II. RISALAH TEORI PEMBANGUNAN
3.3 Pengukuran Kinerja Entrepreneurships pada Tataran
digunakan untuk merefleksikan kinerja E. Sementara itu, survival, growth, profitability dan initial public offering seringkali diadopsi untuk mengukur kinerja entrepreneurial.
Secara simultan, aspek-aspek tersebut di atas juga dapat digunakan untuk mengukur E (Shane dkk., 2003 dikutip Hien, 2010).
Dalam konteks ini indikator E dapat dibagi kedalam 2 kelompok menurut unit analisis yang digunakan: (i) pada level individual yang diturunkan dari karakteristik individual seperti self-employment atau kepemilikan bisnis, dan (ii) pada level bisnis yang didasarkan pada catatan statistik perusahaan seperti laju entri-eksit dalam bisnis.
3.2 Pengukuran Faktor Entreprenuership pada Tataran Individu Ukuran pertama E pada tataran individual adalah banyaknya orang atau tingkat mempekerjakan diri sendiri (self-employment).
Dalam tataran ini E didefinisikan sebagai rasio jumlah self- employment terhadap angkatan kerja. Cara ini telah digunakan untuk membandingkan E antarnegara atau antarwilayah. Penggunaan yang meluas ukuran E pada level individu ini sebagian didorong oleh keserupaan definisi antarnegara (OECD, 2000).
Keuntungan utama penggunaan self-employment ini setidaknya dapat menangkap sebagian dari sejumlah orang yang telah melakukan aktivitas tahap awal dengan cara membuat pilihan pekerjaan untuk dirinya sendiri. Namun ada beberapa keterbatasannya di sini. Pertama, laju self-employment dapat dikendalikan oleh faktor-faktor lain yang mempengaruhi orang untuk pindah dari orang upahan ke self-employment ini; misalnya menjadi self-employment disebabkan oleh ketiadaan oportunitas pekerjaan, bukan karena memang pilihannya untuk menjadi self- employment. Kedua, ada masalah statistik dalam laju self- employment yang sangat dipengaruhi oleh struktur industri dan komposisi demografi tiap wilayah yurisdiksi (Hien, 2010).
Sejumlah alternatif indikator didasarkan pada perubahan dalam self-employment yaitu ukuran transisi. Ukuran yang paling mendasar adalah laju entri-eksit ke self-employment sebagaimana yang digunakan oleh OECD (2000). Indikator lain yang
mencerminkan dinamisnya pendekatan E adalah Total Entrepreneurial Activity (TEA) indeks yang dihitung oleh Global Entrepreneurship Monitor (GEM). Ukuran ini ditentukan oleh pangsa populasi dewasa yang terlibat dalam penciptaan enterprise dalam periode waktu tertentu. Jika dibandingkan dengan laju entri ke self- employment, maka keuntungan dari survai GEM adalah bahwa isu owner-manager dari penggabungan bisnis (incorporated business) bisa diminimalisir seperti survai yang fokus pada seluruh individu yang terlibat dalam fase start-up.
Ukuran lain bagi aktivitas E lebih berfokus kepada penciptaan pertumbuhan seperti pertumbuhan pendapatan, pertumbuhan profit dan pertumbuhan lapangan pekerjaan adalah dengan cara untuk mendefinisikan dan untuk melakukan pengukuran E sebagai orang-orang utama pada saat pre-startup, saat startup dan fase awal dari suatu bisnis. Definisi ini lebih condong ke arah aktivitas E awal dan startup karena ukuran-ukuran itu merupakan target untuk pengukuran kebijakan. Namun ada perubahan yang cukup besar dan inovasi yang disumbangkan oleh incumbent entreprise kepada semua ukuran, ataupun apa yang seringkali ditunjukkan sebagai E (Acs dan Storey, 2004).
3.3 Pengukuran Kinerja Entrepreneurships pada Tataran Bisnis
untuk membuat ide-ide agar mempunyai nilai komersial (Hien, 2010).
Keterbatasan utama penggunaan kreasi bisnis sebagai indikator E adalah tidak diketahuinya kelas ukuran bisnis seberapa yang paling sesuai. Di lain pihak, ketika kembali ke tataran empiris, beberapa persoalan sering muncul. Misalnya, sulitnya menemukan apakah suatu entri itu merupakan fakta suatu perusahaan baru ataukah merupakan hasil dari suatu merger; ataupun masuknya perusahaan hanyalah salah satu dari tugas-tugas E yang tidak perlu menunjukkan derajat yang sama dari inovasi diantara berbagai negara (Hien, 2010).
Kepemilikan bisnis (yang menjadi ukuran jumlah ataupun laju employer-owned business), sering digunakan sebagai alternatif bagi self-employment. Serupa dengan laju self-employment, indikator ini sering digunakan untuk mengukur jumlah orang yang telah meninggalkan wage-based employment dan telah mengambil resiko untuk memulai kepemilikan bisnisnya. Penting untuk membedakan antara self-employment terhadap kepemilikan bisnis. Keduanya merupakan konsep yang berbeda dengan beberapa interseksi. Self- employment didefinisikan sebagai penampilan kinerja pekerjaan untuk keuntungan secara personal ketimbang bekerja karena dibayar oleh orang lain; self-employed person adalah bekerja untuk dirinya sendiri ketimbang untuk orang lainnya ataupun untuk perusahaan (Shane dan Echardt, 2003 dikutip Hien, 2010).
Sementara itu ownership merujuk kepada bagaimana suatu bisnis didirikan secara legal. Suatu kepemilikan bisnis tidak memerlukan penanganan langsung (hand-on approach) dalam operasionalnya sehari-hari bagi perusahaannya, sedangkan untuk self-employed person harus memanfaatkan pendekatan yang sangat memerlukan penanganan langsung agar dapat survive. Akibatnya, studi tentang self-employment dapat meliputi situasi dalam self- employed person incorporate suatu bisnis dan memperkerjakan orang lain, juga dalam berbagai situasi yang mana hal-hal tersebut tidak muncul. Sedangkan studi tentang kepemilikan bisnis mencakup suatu rentang dari yang biasanya small self-employer owned bussiness (kepemilikan tunggal) sampai ke rentang bentuk-
untuk membuat ide-ide agar mempunyai nilai komersial (Hien, 2010).
Keterbatasan utama penggunaan kreasi bisnis sebagai indikator E adalah tidak diketahuinya kelas ukuran bisnis seberapa yang paling sesuai. Di lain pihak, ketika kembali ke tataran empiris, beberapa persoalan sering muncul. Misalnya, sulitnya menemukan apakah suatu entri itu merupakan fakta suatu perusahaan baru ataukah merupakan hasil dari suatu merger; ataupun masuknya perusahaan hanyalah salah satu dari tugas-tugas E yang tidak perlu menunjukkan derajat yang sama dari inovasi diantara berbagai negara (Hien, 2010).
Kepemilikan bisnis (yang menjadi ukuran jumlah ataupun laju employer-owned business), sering digunakan sebagai alternatif bagi self-employment. Serupa dengan laju self-employment, indikator ini sering digunakan untuk mengukur jumlah orang yang telah meninggalkan wage-based employment dan telah mengambil resiko untuk memulai kepemilikan bisnisnya. Penting untuk membedakan antara self-employment terhadap kepemilikan bisnis. Keduanya merupakan konsep yang berbeda dengan beberapa interseksi. Self- employment didefinisikan sebagai penampilan kinerja pekerjaan untuk keuntungan secara personal ketimbang bekerja karena dibayar oleh orang lain; self-employed person adalah bekerja untuk dirinya sendiri ketimbang untuk orang lainnya ataupun untuk perusahaan (Shane dan Echardt, 2003 dikutip Hien, 2010).
Sementara itu ownership merujuk kepada bagaimana suatu bisnis didirikan secara legal. Suatu kepemilikan bisnis tidak memerlukan penanganan langsung (hand-on approach) dalam operasionalnya sehari-hari bagi perusahaannya, sedangkan untuk self-employed person harus memanfaatkan pendekatan yang sangat memerlukan penanganan langsung agar dapat survive. Akibatnya, studi tentang self-employment dapat meliputi situasi dalam self- employed person incorporate suatu bisnis dan memperkerjakan orang lain, juga dalam berbagai situasi yang mana hal-hal tersebut tidak muncul. Sedangkan studi tentang kepemilikan bisnis mencakup suatu rentang dari yang biasanya small self-employer owned bussiness (kepemilikan tunggal) sampai ke rentang bentuk-
bentuk kepemilikan bisnis yang besar yang terdaftar secara legal seperti kemitraan (partnership), koperasi, dan korporasi (Hien, 2010).
Lebih lanjut menurut Hien (2010), bahwa secara empiris ada dua macam konsep yang seringkali digunakan dan saling dipertukarkan sebagai ukuran E. Beberapa peneliti memfokuskan pada studi tentang self-employment; sedangkan beberapa peneliti lainnya mendefinisikan entrepreneur sebagai pemilik bisnis.
Perbedaan antarkedua kelompok tersebut tidak begitu penting untuk diterapkan di negara-negara maju. Namun secara empiris memperlihatkan bahwa kepemilikan bisnis berbeda dalam cara-cara yang penting terhadap self-employment di negara-negara berkembang. Oleh van Praag dkk., (2002) ditunjukkan kasus di Kolombia bahwa self-employment dalam sektor-sektor informal lebih menjamur dari pada kepemilikan bisnis di sektor-sektor informal, dan kepemilikan bisnis berasosiasi dengan E sedangkan self-employment secara mendasar merupakan suatu aktivitas yang subsisten sifatnya.
Harapan yang diinginkan ketika indikator kepemilikan bisnis ini digunakan adalah bahwa pada level yang lebih tinggi kepemilikan bisnis menunjukkan suatu wilayah entrepreneurial yang lebih banyak yang dimana orang lebih siaga terhadap berbagai oportunitas entrepreneurial yang mungkin muncul. Kepemilikan bisnis merupakan ukuran yang ideal karena dapat meniadakan akan keperluan untuk mengukur kelas (besar-kecilnya) perusahaan.
Ukuran ini juga dapat digunakan untuk menggambarkan derajat aktivitas entrepreneurial (Hien, 2010).
Menurut Fritsch (2008) ukuran tersebut merupakan proksi yang sangat bermanfaat bagi aktivitas entrepreneurial ketika melakukan pembandingan lintas negara maupun antarwaktu.
Namun hal itu tidaklah jelas bagaimana caranya untuk membedakan struktur kepemilikan dan pengaturan yang akan diukur. Ketika melakukan interpretasi terhadap ukuran-ukuran itu, maka pembuatan bersama semua tipe terhadap berbagai aktivitas yang heterogen sifatnya untuk sepanjang spektrum sektor yang luas dan konteksnya dalam ukuran yang terpisah ataupun ukuran yang
tersendiri. Ukuran tersebut memandang semua bisnis adalah sama, baik itu bisnis yang menggunakan teknologi tinggi maupun teknologi sederhana. Dalam hal ini tidak memperhitungkan pengaruh besarnya industri ataupun dampak dari industri yang ukurannya beragam. Di lain pihak, itu hanya mengukur stok bisnis dan bukanlah start up yang baru.
Laju pertumbuhan dan survivalnya perusahaan baru juga merupakan ukuran yang umum untuk menggambarkan kuat- lemahnya suatu E di suatu wilayah. Rasio pertumbuhan bisnis baru terhadap total bisnis yang ada dalam suatu perekonomian telah digunakan untuk melakukan karakterisasi E. Namun landasan teori terhadap ukuran-ukuran tersebut agak terbatas. Tidaklah pasti, apakah suatu tingkat survive yang besar merupakan suatu indikator besar-kecilnya kekuatan E. Memang benar bila suatu tingkat survival yang lebih lama itulah yang bisa dijadikan indikator bagi cerminan tingginya jiwa entrepreneurial perekonomian di suatu wilayah (van Praag dkk., 2002).
Ukuran-ukuran lain bagi Entrepreneur lebih difokuskan pada perubahan yang berasosiasi dengan berbagai aktivitas inovasi dalam suatu industri. Ukuran-ukuran tersebut mencakup indikator aktivitas research and development, jumlah penemuan paten, dan produk inovasi baru yang diperkenalkan ke dalam pasar. Ukuran- ukuran ini punya keunggulan termasuk hanya perusahaan- perusahaan yang secara aktual membangkitkan perubahan inovatif pada level industri saja yaitu pada level di luar perusahaan itu sendiri. Namun, berbagai ukuran semacam itu harus selalu dikuantifikasi oleh kegagalannya dalam menggabungkan jenis-jenis yang signifikan tentang aktivitas yang inovatif dan perubahan tidak dicerminkan oleh ukuran-ukuran semacam itu (Hien, 2010).
3.4 Peranan Entrepreneurship dalam Pertumbuhan Ekonomi