Social Network Sites (SNS) merupakan jenis jasa web untuk membangun jaringan virtual diantara orang yang memiliki kesamaan minat, latar belakang dan aktivitas (Rathore, Sharma, Loia, Jeong, & Park, 2017, p. 43). SNS dapat sangat bermanfaat bagi penggunanya karena menghilangkan batas ekonomi dan geografi, dan juga dapat berguna dalam mencapai tujuan yang berkaitan dengan pencarian kerja, hiburan dan pendidikan. Penggunaan SNS mendorong seseorang untuk mengungkapkan informasi pribadinya (misalnya usia, orientasi seksual atau politik, tanggal lahir, pembelian suatu barang, dan lain-lain) (Milham & Atkin, 2018, p. 55).
Dengan berkembangnya SNS saat ini, isu terkait bagaimana menjaga privasi dan keamanan dari pengguna juga mulai mencuat terutama ketika pengguna mengunggah konten multimedia seperti foto, video dan audio. Henson et,al juga menawarkan alternatif untuk tidak hanya mengandalkan fitur keamanan yang dibangun di situs web jaringan, melainkan menggunakan fitur keamanan dan privasi bersama dengan kriteria pemindaian selektif dalam memutuskan siapa yang akan mengizinkan akses ke situs web mereka terutama dengan informasi yang sensitif (Henson, Reyns, & Fisher, 2011, p. 268).
Boyd mengatakan bahwa informasi tidak bersifat pribadi karena tidak ada yang tahu, karena individu lah yang membuat batas dan kontrol terhadap hal tersebut. Boyd juga menekankan bahwa ada area abu-abu yang sangat besar antara rahasia dan informasi yang dimaksudkan untuk disiarkan sebagai publik mungkin. Pengguna tidak mungkin memposting rahasia, tetapi mereka sering memposting informasi yang hanya relevan dalam konteks tertentu (Boyd, 2008, p. 20). Dengan kata lain, pilar utama untuk membatasi ruang dan gerak privasi dalam konteks ancaman terhadap privasi dan data mining di SNS adalah diri kita sendiri.
Maka dari itu, selain dengan memanfaatkan fitur privasi yang telah ditawarkan oleh berbagai SNS, kita perlu menyadari bahwa itu saja tidak cukup. Asumsinya adalah jika mengunjungi halaman Facebook seseorang, kita dapat mengakses informasi dalam konteks. Sehingga, untuk menghindari hal-hal semacam ini, perlu proteksi diri sendiri dan dalam hal ini adalah literasi untuk peka terhadap privasi di SNS.
Artikel ini diharapkan dapat berkontribusi dalam kajian lebih lanjut mengenai ancaman privasi dan data mining di era digital yang lebih kompleks. Dengan pemaparan kategori-kategori, tipe, praktik, dan dampak ancaman privasi dan data mining sesuai dengan elaborasi konseptual yang dilakukan peneliti diharapkan juga dapat menjadi acuan untuk penelitian komunikasi kedepannya.
Keterbatasan dalam penelitian ini membuka ruang baru untuk penelitian lebih lanjut. Penelitian ini hanya memaparkan konseptual tentang bagaimana ancaman terhadap privasi dan data mining dalam SNS. Akan lebih kaya jika kedepannya mengangkat isu dalam konteks geolokal yang lebih spesifik. Isu ancaman ini juga sebenarnya dirasakan oleh masyarakat Indonesia dan tidak sedikit kasus yang membuktikan hal ini harus diperhatikan lebih lanjut. Terlebih dalam meliterasi masyarakat untuk sadar akan bahaya dan ancaman privasi yang muncul jika tidak disadari lebih dini.
122
Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penelitian ini, dan kepada Redaksi Jurnal Studi Komunikasi dan Media (JSKM) Balai Pengembangan SDM dan Penelitian Kominfo Jakarta yang telah berkenan memberikan koreksi dan menerbitkan artikel ini.
DAFTAR PUSTAKA
Baruh, L., & Popescu, M. (2017). Big Data Analytics and the Limits of Privacy Self-Management. Retrieved April 3, 2018, from New Media & Society, Vol. 19(4) 579-596:
http://www.doi.org/10.1177/1461444815614001
Boyd, D. (2008). Facebook's Privacy Trainwreck: Exposure, Invasion, and Social Convergence. Retrieved April 3, 2018, from The Internasional Journal of Research into New Media Technologies. Volume: 14 issue: 1, page(s): 13-20: https://doi.org/10.1177/1354856507084416
Brennen, B., & Primeaux, D. (1997). Public or Private? E-mail and he Ethics of Privacy. Retrieved April 3, 2018, from THe International Journal of REaserach into New Meda Technologies. Volume: 3 issue: 3, page(s): 22-26: https://doi.org/10.1177/135485659700300304
Chen, F., Deng, P., Wan, J., Zhang, D., Vasilakos, A., & Rong, X. (2015). Data Mining for the Internet of Things: Literature Review and Challenges. Retrieved April 3, 2018, from International Journal of Distributed Sensor Network, Volume: 11 issue: 8: https://doi.org/10.1155/2015/431047
Francis, C., & Baldesari. (2006). Systematic Reviews of Qualitative Literature. Oxford: UK Cochrane Centre.
Frith, J. (2017). Big Data, Technical Communication, and The Smart City. Retrieved April 3, 2018, from Journal of Business and Technical Communication, Vol. 3(2) 168-187:
http:www.doi.org/10.1177/1050651916682285
Guo, L. (2016). Big Social Data Analytics in Journalism and Mass Communication: Comparing Dictionary Based-Text Analysis and Unsupervised Topic Modelling. Retrieved April 3, 2018, from Journalism &
Mass Communication Quarterly, Volume: 93 issue: 2, page(s): 332-359 : https://doi.org/10.1177/1077699016639231
Henson, B., Reyns, B., & Fisher, B. (2011). Security in the 21st Century: Examining the Link Between Online Social Network Activity, Privacy, and Interpersonal Victimization. Retrieved April 2, 2018, from Critical Justice Review, Volume 36 (3), 253-268: http://www.doi.org/10.1177/0734016811399421 Kayes, I., & Iamnitchi, A. (2017). Privacy and Security in Online Social Network. Retrieved April 3, 2018,
from Online Social Network and Media, 3(4), 1-21: https://doi.org/10.1016/j.osnem.2017.09.001 Kennedy, H., Elgesem, D., & Miguel, C. (2017). On Fairness: User Perspectives on Social Media Data
Mining. Retrieved April 3, 2018, from The International Journal of Research into New Media Technologies, Volume: 23 issue: 3, page(s): 270-288: https://doi.org/10.1177/1354856515592507 Kitchin, R., & McArdie, G. (2016). What makes Big Data, Big Data? Exploring the ontological
characteristics of 26 datasets. Retrieved April 3, 2018, from Big Data & Society, Volume: 3 issue: 1:
https://doi.org/10.1177/2053951716631130
Lewin, S. (2008). Methods to Synthesis Qualitative Evidence Alongside a Cochrane Intervention Review.
London: London School of Hygiene and Tropical Medicine.
Liang, H., Shen, F., & Fu, K.-w. (2017). Privacy Protection and Self-Disclosure Across Societies: A Study of Global Twitter Users. Retrieved April 2, 2018, from New Media & Society, Vol 19(9), 1476-1497:
http://www.doi.org/10.1177/1461444816642210
Milham, M., & Atkin, D. (2018). Managing the Virtual Boundaries: Online Social Networks, Disclosure, and Privacy Behaviours. Retrieved April 2, 2018, from New Media & Society, Volume 20(1), 50-67:
http://www.doi.org/10.1177/146144816654465
Perry, A., & Hammond, N. (2002). Systematic Review: The Experience of a PhD Student. Psychology Learning and Teaching, 2(1), 32-35.
Rathore, S., Sharma, P., Loia, V., Jeong, Y.-S., & Park, J.-H. (2017). Social Network Security: Issues, Challenges, Threats, and Solutions. Retrieved April 3, 2018, from Information Sciences, 421 (2017), 43-69: https://doi.org/10.1016/j.ins.2017.08.063
123
PERSEPSI APARAT PEMERINTAH KOTA JAMBI
TERHADAP KEGUNAAN DAN KEMUDAHAN PENGGUNAAN MEDIA PENGADUAN BERBASIS APLIKASI
THE PERCEPTION OF STAFF MEMBERS OF LOCAL GOVERNMENT OF JAMBI ON THE USE AND THE EASE OF APPLICATION-BASED COMPLAINT MEDIA
Dede Mahmudah
Balai Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Penelitian Komunikasi dan Informatika Jakarta Jl. Pegangsaan Timur No.19B, Jakarta Pusat, Indonesia
Diterima tgl. 10/10/2018; Direvisi tgl. 13/11/2018; Disetujui tgl. 21/11/2018
ABSTRACT
The research is about how the staff members of Local District government of Jambi perception on the usage and the ease of application-based complain media. Therefore, it is necessary to really observe the usage of this application from the staff's side because they receive inputs from the society. This research is to get the most accurate picture of the staff's perception on the usage and the ease of application-based complain media using Technology Acceptance Model (TAM) analysis. With quantitative approach and questionnaire instrument, the descriptive analysis in this research will present data in tables in averages. The respondents of this research are administration staff or users of SiKesal application in each work unit. The questionnaire completion is done in March 2018 and data verification is done until April 2018. From the statistic descriptive counting to 102 respondents, it is known that 100 respondents have used SiKesal application. The Mean value and the Deviation Standard for respondents' perception on the use of the application (perceived usefulness) are each 3,89 and 0,620. We can conclude that generally the respondents receive the SiKesal application and reap the benefits of using the application. The Mean value and the Deviation Standard for the users perception on the ease of using new information (perceived ease of use) are each 3,88 and 0,65.
We can conclude that the respondents generally receive the application and have the perception that the application is easy to use.
Keywords: Application, Complain, TAM
ABSTRAK
Penelitian ini mengangkat tentang bagaimana persepsi aparat Pemerintah Kota Jambi terhadap kegunaan dan kemudahan penggunaan media pengaduan berbasis aplikasi. Sehingga penelitian ini difokuskan kepada pemanfaatan aplikasi SiKesal oleh aparat pemerintah yang bertugas untuk menerima berbagai aduan dari masyarakat melalui aplikasi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai persepsi aparat Pemerintah Kota Jambi terhadap kegunaan dan kemudahan penggunaan media pengaduan berbasis aplikasi dengan analisis yang menggunakan Technology Acceptance Model (TAM). Melalui pendekatan kuantitatif dan menggunakan instrumen kuesioner. Analisis deskriptif pada penelitian ini menyajikan data dalam tabel berupa hasil penentuan rata-rata. Responden merupakan admin/pelaksana dari aplikasi SiKesal di masing-masing unit kerja. Pengisian kuesioner dilakukan pada Maret 2018 dan verifikasi data hingga April 2018. Perhitungan secara statistik desktiptif terhadap 102 responden, diketahui 100 responden telah menggunakan aplikasi SiKesal. Nilai Mean dan Standar Deviasi untuk Konstruk persepsi responden terhadap kegunaan aplikasi SiKesal (perceived usefulness) sebesar 3,89 dan 0,620. Dapat diartikan bahwa responden secara umum menerima aplikasi dan merasakan kegunaan dari aplikasi SiKesal. Nilai Mean dan Standar Deviasi untuk Konstruk persepsi pengguna terhadap kemudahan penggunaan sistem informasi baru (perceived ease of use) sebesar 3,88 dan 0,65. Dapat diartikan bahwa responden secara umum menerima aplikasi SiKesal dan mempunyai persepsi bahwa aplikasi SiKesal mudah untuk digunakan.
Kata Kunci: Aplikasi, Pengaduan, TAM.
124
1. PENDAHULUAN
Pada tahun 2017 yang lalu Kota Jambi terpilih menjadi salah satu kota yang lulus dari assesment dan mendapatkan bimbingan untuk mengimplementasikan Smart City dari para ahli yang difasilitasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Pada tahun 2017 Kota Jambi menyusun Masterplan Smart City Kota Jambi, serta menetapkan SiKesal (Sistem Informasi Keluhan Masyarakat Online) sebagai Quick Win pelaksanaan Smart City di Kota Jambi. SiKesal ini akan digunakan sebagai bentuk partisipasi masyarakat terhadap pembangunan kotanya, dengan demikian saran dan aspirasi maupun keluhan masyarakat dapat disampaikan dengan mudah.
Dengan kata lain media pengaduan masyarakat yang biasanya dilakukan secara konvensional, dikembangkan menjadi media pengaduan yang berbasis aplikasi. Aplikasi SiKesal juga menjadi media penerimaan pengaduan bagi aparat pemerintah Kota Jambi, sehingga pengaduan yang datang akan cepat ditindaklanjuti dan dapat dimonitor pelaksanaannya. Teknologi informasi dan komunikasi melalui aplikasi Sikesal tersebut diperkirakan akan mendorong efektivitas dan efisiensi dalam menyelesaikan berbagai keluhan masyarakat.
Pada hakikatnya pengaduan yang disampaikan masyarakat kepada pelayan publik merupakan respon dari pelayanan publik yang diterima oleh masyarakat dari pelayan publik. Menurut Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 118 Tahun 2004 Tentang Penanganan Pengaduan Masyarakat, pengaduan masyarakat adalah bentuk penerapan dari pengawasan masyarakat yang disampaikan oleh masyarakat, baik secara lisan maupun tertulis kepada aparatur pemerintah terkait, berupa sumbangan pikiran, saran, gagasan, keluhan atau pengaduan yang bersifat membangun. Tersedianya ruang untuk menyampaikan aspirasi (voice) dalam bentuk pengaduan dan protes terhadap jalannya penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik akan sangat penting peranannya bagi upaya perbaikan kinerja tata pemerintahan secara keseluruhan(Sari
& Dewi, 2017). Pelayanan publik berbasis e- Government di Indonesia belum banyak diterapkan, karena pelayanan ini memerlukan pendanaan yang cukup besar, sehingga diperlukan kesiapan sumber daya manusia, aparat pemerintah, dan kesiapan dari masyarakat (Lestari, Bandiyah, &
Wismayanti, 2015).
Hal yang perlu diperhatikan dalam pemanfaatan aplikasi SiKesal adalah penerimaan pengguna terhadap aplikasi SiKesal tersebut. Kunci awal dari keberhasilan pemanfaatan teknologi informasi dapat dilihat dari adanya kemauan pengguna untuk menerima teknologi informasi tersebut.
Kemauan tersebut didorong oleh adanya kegunaan dan kemudahan penggunaan aplikasi SiKesal yang dirasakan oleh pengguna, dalam hal ini aparat Pemerintah Kota Jambi yang memanfaatkan aplikasi SiKesal sebagai media penerimaan pengaduan dari masyarakat. Penelitian ini difokuskan kepada para aparat Pemerintah Kota Jambi dengan anggapan bahwa aplikasi SiKesal merupakan aplikasi yang baru diluncurkan ke masyarakat, dimana sebelumnya penerimaan pengaduan dan respon dilakukan secara konvensional, misalnya melalui komunikasi tatap muka maupun kotak saran. Sehingga perlu dicermati pemanfaatan aplikasi SiKesal dari sisi aparat Pemerintah Kota Jambi yang memiliki tugas untuk menerima berbagai aduan dari masyarakat melalui aplikasi tersebut. Karena meskipun teknologi memberikan keuntungan pada organisasi, terkadang kegagalan implementasi terjadi bukan karena kualitas dan kapasitas sistem tersebut, tetapi karena rendahnya tingkat penerimaan pengguna. Penerimaan teknologi merupakan suatu kesediaan pengguna untuk menggunakan teknologi guna mendukung pekerjaannya. Apabila pengguna sudah bersedia untuk menerima teknologi, pengguna akan sering untuk menggunakannya (Jonar, 2017).
Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melakukan kajian mengenai bagaimana persepsi aparat Pemerintah Kota Jambi terhadap kegunaan dan kemudahan penggunaan media pengaduan berbasis aplikasi. Penelitian ini dilakukan melalui analisis yang menggunakan Technology Acceptance Model (TAM) sebagai pedoman untuk melihat persepsi aparat Pemerintah Kota Jambi terhadap aplikasi SiKesal yang dimanfaatkan sebagai media untuk menerima dan
125 merespon pengaduan dari masyarakat. Penerimaan tersebut dilihat dari persepsi para aparat Pemerintah Kota Jambi yang menjadi admin aplikasi SiKesal terhadap aplikasi tersebut, yakni persepsi kegunaan/manfaat yang diperoleh saat menggunakan aplikasi tersebut (perceived usefulness) dan persepsi kemudahan saat aplikasi tersebut digunakan (perceived ease of use).
Berdasarkan informasi yang diperoleh, pemerintah Kota Jambi sama sekali belum pernah melakukan pengukuran secara kuantitatif mengenai pemanfaatan aplikasi SiKesal sejak Desember 2017 hingga Mei 2018. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai persepsi aparat Pemerintah Kota Jambi terhadap kegunaan dan kemudahan penggunaan media pengaduan berbasis aplikasi, sebagai media untuk menerima dan merespon pengaduan dari masyarakat. Gambaran hal tersebut merupakan hal yang belum dimiliki oleh Pemerintah Kota Jambi selama program pemanfaatan aplikasi SiKesal dilaksanakan oleh aparat Pemerintah Kota Jambi. Secara akademis penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan kajian mengenai pemanfaatan aplikasi di bidang pemerintahan dengan menggunakan metode TAM. Secara teknis penerima manfaat dari penelitian ini adalah pemerintah Kota, karena melalui kajian ini akan diperoleh informasi yang akurat dan mendetail mengenai pelaksanaan program aplikasi SiKesal oleh aparat pemerintah di Kota Jambi, sehingga dapat menjadi masukan bagi langkah-langkah pembangunan yang dapat dilakukan secara efektif dan efisien dalam rangka mendorong kebangkitan Kota Jambi.
Berbagai kajian telah menggunakan Technology Acceptance Model (TAM) dalam penelitiannya. Budi S. melakukan penelitian tentang persepsi pengguna terhadap kemanfaatan dan kemudahan penggunaan aplikasi sistem informasi di STIE SBI Yogyakarta. Model penelitian menggunakan Technology Acceptance Model (TAM) dengan dua Konstruk utama yaitu Perceived Usefulness dan Perceived Ease of Use. Dari data 90 responden yang mengisi kuesioner, menunjukkan bahwa Perceived Usefulness sudah baik, dengan rata-rata nilai mean sebesar 4,04 yang dapat disimpulkan bahwa aplikasi sistem informasi baru yang diterapkan dapat bermanfaat dan bisa diterima oleh pengguna sistem. Perceived Ease Of Use juga sudah baik, dengan rata-rata nilai mean sebesar 3,86, hal ini menunjukan bahwa aplikasi Sistem Informasi Baru mudah digunakan. Yudi dan Tambotoh juga menggunakan Technology Acceptance Model (TAM) yang didukung oleh Pendekatan Innovation and Diffusion Theory (IDT) untuk mengidentifikasi berbagai faktor yang berpengaruh dalam pengumpulan data pendidikan yang berdampak pada sulitnya pendataan pendidikan berbasis teknologi informasi dan tingkat konsistensi pengumpulan data pendidikan yang tidak merata. Dari kajian ini disimpulkan bahwa pendekatan deskriptif kualitatif mampu mengeksplorasi persepsi pengguna terhadap pemanfaatan sistem informasi pendataan pendidikan secara spesifik (Budi, 2016).
Kajian lainnya dilakukan oleh Handayani dan Harsono, yang menguji dan menganalisis pengaruh TAM pada komputerisasi kegiatan pertanahan. Penelitian ini akan dilakukan pada Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional Kantor Pertanahan Kabupaten Sukoharjo yang diaplikasikan pada layanan Komputerisasi Kegiatan Pertanahan. Survei digunakan untuk mengumpulkan data 100 karyawan. Path analysis menunjukkan bahwa computer self- efficacy berpengaruh pada persepsi kemudahan penggunaan dan persepsi manfaat teknologi, persepsi kemudahan penggunaan teknologi berpengaruh pada persepsi manfaat dan sikap untuk menggunakan teknologi, persepsi manfaat teknologi berpengaruh pada sikap dalam menggunakan teknologi, sikap untuk menggunakan teknologi berpengaruh pada niat untuk menggunakan teknologi (Handayani & Harso, 2016). Penelitian dengan menggunakan Technology Acceptance Model (TAM) juga dilakukan oleh Hera Maitilova Jonar yang berjudul Analisis Penerimaan Sistem Informasi Manajemen Kepegawaian (SIMPEG) dalam Mendukung Penerapan E- Government pada Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Barat. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat penerimaan SIMPEG pada Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Barat dengan menggunakan Technology Acceptance Model (TAM) dan mengintegrasikan faktor
126
organisasi dan teknologi yang ada pada HOT (Human-Organizarion-Technology) Fit Model.
Penelitian ini melibatkan 37 responden dan analisis data menggunakan smartPLS. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat hubungan yang signifikan antara organisasi dengan persepsi manfaat, teknologi dengan persepsi kemudahan penggunaan, persepsi manfaat dengan penerimaan SIMPEG dan persepsi kemudahan dengan penerimaan SIMPEG (Jonar, 2017).
Dari berbagai kajian tersebut menunjukkan pula bahwa TAM dapat memberikan gambaran tentang pemanfaatan dari suatu aplikasi.Technology Acceptance Model (TAM) merupakan sebuah model yang dibangun untuk menganalisis dan memahami faktor‐faktor yang mempengaruhi diterimanya penggunaan teknologi (Davis dalam Yudi & Tambotoh, 2013),. TAM bertujuan untuk menilai penerapan teknologi informasi dalam organisasi sebagai sumber daya yang mampu meningkatkan efektivitas kerja (Taylor & Todd dalam Yudi & Tambotoh, 2013). TAM merupakan sebuah alat teoretis yang baik , populer , dan menawarkan suatu penjelasan yang kuat serta sederhana untuk mempelajari penerimaan dan penggunaan teknologi dalam Handayani & Harso, 2016). TAM dapat menjelaskan bahwa persepsi pengguna terhadap manfaat dan kemudahan akan menentukan penerimaan teknologi informasi. Model ini secara lebih jelas menggambarkan bahwa penerimaan penggunaan teknologi informasi dipengaruhi oleh kemanfaatan/kegunaan (usefulness) dan kemudahan penggunaan (ease of use) (Budi, 2016).
Perceived Usefulness (PU) atau persepsi kegunaan didefinisikan dengan sejauh mana seseorang percaya bahwa menggunakan suatu teknologi dapat meningkatkan kinerja dalam menyelesaikan pekerjaannya. Dari definisinya, diketahui PU merupakan suatu kepercayaan tentang proses pengambilan keputusan, maka dengan demikian jika seseorang merasa percaya bahwa teknologi sistem informasi itu bermanfaat maka dia akan menggunakannya. Sebaliknya jika seseorang merasa percaya bahwa teknologi sistem informasi kurang bermanfaat maka dia tidak akan menggunakannya (Jogiyanto dalam Budi, 2016). Perceived Ease of Use (PEOU) atau persepsi kemudahan didefinisikan sebagai suatu ukuran dimana pengguna percaya bahwa menggunakan sistem informasi bebas dari usaha, yang berarti mudah, bebas dari kesulitan atau tidak perlu usaha yang besar untuk memahami sistem informasi tersebut, artinya teknologi membawa suatu kemudahan bagi pengguna. Dari definisinya, diketahui bahwa PEOU ini juga merupakan suatu kepercayaan tentang proses pengambilan keputusan bahwa jika seseorang merasa percaya sistem informasi mudah digunakan maka dia akan menggunakannya. Sebaliknya jika seseorang merasa percaya bahwa sistem informasi tidak mudah digunakan maka dia tidak akan menggunakannya (Jogiyanto dalam Budi, 2016).
Sumber : Olahan Dari Berbagai Sumber Gambar 1 . Technology Acceptance Model (TAM)
Dalam gambar tersebut menunjukkan bahwa dalam TAM, persepsi kegunaan dan persepsi kemudahan tersebut akan berpengaruh terhadap sikap dan perilaku pengguna dalam menggunakan teknologi. Hal tersebut akan berdampak pada penggunaan teknologi dalam kondisi nyata.
Pengukuran konstruk usefulness menurut antara lain work more quickly, useful, increase
Persepsi Kegunaan
Keinginan
Menggunakan Penggunaan
Secara Nyata Persepsi
Kemudahan
127 productivity, enhance effectiveness, dan improve job performance. Davis.F.D juga memberikan beberapa indikator konstruk ease of use yaitu easy to learn, controllable, clear and understable, flexible, easy to become skillful, dan easy to use (Wagiyem, 2016).
2. METODE PENELITIAN
Pendekatan yang akan digunakan adalah kuantitatif, dengan menggunakan instrumen kuesioner yang diharapkan dapat memperoleh data mengenai pemanfaatan yang dapat diukur berdasarkan konstruk yang ada dalam Technology Acceptance Model (TAM). Kuesioner tersebut diisi oleh aparat Pemerintah Kota Jambi yang mendapat tugas menjadi admin aplikasi SiKesal di masing-masing unit kerja. Kuesioner digunakan untuk mengungkap data konstruk perceived usefulness dan perceived ease of use para pengguna aplikasi SiKesal tersebut, yang akan diolah dengan statistik deskriptif. Dimana data tersebut hanya ditampilkan apa adanya, tidak sampai kepada mencari hubungan atau pengaruh di antara variabel. Definisi operasional dari penelitian ini adalah definisi operasional persepsi kegunaan dan definisi operasional persepsi kemudahan penggunaan. Untuk definisi operasional persepsi kegunaan yakni : Bekerja lebih cepat (work more quickly); Meningkatkan kinerja (improve job performance); Meningkatkan produktivitas (increase productivity); Lebih efektif (enhance effectiveness); dan Bermanfaat dalam pekerjaan (useful).
Untuk definisi operasional persepsi kemudahan penggunaan yakni : Mudah dipelajari (easy of learn); Dapat dikontrol (controllable); Jelas dan dapat dipahami (clear and understandable);
Fleksibel (flexible); Mudah untuk menjadi terampil (easy to become skillful); dan Mudah digunakan (easy to use).
Instrumen kuesioner akan diukur dengan menggunakan skala likert yakni sangat tidak setuju (STS) poin 1, tidak setuju (TS) poin 2, Netral (N) poin 3, setuju (S) poin 4, dan sangat setuju (SS) poin 5. Instrumen kusioner tersebut kemudian diuji validitas dan reliabilitasnya, selanjutnya diolah dengan menggunakan statistik deskriptif. Pangestu Subagyo dalam Nasution (2017) menyatakan, statistika deskriptif adalah bagian statistika mengenai pengumpulan data, penyajian, penentuan nilai-nilai statistika, pembuatan diagram atau gambar mengenai sesuatu hal, disini data yang disajikan dalam bentuk yang lebih mudah dipahami atau dibaca. Data yang disajikan berupa hasil analisis secara deskriptif terhadap hasil pernyataan responden pada masing-masing indikator yang mewakili konstruk-dalam penelitian ini. Untuk memudahkan penghitungan tersebut peneliti menggunakan software Statistic Product Service Solution (SPSS) Versi 18.0 for windows. Analisis deskriptif pada penelitian ini akan menyajikan data dalam tabel berupa hasil penentuan rata-rata (mean). Menurut Umar (dalam Budi, 2016), analisis menggunakan nilai mean dilakukan dengan cara menentukan nilai besarnya kelas sebagai berikut :
Nilai maksimum = 5 ; Nilai Minimum = 1 Rentang Skor = ( 5 – 1 ) / 5 = 0,8
Kategori :
- 1,00 s.d 1,80 = sangat rendah/sangat buruk - 1,81 s.d 2,60 = rendah/buruk
- 2,61 s.d 3,40 = sedang/cukup - 3,41 s.d 4,20 = baik/tinggi
- 4,21 s.d 5,00 = sangat baik/sangat tinggi
Responden yang akan mengisi kuesioner tersebut dipilih dengan teknik Nonprobability Sampling yaitu teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang atau kesempatan sama bagi setiap unsur anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Hal ini disebabkan karena responden yang dituju hanya yang memiliki kriteria sebagai admin/pelaksana aplikasi SiKesal di unit kerja masing-masing. Oleh karena itu, hasil penelitian ini tidak dapat digeneralisasi.