BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Pembahasan
4.2.10 Pengujian karakteristik hidrasi semen (XRD)
Kristal suatu mineral dalam mortar dapat diketahui dengan melakukan pengujian XRD, hasil karakteristik menggunakan XRD menunjukkan puncak - puncak yang dominan yang mencirikan bidang senyawa yang terbentuk maka dari itu diperlukannya pengujian XRD pada mortar dengan penambahan material nano.
- portlindate - ettringite
- calcium carbonate - calcium silicate hydrate - calcium aluminosilicate hydrate - quartz
Gambar 4. 4 Hasil XRD
Berdasarkan pengujian karakteristik hidrasi semen yang dilakukan pada pengujian XRD untuk melihat nilai intensity dan peaks terhadap mortar kontrol dan mortar variasi CNT dan GO, untuk mortar dengan kadar CNT 0,01% dan variasi GO 0,01%, 0,02%, 0,03%, 0,04% dan 0,05%. Pada setiap variasi memiliki beberapa kandungan seperti ettringite, portlindate, calcium carbonate, calcium aluminosilicate hydrate, calcium silicate hydrate, quartz.
Dimana ettringite senyawa dengan rumus kimia Ca6 Al2 (SO4)3 (OH)12 . 26H2O yang terbentuk pada tahap awal hidrasi semen Portland ketika tricalcium aluminate (C3A) dalam semen bereaksi dengan (CaSO4 .2H2O) reaksi ini terjadi sangat cepat pada tahap awal hidrasi.
Portlindate senyawa dengan rumus kimia Ca(OH)2, terbentuk selama hidrasi tricalcium aluminate (C3A) dan dicalcium silicate (C2S) dalam semen Portland. Reaksi hidrasi ini menghasilkan kalsium hidroksida dan kalsium silikat hidrat (C-S-H).
Calcium carbonate senyawa dengan rumus kimia CaCO3 biasanya senyawa tersebut bereaksi dengan portlandite yang membuat hidrasi semen lebih baik.
Calcium aluminosilicate hydrate (C-A-S-H) adalah produk hidrat yang terbentuk dari reaksi antara kalsium, alumina, dan silika dalam sistem mortar semen. C-A-S-H mirip dengan calcium silicate hydrate (C-S-H), merupakan produk utama yang memberikan kekuatan pada beton tetapi mengandung alumina.
C-A-S-H biasanya terbentuk dalam beton yang mengandung bahan pozzolan seperti fly ash dimana senyawa ini terbentuk dari portlindate dan aluminosilicate.
Calcium silicate hydrate (C-S-H) terbentuk selama reaksi hidrasi semen Portland terutama dari tricalcium aluminate (C3A) dan dicalcium silicate (C2S) reaksi ini menghasilkan kalsium silikat hidrat (C-S-H) dan portlindate Ca(OH)2.
Quartz adalah mineral yang sangat luas persebarannya dengan komposisi kimia SiO2 biasa ditemukan pada senyawa fly ash.
Pada hasil XRD diatas terlihat bahwa pembentukan fasa kristalisi kompleks tejadi pada variasi 0,03% GO dengan reaksi calcium silicate hydrate (C-S-H) pada intensitas 505, 210 dan 770 dengan 2θ (29,5º), (32,0º) dan (35,0º), sedangkan untuk portlindite Ca(OH)2 pada intensitas 90, 770, 85, 70, dan 335 dengan nilai
pada 2θ (18,1º), (34,1º), (47,1º), (50,8º) dan (54,35º), untuk ettringite Ca6 Al2 (SO4)3 (OH)12 . 26H2O pada intensitas 118, 95 dan 67 dengan 2θ (22,92º), (24,24º) dan (31,58º), pada calcium carbonate dengan senyawa CaCO3 memiliki intensitas 744, 1000, 505, 309 dan 105 dengan 2θ (26,5º), (28,1º), (29,4º), (39,34º) dan (43,9º), dimana untuk Calcium aluminosilicate hydrate (C-A-S-H) pada intensitas 1000 dan 309 dimana keterangan 2θ (27,9º) dan (39,4º) dan terakhir adalah quartz dengan senyawa SiO2 dengan intensitas 745, 325, 749, dan 234 dengan 2θ (26,5º), (60,0º), (67,60º) dan (71,80º). Dari hasil tersebut didapatkan pembentukan hidrasi semen yang baik pada variasi GO 0,03% dapat membantu pembentukan senyawa C-S-H yang baik dengan penggunaan nano material berupa CNT dan GO yang berguna sebagai pendukung reaksi ikatan senyawa pada pembentukan mortar semen dengan high volume fly ash.
60 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Penggunaan CNT dan GO meningkatkan kuat tekan mortar HVFA pada setiap variasi, kadar optimum 0,03% GO mengalami peningkatan signifikan sebesar 15,4% terhadap mortar kontrol, terlebih penggunaan HVFA yang menurunkan kuat tekan awal namun dengan penambahan material nano tersebut terlihat pada setiap variasi GO diumur 3 hari meningkat sebesar 5,67% terhadap mortar kontrol HVFA.
2. Pada pengujian XRD setiap variasi memliki fasa kristalisasi pada peaks yang muncul, seperti senyawa berupa C-S-H, C-A-S-H, quartz, portlindate, calcium carbonate, dan ettringite. Pada variasi optimum CNT 0,01% dan 0,03% GO memiliki pembentukan fasa kristalisasi kompleks, terlihat pada puncak dengan intesitas tertinggi dibandingkan dengan variasi mortar lainnya.
5.2 Saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat diberikan beberapa saran yang bertujuan untuk pertimbangan penelitian selanjutnya yaitu sebagai berikut:
1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap penggunaan GO dan CNT terhadap mortar beton HVFA dengan menggunakan metode eksperimental, perencanaan mix design, pembuatan benda uji, persentase penambahan bahan dan pengujian yang berbeda.
2. Disarankan untuk melakukan studi lebih mendalam tentang interaksi kimia antara CNT, GO dan komponen lain dalam mortar untuk memahami mekanisme peningkatan performa yang lebih rinci.
Dengan mengikuti saran-saran tersebut, diharapkan penelitian selanjutnya dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang pengaruh CNT dan GO
pada campuran mortar beton dan memperbaiki metodologi serta kualitas pengujian yang dilakukan.
62
DAFTAR PUSTAKA
A, Arman. (2018). Kajian Kuat Tekan Beton Normal Menggunakan Standar Sni 7656-2012 DAN ASTM C 136-06. Rang Teknik Journal, 1(2).
Https://Doi.Org/10.31869/Rtj.V1i2.760
Adi, R. Y. (2009). Kuat Tekan Mortar Dengan Berbagai Campuran Penyusun Dan Umur. Media Komunikasi Teknik Sipil, 1.
Ahmaruzzaman, M. (2010). A Review On The Utilization Of Fly Ash. Progress In Energy And Combustion Science.
Ando, Y., Zhao, X., Shimoyama, H., Sakai, G., & Kaneto, K. (1999). Physical Properties Of Multiwalled Carbon Nanotubes. International Journal Of Inorganic Materials, 1(1), 77–82. Https://Doi.Org/10.1016/S1463- 0176(99)00012-5
Balandin, A. A. (2011). Thermal Properties Of Graphene, Carbon Nanotubes And Nanostructured Carbon Materials.
Ballim, Y., & Reid, J. C. (2003). Reinforcement Corrosion And The Deflection Of RC Beams––An Experimental Critique Of Current Test Methods. Cement And Concrete Composites, 25(6), 625–632. Https://Doi.Org/10.1016/S0958- 9465(02)00076-8
Bienia, J., Walczak, M., Surowska, B., & Sobczak, J. (2003). Microstructure And Corrosion Behaviour Of Aluminum Fly Ash Composites.
Budh, C. D., & Warhade, N. R. (2014). Effect Of Molarity On Compressive Strength Of Geopolymer Mortar.
Cao, C., Daly, M., Singh, C. V., Sun, Y., & Filleter, T. (2015). High Strength Measurement Of Monolayer Graphene Oxide. Carbon, 81, 497–504.
Https://Doi.Org/10.1016/J.Carbon.2014.09.082 Civil_Engineering_Materials.Pdf. (N.D.).
Dai, H. (2002). Carbon Nanotubes: Opportunities And Challenges. Surface Science.
Daryanto. (1994). Pengetahuan Teknik Bangunan (2nd Ed.). Jakarta : PT.Rineka Cipta, 1994. Https://Opac.Perpusnas.Go.Id/Detailopac.Aspx?Id=720675#
De Rojas, M. I. S., & Frías, M. (1996). The Pozzolanic Activity Of Different Materials, Its Influence On The Hydration Heat In Mortars. Cement And Concrete Research, 26(2), 203–213. Https://Doi.Org/10.1016/0008- 8846(95)00200-6
Endawati, J. (N.D.). Pengaruh Panas Hidrasi Beton Dengan Semen Type Ii Terhadap Ketebalan Elemen Beton.
Ervianto, Moh., Saleh, F., & Prayuda, H. (2016). Kuat Tekan Beton Mutu Tinggi Menggunakan Bahan Tambah Abut Terbang (Fly Ash) Dan Zat Adiktif (Bestmittel).Sinergi,20(3),199.
Https://Doi.Org/10.22441/Sinergi.2016.3.005
Ganesh, E. N. (2020). Single Walled And Multi Walled Carbon Nanotube Structure and GO, Synthesis And Applications with fly ash. 2(4).
Herullah, (2018). Analisa Pengaruh Penambahan Variasi Bubuk Andesit Terhadap Karakteristik Kuat Tekan Mortar.
Lado, Y., Utomo, S., & Hunggurami, E. (2018). Uji Kuat Tekan Beton Dan Mortar Menggunakan Pasir Kali Noeleke. Jurnal Teknik Sipil, 1.
Lv, S., Zhang, J., Zhu, L., Jia, C., & Luo, X. (2017). Preparation Of Regular Cement Hydration Crystals And Ordered Microstructures By Doping GON And An Investigation Into Its Compressive And Flexural Strengths. Crystals, 7(6), 165. Https://Doi.Org/10.3390/Cryst7060165
Mintmire, J. W., Dunlap, B. I., & White, C. T. (1992). Are Fullerene Tubules Metallic?Phys.Rev.Lett.,68(5),631–634.
Https://Doi.Org/10.1103/Physrevlett.68.631
Morsy, M. S., Alsayed, S. H., & Aqel, M. (2011). Hybrid Effect Of Carbon Nanotube And Nano-Clay On Physico-Mechanical Properties Of Cement Mortar. Construction And Building Materials.
Naibaho & Rahman, 2020. Efek Penambahan Fly Ash Tipe C Terhadap Kuat Tekan Mortar
Nie, L. (N.D.). Temperature Responsive Hydrogel For Cells Encapsulation Based OnGrapheneOxide Reinforced Poly(N- Isopropylacrylamide)/Hydroxyethyl- Chitosan.
Novoselov, K. S., Geim, A. K., Morozov, S. V., Jiang, D., Zhang, Y., Dubonos, S.
V., Grigorieva, I. V., & Firsov, A. A. (2004). Electric Field Effect In Atomically Thin Carbon Films. Science, 306(5696), 666–669.
Https://Doi.Org/10.1126/Science.1102896
Novoselov, K. S., Jiang, Z., Zhang, Y., Morozov, S. V., Stormer, H. L., Zeitler, U., Maan, J. C., Boebinger, G. S., Kim, P., & Geim, A. K. (2007). Room- Temperature Quantum Hall Effect In Graphene. Science, 315(5817), 1379–
1379. Https://Doi.Org/10.1126/Science.1137201
Putri, M. A. (N.D.). Studi Eksperimental Ketahanan Mortar Yang Menggunakan Bottom Ash Dan Fly Ash Sebagai Pengganti Pasir Terhadap Penetrasi Klorida.
Rafitasari, Y., Suhendar, H., Imani, N., Luciana, F., Radean, H., & Santoso, I.
(2016). Sintesis Graphene Oxide Dan Reduced Graphene Oxide.
Singh, P., Campidelli, S., Giordani, S., Bonifazi, D., Bianco, A., & Prato, M.
(2009). Organic Functionalisation And Characterisation Of Single-Walled Carbon Nanotubes. Chemical Society Reviews, 38(8), 2214.
Https://Doi.Org/10.1039/B518111a
Siregar, A. H. (2008). Pemanfaatan Pasir Pantai Sepempang Dan Batu Pecah Asal Ranai Sebagai Bahan Pembuatan Beton Normal.
Song, C., Hong, G., & Choi, S. (2020). Effect Of Dispersibility Of Carbon Nanotubes By Silica Fume On Material Properties Of Cement Mortars:
Hydration, Pore Structure, Mechanical Properties, Self-Desiccation, And Autogenous Shrinkage. Construction And Building Materials, 265, 120318.
Https://Doi.Org/10.1016/J.Conbuildmat.2020.120318
Stankovich, S., Dikin, D. A., Piner, R. D., Kohlhaas, K. A., Kleinhammes, A., Jia, Y., Wu, Y., Nguyen, S. T., & Ruoff, R. S. (2007). Synthesis Of Graphene- Based Nanosheets Via Chemical Reduction Of Exfoliated Graphite Oxide.
Vidivelli, D. B., & Ashwini, B. (2018). A Study On Carbon Nanotube (Cnt) In Concrete. 05(07).
Xu, Z., Wei, C., Gong, Y., Chen, Z., Yang, D., Su, H., & Liu, T. (2017). Efficient Dispersion Of Carbon Nanotube By Synergistic Effects Of Sisal Cellulose
Nano-Fiber And Graphene Oxide. Composite Interfaces, 24(3), 291–305.
Https://Doi.Org/10.1080/09276440.2016.1227655
Zhou, C. (2017). Enhanced Mechanical Properties Of Cement Paste By Hybrid Graphene Oxide/Carbon Nanotubes. Construction And Building Materials.
Zuraidah, S., & Hastono, B. (2018a). Pengaruh Variasi Komposisi Campuran Mortar Terhadap Kuat Tekan. Ge-STRAM: Jurnal Perencanaan Dan Rekayasa Sipil, 1(1), 8–13. Https://Doi.Org/10.25139/Jprs.V1i1.801
66
LAMPIRAN A PERHITUNGAN
A.1 Pengujian berat jenis semen
Setelah melakukan pengujian berat jenis semen, dengan perhitungan menggunakan rumus persamaan dibawah maka diperoleh nilai sebagai berikut:
Sampel 1
Berat semen (Bs) = 64 gr
Pembacaan volume awal minyak (V1) = 0,4 cm3 Pembacaan volume akhir minyak (V2) = 21 cm3 Berat volume air pada suhu pada suhu 23ºC (γd) =0,996 gr/cm3 Berat jenis semen (BJs)
= ( 2 1)γd
= 64
(21 0,4) 0,996
=
Adapun data - data yang didapatkan dari pengujian berat jenis semen seperti yang diperlihatkan pada Tabel A.1.
Tabel A.1 Pemeriksaan berat jenis semen
Sampel
Berat Semen
(gr)
Pembacaan Skala awal (V1) cm
Pembacaan Skala akhir (V2) cm
Berat isi Air γd (gr/cm3)
ΔV
Berat Jenis Semen
1 64 0,4 21 0,996 20,6 3,094
2 64 0,5 22 0,996 21,5 2,965
3 64 0,6 21 0,996 20,4 3,125
Rata-rata 3,061
A.2 Pengujian berat jenis dan penyerapan air agregat halus
Setelah melakukan pengujian berat jenis dan penyerapan air agregat halus pasir, dengan perhitungan menggunakan persamaan dibawah maka diperoleh nilai sebagai berikut:
Sampel 1
Berat benda uji jenuh kering oven (W1) = 493,3 gr Berat piknometer + air + plat kaca (W2) = 2005 gr Berat piknometer + air + benda uji + plat kaca (W3) = 2315 gr Berat benda uji kering permukaan (W4) = 500 gr Berat volume air pada suhu 29ºC (γd) = 0,996 gr/cm3 Berat jenis curah, kering oven (bulk specific gravity OD)
B (OD) = (W2 W4 W3)γd
= 493,3
(2005 500 2315)
=
Berat jenis curah, jenuh kering permukaan (bulk specific gravity SSD) B (SSD) =
(W2 W4 W3)γd
=
(2005 500 2315)
=
Berat jenis semu (apparent specific gravity) B (A ) =
(W2 W1 W3)γd
=
(2005 2315)
=
Penyerapan air (water absorption) =
W1
=
493,3 =
Adapun data - data yang didapatkan dari pengujian berat jenis dan penyerapan air agregat halus seperti yang diperlihatkan pada Tabel A.2.
Tabel A.2 Pemeriksaan berat jenis dan penyerapan air agregat halus
No Berat Notasi Sampel
I II III
1 Berat uji kering oven W1 493,3 493 489,7
2 Berat Piknometer + air + plat kaca W2 2005 2005 2005 3 Berat Piknometer + air + plat kaca +
benda uji W3 2315 2315 2315
4 Berat uji kering permukaan jenuh W4 500 500 500 5 Berat volume air (gr/cm3) yd 0,996 0,996 0,996 6 Berat jenis benda uji pada keadaan
kering oven OD 2,61 2,61 2,59
Rata – rata 2,60
7 Berat jenis benda uji pada keadaan
jenuh kering permukaan SSD 2,64 2,64 2,64
Rata – rata 2,64
8 Berat jenis benda uji keadaan semu APP 2,70 2,70 2,74 2,71
9 Penyerapan air Wa 1,36 1,42 2,10
Rata - rata 1,63
A.3 Pengujian kadar air agregat halus
Setelah melakukan pengujian kadar air agregat halus pasir, dengan perhitungan menggunakan persamaan dibawah maka diperoleh nilai sebagai berikut:
Sampel 1
Berat cawan (W1) = 175 gr
Berat benda uji awal + cawan (W2) = 2675 gr Berat benda uji kering oven + cawan (W4) = 2580 gr
Berat agregat (W3) = W2-W1
= 2675 – 175
= 2500 gr Berat benda uji kering (W5) = W4 - W1
= 2580 – 175
= 2405 gr Kadar air agregat halus = W3 W5
W
= 2500 2405
2405
= 4,0%
Adapun data - data yang didapatkan dari pengujian kadar air agregat halus seperti yang diperlihatkan pada Tabel A.3.
Tabel A.3 Pemeriksaan kadar air agregat halus
Sampel
Berat Cawan
(gr)
Berat Cawan + Agregat
(gr)
Berat Agregat
(gr)
Berat Cawan + Agregat (Oven) (gr)
Kadar Air (%)
I 175 2675 2500 2580 4,0
II 165 2665 2500 2575 3,7
III 170 2670 2500 2590 3,3
Kadar Air Agregat Halus 3,7
A.4 Pengujian berat volume gembur agregat halus
Setelah melakukan pengujian berat volume gembur agregat halus pasir, dengan perhitungan menggunakan persamaan dibawah maka diperoleh nilai sebagai berikut:
Sampel I
Berat plat kaca (W1) = 2195 gr
Berat silinder (W2) = 4095 gr
Berat silinder + air + plat kaca (W3) = 9305 gr Berat air = volume air = volume silinder (W4) = 3015 cm3
Berat silinder + benda uji (gr) (W5) = 8570 gr Perhitungan Volume Air W4 = (W3 – (W1 + W2))
= (9305 – (2195 + 4095))
= 3015 cm3 =W5 W2
W4
= 8570 4095
3015
= 1,484 gr/cm3
Adapun data - data yang didapatkan dari pengujian berat volume gembur agregat halus seperti yang diperlihatkan pada Tabel A.4.
Tabel A.4 Pemeriksaan berat volume gembur agregat halus
Sampel
Berat
Volume Air W4 (gr)
Berat Volume Gembur (gr/cm3) Plat
Kaca W1
Silinder W2 (gr)
Silinder + air + Plat kaca
W3 (gr)
Silinder + Agregat W5 (gr)
Agregat (gr)
I 2195 4095 9305 8570 4475 3015 1,484
II 2195 4095 9305 8560 4465 3015 1,481
III 2195 4095 9305 8540 4445 3015 1,474
Berat Volume Gembur Agregat Halus 1,480
A.5 Pengujian berat volume padat agregat halus
Setelah melakukan pengujian berat volume padat agregat halus pasir, dengan perhitungan menggunakan persamaan dibawah maka diperoleh nilai sebagai berikut:
Sampel I
Berat plat kaca (W1) = 2195 gr
Berat silinder (W2) = 4095 gr
Berat silinder + air + plat kaca (W3) = 9305 gr Berat air = volume air = volume silinder (W4) = 3015 cm3
Berat silinder + benda uji (gr) (W5) = 8685 gr Perhitungan Volume Air W4 = (W3 – (W1 + W2))
= (9305 – (2195 + 4095))
= 3015 cm3 =W5 W2
W4
= 8685 4095
3015
= 1,522 gr/cm3
Adapun data - data yang didapatkan dari pengujian berat volume padat agregat halus seperti yang diperlihatkan pada Tabel A.5.
Tabel A.5 Pemeriksaan berat volume padat agregat halus
Sampel
Berat
Volume Air W4 (gr)
Berat Volume
Padat (gr/cm3) Plat
Kaca W1
Silinder W2 (gr)
Silinder + air + Plat kaca
W3 (gr)
Silinder + Agregat W5 (gr)
Agregat (gr)
I 2195 4095 9305 8685 4590 3015 1,522
II 2195 4095 9305 8670 4575 3015 1,517
III 2195 4095 9305 8660 4565 3015 1,514
Berat Volume Padat Agregat Halus 1,518
A.6 Pengujian analisa saringan dan modulus halus butir
Perhitungan analisa saringan agregat halus menggunakan persamaan dibawah maka diperoleh nilai sebagai berikut:
Sampel I pada saringan no 16 (1,18 mm):
Berat agregat tertahan = berat saringan berisi agregat – berat saringan
= 417,3 – 389,7
= 27,6 gr
ersentase tertahan = Berat tertahan
jumlah berat tertahan
=
1000 = 2,76 %
ersentase =
100
=
100
= 97,24 %
= 100
= 100
= 2,67
Adapun data - data yang didapatkan dari pengujian analisa saringan untuk sampel I seperti yang diperlihatkan pada Tabel A.6 serta grafik yang diperlihatkan pada Gambar A.1.
Tabel A.6 Pemeriksaan analisis saringan agregat halus sampel I
Saringan (mm)
Berat saringan
(gr
Berat Saringan + agregat
(gr)
Berat material
(gr)
% Tertahan
% Tertinggal
kumulatif
% Lolos kumulatif
4,75 415,3 415,4 0,10 0,01 0,01 99,99
2,36 397,5 403,6 6,10 0,61 0,62 99,38
1,18 389,7 417,3 27,60 2,76 3,38 96,62
0,6 380,3 497,2 116,90 11,69 15,07 84,93
0,3 376,6 819,2 442,60 44,26 59,33 40,67
0,15 363,7 669,1 305,40 30,54 89,87 10,13
0,075 382,5 465 82,50 8,25 98,12 1,88
Pan 328,8 347,6 18,80 1,88 100,00 0,00
Jumlah 1000,00 100,00 266,40 433,60
Gambar A.1 Grafik analisis saringan agregat halus sampel I
Adapun data-data yang didapatkan dari pengujian analisa saringan untuk sampel II seperti yang diperlihatkan pada Tabel A.7 serta grafik yang diperlihatkan pada Gambar A.2.
Tabel A.7 Pemeriksaan analisis saringan agregat halus sampel II
Saringan (mm)
Berat saringan
(gr
Berat Saringan + agregat
(gr)
Berat material
(gr)
% Tertahan
% Tertinggal
kumulatif
% Lolos kumulatif
4,75 415,3 415,4 0,10 0,01 0,01 99,99
2,36 397,5 403,6 6,10 0,61 0,62 99,38
1,18 389,7 417,3 27,60 2,76 3,38 96,62
0,6 380,3 497,2 116,90 11,69 15,07 84,93
0,3 376,6 819,2 442,60 44,26 59,33 40,67
0,15 363,7 669,1 305,40 30,54 89,87 10,13
0,075 382,5 465 82,50 8,25 98,12 1,88
Pan 328,8 347,6 18,80 1,88 100,00 0,00
Jumlah 1000,00 100,00 266,40 433,60
99,99 99,38
96,62 84,93
40,67
10,13 1,88
0,00
100 100
100 90
59
30
10
100 90
75
55
35
8 0 0
10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
4,75 2,36
1,18 0,6
0,3 0,15
0,075 Pan
Lolos Kumulatif (%)
No. Saringan (mm) Gradasi
Batas Atas Batas Bawah
Gambar A.2 Grafik analisis saringan agregat halus sampel II
Adapun data-data yang didapatkan dari pengujian analisa saringan untuk sampel II seperti yang diperlihatkan pada Tabel A.8 serta grafik yang diperlihatkan pada Gambar A.3.
Tabel A.8 Pemeriksaan analisis saringan agregat halus sampel III Saringan
(mm)
Berat saringan
(gr
Berat Saringan + agregat
(gr)
Berat material
(gr)
% Tertahan
% Tertinggal
kumulatif
% Lolos kumulatif
4,75 415,3 415,4 0,10 0,01 0,01 99,99
2,36 397,5 403,5 6,00 0,60 0,61 99,39
1,18 389,7 419,8 30,10 3,01 3,62 96,38
0,6 380,3 496,2 115,90 11,59 15,21 84,79
0,3 376,6 820,1 443,50 44,35 59,56 40,44
0,15 363,7 666,5 302,80 30,28 89,84 10,16
0,075 382,5 466,8 84,30 8,43 98,27 1,73
Pan 328,8 346,1 17,30 1,73 100,00 0,00
Jumlah 1000,00 100,00 267,12 432,88
99,99 99,39
96,54 84,97
40,67
10,11 1,82
0,03
100 100
100 90
59
30
10
100 90
75
55
35
8 0 0
10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
4,75 2,36
1,18 0,6
0,3 0,15
0,075 Pan
Lolos Kumulatif (%)
No. Saringan (mm) Series1
Batas Atas Batas Bawah
Gambar A.3 Grafik analisis saringan agregat halus sampel III
Adapun data-data yang didapatkan dari pengujian analisa saringan untuk sampel II seperti yang diperlihatkan pada Tabel A.9 serta grafik yang diperlihatkan pada Gambar A.4.
Tabel A.9 Pemeriksaan analisis saringan agregat halus sampel gabungan Saringan
(mm)
Rata – rata
Berat tertahan % Tertahan % Tertinggal kumulatif
% Lolos kumulatif
4,75 0,10 0,01 0,01 99,99
2,36 6,03 0,60 0,61 99,39
1,18 28,73 2,87 3,49 96,51
0,6 116,17 11,62 15,10 84,90
0,3 443,03 44,30 59,41 40,59
0,15 304,60 30,46 89,87 10,13
0,08 83,23 8,32 98,19 1,81
Pan 18,10 1,81 100,00 0,00
Jumlah 1000,00 100,00 266,68 433,32
MHB 2,67 4,33
99,99 99,39
96,38 84,79
40,44
10,16 1,73
0,02
100 100
100 90
59
30
10
100 90
75
55
35
8 0 0
10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
4,75 2,36
1,18 0,6
0,3 0,15
0,075 Pan
Lolos Kumulatif (%)
No. Saringan (mm) Series1
Batas Atas Batas Bawah
Gambar A.4 Grafik analisis saringan agregat halus sampel gabungan A.7 Perhitungan kuat tekan
Dibawah ini akan diuraikan perhitungan kuat tekan mortar beton.
Perhitungan kuat tekan mortar beton menggunakan persamaan (2.1) sebagai berikut:
Sampel 1 MFCG-3 (28 hari)
Maksimum pembebanan (P) = 69 KN = 69000 N Luas permukaan (A) = 50 mm x 50 mm = 2500 mm2
fc =
fc =
= 27,6 MPa
Adapun data - data yang didapatkan dari pengujian kuat tekan mortar beton seperti yang diperlihatkan pada Tabel A.10.
99,99 99,39
96,51 84,89
40,58
10,12 1,79
0,00
100 100
100 90
59
30
10
100 90
75
55
35
8 0 0
10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
4,75 2,36
1,18 0,6
0,3 0,15
0,08 Pan
Lolos Kumulatif (%)
No. Saringan (mm) Series1
Batas Atas Batas Bawah
Tabel A.10 Pemeriksaan kuat tekan mortar beton Nama
Sampel
Luas Penampang
(mm2)
P maks (KN)
P maks (N)
Umur Beton (hari)
f’c (MPa)
f’c Rata-rata
(MPa)
MF
2500 41 41000 3 16,4
15,2
2500 39 39000 3 15,6
2500 34 34000 3 13,6
2500 46 46000 7 18,4
18,9
2500 46 46000 7 18,4
2500 50 50000 7 20
2500 49 49000 28 19,6
22,7
2500 65 65000 28 26
2500 56 56000 28 22,4
MFCG 1
2500 43 43000 3 17,2
16,1
2500 37 37000 3 14,8
2500 41 41000 3 16,4
2500 51 51000 7 20,4
20,0
2500 49 49000 7 19,6
2500 50 50000 7 20
2500 67 67000 28 26,8
23,9
2500 57 57000 28 22,8
2500 55 55000 28 22
MFCG 2
2500 39 39000 3 15,6
16,8
2500 44 44000 3 17,6
2500 43 43000 3 17,2
2500 52 52000 7 20,8
20,9
2500 50 50000 7 20
2500 55 55000 7 22
Nama Sampel
Luas Penampang
(mm2)
P maks (KN)
P maks (N)
Umur Beton (hari)
f’c (MPa)
f’c Rata-rata
(MPa)
MFCG 2
2500 63 63000 28 25,2
25,0
2500 60 60000 28 24
2500 64 64000 28 25,6
MFCG 3
2500 49 49000 3 19,6
17,6
2500 43 43000 3 17,2
2500 40 40000 3 16
2500 54 54000 7 21,6
21,9
2500 59 59000 7 23,6
2500 51 51000 7 20,4
2500 69 69000 28 27,6
26,0
2500 63 63000 28 25,2
2500 63 63000 28 25,2
MFCG 4
2500 48 48000 3 19,2
17,3
2500 43 43000 3 17,2
2500 39 39000 3 15,6
2500 55 55000 7 22
21,5
2500 56 56000 7 22,4
2500 50 50000 7 20
2500 67 67000 28 26,8
25,7
2500 63 63000 28 25,2
2500 63 63000 28 25,2
MFCG 5
2500 39 39000 3 15,6
16,8
2500 41 41000 3 16,4
2500 46 46000 3 18,4
Nama Sampel
Luas Penampang
(mm2)
P maks (KN)
P maks (N)
Umur Beton (hari)
f’c (Mpa)
f’c Rata-rata
(MPa)
MFCG5
2500 52 52000 7 20,8
20,9
2500 56 56000 7 22,4
2500 49 49000 7 19,6
2500 63 63000 28 25,2
25,0
2500 58 58000 28 23,2
2500 66 66000 28 26,4
A.8 Hasil pengujian XRD
Dibawah ini akan diperlihatkan hasil pengujian XRD pada mortar beton HVFA sebagai berikut:
Gambar 4. 3 Hasil Uji XRD
80
LAMPIRAN B TABEL
Tabel B.1 Persentase kenaikan kuat tekan mortar beton
No Jenis Sampel
Variasi GO (%)
Hari Kuat Tekan (MPa)
Persentase peningkatan (%) Terhadap
MF
Setiap Sampel
1
MF 0 3 15,2 0 0
MFCG-1 0,01 3 16,1 5,92 5,92
MFCG-2 0,02 3 16,8 10,53 4,35
MFCG-3 0,03 3 17,6 15,79 4,76
MFCG-4 0,04 3 17,3 13,82 -1,70
MFCG-5 0,05 3 16,8 10,53 -2,89
2
MF 0 7 18,9 0 0
MFCG-1 0,01 7 20,00 5,82 5,82
MFCG-2 0,02 7 20,9 10,58 4,50
MFCG-3 0,03 7 21,9 15,87 4,78
MFCG-4 0,04 7 21,5 13,76 -1,83
MFCG-5 0,05 7 20,9 10,58 -2,79
3
MF 0 28 22,7 0 0
MFCG-1 0,01 28 23,9 5,29 5,29
MFCG-2 0,02 28 25,0 10,13 4,60
MFCG-3 0,03 28 26,0 14,54 4,00
MFCG-4 0,04 28 25,7 13,22 -1,15
MFCG-5 0,05 28 25,0 10,13 -2,72
81
LAMPIRAN C DOKUMENTASI
Gambar C.1 Pengujian sifat fisis agregat halus
Gambar C. 2 Penimbangan material nano dan SP
82
Gambar C. 3 Percampuran material nano dalam magnetic stirer
Gambar C. 4 Pengadukan mortar didalam mixer
Gambar C. 5 Pengukuran slump flow
Gambar C. 6 Pengcoran kedalam bekisting
Gambar C. 7 Proses penimbangan sampel
Gambar C. 8 Proses pengujian kuat tekan
85
LAMPIRAN D BIODATA MAHASISWA
1. Personal
Nama : Ash Shiddiq Mahmudy
Nim : 190110095
Bidang : Struktur
Tempat, tanggal lahir : Lhokseumawe, 11 Juni 2001
Alamat : Dusun Al-Muslem, Desa Paya Cut,
Kec. Peusangan, Kab. Bireuen, Provinsi Aceh No Hp/Telepon : 0896-0250-8695
Email : [email protected] 2. Orang Tua
Nama Ayah : Mahmud
Pekerjaan : Pensiunan
Umur : 62 Tahun
Alamat : Dusun Al-Muslem, Desa Paya Cut, Kec. Peusangan, Kab. Bireuen, Provinsi Aceh Nama Ibu : Yunidar Idianty
Pekerjaan : PNS
Umur : 55 Tahun
Alamat : Dusun Al-Muslem, Desa Paya Cut, Kec. Peusangan, Kab. Bireuen, Provinsi Aceh 3. Pendidikan Formal
Asal SLTA (Tahun) : SMAN 1 Bireuen (2016-2019) Asal SLTP (Tahun) : MTsN Matang Glp Dua (2013-2016) Asal SD (Tahun) : MIN 2 Bireuen (2007-2013)