• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengujian Validitas dan Reliabilitas 1. Pengujian Validitas Instrumen

BAB X

C. Pengujian Validitas dan Reliabilitas 1. Pengujian Validitas Instrumen

Pengujian validitas instrumen menurut ada tiga macam cara, yaitu :

a. Pengujian Validitas Konstruksi (Construct Validity)

Untuk menguji validitas konstruksi, maka dapat digunakan pendapat dari ahli (judgment experts). Dalam hal ini setelah instrumen di konstruksi tentang aspek-aspek yang akan diukur dengan berlandaskan teori tertentu, maka selanjutnya dikonsultasikan dengan para ahli. Para ahli diminta pendapatnya tentang instrumen yang telah disusun itu. Mungkin para ahli akan memberi pendapat: instrumen dapat digunakan tanpa perbaikan, ada perbaikan, dan mungkin dirombak total. Jumlah tenaga ahli yang digunakan minimal tiga orang dan umumnya mereka yang telah bergelar doctor sesuai dengan lingkup yang diteliti.

Metode Penelitian Bisnis dan Manajemen - Teori dan Aplikasi 157 Setelah pengujian konstruksi selesai dari ahli, maka diteruskan uji coba instrumen. Instrumen yang telah disetujui para ahli tersebut dicobakan pada sampel dari mana populasi diambil.

Jumlah yang digunakan sebagai anggota sampel sekitar 30 orang.

Setelah data didapat dan ditabulasikan, maka pengujian validitas konstruksi dilakukan dengan analisi faktor, yaitu dengan mengkorelasikan antar skor item instrumen. Untuk keperluan ini maka diperlukan bantuan komputer.

b. Pengujian Validitas Isi (Content Validity)

Untuk instrumen yang berbentuk test maka pengujian validitas isi dapat dilakukan dengan membandingkan antara isi instrumen dengan isi materi pelajaran yang telah diajarkan. Seorang dosen yang memberi ujian diluar pelajaran yang telah ditetapkan, berarti instrumen ujian tersebut tidak mempunyai validitas isi.

Untuk instrumen yang akan mengukur efektivitas pelaksanaan program, maka pengujian validitas isi dapat dilakukan dengan membandingkan antara isi instrumen dengan isi atau rancangan program yang telah ditetapkan.

Secara teknis pengujian validitas konstruksi dan validitas isi dapat dibantu dengan menggunakan kisi-kisi instrumen. Dalam kisi- kisi itu terdapat variabel yang diteliti, indikator sebagai tolak ukur, dan nomor butir (item) pertanyaan dan pernyataan yang telah dijabarkan dari indikator. Dengan kisi-kisi instrumen itu maka pengujian validitas dapat dilakukan dengan mudah dan sistematis.

Pada setiap instrumen baik test maupun nontest terdapat butir-butir (item) pertanyaan atau pernyataan. Untuk menguji validitas butir-butir instrumen lebih lanjut, maka setelah dikonsultasikan ahli maka selanjutnya diujicobakan, dan dianalisis dengan analisis item. Analisis item dilakukan dengan menghitung korelasi antara setiap skor butir instrumen dengan skor total, atau dengan mencari daya pembeda skor tipa item dari kelompok yang memberikan jawaban tinggi dan jawaban rendah. Jumlah kelompok yang tinggi diambil 27 % dan kelompok yang rendah juga 27 % dari sampel ujicoba.

c. Pengujian Validitas Eksternal

Validitas eksternal instrumen diuji dengan cara membandingkan (untuk mencari kesamaan) antara kriteria yang ada pada instrumen dengan fakta-fakta empiris yang telah terjadi di lapangan. Misalnya instrumen untuk mengukur kinerja sekelompok pegawai, maka kriteria kinerja pada instrumen itu dibandingkan dengan catatan-catatan dilapangan (empiris) tentang kriteria kinerja pegawai yang baik. Bila telah terdapat kesamaan antara kriteria dalam instrumen dengan fakta di lapangan, maka dapat

158 Metode Penelitian Bisnis dan Manajemen - Teori dan Aplikasi

dinyatakan instrumen tersebut mempunyai validasi eksternal yang tinggi.

Instrumen penelitian yang mempunyai validitas eksternal yang tinggi akan mengakibatkan hasil penelitian mempunyai validitas eksternal yang tinggi pula. Penelitian yang mempunyai validitas eksternal bila, hasil dalam penelitian dapat digenaralisasikan atau diterapkan pada sampel lain dalam populasi yang diteliti. Untuk meningkatkan validitas eksternal selain meningkatkan validitas eksternal instrumen, maka dapat dilakukan dengan memperbesar jumlah anggota sampel.

2. Pengujian Reliabilitas Instrumen

Pengujian reliabilitas dapat dilakukan secara eksternal maupun internal. Secara eksternal pengujian dapat dilakukan test-retest (stability), equivalen, dan gabungan keduanya. Secara internal reliabilitas instrumen dapat diuji dengan menganalisis konsistensi butir- butir yang ada pada instrumen dengan teknik tertentu.

a. Test-Retest

Instrumen penelitian yang reliabilitasnya diuji dengan test-retest dilakukan dengan cara mencobakan instrumen beberapa kali kepada responden. Jadi dalam hal ini instrumennya sama, respondennya sama, dan waktunya yang berbeda. Reliabilitas diukur dari koefisien korelasi antara percobaan pertama dengan yang berikutnya. Bila koefisien korelasi positif dan signifikan maka instrumen tersebut sudah dinyatakan reliable. Pengujian instrumen dengan cara ini sering juga disebut stability.

b. Pengujian reliabilitas dengan membuat dua instrumen yang equivalen

Instrumen yang equivalen adalah pernyataan yang secara bahasa berbeda, tetapi maksudnya sama. Sebagai contoh (untuk satu butir saja). Berapa tahun pengalaman anda kerja di lembaga ini? Pertanyaan tersebut equivalen dengan pertanyaan berikut. Tahun berapa anda mulai bekerja di lembaga ini?

Pengujian reliabilitas instrumen dengan cara ini cukup dilakukan sekali, tetapi instrumennya dua, pada responden yang sama, waktu sama, instrumen berbeda. Reliabilitas instrumen dihitung dengan cara mengkorelasikan antara data instrumen yang satu dengan data instrumen yang dijadikan equivalen. Bila korelasinya positif dan signifikan, maka instrumen dapat dinyatakan reliable.

c. Gabungan

Pengujian reliabilitas ini dilakukan dengan cara mencobakan dua instrumen yang equivalen itu beberapa kali, ke responden yang sama.

Metode Penelitian Bisnis dan Manajemen - Teori dan Aplikasi 159 Jadi cara ini merupakan gabungan cara pertama dan kedua. Reliabilitas instrumen dilakukan dengan mengkorelasikan dua instrumen yang equivalen pada pengujian pertama, setelah itu dikorelasikan pada pengujian kedua, dan selanjutnya dikorelasikan secara silang. Hal ini dapat digambarkan sebagai berikut.

Instrumen Equivalen

Pengujian r1

Ke I

r5

r3 r6 r4 Pengujian r2

Ke II

Gambar 10.1. Pengujian Reliabilitas Gabungan

Jadi dengan dua kali pengujian dalam waktu yang berbeda, akan dapat dianalisis enam koefisien reliabilitas. Bila keenam koefisien korelasi itu kesemuanya positif dan signifikan, maka dapat dinyatakan bahwa instrumen tersebut reliable.

d. Internal Consistency

pengujian reliabilitas instrumen dengan internal consistency, dilakukan dengan cara mencobakan instrumen cukup sekali saja, kemudian data yang diperolah dianalisis dengan teknik tertentu. Hasil analisis dapat digunakan untuk memprediksikan reliabilitas instrumen.

Pengujian instrumen dengan internal consistency, antara lain dapat dilakukan dengan teknik belah dua dari Spearman Brown, KR20, KR21 dan anova Hoyt.