F. M. (2019). Rapid eye movement sleep and
neuronal development. 555–560.
https://doi.org/10.1097/MCP.0000000000000622
Bab 11
GANGGUAN MENSTRUASI
Nur Anindya Syamsudi, S.Tr.Keb., M.Kes.