BAB 1 PENDAHULUAN
1.6 Sistematika Penulisan
2.2.1 Pengkajian Keperawatan
Menurut (Wahid & Suprapto, 2013) Pengkajian asuhan keperawatan pada pasien asthma dimulai dari pengumpulan data seperti identitas klien, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat kesehatan keluarga, riwayat psikososial.
2.2.1.1 Identitas klien
Pengumpulan data identitas klien adalah pengkajian mengenai nama, umur, jenis kelamin perlu di kaji pada pasien asthma. serangan asthma pada usia dini memberikan implikasi bahwa sangat mungkin terdapat stautus atopi. sedangkan serangan asthma pada usia dewasa di mungkinkan karna adanya faktor atropi. alamat menggambarkan kondisi lingkungan tempat klien berada, dapat mengetahui
kemungkinan faktor penecetus serangan asthma. status perkawinan gangguan emosional yang timbul dalam keluarga atau lingkungan merupakan faktor penecetus serangan asthma, pekerjaan, serts bangsa juga perlu di kaji untuk mengetahui adanya pemaparan bahan elergan. ( Nurarif dan Kusuma, 2015).
2.2.1.2 Riwayat penyakit sekarang
Klien dengan serangan asthma datang mencari pertolongan dengan keluhan terutama sesak nafas yang hebat dan mendadak kemudian di ikuti dengan gejala-gejala lain yaitu: wheezing, penggunaaan alat bantu pernafasan, kelelahan, gangguan kesadaran, sianosis, serta perubahan tekanan darah. perlu juga di kaji kondisi awal terjadinya serangan ( Nurarif dan Kusuma, 2015).
2.2.1.3 Riwayat penyakit dahulu
Penyakit yang pernah diderita pada masa-masa dahulu seperti adanya infeksi saluran napas atas, sakit tenggorokan, amandel, sinusitis, dan polip hidung. Riwayat serangan asthma, frekuensi, waktu, dan alergen-alergen dicurigai sebagai pencetus serangan, serta riwayat pengobatan yang dilakukan untuk meringankan gejala asthma ( Nurarif dan Kusuma, 2015)..
1) Riwayat kesehatan keluarga
Pada klien asma perlu di kaji tentang riwayat penyakit asthma atau penyakit alergi yang lain pada anggota keluarganya karena hipersensitifitas pada penyakit asthma ini lebih di tentukan oleh faktor genetik.
19
2) Riwayat psikososial
Gangguan emosional sering di pandang sebagai salah satu pencetus bagi serangan asthma, baik gangguan itu berasal dari rumah tangga, lingkungan sekitar samapai lingkungan kerja.
seorang yang mempunya beban hidup yang lebih berat berpotensial terjadi serangan asthma. Yatim piatu, ketidakharmonisan hubungan dengan orang lain sampai ketakutan tidak bias menjalankan peran seperti semula.
2.2.2.1 Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan Fisik secara head to toe / per system wajib dilakukan meskipun tidak ada keluhan yang berarti agar mengantisipasi penyakit degenerative (Azizah, 2010).
1) Umum
Pada penderita Asma biasanya tampak lemah, tidak terjadi demam, tidak mengalami keringat malam, kesulitan dalam tidurnya (Wijaya dan Putri, 2014)
2) Integumen
Pada penderita Asma biasanya kulit tampak pucat dan tidak terjadi priuritas (Nurarif & Kusuma, 2015). Secara khusus perubahan pada kulit lansia yang terjadi karena proses penuaan adalah kulit menjadi kendur dan kriput dan Secara khusus perubahan pada rambut lansia yang terjadi karena proses penuaan adalah kulit kepala dan rambut menipis serta berwarna kelabu atau putih (Udjianti, 2011).
3) Hemopoietik
Penderita dengan Asma biasanya tidak mengalami perdarahan, tidak mengalami pembengkakan kelenjar limfa, dan tidak mengalami anemia
4) Kepala
Pada penderita Asma biasanya mengalami sakit kepala dan tidak mengalami pusing. Pada lansia umumnya rambut nampak beruban, bentuk kepalanya simetris (Nurarif &
Kusuma, 2015) 5) Mata
Pada penderita Asma biasanya tidak mengalami perubahan yang spesifik pada mata tidak mengalami nyeri, tidak terjadi bengkak pada sekitar mata, tidak terjadi Diplopia.
Pada lansia umumnya mengalami perubahan penglihatan (Nurarif & Wijaya, 2015)
6) Telinga
Pada penderita Asma biasanya tidak mengalami perubahan yang spesifik telinga tidak mengalami tidak mengalami titinus tidak mengalami infeksi. Pada lansia umumnya mengalami perubahan pendengaran, dan lansia biasanya mengalami vertigo (Nurarif dan Wijaya, 2015)
21
7) Hidung
Pada penderita Asma biasanya mengalami cuping hidung, mengalami obstruksi, tidak terjadi rinorea (pilek),tidak terjadi rabas, tidak terjadi epitaksis, tidak mendengkur, tidak terjadi nyeri, tidak memiliki alergi, dan tidak ada riwayat infeksi (Nurarif & Wijaya, 2015)
8) Mulut dan Tenggorokan
Pada penderita Asma biasanya mengalami sianosis, tidak mengalami sakit pada tenggorokan, tidak megalami lesi atau ulkus, tidak mengalami kesulitan menelan, dan tidak ada riwayat infeksi (Nurarif & Wijaya, 2015). Pada lansia umumnya mengalami perubahan suara (Azizah, 2010).
9) Leher
Pada penderita Asma tidak mengalami pembesaran kelenjar getah bening, tidak mengalami pembesaran kelenjar tiroid (Nurarif & Wijaya, 2015). Pada sebagian lansia umumnya tidak terdapat kekakuan, tidak terdapat nyeri tekan, tidak ada benjolan, dan tidak ada keterbatasan gerak (Azizah, 2010).
10) Payudara
Pada sebagian lansia terutama wanita biasanya terjadi perubahan pada puting susu (Azizah, 2010).
11) Pernafasan
Pada lansia asma terdapat sesak nafas, terkadang di ikuti dengan batuk, mengi serta terdapat alergi pada pernafasan biasanya pernafasannya cepat atau disebut juga dengan tachypnew.
12) Kardiovaskuler
Pada penderita Asma organ jantung tidak mengalami nyeri, tidak mengalami sesak nafas, tidak mengalami dispnea , tidak mengalami ortopnea, tidak ada bunyi murmur, tidak mengalami edema (Nurarif & Kusuma, 2015).
13) Gastro Intestinal
Pada Gastrointestinal penderita Asma biasanya tidak mengalami distensi abdomen, tidak mengalami nyeri, tidak mengalami kesulitan menelan, tidak terjadi mual/muntah, tidak terjadi Hematemesis, tidak mengalami ikterik (membran kulit kuning) tidak ada benjolan/ massa, tidak mengalami diare, tidak mengalami konstipasi (Nurarif & Kusuma, 2015).
14) Perkemihan
Pada penderita Asma sistem perkemihannya tidak mengalami gangguan seperti tidak terjadi peningkatan urin, tidak terjadi nyeri saat berkemih, tidak berdarah saat berkemih (Nurarif &
Kusuma, 2015). Secara khusus perubahan sistem perkemihan pada lansia yang terjadi yaitu tidak bisa menahan urin atau mengalami inkontenensia urine.
15) Genito Reproduksi Wanita
23
Pada penderita Asma sistem Geneto reproduksi tidak mengalami gangguan seperti tidak terjadi luka, rabas, perdarahan pasca senggam, infeksi dan tidak terjadi nyeri pelvic (Nurarif & Kusuma, 2015).
16) Muskuloskeletal
Pada penderita Asma biasanya terjadi penurunan dalam melakukan aktivitas dan tidak mengalami pembengkakan pada sendi pelvic (Nurarif & Kusuma, 2015). Secara khusus perubahan sistem muskuluskeletal persendian mengalami kekakuan dan nyeri, otot akan mengalami kelemahan sehinggan kesulitan untuk berdiri dan berjalan (Muhith, 2016).
17) Sistem Saraf Pusat
Pada lansia asma umumnya tidak mengalami gangguan seperti sakit kepala, tidak mengalami kejang, tidak mengalami serangan jantung, tidak mengalami masalah koordinasi, tidak mengalami cedera kepala, tidak mengalami masalah memori (Nurarif & Kusuma, 2015).
18) Sistem Endokrin
Perubahan lansia pada system endokrin tidak ditemukan data goiter, polifagia, polidipsi, dan poliuria ( Yusuf, M . 2018) 2.2.2 Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan merupakan suatu penilaian klinis mengenai respon klien terhadap masalah kesehatan yang dialami baik secara aktual maupun potensial. Diagnosa keperawatan bertujuan untuk dapat
menguraikan berbagai respon klien baik individu, keluarga dan komunitas terhadap situasi yang berkaitan dengan kesehatan (PPNI, 2016). Adapun diagnosa yang diangkat dalam penelitian ini adalah Kurang Pengetahuan Berhubungan dengan : keterbatasan kognitif, interpretasi terhadap informasi yang salah, kurangnya keinginan untuk mencari informasi, tidak mengetahui sumber-sumber informasi (Herdman, 2015)
Menurut diagnosis keperawatan Nanda (2015),
diagnosa keperawatan yang dapat diambil pada pasien dengan asma adalah :
2.2.2.1 Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan mucus dalam jumlah berlebihan, peningkatan produksi mucus, eksudat dalam alveoli dan bronkospasme
2.2.2.2 Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan keletihan otot pernafasan dan deformitas dinding dada
2.2.2.3 Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan retensi kardondioksida 2.2.2.4 Penurunan curah jantung berhubungan dengan kontakbilitas dan volume
sekuncup jantung
2.2.2.5 Intoleransi aktivitas berhubungan dengan antara suplai dan kebutuhan oksigen (hipoksia) kelemahan
2.2.2.6 Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan laju metabolic, dispnea saat makan, kelemahan otot mengunyah 2.2.2.7 Ansietas berhubungan dengan penyakit yang diderita
25